Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS) DI SEKOLAH DASAR WILAYAH KERJA PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI Evaluation of Implementation of School Dental Health Program (UKGS) in Elementary School at Olak Kemang Public Health Center Working Area. Jambi Evi Nurchafifah1. Adelina Fitri1. Guspianto1 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Jambi. Jambi e-mail : adelinafitri@unja. ABSTRACT The prevalence of dental caries problems in Jambi City was 0. And the highest number of cases per kelurahan that had dental caries problems occurred in Olak Kemang Health Center in Jambi City, which There are several obstacles in the implementation of the UKGS program in the working area of the Olak Kemang Health Center in Jambi City, where HR is not in accordance with standards, facilities and infrastructure are inadequate, budget funds are minimal. This study was use qualitative research methods with a case study design. Data collection through in-depth interviews. Focus Group Discussion (FGD), observation and documentation. Checking the validity of the data utilized source triangulation techniques and methods. The results of the evaluation of the UKGS program showed that some aspects of the input have not met the standards, which consist of UKGS implementing staff in schools, budget funds, facilities and infrastructure and SOP contributions in schools. Coverage Program UKGS Activities carried out only education / counseling and examination of teeth and mouth, for coaching / training Output in the UKGS program activities is the knowledge of students about UKGS and dental and mouth health is very poor. The implementation of the UKGS program in the work area of the Puskesmas Olak Kemang has not been maximized, which results in less than optimal performance of the UKGS Keywords : Evaluation. Public Health Center. UKGS program ABSTRAK Prevalensi yang mengalami masalah karies gigi di Kota Jambi sebesar 0,74%. Dan jumlah kasus per kelurahan yang mengalami masalah karies gigi tertinggi terjadi di Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi yakni sebesar 6,81%. Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius, oleh sebab itu diperlukan keterlibatan keluarga dan sekolah untuk mengatasinya. Terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan program UKGS di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi diantarannya SDM di sekolah yang tidak sesuai standar, sarana dan prasarana kurang memadai, anggaran dana yang minim. Penelitian ini menggunakakn metode penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data melalui metode wawancara mendalam. Focus Group Discussion (FGD), observasi dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data memanfaatkan teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil evaluasi program UKGS menunjukkan bahwa beberapa aspek input belum memenuhi standar, yaitu terdiri dari tenaga pelaksana UKGS di sekolah, anggara dana, sarana dan prasarana dan ketersediaan SOP di sekolah. Proses meliputi kegiatan program UKGS yang dilaksanakan hanya pendidikan atau penyuluhan dan pemeriksaan gigi dan mulut, untuk pembinaan/pelatihan tenaga pelaksana UKGS, kegiatan sikat gigi massal tidak pernah dilaksanakan. Output dalam kegiatan program UKGS adalah pengetahuan siswa dan siswi tentang UKGS dan kesehatan gigi dan mulut sangat kurang baik. Pelaksanaan program UKGS di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang belum maksimal, yang berakibat pada kurang optimalnya kinerja pelaksana UKGS. Kata kunci : Evaluasi. Puskesmas. Program UKGS Evi Nurchafifah Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) PENDAHULUAN Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. , menyatakan Proporsi penduduk yang menderita penyakit pada gigi dan mulut di Indonesia semakin tinggi. Pada tahun 2007 masalah penyakit pada gigi dan mulut sebesar 23,2%, tahun 2013 meningkat sebesar 25,9%, dan tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar 57,6%. Dan hanya 10,2% yang mendapatkan pelayanan dari tenaga medis. Adapun proposi perilaku menyikat gigi dengan benar sebesar 2,8% . Sekolah Dasar merupakan usia yang rentan mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut salah satunya yaitu penyakit karies gigi, dikarenakan di usia anak 6-12 tahun perilaku dan kebiasaan untuk merawat kesehatan gigi dan mulut masih kurang . Usia Sekolah Dasar merupakan usia ideal untuk melatih motorik anak dan efektif apabila dilakukan sejak usia dini serta dilakukan secara terus menerus agar menciptakan kebiasaan anak untuk merawat dan menjaga kesehatan gigi dan mulut . Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius, oleh sebab itu diperlukan keterlibatan keluarga dan sekolah untuk mengatasinya. Perlu dilakukan perawatan segera mungkin pada anak yang mengalami karies gigi agar tidak mengganggu kualitas hidup anak, untuk mengatasi masalah karies gigi anak adalah dengan melibatkan sekolah untuk melaksanakan program UKGS sebagai wadah dan sarana untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan sementara . Departemen Kesehatan telah memprogramkan upaya promotif dan preventif untuk anak usia sekolah melalui program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah. Program UKGS tersebut merupakan salah satu usaha pokok dari Puskesmas yang saling berkaitan dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Dalam program UKGS terdapat program yang melaksanakan pelayanan terhadap siswa/i Sekolah Dasar mengenai kesehatan pada gigi dan mulut, yaitu dengan mengadakan pemeriksaan untuk kesehatan pada gigi dan mulut murid dan pendidikan kesehatan gigi . Berdasarkan survei pendahuluan tentang pelayanan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang dilakukan di Puskesmas Olak Kemang dan tiga Sekolah Dasar wilayah kerja puskesmas Olak Kemang Kota Jambi, didapatkan : . Murid yang mendapatkan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut oleh pihak puskesmas dilakukan 1 kali diawal tahun pembelajaran yang dilakukan pada kelas I, . Sikat gigi massal tidak pernah dilakukan oleh tenaga UKGS puskesmas, guru pembina hanya memberikan teori atau pembelajaran tentang tata cara menyikat gigi yang benar, . Penyuluhan/pendidikan tentang kesehatan gigi dan mulut dilakukan hanya 1 kali dalam setahun, . Pendidikan/pelatihan tenaga pelaksana UKGS tidak pernah dilakukan, . Pelatihan untuk dokter kecil belum pernah dilakukan, hanya dilakukan sosialisasi saja dan masih terdapat sekolah yang tidak memiliki dokter kecil di sekolah tersebut, . Pelayanan medik gigi dasar tidak pernah dilakukan di sekolah, karena terkendala pada peralatan, . Rujukan ke puskesmas bagi yang memerlukan tidak pernah dilakukan, . Dari ketiga SD/MI masih terdapat sekolah yang tidak memiliki ruang UKS. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di wilayah kerja Pukesmas Olak Kemang Kota Jambi, pertimbangan pemilihan lokasi karena angka karies gigi tertinggi terjadi di Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2019. Metode pengumpulan data terdiri dari wawancara mendalam. FGD (Focus Group Discussio. , observasi dan dokumentasi. Terdapat 10 informan melalui metode wawancara mendalam yang terdiri dari Kepala Puskesmas. Dokter Gigi. Perawat Gigi. Pokja UKS. Tiga Kepala Sekolah MI/SD, 3 Guru Pembina UKGS dan siswa/siswi SD. Selanjutnya ada 18 informan dengan menggunakan metode FGD (Focus Group Discussio. Terdapat tiga tahapan analisis data yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Validitas dan realibilitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode/teknik. Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA HASIL Karakteristik Informan Data penelitian diperoleh dari 28 informan yang terdiri dari 10 informan melalui metode wawancara mendalam dan 18 informan dengan metode FGD (Focus Group Discussio. Informan terdiri dari empat . petugas Puskesmas Olak Kemang yaitu (Kepala Puskesmas. Dokter gigi. Perawat gigi dan Penanggung jawab UKS), tiga . Kepala sekolah, tiga . guru Pembina UKGS dan 18 siswa/siswi yang setiap Sekolah Dasar terdiri dari 6 siswa/i yaitu (SDN 70/ IV. SDN 03/ IV dan MI Nurunnaja. INPUT Sumber daya Manusia (SDM) Berdasarkan hasil penelitian dengan wawancara didapatkan hasil bahwa sumber daya manusia atau pengelola pelaksana program UKGS di Wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi sudah memenuhi standar dan telah terbentuk sesuai dengan pedoman UKGS yaitu tenaga dari puskesmas yang terdiri dari Kepala Puskesmas. Dokter Gigi. Perawat Gigi dan petugas atau penanggung jawab program UKGS. Tenaga pelaksana program UKGS di sekolah belum memenuhi standar. Hal ini dikarenakan hanya terdiri dari Kepala sekolah dan guru pembina, dan sedangkan dibeberapa sekolah masih ada yang tidak memiliki dokter kecil. pembina menyatakan bahwa tidak adanya dokter kecil di sekolah dikarenakan tidak pernah ada pelatihan untuk dokter kecil dari Puskesmas. Au. yang terlibat saya selaku kepala puskesamas lalu dokter gigi, perawat gigi, penangung jawab program UKGS, pembina UKGS di sekolah. Ay (Informan . Au. kepala puskesmas, dokter gigi, kemudian kepala sekolah dan guru pembina. Ay (Informan Dana Sumber dana untuk pelaksanaan program UKGS di Puskesmas Olak Kemang diperoleh dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Sumber dana untuk Program UKGS merupakan gabungan dari dana untuk UKS, dana dari UKS akan dibagi kebeberapa sub salah satunya untuk program UKGS. Pendanaan khusus untuk pelaksanaan program UKGS di puskesmas Olak Kemang Kota Jambi sangat terbatas tidak ada alokasi dana untuk operasional kegiatan program UKGS, hanya ada berupa dana untuk transportasi. Au. untuk dana nya dari BOK. " (Informan . Ay. dana UKGS itu cuma ada dana untuk transportasi aja,. Ay (Informan . Au. ohh kalo dana untuk UKGS dak ado. Ay . Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana untuk pelaksanaan kegiatan program UKGS di Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi belum memenuhi standar dan berdasarkan hasil penelitian di sekolah menunjukkan bahwa sarana dan prasarana di Sekolah Dasar juga belum memenuhi standar. Sekolah tidak memiliki sarana dan prasarana khusus untuk program UKGS, apabila terdapat pelaksanaan kegiatan program UKGS seperti pemeriksaan gigi dan pendidikan/penyuluhan gigi yang menyediakan peralatan adalah puskesmas, pihak sekolah hanya menyediakan waktu dan tempat. Au. sarana dan prasarana program masih terbatas beberapa sarana ada tapi sudah rusak. Ay (Informan . Evi Nurchafifah Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Au. ada hanya poster, alat alat pemeriksaan gigi kayak kaca mulut alat peraga kayak phantom nya ada tapi udah rusak, obat-obatan ada. Ay (Informan . Au. engga ada sarana dan prasarana yang khusus untuk UKGS. Ay(Informan . Au. sarana dan prasarana sekolah kami tidak lengkap, puskesmas yang menyediakan Sekolah cuman menyediakan waktu dan tempat saja. Ay (Informan . Tabel 1. Karakteristik Informan Kode Informan Informan 1 Informan 2 Informan 3 Informan 4 Informan 5 Informan 6 Informan 7 Informan 8 Informan 9 Informan 10 Informan 11 Informan 12 Informan 13 Jenis Kelamin Umur Pekerjaan/Jabatan Kepala Puskesmas Dokter gigi Perawat gigi PJ UKS Kepala Sekolah Kepala Sekolah Kepala Sekolah Guru Pembina Guru Pembina Guru Pembina Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Pelajar Metode Pelaksanaan UKGS Adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan program UKGS di puskesmas Olak Kemang Kota Jambi. Berdasarkan hasil penelitian di sekolah wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang dengan wawacara kepada Kepala Sekolah dan Guru Pembina bahwa semua informan menyatakan tidak memiliki SOP khusus untuk program UKGS. Informan di sekolah hanya memiliki SOP untuk UKS. Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA Au. SOP untuk program UKGS ada, harus ada SOP buat semua program. Ay (Informan . Au. kalo khusus untuk UKGS dak ado. Ay (Informan . tidak tersedia. Ay (Informan . PROSES Perencanaan Kegiatan Perencanaan program kerja untuk kegiatan-kegiatan telah terlaksana namun belum Perencanaan untuk program UKGS dilakukan 1 kali di akhir tahun. Dalam acuan pelaksanaan program UKGS hanya terdapat 2 bentuk kegiatan yaitu penjaringan kesehatan gigi dan pendidikan/penyuluhan dengan sasaran 14 SD/MI di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang. Au. POA nya tu ada 2 kegiatan ya, satu kegiatan penjaringan kesehatan sama penyuluhan ke Sekolah-sekolahAy. (Informan . Pelaksanaan kegaiatan tidak semua berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya. Pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan POA dikarenakan beberapa kendala yang terdiri dari kurangnya dana untuk kegiatan, kurangnya tenaga dan sarana dan prasarana yang tidak memadai berakibat pelaksanaan yang tidak sesuai. Au. a ngga berjalan sesuai sama POA banget lah ya. POA kan Cuma untuk acuan untuk menjalankan kegiatan aja. Ay (Informan . PELAKSANAAN KEGIATAN Frekuensi Kunjungan Petugas Puskesmas ke Sekolah dalam Pelaksanaan Program UKGS. Frekuensi kunjungan yang dilakukan oleh tenaga Puskesmas pelaksana program UKGS ke sekolah-sekolah hanya 1 kali dalam setahun. Beberapa informan di sekolah yang menyatakan bahwa frekuensi kunjungan tenaga UKGS puskesmas ke sekolah-sekolat tidak merata dan tidak rutin. Kunjungan tenaga puskesmas ke sekolah-sekolah hanya 1 kali dalam setahun diawal tahun pembelajaran. Au. Kami melakukan kunjungan ke sekolah bersamaan dengan jadwal kunjungan program UKS. Jadi 14 SD itu masing-masing sekitar 1 kali di awal tahun pembelajaran mendapat kunjungan per tahun. Kegiatan yang dilakukan hanya pemeriksaan gigi dan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Ay (Informan . Au. biasanya mereka datang di awal tahun pembelajaran aja khusus untuk gigi, kayak penjaringan kesehatan gigi sama pemeriksaan kesehatan yang lain. Ay(Informan . Pelaksanaan Pemeriksaan Gigi dan Mulut oleh Tenaga UKGS Puskesmas di Sekolah. Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu program UKGS di sekolah dasar bersamaan dengan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan program UKGS dilakukan pada seluruh siswa/i kelas 1 SD, yang meliputi kegiatan pemeriksaan gigi dan penyuluhan. Siswa/i yang mengalami karies gigi dan masalah gigi lainnya akan di rujuk oleh tenaga UKGS ke puskesmas melalui kepala sekolah/guru, selanjutnya surat rujukan diberikan kepada orang tua murid. Au. pemeriksaan gigi iya ada, yang melaksanakan dokter gigi beserta penanggung jawab UKGS yang bersangkutan. Ay (Informan . Evi Nurchafifah Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Au. pemeriksaan gigi dilakukan oleh puskesmas di awal tahun pelajaran yang dilakukan pada kelas 1 saja ,sekalian dilakukan pemeriksaan kesehatan anak seperti tinggi badan, berat badan, kesehatan makanan. Ay (Informan . Pelaksanaan Pendidikan/Penyuluhan oleh Tenaga UKGS Puskesmas di Sekolah. Pelaksanaan program UKGS di puskesmas salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah pendidikan/penyuluhan kepada peserta didik. Pelaksanaan pendidikan/penyuluhan oleh tenaga UKGS puskesmas di sekolah sudah terlaksana secara cukup baik. Frekuensi pelaksanaan pendidikan/penyuluhan kepada siswa/i di sekolah menyatakan bahwa pelaksanaan penyuluhan dilakukan hanya 1 kali dalam setahun di awal tahun pembelajaran bersamaan dengan kegiatan penjaringan kesehatan gigi dan mulut. Au. ya biasannya barengan sama pelaksanaan penjaringan sebelum melakukan kegiatan kita kasih pengarahan atau penyuluhan dulu baru melakukan pemeriksaan gigi. Ay (Informan . Au. pengadaan penyuluhan ada di awal tahun pembelajaran. Ay (Informan . Au. ada penyuluhan sekalian pelaksanaan pemeriksaan gigi, jadi setelah selesai dilakukan pemeriksaan langsung penyuluhan. Ay (Informan . Pelaksanaan Sikat Gigi Masal oleh Tenaga UKGS Puskesmas di Sekolah. Pelaksanaan sikat gigi massal oleh tenaga puskemas di sekolah tidak pernah Pelaksanaan baru sebatas kegiatan penyuluhan. Dan berdasarkan hasil penelitian dengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) kepada Kepala Sekolah. Guru Pembina di Sekolah Dasar dan siswa/didapatkan hasil bahwa pelaksanaan sikat gigi massal oleh tenaga puskesmas Olak Kemang Kota Jambi tidak pernah dilakukan. Au. sikat gigi massal belum ada baru ada pelaksanaan kegiatan penyuluhan saja. Ay (Informan . Au. dak ado dak sikat gigi massal dari puskesmas, belum pernah ado. Ay (Informan . Au. sikat gigi massal tidak pernah, cuman memberikan teori-teorinya saja tentang tata cara menyikat gigi yang benar ngga pernah dipraktek kan hanya teori saja dalam Ay (Informan . Au. dak pernah ado sikat gigi massal di sekolah kami kak. Pak sayuti cuma ngajarin cara-cara nyo bae. Ay (Informan 12. Au. sikat gigi massal belum dilaksakan, baru sebatas penyuluhan dan pemeriksaan gigi. tidak dilakukan sikat gigi massal karena terbatas dengan biaya karena baru ada hanya dana untuk transportasi aja. Ay (Informan . Pelaksanaan Pembinaan/Pelatihan Tenaga UKGS Puskesmas dan Sekolah Dasar. Tenaga pelaksana UKGS tidak pernah mendapatkan ataupun mengadakan pembinaan/pelatihan khusus untuk UKGS, informan hanya mengikuti pembinaan/pelatihan tentang kesehatan umum. Au. pembinaan/pelatihan belum pernah dilakukan untuk tenaga. Ay (Informan . Au. tidak pernah ada pelatihan ke tenaga khusus UKGS, ada pelatihan tapi ya paling pelatihan tentang PHBS kalo khusus itu belum ada. Ay (Informan . Au. Malahan selama saya di sini belum pernah ada pelatihan dari puskesmas. Pernah sekali ada pelatihan itupun pelatihan PHBS kalo pelatihan khusus UKGS tidak pernah. Ay (Informan . Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA Pelaksanaan Pelatihan Dokter Kecil di Sekolah oleh Tenaga Puskesmas. Pelatihan dokter kecil di sekolah tidak pernah dilakukan oleh tenaga puskesmas. Tidak terlaksananya pelatihan dokter kecil oleh tenaga puskesmas kendalanya karena tidak adanya dana operasioanl utnuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan UKGS dan masih belum memenuhinya standar sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan UKGS sehingga pelatihan dokter kecil dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih belum optimal. Au. sebenarnya pelaksanaan untuk UKGS di puskesmas kami ini banyak kendala yang berimbas tidak terlaksana nya program tersebut. Balik lagi ke kendala yang paling utama masalahnya di dana yang tidak tersedia untuk operasional pelaksanaan kegiatan itu, karena dana yang ngga ada berimbas Au. ngga ada, ya itu UKGS masih belum optimal masih banyak kendala terutama di Jadi pelatihan-pelatihan belum kita laksanain. Ay (Informan . Au. pelatihan yaa. ngga ada sih dari puskesmas. Kalo dari Dinkes pernah ada sekali perwakilan satu orang, pelatihannya disana (Dinke. Ay (Informan . Au. pelatihan dokter kecil belum pernah dilakukan cuman sosialisasi saja, dan di sekolah kita ngga ada dokter kecil. Ay (Informan . OUTPUT Keluaran atau output dari program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah adanya manfaat yang dirasakan atau didapatkan oleh UKGS dan siswa/i di sekolah dengan melihat pemahaman mengenai UKGS dan materi-materi yang terdapat dalam program UKGS. Hasil penelitian dengan wawancara dan FGD menunjukkan bahwa pengetahun dan perilaku siswa/i terkait kesehatan gigi dan mulut yang sangat kurang, hal ini dapat diketahui dari siswa/i yang tidak mengetahui tentang UKGS dan kesehatan gigi dan mulut. Siswa/i mengaku belum pernah mendengarkan materi-materi tentang UKGS, beberapa siswa/i menjawab tidak mengetahui hal tersebut bahkan ada beberapa siswa/i tidak menjawab seadanya. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pemberian materi atau pendidikan secara rutin dari pihak sekolah maupun puskesmas. Beberapa sekolah ada memberikan pendidikan kesehatan gigi namun hanya sebatas tata cara menyikat gigi dengan baik dan benar tidak ada pemberian materi secara khusus dan mendetail tentang UKGS. Hal yang sama didukung oleh hasil Focus Group Discussion (FGD) kepada siswa/i Sekolah Dasar yang menyatakan bahwa : Au. dak tau kak. Ay (Informan 12. Au. idak tau. Ay (Informan 13. Au. pengobatan sakit gigi. Ay (Informan 11. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sumber daya manusia atau tenaga pelaksana program UKGS di puskesmas telah memenuhi standar sesuai dengan pedoman UKGS, namun untuk tenaga pelaksana program UKGS di sekolah belum memenuhi standar dikarenakan kurangnya tenaga yaitu dokter kecil. Dibeberapa sekolah masih ada yang tidak memiliki dokter kecil. Pada pelaksanaan sebuah program, dibutuhkan tenaga pelaksana yang ahli atau mengikuti pelatihan terkait program yang dijalankan. Hal tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian tentang tenaga yang mendapatkan pelatihan, semua informan menyatakan bahwa baik tenaga dari puskesmas maupun dari sekolah sebagai tenaga pelaksana UKGS belum pernah mendapatkan pelatihan dan sumber daya pengelolah untuk menjalankan tugas mereka sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dan pelaksanaan kegiatan terhadap program UKGS. kegiatan pelatihan atau pemberdayaan sumber daya pengelola mesti dilakukan untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dari pengelola itu sendiri . Evi Nurchafifah Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Hasil penelitian ini didukung dengan pendapat Siagian, 2010 dalam Gayatri Tunggadewi . bahwa sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam aktivitas yang dilakukan . Tenaga kesehatan sebagai pelaksana upaya kesehatan memerlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis, dan kualitasnya, serta terdistribusinya secara adil dan merata, sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan, dan menurut Afrihal . , sumber daya pengelola yang tidak sesuai dengan standar berdampak pada pelaksanaan program yang tidak mampu dilaksanakan secara baik, pemberdayaan atau pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan . Tenaga UKGS di puskesmas menyatakan bahwa sumber dana berasal dari BOK dan sumber dana untuk Program UKGS merupakan gabungan dari dana untuk UKS, dana dari UKS akan dibagi kebeberapa sub salah satunya untuk program UKGS. Penggangaran dana untuk pelaksana program UKGS masih belum memenuhi standar. Dana yang tersedia hanya berupa dana untuk transportasi. Dan berdasarkan dengan hasil penelitian di sekolah-sekolah wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi untuk alokasi dana khusus untuk program UKGS tidak tersedia, dana pemerintah meliputi dana BOS (Bantuan Operasional Sekola. hanya menyediakan dana untuk UKS (Usaha Kesehatan Sekola. Menurut Mahsum . , untuk memperoleh hasil yang baik atas setiap kinerja, organisasi harus melakukan investasi terhadap kegiatan yang ada. Individu atau tim akan menjadi kurang berguna jika tidak didukung sumber dana untuk melakukan pekerjaan. Solusi untuk mengatasi permasalahan dana untuk pelaksanaan UKGS dapat dengan menjalin kemitraan antara Puskesmas dengan Sekolah Dasar, perlunya peningkatan koordinasi dan kemampuan dalam menjalin kemitraanagar sumber dana mampu memenuhi kebutuhan proses pelaksanaan program UKGS. Cara bermitra untuk bisa mendapatkan dukungan dana dari pihak-pihakswasta, forum masyarakat ataupun perusahaan yang memiliki CSR, kerjasama atau kemitraan dengan berbagai pihak salah satunya seperti kerjasama dengan orang tua siswa/i melalui sistem asuransi yakni dengan metode pembayaran dengan cara sistem memgumpulkan iuran dari kelompok orang tua siswa/i kepada penanggung jawab program UKGS di sekolah besaran iuran sesuai dengan perhitungan yang telah disepakati setiap bulannya . Saranan prasarana masih tergolong minim dan belum memenuhi standar. Sarana sarana yang prasarana untuk program UKGS di puskesmas belum mencukupi karena tidak semua peralatan untuk menunjang kegiatan-kegiatan dalam program UKGS tersedia seperti KIT yang tidak tersedia, alat peraga atau phantom gigi yang tidak bisa dipakai dikarenakan rusak. Sedangkan di sekolah tidak memiliki sarana dan prasarana khusus untuk program UKGS, seperti peralatan KIT tidak ada, tidak ada media penyuluhan seperti poster, phantom gigi beserta sikat gigi dan pasta gigi dan tidak memiliki buku pedoman UKGS hanya memiliki buku pedoman UKS. Hanya 1 sekolah yang memilki phantom gigi. Sekolah Dasar yang lain pernah memilki phantom gigi namun sudah rusak. Pemeriksaan gigi, peralatan pemeriksaan gigi yang menyediakan pihak apabila terdapat pelaksanaan kegiatan program UKGS seperti pemeriksaan gigi dan pendidikan/penyuluhan gigi yang menyediakan peralatan adalah puskesmas, pihak sekolah hanya menyediakan waktu dan tempat . Ditinjau dari hasil penelitian, teori maupun penelitian sejenis untuk keberhasilan indikator elaksanaan kegiatan UKGS perlu adanya pemenuhan terhadap kebutuhan baik sarana prasarana yang sesuai dengan standar agar dapat meningkatkan mutu pelayanan pelaksanaan program UKGS. Berdasarkan teori Wirawan . menyatakan dengan adanya evaluasi maka dapat dilihat pengaruh program, apakah pelaksanaan telah sesuai dengan standar serta dapat mengidentifikasi dan menemukan dimensiprogram yang berjalan dan tidak berjalan, pengembangan staaf program danmengambil keputusan . Adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan program UKGS di puskesmas Olak Kemang Kota Jambi. Untuk mencapai tujuan program di suatu institusi diberikan suatu rancangan berupa SOP yang akan menjadi pedoman tenaga dalam melakukan tugasnya Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA dan dapat meminimalisasi kesalahan. Tidak sejalan dengan hasil penelitian dengan wawacara kepada Kepala Sekolah dan Guru Pembina bahwa semua informan menyatakan tidak memiliki SOP khusus untuk program UKGS. Informan di sekolah hanya memiliki SOP untuk UKS . Dalam proses pelaksanaan kegiatan program UKGS di puskesmas didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa SOP tidak diterapkan atau dijadikan panduan dalam melaksanakan kegiatan UKGS di sekolah-sekolah. Tidak semua diterapkan sesuai dengan SOP salah satunya dikarenakan sarana dan prasarana di puskesmas yang belum sesuai standar. Program UKGS di Sekolah dasar tidak terlaksana dikarenakan tidak adanya pedoman berupa SOP yang dijadikan panduan dalam melaksanakan kegiatan UKGS dan tidak ada pedoman bagi tenaga UKGS di sekolah untuk melaksanakan program UKGS dan berakibat UKGS tidak aktif atau tidak terlaksana. Bentuk kegiatan dalam program UKGS yang dilaksanakan setiap kunjungan ke Sekolah Dasar hanya 2 yaitu kegiatan pemeriksaan kesehatan anak yang salah satunya pemeriksaan kesehatan gigi dan kegiatan penyuluhan. Bentuk pemeriksaan kesehatan anak yaitu terdiri dari pemeriksaan kesehatan umum seperti kesehatan telinga, kesehatan telinga, pemeriksaan berat badan, tinggi badan dan kesehatan-kesehatan anak lainnya dan apabila ditemukan kasus gigi siswa/i untuk dicabut maka akan dirujuk ke puskesmas. Pemeriksaan kesehatan gigi dan penyuluhan hanya dilakukan pada siswa/i kelas 1 saja. Kunjungan secara rutin sangat bermanfaat dalam pemantauan perkembangan kondisi kesehatan gigi dan mulut para murid di sekolah, sehingga dapat dilakukan pencegahan jika ada tanda-tanda karies gigi dan perawatan terhadap masalah gigi lainnya. Namun kenyataan dilapangan kunjungan petugas puskesmas ke sekolah hanya dilakukan 1 kali dalm setahun hal ini tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam pedoman UKGS. Pemeriksaan gigi berfungsi sebagai tindakan pencegahan terhadap kerusakan gigi, penyakit gusi dan kelainan-kelainan lain yang beresiko bagi kesehatan gigi dan mulut. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan pada anak usia sekolah, karena pada anak usia sekolah mengalami pergantian dari gigi susu menjadi gigi permanen. Pemeriksaan kesehatan gigi secara Jika sejak dini anak sudah diajarkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gigi secara rutin, maka angka kejadian karies gigi akan berkurang. Penyuluhan merupakan salah satu kegiatan promosi kesehatan dalam program UKGS dimana petugas puskesmas memberikan pendidikan/pengetahuan kepada siswa/i di sekolah mengenai kesehatan gigi dan mulut. Hal ini nantinya akan berpengaruh terhadap perilaku siswa/i di sekolah dalam memelihara kesehatan gigi mereka secara mandiri. Berdasarkan pedoman UKGS menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan/penyuluhan minimal dilakukan 1 kali dalam sebulan. Pendidikan/penyuluhan yang dilakukan puskesmas Olak Kemang belum memenuhi standar dilihat dari frekuensi pelaksanaan yang kurang seharusnya dilakuakn 1 kali sebulan tetapi kenyataan dilapangan berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa hanya dilakukan 1 kali dalam setahun. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kurangnya frekuensi pelaksanaan pendidikan/penyuluhan merupakan salah satu yang dapat berakibat pada masalah karies gigi tinggi pada siswa/i di Sekolah Dasar wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang. Kegiatan penyuluhan bertujuan agar peserta didik dapat mengenal atau mendapatkan pengetahuan cara merawat dan menjaga kebersihan kesehatan gigi dan mulut sehingga dapat menghindari kelainan atau penyakit gigi dan mulut. Pembinaan/pelatihan tenaga UKGS puskesmas di sekolah tidak pernah dilakukan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang didapatkan dengan Kepala sekolah dan Guru pembina bahwa belum pernah mendapatkan pembinaan/pelatihan oleh tenaga puskesmas khusus tentang Usaha Kesehatan Gigi Sekolah dan informan menyatakan hanya mendapatkan pelatihan tentang PHBS dan kesehatan yang lain dari pihak Dinas Kesehatan. Kemampuan guru atau tenaga pemegang program UKGS dapat ditingkatkan melalui pembinaan/pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut. Pembinaan/pelatihan juga dapat Evi Nurchafifah Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) menyempurnakan keterampilan komunikasi sehingga guru atau tenaga pemegang program UKGS dapat mengajarkan ke pada peserta didik dengan baik dan maksimal. Pembinaan/pelatihan oleh tenaga puskesmas kepada guru/ tenaga UKGS di sekolah merupakan kegiatan yang sangat baik dilakukan. Sebab melalui pembinaan/pelatihan guru dapat memberikan bantuan terhadap tenaga puskesmas dalam menjalankan program UKGS. Tenaga UKGS di sekolah dapat secara mandiri memberikan penyuluhan kepada siswa/i tentang kesehatan gigi dan mulut apabila tenaga puskesmas tidak dapat melakukan kunjungan ke Menurut Azwar . bahwa pelatihan sangat penting yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan sehingga lebih percaya diri dalam menyelenggarakan tugas . Pelatihan dokter kecil di sekolah tidak pernah dilakukan oleh tenaga puskesmas ke sekolah-sekolah Wilayah Kerja Puskesmas Olak Kemang. Sejalan dengan hasil penelitian dengan FGD didapatkan hasil bahwa siswa/i tidak pernah mendapatkan pelatihan dokter kecil dari puskesmas, sebagian informan menyatakan pernah mendapatkan pelatihan dokter kecil dari pihak Dinas Kesehatan hanya 1 kali di 2 tahun yang lalu. Dari hasil penelitian di tiga . Sekolah Dasar menunjukkan bahwa masih terdapat sekolah tidak memiliki dokter kecil. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pendidikan/pelatihan kepada siswa/i dari pihak puskesmas secara rutin mengenai dokter kecil. Pengetahuan merupakan dasar terbentuknya suatu perilaku. Seseorang dikatakan dikatakan kurang pengetahuan apabila dalam kondisi tidak mampu untuk mengenal dan menjelaskan serta menganalisa suatu keadaan . Jika tingkatan pengetahuan lebih tinggi, perhatian kesehatan gigi akan tinggi begitu juga sebaliknya, jika pengetahuan kurang perhatian perawatan gigi juga rendah. Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut sangat penting dipahami oleh dokter kecil karena mengingat banyaknya masalah kesehatan gigi yang dialami anak sekolah. Dengan adanya penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dan pelatihan menyikat gigi dapat membuat dokter kecil lebih memahami keadaan kesehatan gigi dan mulut. Tidak terlaksananya kegiatan pelatihan dokter kecil oleh tenaga puskesmas kendalanya karena tidak adanya dana operasioanl untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan UKGS dan masih minimnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan UKGS sehingga pelatihan dokter kecil dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih belum terlaksana . Penelitian dengan wawancara mendalam didapatkan bahwa pencatatan dan pelaporan dalam pelaksanaan kegiatan program UKGS belum berjalan dengan baik. Pelaporan kegiatan program UKGS digabung dengan kegiatan UKS dikarenakan kunjungannya juga dilakukan secara bersama atau gabungan. Puskesmas melakukan pelaporan kepada instansi kesehatan yaitu ke Dinas Kesehatan, bentuk laporannya berupa laporan kesehatan gigi saja tidak ada pelaporan khusus untuk program UKGS. Pencatatan pelaksanaan Program UKGS di Wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang dilakukan oleh tenaga puskesmas atau pemegang program UKGS yang bertugas melakukan kunjungan ke sekolah dengan kegiatan penjaringan kesehatan gigi siswa/i di sekolah. Pencatatan yang dilakukan berupa pencatatan data siswa/i yang menjadi sasaran program UKGS, pencatatannya hanya berupa jumlah siswa/i yang mengalami karies gigi. pencatatan untuk kegiatan penyuluhan, sikat gigi massal dan kegiatan lainnya tidak ada. Untuk pencatatan dan pelaporan di sekolah-sekolah tidak pernah dilakukan atau tidak ada, setiap ada kegiatan pihak Sekolah Dasar hanya mendampingi saja. Pencatatan dan pelaporan yang belum baik disebabkan pengelola belum mengetahui mekasnisme pencatatan dan pelaporan yang baik dan benar. Hal ini sejalan dengan Basri . , bahwa melalui pendekatan sistem, organisasi memiliki beberapa unsur yaitu masukan . , proses . , keluaran . , dampak . , dan lingkungan . Semua unsur dalam sistem ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi, sumber daya merupakan bagian dari unsur masukan yang keberadaannya dalam suatu organisasi merupakan merupakan modal dasar untuk dapat berfungsinya suatu Vol. No. November 2021 Evaluasi Pelaksanaan Program UsahaA Puskesmas membutuhkan sumber daya manusia (SDM), sarana/prasarana, dan metode untuk menjalankan kegiatan program . Semua unsur terdiri dari input, proses dan output dalam sistem saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Input meliputi tenaga pelaksana UKGS di puskesmas, tenaga pelaksana UKGS di sekolah, biaya operasional, sarana dan prasarana . eralatan pemeriksaan gigi. KIT, alat peraga, media penyuluhan, obat-obatan, sarana transportas. dan metode (SOP/kebijaka. Proses meliputi semua kegiatan yang harus dilaksanakan dalam program UKGS di sekolah. Output yaitu pengetahuan siswa tentang UKGS dan kesehatan gigi dan mulut. Proses pelaksanaan kegiatan program UKGS di sekolah sepenuhnya tidak dapat dilakukan dengan baik bila tidak didukung oleh faktor input. Ketersediaan input yang terbatas menyebabkan kegiatan dari program UKGS yang dapat dilakukan juga terbatas, dan ini berpengaruh terhadap output . asil keluara. yang diperoleh dari kegiatan program UKGS. Dimana output dalam kegiatan program UKGS adalah pengetahuan siswa/i tentang UKGS dan kesehatan gigi dan mulut masih sangat KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian evaluasi pelaksanaan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi didapatkan kesimpulan pada aspek input belum maksimal, masih kurangnya tenaga pelaksana UKGS di sekolah, sarana dan prasaran yang belum memadai serta tidak tersedianya SOP mengenai UKGS di sekolah. Pada aspek proses belum baik, hal ini dikarenakan pada pelaksanaan untuk kunjungan tenaga pelaksana program UKGS dari puskesmas ke Sekolah Dasar dilaksanakan hanya 1 kali dalam setahun pada setiap sekolah. Selanjutnya pada aspek output belum baik, terlihat siswa/i di sekolah belum mendapatkan pendidikan secara mendalam mengenai Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang didalamnya termasuk juga kesehatan gigi dan mulut, sehingga pengetahuan siswa/i masih tergolong buruk. SARAN Dari hasil penelitian dan observasi yang telah dilakukan diharapkan bagi pihak Puskesmas meingkatkan kemitraan lintas sektoral . ihak sekolah daa. untuk meningkatkan pelaksanaan program UKGS di wilayah kerja Puskesmas Olak Kemang Kota Jambi, memberikan dukungan sarana dan prasarana pada pelaksanaan program serta melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap Kepala Sekolah. Guru Pembina dan Dokter Kecil. Selain itu bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi dapat melakukan pengawasan dan evaluasi pada penerapan program UKGS. Tidak hanya itu, untu unit sekolah diharapkan dapat memberdeayakan guru sekolah serta pelatihan dokter kecil untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga dapat meningkatkan pencapaian program UKGS. DAFTAR PUSTAKA