Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 17. No. Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. UPAYA PENGEMBANGAN CANDI GEDONGSONGO SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA CANDI KECAMATAN BANDUNGAN Kris Cahyani Ermawati1 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta Email. kriscahyani1@gmail. ABSTRACT Efforts to develop Gedongsongo Temple as a tourist attraction in Candi Village. Bandungan District. This was done to find out the efforts to develop the Gedongsongo temple as one of the featured tourist attractions in Candi Village. Bandungan District. The research method in this writing uses descriptive qualitative research, while to obtain the data of this study, the authors obtain data through observation, interviews, documentation and, literature study. By using 5 samples from the managers and tourists, as well as primary data sources obtained by the authors by conducting interviews aimed at obtaining the desired data and using SWOT analysis to describe the efforts to develop the Gedongsongo temple. In the development of the Gedongsongo Temple, several activities were carried out, including adding sports facilities, establishing a nature-based and rural culture-based tourism village, optimizing community involvement in supporting tourism activities, making tourism attraction packages that are contemporary and based on the uniqueness of local potential by the community, development tourism support facilities in Candi village, development of transportation facilities to facilitate tourist accessibility so that tourists get an unforgettable impression when visiting Gedongsongo temple. In addition, in the development process. Gedongsongo Temple also prioritizes environmental conservation, followed by cultural preservation and developing local potential. With the efforts that have been made, it is hoped that this Gedongsongo tourist attraction will be more attractive to Keywords: development, tourist, attraction Article Information: Submission: 22 Juli 2021. Accepted: 02 Agustus 2021. Published: 03 Agustus 2021 DOI: Copyright A 2021 by the author. This article is published by Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta. Indonesia under the Creative Commons Attribution (CC BY 4. Anyone may reproduce, distribute, translate, and create derivative works of this article . or both commercial and noncommercial purpose. , subject to full attribution to the original publication and author. The full terms of this license may be seen at https://creativecommons. org/licenses/by/4. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan fenomena budaya yang telah berkembang hampir di seluruh dunia, bahkan dibeberapa negera. Seperti yang kita tahu bahwa pariwisata merupakan suatu proses aktivitas sementara seseorang menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya dengan tujuan untuk menambah pengalaman ataupun untuk belajar. Mereka yang bepergian ketempat lain seperti dikatakan diatas dapat dikatakan wisatawan Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. bila lama tinggalnya . ength of sta. sekurang-kurangnya 24 jam, namun bila kurang dari waktu tersebut mereka disebut pelancong atau exursionist (Suwantoro, 1997:. Jenis bermacam-macam perjalanan, rekreasi, maupun untuk kebudayaan, baik secara individu maupun kolektif dalam jangka waktu panjang ataupun jangka pendek, yang dinikmati baik ciptaan Tuhan . atural amenitie. seperti keindahan alam, laut, danau, gunung dan sebagainya maupun ciptaan manusia . an-mad. seperti pura, candi, bangunan, rumah tradisional, serta tidak ketinggalan atraksi wisata budaya setempat. Upaya pengembangan Candi Gedongsongo berkelanjutan yang didasarkan pada pendekatan pengembangan pariwisata nasional. Upaya pengembangan candi gedongsongo ini diharapkan mampu meningkatkan pemerataan pendapatan diberbagai kalangan masyarakat Desa Candi serta melindungi keindahan lingkungan alam dan Dari latar belakangan diatas, maka dalam penelitian ini mengangkat judul AuUPAYA PENGEMBANGAN CANDI GEDONGSONGO SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA CANDI KECAMATAN BANDUNGANAy. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Daya Tarik Wisata Pengertian daya tarik wisata menurut Marpaung . adalah suatu aktifitas dan fasilitas yang menarik minat wisatawan atau pengunjung untuk melakukan aktifitas pergi ke suatu daerah atau tempat tertentu untuk mendapatkan kesan yang tidak terlupakan dalam Menurut UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, dinyatakan bahwa obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata baik itu pembangunan obyek dan daya tarik wisata yang dilakukan dengan cara mengusahakan, mengelola dan membuat obyek-obyek baru sebagai obyek dan daya tarik wisata. Obyek dan daya tarik wisata terdiri dari obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan dan hasil karya manusia. Keindahan alam, hutan rimba dengan tumbuhan hutan tropis serta binatang-binatang langka merupakan obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan museum, seni budaya, wisata tirta merupakan hasil karya manusia. Pengembangan Pariwisata Pengembangan dan perencanaan pariwisata adalah suatu kegiatan untuk melakukan penyesuaian berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi rencana sebelumnya yang harus dikembangkan berdasarkan pada kondisi dan daya dukung demi tercapainya tujuan serta bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pengembangan pariwisata khususnya di kawasan Candi Gedongsongo adalah untuk bermanfaat bagi masyarakat sekitar, sehingga bisa menambahkan pendapatan ekonomi di wilayah Selain itu dengan adanya pengembangan pariwisata di kawasan Candi Gedongsongo ini juga bisa menaikan taraf hidup ekonomi masyarakat sekitar. Seperti halnya yang ada di kawasan Candi Gedongsongo membutuhkan pengembangan supaya kawasan obyek wisata tersebut semakin bagus, menambah kesejahteraan masyarakat disekitar serta membuat wisatawan yang datang juga mempunyai pengalaman yang tidak terlupakan. Alasan utama pengembangan pariwisata disuatu daerah sangat erat dengan pembangunan perekonomian, dengan kata lain perlu memperhitungkan untung dan ruginya bagi rakyat banyak (Oka A Yoeti, 1997: 2-. Beberapa aspek yang harus kita perhatikan ketika hendak mengembangkan pariwisata antara lain fasilitas pelayanan, informasi dan promosi, transportasi, atraksi serta para wisatawan. Selain itu juga perlu diingat adanya Sapta Pesona yang perlu dalam perkembangan pariwisata karena sangat penting mancanegara, yakni sebagai berikut:. keamanan bagi diri dan barang-barangnya, . ketertiban masyarakat yang dikunjungi, . kebersihan lingkungan ditempat-tempat yang dikunjungi, . kesejukan lingkungan, . keindahan alam, . keramah-tamahan penduduk yang ditemui, . kenang-kenangan yang manis dari kunjungannya itu, sehingga mereka atau wisatawan terkesan dan ingin kembali lagi berkunjung (Darmadjati R. 1995: . Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengembangkan suatu daerah wisata antara lain: ditempat tersebut harus mempunyai atraksi wisata yang bisa dilihat dan berbeda Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. dengan tempat yang lain yang dapat dijadikan sebagai bahan AuentertainmentAy bila wisatawan berkunjung kesana, atau sering disebut dengan Ausomething to seeAy. Selain daerah tersebut harus ada atraksi yang bisa dilihat, daerah tersebut harus menyediakan fasilitas pendukung atau sering disebut dengan Ausomething to doAy untuk mengisi waktu para wisatawan selama berkunjung ditempat tersebut, serta beberapa rekreasi yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama. Faktor selanjutanya yang harus ada di tempat wisata adalah Ausomething to knowAy, dimana wisatawan bisa mengerti lebih jauh lagi tentang apa yang mereka lihat, meraka saksikan serta mereka lakukan di tempat tersebut. Maka dari itu di tempat wisata juga perlu adanya tour operator yang dipandu oleh guide/pramuwisata yang berkualitas atau yang menguasai tempat tersebut. Untuk membuat wisatawan mempunyai kenang-kenangan di suatu daerah tersebut, maka suatu obyek wisata juga harus menyediakan oleholeh khas dari tempat obyek wisata tersebut, dengan kata lain disebut dengan Ausomething to buyAy. Disini masyarakat setempat bisa menyediakan sesuatu yang khas dari wilayahnya baik itu berupa makanan khas atau souvenir untuk bisa dibawa pulang sebagai kenangan para wisatawan yang pernah berkunjung. Segala sesuatu yang menarik yang terdapat didaerah tujuan wisata merupakan daya tarik wisata agar orang-orang mau datang berkunjung dan menghabiskan waktu ke suatu tempat tertentu (Richard Sihite, 2000: 156-. Terdapat 5 unsur pokok terkait dengan perencanaan, pelaksanaan serta pengembangan pembangunan yang harus diperhatikan dalam pengembangan parwisata: Obyek dan Daya Tarik Wisata Obyek wisata atau atraksi wisata yang bagus menjadi salah satu faktor pendorong wisatawan untuk datang kesuatu tempat wisata tersebut. Prasarana Wisata Prasarana wisata meliputi jalan, listrik, air, telekomunikasi, dan lain sebagainya menjadikan bahan pertimbangan oleh seseorang yang akan melakukan perjalanannya didaerah tujuan wisata . Sarana Wisata Sarana wisata seperti akomodasi, transportasi, dan rumah makan merupakan kelengkapan wisatawan yang mereka butuhkan selama menikmati perjalanannya. Tata Laksana atau Infrastruktur Infrastruktur merupakan situasi yang mendukung fungsi sarana dan prasarana wisata, baik yang berupa sistem pengaturan maupun bangunan fisik diatas permukaan tanah atau dibawah permukaan tanah. Masyarakat atau Lingkungan Masyarakat disekitar obyek wsiatawanlah yang akan menerima serta memberikan pelayanan bagi para wisatawan tersebut, untuk itu masyarakat disekitar obyek wisata perlu mengetahui kualitas layanan yang dibutuhkan oleh para wisatawan sehingga membuat para wisatawan tersebut menjadi senang dan betah ketika berkunjung ke daerah tersebut. Untuk menciptakan hal tersebut, pemerintah setempat perlu membentuk kelompok masyarakat sadar Dalam kegiatan ini juga perlu disampaikan bahwa dengan adanya masyarakat sadar wisata akan berdampak positif karena mereka akan memperoleh banyak pengalaman dan keuntungan dari para wisatawan yang membelanjakan uangnya dan menghabiskan waktu ditempat Disamping masyarakat disekitar obyek wisata, lingkungan alam disekitar obyek wisatapun perlu diperhatikan dengan seksama agar tidak rusak dan tercemar (Gamal Suwantoro, 2002: 19-. Pengertian Wisatawan Wisatawan merupakan seseorang yang sedang melakukan perjalanan menuju ke suatu tempat untuk rekreasi serta mencari pengalaman, tidak bertujuan untuk menetap dan tidak untuk (UU. No. 10/2009 tentang pariwisat. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan oleh peneliti di kawasan bersejarah Komplek Candi Gedong Songo. Desa Candi. Kecamatan Bandungan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dan penulis mendapatkan data-data yang dibutuhkan melalui observasi datang langsung, wawancara mengenai pengembangan candi gedongsongo kepada pihak pengelola dan wisatawan, dokumentasi dan studi Penelitian kualitatif ini untuk Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. mendiskripsikan pengembangan Candi Gedongsongo. analisis SWOT untuk mendeskripsikan mengenai pengembangan Candi Gedongsongo. Populasi dan Sampel Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh pengelola Candi Gedongsongo berjumlah 10 orang dan mengambil sampel secara acak pada 5 orang petugas Candi Gedongsongo serta kepada wisatawan yang HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Wilayah Candi Gedongsongo Candi Gedongsongo merupakan salah satu obyek wisata yang terletak di wilayah desa Candi yang merupakan dataran tinggi. Dengan jalanan yang naik serta kemiringannya yang sangat tajam, maka Lokasi ini membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 40 menit perjalanan dari Kota Ambarawa, sedangkan dari obyek wisata bandungan lokasi Candi Gedongsongo ini hanya membutuhkan waktu tempauh selama 10 menit. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder, dimana sumber data primer penulis dapatkan melalui wawancara kepada pihak pengelola dan datang langsung ke tempat. Sedangkan untuk data sekunder penulis dapatkan dari dokumen dan (Kusmayadi, 2000: . Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini Observasi Observasi atau pengamatan langsung dimana peneliti melakukan pengamatan secara langusng ke obyek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan (Ridwan, 2004: . Peneliti mengamati bagaimana pengembangan Candi gedongsongo sebagai daya tarik wisata. Wawancara Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada pengelola Candi Gedongsongo serta beberapa pengunjung yang datang ke obyek wsiata candi Gedongsongo. Studi Pustaka Metode pengumpulan data melalui studi pustaka ini didapatkan dengan mengkaji bukubuku literatur serta referensi perpustakaan yang berkaitan dengan judul penelitian. Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini berupa tulisan serta gambar dari obyek yang diteliti (Sugiyono, 2012:. Analisis Data Analisis data merupakan teknik untuk mengecek keabsahan data dalam membandingkan hasil wawancara terhadap obyek penelitian (Moleong, 2004:. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Sejarah Candi Gedong Songo Kata Gedongsongo dari bahasa jawa yang artinya Gedong adalah bangunan atau rumah, sedangkan songo artinya sembilan. Jadi Gedong Songo ini berarti sembilan bangunan. Dikomplek bangunan candi ini terdapat sembilan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di desa Candi. Kabupaten Semarang. Pemandangan yang indah di lereng gunung Ungaran membuat semakin indah atau mempesona ke sembelilan candi gedong songo yang tersebar diarea lereng tersebut. Ditambah lagi hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang menambah minat wisatawan untuk berkunjung. Seringkali kabut juga turun dari atas gunung sehingga membuat candi gedongsongo sulit terlihat dari kejauhan. Candi gedongsongo yang memliki ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut memiliki persamaan dengan komplek candi dieng, sehingga ini pula yang menyebabkan suhu udara menjadi dingi di kawasan ini. Candi gedong songo merupakan peninggalan budaya hindu yang dibangun oleh putera Sanjaya dari zaman Wangsa Syailendra untuk tujuan Candi gedongsongo juga dijadikan sebagai tempat pemujaan bagi umat hindu, karena disana juga terdapat beberapa patung dewa, seperti Syiwa Mahaguru, mahadewa, gurga mahesa suramardhani, syiwa mahakala, dan Selain itu juga terdapat Lingga dan Yoni yang menjadi ciri khusus dari candi hindu. Komplek candi ini terdiri dari sembilan candi yang berada mulai dari bawah hingga keatas yang dihubungkan dengan jalan setapak yang sudah bersemen, dan terdapat satu bangunan candi yang Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. terdapat di pincak paling tinggi yang disebut dengan puncak nirwarna. Candi gedong I ini merupakan candi dengan bangunan candi utuh yang berbentuk persegi panjang yang mempunyai ketinggi 4 hingga 5 meter. Candi gedong I ini dihiasi dengan pahatan bunga dan pahatan relief sulur disekelilingnya, dan berdiri disebuah batur atau kaki candi setinggi 1 meter, serta ruangan sempit melengkapi bagian dalam badan candi. Ada beberapa bagian dalam candi gedong II ini diantaranya adalah bagian atas, bagian badan candi, dan bagian dalam candi. Candi yang berdiri diatas sebuah kaki candi berbentuk bujur sangkar ini memliki luas 2,2 meter persegi dengan tinggi 1 Terdapat ceruk kecil sebagai tempat untuk meletakkan arca dibadan candi dibagian sisi luar ketiga dindingnya. Kepala naga dan kalamakara menjadi penghias pada ceruk ini, sedangkan pahatan pola kertas tempel menghiasi bagian luar Sementara di bagian dalam candi terdapat candi perwara yang merupakan reruntuhan bagunan candi yang berfungsi sebagai penjaga. Terdapat 3 candi besar di Candi gedong 3 ini. Dengan posisi menghadap ketimur, kedua candi ini seperti candi kembar, dan satu candi menghadap kebarat dengan ukuran lebih kecil. Arca siwa dengan gada panjang ditangan kanannya menghiasi pintu masuk 2 candi yang menghadap ketimur ini, dan relung yang berisi durga bertangan 8 serta arca ganesha terdapat didinding candi utama. Satu candi yang lebih kecil yang menghadap kebarat diperkirakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Pada candi gedong IV ini merupakan candi utama dan disini juga terdapat reruntuhan candi yang kemungkinan merupakan candi perwara. Bentuk dari candi utama ini juga hampir sama dengan candi gedong II yang mempunyai batur setinggi 1 meter, serta terdapat bilik penampil dengan relung yang menghiasi bagian dinding sebuah luar. Salah satu hal yang menarik wisatawan adalah pemandian air panas dengan bau belerang yang sangat menyengat yang terdapat diantara candi gedong tiga dan empat. Di komplek Candi gedong V ini terdapat sebuah candi utama dan sejumlah reruntuhan candi sekitarnya yang diduga sebagai candi perwara. Candi gedong V berbentuk mirip dengan candi gedong II. Arca ganesha dengan posisi duduk bersila menghiasi relung yang terdapat didinding luar candi. Strategi Pengembangan Candi Gedongsongo Untuk menjadikan Candi Gedongsongo sebagai daya tarik wisata yang diunggulkan diperlukan beberapa strategi antara lain: . pembentukan desa wisata berbasis alam dan budaya perdesaan, . optimalisasi pelibatan kepariwisataan, . pembuatan paket atraksi wisata yang kekinian dan berbasis kekhasan potensi lokal yang dikembangkan oleh komunitas masyarakat sehingga menarik wisatawan. kepariwisataan di Desa Candi Kecamatan Banudngan, dan . pengembangan sarana transportasi untuk memudahkan aksesibilitas Selain pengembangan Candi Gedongsongo ini juga harus memperhatikan beberapa aspek antara lain: mengembangkan potensi lokal dengan tetap menjaga dan meningkatkan kelestarian alam dan budaya, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat lokal, memberikan manfaat ekonomi bagi pendapatan nasional atau daerah. Manfaat strategi pengembangan Candi Gedongsongo bagi pengelola serta masyarakat sekitar adalah: C Untuk Candi Gedongsongo sebagai salah satu obyek wisata yang memiliki nilai budaya dan sejarah. C Memperbaiki komplek candi gedongsongo menjadi salah satu wisata unggulan di Desa Candi. C Membantu masyarakat sekitar. C Membuka kesempatan lapangan pekerjaan serta meningkatkan pendapatan masyarakat C Menjadikan kawasan candi gedongsongo sebagai kawasan yang harus diperbaiki secara terencana demi meningkatnya minat para Konsep Pengembangan Strategi pengembangan Candi Gedongsongo merupakan salah satu upaya untuk melestarikan obyek wisata disuatu daerah tertentu dengan memanfaatkan potensi yang ada sehingga ini akan memberikan efek yang sangat baik bagi pihak pengelola maupun masyarakat sekitar dalam hal pembangunan dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Candi Gedongsongo ini merupakan warisan leluhur yang mempunyai nilai budaya dan sejarah dan saat ini menjadi aset Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. pariwisata yang perlu kita kembangkan. Para wisatawan yang datang ke Candi Gedongsongo ini selain akan mendapatkan pemandangan alam yang sangat bagus, mereka juga bisa belajar mengenai sejarah dari masing-masing candi yang ada di Gedongsongo, yang lokasinya tersebar mulai dari Untuk mempertahankan minat wisatawan agar selalu berkunjung ke lokasi ini, maka pihak pengelola dan masyarkat setempat selalu berupaya untuk menjaga dan melestarikan obyek wisata tersebut. Untuk menjabarkan upaya-upaya pengembangan tersebut, penulis menggunakan analisis SWOT pengembangan obyek wisata Candi gedongsongo STRENGTH INTERNAL WEAKNESS Kekayaan akan budaya dan C potensi wisata candi Kurangnya media promosi Candi Gedongsongo Atraksi wisata kuda dari C Kurangnya informasi yang candi satu ke candi yang menjelaskan tentang masing- masing candi Adanya dukungan-dukungan C Minimnya dalam upaya pengembangan paham akan bangunan kuno. Candi Gedong Songo dari C Kerusakan berbagai fasilitas obyek wisata. masyarakat setempat yang wisata candi gedong songo. EKSTERNAL Keramahtamahan petugas OPPORTUNITIES Candi Gedong Songo C W-O Menjadikan obyek wsiata Membuat logo yang sesuai merupakan salah satu obyek Candi Gedong Songo sebagai dengan karakteristik Candi wisata unggulan di Desa tempat belajar sejarah Gedong Songo Mewujudkan Candi Gedong C Membuat Bandungan Songo Candi Gedong Songo sebagai Candi S-O Kecamatan C tempat belajar sejarah dan akan sejarah Candi Gedong Songo. Investasi Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. Peningkatan Jumlah Wisatawan C Promosi tempat bersejarah menjadi obyek wsiata THREAT Keadaan S-T C Menyadarkan W-T Meningkatnya pengetahuan wisata alam yang kurang sekitar akan sejarah Candi masyarakat serta kepedulian Gedong akan sejarah Candi Gedong Kurangnya kesadaran dan Songo Songo. kepedulian masyarakat akan sejarah Candi Gedong Songo STRATEGI UTAMA Perlu adanya upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat dan pengunjung akan sejarah Candi Gedong Songo melalui branding sehingga masyarakat dan pengunjung akan sadar dan peduli pada Candi Gedong Songo. Perencanaan yang matang sangat dibutuhkan dalam pengembangan suatu obyek wisata, dan perencanaan yang sudah disusun harus benar-benar dijalankan agar hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan, meskipun dalam pelaksanaannya pasti akan menemui suatu hambatan dan kendala sehingga kita juga perlu menyiapkan langkah-langkah yang harus kita tempuh untuk menghadapi hambatan dan kendala Beberapa kendala dan hambatan yang dihadapi dalam proses pengembangan Candi Gedong Songo saat ini antara lain: C Kurangnya kualitas dan kapasitas SDM profesional dibidang pariwisata. C Lemahnya koordinasi dan kerjasama antara sektoral birokrasi dan pelaku pariwisata, pemerintah dan sektor usaha, dan investor C Kurangnya pendekatan pemberdayaan ekonomi lokal. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam sektor pariwisata. Terbatasnya jumlah kelompok sadar Lemahnya komitmen pelaku sektor pariwisata dalam mendukung kegiatan Ketatnya persaingan dengan destinasi wisata lainnya. KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil analisis beberapa aspek. Pengembangan Candi Gedongsongo Desa Candi Kecamatan Bandungan, dapat disimpulkan bahwa: C Strategi Candi Gedongsongo sebagai daya tarik wisata di Desa Candi Kecamatan bandungan antara lain: . pembentukan desa wisata berbasis alam dan budaya perdesaan, . optimalisasi pelibatan masyarakat dalam mendukung kegiatan kepariwisataan, . pembuatan paket atraksi Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 17. No. wisata yang kekinian dan berbasis kekhasan potensi lokal yang dikembangkan oleh komunitas masyarakat sehingga menarik wisatawan. pendukung kepariwisataan di Desa Candi Kecamatan Bandungan, . pengembangan sarana transportasi untuk memudahkan aksesibilitas wisatawan. Selain itu, dalam stategi pengembangan Candi Gedongsongo ini juga harus memperhatikan beberapa aspek antara lain: mengembangkan potensi lokal dengan tetap menjaga dan meningkatkan kelestarian alam dan budaya, masyarakat lokal, memberikan manfaat ekonomi bagi pendapatan nasional atau Keberadaan Candi Gedongsongo mengutamakan atraksi wisata alam yang berbasis peduli lingkungan sehingga secara umum dapat memajukan kegiatan pariwisata di Desa Candi Kecamatan Bandungan. Suwantoro. Gamal. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi. Undang-Undang Republik Indonesia No. Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Wiendu. Nuryanti. Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Penerbit Andi. Yoeti. Perencanaan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramitha. Saran Dalam upaya pengembangan obyek wisata candi gedongsongo ini perlu adanya upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat agar lebih menjaga kelestarian Candi gedongsongo: Daftar Pustaka