POTENSI KOMBINASI KLOROKUIN DAN ASAM URSOLAT DALAM MENEKAN PARASITEMIA Plasmodium berghei ANKA SECARA IN VIVO Faizal Hermanto*. Adedhyfa Ayuning Tyas. Sri Wahyuningsih Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Jenderal Achmad Yani. Cimahi. Indonesia. *Penulis Korespondensi: faizal. hermanto@lecture. ABSTRAK Malaria masih menjadi ancaman kesehatan global yang serius, dengan 249 juta kasus dan 608. kematian tercatat pada tahun 2022. Resistensi Plasmodium terhadap klorokuin menjadi tantangan utama yang mendorong perlunya strategi terapi baru berbasis kombinasi obat. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antimalaria kombinasi klorokuin dan asam ursolat terhadap Plasmodium berghei ANKA pada mencit jantan Swiss Webster secara in vivo menggunakan metode Peters supresif 4 hari. Hewan uji dibagi menjadi enam kelompok: kontrol negatif (Na CMC 0,5%), klorokuin 20 mg/kg BB, asam ursolat 50 mg/kg BB, serta tiga kelompok kombinasi dengan rasio dosis berbeda. Parameter yang diamati meliputi persen parasitemia, persen pertumbuhan, dan persen hambatan parasit. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi klorokuin 15 mg/kg BB dan asam ursolat 12,5 mg/kg BB menghasilkan hambatan pertumbuhan parasit sebesar 100%, setara dengan monoterapi klorokuin 20 mg/kg BB. Kombinasi lainnya juga menunjukkan hambatan yang sangat tinggi . ,15Ae98,49%). Temuan ini mengindikasikan bahwa asam ursolat berpotensi sebagai agen komplementer yang memungkinkan pengurangan dosis klorokuin tanpa mengurangin efektivitas terapi. Kata Kunci: Malaria. Plasmodium berghei ANKA. Klorokuin. Asam ursolat. Antimalaria. Kombinasi obat. Resistensi. ABSTRACT Malaria remains a serious global health threat, with 249 million cases and 608,000 deaths recorded in 2022. Resistance of Plasmodium to chloroquine has become a major challenge, necessitating new combination-based therapeutic strategies. This study aimed to evaluate the antimalarial activity of a combination of chloroquine and ursolic acid against Plasmodium berghei ANKA in male Swiss Webster mice using the Peters 4-day suppressive method. Animals were divided into six groups: negative control . 5% Na CMC), chloroquine 20 mg/kg BW, ursolic acid 50 mg/kg BW, and three combination groups with varying dose ratios. Parameters observed included percent parasitemia, percent parasite growth, and percent inhibition. Results showed that the combination of chloroquine 15 mg/kg BW and ursolic acid 12. 5 mg/kg BW achieved 100% parasite growth inhibition, equivalent to chloroquine monotherapy at 20 mg/kg BW. Other combinations also demonstrated very high inhibition rates . 15Ae98. 49%). These findings indicate that ursolic acid has potential as a complementary agent that may allow dose reduction of chloroquine without compromising therapeutic efficacy. Keywords: Malaria. Plasmodium berghei ANKA. Chloroquine. Ursolic acid. Antimalarial. Drug combination. Resistance. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 resmi Kementerian Kesehatan Republik PENDAHULUAN Malaria adalah penyakit parasitik yang telah menjadi beban kesehatan global selama ribuan tahun, namun ironisnya masih belum sepenuhnya terkendali hingga saat ini. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2022 tercatat 249 juta kasus malaria di seluruh dunia dengan 608. 000 kematian yang meningkat dari 229 juta kasus dan 000 kematian pada 2019 (WHO. Beban penyakit ini secara tidak Afrika, yang menyumbang sebagian besar kasus, dengan anak-anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok yang paling rentan karena belum memiliki sistem kekebalan yang matang (WHO. Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Plasmodium falciparum adalah yang paling berbahaya dan bertanggung jawab atas sebagian besar kasus malaria berat hingga komplikasi fatal (Dheda et Indonesia tantangan menuju eliminasi malaria Berdasarkan data statistik Indonesia dalam kurun waktu lima tahun Indonesia menunjukkan dinamika yang memerlukan perhatian serius. Tahun 2018, tercatat sebanyak 222. 085 kasus kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2019 menjadi 250. 644 kasus. Selama masa pandemi COVID-19 di tahun 2020, pelaporan kasus sempat mengalami fluktuasi akibat pembatasan 363 kasus. Namun, setelah berikutnya, yakni menyentuh 304. kasus pada tahun 2021 dan meningkat signifikan menjadi 443. 530 kasus pada tahun 2022 (Kemenkes RI, 2. Tingginya beban kasus yang didominasi oleh wilayah endemik seperti Papua. Nusa Tenggara Timur, dan Maluku ini mempertegas bahwa Indonesia masih berada dalam bayang-bayang ancaman malaria yang persisten (Djaafara, 2. Kondisi epidemiologi yang berat ini diperparah oleh munculnya dan penyebaran resistensi parasit terhadap obat-obatan Klorokuin, aminokuinolin yang pernah menjadi lini PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 pertama pengobatan malaria karena efikasi yang tinggi, biaya rendah, dan profil keamanan yang baik, kini telah menurunkan dosis masing-masing obat, mengalami kegagalan terapeutik yang dan yang terpenting, menghambat atau luas di berbagai wilayah endemik akibat memperlambat perkembangan resistensi resistensi yang dimediasi oleh mutasi obat oleh parasit (Li et al. , 2. pada gen pfcrt yang mengkode P. Melalui dihambat melalui jalur biokimia yang Chloroquine Resistance Transporter (PfCRT) dan gen pfmdr1 (Dubar et al. , 2. Meskipun Terapi memperkecil peluang organisme untuk Kombinasi Berbasis Artemisinin (ACT) bertahan hidup. Tanaman obat sendiri saat ini digunakan sebagai standar emas telah lama menjadi inspirasi utama pengobatan untuk mengatasi resistensi pengembangan antimalaria, terbukti dari klorokuin, laporan terbaru mengenai penemuan artemisinin yang diisolasi dari penurunan sensitivitas parasit terhadap Artemisia Tenggara menimbulkan kekhawatiran global akan potensi kegagalan pengobatan di masa triterpenoid (Ceravolo et al. , 2. Asia depan (Ashley et al. , 2. Oleh karena Asam (UA), itu, strategi baru untuk memperpanjang senyawa triterpenoid pentasiklik yang tersebar luas dalam berbagai tumbuhan menemukan agen penurun resistensi obat seperti Eugenia uniflora, telah . esistance-modifying agent. menjadi sangat mendesak. Salah satu pendekatan spektrum aktivitas biologisnya yang yang paling menjanjikan adalah strategi antiinflamasi, antioksidan, tumor, dan strateg. , yang menggabungkan obat antimalaria (Mlala et al. , 2. Studi Asanga . senyawa aktif bahan alam . bahwa asam ursolat dari akar Nauclea yang memiliki mekanisme aksi sinergis atau komplementer (Osei et al. , 2. protein target Strategi PfEMP-1 dan PfPKG, dan menunjukkan parasit, yaitu PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 aktivitas antiplasmodial in vivo pada ursolat dapat memengaruhi efektivitas Sementara Nndwammbi Penentuan rasio dosis ini menjadi mengungkapkan bahwa derivat asam masalah krusial karena interaksi antar chaperone PfHsp90, protein yang vital bagi kelangsungan hidup parasit dalam kondisi stres. Selain itu, asam ursolat juga diidentifikasi mampu memodulasi sedangkan rasio yang tepat jalur sinyal esensial parasit melalui menghasilkan efek sinergis yang kuat. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk memecahkan rumusan masalah (PfPKG) mengenai pengaruh variasi rasio dosis (PfEMP-. yang berperan krusial dalam kombinasi oral klorokuin dan asam proses invasi eritrosit (Asanga et al. parasit, serta menentukan proporsi dosis Meskipun potensi asam ursolat sebagai agen antimalaria telah banyak minimum yang mampu memberikan supresi parasitemia maksimal. Penelitian ini dilakukan secara in vivo menggunakan model mencit jantan pengembangan terapinya masih belum Swiss Webster yang diinfeksi dengan terjawab secara terperinci. Pertama. Plasmodium berghei ANKA melalui sebagian besar studi terdahulu berfokus metode tes supresif 4 hari Peters (Peters' pada efikasi monoterapi asam ursolat 4-day suppressive tes. yang telah atau derivat semisintesisnya, sehingga divalidasi secara internasional (Peters. Evaluasi farmakodinamik ketika dikombinasikan langsung dengan klorokuin secara in parasitemia, laju pertumbuhan, dan vivo dalam bentuk sediaan oral masih belum jelas. Kedua, belum ada data kelompok kontrol negatif, monoterapi konkrit yang merinci bagaimana variasi klorokuin, monoterapi asam ursolat, rasio dosis antara klorokuin dan asam serta kelompok kombinasi dengan tiga PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 variasi rasio dosis terukur. Hasil dari intra-eritrosit sehingga cocok untuk uji kemoterapi memberikan implikasi strategis baik darah stadium aseksual (Burgert et al. pada skala laboratorium maupun aplikasi mirip infeksi klinis jangka panjang. Secara teoritis, keberhasilan penemuan rasio kombinasi yang optimal akan memperkuat konsep multi-target therapy berbasis fitokimia, agen yang bekerja pada polimerisasi heme . dan agen pengganggu proteostasis atau invasi parasit . sam Secara praktis, implikasi klinis utama dari studi ini adalah membuka peluang reduksi dosis klorokuin dalam regimen terapi tanpa menurunkan efikasi Sementara itu, kombinasi klorokuin (CQ) dan asam ursolat (UA) dipilih pendekatan strategi terapi multi-target. Klorokuin adalah obat standar . yang bekerja spesifik vakuola makanan parasit, sedangkan memiliki jalur target berbeda, yaitu menguji fungsi chaperone PfHsp90 dan menghambat protein kinase G (PfPKG). Penggabungan kedua senyawa dengan METODE PENELITIAN Rasionalisasi Pemilihan Model Penelitian dan Sampel Uji Pemilihan mekanisme aksi yang berbeda ini menggunakan mencit Swiss Webster menekan parasitemia, sekaligus menjadi yang diinfeksi Plasmodium berghei strategi potensial untuk menurunkan ANKA didasarkan pada kemampuan model ini dalam mereplikasi interaksi sistemik yang kompleks antara inang menghambat laju resistensi obat. , parasit, dan obat, yang tidak dapat digambarkan sepenuhnya melalui uji in berghei menyebabkan malaria berat dan mematikan pada mencit, dengan morfologi dan tahapan siklus Bahan dan Alat Penelitian klorokuin fosfat (Sigma-Aldrich. Indi. dan asam ursolat (Chengdu Biopurify Phytochemicals Ltd. Chin. sebagai PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 bahan uji utama. Bahan pendukung menjadi interaksi linier berpasangan meliputi Na CMC 0,5%. NaCl fisiologis . %:25%, 50%:50%, dan 25%:75%). 0,9%. NaOH 2N, larutan pewarna Proporsi persentase dosis yang diuji Giemsa, metanol, dan minyak imersi. dirancang untuk melihat pergeseran Plasmodium berghei ANKA diperoleh efikasi ketika dosis klorokuin dikurangi dari Laboratorium Malaria. Fakultas secara bertahap dan digantikan oleh Farmasi. Universitas Jenderal Achmad peningkatan proporsi dosis asam ursolat. Yani. Cimahi. Pembuatan Sediaan Uji Suspensi Na CMC 0,5% dibuat Hewan Uji Hewan Swiss Webster berusia 7Ae8 minggu dengan 20Ae35 Semua prosedur penelitian yang melibatkan hewan uji dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip etika penggunaan hewan percobaan . R: Replacement. Reduction. Refinemen. Penelitian mendapatkan persetujuan etik praklinik Universitas Jenderal Achmad Yani No. sebagai pembawa dengan melarutkan 0,5 g Na CMC dalam 100 mL aquadest Suspensi klorokuin dibuat pada konsentrasi 0,8 mg/mL . etara dosis 20 mg/kg BB), sedangkan suspensi asam ursolat dibuat pada konsentrasi 2 mg/mL . etara dosis 50 mg/kg BB). Untuk kelompok kombinasi, tiga variasi rasio dosis disiapkan: Kombinasi Dosis I: Klorokuin 15 mg/kg BB Asam ursolat 12,5 5/KEP-UNJANI/i/2024. mg/kg BB Penentuan Dosis Kombinasi Dasar mg/kg BB Asam ursolat 25 mg/kg kombinasi dalam penelitian ini mengacu pada modifikasi desain rasio tetap . ixed- Kombinasi Dosis II: Klorokuin 10 Kombinasi Dosis i: Klorokuin 5 ratio combination desig. dari dosis mg/kg BB Asam ursolat 37,5 efektif tunggal masing-masing senyawa, mg/kg BB yaitu klorokuin . mg/kg BB) dan asam ursolat . mg/kg BB). Pendekatan ini membagi total fraksi dosis kombinasi PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Kelompok VI (Kombinasi Dosis Desain Penelitian dan Prosedur Uji In . : Klorokuin 5 mg/kg BB Asam Vivo ursolat 37,5 mg/kg BB Penelitian menggunakan metode Peters supresif 4 hari, suatu metode standar yang telah divalidasi secara internasional untuk pengujian aktivitas Pemberian obat diberikan secara per oral dimulai dan dilanjutkan selama empat hari berturut-turut . ari ke-0 hingga hari ke-. antimalaria in vivo (Peters, 1. Mencit diinokulasi secara intraperitoneal Pengukuran Parasitemia dan Analisis dengan suspensi eritrosit terinfeksi P. Data berghei ANKA sebanyak 200 AAL Persentase parasitemia dihitung . engandung 1y10A parasit/mL). Hewan setiap hari . ari ke-0 hingga hari ke-. uji yang sudah terinfeksi dibagi secara melalui pemeriksaan apusan darah tipis acak menjadi enam kelompok perlakuan, yang diwarnai dengan larutan Giemsa masing-masing terdiri dari lima ekor Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000y Kelompok I (Kontrol Negati. : Na CMC 0,5% menghitung jumlah eritrosit terinfeksi Kelompok (Pembanding Rumus yang digunakan: % Parasitemia = (Jumlah eritrosit terinfeksi / 1. 000 eritrosi. y 100% Kelompok i (Pembanding Asam % Pertumbuhan Parasit = % Parasitemia Kelompok IV (Kombinasi Dosis I): Parasitemia hari ke-0 Klorokuin 15 mg/kg BB Asam 000 eritrosit yang diamati. Klorokui. : Klorokuin 20 mg/kg Ursola. : Asam ursolat 50 mg/kg A Oe % Hambatan = 100% Oe [(% ursolat 12,5 mg/kg BB Pertumbuhan kelompok uji / % Kelompok V (Kombinasi Dosis II): Pertumbuhan kontrol negati. y Klorokuin 10 mg/kg BB Asam ursolat 25 mg/kg BB Data dianalisis menggunakan perangkat lunak GraphPad Prism versi 9 dengan uji ANOVA satu arah diikuti uji post-hoc PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tukey pada tingkat kepercayaan 95% ( . bahkan melaporkan bahwa = 0,. ekstrak Markhamia tomentosa dapat memulihkan sensitivitas klorokuin pada HASIL DAN PEMBAHASAN strain P. berghei yang telah diinduksi Hasil pengujian menunjukkan bahwa klorokuin 20 mg/kg BB mampu pendekatan kombinasi bukan sekadar pilihan alternatif, melainkan kebutuhan ANKA hingga 100%, tidak ada satu pun strategis untuk menghadapi realitas parasit yang terdeteksi pada apusan Asam ursolat 50 mg/kg BB menunjukkan aktivitas antimalaria yang parasitemia 0,00 A 0,00%. Angka ini bermakna dengan persen parasitemia 9,1 konsisten dengan mekanisme A 2,19% dan hambatan 61,92% pada hari klorokuin yang sudah dipahami dengan Meskipun tidak setara dengan baik: obat ini berakumulasi dalam klorokuin, angka ini jauh lebih rendah vakuola makanan parasit, menghambat dari kelompok kontrol . arasitemia 23,9 konversi heme bebas yang toksik A 3,64%, hambatan 0%), membuktikan menjadi hemozoin yang inert, sehingga bahwa asam ursolat memiliki aktivitas parasit mati akibat akumulasi produk metabolisme toksik miliknya sendiri Mekanisme kerja asam ursolat sebagai (Coronado et al. , 2. Meskipun antimalaria bersifat multi-target, dan demikian, efektivitas penuh ini harus inilah yang menjadikannya kandidat dimaknai dalam konteks yang lebih luas. Pada penelitian ini, strain P. Nndwammbi et al. melaporkan ANKA bahwa asam ursolat asetat, derivat dari resistensi, sehingga klorokuin masih asam ursolat mampu berikatan dengan bekerja optimal. Dalam kenyataan klinis, domain N-terminal PfHsp90 . eat shock resistensi klorokuin telah menyebar luas didorong oleh mutasi pada gen pfcrt dan mengganggu fungsi chaperone protein pfmdr1 yang memungkinkan parasit ini dan menyebabkan akumulasi protein memompa klorokuin keluar dari vakuola yang salah lipat yang bersifat letal bagi makanan sebelum mencapai konsentrasi PfHsp90 adalah protein esensial toksik (Ibraheem, 2. Bankole et ke-4. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 proteostasis parasit, terutama saat parasit aktif terhadap strain P. falciparum yang resisten klorokuin, dengan salah satu paparan obat-obatan, menjadikannya molekul diusulkan berikatan dengan target yang sangat strategis. Melengkapi temuan tersebut. Asanga et al. berdasarkan pemodelan in silico. Ini menggunakan pendekatan mengisyaratkan bahwa asam ursolat docking dan uji in vivo menunjukkan bekerja melalui jalur yang berbeda dari bahwa asam ursolat dari akar Nauclea Perbedaan mekanisme kerja latifolia berikatan dengan PfEMP-1 inilah yang . rythrocyte membrane protein . dan PfPKG . rotein kinase G), dua protein Temuan paling signifikan yang berperan krusial dalam proses dari penelitian ini adalah aktivitas invasi eritrosit dan regulasi siklus hidup antimalaria pada kelompok kombinasi Penghambatan PfPKG secara yang ditampilkan pada Gambar 1. Kombinasi Dosis I . lorokuin 15 mg/kg kinase ini terlibat dalam berbagai proses BB asam ursolat 12,5 mg/kg BB) seluler parasit, mulai dari egres merozoit menunjukkan persen parasitemia 0,00 A 0,00% pada hari ke-4, setara dengan II-DNA klorokuin monoterapi 20 mg/kg BB. Hasil penelitian asam ursolat namun dengan dosis klorokuin yang 25% lebih rendah. Ini merupakan Medeiros et al. , melaporkan indikasi kuat adanya efek sinergis atau bahwa derivat semisintesis asam ursolat setidaknya aditif antara kedua senyawa. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Gambar 1. Persentase parasitemia Plasmodium sp. pada Hari-4 setelah perlakuan tunggal dan kombinasi Klorokuin dan Asam Ursolat. *=p < 0,05 terhadap kelompok kontrol Kombinasi Dosis II . lorokuin sinergisme antara xylopic acid dengan 10 mg/kg BB asam ursolat 25 mg/kg amodiaquine dan artesunate pada model BB) menunjukkan Tingkat parasitemia berghei ANKA, di mana kombinasi 0,36%, sementara Kombinasi Dosis i . lorokuin 5 mg/kg BB asam ursolat menghasilkan peningkatan efektivitas 37,5 mg/kg BB) menunjukkan Tingkat parasitemia 0,92%. Ketiganya secara seperti halnya dalam penelitian ini, kelompok kontrol negatif . < 0,. Menariknya. Dalam klorokuin yang hanya seperempat dari keberhasilan kombinasi. Lebih jauh. BB). Sibiya et al. menunjukkan bahwa kombinasi dengan asam ursolat masih asam oleanolat senyawa triterpenoid mampu menghasilkan hambatan diatas Pola hasil ini sangat konsisten berkerabat dekat dengan asam ursolat, dengan temuan dari berbagai studi hanya berbeda pada posisi gugus metil kombinasi yang telah dipublikasikan. mampu menurunkan parasitemia dan Osei mempercepat eliminasi parasit pada . mg/kg PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 model P. berghei in vivo, baik sebagai Studi yang menguji kombinasi monoterapi maupun dalam kombinasi ekstrak Gymnema inodorum dengan dengan klorokuin. Kemiripan struktural dihidroartemisinin melaporkan sinergi ini menguatkan dasar ilmiah penggunaan pada rasio tertentu dan memberikan asam ursolat sebagai agen kombinasi dengan klorokuin. model P. berghei (Duangsri et al. , 2. Perspektif Demikian pula. Hermanto et al. melaporkan bahwa kombinasi apigenin dan asam ursolat mampu mengurangi klorokuin penuh dengan dosis klorokuin keparahan malaria serebral pada model yang lebih rendah memiliki implikasi mencit Swiss Webster yang terinfeksi P. Pertama, berghei ANKA model yang identik pengurangan dosis klorokuin dapat dengan yang digunakan dalam penelitian ini melalui mekanisme imunomodulator parasit, sehingga memperlambat laju perkembangan resistensi sesuai dengan Temuan prinsip dasar terapi kombinasi yang dimensi baru pada profil manfaat asam direkomendasikan WHO. Kedua, dosis ursolat dalam konteks terapi malaria, klorokuin yang lebih rendah berpotensi yang tidak hanya bersifat antiparasitik mengurangi efek samping obat jangka langsung, tetapi juga protektif terhadap Ketiga, integrasi senyawa alam Lebih jauh, perkembangan seperti asam ursolat ke dalam regimen terkini dalam derivatisasi asam ursolat ini membawa target kerja yang berbeda senyawa ini sebagai kerangka molekul Disparitas . mekanisme aksi molekuler tersebut pengembangan obat antimalaria generasi diharapkan mampu menghasilkan efek Abadia et al. melaporkan sinergistik dalam mengeliminasi parasit secara total (Charunwatthana, 2. Pendekatan kombinasi fitokimia-obat menunjukkan aktivitas antimalaria in sintetis ini juga sejalan dengan tren vivo yang menjanjikan dengan profil LAFIS10, PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Temuan ini menunjukkan bahwa asam KESIMPULAN ursolat tidak hanya menarik sebagai senyawa alam dalam bentuk aslinya, tetapi juga sebagai kerangka molekul . untuk pengembangan obat antimalaria generasi baru yang lebih poten dan selektif. kombinasi oral klorokuin dan asam bahwa kombinasi klorokuin dan asam antimalaria sinergis yang signifikan terhadap Plasmodium berghei ANKA, dengan formula terbaik . lorokuin 15 Meskipun Penelitian ini mengkonfirmasi penggunaan strain Plasmodium berghei ANKA yang masih sensitif klorokuin sebagai bukti awal penemuan ilmiah. Penentuan sifat sinergisme juga baru didasarkan pada persentase hambatan pertumbuhan parasit ekuivalen dan belum menerapkan analisis kuantitatif Combination Index (CI) Chou-Talalay. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan bukti in vivo pertama mg/kg BB dan asam ursolat 12,5 mg/kg BB) mampu mencapai 100% hambatan Keberhasilan mencapai efektivitas maksimal dengan dosis klorokuin 25% lebih rendah dibandingkan monoterapi membuktikan potensi asam ursolat sebagai agen Sebagai Combination Index Chou- Talalay, uji efikasi pada strain resisten klorokuin serta P. falciparum secara in bahwa kombinasi sistematis klorokuin dan asam ursolat murni dalam sediaan oral dapat mencapai efektivitas setara DAFTAR PUSTAKA