Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat INTERVENSI EDUKASI KESEHATAN TERKAIT PENYAKIT DIARE BAGI MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN Andi Magfirah HamsiA. Muharti Syamsul2. Kartini3. Asril4. Sumardi Sudarman5 Universitas Pancasakti Makassar1. email: andimagfirah2818@gmail. Universitas Pancasakti Makassar2. email: muharti. syamsul@gmail. Universitas Pancasakti Makassar3. email: katini@unpacti. Universitas Pancasakti Makassa4. email: asrilbohari@gmail. Universitas Pancasakti Makassar5. email: Sumardimardi567@gmail. Abstrak Penyakit diare merupakan masalah kesehatan berbasis lingkungan yang masih menjadi penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia yang mencatat lebih dari 3,1 juta kasus pada tahun 2024. Di tingkat lokal, urgensi ini terlihat di Kota Makassar dengan fluktuasi kasus yang masih tinggi, di mana Puskesmas Tamangapa menjadi salah satu wilayah dengan angka kejadian tertinggi hingga menembus sepuluh besar penyakit utama. Faktor utama penyebab tingginya kejadian diare adalah rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan pengelolaan diare. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan warga RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa. Kota Makassar tentang penyakit diare melalui intervensi edukasi. Metode yang digunakan meliputi tiga tahap, yaitu pengisian pre-test, penyuluhan dengan media presentasi dan video edukasi, serta post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan. Kegiatan dilaksanakan pada 25 Januari 2025 dengan peserta sebanyak 24 orang. Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 7,29 sebelum penyuluhan menjadi 8,79 setelah penyuluhan dengan nilai p=0,004 (<0,. , yang berarti terdapat pengaruh signifikan intervensi terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat sebesar 15% dan mendorong pemahaman tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi kesehatan melalui penyuluhan terbukti efektif sebagai upaya pencegahan penyakit diare berbasis lingkungan. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan. Diare. Pencegahan Penyakit. Abstract Diarrheal disease remains a significant environment-based health problem causing high morbidity and mortality, particularly in developing countries, including Indonesia, which recorded over 3. 1 million cases in 2024. At the local level, this urgency is evident in Makassar City, where case fluctuations remain high, and the Tamangapa Public Health Center (Puskesmas Tamangap. stands out as one of the areas with the highest incidence, ranking among the top ten prevalent diseases. A primary factor contributing to this high incidence of diarrhea is the low level of public knowledge regarding its prevention and This community service initiative aimed to enhance the knowledge of residents in RT 07 RW 04. Tamangapa Village. Makassar City, concerning diarrheal diseases through an educational The method comprised three stages: a pre-test, an educational session utilizing presentation media and educational videos, and a post-test to evaluate changes in knowledge. The activity was conducted on January 25, 2025, with 24 participants. Analysis using the Wilcoxon signedrank test demonstrated an increase in the mean knowledge score from 7. 29 before the session to 8. afterward, with a p-value of 0. 004 (<0. , indicating a significant impact of the intervention on improving public knowledge. This initiative successfully increased community knowledge by 15% and fostered a better understanding of clean and healthy living behaviors. Health education via counseling sessions proved effective as a preventive measure against environment-based diarrheal diseases. Keywords: Health education. disease prevention. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat PENDAHULUAN Diare didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami peningkatan frekuensi buang air besar dengan feses yang cair atau encer. Ini bisa disertai dengan gejala lain seperti mual, muntah, kram perut, dan kadang-kadang penurunan berat badan. Adapun penyebab terjadinya diare, meliputi Infeksi usus akibat virus . isalnya rotaviru. , bakteri . isalnya E. , atau parasit . isalnya Giardi. Intoleransi Makanan. Kondisi Pencernaan Kronis, serta stres dan kecemasan (Kemenkes RI, 2. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit diare merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak pada anak di bawah usia 5 tahun dan bertanggung jawab atas kematian sekitar 443. 832 anak setiap tahun. Diare dapat berlangsung beberapa hari dan dapat menyebabkan tubuh kekurangan air dan garam yang diperlukan untuk bertahan hidup. Dahulu, bagi kebanyakan orang, dehidrasi parah dan kehilangan cairan merupakan penyebab utama kematian akibat diare. Kini, penyebab lain seperti infeksi bakteri septik kemungkinan besar menjadi penyebab peningkatan proporsi kematian akibat diare. Anak-anak yang kekurangan gizi atau memiliki gangguan kekebalan tubuh, serta orang dengan HIV, paling berisiko mengalami diare yang mengancam jiwa. Penyakit diare merupakan penyebab utama kematian dan morbiditas anak di dunia, dan sebagian besar disebabkan oleh sumber makanan dan air yang terkontaminasi. Di seluruh dunia, 780 juta orang tidak memiliki akses ke air minum yang layak dan 2,5 miliar orang tidak memiliki sanitasi yang layak. Diare akibat infeksi tersebar luas di negara-negara berkembang (WHO, 2. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024, jumlah kasus diare pada semua kelompok umur di Indonesia sebanyak 3. 152 kasus . ,5%) dengan jumlah kasus balita sebanyak 1. 393 kasus . ,7%). Kementerian Kesehatan mencatat adanya fluktuasi kasus diare bulanan pada tahun 2023 dengan penurunan jumlah kasus pada bulan Juni dan Juli setelah sempat tinggi pada bulan Mei. Menurut Provinsi, jumlah kasus diare di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2023 sebanyak 29. 481 kasus (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2022, kasus diare pada balita di Kota Makassar masih tinggi dan kejadian kasusnya masih fluktuatif, pada tahun 2020 sebanyak 306 kasus, tahun 2021 sebanyak 2. 916 kasus, dan tahun 2022 sebanyak 3. 124 kasus. Salah satu puskesmas di Kota Makassar dengan jumlah kasus diare tertinggi yaitu Puskesmas Tamangapa sebanyak 162 kasus dan masuk kedalam 10 besar penyakit tertinggi di Puskesmas tersebut (Dinas Kesehatan Makassar, 2. Diare ditandai dengan gangguan buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lendir. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di masyarakat, penyakit yang berbasis lingkungan terutama karena masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Penyakit diare dapat berakibat fatal dan menjadi penyakit berbahaya karena dapat menyebabkan kematian dan menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah Tuberculosis (TB) dan Pneumonia (Zulfiana et al. , 2. Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Tingginya jumlah diare tidak dapat dipisahkan dari kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu terhadap pencegahan diare. Perspektif pencegahan penyakit ini dapat dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan masing-masing anggota masyarakat, terutama peran seorang ibu. Ini disebabkan oleh efek diare pada anak kecil. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang diare pada anak-anak kecil. Pengetahuan adalah bagian dari faktor penilaian penting, sehingga pengetahuan diperlukan untuk peran ibu dalam mencegah terjadinya penyakit diare. Peningkatan pengetahuan juga tidak selalu menyebabkan perubahan sikap, tetapi mereka memiliki hubungan yang positif yaitu dengan peningkatan pengetahuan maka dapat terjadi perubahan sikap pula (Jannah et al. , 2. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan memberikan fasilitasi pendidikan berupa pemberian edukasi kepada masyarakat khususnya kepada ibu untuk membantu dalam memahami lebih mendalam terkait penyakit diare dan cara pencegahannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Raffi Syahir, dkk . terkait pemberian edukasi pencegahan dan penanganan diare dengan hasil pre-test menunjukkan bahwa 55,2% peserta memiliki pengetahuan yang baik dengan nilai rata-rata 8,1. Setelah penyuluhan, hasil post-test menunjukkan bahwa 82,8% peserta memiliki pengetahuan yang baik dengan skor rata-rata 9,21. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan dapat meningkatkan tingkat pengetahuan peserta tentang diare (Syahir et al. , 2. Sama halnya dengan pengabdian yang dilakukan oleh Reni Yunus, dkk . dengan hasil intervensi berupa peningkatan presentase pengetahuan masyarakat setelah diberikan edukasi mengenai diare adalah 48,8 % pada masyarakat Desa Paku. Kabupaten Konawe (Yunus et al. Sehubungan dengan uraian diatas, maka perlu dilakukan Program Pengabdian Kepada Masyarakat tentang program intervensi edukasi tentang penyakit diare dalam upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Pengabdian masyarakat ini berupa pemberian penyuluhan terkait penyakit diare dan sasaran pada program ini adalah warga RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa Antang. Kota Makassar. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa Antang Kota Makassar mengenai penyebab, pencegahan, dan penanganan dini diare pada anak balita, serta mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah tangga. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi penyakit diare ini dilaksanakan pada tanggal 25 januari 2025 bertempat di RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa. Antang. Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Sasaran pada kegiatan pengabdian ini adalah masyarakat RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa dan jenis sasarannya yaitu primer. Alasan pemilihan program intervensi edukasi kesehatan mengenai diare adalah karena berdasarkan observasi lapangan yang telah dilakukan di kelurahan Tamangapa bersama Ketua RT dan tokoh masyarakat didapatkan bahwa tingginya kasus kejadian diare pada masyarakat di Kelurahan Tamangapa dan kurangnya pengetahuan masyarakat sekitar tentang cara mencegah penyakit diare. Oleh karena itu, target yang ingin di capai dalam kegiatan ini adalah Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat, agar masyarakat mampu mengetahui dan memahami penyakit diare dan mengaplikasikan cara-cara dalam pencegahan penyakit diare. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian edukasi ini mencakup tiga . tahapan utama, yaitu pembagian pre-test, pelaksanaan edukasi dengan penyuluhan, dan evaluasi kegiatan pengabdian berupa pembagian post-test untuk mengukur sejauh mana masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini memahami edukasi yang diberikan. Adapun tahapan kegiatan pengabdian ini sebagai berikut. Pada tahap pertama yaitu pembagian pre-test. Tahap ini masyarakat diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan terkait penyakit diare yang isi materi kuesionernya akan dijelaskan pada tahap penyuluhan. Hal ini bertujuan untuk mengukur pengetahuan masyarakat terkait diare sebelum diberikan penyuluhan. Tahap kedua yaitu pelaksanaan penyuluhan. Peserta mendapatkan materi mengenai penyakit diare dalam upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Tahapan terakhir yaitu pelaksanaan evaluasi berupa pembagian post-test. Tahap ini masyarakat kembali akan diberikan kuesioner yang sama pada saat pre-test untuk mengukur atau mengevaluasi efektivitas intervensi apakah memberikan dampak yang signifikan dibandingkan sebelum intervensi . re-tes. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada hari sabtu, 25 januari 2025 bertempat di RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa. Antang. Kota Makassar. Sulawesi Selatan yang dihadiri oleh 24 orang dengan bentuk kegiatan yakni penyuluhan mengenai penyakit diare serta cara pencegahan dan penanganan diare. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian edukasi ini mencakup tiga tahapan utama yaitu: Pembagian Pre-test Sebelum kegiatan penyuluhan dimulai, peserta diminta untuk mengisi daftar hadir dan mengikuti tes awal . re-tes. yang wajib dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pre-test yang bertujuan untuk mengukur baseline atau tingkat pengetahuan dasar peserta mengenai penyakit diare sebelum diberikan intervensi edukasi. Sebelum materi penyuluhan dipaparkan, tim pengabdi membagikan lembar kuesioner kepada seluruh peserta yang hadir. Peserta kemudian diberikan waktu sekitar 10 hingga 15 menit untuk menjawab pertanyaan secara mandiri guna memastikan objektivitas hasil tanpa adanya diskusi antarpeserta maupun intervensi dari tim pengabdi. Instrumen kuesioner yang digunakan dalam pre-test ini dirancang secara terstruktur untuk menguji pemahaman warga terhadap beberapa indikator utama, meliputi definisi dan gejala klinis diare, faktor risiko berbasis lingkungan seperti kontaminasi air dan sanitasi yang buruk, langkah pencegahan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta tata laksana awal penanganan diare di rumah tangga menggunakan oralit. Selama proses pengisian, sebagian besar warga menunjukkan antusiasme yang tinggi, meskipun beberapa di antaranya tampak ragu-ragu dalam menjawab yang mengonfirmasi adanya keterbatasan informasi awal terkait manajemen diare. Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pelaksanaan Penyuluhan Langkah berikutnya adalah penyuluhan kesehatan yang dipimpin oleh pelaksana kegiatan Materi yang dibahas meliputi definisi diare, faktor penyebab diare, tanda-tanda diare, risiko diare, cara mengelola makanan dan minuman, cara pencegahan dan penanggulangan diare. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan media berupa power point dan juga diselipkan video animasi edukasi terkait pengenalan penyakit diare secara Para peserta sangat antusias dalam menyaksikan video animasi dan mendengarkan penjelasan dari tim pengabdian yang bertugas. Setelah sesi penyuluhan dilakukan, kegiatan selanjutnya berupa sesi tanya jawab. Masyarakat diberikan waktu untuk bertanya terkait penyuluhan yang diberikan dengan tujuan untuk memperjelas informasi yang belum dipahami oleh peserta, memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya tentang hal-hal yang spesifik terkait materi penyuluhan, dan mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Selama sesi penyuluhan dan tanya jawab, peserta menunjukkan semangat yang tinggi dalam menyerap informasi dan aktif mengajukan pertanyaan di sesi tanya jawab. Gambar 1. Pengisian Pre-Post dan Post-Test Gambar 2. Sesi Tanya Jawab Peserta Gambar 3. Penyampaian materi penyuluhan mengenai Penyakit Diare Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pelaksanaan Evaluasi (Pembagian Post-Tes. Acara pengabdian ini diakhiri dengan pengisian tes akhir . ost-tes. yang wajib diisi oleh semua peserta. Post-test ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur atau mengevaluasi efektivitas intervensi apakah memberikan dampak yang signifikan dibandingkan sebelum intervensi . re-tes. Setelah itu, acara ini ditutup dengan pemberian kuis berhadiah dan sesi foto bersama. Pada kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pengukuran pengetahuan tentang pencegahan dan penanganan penyakit diare sebelum dan sesudah kegiatan dengan pengisian pre-test dan post-test. Pengukuran ini didapatkan dengan menggunakan uji statistik yaitu uji non parametrik test dengan uji Wilcoxon untuk data yang tidak terdisitribusi normal. Adapun hasil uji statistik untuk mengetahui pengaruh intervensi penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan mengenai penyakit diare dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini : Tabel 1. Pengaruh Intervensi Penyuluhan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Mengenai Penyakit Diare di RW 04 RT 07 Kelurahan Tamangapa Antang Kota Makassar Tahun 2025 Peningkatan Pengetahuan Mengenai Diare Variabel P value Min Max Mean Sebelum 7,29 1,816 Penyuluhan Diare 0,004 Setelah 8,79 1,311 Penyuluhan Diare Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa hasil nilai standar deviasi (SD) dari hasil pretest sebelum penyuluhan terkait penyakit diare sebesar 1,816 dengan rata-rata skoring sebesar 7,29 lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil post-test setelah penyuluhan dengan standar deviasi (SD) sebesar 1,311 dan rata-rata skoring sebesar 8,79. Adapun berdasarkan hasil uji bivariat dengan menggunakan uji wilcoxon untuk melihat pengaruh intervensi penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan penyakit diare, diperoleh bahwa nilai p value yaitu 0,004 < nilai yu = 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan atau dapat diartikan bahwa ada pengaruh penyuluhan terkait penyakit diare terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa Antang Kota Makassar. Adapun target capaian untuk kegiatan ini yaitu terjadi peningkatan 15 % pada pengetahuan masyarakat terhadap materi yang di sajikan dan didapatkan peningkatan dari hasil pre-test dan post-test yaitu dari 73% meningkat menjadi 88% pada pengetahuan masyarakat setelah pemberian intervensi. Dari kegiatan ini didapatkan bahwa dengan adanya pengabdian masyarakat ini dapat memfasilitasi warga untuk mendapatkan pengetahuan lebih terkait diare. Pemberian edukasi berupa penyuluhan kepada masyarakat dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terkait penyakit diare. Hal ini sejalan dengan pengabdian yang dilakukan oleh Listi Handayani . dengan hasil menunjukkan adanya peningkatan peserta dengan kategori pengetahuan baik dari 55% menjadi 65%, serta penurunan jumlah peserta dalam kategori pengetahuan kurang dari 10% menjadi 5%. Temuan ini menunjukkan bahwa Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat pengabdian dalam bentuk penyuluhan yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang diare dan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (Handayani. Hasil pengabdian masyarakat lain dengan metode yang sama juga dilakukan oleh Riffa Syahrir, dkk . dengan hasil pre-test menunjukkan bahwa 55,2% peserta memiliki pengetahuan yang baik dengan nilai rata-rata 8,1. Setelah penyuluhan, hasil post-test menunjukkan bahwa 82,8% peserta memiliki pengetahuan yang baik dengan skor rata-rata 9,21. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan dapat meningkatkan tingkat pengetahuan peserta tentang diare. Dalam suatu penelitian yang berkaitan dengan pemberian pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu terkait diare yang dilakukan oleh Hega Valentine . dengan hasil penelitian dengan menggunakan uji wilcoxon menunjukan rata-rata pengetahuan ibu dalam manajemen diare pada balita sebelum diberikan pendidikan kesehatan . re-tes. adalah Sedangkan rata-rata pengetahuan ibu setelah diberikan pendidikan kesehatan . tinggi, hasil uji statistik didapatkan nilai p value . < 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu dalam manajemen diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Alung (Valentine et al. , 2. Jadi, dari hasil pengabdian masyarakat terkait pemberian intervensi penyakit diare bagi masyarakat RW 04 RT 07 Kelurahan Tamangapa Antang didapatkan bahwa pemberian intervensi edukasi berupa penyuluhan kepada masyarakat dapat menambah pengetahuan terkait penyakit diare. Melalui proses edukasi, meningkatkan pengetahuan, mencapai perubahan perilaku individu, keluarga, dan masyarakat dalam menjaga serta memelihara perilaku sehat dan lingkungan yang sehat, serta berpartisipasi aktif dalam usaha mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Dengan pemberian informasi tersebut, masyarakat yang berpartisipasi dapat paham secara spesifik terkait dengan penyakit diare, tidak hanya pada tahapan tahu saja, tetapi dapat memahami, mengaplikasikan, menganalisis, sintesis, serta mengevaluasi terhadap dasar pemberian informasi kesehatan yang diberikan sebelumnya (Notoatmodjo, 2007, 2. Hal tersebut, jika masyarakat dapat menjaga perilaku hidup sehat dengan mengaplikasikan pengetahuan yang diberikan, maka dapat membatu dalam menurunkan angka kejadian kasus penyakit diare pada masyarakat khususnya pada RT 7 RW 04 Kelurahan Tamangapa. Kota Makassar. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa Antang. Kota Makassar berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai diare dan cara mencegah terjadinya penyakit diare sebesar 15 %. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian intervensi edukasi terkait penyakit diare terhadap peningkatan pengetahuan Masyarakat. Peningkatan pengetahuan ini memberikan dampak nyata berupa tumbuhnya kesadaran mandiri warga dalam menjaga higienitas lingkungan dan memberikan pertolongan pertama diare guna menekan angka morbiditas di wilayah Puskesmas Tamangapa. Manfaat jangka panjangnya adalah terbentuknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dapat memutus mata rantai penularan penyakit berbasis lingkungan di tingkat keluarga. Sebagai rekomendasi, kegiatan selanjutnya perlu dilakukan Global Abdimas E-ISSN: 2776-3331 Vol. No. Mei 2026. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat secara berkelanjutan melalui pelatihan praktik langsung, seperti demonstrasi pembuatan sarana air bersih atau pembentukan kader kesehatan lingkungan di tingkat RT. UCAPAN TERIMA KASIH Berlangsungnya kegiatan pengabdian masyarakat berupa intervensi edukasi penyakit diare tidak terlepas dari partisipasi aktif Puskesmas Tamangap, kepala Kelurahan, staf kerlurahan. Ibu RT, dan masyarakat RT 07 RW 04 Kelurahan Tamangapa Antang. Kota Makassar. Keberadaan tim pelaksana pengabdian masyarakat disambut ramah oleh semua masyarakat, terbukti dengan keikutsertaan masyarakat dalam membantu melancarkan jalannya kegiatan pengabdian ini. REFERENSI