CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 7 | Nomor 3 | April . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Pelatihan Manajemen Emosi Bagi Remaja dalam Mencegah Perilaku Agresif Winggo Romadhana1. Suroso2 Kata Kunci: Pelatihan. Manajemen Emosi. Perilaku Agresif Keywords : Training. Emotional Management. Agresive Behavior. Corespondensi Author Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Alamat: Jl. Semolowaru No. Menur Pumpungan. Kec. Sukolilo. Surabaya. Jawa Timur Email: akademikaproject10@gmail. Article History Received: 15-11-2024. Reviewed: 20-12-2024. Accepted: 01-02-2025. Available Online: 20-02-2025. Published: 04-04-2025. Abstrak. Tujuan dari pengabdian yang dilakukan di SMK Triyasa Surabaya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan manajemen emosi dan menurunkan perilaku agresif siswa. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan mitra SMK Tirtayasa Surabaya. Subjek penelitian adalah siswa SMK Tirtayasa yang teridentifikasi memiliki kecenderungan perilaku agresif, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama pelatihan, wawancara terstruktur dengan siswa dan guru, serta kuesioner penilaian diri siswa mengenai pengendalian emosi dan frekuensi perilaku agresif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan manajemen emosi dapat menjadi alat yang efektif dalam mengurangi perilaku agresif di lingkungan sekolah. Penurunan agresivitas dan peningkatan keterampilan pengelolaan emosi yang signifikan pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa program pelatihan pengelolaan emosi dapat digunakan sebagai salah satu strategi pencegahan yang efektif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan Abstract. The purpose of the community service carried out at SMK Triyasa Surabaya aims to improve emotional management skills and reduce aggressive behavior in students. This community service activity was carried out with SMK Tirtayasa Surabaya partners. The subjects of the study were SMK Triyasa students who were identified as having a tendency towards aggressive behavior, selected through purposive sampling techniques. Data were collected through direct observation during training, structured interviews with students and teachers, and student self-assessment questionnaires regarding emotional control and frequency of aggressive The results of this study indicate that emotional management training can be an effective tool in reducing aggressive behavior in the school environment. The significant decrease in aggressiveness and increase in emotional management skills in the experimental group indicate that the emotional management training program can be used as an effective prevention strategy in creating a safe and positive school environment. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 yang belum memiliki keterampilan yang memadai untuk mengelola emosi mereka, sehingga cenderung bereaksi secara impulsif dan agresif ketika menghadapi konflik. Kondisi ini diperburuk oleh pengaruh lingkungan sosial, di mana interaksi dengan teman sebaya, tekanan dari kelompok sosial, dan budaya kekerasan dalam media juga berkontribusi dalam membentuk respons agresif remaja (Purnawan & Situmurang. Fenomena pertanyaan mengenai bagaimana cara yang efektif untuk membantu remaja mengelola emosi mereka dan mengurangi perilaku agresif di lingkungan sekolah. Meskipun telah ada berbagai program dan kebijakan yang ditujukan untuk menekan perilaku agresif di sekolah, sebagian besar program ini masih bersifat general dan belum secara spesifik menargetkan pengelolaan emosi sebagai salah satu solusi preventif. Belum banyak penelitian yang secara khusus berfokus pada pelatihan manajemen emosi bagi remaja untuk mencegah perilaku agresif di sekolah. Sebagian besar penelitian yang ada cenderung lebih menekankan pada pengaruh faktor eksternal, seperti peran guru, keluarga, dan lingkungan sosial dalam mengurangi agresivitas remaja (Anindita & Situmorang, 2024. Ibrahim et al. , 2024. Intan. Penelitian yang dilakukan oleh Syahputra et al. , . lebih menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membentuk perilaku remaja, namun kurang membahas aspek manajemen emosi sebagai strategi internal yang dapat diajarkan dan dilatih kepada siswa secara langsung. Sementara itu, penelitian oleh Berkowitz . dalam teori agresi menunjukkan bahwa emosi negatif yang tidak dikelola dengan baik, seperti kemarahan atau frustrasi, cenderung memicu perilaku agresif. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki potensi besar sebagai salah satu solusi yang perlu dijajaki lebih lanjut untuk menekan agresivitas pada remaja, khususnya di lingkungan sekolah. Perilaku agresif yang tidak diatasi sejak dini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius di masa depan, seperti keterlibatan dalam tindakan kriminal, kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat, dan masalah psikologis lainnya (Saputra et al. , 2021. Wettstein et al. , 2. PENDAHULUAN Perilaku agresif di kalangan remaja merupakan salah satu permasalahan serius dalam dunia pendidikan di Indonesia yang membutuhkan perhatian khusus. Di berbagai sekolah, termasuk di SMK Triyasa Surabaya, perilaku agresif remaja sering muncul dalam bentuk perilaku bullying, perkelahian antar Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2023 tercatat bahwa kasus bullying di sekolah meningkat sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sebagian besar pelaku dan korban adalah siswa usia remaja (Kanda Rosulliya. Temuan mencerminkan bahwa agresivitas dalam lingkungan sekolah masih menjadi tantangan yang belum tertangani secara optimal, di mana hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental korban, tetapi juga menciptakan iklim pendidikan yang tidak kondusif bagi siswa lainnya. Di SMK Triyasa Surabaya sendiri, laporan dari guru bimbingan konseling menunjukkan bahwa dalam semester terakhir, ada lebih dari sepuluh kasus konflik fisik dan verbal yang didorong oleh ketidakmampuan siswa dalam mengelola emosi. Fenomena ini menegaskan pentingnya intervensi yang terarah untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan regulasi emosional mereka sebagai upaya preventif dalam mengurangi tindakan agresif. Fenomena perilaku agresif di kalangan remaja kerap kali diakibatkan oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri maupun lingkungan eksternal (Latifah, 2. Secara internal, remaja menghadapi berbagai tantangan psikologis, termasuk tekanan akademik, perubahan hormonal, dan konflik identitas yang seringkali memicu emosi negatif seperti marah, frustrasi, dan stres (Anindita & Situmorang, 2024. Pandri & Netrawati, 2. Menurut penelitian oleh Bucur et al. , . masa remaja adalah fase perkembangan yang ditandai oleh fluktuasi emosional tinggi, di mana individu sering kali mengalami kesulitan dalam mengatur respons emosional mereka terhadap situasi yang Dalam konteks ini, banyak remaja Romadhana & Suroso. Pelatihan Manajemen Emosi Bagi. Dalam konteks ini, pelatihan manajemen emosi menjadi penting karena memberikan keterampilan yang dibutuhkan remaja untuk mengelola respons emosional mereka secara sehat dan konstruktif. Dengan mengajarkan cara-cara mengendalikan emosi, mereka tidak hanya mampu meredam keinginan untuk bertindak menyelesaikan konflik secara damai dan Penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi teoritis dalam bidang psikologi pendidikan, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi sekolah dalam mengembangkan program pembinaan siswa yang lebih komprehensif dan berfokus pada pengembangan keterampilan regulasi emosi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pelatihan manajemen emosi efektif dalam menekan perilaku bermasalah pada Studi oleh Arif & Sarfika . menemukan bahwa program regulasi emosi di sekolah secara signifikan meningkatkan keterampilan sosial siswa dan mengurangi perilaku agresif. Demikian pula, penelitian yang dilakukan oleh Agbaria . menunjukkan bahwa intervensi yang berfokus pada pengelolaan emosi dapat membantu siswa menghadapi tekanan sosial dan akademik dengan cara yang lebih adaptif. Kedua penelitian ini menekankan bahwa keterampilan regulasi emosi adalah salah satu faktor kunci dalam pembentukan karakter remaja yang lebih matang dan bertanggung Dalam konteks SMK Triyasa Surabaya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan kondusif dengan menurunkan tingkat perilaku agresif melalui pelatihan manajemen emosi. Penelitian ini berfokus pada penerapan pelatihan manajemen emosi yang mencakup berbagai teknik seperti identifikasi emosi, kontrol impuls, teknik relaksasi, dan pengalihan energi negatif. Pelatihan ini dirancang untuk membantu siswa mengenali emosi mereka, memahami bagaimana emosi tersebut memengaruhi perilaku mereka, dan memilih strategi yang tepat untuk mengelola emosi yang muncul dalam situasi sulit. Penggunaan pernapasan dalam dan meditasi bertujuan untuk membantu siswa menenangkan diri ketika mereka mulai merasa marah atau frustrasi, sementara teknik pengalihan energi negatif memungkinkan mereka untuk menyalurkan emosi yang kuat ke dalam aktivitas yang lebih positif dan produktif. Pendekatan ini sesuai dengan teori regulasi emosi yang diajukan oleh Gross . yang menyatakan bahwa individu yang mampu mengidentifikasi dan mengelola emosinya cenderung lebih mampu menghadapi situasi stres tanpa harus bereaksi secara agresif. Dari paparan di atas, dapat disimpulkan merupakan strategi yang relevan dan mendesak dalam menanggulangi perilaku agresif pada remaja di sekolah. Program ini tidak hanya menawarkan solusi jangka pendek dalam mengurangi agresivitas, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter remaja yang lebih matang, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan sosial dengan cara yang sehat. Urgensi penelitian ini semakin diperkuat oleh tingginya tingkat kasus agresi di kalangan remaja serta masih minimnya intervensi yang menargetkan pengembangan keterampilan regulasi emosi secara langsung di sekolah. METODE Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan mitra SMK Tirtayasa Surabaya. Subjek penelitian adalah siswa SMK Tirtayasa yang teridentifikasi memiliki kecenderungan perilaku agresif, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengabdian ini dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari persiapan materi pelatihan, sosialisasi ke pihak sekolah, hingga pelaksanaan pelatihan dalam bentuk sesi mingguan selama 4 Setiap sesi terdiri dari pemberian materi, latihan praktik seperti role-playing dan diskusi kelompok serta refleksi. Terdapat 4 sesi dalam penelitian ini yaitu: Sesi 1: Pengenalan Manajemen Emosi dan Kesadaran Diri Sesi 2: Mengelola Emosi dengan Teknik Relaksasi Sesi 3: Teknik Mengelola Emosi Negatif dan Pengendalian Impuls Sesi 4: Pengalihan Emosi dan Resolusi Konflik Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama pelatihan, wawancara terstruktur dengan siswa dan guru, serta Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 kuesioner penilaian diri siswa mengenai pengendalian emosi dan frekuensi perilaku Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola perubahan perilaku dan peningkatan keterampilan manajemen emosi pada siswa. Hasil penelitian ini diukur berdasarkan indikator penurunan perilaku agresif dan peningkatan pengelolaan emosi yang didukung oleh umpan balik dari siswa. emosi masing-masing dan bagaimana emosi tersebut mempengaruhi tindakan sehari-hari. Sesi 2: Mengelola Emosi dengan Teknik Relaksasi Pada sesi kedua, peserta diperkenalkan pada teknik-teknik relaksasi dasar, khususnya teknik pernapasan dalam dan relaksasi otot Sebagian besar peserta merasa teknik ini membantu mereka meredakan ketegangan fisik saat mengalami emosi Ketika diajak mempraktikkan teknik pernapasan dalam, peserta melaporkan bahwa mereka merasa lebih tenang dan rileks. Teknik relaksasi otot progresif juga diterima dengan baik, di mana banyak peserta menyatakan bahwa mereka merasa lebih tenang setelah mengikuti latihan ini. Para siswa mencatat bahwa teknik ini cukup mudah dilakukan dan dapat diterapkan di mana saja, terutama saat mereka merasa marah atau frustrasi. Evaluasi akhir sesi menunjukkan bahwa mayoritas peserta merasa teknik-teknik ini dapat membantu mereka menghadapi emosi negatif dengan lebih baik tanpa harus bereaksi secara Sesi 3: Teknik Mengelola Emosi Negatif dan Pengendalian Impuls Sesi ketiga berfokus pada pengendalian impuls dan teknik STOP (Stop. Take a Breath. Observe. Procee. sebagai metode dalam menghadapi situasi yang memicu emosi Selama mengungkapkan bahwa reaksi impulsif sering kali menyebabkan mereka terlibat dalam konflik dengan teman atau guru. Dalam menggunakan teknik STOP dalam skenarioskenario konflik. Mereka diajak untuk berhenti sejenak, menghela napas, dan mengamati situasi sebelum merespons. Hasil dari latihan ini sangat positif, di mana banyak peserta merasa bahwa mereka memiliki kontrol yang lebih baik atas reaksi mereka. Sesi ini juga membuka kesadaran peserta mengenai pentingnya pengendalian impuls untuk mencegah konflik yang tidak perlu. Pada akhir sesi, beberapa peserta menyatakan bahwa mereka mulai memahami pentingnya terhadap situasi yang memicu emosi. Sesi 4: Pengalihan Emosi dan Resolusi Konflik HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan ini terdiri dari 4 sesi, yaitu: Sesi 1: Pengenalan Manajemen Emosi dan Kesadaran Diri Pada sesi pertama, peserta pelatihan diperkenalkan dengan konsep manajemen emosi dan pentingnya kesadaran diri dalam pengendalian emosi sehari-hari. Melalui kegiatan diskusi dan ice-breaking, peserta merasa lebih nyaman dan terbuka untuk berbagi pengalaman pribadi mengenai emosi yang sering mereka alami. Pada sesi ini, sebelum masuk materi maka terlebih dahulu dilakukan penyebaran kuesioner manajemen emosi dan perilaku agresif untuk mengukur keadaan awal peserta pelatihan terkait manajemen emosi dan perilaku agresif Hasil dari penyebaran kuesioner diperoleh bahwa skor rata-rata peserta yakni sebesar 44,7 untuk manajemen emosi dan 58,68 untuk perilaku agresif. Adapun nilai maksimal yang dapat diperoleh peserta yaitu Selanjutnya, dilaksanakan maka penyampaian materi dapat dilaksanakan. Di awal sesi materi, beberapa peserta mengakui bahwa mereka sering mengalami emosi seperti marah dan frustrasi, namun belum memahami cara mengidentifikasinya secara spesifik. Latihan AuDiari EmosiAy membantu peserta untuk mencatat pengalaman emosional mereka dan mengenali respons diri terhadap situasi Dari kegiatan ini, diketahui bahwa banyak siswa merasa tertekan dalam situasi akademik atau konflik dengan teman. Berdasarkan umpan balik peserta, sesi ini memberikan wawasan yang sangat berarti dalam membantu mereka lebih mengenal Romadhana & Suroso. Pelatihan Manajemen Emosi Bagi. Sesi terakhir menekankan pada teknik pengalihan emosi dan keterampilan resolusi Para peserta diajak mencoba berbagai metode pengalihan emosi, seperti menulis di jurnal atau berbicara dengan teman, sebagai alternatif untuk menyalurkan emosi secara Selain itu, diskusi tentang dasar-dasar resolusi konflik dan komunikasi asertif memberikan wawasan baru bagi peserta tentang cara menghadapi konflik tanpa agresi. Dalam simulasi penyelesaian konflik, peserta berlatih menggunakan teknik komunikasi yang asertif, seperti mendengarkan dengan empati dan menyampaikan pendapat tanpa Hasilnya sangat positif, di mana banyak peserta merasa lebih percaya diri dalam menghadapi konflik setelah mencoba teknikteknik tersebut. Sesi ini diakhiri dengan refleksi, di mana peserta memberikan umpan balik tentang keseluruhan pelatihan. Sebagian besar peserta merasa bahwa pelatihan ini telah memberikan mereka keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta melaksanakan post test untuk mengukur keadaan akhir manajemen emosi dan perilaku agresif mereka setelah mengikut serangkaian pelatihan manajemen emosi. Adapun hasil skor post test yang diperoleh yaitu rata-rata sebesar 61,6 untuk manajemen emosi dan 44,07 untuk perilaku agresif. Program "Pelatihan Manajemen Emosi bagi Remaja dalam Mencegah Perilaku Agresif di SMK Triyasa Surabaya" menunjukkan hasil positif dalam membantu siswa mengelola emosi dan menurunkan kecenderungan perilaku agresif. Berdasarkan analisis data kuesioner, wawancara, dan signifikan dalam perilaku agresif siswa setelah Siswa menunjukkan sikap impulsif dan cepat marah di lingkungan sekolah mulai menampilkan peningkatan dalam kemampuan pengendalian Hal ini terlihat dari hasil kuesioner penilaian diri, yang menunjukkan penurunan skor pada aspek agresivitas, serta peningkatan skor pada aspek regulasi emosi. Rata-rata siswa mengalami penurunan sebesar 14,61 dalam kecenderungan bertindak agresif dan peningkatan kemampuan regulasi emosi sebesar 16,9, mencakup pengendalian impuls dan kemampuan menyadari serta mengelola perasaan sebelum bertindak. Hasil ini sesuai dengan teori regulasi emosi yang menyatakan bahwa kemampuan untuk mengelola emosi dapat mengurangi perilaku impulsif dan agresif, seperti yang dijelaskan oleh Gross . bahwa pengelolaan emosi merupakan keterampilan yang memengaruhi cara individu merespons stimulus emosional secara konstruktif daripada destruktif. Tabel 1. Hasil penyebaran kuesioner Kuesioner Manajemen Emosi Perilaku Agresif Skor Test 58,68 Pre Skor Test Post 44,07 Penelitian temuan ini dengan menyatakan bahwa mengurangi perilaku agresif pada remaja. Studi oleh (Gading et al. , 2. menunjukkan bahwa remaja yang dilatih untuk mengenali dan mengelola emosi cenderung lebih mampu mengontrol impuls mereka dan menghindari reaksi yang merugikan. Dalam konteks ini, pelatihan yang dilakukan di SMK Triyasa membantu siswa untuk mengidentifikasi menggunakan teknik pengelolaan emosi seperti pernapasan dalam, refleksi diri, dan teknik penyaluran emosi positif. Hal ini berhubungan dengan teori agresi oleh Berkowitz . yang menyatakan bahwa emosi negatif seperti marah atau frustrasi, jika tidak dikelola dengan baik, cenderung memicu perilaku agresif. Dengan demikian, ketika siswa di SMK Triyasa dilatih untuk mengenali dan mengendalikan emosi mereka, kemungkinan mereka untuk terlibat dalam perilaku agresif berkurang secara signifikan. Dari wawancara yang dilakukan, siswa menyatakan bahwa simulasi yang diterapkan selama pelatihan, seperti role-playing dan diskusi kelompok, membantu mereka berlatih menghadapi situasi yang memicu emosi Siswa memungkinkan mereka untuk bereksperimen dengan berbagai cara merespons konflik, baik dengan teman sekelas maupun dengan guru, sehingga mereka belajar untuk bereaksi lebih tenang dan rasional. Temuan ini sejalan dengan konsep modeling behavior yang diajukan oleh Bandura . dalam teori Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 pembelajaran sosial, di mana perilaku dapat dipelajari melalui observasi dan praktik Ketika siswa SMK Triyasa dihadapkan pada simulasi konflik, mereka belajar dari teman-teman mereka dan pelatih untuk mencontoh respons-respons yang lebih terkendali, sehingga perilaku agresif dapat Selain itu, pengaruh positif dari dukungan pendampingan yang diberikan selama empat minggu setelah pelatihan utama juga tampak dalam hasil observasi dan Pendampingan ini memfasilitasi siswa untuk menerapkan keterampilan manajemen emosi yang telah dipelajari secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, siswa yang didampingi secara intensif melaporkan adanya peningkatan kesadaran terhadap respons emosional mereka ketika menghadapi situasi yang sulit atau stres di sekolah, seperti ketika mendapat nilai buruk atau perselisihan dengan teman. Menurut Miao et al. , . kesadaran emosional adalah salah satu komponen penting dari regulasi emosi yang membantu individu mengidentifikasi emosi yang muncul dan memprosesnya sebelum bertindak. Pendampingan dalam penelitian ini berperan memungkinkan siswa untuk mengasah keterampilan mereka dan menghadapi tantangan yang dihadapi dalam menerapkan teknik regulasi emosi secara efektif. Guru dan staf sekolah juga melaporkan dampak positif dari program ini terhadap suasana umum di sekolah. Menurut laporan guru, insiden konflik di kelas yang biasanya dipicu oleh emosi tak terkendali cenderung menurun setelah pelaksanaan pelatihan ini. Mereka mengamati bahwa siswa yang terlibat dalam pelatihan ini menunjukkan sikap lebih tenang dalam berinteraksi dengan teman sebaya, bahkan berperan dalam menenangkan situasi yang dapat memicu konflik. Hal ini menunjukkan adanya efek spillover dari pelatihan ini, di mana siswa yang dilatih berfungsi sebagai model positif bagi temantemannya, memperkuat teori pembelajaran sosial Bandura tentang pentingnya modeling dalam memperkuat norma dan perilaku positif di lingkungan sosial. Hal ini juga menunjukkan potensi intervensi manajemen emosi untuk menciptakan budaya sekolah yang lebih kondusif dan mendukung perkembangan sosial-emosional siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan merupakan intervensi yang efektif dalam menekan perilaku agresif pada remaja. Efektivitas pelatihan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadhony . yang menemukan bahwa intervensi regulasi emosi pada remaja meningkatkan keterampilan sosial dan mengurangi perilaku bermasalah secara signifikan. Dalam konteks ini, pelatihan manajemen emosi berperan penting dalam mendorong perubahan perilaku yang positif pada siswa SMK Triyasa Surabaya dengan membantu mereka untuk lebih menyadari emosi mereka, mengelola respons emosional dengan lebih efektif, dan menahan impuls agresif yang berpotensi Hal ini mencerminkan bahwa regulasi emosi tidak hanya berfungsi sebagai khususnya dalam lingkungan sekolah yang menuntut interaksi sosial intensif. Namun, meskipun hasil penelitian menunjukkan keberhasilan yang signifikan, terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yang perlu dicermati. Salah satu keterbatasan utama adalah jumlah sampel yang relatif kecil dan spesifik, yakni hanya terdiri dari 30 siswa di satu sekolah. Hal ini membatasi generalisasi hasil penelitian ini terhadap populasi yang lebih luas. Selain itu, berlangsung selama empat minggu mungkin belum cukup untuk memastikan adanya perubahan yang berkelanjutan pada perilaku Penelitian yang dilakukan oleh Agbaria . menunjukkan bahwa perubahan dalam keterampilan sosial dan regulasi emosi memerlukan latihan dan pengulangan jangka panjang agar dapat terinternalisasi dengan baik pada remaja. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan periode pendampingan yang lebih panjang dan sampel yang lebih beragam akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai efektivitas jangka panjang pelatihan manajemen emosi. Implikasi dari hasil penelitian ini berkelanjutan dari pihak sekolah dalam membantu siswa menerapkan keterampilan regulasi emosi yang telah dipelajari. Romadhana & Suroso. Pelatihan Manajemen Emosi Bagi. Berdasarkan pengalaman di SMK Triyasa Surabaya, keterlibatan guru dan staf sekolah menunjukkan bahwa kerjasama antara pelatih, guru, dan siswa berperan besar dalam meningkatkan dampak positif pelatihan. Dengan pengembangan siswa secara keseluruhan, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan emosional dan sosial siswa, sekaligus mengurangi perilaku bermasalah yang mengganggu proses belajar-mengajar. Temuan ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Dyez Gonzylez et , . yang menyarankan bahwa integrasi sosial-emosional kurikulum sekolah berpotensi menciptakan perubahan budaya yang positif dan mendukung kesehatan mental siswa. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pelatihan manajemen emosi adalah strategi intervensi yang efektif dalam mengurangi perilaku agresif pada remaja, terutama ketika didukung oleh pendampingan yang intensif Berdasarkan direkomendasikan agar pelatihan manajemen emosi ini dijadikan bagian dari program pengembangan siswa di sekolah, dengan dukungan dari berbagai pihak termasuk konselor dan psikolog sekolah. Selain itu, perlu diadakan penelitian lanjutan dengan desain jangka panjang untuk menguji dampak pelatihan ini dalam berbagai konteks dan lingkungan yang lebih beragam. siswa secara berkelanjutan, sehingga mereka memiliki waktu yang cukup untuk menguasai teknik-teknik yang diajarkan. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari pelatihan manajemen emosi ini, terutama dalam konteks interaksi sosial dan akademis. DAFTAR RUJUKAN Agbaria. Classroom Management Skills among Kindergarten Teachers as related to Emotional Intelligence and Self-Efficacy. International Journal of Instruction, 14. , 1019Ae1034. https://doi. org/10. 29333/IJI. Arif. , & Sarfika. Pelatihan Manajemen Emosi sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Kekerasan pada Anak Usia Sekolah. JMM (Jurnal Masyarakat Mandir. , 5. , 114Ae124. http://journal. id/index. jmm/article/view/3328/pdf Bandura. Self-Efficacy: Toward a Unifying Theory of Behavioral Chance. Psychological Review, 84. Berkowitz. Agression: Its causes, consequences, and control. Temple University Press. Bucur. Ursoniu. Caraion-Buzdea. Ciobanu. Florescu. , & Vladescu, . Aggressive behaviors among 15Ae16-year-old romanian high school students: Results from two consecutive surveys related to alcohol and other drug use at the European level. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17. https://doi. org/10. 3390/ijerph1710367 SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan manajemen emosi dapat menjadi alat yang efektif dalam mengurangi perilaku agresif di SMK Tirtayasa Surabaya. Penurunan agresivitas dan peningkatan keterampilan pengelolaan emosi yang signifikan pada peserta menunjukkan bahwa program pelatihan pengelolaan emosi dapat digunakan sebagai salah satu strategi pencegahan yang efektif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan positif. Penelitian ini menyarankan agar manajemen emosi sebagai bagian dari upaya pencegahan perilaku agresif. Program ini juga dapat disesuaikan untuk diberikan kepada Dyez Gonzylez. del C. Marcos-Synchez, . Zaragoza-Benzal. , & Ferryndez, . SocialAeEmotional Management to Promote Quality in Education: A Training Program for Teachers. Education Sciences, 14. https://doi. org/10. 3390/educsci14030 Dyah Anindita. , & Zulida Situmorang. Peran Regulasi Emosi. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 Konformitas Teman Sebaya Dan SelfCompassion Terhadap Perilaku Agresif Siswa Kelas Vi SMP Negeri 3 Sungai Raya. Journal Of Social Science Research, 4, 14318Ae14335. Training Emotional Intelligence: A Proposed Solution to COVID-19 Related Problems that Interfere with Innovation Management. Journal of Innovation Management, 11. IAeVi. https://doi. org/10. 24840/21830606_011. 001_L001 Gading. Nisa. , & Lestari. Keefektifan Konseling Behavioral Teknik Modeling dan Konseling Analisis Transaksional Teknik Role Playing Meminimalkan Kecenderungan Perilaku Agresif Siswa Sekolah Menengah Atas. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 2. , 157Ae164. https://doi. org/10. 17977/um001v2i42 Pandri. , & Netrawati. The importance of parentsAo attention to complete aggressive behavior. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 8. , https://doi. org/10. 29210/1202221492 Purnawan. , & Situmurang. Peranan Regulasi Emosi. Kontrol Diri. Penerimaan Diri Terhadap Perilaku Agresif Siswa Smp Di Yogyakarta. Jurnal Muara Ilmu Sosial. Humaniora. Dan Seni, 5. , 205. https://doi. org/10. 24912/jmishumsen. Gross. Antecedent and responssefocused Journal of Personality and Social Psycology, 7. , 224Ae237. Rahmadhony. Efektivitas Pelatihan Regulasi Emosi untuk Menurunkan Perilaku Bullying pada Siswa SMP. Analitika, 12. , 169Ae178. https://doi. org/10. 31289/analitika. Ibrahim. Zaghamir. Alradaydeh. , & Elsehrawy. Factors aggressive behavior as perceived by university students. International Journal of Africa Nursing Sciences, 20(Jun. , https://doi. org/10. 1016/j. Saputra. Supriyanto. Rohmadheny. Astuti. Ayriza, , & Adiputra. The effect of negative peace in mind to aggressive behavior of students in Indonesia. European Journal of Educational Research, 10. , 485Ae496. https://doi. org/10. 12973/eujer. Intan Aminatul Ramadhani. Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menangani Perilaku Agresif Siswa di SMKN 1 Batanghari. Pedagogika: Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan, 1. , 43Ae48. https://doi. org/10. 57251/ped. Syahputra. Harahap. Saragih. Ramadhan. Andini. Saragi, , & Daulay. Peran Orang Tua dalam Mengurangi Perilaku Agresif Anak. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6. , 250Ae255. https://doi. org/10. 54371/jiip. Kanda. , & Rosulliya. Dampak Bullying Terhadap Perubahan Perilaku Pada Korban Bullying di SMK PGRI 2 Kota Cimahi. Jurnal Ilmiah Research Student, 1. , 507Ae512. https://doi. org/10. 61722/jirs. Latifah. Mereduksi Perilaku Agresif Siswa Melalui Konseling Behavioral Teknik Aversi. Jurnal Wahana Konseling, 6. , 23Ae32. https://doi. org/10. 31851/juang. Wettstein. Jenni. Schneider. Kyhne. , grosse Holtforth. , & La Marca. TeachersAo perception of aggressive student behavior through the lens of chronic worry and resignation, and its association with Miao. Qian. , & Humphrey. Romadhana & Suroso. Pelatihan Manajemen Emosi Bagi. observational study. Social Psychology of Education, 26. , 1181Ae1200. https://doi. org/10. 1007/s11218-02309782-2