395 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 POTENSI SOSIAL DAN EKONOMI KAIN TENUN SEBAGAI PRODUK UNGGULAN LOKAL DI DESA SUKARARA KECAMATAN JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH Oleh Muh Yusril Hamzani Saputra1. Halus Mandala2 & Ulfan Mulyawan3 1,2,3 SEKOLAH TINGGI PARIWISATA MATARAM E-mail: 1yusrilhamzani@gmail. com, 2halusmandala@gmail. 3ulfansainipar@gmail. Article History: Abstract: Desa Sukarara merupakan salah satu RReceived: 07-01-2025 pusat tenunan yang ada dipulau Lombok. Kain Revised: 09-01-2025 tenun Sukarara memiliki ciri khas tersendiri dengan Accepted: 10-0-2025 desain dan motif yang berbeda. Motif yang sering digunakan adalah motif burung, tumbuhan, binatang, garis simetris, zig-zag, segiempat yang Keywords: tersusun berderet, selang-seling, kombinasi dan Potensi. Sosial dan Ekonomi. Sebuah karya kain tenun yang sangat Kain Tenun. Produk indah dan artistik yang memiliki desain ekslusif Unggulan. yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil para Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sosial dan ekonomi kain tenun sebagai produk unggulan lokal di Desa Sukarara. Kecmatan Jonggat. Kabupaten Lombok Tengah. Metode kualitatif deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebanyak empat nara sumber dipilih sebagai informan untama untuk memberikan informasi terkait potensi sosial dan ekonomi kain tenun sebagai produk unggulan lokal di Desa Sukarara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain tenun sebagai produk unggulan lokal memiliki potensi sosial dalam aspek pendidikan, organisasi sosial/ kelompok usaha, status sosial, hubungan sosial dengan lingkungan . elasi sosia. dan gotong Selanjutnya kain tenun juga memiliki potensi ekonomi dalam aspek usaha . enis dan pekerjaa. , pendapatan, daya beli/tingkat konsumtif, dan bisnis global. PENDAHULUAN Desa Sukarara merupakan salah satu pusat tenunan yang ada dipulau Lombok. Kain tenun Sukarara memiliki ciri khas tersendiri dengan desain dan motif yang berbeda. Motif yang sering digunakan adalah motif burung, tumbuhan, binatang, garis simetris, zig-zag, segiempat yang tersusun berderet, selang-seling, kombinasi dan degradasi. Sebuah karya kain tenun yang sangat indah dan artistik yang memiliki desain ekslusif yang dihasilkan oleh a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 tangan-tangan terampil para perempuan. Tradisi bertenun, sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak khususnya anak perempuan yang ada di Desa Sukarara. Tradisi bertenun ini diperkenalkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Rata-rata anak-anak perempuan sudah pandai bertenun. Kepandaian bertenun ini diperoleh dari ibunya dan terkadang belajar secara otodidak yakni dengan cara melihat proses pembuatan kain tenun yang dilakukan oleh ibu mereka secara langsung maupun dari tentangga. Berdasarkan pemaparan Kepala Desa Sukarara, bahwa tercatat jumlah pengrajin kain tenun sebanyak 2023 orang . Proses pelaksanaan dari tradisi bertenun, masih mempertahankan cara-cara tradisional dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang digunakan dalam proses produksi kain tenun merupakan ciri khas dari masyarakat di Desa Sukarara di dalam menenun sudah menjadi warisan dari generasi kegenerasi. Di dalam pelaksanaan tradisi bertenun yang ada di Desa Sukarara didominasi oleh kaum perempuan karena kaum perempuan diharuskan untuk bisa bertenun. Menurut keyakinan masyarakat yang ada di Desa Sukarara bahwa jika kaum perempuan belum bisa bertenun maka belum diperbolehkan untuk menikah, hal tersebuat sudah menjadi keyakinan dan tradisi masyarakat di Desa Sukarara. Kecamatan Jonggat. Kabupaten Lombok Tengah sejak dahulu sampai sekarang . Selain menjadi sebuah tradisi secara turun-temurun di wariskan, bertenun juga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam mempengaruhi status sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Sukarara. Kedudukan sosial dan ekonomi ini merupakan kemampuan masyarakat untuk mampu menempatkan diri dalam lingkungannya sehingga dapat menentukan sikap/karakter berdasarkan atas apa yang dimilikinya dan kemampuan mengenai keberhasilan menjalankan usaha dan berhasil mencukupi kebutuhan hidupnya dapat dilihat dari 3 . aspek yaitu pekerjaan, pendidikan, dan pendapatan. Masyarakat di Desa Sukarara mayoritas berprofesi sebagai penenun khusunya kaum Hasil kain tenun yang sudah jadi kemudian dipajang di Artshop dan para wisatawan yang berkunjung ke Desa Sukarara. Selain itu, terdapat beberapa masyarakat pengrajin yang memanfaatkan rumahnya sendiri sebagai Artshop. Hasil kain tenun langsung dijual atau dipajang di Artsopnya sendiri dan mendapatkan pendapatan dari hasil penjualan kain tenun tersebut. Interaksi sosial dan ekonomi masyarakat dalam proses produksi kain tenun Sukarara berkontribusi dalam peningkatan pendapatan masyarakat. Hal ini terlihar dari semakin banyaknya Artshop yang memasarkan produk kain tenun Sukarara sebagai daya tarik wisata di Desa Sukarara. Selain itu saat ini tercatat bahwa kain tenun sukara mendapatkan Museum Rekor Dunia-Indonesia yang menobatkan festival budaya tersebut setelah menggelar peragaan tenun Songket Subahnale dengan jumlah perajin tenun terbanyak, yakni mencapai 2. 023 perajin. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 8 Juli Selain menenun, kegiatan tersebut berlangsung sukses dengan beragam kegiatan, seperti budaya seperti, acara Ngendang. Peresean. Pepaosan. Peragaan Busana, dan Gendang Beleq. Produk unggulan daerah Desa Sukarara yang memiliki daya saing, daya jual, dan mampu memasuki pasar global adalah tenun songket dan tenun ikat. Tenun songket adalah kain tenun yang dibuat dari benang yang dihiasi dengan benang sintesis berwarna emas atau perak, dengan waktu pembuatan sekitar satu minggu hingga satu bulan untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun. Sedangkan tenun ikat biasanya menggunakan benang katun dengan waktu pengerjaan lebih singkat yaitu satu hingga beberapa hari untuk selembar kain. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Keunikan kain tenun Sukarara yang membedakannya dengan kain tenun daerah lain selain motif dan simbol juga variasi warna yang beragam sehingga kain tenun terlihat indah dan menawan . Salah satu motif yang indah dan menawan yang menjadi produk unggulan di Desa Sukarara adalah motif Subahnale. Kain tenun yang memiliki motif Subahnale ini tidak mudah melar menjadikannya produk tenun dengan kualitas sangat baik. Produk tenun songket/ikat sebagai bentuk budaya setempat, juga dijadikan oleh masyarakat sebagai lahan usaha dengan menjual hasil-hasil tenun tersebut sebagai cinderamata khas Lombok bagi para wisatawan yang berkunjung. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menjadikan kain tenun sukarara sebagai produk unggulan lokal menjadi subjek penelitian dalam sebuah Jurnal dengan judul AuPotensi Sosial dan Ekonomi Kain Tenun Sebagai Produk Unggulan Lokal di Desa Sukarara. Kecamatan Jonggat. Kabupaten Lombok TengahAy. LANDASAN TEORI Sosial adalah subjektif yang menghitungkan perilaku orang lain yang terlibat dalam suatu tindakan. Sedangkan ekonomi kata ekonomi berasal dari kata yunani, yaitu oikos dan Kata oikos mempunyai arti yaitu rumah tangga, sedangkan kata nomos berarti mengatur, maka ekonomi dapat di artikan sebagai aturan rumah tangga. Namun rumah tangga pada umumnya tidak hanya dalam lingkup keluarga akan tetapi bisa juga berarti dalam lingkup desa, kota, higga Negara . Teori Ekonomi Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam membuat keputusan, memenuhi kebutuhan yang relative tak terbatas dengan kemampuan daya beli seseorang yang terbatas adanya dan cara berinteraksi dengan orang lain untuk mencapai titik kemakmuran dan kesejahteraan . KainTenun Sukarara Dalam Bahasa Kawi yang dikutip dari Takepan RENGGANIS, kata Songket artinya Sensek (Tenu. Nyongket artinya Nyensek . Kerajinan Nyensek dimulai dari Pemerintahan Raden Anugrah dan Raden Cempake pada tahun 1755 masehi yang pada waktu itu disebut Pemban atau Panji. Raden Ugrah memegang kekuasaan dibidang pemerintahan, sedangkan Raden Cempake dibidang pertanian, yang makamnya ada dipemakaman umum Karang Waru Dasan Duah Desa Sukarara . Produk Unggulan Lokal Produk unggulan daerah menggambarkan kemampuan daerah menghasilkan produk, menciptakan nilai, memanfaatkan sumberdaya secara nyata, memberi kesempatan kerja, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah, memiliki prospek untuk meningkatkan produktivitas dan investasinya. Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestik dan sudah menembus pasar ekspor . METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini yaitu Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 25 Km dari Kota Mataram atau sekitar 30 menit perjalan, dan sekitar 5 Km dari kota Praya atau 5 menit perjalan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Alasan peneliti mengambil lokasi di Desa Sukarara adalah karena Desa Suakarara merupakan desa yang meghasikan produk kain tenun yang banyak diminati baik dari dalam negeri maupun luar negeri, karena keunikan motif dan memiliki kualitas yang tinggi Penentuan Informan Menurut Arikunto infoman adalah orang-orang yang di anggap mengetahui dengan baik terhadap masalah yang di teliti dan bersedia untuk memberikan informasi kepada peneliti . Informan yang dipilih dalam penelitian ini terdiri dari kepala Desa. Ketua Pokdarwis. Pemilik Artshop, dan penenun. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data menunjukkan cara-cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara Wawancara adalah bentuk komunikasi antar dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Secara garis besar wawancara dibedakan menjadi dua, yakni wawancara tak terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tak terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif dan wawancara terbuka. Sedangkan wawancara terstruktur sering juga disebut wawancara baku yang susunan pertanyaannya sudah ditetapkan juga sudah disediakan . Berdasarkan uraian di atas maka peneliti menggunakan wawancara tak terstrktur untuk mendapatkan data. Hal ini dikarenakan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada informan berupa pertanyaan mendalam. Wawancara ini juga memungkinkan informan untuk menjawab pertanyaan secara lebih terbuka. Adapun yang diwawancarai ketua pokdarwis, kepala Desa, masyarakat, penenun serta pemilik Artshop. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti guna mendapatkan data yang valid dalam menunjang penelitian ini. Observasi Observasi ialah metode yang digunakan dalam menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan panca indra peneliti. Teknik ini menuntut adanya pengamatan peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian. Beberapa informasi yang diperoleh dari observasi ialah ruang . , pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, peristiwa, waktu serta perasaan. Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan secara tidak terstruktur dikarenakan fokus kajian yang belum pasti. Teknik observasi langsung digunakan dalam penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi secara valid terkait dengan penelitian yang dilakukan. Dokumentasi Teknik dokumentasi dipergunakan untuk melengkapi sekaligus menambah keakuratan, kebenaran data atau informasi yang dikumpulkan dari bahan-bahan dokumentasi yang ada di lapangan serta dapat dijadikan bahan dalam pengecekan keabsahan data. Sebagian besar fakta dan data tersimpan dalam bentuk dokumentasi seperti Dokumentasi atas riset digunakan sebagai data tambahan atau penunjang dalam penelitian saat dilakukan wawancara. Misalnya dalam bentuk foto, catatan, keterangan yang terkait dengan potensi sosial dan ekonomi kain tenun. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Teknik Analisis Data Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono terdapat tiga tahap ketika melakukan analisis data kualitatif, diantaranya sebagai berikut . Reduksi Data Pada tahap pengambilan data, seorang peneliti akan mendapatkan data yang masih Sehingga dalam hal ini peneliti perlu melakukan pemilihan, pemokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian. Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam peneliti ini adalah dengan mengumpulkan data hasil dari wawancara dan Tahap selanjutnya melakukan pengelompokkan sekaligus menganalisa jawaban informan jawaban yang sama dengan cara mengambil dan mencatat setiap informasi yang bermanfaat dan sesuai dengan tema penelitian. Model Data (Data Displa. Langkah selanjutnya setelah reduksi data adalah model data. Model data merupakan penyajian dengan mengelompokan data sesuai dengan permasalahannya masing-masing. Bentuk data yang disajikan dalam penelitian kualitatif biasanya bentuk teks dan bersifat Penarikan/ Verifikasi Kesimpulan Langkah terakhir dari analisis data adalah penarikan kesimpulan. Dalam penelitian kulitatif peneliti biasanya sudah mulai untuk menarik kesimpulan dari awal pengumpulan data, dari tahap hingga akhir peneliti melakukan suatu pemaknaan, mencatat keteraturan atau pola-pola sehingga terjadi penjelasan, konfigurasi yang untuk mudah melakukan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Sosial Kain Tenun Sukarara Sebagi Produk Unggulan Potensi sosial kain tenun sebagai produk unggulan lokal di Desa Sukarara. Kecamatan Jonggat dapat dilihat dari beberapa aspek sosial sebagai berikut. Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan yang dapat menciptkan berbagai peluang usaha dengan daya tarik wisatanya. Saat ini masyarakat sudah mulai sadar akan betapa pentingnya pendidikan. Karena dengan pendidikan sebanyak-banyaknya, mengembangkan, melestarikan dan memperkenalkan kain tenun sebagai produk budaya warisan leluhur yang harus tetap dijaga. Organisasi Sosial / Kelompok Usaha Tingkat organisasi sosial/kelompok usaha masyarakat di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat melalui pestival begawe Saat ini masyarakat sudah mulai sadar akan betapa pentingnya mendirikan kelompok usaha, toko-toko atau Artshop yang menyediakan bahan-bahan kain tenun. Karena dengan semakin banyaknya Artshop yang berdiri masyarakat dapat memperoleh keuntungan baik dari hasl penjualan bahan kain tenun maupun hasil produksi kain tenun. Status Sosial Tingkat status sosial masyarakat di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat. Saat ini masyarakat sudah mulai a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 menyekolahkan anaknya mulai dari tingkat SD-Peguruan tinggi, memiliki banyak asset seperti tanah, bangunan, kendaraan seperti mobil, dan motor roda dua yang dulunya sebelum kain tenun menjadi produk unggulan sebagai daya tarik wisata masyarakat tidak mampu menjadi mampu membeli hal tersebut. Hubungan Sosial dengan Lingkungan (Relasi Sosia. Tingkat hubungan sosial dengan lingkungan . elasi sosia. masyarakat di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat. Selain keunikan motifnya, proses pembuatan kain tenun juga menjadi daya tarik tersendiri. Saat ini masyarakat sudah mulai sadar akan betapa pentingnya hubungan sosial seperti menjalin hubungan kerja sama antara penenun dengan pemilik artshop, hubungan sosial anatara tokoh adat dengan masyarakat yang terlihat dari acara pestifal begawe nyesek. Gotong royong Tingkat gotong royong masyarakat di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat. Diketahui dari bentuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh masyarakat seperti gotong royong dalam kegiatan acara adat ngendang kain tenun, gotong royong dalam memperkenalkan kain tenun kepada masyarakat, gotong royong dalm kegaiatan pestifal acara begawe nyesek serta dalam acara fashion show kain tenun. Potensi Ekonomi Kain Tenun Sukarara Sebagi Produk Unggulan Usaha (Jenis dan Pekerjaa. Tingkat usaha . enis dan pekerjaa. di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat. Diketahui bahwa kain tenun Sukarara memiliki keunikan tersendiri yang menjadi salah satu daya tarik wisata. Selain keunikan motifnya, proses pembuatan kain tenun juga menjadi daya tarik tersendiri. Saat ini masyarakat sudah mulai sadar akan betapa banyaknya peluang usaha untuk dikerjakan diantaranya usaha dibidang proferti . enyewakan tempat penginapa. , usaha khas kuliner pulau lombok, usaha lahan parkiran, usaha cendara mata kahas pulau lombok, usaha jasa seperti travel, usaha penjualan kain tenun dan lain sebagainya. Pendapatan Tingkat pendapatan di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal banyak diantara masyarakat yang semula ekonomi menengah kebawah menjadi menengah ke atas artinya masyarakat yang semula pendapatannya rendah menjadi meningkat setelah kain tenun menjadi produk unggulan sebagai daya tarik wisata. Diketahui bahwa kain tenun Sukarara memiliki keunikan tersendiri yang menjadi salah satu daya tarik wisata. Selain keunikan motifnya, proses pembuatan kain tenun juga menjadi daya tarik tersendiri. Daya Beli/tingkat konsumtif Daya beli/tingkat konsumtif di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin dikenal oleh masyarakat. Kain tenun Sukarara memiliki keunikan tersendiri yang menjadi salah satu daya tarik wisata. Selain keunikan motifnya, proses pembuatan kain tenun juga menjadi daya tarik tersendiri dan diperkenalkan di acara pestifal begawe Tentu hal ini membuat kain tenun memiliki daya beli yang cukup relatif tinggi bila dibandingkan sebelum kain tenun menjadi produk unggulan . roduk wisat. Bisnis global Tingkat bisnis global di Desa Sukara meningkat semenjak kain tenun Sukarara semakin a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 dikenal oleh masyarakat. Masyarakat sudah mulai memasarkan hasil produksi kain KESIMPULAN Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa potensi sosial kain tenun sebagai produk unggulan lokal di Desa Sukarara dilihat dari aspek pendidikan, organisasi sosial/ kelompok usaha, status sosial, hubungan sosial dengan lingkungan . elasi sosia. dan gotong royong maka dapat disimpulkan bahwa kain tenun sukarara memiliki potensi terhadap aspek sosial tersebut. Sedangkan potensi ekonomi kain tenun sebagai produk unggulan lokal di Desa Sukarara dilihat dari aspek usaha . enis dan pekerjaa. , pendapatan, daya beli/tingkat konsumtif, dan bisnis global, maka dapat disimpulkan bahwa kain tenun sukarara memiliki potensi terhadap aspek ekonomi tersebut. Saran Semua pengelola termasuk pokdarwis, masyarakat dan pemerintah lebih memperhatikan potensi sosial dan ekonomi kain tenun sebegai prduk budaya yang dapat menarik wisatawan bekunjung ke Desa Wisata Sukara yang dapat meningkatkan pendapatan Meningkatkan kordinasi dan pelatihan bagi masyarakat lokal terutama penenun yang ikut serta pada acara Festival Begawe Jelo Nyesek, terutama podarwisa. Artshop, pemerintah di Desa selaku pengelola dan panitia Festival Begawe Jelo Nyesek di Desa Sukarara. Pemerintah dan masyarakat. Artshop terus tetap menjaga hubungan dan kerjasama yang baik lagi dalam pengembangan Festival Begawe Jelo Nyesek di Desa Wisata Sukarara yang akan menghasilkan kain tenun menjadi produk lokal yang dibanggakan oleh Kepada pemerintah sebagai pemilik kewenangan dan kebijakan untuk lebih berusaha memasarkan dan mempromosikan kain tenun di Festival Begawe Jelo Nyesek Desa Wisata Sukarara, baik secara langsung maupun tidak langsung. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 DAFTAR PUSTAKA