e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PELATIHAN PENGUATAN KOMPETENSI PENDIDIKAN KEJURUAN BAGI SISWA SMK NEGERI 1 MUARA BATU Islami Fatwa1. Taufiq2*. Desy Sary Ayunda3 Pendidikan Vokasional Teknik Mesin. Universitas Malikussaleh Taufik3883@unimal. ABSTRAK Pendidikan kejuruan memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, produktif, dan siap menghadapi perkembangan dunia kerja. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat pada era Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. 0 menuntut lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta literasi digital. Berdasarkan hasil observasi awal di SMK Negeri 1 Muara Batu ditemukan bahwa sebagian siswa masih memiliki keterbatasan pemahaman mengenai kompetensi kerja, budaya industri, perkembangan teknologi, dan kesiapan karier setelah lulus sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pendidikan kejuruan siswa melalui pelatihan yang berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan pelatihan, diskusi interaktif, simulasi dunia kerja, dan evaluasi kegiatan. Peserta kegiatan berjumlah 50 siswa dari berbagai program keahlian. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai kompetensi vokasional, kesiapan kerja, budaya industri, dan pentingnya pengembangan hard skills serta soft skills. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan. Pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan motivasi belajar, wawasan karier, dan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Oleh karena itu, kegiatan penguatan kompetensi pendidikan kejuruan perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mendukung peningkatan kualitas lulusan SMK yang adaptif, profesional, dan kompetiti. Kata Kunci : Pendidikan Kejuruan. Kompetensi Siswa. Pelatihan Vokasi. Kesiapan Kerja. SMK ABSTRACT Vocational education plays a strategic role in preparing competent, productive, and work-ready human Rapid technological changes in the era of Industry 4. 0 and Society 5. 0 require vocational high school graduates not only to master technical skills but also to possess critical thinking, communication, collaboration, creativity, and digital literacy skills. Initial observations at SMK Negeri 1 Muara Batu revealed that some students still had limited understanding of work competencies, industrial culture, technological developments, and career readiness after graduation. This community service activity aimed to strengthen studentsAo vocational competencies through training oriented toward industrial needs. The implementation methods consisted of preparation, training activities, interactive discussions, work simulations, and The participants were 50 students from various vocational programs. The results indicated improvements in studentsAo understanding of vocational competencies, work readiness, industrial culture, and the importance of developing both hard skills and soft skills. Furthermore, students showed high enthusiasm throughout the activity. This training positively contributed to improving studentsAo learning motivation, career insights, and readiness to face workplace challenges. Therefore, vocational competency strengthening programs should be conducted continuously to support the development of adaptive, professional, and competitive vocational school graduates. Keywords: Vocational Education. Student Competency. Vocational Training. Work Readiness. Vocational School. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENDAHULUAN Pendidikan kejuruan merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan nasional yang berfungsi mempersiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri DUDI (Maulina & Yoenanto, 2. Pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan penguasaan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja. Dalam konteks pembangunan nasional, pendidikan kejuruan menjadi salah satu instrumen penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan mampu bersaing pada tingkat nasional maupun global (Suparyati & Habsya, 2. Perkembangan teknologi yang semakin pesat pada era Revolusi Industri 4. 0 telah membawa perubahan besar terhadap karakteristik pekerjaan dan kebutuhan tenaga kerja (Purba et al. , 2. Berbagai sektor industri mulai mengadopsi sistem digital, kecerdasan buatan, otomatisasi. Internet of Things (IoT), dan teknologi berbasis data. Kondisi tersebut menuntut tenaga kerja yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap perkembangan teknologi (Suparyati & Habsya, 2. Menurut Suparyati & Habsya, 2024, lulusan pendidikan kejuruan pada abad ke-21 harus memiliki keseimbangan antara hard skills dan soft skills. Hard skills mencakup kompetensi teknis sesuai bidang keahlian, sedangkan soft skills meliputi kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, kreativitas, pemecahan masalah, dan etika kerja. Kedua aspek tersebut menjadi indikator penting yang dipertimbangkan oleh dunia industri dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Kualitas lulusan SMK saat ini masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia kerja (Ningrum, 2. Penelitian Handari & Tuwoso, 2025 menunjukkan bahwa sebagian lulusan SMK masih mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja karena kurangnya pemahaman mengenai budaya industri dan perkembangan teknologi terbaru. Selain itu, kesiapan kerja siswa SMK sangat dipengaruhi oleh pengalaman praktik, penguasaan kompetensi kejuruan, dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan berbagai program penguatan kompetensi yang dapat meningkatkan kesiapan kerja peserta didik (Asdin et al. , 2. SMK Negeri 1 Muara Batu merupakan salah satu lembaga pendidikan kejuruan yang memiliki peran penting dalam menghasilkan tenaga kerja terampil di Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi dengan pihak sekolah, ditemukan bahwa sebagian siswa masih memiliki keterbatasan dalam memahami perkembangan dunia kerja, kebutuhan kompetensi industri, serta strategi pengembangan karier. Banyak siswa yang belum memahami keterampilan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi persaingan kerja pada era digital. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kegiatan yang dapat meningkatkan wawasan, keterampilan, dan kesiapan kerja siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan pelatihan penguatan kompetensi pendidikan kejuruan. Menurut Ariyanto et al. , 2023, pelatihan kompetensi vokasional dapat meningkatkan kepercayaan diri, motivasi belajar, dan kesiapan kerja siswa SMK. Pelatihan menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan nyata dunia Melalui kegiatan pelatihan, siswa dapat memperoleh pengetahuan baru, meningkatkan keterampilan, dan memahami budaya kerja industri secara lebih mendalam. Pendidikan vokasi perlu mengembangkan pembelajaran berbasis industri agar lulusan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja (Ismail, 2. Oleh karena itu, penguatan kompetensi siswa harus dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan unsur pendidikan, industri, dan masyarakat (Hafid et al. Berdasarkan permasalahan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat melaksanakan kegiatan AuPelatihan Penguatan Kompetensi Pendidikan Kejuruan bagi Siswa SMK Negeri 1 Muara BatuAy. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pendidikan kejuruan, budaya kerja industri, pengembangan kompetensi, kesiapan kerja, serta keterampilan yang dibutuhkan pada era Revolusi Industri 4. dan Society 5. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Muara Batu. Kabupaten Aceh Utara. Provinsi Aceh pada bulan Januari 2026. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas XI dan XII dari berbagai program keahlian yang berjumlah 50 orang. Pemilihan peserta dilakukan berdasarkan rekomendasi pihak e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. sekolah dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan siswa terhadap penguatan kompetensi pendidikan kejuruan dan kesiapan kerja. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode pelatihan partisipatif . articipatory training metho. yang mengombinasikan pendekatan ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, serta evaluasi. Pendekatan ini dipilih karena mampu meningkatkan keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran dan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual sesuai dengan kebutuhan pendidikan vokasi. Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam empat tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan pelatihan, tahap pendampingan dan diskusi, serta tahap evaluasi. Pada tahap persiapan, tim pengabdian melakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta, menentukan jadwal pelaksanaan kegiatan, serta menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan. Selain itu, dilakukan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru serta beberapa siswa untuk memperoleh informasi mengenai tingkat pemahaman siswa terhadap kompetensi pendidikan kejuruan, perkembangan dunia industri, dan kesiapan Hasil identifikasi kebutuhan tersebut digunakan sebagai dasar dalam penyusunan materi pelatihan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta. Tahap kedua adalah pelaksanaan pelatihan. Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara tatap muka di aula sekolah dengan durasi satu hari penuh. Materi yang diberikan meliputi: urgensi pendidikan kejuruan dalam menghadapi perkembangan dunia kerja. kompetensi abad ke-21 yang diperlukan oleh lulusan SMK. penguatan hard skills dan soft skills. budaya kerja industri. literasi digital dan pemanfaatan teknologi dalam dunia kerja. strategi pengembangan karier dan kesiapan memasuki dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Metode ceramah interaktif digunakan untuk menyampaikan konsep-konsep dasar mengenai pendidikan kejuruan dan kompetensi kerja. Selama penyampaian materi, peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pendapat sehingga terjadi komunikasi dua arah antara narasumber dan peserta. Selain itu, digunakan media presentasi, video edukatif, dan contoh kasus nyata dari dunia industri untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Tahap ketiga adalah pendampingan dan Pada tahap ini peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kesiapan kerja, pengembangan kompetensi, dan tantangan yang dihadapi siswa dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Setiap kelompok diberikan studi kasus yang berkaitan dengan budaya kerja industri, etika profesional, komunikasi kerja, dan pengambilan keputusan di lingkungan Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok dan mendapatkan umpan balik dari tim pengabdian. Selain diskusi kelompok, dilakukan pula simulasi dunia kerja yang bertujuan untuk melatih kemampuan komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan kepemimpinan peserta. Simulasi dilakukan melalui kegiatan role play yang menggambarkan situasi nyata dalam lingkungan industri. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sehingga peserta dapat memahami pentingnya kompetensi nonteknis . oft skill. dalam dunia kerja. Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan pelatihan dan tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Instrumen evaluasi berupa angket respon peserta yang menggunakan skala Likert lima tingkat, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Aspek yang dievaluasi meliputi relevansi materi, kualitas penyampaian materi, manfaat kegiatan, peningkatan pemahaman peserta, serta kepuasan terhadap pelaksanaan kegiatan. Selain menggunakan angket, evaluasi juga dilakukan melalui observasi langsung terhadap partisipasi peserta selama kegiatan berlangsung. Indikator observasi meliputi keaktifan bertanya, keterlibatan dalam diskusi, kemampuan menyampaikan pendapat, serta antusiasme mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Data hasil evaluasi dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase untuk menggambarkan tingkat keberhasilan kegiatan pengabdian. Keberhasilan program ditentukan berdasarkan beberapa indikator, yaitu: . minimal 80% peserta yang mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai. minimal 75% peserta harus menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap kompetensi pendidikan kejuruan dan kesiapan kerja. kemudian peserta memberikan respon positif terhadap pelaksanaan kegiatan dengan kategori baik atau sangat baik. terjadinya peningkatan motivasi siswa dalam mengembangkan kompetensi sesuai bidang keahlian masing-masing. Melalui tahapan pelaksanaan yang sistematis tersebut, kegiatan pengabdian diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kompetensi pendidikan kejuruan, kesiapan kerja, dan daya saing siswa SMK Negeri 1 Muara Batu dalam menghadapi tantangan dunia kerja pada era Revolusi Industri 4. 0 dan Society e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Berikut tabel alur kegiatan dalam pengabdian ini. Tahap Persiapan Pelaksanaan Pendampingan Evaluasi Tabel 1. Alur Kegiatan Pengabdian Kegiatan Luaran Observasi, koordinasi. Identifikasi kebutuhan peserta penyusunan materi Penyampaian materi dan Peningkatan pengetahuan peserta Penguatan soft skills dan Diskusi dan simulasi kesiapan kerja Angket dan observasi Data efektivitas kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Pelatihan dilaksanakan selama satu hari penuh dengan melibatkan tim dosen dan mahasiswa sebagai Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah dan penyampaian tujuan kegiatan kepada Selanjutnya dilakukan penyampaian materi mengenai pentingnya pendidikan kejuruan dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Peserta diberikan pemahaman bahwa pendidikan vokasi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Materi yang diberikan mendapat respon positif dari peserta karena berkaitan langsung dengan kondisi yang mereka hadapi sebagai siswa SMK. Sebagian besar peserta mengaku baru memahami pentingnya pengembangan soft skills sebagai bagian dari kompetensi kerja. 2 Peningkatan Pemahaman Kompetensi Kejuruan Hasil observasi menunjukkan bahwa sebelum kegiatan berlangsung sebagian siswa masih memahami kompetensi kejuruan hanya sebagai kemampuan praktik sesuai program keahlian masing-masing. Setelah pelatihan, siswa mulai memahami bahwa kompetensi kerja mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap kerja, komunikasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ningrum . yang menjelaskan bahwa kompetensi lulusan pendidikan vokasi harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu. Pelatihan juga memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya sertifikasi kompetensi sebagai salah satu bentuk pengakuan terhadap kemampuan yang dimiliki. Banyak peserta yang sebelumnya belum memahami fungsi sertifikasi dalam meningkatkan daya saing lulusan di dunia kerja. 3 Penguatan Soft Skills Siswa Salah satu materi yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah pengembangan soft skills. Dalam dunia kerja modern, soft skills menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang dalam menjalankan pekerjaan. Kemampuan komunikasi, kerja sama tim, disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan merupakan soft skills yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri. Oleh karena itu, siswa perlu mengembangkan kemampuan tersebut sejak masih berada di bangku sekolah. Melalui simulasi dan diskusi kelompok, peserta dilatih untuk menyampaikan pendapat, bekerja sama dalam tim, dan memecahkan masalah secara kolaboratif. Aktivitas ini membantu siswa memahami pentingnya kemampuan interpersonal dalam lingkungan kerja. 4 Pemahaman Budaya Kerja Industri Materi budaya kerja industri menjadi salah satu topik yang paling diminati peserta. Banyak siswa mengaku belum memahami secara mendalam mengenai etika kerja, disiplin, profesionalisme, dan tanggung jawab dalam lingkungan industri. Budaya kerja industri merupakan salah satu aspek penting yang harus dimiliki lulusan SMK. Menurut (Fidiah et al. , 2. , banyak perusahaan lebih memilih tenaga kerja yang memiliki sikap kerja baik dibandingkan tenaga kerja yang hanya memiliki kemampuan teknis. Melalui kegiatan pelatihan, peserta diberikan contoh kasus mengenai budaya kerja industri, standar operasional kerja, dan etika profesional yang harus diterapkan di tempat kerja (Wahyudi et al. , 2. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. 5 Kesiapan Kerja pada Era Revolusi Industri 4. Era Revolusi Industri 4. 0 membawa perubahan besar terhadap berbagai jenis pekerjaan. Banyak pekerjaan konvensional mulai tergantikan oleh teknologi otomatisasi dan digitalisasi (Erlitasari et al. , 2. Oleh karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi. Materi mengenai literasi digital, penggunaan teknologi informasi, dan pengembangan kompetensi masa depan menjadi bagian penting dalam pelatihan. Hasil diskusi menunjukkan bahwa peserta mulai menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan teknologi digital sebagai bekal menghadapi persaingan kerja. Temuan ini sesuai dengan penelitian Aziz et al. , 2025 yang menyatakan bahwa pendidikan vokasi harus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi industri. 6 Dampak Kegiatan terhadap Motivasi Belajar Selain meningkatkan pemahaman kompetensi, pelatihan juga berdampak terhadap motivasi belajar siswa. Banyak peserta menyatakan lebih termotivasi untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi akademik setelah mengikuti kegiatan (Abidin et al. , 2. Peningkatan motivasi tersebut terjadi karena siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai peluang kerja dan tantangan yang akan mereka hadapi setelah lulus Menurut (Dirga et al. , 2. , kegiatan pelatihan berbasis kompetensi dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya belajar sebagai investasi untuk masa depan karier mereka. 7 Evaluasi Kegiatan Berdasarkan hasil angket, sebagian besar peserta memberikan respon sangat baik terhadap pelaksanaan Peserta menilai materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai siswa SMK. Selain itu, metode pelatihan yang interaktif membuat peserta lebih aktif dalam mengikuti kegiatan. Diskusi, simulasi, dan tanya jawab menjadi metode yang paling disukai karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi secara langsung dengan narasumber. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan penguatan kompetensi pendidikan kejuruan mampu meningkatkan wawasan, motivasi, dan kesiapan kerja siswa secara Berikut dokumentasi kegiatan dalam pengabdian ini: Gambar 1 Dokumentasi Kegiatan Dalam Pengabdian e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Pelatihan Penguatan Kompetensi Pendidikan Kejuruan bagi Siswa SMK Negeri 1 Muara Batu berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai pendidikan kejuruan, kompetensi kerja, budaya industri, pengembangan karier, serta pentingnya penguasaan hard skills dan soft skills. Kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan motivasi belajar dan kesiapan kerja siswa dalam menghadapi perkembangan dunia industri pada era Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. Pelatihan yang dilaksanakan secara interaktif mampu meningkatkan partisipasi dan antusiasme Siswa memperoleh wawasan baru mengenai kebutuhan kompetensi dunia kerja dan pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan. Disarankan agar kegiatan serupa dilakukan secara rutin dengan melibatkan dunia usaha dan dunia industri sehingga siswa memperoleh informasi yang lebih aktual mengenai kebutuhan tenaga kerja. Selain itu, sekolah perlu memperkuat program pembelajaran berbasis industri, sertifikasi kompetensi, dan pengembangan soft skills guna meningkatkan daya saing lulusan SMK. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala SMK Negeri 1 Muara Batu atas dukungan dan kesempatan yang diberikan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh guru, tenaga kependidikan, serta siswa kelas XI dan XII SMK Negeri 1 Muara Batu yang telah berpartisipasi secara aktif selama kegiatan Besar harapan bahwa kegiatan ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi, mendorong motivasi belajar, serta memperkuat kesiapan karier peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan di dunia kerja. Daftar Pustaka