JURNAL RISET KESEHATAN NASIONAL P - ISSN : 2580-6173 | E Ae ISSN : 2548-6144 VOL. 9 NO. 1 April 2025 | DOI :https://doi. org/10. Available Online https://ejournal. itekes-bali. id/jrkn Publishing : LPPM ITEKES Bali HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU TEMPER TANTRUM PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH : LITERATUR REVIEW (The Relationship Of Parenting Care Patterns With Temper Tantrum Behaviour In Preschool Age Children : A Literature Revie. Rizky Pratiwi1. Intan Nur Pratiwi2 Program Studi Sarjana Keperawatan. STIKES Panakkukang Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia Departemen Neurologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia Corresponding author: kikipratiwirizky@gmail. Received : Oktober, 2024 Accepted : Februari, 2025 Published : April, 2025 Abstract The patterns implemented by parents in raising children greatly influence children's development. Parenting patterns have been proven to contribute to children's self-control, such as the way children empathize, show respect, express feelings and control anger. Wrong parenting and communication patterns result in children being difficult and having a tendency to fail in developing their emotional control abilities, including temper tantrum behavior. This study aims to review various literature on the relationship between parenting styles and temper tantrum behavior in preschool-aged children. The method used is a literature review by collecting articles using an electronic database and then carrying out the literature review stage. The search results obtained 12 articles that were in accordance with the literary objectives published in the period 2015-2024. Based on the articles reviewed, it was found that tantrum behavior is generally a normal thing that occurs in preschool children. The parenting style applied by parents greatly influences a child's emotional maturity, including aggressive behavior and the intensity of their temper tantrums. relationship between parents and preschool children influences the formation of children's attitudes in the external environment and towards themselves. Each form of parental care, such as democratic, permissive or authoritative parenting applied by parents, has a relationship to the intensity of temper tantrum behavior in pre-school aged children. The importance of health education for parents regarding parenting care patterns that are applied to children's emotional development, including temper tantrums. The role of pediatric nurses is to provide cognitive, affective and psychomotor education to parents to know and identify emotional development, especially temper tantrum behavior in pre-school children. Keywords: parenting patterns, temper tantrums, preschool age children Abstrak Pola yang diterapkan orang tua dalam pengasuhan anak sangat berkontribusi dalam kendali dalam diri anak termasuk dalam hal mengungkapkan perasaan dan mengendalikan rasa marah. Pola pengasuhan yang kurang tepat mengakibatkan anak usia prasekolah menjadi sulit mengembangkan kemampuan kendali emosional atau perilaku temper tantrum. Studi ini adalah bentuk telaah literatur tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku temper tantrum pada anak usia prasekolah. Metode dalam penelitian ini adalah literature review dengan cara mengumpulkan artikel menggunakan Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 29 database elektronik seperti Proquest. Sciencedirect. Google scholar. CINAHL dan PubMed. Kata kunci yang digunakan antara lain pola asuh orang tua, temper tantrum dan usia prasekolah. Kriteria inklusi yang ditetapkaan dalam penelusuran literatur yag digunakan antara lain literatur hasil penelitian dengan populasi dan sampel anak usia prasekolah, literatur atau studi penelitian dengan variabel pola asuh orang tua dan anak usia prasekolah. Sedangkan kriteria ekslusi yang ditentukan dalam telaah literatur ini antara lain menggunakan metodologi kualitatif, studi dengan metode tinjauan sistematis, hasil penelitian atau studi dengan variabel pola asuh orang tua tetapi menggunakan populasi dan sampel bukan anak usia prasekolah . emaja, usia sekolah dl. , dan literatur yang diterbitkan dalam bahasa selain bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Didapatkan sebanyak 12 artikel yang dianggap sesuai dengan tujuan review dan kriteria inklusi lalu dilakukan tahapan telaah literatur. Artikel yang digunakan diterbitkan dalam kurun tahun 2015-2024. Berdasarkan artikel yang ditelaah didapatkan bahwa perilaku tantrum pada umumnya merupakan hal yang wajar terjadi pada anak prasekolah. Pola asuh yang diterapkan orang tua sangat berpengaruh pada kematangan emosi anak termasuk perilaku agresif anak. Kebanyakan artikel yang ditelaah menunjukkan bahwa pola asuh yang lebih otoriter dan lebih permisif menunjukkan reaksi temper tantrum toddler yang lebih tinggi. Sedangkan pola asuh orang tua yang demokratis tidak berhubungan secara signifikan terhadap kejadian temper tantrum pada toddler. Hubungan orangtua dan anak prasekolah memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap anak-anak dalam lingkungan luar dan kepada diri mereka sendiri. Tiap pola aasuh yang dipilih orang tua dalam pengasuhan anak dalam keluarga memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Pola asuh demokratis memiliki intensitas temper tantrum yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter dan permisif. Pentingnya pendidikan kesehatan kepada orang tua tentang parenting care pattern yang diterapkan terhadap perkembangan emosional anak termasuk temper Dibutuhkan Peran perawat anak memberikan pendidikan kognitif, afektif dan psikomotor kepada orang tua untuk mengetahui dan mengidentifikasi perkembangan emosi khususnya perilaku temper tantrum pada anak usia pra sekolah sehingga dapat meningkatkan keterampilan orang tua dalam pengasuhan anak pada usia prasekolah dengan tepat. Kata kunci : pola asuh orang tua, temper tantrum dan anak usia prasekolah. LATAR BELAKANG Pembentukan kecerdasan emosional anak di tentukan oleh faktor dalam dan luar. Faktor meliputi rangsangan dan lingkungan, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh terbukti memiliki peran dalam kemampuan anak dalam mengendalikan emosi, amarah, bagaimana anak berempati, menyesuaikan diri dengan lingkungan luar, ketekunan, rasa setiakawan dan menunjukkan rasa hormat (Hidayah. Yunita. Utami, 2014 . Subandi, 2. Menurut data dari WorldAos Bank perkembangan dini pada anak yang melibatkan 8 negara yaitu Indonesia. Filipina. Yordania. Chili. Kanada. Australia. Meksiko dan Mozambik menunjukkan hasil bahwa pada umumnya anak-anak Indonesia dalam bidang kemampuan komunikasi dan pengetahuan umum setara dengan anak-anak Yordania dan mengungguli anak-anak dari Filipina. Akan tetapi dalam hal kelemahan dan kecerdasan emosional, persentase anak- anak Indonesia masih rendah dan berada di urutan ke dua setelah Filipina. (Anjarsari & Saifuddin, 2. Hal ini memberikan petunjuk bahwa kemungkinan pola asuh yang diterapkan pada anak-anak Indonesia memiliki hubungan dengan kemampuan mereka dalam mengelola emosi. Periode prasekolah adalah masa anak Ae anak yang berumur 3-6 tahun mengalami kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan Pertumbuhan fisik menjadi lebih lambat dibanding saat usia toddler. Justru pada perkembangan pesat adalah kognitif, bahasa dan yang paling penting dan berperan adalah psikososial dan emosional Pertumbuhan fisik menjadi lebih lambat dibanding saat usia Justru pada usia prasekolah, yang mengalami perkembangan pesat adalah kognitif, bahasa dan yang paling penting dan berperan adalah psikososial dan emosional. Masa anak usia prasekolah sering disebut dengan Augolden ageAy atau masa emas cenderung lebih mudah mengalami ledakan emosi (Anzani & Insan. Piaget menunjukkan adanya sifat egosentris yang tinggi pada anak karena anak belum dapat memahami perbedaanperspektif pikiran orang lain. Pada tahapan usia ini anak hanya mementingkan dirinya sendiri dan belum mampu bersosialisasi secara baik dengan orang lain. Anak belum dapat mengerti bahwa lingkungan masyarakat sekitar seringkali memiliki cara pandang yang berbeda Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 30 dengan dirinya (Suyanto, 2. Anak masih melakukan segala sesuatu demi dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Awal perkembangan sosial emosional pada anak tumbuh dari hubungan anak dengan orang tua atau pola pengasuhan dirumah terutama oleh anggota keluarganya (Anzani & Insan, 2. Anak usia prasekolah belum memiliki kemampuan dalam regulasi emosi dengan baik, belum dapat mengatasi perasaan marah, kecewa atau frustasi. Ketika periode tersebut terjadi pada anak, maka tantrum muncul sebagai respon spntan ketidakmampuan mengendalikan Misalnya Ketika ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan harapan anak, maka mereka cenderung bereaksi dengan ledakan emosi yang besar yang disebut sebagai temper tantrum. (Widya. Rosana. Ependi & Zahrita, 2. Temper tantrum didefinisikan sebagai perasaan marah yang ekstrim dan diwujudkan oleh anak sebagai serangan, jeritan, memukul. Melompat, tangisan histeris atau episode komplet ketika toddler membanting dirinya sendiri ke lantai, menendang, berteriak, dan memukul bahkan mungkin menahan napas memukul, melompat bahkan beberapa anak menahan napas ketika mengalami kejadian tantrum (Kyle & Carman, 2. Untuk anak yang usianya lebih muda . , bahkan sering pipis, sesak dan muntah karena terlalu banyak menangis sambil berteriak (Tandry, 2010. Syam, 2. Kemampuan koping yang dimiliki oleh toddler akan terbatasi oleh keletihan atau rasa marah yang dialaminya. Hal ini dapat meningkatkan perilaku negative dan temper tantrum (Lynnes, 2008 . Kyle & Carman, 2. Definisi singkat temper tantrum dinyatakan oleh Ridha Lansdown . dalam Hildayani, dkk . bahwa Autantrum are an extreme ekspression of temper, amfer and out of controlAy. Sehingga disimpulkan bahwa tantrum merupakan sebuah ekspresi kemarahan pada anak yang sangat kuat dan membuat anak menjadi lepas kontrol yang menyebabkan anak menendang, menghentakkan kaki tangan di lantai disertai dengan jeritan dan tangisan. Kejadian atau intensitas temper tantrum pada anak yang sering akan menimbulkan tekanan tersendiri bagi para orang tua maupun orang di lingkungan anak tersebut. Temper tantrum pada anak usia prasekolah seringkali disebabkan oleh hal berikut : Keterbatasan Bahasa dan Kemampuan dalam berkomunikasi. Anak usia harapan mereka secara verbal dengan baik sehingga saat maksud mereka tidak tercapai atau terkabulkan oleh orang tua, maka akan merasa frustasi dan meluapkan emosi dengan tantrum. Misalnya anak menginginkan ssuatu mengungkapkan sehingga menjadi marah atau menangis. Ketidakmampuan mengatur emosi. Anak usia dini belum memiliki kemampuan mengatur emosi dengan baik sehingga sering terpicu menjadi ledakan emosi dalam bentuk temper Keinginan untuk mandiri tetapi terbatas oleh kemampuan fisik. Anak usia prasekolah cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa seperti makan, berpakaian, berhias Namun kemampuan fisik dan kordinasi motorik dan sensorik mereka masih terbatas. Ketika mereka melakukan sesuatu tetapi gagal atau merasa tidak mampu, akan memicu frustasi dan berujung pada temper Tantrum akibat keinginan untuk mandiri yang tidak berhasil biasanya disertai dengan tindakan fisik seperti mencoba melakukan sesuatu sendiri dan kemudian menangis atau Gangguan perilaku anak yang tidak terkontrol saat sedang marah menimbulkan masalah bagi orang tua dan terhadap anak itu sendiri. Pengaruh keterampilan parenting yang dimiliki oleh orang tua akan mempengaruhi pribadi anak hingga beranjak dewasa. (Urquiza & Timmer. Kondisi anak yang tantrum menjadi hal yang meresahkan bagi orang tua. Temper tantrum dapat menyebabkan kebingungan dan kecemasan bagi orang tua, yang mencari cara terbaik untuk meredakan situasi tanpa menekan ekspresi emosi anak. Menurut Muzakkir . , perilaku tantrum pada umumnya merupakan hal yang wajar terjadi pada anak Ae anak sebab mereka dalam masa perkembangan kognitif, fisik serta emosi. Lebih lanjut menurut Hildayani, dkk . , perilaku tantrum pada anak sebenarnya memiliki aspek yang positif sebab dengan cara ini anak dapat belajar mempertahankan dirinya ketika berada dalam keadaan terganggu atau sesuatu yang menjadi miliknya diambil. Dalam hal ini kejadian temper tantrum merupakan AureleaseAy yang lebih Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 31 baik terjadi daripada mereka menunjukkan perilaku yang pasif (Wulansari, 2. Hal positif yang bisa dilihat dari perilaku temper tantrum adalah anak ingin menunjukkan kemandiriannya . dalam melakukan sesuatu, mengekspresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustasi, dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah, atau sakit (Dinantia, 2. Namun bukan berarti bahwa temper tantrum bias didukung, misalnya saat kita pergi ke lingkungan prasekolah atau taman bermain, kita sering menemukan orang tua atau guru berusaha untuk mengatasi anak-anak yang menjerit, menangis, memukul, merengek, mengeluh, atau mencoba melarikan diri. Anak-anak ini sedang mengalami temper tantrum. Hal seperti inilah yang menyebabkan temper tantrum tidak dapat didukung karena dapat menimbulkan dampak negatif salah satunya dapat menimbulkan frustasi dan kadang-kadang pengalaman memalukan bagi orang tua, dan pengasuh (Ramadia, 2. Menurut Hildayani . , terdapat jenis Ae jenis temper tantrum yang sering terjadi adalah : Manipulative tantrum, terjadi ketika biasanya akan berhenti ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkan Verbal frustration tantrum, terjadi ketika anak sebenarnya menginginkan sesuatu tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginan tersebut Hal menimbulkan frustasi bagi anak. Temperamental tantrum, terjadi saat anak dalam tahap frustasi yang tinggi sehingga perilaku menjadi tidak terkontrol dan sangat emosional. Ini menyebabkan anak menjadi kecewa, lelah, kesulitan berkonsentrasi dan sulit mengendalikan diri sendiri. Pada tahap lanjut, anak menjadi bingung dan Meskipun diungkapkan secara verbal, sebenarnya pada saat mengalami hal ini anak sangat membutuhkan pertolongan orang tua. Apabila frekuensi dan kejadian tantrum pada anak tidak berlebihan dan dapat dikendalikan, menghilang dengan sendirinya sebab sesuai dengan pertambahan usia , anak akan mampu mengontrol emosinya. Tetapi perilaku tantrum ini tidak boleh dibiarkan begitu saja bila intensitasnya tergolong tinggi atau sering karena membuat anak tidak mampu meluapkan emosi secara wajar (Kyle & Carman, 2. Parenting care pattern atau pola asuh orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak di masa ini. Pola asuh orang tua terbukti sangat mempengaruhi kendali dalam diri anak, bagaimana anak berempati, menunjukkan sikap mengendalikan rasa marah (Hidayah dkk. Orang tua yang memikul beban tugas memiliki dampak yang signifikan dalam membesarkan generasi anak yang bermoral, bertanggung jawab, dan mandiri. Pola asuh adalah pola kontak antara orang tua dan anakanak mereka yang mencakup memenuhi kebutuhan tubuh, psikologis, dan mental mereka serta mensosialisasikan mereka pada normanorma yang diterima sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan lingkungannya. (Fitria & Widjayatri, 2. Keterlibatan orang tua terhadap karakter, sikap, dan perilaku anak semata-mata bertujuan untuk mencegah agar anak tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Tujuan mengasuh anak adalah agar anak mengembangkan berbagai keterampilan yang bermanfaat bagi mereka, termasuk keterampilan pengendalian diri khususnya emosi yang dirasakan oleh anak. Studi ini bertujuan Studi ini bertujuan untuk menelaah literatur mengenai hubungan antara pola asuh yang diterapkan orang tua dan intensitas temper tantrum pada anak usia METODE Telaah literatur dilaksanakan dengan menelaah beberapa artikel ilmiah . iterature revie. berupa hasil penelitian antara tahun 2015 sampai tahun 2025 yang relevan dengan tema penelitian. Sebelum melakukan pencarian dan telaah literatur, terlebih dahulu dilakukan penentuan kriteria inklusi dan ekslusi. Adapun kriteria inklusi yang ditentukan adalah : Artikel penelitian yang membahas pola asuh orang tua dan temper tantrum pada anak usia pra sekolah, diterbitkan kurun waktu antara 2015-2024. Artikel ilmiah yang menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris Artikel yang membahas kedua variabel utama . ola asuh dan temper tantru. Artikel atau hasil penelitian dengan populasi dan sampel anak usia prasekolah atau pola asuh orang tua. Sedangkan kriteria yang dieksklusi antara lain : Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 32 Artikel yang tidak berfokus pada anak usia pra sekolah Artikel yang tidak relevan dengan tema utama . isalnya, artikel tentang usia anak lebih tua atau tema lai. Artikel yang diterbitkan sebelum 2015 Artikel yang hanya berupa tinjauan Database pencarian literatur yang digunakan antara lain Proquest. Sciencedirect. Google scholar. CINAHL dan PubMed. Kata kunci yang digunakan adalah anak usia prasekolah, pola asuh orang tua dan temper Langkah-langkah pencarian dan literatur review yang dilakukan meliputi : Melakukan pencarian awal di database, setelah itu hasilnya disaring dengan mengaplikasikan kriteria inklusi dan Proses seleksi dilakukan dengan dua tahap : pertama, seleksi berdasarkan judul dan abstrak. seleksi berdasarkan membaca seluruh teks artikel. Pencarian literatur yang relevan dan membaca tulisan ilmiah Mengevaluasi semua tulisan ilmiah yang dibaca dilakukan pembahasan dari hasil dari pencarian literature. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian literature adalah parenting care pattern, temper tantrum dan preschool age. Kata kunci alternative dari parenting care pattern yang orangparenting style dan parenting Dari didapatkan sebanyak 53 artikel Setelah diseleksi, 21 diantaranya berpotensi relevan dan akhirnya didapatkan 10 artikel yang sesuai dengan tujuan literature. Kriteria Sampel dalam artikel ilmiah atau penelitian yang ditelaah adalah anak usia pra sekolah atau toddler yang sering mengalami temper tantrum serta orang tua yang menerapkan pola pengasuhan. Penulis tidak membatasi jenis penelitian apa yang akan digunakan dalam penelitian ini, dengan kata lain semua penulis menggunakan semua jenis penelitian baik penelitian yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dalam penelusuran lliteratur selama penelitian sesuai dengan tujuan telaah literatur dengan relevansi, objektivitas, keakuratan dan Artikel pendekatan kualitatif dianalisis dengan tema-tema utama dalam hubungan pola asuh dan temper tantrum, sementara artikel kuantitatif dianalisis dengan melihat hasil statistik atau korelasi yang ditemukan antara kedua variabel pola asuh orang tua dan temper tantrum pada anak usia prasekolah Membuat ringkasan publikasi yang telah diseleksi. Artikel yang telah diseleksi kemudian disintesis dengan pendekatan naratif meta-analisis . ika pola-pola hubungan antara pola asuh orang tua dan temper tantrum pada anak usia pra Menggabungkan keseluruhan artikel ilmiah kedalam sebuah intisari yang HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Dari hasil penelusuran artikel ilmiah didapatkan 10 artikel yang relevan dengan hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku temper tantrum pada anak usia prasekolah. Berikut adalah jurnal yang telah dianalisis : Penelitian deskriptif korelasi yang dilakukan oleh Zakiyah . tentang hubungan pola asuh dengan kejadian temper tantrum pada anak usia toddler di Dukuh Pelem. Kelurahan Baturetno. Banguntapan. Bantul menggunakan jumlah sampel sebanyak 41 responden, menunjukkan bahwa sebanyak 25 orang anak . ,8%) memiliki temper tantrum yang dapat dikendalikan dan 13 anak . ,2%) memiliki temper tantrum yang Dan sebanyak 28 orang tua . ,3%) yang memiliki pola asuh yang cenderung untuk demokratif. Sedangkan pola asuh otoriter diterapkan oleh sebanyak 10 orang . ,3%). Penelitian tentang hubungan pola asuh orang tua dengan kecerdasan emosional anak usia pra sekolah yang dilakukan oleh Hidayah. Wiji & Utami pada tahun 2015 yang Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 33 sectional study dengan teknik nonprobability sampling, menunjukkan hasil bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional pada usia pra sekolah Penelitian ini melibatkan 57 sampel orang tua peserta didik di TK Senaputera Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian, orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis sebesar 63,15 %, pola asuh otoriter sebesar 19,29% dan pola asuh permisif sebesar 17,56%. Mayoritas orangtua Senaputra menggunakan pola asuh demokratis memiliki anak yang lebih mudah mengungkapkan emosinya sehingga cenderung lebih rendah intesitas Studi eksperimental yang dilakukan oleh Shabas pada tahun 2016 yang didasarkan pada analisis dari 25 tahun berinteraksi dengan keluarga yang memiliki anak-anak usia pra sekolah di TK Leninsky Yekaterinburg. Rusia, menunjukkan hasil signifikan bahwa ada hubungan antara hubungan antara pola asuh orang tua dan anak usia pra sekolah yang juga berpengaruh pada kemampuan anak mengembangkan psikososio-emosional mereka termasuk Penelitian yang dilakukan oleh Ramadia hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak usia toddler di PAUD Kota Bukittinggi. Jenis penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 47 orang. Teknik pengambila nsampel dalam penelitian ini adalah stratified sample random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Data diolah dengan menggunakanuji spearman rho untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengn temper tantrum pada anak toddler. Hasil penelitian bivariat didapatkan nilai koefisien korelasi 0,295 signifikan0,044 yang menujukkan taraf signifikan < a . maka Ha diterima. Hubungan ini ditunjukkan dengan nilai korelasi antara pola asuh orang tua dengan temper tantrum sebesar 0,295 yang termasuk kedalam kategori Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berhubungan temper tantrum pada anak toddler. Dalam penelitian ini diharapkan orang tua terutama ibu untuk lebih memperhatikan pola asuh yang diterapkan, sehingga hal ini bisa Penelitian deskriptif korelasi yang Manaru Manoppo tahun 2023 tentang hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak usia toddler di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Damau mengetahui gambaran kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua di di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Damau mengetahui gambaran tingkat temper tantrum dan mengetahui adanya hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak toddler. Penelitian ini menggunakan metode Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh ,9%), kejadian tantrum pada anak usia toddler terbagi menjadi tantrum sedang . ,3%), tantrum rendah . ,6%), dan tantrum tinggi . ,2%). Ditemukan hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian tantrum pada anak usia toddler di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Damau dengan nilai p=0,000 < 0,05. Sebagai kesimpulan, mayoritas orang tua menerapkan pola asuh demokratis, sementara mayoritas anak usia toddler mengalami tantrum sedang, dan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian Sebagai mempertimbangkan faktor pendidikan orang tua, lingkungan, dan kondisi sosial-ekonomi dalam mempengaruhi kejadian tantrum. Penelitian yang dilakukan oleh Utami dkk tahun 2024 tentang pengetahuan ibu tentang pola asuh anak temper tantrum pada toddler di desa Wedoro Kabupaten Penewangan. Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 34 Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Jumlah partisipan pada penelitian ini adalah 4 orang. Teknik Tempat penelitian di Desa Wedoro Kecamatan Penawangan. Pengambilan data dengan model wawancara yang memfokuskan pada kasus tertentu yaitu mengenai pengetahuan ibu terhadap temer Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 3 . %) dari 4 responden menunjukkan bahwa ibu di desa memahami anak saat terjadi temper tantrum dan 1 . %) dari responden menunjukan bahwa belum terlalu memahami dan mampu mengendalikan anak saat terjadi temper tantrum. Ini menujukan bahwa pengetahuan ibu di desa wedoro mengenai temper tantrum Kesimpulan: Berdasarkan pengetahuan ibu terhadap pola asuh anak temper tantrum pada toddler di desa wedoro kecamatan penawangan dapat disimpulkan, bahwa sebagian ibu 3 dari 4 resonden di desa wedoro mengalami temper tantrum dan sebagian membiarkan jika anak mengalami tantrum. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah. Novalin dan Selviana tahun 2025 tentang Hubungan Pola Komunikasi Efektif Dan Pola Asuh Demokratis Dengan Temper Tantrum Anak Usia Toddler Pada Orang Tua Di Sekolah Minggu Gereja X. Subyek pada penelitian ini merupakan orang tua di Sekolah Minggu Gereja X yang memiliki anak usia toddler . -3 tahu. yang pernah mengalami temper tantrum yang berjumlah 50 orang pengambilan sampel sensus. Penelitian ini menggunakan 3 skala alat ukur, yaitu: skala alat ukur pola komunikasi efektif, skala alat ukur pola asuh demokratis, dan skala alat ukur temper Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara pola komunikasi efektif dengan temper tantrum anak usia toddler yaitu, r = . Ada hubungan negatif yang signifikan antara pola asuh demokratis dengan temper tantrum anak usia toddler yaitu, r = -. Ada hubungan yang signifikan antara pola komunikasi efektif dan pola asuh demokratis dengan temper tantrum anak usia toddler yaitu dengan R = . 555 atau Penelitian yang dilakukan Elvina tahun 2022 pada ibu yang memiliki anak temper tantrum di Desa Sobrah Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun sebanyak 64 orang dengan teknik sampling simple random sampling. Dari uji Spearman Rank didapatkan hasil sebagian besar orang tua memiliki pola asuh demokratis sebanyak . ,9%), sedangkan pola asuh otoriter sebanyak . ,3%) dan pola asuh permisif sebanyak . ,8%). Sebanyak . ,5%) mengalami temper tantrum tinggi, sedangkan sebanyak . ,0%) mengalami temper tantrum ,5%) mengalami temper tantrum rendah 2 Pembahasan Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua terbagi menjadi tiga, yaitu: pola asuh otoritor, pola asuh permisif dan pola asuh demokratis. Menurut Hurlock . peraturan yang keras untuk memaksa perilaku yang diinginkan menandai semua jenis pola asuh yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang berat bila terjadi kegagalan, atau sama sekali tidak adanya tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak memenuhi standar yang diharapkan. Orang tua tidak mendorong anak untuk dengan mandiri keputusan-keputusan Sebaliknya, mereka hanya mengatakan apa yang harus dilakukan. Jadi anak-anak kehilangan mengendalikan perilaku mereka sendiri. Sedangkan pola asuh permisif, orang tua menunjukan sikap kasih sayang tinggi, tetapi dengan kendali dan tuntutan prestasi yang Pada tipe pola asuh ini anak tidak mandiri karena orang tua terlalu memanjakan anaknya sehingga anak tidak peduli dengan tanggung jawab, susah bergaul, dan dapat menghambat perkembangan moral anak (Fitriyati, 2. Pola asuh selanjutnya yaitu Pola keseimbangan hubungan dari orang tua dan Dengan cara demokratis ini pada anak akan tumbuh rasa tanggungjawab untuk Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 35 memperlihatkan sesuatu tingkahlaku dan selanjutnya memupuk rasa percaya dirinya. Anak akan mampu bertindak sesuai norma dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Gunarsa, 2. Penelitian tentang hubungan pola asuh dengan kejadian temper tantrum pada anak usia toddler di Dukuh Pelem. Kelurahan Baturetno. Banguntapan. Bantul menunjukkan bahwa responden memiliki pola asuh sudah baik pada indikator pernyataan jika anak murung dan mulai menangis, saya sering akan memeluknya, pernyataan ketika anak belajar, saya sering akan membaca buku didekatnya, pernyataan saya jarang enggan mendengarkan cerita anak tentang teman-temanya, dan pola asuh yang cenderung kurang baik pada aspek memberikan cinta dan kasih sayang. Hal ini dibuktikan pada indikator pernyataan saya sering cuek saat anak Dampaknya apabila ibu tetap cuek, semakin membuat anak merasa takut. Padahal dengan banyak memberikan kesempatan bercerita pada anak, melihat apa yang menyebabkan menangis, hal ini dapat meminilmalisir emosi anak, dan dapat mengetahui kemarahannya. Saat anak mengalami ledakan emosi, jika ibu tidak bisa menahan emosi atau ikut marah, kemungkinan akan meninggalkan anaknya sendirian. Jika memungkinkan gendonglah atau peluklah, sehingga anak lebih cepat menenangkan diri. Hasil penelitian ini pada aspek memuji atau mengkritik tingkah laku anak memperlihatkan gambaran pola asuh orangtua yang sudah baik pada pernyataan saya selalu memberikan pengarahan ketika anak melakukan hal-hal yang baik, pernyataan saya sering mengajari anak melakukan makan sendiri bersama teman temannya saat bermain di rumah, pernyataan saat anak melakukan kesalahan, saya jarang tegas mengatakan itu salah dan hal yang buruk. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayah. Wiji & Utami pada tahun 2015 yang menggunakan pendekatan cross sectional study dengan teknik nonprobability sampling, menunjukkan hasil bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional pada usia pra Penelitian ini melibatkan 57 sampel orang tua peserta didik di TK Senaputera Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian, orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis sebesar 63,15 %, pola asuh otoriter sebesar 19,29% dan pola asuh permisif sebesar 17,56%. Hal ini bisa disimpulkan bahwa mayoritas orangtua siswa TK Senaputra menggunakan pola asuh demokratis. Pada anak usia prasekolah, anak sudah mulai mandiri dan bersikap keras kepala, sering membantah dan berdebat serta dapat menunjukkan sikap agresif. Cara anak mengekspresikan rasa takut, marah dan cemas sangat tergantung bagaimana orang tua menerapkan pola asuh . arenting care Parenting care pattern atau sering disebut sebagai pola asuh orang tua mempengaruhi perkembangan emosional anak. Tiap bentuk pola asuh orang tua seperti pola asuh otoriter akan membentuk pribadi anak yang penakut, pendiam, kurang inisiatif, sering membangkang dan melanggar aturan dan pribadi anak lemah. Sedangkan pola asuh. permisif membentuk karakter anak yang impulsive, agresif, cenderung tidak patuh, manja, egois, krisis percaya diri dan cenderung kurang matang secara social. Dengan pola asuh yang permisif, anak memiliki kecenderungan berprinsip bahwa suatu keharusan bila ingin mendapatkan sesuatu, jika orang tua tidak menerapkan kedisiplinan pada pola asuh ini, anak akan menunjukkan amarah dengan berperilaku temper tantrum. Pola asuh orang tua yang demokratis akan menghasilkan karakter anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, memiliki hubungan baik dengan teman dan memiliki rasa curiosity terhadap hal-hal baru. Pola asuh demokratis ini menjadikan anak mampu mengendalikan emosi dan mengurangi temper tantrumnya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian dengan metode deskriftif korelasi yang dilakukan oleh Hartini & Hermawan pada tahun 2013 di TK Darul Falah Kudus. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan stratified random sampling memperoleh jumlah sampel sebanyak 83 orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan bahwa sebanyak 54 orang anak yang jarang mengalami temper tantrum . ,2%) dan 38 orang anak yang sering mengalami temper tantrum . ,8%). Sedangkan untuk pola asuh orang tua, sebanyak 33 yang menerapkan pola asuh demokratis . 8%) dan 25 yang menggunakan pola asuh permissive . ,1%). Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh berkaitan erat dengan kecenderungan anak mengalami temper Hal ini terbukti dengan hasil penelitian deskriptif korelasi yang dilakukan oleh Syam . tentang hubungan pola asuh orang tua terhadap kejadian temper tantrum pada anak di PAUD Dewi Kunti Surabaya menggunakan jumlah sampel sebanyak 38 responden, menunjukkan bahwa sebanyak 25 orang anak . ,8%) memiliki temper tantrum yang dapat Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 36 dikendalikan dan 13 anak . ,2%) memiliki temper tantrum yang tidak dapat dikendalikan. Dan sebanyak 28 orang tua . ,3%) yang memiliki pola asuh yang cenderung untuk Sedangkan pola asuh otoriter diterapkan oleh sebanyak 10 orang . ,3%). Peran orang tua dalam membentuk pribadi anak memang sangat penting. Pola pengasuhan erat kaitannya dengan interaksi dan komunikasi antara orang tua dan anak. Pola pengasuhan ayah dan ibu dan komunikasi yang salah akan mengakibatkan anak cenderung gagal dalam emosional mereka. Skill Parenting care pattern yang diterapkan orang tua memang sangat mempengaruhi perilaku anak pra sekolah. Konsekuensi dari perilaku tantrum pada anak dapat berdampak pada aspek kognitif, fisik, dan Jika tidak ditangani secara tepat dan dibiarkan berlanjut, hal ini dapat menyebabkan anak kehilangan kendali diri, menjadi temperamental, mudah marah, dan suka Dampak secara sosial juga dapat mempengaruhi perkembangan emosional, di mana anak mungkin kesulitan dalam mengatur emosinya dan cenderung bersikap agresif. mengakibatkan Hal kesulitan ini bisa dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, kesulitan beradaptasi, dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah. Menurut Simarmata dan rekan . , pola asuh otoriter merujuk pada pendekatan pengasuhan di mana anak diharapkan patuh tanpa memberikan kesempatan untuk bertanya. Sementara pola asuh permisif ditandai dengan pengawasan yang longgar dan kurangnya peringatan kepada anak dalam situasi Di sisi lain, pola asuh demokratis melibatkan kolaborasi antara orang tua dan anak, dengan memberikan panduan yang sesuai dengan keinginan anak dan menganggap anak sebagai individu yang dapat berkembang, serta memberikan pengawasan yang sesuai tanpa bersikap kaku (Fahmi, 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terkait dengan tingkat keparahan temper tantrum pada anak. Ketika pola asuh demokratis diterapkan, tingkat keparahan temper tantrum cenderung rendah, sementara pola asuh otoriter atau permisif cenderung meningkatkan tingkat temper tantrum anak (Watiningsih dan kolega, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah. Novalin dan Selviana tahun 2025 tentang Hubungan Pola Komunikasi Efektif Dan Pola Asuh Demokratis Dengan Temper Tantrum Anak Usia Toddler Pada Orang Tua Di Sekolah Minggu Gereja X menujukkan bahwa anak sangat di pengaruhi oleh skill parenting yang dimiliki oleh orang tua khususnya ibu dan juga dipengaruhi oleh interaksi dalam keluarga. Dalam penelitian ini, dilakukan sebuah intervensi Postive parenting education yang berdasarkan pada teori pembelajaran sosial dan objective nya adalah pencegahan permasalahan perilaku, emosi dan perkembangan pada anak dengan meningkatkan informasi, keterampilan dan kepercayaan diri orang tua. Sampel yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 sampel yang merupakan ibu dari anak dengan usia pra sekolah. Sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang parenting. Sampel diminta untuk mengisi kuesioner parenting scale and demographic. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skor dari parenting scale lebih tinggi pada ketiga sub scale yang dinilai sebelum diberikan edukasi tentang parenting. Pernyataan dari penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anme Ta, et al . di Jepang dengan jumlah sampel 340 anak-anak menggunakan metode studi kohort membuktikan bahwa keterampilan orang tua dalam hal pengasuhan ternyata memberi pengaruh yang signifikan terhadap ketampilan anak dalam proses perkembangan social emosional. Penelitian deskriptif korelasi yang dilakukan oleh Manaru dan Manoppo tahun 2023 tentang hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak usia toddler di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Damau menyimpulkan bahwa mayoritas orang tua yang memiliki anak usia toddler di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Damau menerapkan pola asuh demokratis, sementara kejadian temper tantrum pada anak usia toddler cenderung tergolong dalam kategori sedang. Terdapat korelasi yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian temper tantrum pada anak usia Disarankan bagi penelitian mendatang untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam dengan memasukkan faktor-faktor seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi lingkungan, dan status sosial-ekonomi yang dapat mempengaruhi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua kepada anak-anak. Dengan demikian, akan lebih terperinci dan holistik dalam memahami hubungan antara pola asuh dan temper tantrum pada anak usia toddler. Hasil penelitian ini didukung oleh Penelitian yang dilakukan oleh Ramadia tahun 2018 tentang hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak usia toddler di PAUD Kota Bukittinggi yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 37 asuh orang tua dan temper tantrum pada anak usia toddler Studi di Chicago menunjukkan bahwa 50 80% anak usia 2-3 tahun mengalami temper tantrum seminggu sekali, dan 20% dari mereka bahkan mengalami temper tantrum hampir setiap hari (Tiffany & Gray, 2. Indonesia, penelitian di PAUD Aisyiyah I. Tunas Bangsa, dan Mutiara Bunda di Kota Bukit Tinggi. Sumatera Barat, menunjukkan bahwa 63,8% anak mengalami temper tantrum yang parah, sementara 32,2% mengalami temper tantrum yang lebih ringan (Ramadia. Lebih lanjut, studi eksperimental yang dilakukan oleh Shabas . yang didasarkan pada analisis dari 25 tahun pengalaman praktisnya sebagai seorang psikologi yang sering berinteraksi dengan keluarga yang memiliki anak-anak usia pra sekolah di TK Leninsky Yekaterinburg. Rusia, menunjukkan hasil signifikan bahwa ada hubungan antara hubungan antara orang tua dan anak usia pra sekolah berpengaruh pada kemampuan anak mengembangkan psikososio-emosional mereka. Shabas menyimpulkan bahwa hubungan orangtua dan anak selama perioe prasekolah memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap anak-anak dalam lingkungan luar dan kepada diri mereka sendiri, menunjukkan bagaimana untuk menanggapi situasi yang berbeda, dan mengembangkan persepsi emosional. Keluarga berperan sebagai lembaga yang membentuk norma-norma sosial, sanksi, dan pola perilaku anak-anak, mengatur hubungan antara anak dan orang tua mereka dan mendorong tanggung jawab moral bersama serta sikap saling Keluarga adalah dasar untuk membentuk persepsi dan cara-cara interaksi dengan dunia anak, sehingga memberikan kontribusi bagi pengembangan kompetensi sosial dan identitas diri pada anak-anak usia pra sekolah (Sukmalara & Khodijah, 2. Sebuah studi literatur juga dilakukan oleh Rahmawati Tahun 2024. Studi tersebut menunjukkan dari semua penelitian yang ditelaah memiliki persamaan yang sama-sama menggunakan design penelitian cros sectional dan memiliki perbedaan yaitu jumlah responden dan waktu penelitian juga tempat. Beberapa memperlihatkan bahwa seharusnya pola asuh orangtua pada variabel yang diteliti itu seharusnya diteliti secara menyeluruh baik itu pola ototriter, demokratis, pola Permissive Indulgent, pola Permissive Indifferent. Dari beberapa penelitian ada yang meneiliti 2 pola asuh ada yang 3 pola asuh orangtua yang Namun, menambahkan penelitian dengan pola asuh orangtua dengan kombinasi, karena setiap orangtua pasti mempunyai tipe dan juga pola asuh yang berbeda berbeda dan komunikasi juga yang berbeda sesuai dengan situai dan kondisi diikuti dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi, dengan menciptakan keluarga yang hangat dan harmonis guna menunjang perkembangan anak yang optimal. Penelitian yang dilakukan oleh Utami tahun 2024 tentang hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak usia pra sekolah menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian yang dijabarkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua di Negmplak Bawen, mengetahui gambaran tingkat temper tantrum dan mengetahui adanya hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak pra Penelitian ini menggunakan metode Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 88 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total Metode yang digunakan dalam intervensi yaitu pengukuran menggunakan dua skala yaitu skala pola asuh orang tua dan skala temper tantrum. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa hampir setengah dari jumlah subjek penelitian mengalami temper tantrum kategori sedang dengan prosentase sebesar 47%, lebih dari seperempat jumlah subjek penelitian berada dalam kategori rendah dengan prosentase sebesar 27% dan sisanya berada dalam tingkat tinggi dengan prosentase Setelah dilakukan penghitungan pada skala pola asuh orang tua maka diketahui bahwa prosentase pola asuh orang tua adalah sebesar 45% untuk pola asuh otoriter, 41% untuk pola asuh demokratis, dan 14% untuk pola asuh Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif dengan temper tantrum pada anak pra sekolah. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokatis memiliki intensitas temper tantrum yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter dan permisif. Pola asuh yang otoriter menurut Hockenverry & Wilson . dalam Saifuddin & Anjarsari . merupakan pola asuh yang buruk sebab menuntut anak untuk selalu menuruti keinginan orang tua. Jika tidak dituruti maka orang tua biasanya akan memberi sangsi dan hukuman fisik yang keras. Sedangkan pada pola asuh permissive, memang tidak ada hukuman- hukuman keras seperti pada pola asuh otoriter ( Moris & Amanda, 2. Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 38 tetapi dalam pola asuh ini,cenderung tidak ada komunikasi yang bersifat terbuka natara orang tua dan anak (Alegre, 2. Sehingga kedua proses pola asuh ini kerap mengakibatkan interaksi antara orang tua dan anak yang kurang baik dan berdampak pada kematangan emosional anak. Lain halnya dengan pola asuh demokratif, yang dinilai dapat menjadikan anak dan orang tua lebih terbuka dan tidak terlalu kaku dalam berinteraksi, membuat anak akan mampu mengembangkan diri berdasarkan kemampuannya dan lebih cerdas secara emosional sehingga lebih mampu untuk mengurangi temper tantrumnya. Hal tersebut didukung oleh artikel penelitian yang ditulis oleh Samokhvalova . tentang hubungan antara orang tua dan anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak. Penelitian ini melibatkan 60 orang sampel menggunakan metode analisis pada sejumlah anak usia pra sekolah di Rusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan pengasuhan ibu dan ayah yang overprotektif, memberi sanksi yang berlebihan, kurangnya kepercayaan pada kemampuan pengasuhan, rasa takut kehilangan membentuk bentuk perilaku anak yang bersifat nonkonstruktif dalam situasi komunikatif . gresif, sering protes, perilaku demonstratif, dan rasa Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan Perdani dan Al-Afghani tentang Temper Tantrum pada Toddler Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua pada tahun 2018 menunjukan pola asuh yang lebih otoriter dan lebih permisif menunjukkan reaksi temper tantrum toddler yang lebih tinggi sebasar 49 anak. ,6%) dan 48 anak . ,6%) dengan nilai p value <0,05, yang berati bahwa orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter dan pola asuh permisif berhubungan secara signifikan Sedangkan pola asuh orang tua yang signifikan terhadap kejadian temper tantrum pada toddler dengan p value >0,5. Hal ini memberikan bukti adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua yang permisif dan otoriter dengan reaksi temper tantrum pada toddler. Sebuah penelitian yang sama juga dilakukan tahun 2022 oleh Elvina pada ibu yang memiliki anak temper tantrum di Desa Sobrah Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun sebanyak 64 orang dengan teknik sampling simple random Dari uji Spearman Rank didapatkan hasil sebagian besar orang tua memiliki pola asuh demokratis sebanyak . ,9%), sedangkan pola asuh otoriter sebanyak . ,3%) dan pola asuh permisif sebanyak . ,8%). Sebanyak . ,5%) mengalami temper tantrum tinggi, sedangkan sebanyak . ,0%) mengalami temper tantrum sedang dan sebanyak . ,5%) mengalami temper tantrum rendah. dengan nilai p-value = 0,000. Menujukan kekuatan hubungan antar variabel pada tingkat tinggi. Kesimpulan penelitian tersebut membuktikan bahwa hubungan pola asuh orang tua terhadap kejadian temper tantrum pada anak usia toddler . -3 tahu. di Desa Sobrah Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. Peneliti menyarankan untuk dilakukan edukasi oleh pendidik ke orang tua tentang pola asuh yang baik serta mengenai temper tantrum pada anak. Sementara itu, studi deskriptif yang dilakukan oleh Gasril dan Yarnita tahun 2021 untuk mengetahui gambaran pola asuh orang tua yang menyebabkan temper tantrum pada usia pra sekolah dengan total sampling 109 responden didapatkan data pola asuh orang tua demokrasi sebanyak 41 . ,6%), pola asuh orang tua permisif sebanyak 63 . ,8 %), sedangkan pola asuh otoriter sebanyak 5 . ,6%) dan hasil temper tantrum didapatkan temper tantrum berat sebanyak 2 orang . ,8%), temper tantrum sedang sebanyak 33 orang . ,3 %), dan temper tantrum ringan sebanyak 74 roang . ,9%) . Hasil studi ini menunjukkan bahwa mayoritas pola asumenunjukkan bahwa mayoritas pola asuh orang tua di Taman Kanakkanak Pembina Kota Pekanbaru adalah permisif dan mayoritas kejadian temper tantrum ringan Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Christina et al pada tahun 2014 tentang Differences in implicit conceptualization and attribution of the preschooler aggressiveness in relation to gender, education and subjectiveness of the parent, menjelaskan bahwa orang tua juga memiliki tingkat toleransi yang tinggi tinggi terhadap perilaku agresif yang dilakukan oleh anaknya sendiri dibandingkan dengan anak orang lain. Tujuan utama dari penelitian tersebut adalah untuk mengeksplorasi asumsi implicit . dan menguatkan strategi antara orang tua dan anak pra sekolah ketika terjadi perilaku agresif pada anak. Metode penelitian ini merupakan studi non-experimental yang dihubungkan dengan pengujian hipotesis dan untuk mengeksplorasi asumsi yang tersirat tentang perilaku aggressive anak dan dihubungkan dengan tingkat pengetahuan orang tua, jenis kelamin dan subjektivitas orang tua yang kemudian dijadikan sebagai variable Penelitian ini menggunakan teknik mix-methode dan melibatkan partisipan berusia 4 sampai 7 tahun yang dipilih secara acak untuk metode dengan pendekatan kualitatif sedangkan Jurnal Riset Kesehatan Nasional | 39 menggunakan uji PearsonAos chi-square untuk menguji korelasi antara jenis kelamin dan pendidikan dengan distribusi dari respon dari tiap-tiap indicator dari variable dependen yang meliputi pola pengasuhan orang tua, perasaan dan reaksi terhadap perilaku agresif anak, efek keinginan dan pemahaman dari penyebab perilaku tersebu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Di samping itu, analisis mengungkapkan bahwa variable kontrol bergantung pada jenis kelamin anak. Penyimpangan yang signifikan dari distribusi data dideteksi berdasarkan dari salah satu indikatornya, yaitu efek yang diinginkan dari respon orang tua terhadap perilaku agresi anak. KESIMPULAN Dari hasil telaah 8 literatur diatas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua memiliki hubungan yang signifikan terhadap perkembangan emosi dan psikososial pada anak terutama saat usia prasekolah. Pola asuh yang diterapkan orang tua sangat berhubungan dengan intensitas temper tantrum atau perilaku agresif pada anak. Tiap pola asuh yang dipilih orang tua dalam pengasuhan anak dalam keluarga memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Pola asuh demokatis memiliki intensitas temper tantrum yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter dan permisif. Peran perawat anak baik dalam tatanan klinik dan komunitas sangat diperlukan dalam memerikan pendidikan kesehatan kepada orang tua dan keluarga tentang perkembangan kecerdasan emosional pada anak usia pra Pendidikan kesehatan yang sebaiknya dilakukan oleh perawat anak yang diberikan kepada orang tua meliputi pendidikan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang mengidentifikasi perilaku agresif khususnya temper tantrum pada anak usia pra sekolah. Dari pendidikan kesehatan juga diharapkan orang tua mampu meyesuaikan parenting care pattern yang digunakan untuk penanganan temper tantrum pada anak. Diharapkan untuk penelitian berikutnya dapat memberikan informasi mengenai terapi atau penatalaksanaan yang efektif digunakan untuk penanganan perilaku agresif, khususnya untuk mengurangi intensitas temper tantrum yang sering terjadi pada anak usia pra sekolah. Adanya peran perawat anak dalam memberikan pendidikan dalam ranah yang mencakup kognitif, afektif dan psikomotor kepada orang tua untuk mengetahui perkembangan anak usia Perawat juga dapat membantu orang tua untuk mengenal jenis parenting care pattern atau pola asuh yang diterapkan pada anak dalam keluarga serta kelebihan dan kekurangan masing-masing pola asuh yang dipilih dalam pengasuhan anak. Selain itu untuk agar pendidikan yang diberikan dapat mencapai tujuan akhir maka perawat juga dapat melatih orang tua untuk mengidentifikasi perkembangan emosi pada anak sesuai dengan tahapan usia tumbuh kembangnya, utamanya perilaku agresif dan temper tantrum pada anak usia pra sekolah. PERNYATAAN PENGHARGAAN Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STIKES Panakkukang Makassar yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan literatur review sehingga dapat terselesaikan begitu juga kepada dan seluruh pihak yang membantu dalam proses DAFTAR PUSTAKA