Journal of Biology Science and Education (JBSE) http://jurnal. Vol. No. Hal. Januari-Juni, . Analisis Kandungan Kimia Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucid. Sebagai Obat Herbal Retno Trianingsih*. Mestawaty As. Lestari M. Alibasyah, & Aan Febriawan Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia Received: 20 November 2021. Accepted: 25 November 2021. Published: 20 Desember 2021 ABSTRAK. Kandungan kimia merupakan senyawa atau bahan kimia yang terkandung dalam tumbuhan yang biasa dikenal dengan bahan Bahan alam merupakan bahan yang bersumber dari alam yang mengacu pada metabolit sekunder baik dalam bentuk sediaan kering, ekstrak, ataupun senyawa tunggal yang bersumber dari makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan maupun organisme. Senyawa metabolit sekunder memiliki kemampuan bioaktifitas dan dapat berpotensi sebagai antioksidan, zat pewarna, penambah aroma makanan, parfum, insektisida dan obat. Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah suruhan. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk menganalisis kandungan kimia suruhan dengan menggunakan uji fitokimia secara Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan sampel, proses pembuatan ekstrak dengan metode maserasi serta penggunaan pereaksi atau reagent berupa pereaksi dragendorff, wagner, mayer. FeCl3 1%, bubuk Mg, dan HCl pekat. Berdasarkan hasil penelitian uji fitokimia pada tumbuhan suruhan diperoleh perubahan warna dan terbentuk endapan pada sampel ekstrak suruhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid benar adanya terkandung dalam tumbuhan suruhan. Kata Kunci: Suruhan. Analisis Fitokimia. Flavonoid. Tanin. Alkaloid. Analysis of The Chemical Contentof Plants (Peperomia pellucid. as Herbal Medicines ABSTRACT Chemical constituents are compounds or chemicals contained of plants or commonly known as natural ingredients. Natural ingredients are material originating from nature that refer to secondary metabolites either in dry dosage forms, extracts, or single compounds originating from living things, both plants, animals and organisms. Secondary metabolites have bioactive abilities and have potential as antioxidants, dyes, food aroma enhancers, perfumes, insecticides and drugs/medicine. One of the plants that used as herbal medicine is suruhan. The purpose of this research was to analysis the chemical content of the phytochemical analysis hearsay qualitatively. The kind of this research is descriptive exploratory. The technique of data collection by using taking samples from the area of origin of the researchers, the process of making extracts by the maceration method and the use of reagents or reagents in the form of Dragendorf reagent. Wagner. Mayer. FeCl3 1%. Mg powder, and HCI plates. Related on the results of the phytochemical test on the messenger plant, it found that the color was change and precipitate formed in the sample of the messenger extract, so it can be concluded that the flavonoid, tannin, and alkaloid compounds were present in the messenger Keywords: Suruhan . Phytochemical Analysis. Flavonoids. Tannins. Alkaloids. Copyright A2021 Retno Trianingsih. Mestawaty As. Lestari M. Alibasyah, & Aan Febriawan Corresponding author: Retno Trianingsih. Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia. Email: retnotrianingsih12@gmail. PENDAHULUAN Suruhan atau Peperomia pellucida L. Kunth merupakan salah satu tumbuhan herbaceous liar yang termasuk dalam suku Piperaceae. Tumbuhan ini banyak tumbuh di daerah tropis dan lembab (Wulandari & Desi, 2. Akan tetapi masih ada yang belum mengetahui bahwa tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat tradisional atau obat Secara empiris, suruhan dapat mengobati sakit kepala, nyeri perut, dan membantu mengatasi timbulnya jerawat. Suruhan umumnya dikonsumsi dengan cara diseduh. Tetapi ada juga yang mengkonsumsinya sebagai lalapan segar (Cao dalam Putrajaya, dkk. , 2. Akan tetapi masing kurang atau jarang diketahui oleh Tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai obat mengandung senyawa metabolit sekunder (Pratiwi, dkk. , 2. Metabolit sekunder adalah senyawa organik yang disintesis oleh tumbuhan digolongkan atas alkaloid, terpenoid, steroid, fenolik, flavonoid,dan saponin (Saifudin dalam Mainawati, dkk. , 2. Metabolit sekunder dapat dikelompokkan berdasarkan struktur kimia, komposisi, tingkat kelarutan pada berbagai pelarut, ataupun jalur biosintesisnya dalam tubuh organisme penghasilnya. Meskipun ada berbagai dasar pengelompokkan, pada dasarnya ada tiga kelompok utama dari metabolit sekunder berdasarkan asal usul biosintesisnya yaitu terpenoid, alkaloid, dan fenolik (Nugroho, 2. Flavonoid merupakan salah satu senyawa golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua tumbuhan hijau (Markham dalam Aminah, , 2. Flavonoid hampir ditemukan disemua bagian tumbuhan termasuk buah, akar, daun dan kulit luar batang. Flavonoid merupakan senyawa alam yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat mengangkat radikal bebas yang berperan pada timbulnya penyakit degeneratif melalui mekanisme perusakan sistem imunitas tubuh, oksidasi lipid dan protein (Rais, 2. Senyawa tanin merupakan komponen zat organik yang sangat kompleks, yang terdiri dari senywa fenolik yang sukar dipisahkan dan sukar larutannya (Malangngi, dkk. , 2. Senyawa tanin digunakan sejak lama sebagai pengobatan diare, disentri, perdarahan dan mereduksi ukuran tumor (Saifudin dkk. , dalam Kusumo, dkk. Selain itu tanin berkhasiat sebagai astrigen, antidiare, antibakteri dan antioksidan (Desmiaty dalam Malangngi, dkk. , 2. Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat polar sehingga dapat terikat dalam pelarut etanol (Titis, dkk. , 2. Senyawa alkaloid memiliki fungsi yang salah satunya adalah sebagai antibakteri, dan senyawa tersebut tidak rusak pada pemanasan suhu 1000C (Fatmalia & Dewi, 2. Selain itu senyawa alkaloid bersifat toksis terhadap bakteri sehingga berkemampuan menghambat pertumbuhan bakteri . (Khairany, dkk. , 2. Penentuan adanya kandungan kimia pada tumbuhan suruhan dilakukan melalui analisis fitokimia secara kualitatif. Analisis fitokimia secara kualitatif merupakan suatu metode awal untuk meneliti kandungan senyawa-senyawa kimia (AAoyun & Laily, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kimia dari tumbuhan suruhan melalui analisis fitokimia secara kualitatif. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian deskriptif eksploratif adalah penelitian tentang suatu kondisi dengan membuat deskripsi dan gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta, sifat serta mengkaji hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nasir dalam Kariada & Irsadi. Berdasarkan pengalaman masyarakat yang berasal dari daerah peneliti, tumbuhan suruhan dimanfaatkan sebagai obat herbal dan lalapan bagi masyarakat di Desa Wanagading. Kecamatan Bolano Lambunu. Sehingga peneliti melakukan analisis kandungan kimia dengan metode uji fitokimia secara kualitatif. Variabel tunggal dalam penelitian ini adalah analisis kandungan kimia tumbuhan suruhan (Peperomia pellucid. sebagai obat herbal. Sampel Tumbuhan Sampel yang digunakan adalah tumbuhan suruhan (P. yang diambil dari Desa Wanagading. Kecamatan Bolano Lambunu. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital, gelas arloji, tabung reaksi, labu takar, gelas kimia, batang pengaduk, corong, pipet tetes, pipets ukur, labu erlemeyer, penjepit tabung, penangas listrik, kertas saring, tissue, kamera dan alat tulis. Serta bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah suruhan (Peperomia pellucid. sebanyak 500 gram, aquades, etanol, larutan FeCl3 1%, larutan HCl pekat, larutan H2SO4 pekat, kloroform, larutan amoniak, asam sulfat, bubuk magnesium, asam asetat glisial, pereaksi meyer, pereaksi dragendorff dan pereaksi wagner. Prosedur Kerja Penelitian Pengelolaan Sampel Sampel berupa tumbuhan suruhan (P. yang segar dan berwarna hijau. Setelah sampel dibersihkan dan dikeringkan, sampel dimasukan kedalam gelas beker untuk dilanjutkan ketahap ektatraksi dengan menggunaka metode maserasi dengan cara merendam sampel menggunakan etanol 96% dengan perbandingan 1:10 atau sampai sampel terendam oleh pelarut. Prinsip dari ekstraksi maserasi adalah penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk atau sampel dalam cairan penyari yang sesuai lama perendaman pada temperatur ruangan yang terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel (Hasrianti dkk, 2. Keuntungan menggunakan metode ini adalah tidak dilakukan dengan cara pemanasan sehingga dapat mencegah kerusakan atau kehilangan zat aktif yang ingin disari (SaAoadah & Nurhasnawati, 2. Serta metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawasenyawa yang bersifat termolabil (Mukhiani. Selama proses perendalam sampel disimpan di dalam wadah yang tertutup agar sampel tidak terkontaminasi, serta diaduk secara kontinu dengan menggunakan alat pengaduk secara otomatis selama 3x24 jam sampai terekstraksi sempurna. Selanjutnya sampel disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtran dan filtrat. Filtrat yang telah diperoleh kemudian di evaporasi hingga diperoleh eskstrak yang kental. Ekstrak yang diperoleh dari hasil maserasi kemudian akan diuji kandungan fitokimia dengan menggunakan berbagai pereaksi atau reagent kimia (Bialangi dkk, 2. Uji Fitokimia Ekstrak Suruhan Uji fitokimia ekstrak suruhan dilakukan dengan metode H. Cai, metode Miranda, dan metode Douglas yang meliputi senyawa flavonoid, tanin dan alkaloid. Analisis Senyawa Flavonoid Sebanyak 1 ml ekstrak suruhan ditambahkan 5 ml etanol serta dipanaskan dengan menggunakan penangas listrik selama 5 menit. Kemudian ditambah 5 tetes HCl pekat dan 0,2 gram Magnesium. Analisis Senyawa Tanin Sebanyak 0,5 ml ekstrak suruhan yang ditambahkan dengan larutan etanol hingga ekstrak Setelah dihomogenkan ekstrak yang telah tercampur dituangakn ke dalam tabung sebanyak 1 ml dan ditambahkan dengan FeCL3 Analisis Senyawa Alkaloid Sebanyak 4 ml ekstrak suruhan ditambahkan 10 ml kloroform dan 10 ml amoniak. Setelah dihomogenkan sampel disaring dan ditambahkan 10 tetes asam sulfat 2N, serta ditambahkan H2SO4 Analisis Data Analisis data kandugan kimia tumbuhan suruhan dilakukan dengan mengidentifikasi perubahan warna dan terbentuknya endapan pada ekstrak yang telah ditambahkan dengan reagen. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi Laboratorium Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako Palu, pada bulan Maret 2021 terhadap ekstrak suruhan (Peperomia pellucid. didapatkan hasil sebagai berikut. Uji Fitokimia Analisis fitokimia merupakan sala satu cara untuk mengetahui golongan utama senyawa metabolit sekunder suatu taaman (Rachmawati & Rantelino, 2. Hasil uji fitokimia ekstrak suruhan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Analisis Fitokimia Ekstrak Suruhan Uji Hasil Yang Keterangan Fitokimia Diperoleh Flavonoid Merah Positif ( ) Tanin Hijau Positif ( ) Kehitaman Alkaloid Pereaksi Endapan Dragendroff Positif ( ) merah jingga Pereaksi Wagner Endapan Pereaksi Mayer Endapan menambahkan reagen etanol. HCl, dan Mg menunjukkan hasil positif ( ) dengan ditandai adanya perubahan warna ekstrak suruhan yakni merah kecoklatan. Menurut Robinson dalam Sangi dkk. , . warna merah yang dihasilkan menandakan bahwa dalam larutan tersebut terdapat senyawa flavonoid yang diakibatkan dari reduksi oleh asam klorida pekat (HCl peka. dan Manfaat dari senyawa flavonoid itu sendiri adalah dapat mencegah pengeroposan tulang, sebagai antibiotik, dapat meningkatkan efektivitas vitamin C serta sebagai anti inflamasi (Lumbessy, dkk. , 2. Serta flavonoid juga memiliki berbagai macam efek diantaranya adalah sebagai anti oksidan, anti tumor, anti radang, anti bakteri dan anti virus (Parubak. Flavonoid dikatakan sebagai antioksidan karena flavonoid dapat menangkal radikal bebas pada saat proses penyembuhan luka (Fitri, 2. Gambar 1. Uji Senyawa Flavonoid Positif ( ) Positif ( ) PEMBAHASAN Hasil uji fitokimia dari ekstrak suruhan pada tabel 1, menunjukan bahwa ekstrak suruhan mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan Analisis Senyawa Flavonoid Senyawa flavonoid pada uji fitokimia dengan menggunakan metode H. Cai dengan Analisis Senyawa Flavonoid Senyawa tanin pada uji fitokimia dengan Miranda menambahkan reagen etanol dan FeCl3 1%, menunjukkan hasil positif ( ) dengan ditandai adanya perubahan warna ekstrak suruhan yakni hitam kehijauan. Tanin dibagi menjadi dua golongan dan dari kedua golongan tersebut memberikan reaksi warna yang berbeda terhadap larutan FeCl3 1%. Golongan tanin hidrolisis saat ditambahkan dengan larutan FeCl3 1% akan menghasilkan warna biru kehitaman dan golongan tanin kondensasi akan menghasilkan warna hijau Pada diperkirakan FeCl3 bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa tanin. Alasan penggunaan larutan FeCl3 yakni untuk mengidentifikasi senyawa fenolik termasuk tanin (Sangi, dkk. , 2. Aktivitas biologis lain dari tanin adalah selain sebagai antioksidan, akan tetapi tanin juga dapat sebagai pencegah diare dan sebagai astringen (Desmiaty dkk. , dalam Surahmaida & Handrianto, 2. Tanin juga dapat berfungsi sebagai pembentuk kolagen dan penggumpalan darah (Jaelani dalam Khairany, , 2. Tanin juga sebagai astringen . at untuk menyusutkan atau mengecilkan jaringan pada tubuh seperti pori-por. yang mampu menciutkan luka sehingga pendarahan dapat lebih cepat berhenti dan mengering (Ashok, dkk. , dalam Khairany, dkk. , 2. Gambar 2. Uji Senyawa Tanin Analisis Senyawa Alkaloid Senyawa alkaloid pada uji fitokimia dengan Douglas menambahkan reagen klorofrom, amoniak, asam sulfat. H2SO4, meyer, wagner dan dragendroff menunjukkan hasil positif ( ) dengan ditandai adanya perubahan warna dan endapan. Pada ekstrak yang ditambahkan dengan pereaksi dragendroff menunjukkan adanya perubahan berupa terbentuknya endapan merah jingga yang menandakan bahwa kandungan senyawa alkaloid terdapat pada ekstrak suruhan. Kemudian pada ekstrak yang ditambahkan dengan pereaksi wagner menunjukkan adanya perubahan berupa terbentuknya endapan merah kecoklatan yang menandakan bahwa kandungan senyawa alkaloid terdapat pada ekstrak suruhan. Dan pada ekstrak yang ditambahkan dengan pereaksi meyer terbentuknya endapan berwarna putih yang menandakan bahwa kandungan senyawa alkaloid terdapat pada ekstrak suruhan. Prinsip kerja dari metode analisis ini adalah reaksi pengendapan yang terjadi karena adanya pergantian ligan. Dimana atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iodo dalam pereaksi. Perekasi dragendorff mengandung bismut nitrat dan kalium iodida dalam larutan asam asetat glasial . alium tetraiodobismutat . Pereaksi wagner mengandung iod dan kalium iodida. Sedangkan perekasi meyer mengandung kalium iodida dan merkuri klorida . alium tetraiodomerkurat (II)] (Sangi, dkk. , 2. Alkaliod memiliki efek dalam bidang kesehatan berupa anti hipertensi dan anti diabetes melitus (Sangi, dkk. , 2. Alkaloid juga memiliki efek farmakologis, diantaranya sebagai pemicu sistem saraf, anti bakteri, dan anti jamur, serta dapat mengobati penyakit jantung, menaikkan tekanan darah (Robinson dalam Surahmaida & Handrianto. Senyawa alkaloid juga bersifat toksik terhadap bakteri sehingga memiliki kemampuan . bahkan dapat membunuh bakteri . (Sumardjo dalam Khairany, dkk. Gambar 3. Uji Senyawa Alkaloid . Keteranga: : Pereaksi Dragendroff : Pereaksi Wagner : Pereaksi Meyer KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji fitokimia ekstrak tumbuhan suruhan yang berasal dari desa wanagading positif mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid. Hal ini dikarenakan adaya identifikasi golongan senyawa dengan menggunakan reaksi kimia yakni terjadinya perubahan warna dan terdapatnya endapan setelah ekstrak diberikan reagent. DAFTAR PUSTAKA