Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 FORMULASI DAN UJI MUTU FISIK KRIM MASKER WAJAH AntiAging BERBASIS FRAKSI ETIL ASETAT DAUN MIANA (Coleus scutellarioides (L) Bent. Silaban Erllin Tirza Stevany1*. Muh. Taufiqurrahman1. Nurillahi Febria Leswana1 Program Studi Farmasi. STIKES Dirgahayu. Samarinda. Kalimantan Timur Email: silabanerllin@gmail. Artikel diterima: 23 Agustus 2024. Disetujui: 18 Maret 2025 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan bahan kosmetik adalah daun miana (Coleus scutelleroides (L) Bent. yang mengandung senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang dapat digunakan untuk perawatan kulit. Senyawa tersebut dapat mencegah radikal bebas yang dapat menyebabkan penuaan dini. Digunakan metode ekstraksi pada penelitian ini dengan pelarut etanol 96% dan dilanjutkan dengan proses fraksinasi. Penentuan aktivitas antioksidan ditentukan dengan menghitung nilai IC50 dimana nilai IC50 fraksi etil asetat daun miana yang didapatkan adalah 27,90 ppm. Pada penelitian, dibuat formulasi sediaan krim masker wajah dengan variasi bahan aktif . ,6. 1,2. Evaluasi sediaan dilakukan pada mutu fisik krim masker wajah dengan metode cycling test. Berdasarkan hasil uji stabilitas terhadap keempat sediaan, formula 2 dengan bahan aktif 1,2 g menunjukkan formula yang terbaik. Pengujian antioksidan dari F1. F2 dan F3 didapatkan nilai IC50 sebesar 96,33 ppm, 82,73 ppm, 72,71 ppm. Uji statistik aktivitas antioksidan menunjukkan hasil p<0,05 yang menandakan bahwa adanya perbedaan signifikan diantara ketiga formula. Uji cycling menunjukkan bahwa sediaan krim masker wajah stabil secara fisik dan kimia. Tidak terdapat perubahan warna, bau, tekstur, pemisahan fase, atau perubahan pH yang signifikan. Viscositas juga tetap stabil, mengindikasikan daya simpan yang baik selama penyimpanan Kata kunci: Anti-aging. Coleus scutellarioides (L) Benth. Cycling Test. Krim Masker Wajah ABSTRACT One of the natural ingredients that can be used as a cosmetic ingredient is miana leaf (Coleus scutelleroides (L) Bent. which contains flavonoid compounds with antioxidant activity that can be used for skin care. These compounds can prevent Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 41 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 free radicals that can cause premature aging. The extraction method was used in this study with 96% ethanol solvent and continued with the fractionation process. The determination of antioxidant activity was determined by calculating the IC50 value where the IC50 value of the ethyl acetate fraction of miana leaves obtained 90 ppm. In the study, a formulation of face mask cream preparations with a variety of active ingredients . ,6. 1,2. Evaluation of the preparation was carried out on the physical quality of face mask cream using the cycling test method. Based on the results of stability tests on the four preparations, formula 2 with 1. of active ingredients shows the best formula. Antioxidant testing from F1. F2 and F3 obtained IC50 values of 96. 33 ppm, 82. 73 ppm, 72. 71 ppm. The statistical test of antioxidant activity showed a p<0. 05 result which indicates that there is a significant difference between the three formulas. Cycling test showed that the facial mask cream preparation was physically and chemically stable. There was no significant change in color, odor, texture, phase separation, or pH change. Viscosity also remained stable, indicating good shelf life during normal storage. Keywords: Anti-aging. Coleus scutellarioides (L) Benth. Cycling Test. Face Mask Cream PENDAHULUAN Cosmeceuticals . roduk kosmeti. atau juga dikenal sebagai . bat merupakan produk dengan bahan aktif yang dimaksudkan untuk memiliki manfaat medis atau seperti Produk ini digunakan untuk memperbaiki dan mempertahankan penampilan kulit serta dikenal juga untuk mengobati berbagai kondisi (Rahmawaty & Sari. Masker merupakan salah satu produk kosmetik yang dipergunakan sebagai perawatan dengan fungsi menyegarkan dan mengencangkan kulit, hingga dapat mengembalikan sel kulit mati dengan sel kulit baru (Rahma & Wahini, 2017. Virgita & Krisnawati, 2. Kulit yang merupakan bagian terluar dari tubuh manusia selalu terpapar oleh lingkungan khususnya sinar matahari. Penuaan kulit dapat disebabkan karena faktor penambahan umur atau Paparan sinar matahari mengeluarkan sinar ultraviolet (UV) yang memicu munculnya keriput pada wajah (Anggowarsito, 2. Sinar UV dapat menciptakan radikal bebas yang sehingga mempercepat penuaan kulit dan merusak kulit. Efek sinar UV tersebut dapat dicegah dengan antioksidan (Iordanis, 2020. Holick, 2. Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan produk kosmetik (Coleus scutelleroides (L) Bent. yang mengandung senyawa flavonoid Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 42 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 (Podungge et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian Segara & Kurniawan . , yang melakukan uji aktivitas antioksidan, diperoleh nilai IC50 sebesar 3,70 AAg/ml yang artinya aktivitas antioksidannya sangat aktif karena memiliki nilai IC50 < 10 AAg/ml. Hal tersebut didasari karena adanya kandungan senyawa flavonoid dan fenolik pada daun miana (Segara & Kurniawan, 2. Antioksidan bekerja dengan menetralkan radikal bebas yang merusak sel-sel kulit dan mempercepat penuaan. Radikal bebas kolagen dan elastin, yang berperan penting dalam menjaga elastisitas dan kekenyalan kulit (Suryani, & Putri. Dengan adanya aktivitas antioksidan, ekstrak daun miana pembentukan kerutan, garis halus, dan hiperpigmentasi. Oleh karena itu, aktivitas antioksidan dari daun miana berkontribusi pada efek anti-aging mempertahankan kondisi kulit yang sehat serta tampak awet muda (Halliwell. & Gutteridge. Penelitian menunjukkan senyawa flavonoid pada ekstrak daun miana dapat diisolasi melalui fraksinasi dengan pelarut yang kepolarannya berbeda (Podungge et al. , 2. Berdasarkan penelitian Arman dkk. , ekstrak daun miana dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan masker gel peel-off yang stabil secara fisik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan fraksinasi pada ekstrak etanol daun miana serta uji mutu fisik dari sediaan krim masker wajah ekstrak etanol daun miana (Arman et al. , 2. METODE PENELITIAN Alat yang digunakan adalah Spektrofotometer UV-Vis, oven, waterbath, homogenizer, hot plate, vortex, blender, timbangan analitik, viscometer brookfield, centrifuge, pH meter, ayakan, corong pisah, labu ukur, beaker glass, gelas ukur, cawan porselin, corong, pipet ukur, pump, kaca arloji, batang pengaduk, pipet tetes, sendok tanduk, wadah krim. Bahan yang digunakan adalah daun miana, etanol 96%, n-heksana, etil asetat, propilenglikol, paraffin cair, asam stearat, setil alkohol, span 80, tween 80, metil paraben, propil paraben, lanolin anhidrat, zink oksida, aquadest, magnesium. HCl. FeCl3, wagner, serbuk DPPH, metanol p. vitamin C, kertas perkamen, dan kertas saring. Ekstraksi Sampel Serbuk daun miana sebanyak 500 g dimaserasi dengan pelarut etanol 96% sebanyak 5 L selama 3x24 Dilakukan penyaringan dan residu diremaserasi dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama selama 2x24 jam. Kemudian filtrat diuapkan menggunakan waterbath pada suhu 60AC untuk mendapatkan ekstrak kental (Arman et al. , 2. Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 43 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Etanol kemampuan melarutkan senyawa polar dan semi-polar, seperti flavonoid, tanin, dan polifenol yang merupakan senyawa aktif utama dalam daun miana. Ini meningkatkan hasil ekstraksi senyawa-senyawa yang berperan sebagai antioksidan (Do. D et al. , 2. Fraksinasi Sampel Ekstrak kental dilarutkan dengan aquadest 100 mL dan pelarut non polar n-heksana 100 mL dalam corong pisah lalu digojog hingga homogen, diamkan hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah etanol air dan lapisan atas n-heksana. Lapisan etanol air sisa fraksinasi n-heksana ditambahkan pelarut semi polar etil asetat 100 mL dimasukkan kedalam corong pisah dan digojog, diamkan hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah etanol-air dan lapisan atas etil Hasil fraksi diuapkan sehingga didapatkan hasil partisi yang kental (Herdiana & Aji, 2. Skrining Fitokimia Flavonoid Sampel 0,05 g dimasukan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan seujung spatula serbuk magnesium (M. dan 3 tetes HCl pekat. Sampel positif ditandai dengan perubahan larutan menjadi berwarna jingga hingga merah (Khasanah et al. , 2. Alkaloid Sampel 0,05 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dilarutkan dalam 10 mL HCl lalu disaring. Filtrat dragendorff dan wagner. Sampel ditambahkan perekasi dragendorff menghasilkan warna jingga dengan endapan orange kecoklatan atau endapan merah bata. Sampel (Kartikasari et al. , 2. Tanin Sampel 0,05 g ditambahkan 10 mL aquadest. Saring dan ditambahkan beberapa tetes FeCl3 Hasil positif ditandai dengan munculnya warna hijau kecoklatan atau warna biru hitam (Kumalasari & Andiarna, 2. Saponin Sampel 0,05 g ditambahkan dengan 10 mL aquadest, dikocok kuat selama 10 detik. Hasil positif apabila terbentuk buih yang stabil selama A10 menit serta saat penambahan 1 mL HCL 2N buih tidak hilang (Sulistyoningdyah & Ramayani. Steroid Sampel 0,05 g dilarutkan dalam 1 mL etanol 70%, ditambahkan pereaksi asam asetat anhidrat dan 12 mL HCCSOCE pekat. Hasil uji positif menunjukan pembentukan endapan warna hijau kehitaman (Khasanah et , 2. Fenolik Sampel 0,05 g ditambahkan 10 mL aquadest lalu disaring. Filtrat ditambahkan FeCl3 sebanyak 2 tetes. Hasil uji positif apabila menghasilkan warna hijau atau hijau biru (Khasanah et al. , 2. Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 44 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Uji Antioksidan Pembuatan larutan baku DPPH Serbuk DPPH ditimbang 7,5 mg dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL dan dilarutkan dengan metanol p. a sampai tanda batas, dihomogenkan (Maitulung et al. Persiapan Larutan Uji Sampel sebanyak 2,5 mg dilarutkan dengan metanol p. dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sebagai larutan induk Kemudian pembuatan larutan seri ekstrak daun miana dengan konsentrasi 25 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm dan 200 ppm, dipipet masing-masing 0,5 mL. 2 mL. 3 mL dan 4 mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan dengan metanol p. a hingga tanda batas (Maitulung et al. , 2. Pembuatan Vitamin C Vitamin C ditimbang 2,5 mg dilarutkan dengan metanol p. dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas sebagai larutan induk. Kemudian untuk pembuatan larutan seri Vitamin C dengan konsentrasi 25 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm dan 200 ppm, dipipet masing-masing 0,5 mL. 2 mL. 3 mL dan 4 mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan dengan metanol p. a hingga tanda batas (Maitulung et al. , 2. Pengukuran Serapan Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Masing-masing konsentrasi larutan uji sebanyak 2,5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 1,5 ml larutan baku DPPH lalu divortex selama 1 menit dan diinkubasi pada suhu 37AC selama 30 menit. Serapan diukur Panjang maksimum 517 nm (Maitulung et , 2. Formulasi Sediaan Krim Masker Wajah Formulasi sediaan dapat dilihat pada Tabel 1. Fase minyak yaitu asam stearat, setil alkohol, span80, propil paraben, lanolin dan paraffin cair dileburkan pada suhu 70A C (Campuran . Fase air dibuat dengan melarutkan metil paraben, propilen glikol dan tween-80 dalam aquadest pada suhu 70A C (Campuran Dimasukkan campuran 2 ke dalam Ditambahkan sisa aquadest sedikit demi sedikit. Ditambahkan zink oksida yang telah diayak dan dilarutkan dengan sedikit Dimasukkan ekstrak, homogenizer kecepatan 600 rpm selama 10 menit hingga terbentuk krim (Azhar et al. , 2. Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 45 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 1. Formulasi Sediaan Krim Masker Wajah Fraksi Daun Miana Formula (%) Bahan Ekstrak daun miana Propilen glikol Paraffin cair Asam stearate Setil alcohol Span 80 Tween 80 Metil Paraben 0,18 0,18 0,18 0,18 Propil Paraben 0,02 0,02 0,02 0,02 Lanolin Anhidrat Zink Oksida Aquadest Add 200 Uji Mutu Fisik Uji mutu fisik sediaan dilakukan dengan metode uji cycling test meliputi organolepstis, pH, daya sebar, homogenitas dan tipe emulsi. Dilanjutkan dengan uji sentrifugasi dan viskositas. Cycling Test Metode menentukan kestabilan sediaan. Sediaan sebanyak 100 gram dalam wadah diletakkan pada suhu 4AC selama 24 jam dilanjutkan dengan meletakkan sediaan pada suhu 40AC 24 jam berikutnya. Perlakuan tersebut adalah 1 siklus selama 48 jam. Pengujian dilakukan sebanyak 6 siklus dan diamati terjadinya perubahan dari sediaan krim pada awal dan akhir siklus yang meliputi uji organoleptis, pH, daya sebar, homogenitas dan penentuan tipe emulsi (Suryani et al. , 2. Organoleptis Pemeriksaan dilakukan untuk mengamati perubahan pada sediaan meliputi bentuk, warna dan bau yang diamati menggunakan panca indera (Mardikasari et al. , 2. Pengukuran dengan menggunakan pH meter dan larutan standar buffer. Ditimbang krim sebesar 1 g, dilarutkan dalam 10 ml aquadest. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Megantara et al. , 2. Nilai pH krim masker harus sesuai dengan nilai pH kulit, yaitu 4,2 6,5 (Buang, 2. Uji Daya Sebar Sebanyak 1 g krim diletakkan lainnya diletakkan di atasnya dan Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 46 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 diukur diameternya setelah didiamkan selama 1 menit. Ditambahkan 100 g beban diameternya setelah didiamkan selama 1 menit (Rahmawati et , 2. Daya sebar krim yang baik antara 5-7 cm (Pohan. Uji Homogenitas Krim yang telah dibuat dioleskan sedikit pada kaca Dikatubkan dengan kaca objek yang lainnya dan dilihat apakah basis tersebut homogen dan permukaannya halus merata. Krim dinyatakan homogen apabila pada pengamatan krim mempunyai tekstur yang tampak rata dan tidak menggumpal (Dominica & Handayani, 2. Penentuan Tipe Emulsi Dilakukan dengan menimbang sediaan dan melarutkannya . kemudian diaduk perlahan. Jika masker krim mudah larut maka tipe emulsinya adalah M/A . inyak dalam ai. Sebaliknya jika masker krim tidak dapat larut maka tipe emusinya adalah A/M . ir dalam minya. (Buang. Uji Sentrifugasi Pengujian dilakukan dengan cara memasukkan 5 gram sediaan krim kemudian diputar pada kecepatan 3000 rpm selama 30 menit, kemudian diamati bentuk fisik Krim yang tidak stabil pemisahan fase (Iskandar et al. Uji Viskositas Sediaan 50 gram dilakukan uji untuk mengetahui Viskositas sediaan krim diukur dengan menggunakan viscometer brookfield pada 12 rpm dengan menggunakan spindel nomor 4 (Hikma et. , 2. Viskositas krim yang disyaratkan SNI 164399-1996 adalah 2000 cp-50000 cp (Thomas et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi Daun Miana Ekstraksi dilakukan dengan mengekstraksi 500 g serbuk simplisia daun miana dalam 5 L etanol 96% selama 3x24 jam dan diremaserasi dengan jumlah pelarut yang sama 2x24 jam (Arman et al. , 2. Hasil ekstrak kental yang diperoleh sebanyak 57,55 g dengan rendemen sebesar 11,51%. Fraksinasi Daun Miana Dilakukan dengan melarutkan ekstrak kental ke dalam aquadest kemudian dilakukan fraksinasi caircair kepolarannya berbeda yaitu pelarut nheksan . on-pola. dan etil asetat . emi pola. Hasil fraksinasi etil asetat adalah 5,12 g dengan rendemen 8,89%. Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 47 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Skrining Fitokimia Hasil uji fitokimia ekstrak daun miana ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil skrining fitokimia Uji Hasil Flavonoid Alkaloid Tanin Saponin Steroid Fenol Hasil pengujian flavonoid ekstrak kental adalah positif yang ditandai dengan perubahan warna menjadi merah akibat penambahan magnesium dan HCl pekat. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Segara & Kurniawan . , yang menyatakan bahwa kadar flavonoid total daun miana adalah sebesar 88,917 mg EK/gr sampel yang artinya kandungan flavonoid dalam daun miana cukup tinggi (Segara & Kurniawan, 2021. Nabila, 2. Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Daun Miana Hasil uji antioksidan fraksi etil asetat dan vitamin C ditunjukkan Tabel 3. kuat jika nilai IC50 < 50, kuat . , sedang . , lemah . , sangat lemah > 200. Semakin kecil nilai IC50, semakin tinggi pula aktivitas antioksidan (Badarinath et , 2. Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Krim Masker Wajah Hasil uji aktivitas antioksidan sediaan ditunjukkan Tabel 4. Tabel 4. Aktivitas Antioksidan Sediaa Formula Nilai IC50 . 96,33 82,73 72,72 Aktivitas Antioksidan Kuat Kuat Kuat Penetapan nilai IC50 F1 adalah sebesar 96,33 ppm. Sedangkan F2 dan F3 adalah 82,73 dan 72,71 ppm. Disimpulkan bahwa sediaan F1. F2 dan F3 memiliki aktivitas antioksidan kuat . Uji Mutu Fisik Organoleptis Pengamatan meliputi bau, warna dan bentuk Hasil organoleptis dapat dilihat pada Tabel Tabel 3. Aktivitas Antioksidan Fraksi Nilai IC50 Aktivitas Sampel . Antioksidan Fraksi 27,90 ppm Kuat Vit C 9,86 ppm Sangat Kuat Hasil penentuan IC50 fraksi etil asetat daun miana adalah sebesar 27,90 ppm. Sedangkan untuk vitamin C adalah 9,86 ppm. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 48 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 5. Hasil organoleptis krim masker wajah daun miana Formula Sebelum Sesudah Bau Khas lanolin Bau Khas lanolin Warna Putih Warna Putih Bentuk Semi padat Bentuk Semi padat Bau Khas ekstrak Bau Khas ekstrak Warna Cream pucat Warna Cream pucat Bentuk Semi padat Bentuk Semi padat Bau Khas ekstrak Bau Khas ekstrak Warna Cream Warna Cream Bentuk Semi padat Bentuk Semi padat Bau Khas ekstrak Bau Khas ekstrak Warna Coklat pucat Warna Coklat pucat Bentuk Semi padat Bentuk Cair Dapat disimpulkan bahwa pH sediaan memenuhi persyaratan pH sediaan topikal yang baik, yaitu 4,56,5 (Buang, 2. Berdasarkan Gambar 1, hasil uji pH mengalami kenaikan setelah dilakukan cycling test yang disebabkan karena adanya perubahan suhu selama dilakukan cycling test (Rabima & Marshall. Daya Sebar Hasil uji daya sebar dapat dilihat pada Gambar 2. Daya Sebar . Nilai pH Sediaan F3 terjadi pemisahan fase serta bentuknya menjadi agak cair yang menjadi tanda bahwa F3 tidak stabil. Tidak stabilnya sediaan kemungkinan terjadinya karena faktor suhu, bahan tidak tercampur dengan baik, jumlah bahan penyusun formula kurang tepat sehingga menyebabkan ketidakstabilan sediaan (Mansauda et , 2. Pengujian pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan sediaan krim saat digunakan sehingga sedian tersebut tidak mengiritasi kulit. Hasil uji pH dapat dilihat pada Gambar 1. Formula Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan Gambar 1. Hasil uji pH Sesudah Perlakuan Formula Sebelum Perlakuan Gambar 2. Hasil uji daya sebar Nilai daya sebar meningkat akibat perubahan suhu yang berulangulang sehingga melemahkan struktur Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 49 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 emulsi dan membuat krim menjadi lebih encer serta mudah menyebar. Hasil uji daya sebar yang diperoleh telah memenuhi syarat uji daya sebar sebagai sediaan krim yaitu 5-7 cm (Dominica & Handayani, 2. Homogenitas Hasil uji homogenitas tertera pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil uji homogenitas Hasil Formula Sebelum Sesudah Sediaan F3 menjadi tidak homogen yang ditandai dengan pemisahan fase dan konsistensinya menjadi agak cair yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lama sediaan yang dapat mempengaruhi konsistensi krim (Wilda, 2. Penentuan Tipe Emulsi Hasil penentuan tipe emulsi dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil uji tipe emulsi Hasil Formula Sebelum Sesudah M/A M/A M/A M/A M/A M/A M/A M/A Tipe emulsi M/A akan lebih mudah terbilas dengan air (Fauziah , 2. Berdasarkan hasil formulasi baik sebelum maupun setelah cycling test menunjukkan bahwa seluruh formulasi masker krim merupakan jenis emulsi M/A yang mudah larut dalam aquadest. Sentrifugasi Hasil ditunjukkan Tabel 8. Tabel 8. Hasil uji sentrifugasi Formula Hasil Sediaan F3 menunjukkan terjadinya pemisahan fase yang diduga terjadi karena ikatan minyak dan air menjadi tidak stabil karena adanya gaya sentrifugasi yang partikel-partikel berpisah berdasarkan bobot jenisnya karena prinsip uji sentrifugasi ini adalah menggunakan gaya sentrifugal yang dipercepat untuk memisahkan dua atau lebih zat dengan massa jenis berbeda (El-Sayed & Mohammad. Hal tersebut menyatakan bahwa F1 dan F2 stabil terhadap gaya penyimpanan sedangakan F3 tidak Viskositas Hasil uji viskositas dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil uji viskositas Formula Hasil . Silaban Erllin Tirza Stevany, dkk | 50 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 41-55 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pemisahan fase, sehingga menjadi agak cair dan menyebabkan hasil viskositas yang didapat tidak memenuhi persyaratan. Hal tersebut ketidakstabilan sediaan akibat faktor suhu, jumlah bahan yang salah, tidak tercampurnya bahan dengan baik ataupun karena adanya penambahan ekstrak yang membuat sediaan menjadi tidak stabil. Viskositas krim yang disyaratkan SNI 16- 4399-1996 adalah 2000 cp - 50000 cp (Thomas et , 2. Pemisahan fase pada krim ketidakseimbangan sistem emulsi yang dipengaruhi oleh beberapa Jenis dan konsentrasi emulgator yang tidak optimal serta ketidakseimbangan proporsi fase air dan minyak menjadi penyebab utama. Bahan aktif yang tidak sesuai atau berlebihan juga dapat mengganggu stabilitas emulsi. Selain itu, pH yang tidak tepat, proses pembuatan yang kurang merata, serta penyimpanan dalam suhu atau kondisi lingkungan pemisahan fase. Viscositas yang terlalu rendah atau terlalu tinggi juga ketidakstabilan formula (Doan. & Nguyen. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat daun miana (Coleus scutellarioides (L. ) Bent. dapat menjadi sediaan krim masker wajah potensial dan didapatkan bahwa formulasi 2 merupakan konsentrasi yang paling baik mutu fisiknya serta memiliki aktivitas antioksidan yang tersmasuk dalam kategori kuat . ,73 pp. Disarankan untuk melakukan uji iritasi dan uji efek anti-aging menggunakan alat skin analyzer pada DAFTAR PUSTAKA