P a g e | 45 Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram (JISYM) Vol 10. No. 2 Juli P 47P-ISSN: 1978-8940 Website:http://journal. PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN EKSTERNAL PASIEN DI PUSKESMAS KOTA MATARAM. Irwan Hadi1. Sopian Halid2 Supriyadi3 Baiq Nurainun Apriani Idris4 Dian Istiana5 1,2,3,4,5 Program Studi S1 Keperawatan STIKES Yarsi Mataram Email: irwanhadi711@gmail. ABSTRACT Implementation of Referral System is one of the instruments to measure the quality of health services to the public. Satisfaction feeling of services quality presently still less in public, especially in making external referrals. The aimed of this research was to determine the implementation of the external referral system for patients in Matarampublic health center. The design used in this research was descriptive design. The samplesused in this researchwere 76 people, they were takenby purposive sampling technique. The research instrumentsin this research used an observation sheet and a questionnaire. Implementation of the external referral system based on Standard Operating Procedure with 72 . 7%) respondents and the implementation of the external referral system out of Standard Operating Procedure with 4 . 3%) respondents. The external referral system in clinical procedures shows that the implementation of the external referral system based on Standard Operating Procedure were 65 . 5%) and the implementation of the external referral system out of Standard Operating Procedure were 11 . 5%) respondents. The administrative procedure shows that the implementation of the patient's external referral system based on Standard Operating Procedure were 37 . 7%) and the implementation of the external patient referral system out of Standard Operating Procedure. It is expected that the quality of health services will improve using the standard operating procedures that have been established. Keywords: Referral System. Standard Operational Procedure. Community Health Center ABSTRAK Pelaksanaan Sistem Rujuan merupakan salah satu intrument untuk mengukur mutu dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. kepuasan dalam penrimaan kualitas pelayanan saat ini masih dirasakan kurang oleh masyarakat terutama dalam melakukan rujukan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem rujukan eksternal pada pasien di puskesmas kota mataram. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain Diskriptif . Sampel dalam penelitian ini berjumlah 76 orang dengan menggunakan teknik sampel purposive Sampling Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Pelaksanaan sistem rujukan eksternal sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 72 . ,7%) responden dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 4 . ,3%) responden. sistem rujukan eksternal pada prosedur klinis menunjukkan pelaksanaan sistem Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 46 rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 65 . ,5%)dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 11 . ,5%) Responden. Pada prosedur administrasi menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 37 . ,7%) dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur. Diharapakan untuk meningkatakan kualitas pelayanan kesehatan sesaui dengan standart prosedur operasional yang telah di tetapkan. Kata kunci: Sistem Rujukan. Standart Prosedur operasional. Pusat Kesehatan Masyarakat PENDAHULUAN Salah pengembangan upaya kesehatan dalam (Depkes RI, 2. (SKN) adalah rujukan upaya Untuk pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna . dan berdaya guna . , perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unitunit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan. (Pedoman Sistem Rujukan, 2. Sistem rujukan diselenggarakan dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan secara bermutu, sehingga tujuan pelayanan tercapai tanpa harus menggunakan biaya yang Hal ini disebut efektif dan efisien. Efisien disini diartikan dengan berkurangnya waktu berkuranganya rujukan yang tidak perlu karena pelayanan kesehatan asal, baik dengan bantuan teknologi mutakhir atau teknologi tepat guna, (Kesehatan Sistem rujukan akan berlangsung dengan baik jika pelaksanaannya mengikuti pedoman yang telah dibuat. Pedoman sistem rujukan yang telah di buat, harus mampu diaplikasikan oleh tenaga kesehatan yang operasional prosedur (SOP), agar tidak menimbulkan kerugian bagi pasien (Pedoman Sistem Rujukan Nasional, 2. Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada disuatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian Apabila seluruh faktor pendukung . emerintah, teknologi, transportas. terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat. Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan bahwa beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan yaitu tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, dan tidak ada peraturan(Depkes RI. Pelaksanaan Sistem Rujukan Kesehatan di Pelayanan Kesehatan harus mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 001 Tahun 2012 tentang sistem rujukan perseorangan. Pedoman ini diharapkan dapat mengarahkan proses berkesinambungan dalam satu sistem rujukan medik yang berfungsi secara efektif, efisien dan mantap (Pedoman Sistem Rujukan Nasional. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dijelaskan bahwa terdapat>70% Penyakit yang ditangani Rumah Sakit adalah (Puskesma. (Kesehatan et al. , 2. Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 47 Sistem Rujukan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat mencakup 3 . aspek Pelayanan Kesehatan Dasar yaitu Rujukan Pasien. Rujukan Spesimen/Penunjang Diagnostik lainnya dan Rujukan Pengetahuan, yang mana ketiganya dapat dilaksanakan secara horizontal, vertikal atau kedua-duanya dari tingkat bawah ke tingkat yang lebih tinggi. Pelayanan Kesehatan Dasar telah tersedia pada semua tingkatan mulai dari tingkat dasar Polindes/Poskesdes. Puskesmas Pembantu. Puskesmas dan Praktek Swasta sampai ke tingkat yang lebih tinggi seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. Apabila Polindes/Poskesdes. Puskesmas Pembantu. Puskesmas, atau Klinik Swasta menerima atau merawat kasus gawat darurat dan tidak berwenang atau tidak mampu memberikan penanganan medis tertentu atau pelayanan kesehatan penunjang, maka harus merujuk pasien tersebut kepada fasilitas kesehatan yang Rumah Sakit Pemerintah/Swasta atau fasilitas kesehatan (Kesehatan et al. , 2. Saat ini Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat belum berjalan secara optimal disemua tingkat fasilitas kesehatan, hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya kasus kematian ibu dan anak, diare, pneumonia, dan kasus Ae kasus lain yang memerlukan rujukan dan balasan rujukan . ujukan bali. namun tidak terlayani secara memadai (Petunjuk Teknis Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2. Berdasarkan data yangpeneliti dapatkan dimasing - masing Puskesmas di wilayah Kota Mataram, menunjukkan jumlah perawat dan dokterdi Puskesmas di wilayah Kota Mataram sebanyak 217 orang dan jumlah rujukan dari seluruh Puskesmas di wilayah Kota Mataram ke Rumah Sakit berjumlah 104 rujukan Kemampuan pelayanan keperawatan di Puskesmas yaitu berupa pelayanan rawat inap bersalin. Instalasi Gawat Darurat. Instalasi rawat jalan harus mampu ditangani dalam upaya mengurangi pelaksanaan rujukan merupakan berbagai kasus dimasyarakat. Berbagai kasus dan masalah kesehatan lain di masyarakat masih memungkinkan dilakukan rujukan ke rumah sakit sehingga kemampuan pelayanan perawatan tidak banyak mengurangi Puskesmas. keterbatasan sumberdaya di pelayanan dasar seperti sarana dan peralatan, dan belum disiapkannya RSUD sebagai rumah sakit mampu PONEK, walaupun aktifas pelayanan 24 jam sudah berjalan. Kurangnya kerjasama tim antar level rujukan yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten. RSUD dan puskesmas, belum lengkapnya SOP, lemahnya sistem informasi dan alur rujukan yang by pass masih (Zulhadi et al. , 2. Menurut Syafrudin . , tatalaksana rujukan diantaranya adalah internal antarpetugas di satu rumah. antara puskesmas pembantu dan puskesmas. antara masyarakat dan puskesmas. antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya. antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. internal antarbagian/unit pelayanan di dalam satu rumah antar rumah sakit, laboratoruim atau (Listyorini & Wijananto, 2. Permenkes Nomor 40 Tahun 2012 tentangPedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat menyebutkan bahwa kendala pelaksanaan Jamkesmas yang masih terjadi yaitu sistem rujukan belum berjalan secara Sekitar 30-75% rujukan adalah rujukan rawat jalan tingkat I yang didapatkan oleh pasien atas permintaan sendiri atau keluarga bukan atas indikasi medis. (Chabibah. Berdasarkan data tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap petugas dalam pelaksanaan sistem rujukan pasien di Puskesmas yang ada di wilayah Kota Mataram Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 48 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pelaksanaan sistem rujukan1. Eksternal pasien Puskesmas di wilayah Kota Mataram. Desain Penelitian Desain penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah penelitian deskriptifanalitik dengan pendekatan cross sectional (Notoatmodjo. Populasi dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh petugas kesehatan . erawat dan dokte. di Puskesmas di wilayah Kota Mataram sebanyak 217 orang. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan quota besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 76 orang yang terdiri dari perawat atau dokter yang ada di Puskesmas di wilayah Kota MataramInstrumen penelitian yang digunakan yaitu Lembar observasi atau checklist digunakan untuk mengidenfikasi pelaksanaan sistem rujukan pasien di Puskesmas di wilayah Kota Mataram. Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data secara primer. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi langsung dengan Usia Frekuensi Persentase . (%) 17-25 Tahun 26 - 35 Tahun 36 - 45 Tahun 46 - 55 Tahun Total responden di Puskesmas di wilayah Kota Mataram. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial, dengan dibantu program SPSS (Statistical Product and Service Solution. Analisis univariat dalam penelitian ini terdiri dari karekterisktik responden pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien. HASIL Karakteristik Responden Karakteristik responden penelitian meliputi jenis kelamin, umur, jenjang pendidikan, dan Penjabaran mengenai deskripsi responden terlihat dari beberapa penjabaran variabel sebagai berikut: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada penelitian ini jenis kelamin responden dikatagorikan menjadi dua yaitu laki-laki dan Tabel berikut ini akan menyajikan mengenai jumlah responden berdasarkan jenis Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas wilayah Kota Mataram tahun Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki Ae Laki Perempuan Total Sumber: Data primer Dari tabel 1. 1 di atas menunjukkan bahwa responden laki-laki sejumlah 26 orang . %) dan perempuan sejumlah 50 orang . %). Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. 2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia di Puskesmas Wilayah Kota Mataram Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 5. 2 di atas menunjukan berdasarkan usia, dimana sebagian besar responden berusia 26 - 35 tahun sebanyak 39 responden atau sebanyak 51,3%, sedangkan responden yang paling sedikit berusia 46 - 55 tahun sebanyak 7 orang atau sebanyak 9,2%. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 49 Distribusi frekuensi responden berdasarkan status pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. 3Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan di Puskesmas wilayah Kota Mataram Pendidikan SPK Ahli Madya Sarjana Profesi dan responden kedua yaitu tenaga medis sebanyak 6 orang atau sebanyak 7,9%. Distribusi Frekuensi berdasarkan Pelaksanaan Sistem Rujukan Eksternal Distribusi frekuensi responden berdasarkan sistem rujukan eksternal dapat dilihat pada 6 di bawah ini: Persentase Frekuensi . Tabel 1. Distribusi (%) responden berdasarkan sistem rujukan eksternal di Puskesmas wilayah Kota Mataram Pelaksanaan Sistem Rujukan Frekuensi Persentase Eskternal . (%) Total Sumber: Data primer Pada Tabel 1. 3 di atas menunjukkan distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikannya, dimana responden yang paling banyak adalah responden dengan pendidikan ahli madya yaitu sebanyak 42 responden atau 55,3%, sedangkan responden yang paling sedikit adalah responden yang berpendidikan SPK yaitu sebanyak 3 orang atausebesar 3,9%. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan Distribusi frekuensi responden berdasarkan status pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5. dibawah ini: Tabel 1. 4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan di Puskesmas wilayah Kota Mataram Pekerjaan Tenaga Kesehatan Tenaga Medis Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 1. 4 di atas menunjukan distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaannya, dimana responden terdiri dari dua jenis pekerjaan yaitu tenaga kesehatan sebanyak 70 responden atau sebesar 92,1% SESUAI DENGAN SPO TIDAK SESUAI SPO Total Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 1. 6 di atas menunjukan distribusi frekuensi berdasarkan sistem rujukan eksternal menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 72 . ,7 %) dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 4 . ,3%) Responden. Distribusi frekuensi responden berdasarkan sistem rujukan eksternal pada prosedur klinis dapat dilihat pada tabel 5. 7 di bawah ini: Tabel 1. 7Distribusi frekuensi responden berdasarkan sistem rujukan eksternal pada prosedur klinis di Puskesmas wilayah Kota Mataram Pelaksanaan Sistem Rujukan Eskternal Prosedur Klinis SESUAI DENGAN SPO TIDAK SESUAI SPO Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 5. 7 di atas menunjukan distribusi frekuensi berdasarkan sistem rujukan eksternal pada prosedur klinis menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 50 Prosedur Operasional sebesar 65 . ,5 %) dan Berdasarkan tabel 1. 9 di atas menunjukan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien distribusi frekuensi berdasarkan sistem tidak sesuai dengan Standar Prosedur rujukan eksternal pada prosedur operasional Operasional sebesar 11 . ,5%) Responden. menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan Distribusi frekuensi responden berdasarkan eksternal pasien sesuai dengan Standar sistem rujukan eksternal pada prosedur Prosedur Operasional sebesar 62 . ,6%) dan administrasi dapat dilihat pada tabel 5. pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien bawah ini: tidak sesuai dengan Standar Prosedur Tabel 1. 8Distribusi frekuensiresponden Operasional sebesar 14 . ,4%) Responden. berdasarkan sistem rujukan eksternal pada prosedur administrasi di Puskesmas PEMBAHASAN Identifikasi Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelaksanaan Sistem Frekuensi PersentasePasien sesuai dengan Standar Prosedur Rujukan Eskternal (%) Operasional Prosedur Administrasi Hasil Penelitian SESUAI DENGAN SPO 48,7 pelaksanaan sistem rujukan internal pasien TIDAK SESUAI SPO 51,3 sesuai dengan Standar Prosedur Operasional Total 0 sebesar 18 . ,94%) responden dan pelaksanaan sistem rujukan internal pasien Sumber: Data primer tidak sesuai dengan Standar Prosedur Berdasarkan tabel 1. 8 di atas menunjukan Operasional sebesar 16 . ,06%) responden. distribusi frekuensi berdasarkan sistem Sedangkan pelaksanaan sistem rujukan rujukan eksternal pada prosedur administrasi eksternal pasien sesuai dengan Standar menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan Prosedur Operasional sebesar 72 . ,7%) eksternal pasien sesuai dengan Standar responden dan pelaksanaan sistem rujukan Prosedur Operasional sebesar 37 . ,7 %) dan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien Prosedur Operasional sebesar 4 . ,3%) tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 39 . ,3%) Responden. Sistem rujukan eksternal pada prosedur Distribusi frekuensi responden berdasarkan klinis menunjukkan pelaksanaan sistem sistem rujukan eksternal pada prosedur rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar operasional dapat dilihat pada tabel 5. Prosedur Operasional sebesar 65 . ,5%) dan bawah ini: pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Tabel 1. 9Distribusi frekuensi responden Operasional sebesar 11 . ,5%) Responden. berdasarkan sistem rujukan eksternal pada Sistem rujukan eksternal pada prosedur prosedur operasional di Puskesmas wilayah administrasi menunjukkan pelaksanaan sistem Kota Mataram rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Pelaksanaan Sistem Prosedur Operasional sebesar 37 . ,7%) dan Frekuensi Persentas Rujukan Eskternal pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien . e (%) Prosedur Operasional tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 39 . ,3%) Responden. SESUAI DENGAN SPO Dan sistem rujukan eksternal pada prosedur TIDAK SESUAI SPO operasional menunjukkan pelaksanaan sistem Total rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 62 . ,6%) dan Sumber: Data primer pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 51 tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 14 . ,4%) Responden. Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan ini dikembangkan atas dasar Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 032/Birhup/72 pelaksanaan Referal System. Referal System adalah suatu usaha pelayanan kesehatan antara berbagai tingkat unit-unit pelayanan medis dalam suatu daerah tertentu ataupun untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo . mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal . ari unit yang lebih mampu menangan. , atau secara horizontal . ntar unit-unit yang setingkat Sederhananya, sistem rujukan mengatur dari mana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. (Nurlinawati et al. , 2. Pengiriman pasien rujukan harus dilaksanakan sedini mungkin untuk perawatan dan pengobatan lebih lanjut ke sarana pelayanan yang lebih lengkap. Unit pelayanan kesehatan yang menerima rujukan harus merujuk kembali pasien ke sarana kesehatan pengawasan pengobatan dan perawatan termasuk rehabilitasi selanjutnya. (Ratnasari. Deskripsi Pelaksanaan Sistem Rujukan Eksternal Pasien Puskesmas Berdasarkan pelaksanaan sistem rujukan pasien eksternal didapatkan bahwa pelaksanaan sistem rujukan eksternal sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 72 . ,7%) responden dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 4 . ,3%) responden. Dari hasil tersebut menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan pasien puskesmas sangat baik, namun jika kita perhatikan secara spesifik sistem rujukan eksternal pada prosedur klinis menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 65 . ,5%)dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 11 ,5%) Responden. Pada administrasi menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 37 . ,7%) dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 39 . ,3%) Responden. Dan pada prosedur operasional menunjukkan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 62 . ,6%) dan pelaksanaan sistem rujukan eksternal pasien tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional sebesar 14 . ,4%) Responden. Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal . omunikasi antara unit yang sederaja. maupun horizontal . omunikasi inti yang lebih Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan di catat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain : nomor surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien keluarga miskin . atau non gakin termasuk umum. ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, nama dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang, kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu. ihat format R/1/a. Surat Rujukan Pasie. Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah menerima pasien rujukan dan setelah selesai merawat pasien tersebut mencatat informasi balasan rujukan di surat balasan rujukan yang dikirimkan kepada pengirim pasien rujukan, yang berisikan antara Corresponding Author: Irwan Hadi Email corresponding author irwanhadi711@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES YARSI Mataram. Vol 10 No. 2 Juli 2020 P-ISSN: 1978-8940 P a g e | 52 lain: nomor surat, tanggal, status pasien keluarga miskin . atau non gakin termasuk umum. ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, nama dan identitas pasien, hasil diagnosa setelah dirawat, kondisi pasien saat keluar dari perawatan dan follow up yang dianjurkan kepada pihak pengirim (Lihat format R/1/b. Surat Balasan Rujuka. Informasi pengiriman spesimen dibuat oleh pihak pengirim dengan mengisi Surat Rujukan Spesimen, yang berisikan antara lain : nomor surat, tanggal, status pasien keluarga miskin . atau non gakin termasuk umum. ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, jenis/ bahan spesimen dan nomor spesimen yang dikirim, tanggal pengambilan. (Chabibah, 2. Permenkes Nomor 40 Tahun 2012 tentangPedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat menyebutkan bahwa kendala pelaksanaan Jamkesmas yang masih terjadi yaitu sistem rujukan belum berjalan secara optimal. Sekitar 30-75% rujukan adalah rujukan rawat jalan tingkat I yang didapatkan oleh pasien atas permintaan sendiri atau keluarga bukan atas indikasi (Setiawati & Nurrizka, 2. Referensi Chabibah. 159 Analisis Rasio Rujukan