Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Akreditasi No. 32a/E/KPT/2017 DOI: 10. 24034/j25485024. p-ISSN 2548 Ae 298X e-ISSN 2548 Ae 5024 PENGARUH MANAJEMEN LABA DAN KOMPOSISI KOMISARIS INDEPENDEN TERHADAP KUALITAS LABA DAN EFEKNYA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (DI - RESTRICTED) Eman Sulaeman akun@gmail. Universitas Lampung ABSTRACT This research aims to empirically test the influence of earnings management and the composition of independent commissioners to the earnings quality and its effect on the firm value. Research conducted on public companies in the Index LQ45 Indonesia Stock Exchange for the period 2012-2016. Earnings management is proscribed with discretionary accruals, the earnings quality is proscribed with the earnings volatility and the firm value is proscribed with the Price to Book Value (PBV). The results showed that directly the practice of earnings management has a negative influence on the earnings quality and firm value, an indication of income smoothing is done in order to maintain the perception of stakeholders against the company. While the composition of independent Commissioners has no significant influence on the earnings quality but has a negative influence on the firm value, in this case the existence of independent Commissioner is deemed not to conduct supervision effectively because the recruitment process is not objective and tends to fulfill the obligation of the company and is political, this is evidenced by the Independent Commissioner from retired and political figures. It also shows that the earnings quality has a intervening role in earnings management relationship and independent Commissioner composition against the firm value. Key words: earnings management. independent commissioners. earnings quality and firm value. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap kualitas laba dan efeknya terhadap nilai perusahaan. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan publik yang masuk dalam indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia untuk periode 2012-2016. Manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals, kualitas laba diproksikan dengan volatilitas laba dan nilai perusahaan diproksikan dengan Price to Book Value (PBV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara langsung praktek manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba maupun nilai perusahaan, indikasi income smoothing dilakukan dalam rangka menjaga persepsi stakeholders terhadap perusahaan. Sementara komposisi komisaris independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas laba namun memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, dalam hal ini keberadaan komisaris independen dianggap tidak melakukan pengawasan secara efektif karena proses rekrutmen yang tidak objektif dan cenderung pemenuhan kewajiban perusahaan serta bersifat politis, hal ini dibuktikan dengan adanya komisaris independen yang berasal dari purnawirawan dan tokoh politik. Peneltian ini juga menunjukkan bahwa kualitas laba memiliki peran intervening dalam hubungan manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap nilai perusahaan. Kata kunci: manajemen laba. komisaris independen. kualitas laba dan nilai perusahaan. PENDAHULUAN Kasus overstated earnings yang dialami Enron Corporation pada tahun 1997Ae2000 (Scott, 2. tidak menjadi bahan pelajaran bagi perusahaan publik, hal serupa menimpa perusahaan elektronik Toshiba Corporation di tahun 2008Ae2015 . ompas, 13 Oktober 2. dan di Indonesia pada tahun Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman 2017 Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan surat keputusan Nomor Kep-36/D. 04/2017 tentang Penetapan Emiten atau Perusahaan Publik Yang Dikecualikan Dari Kewajiban Pelaporan dan Pengumuman karena dinyatakan pailit sebanyak 8 . Agency theory (Jensen dan Meckling, 1. menyatakan adanya konflik keagenan antara prinsipal dengan agen, dimana agen tidak selalu bertindak berdasarkan kepenti- ngan prinsipal namun agendapat bertindak untuk memaksimalkan kepetingan dalam perusahaan sementara signaling theory (Ross, 1. menyatakan adanya asimetri informasi antara prinsipal dengan agen, dimana agen memiliki informasi yang lebih detail terkait perusahaan dibandingkan dengan prinsipal sehingga setiap informasi perusahaan akan direspon oleh prinsipal dalam bentuk keputusan Laba yang dikelola secara efisien akan meningkatkan keinformatifan informasi laba sedangkan laba yang dikelola secara oportunis akan menguntungkan pihakAepihak tertentu sesuai dengan keinginan yaitu prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba (HM dan Sudirman, 2. Tindakan moral hazard manajemen dengan menunjukkan laba yang memuaskan meskipun tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya akan mempengaruhi kualitas laba yang disampaikan dalam laporan keuangan perusahaan padahal investor maupun kreditor menggunakan informasi laba untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power dan untuk memprediksi laba di masa yang akan datang (Siallagan dan Machfoedz. Praktek manajemen laba merupakan konsekuensi dari adanya konflik keagenan untuk itu diperlukan fungsi pengawasan yang efektif sehingga menghasilkan kualitas laba yang baik, dimana kualitas laba ini akan direspon oleh stakeholders dalam bentuk keputusan investasi. Penelitian mengenai manajemen laba dengan kualitas laba dan nilai perusahaan telah dilakukan oleh Kartikasari dan Setiawan . yang menemukan bahwa mana- jemen laba memiliki pengaruh negative terhadap kualitas laba namun Boediono . menemukan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh positif terhadap kualitas Jonathan dan Machdar . Lento dan Yeung . dan Siallagan . menemukan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negative terhadap nilai perusahaan kemudian Kamil dan Hapsari . Gamayuni . Darwis . Herawati . dan Assih et al. menemukan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sementara itu penelitian mengenai komposisi komisaris independen dengan kualitas laba dan nilai perusahaan telah dilakuka oleh Abdulmalik . menemukan bahwa komisaris independen memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap kualitas laporan keuangan di Malaysia. Egbunike dan Odum . menemukan bahwa pada perusahaan manufaktur di Nigeria komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas Khafid . menemukan bahwa Komposisi dewan komisaris memiliki pengaruh positif terhadap kualitas laba di Indonesia. Sedangkan penelitian terkait pengaruh komposisi komisaris independen terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh Bath, et al . Putra . Perdana dan Raharja . menemukan bahwa komisaris independen memiliki hubungan positif terhadap nilai perusahaan. Mishra dan Kapil . dan Wardoyo dan Veronica . menemukan pengaruh komposisi komisaris independen memilki pengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Khosa . menemukan komposisi komisaris independen memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Selain menguji pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap kualitas laba dan nilai perusahaan, penelitian ini akan menguji pengaruh kualitas laba terhadap nilai perusahaan seperti penelitian Darwis . Gamayuni . dan Ng dan Daromes . yang menemukan bahwa kualitas laba tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai per- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 usahaan di Indonesia. Sementara Siallagan dan Machfoedz . menemukan bahwa pada perusahaan manufaktur kualitas laba memiliki pengaruh positif terhadap nilai Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa masih ditemukan hasil yang berbedaAebeda antara pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap kualitas laba maupun nilai perusahaan termasuk kualitas laba terhadap nilai perusahaan sehingga penelitian ini kembali dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian ini mendukung salah satu penelitian sebelumnya sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi penelitian yang akan datang. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian Siallagan dan Machfoedz . yang menguji mekanisme GCG, kualitas laba dan nilai perusahaan. Namun yang membedakan penelitian ini dari penelitian sebelumnya adalah penelitian ini menggantikan mekanisme GCG dengan komposisi komisaris independen dan menambahkan manajemen laba sebagai variabel independen, kualitas laba sebagai variabel intervening menggunakan volatilitas laba sedangkan untuk variabel dependen nilai perusahaan menggunakan Price to Book Value (PBV) dan metode penelitian menggunakan analisis jalur . ath analysi. yang digunakan oleh Boediono . Oktaviani, et al . dan Ng dan Daromes . Dalam analisis jalur model penelitian terdiri dari model struktur pertama yang menguji pengaruh langsung variabel independen dengan dependen dan model struktur kedua yang menguji pengaruh tidak langsung variabel independen melalui variabel intervening terhadap variabel dependen. Populasi dan dan sampel penelitian akan menggunakan perusahaan publik yang masuk dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia. TINJAUAN TEORETIS Agency Theory Hubungan keagenan sebagai kontrak di mana satu atau lebih orang . melibatkan orang lain . untuk melakukan beberapa layanan atas nama mereka yang melibatkan pendelegasian beberapa otoritas pengambilan keputusan kepada Jika kedua pihak dalam hubungan tersebut adalah memaksimalkan utilitas, ada alasan kuat untuk percaya bahwa agen tidak akan selalu bertindak demi kepentingan prinsipal (Jensen dan Meckling, 1. Konflik keagenan menimbulkan biaya agensi, yaitu pertama biaya atas penurunan nilai perusahaan ketika pemegang saham menganggap manajer tidak mengejar kepentingan pemegang saham atau bertindak tidak efisien. Kedua adalah biaya pengawasan dan ikatan manajer sehingga manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Kedua biaya agensi tersebut mampu mengoptimalkan pemantauan dan ikatan karena pemegang saham membuatnya menjadi harga saham perusahaan (Morris, 1. Signalling Theory Signalling theory menyatakan bahwa jika manajer memiliki informasi orang dalam maka kebijakan jadwal insentif manajerial dan struktur keuangan perusahaan akan memberikan sinyal ke pasar yang kemudian akan divalidasi dalam bentuk nilai perusahaan (Ross, 1. Teori tersebut dapat diilustrasikan sebagai penjual yang memiliki informasi tentang produk daripada pembeli, pembeli yang tidak memiliki informasi tentang suatu produk maka mereka memiliki persepsi umum dan menilai produk berdasarkan rata-rata persepsi umum tersebut sehingga produk yang memiliki kualitas di atas rataAerata mengalami kerugian karena pembeli tidak mengetahui kualitas unggul produk tersebut untuk itu penjual harus mengkomunikasikan produk yang unggul tersebut kepada pembeli agar produknya dinilai dengan harga yang tinggi. Komunikasi inilah yang merupakan bentuk sinyal antara penjual dan pembeli (Morris, 1. Manajemen Laba Scott . dalam bukunya berjudul Financial Accounting Theory halaman 369 Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman mendefinisikan bahwa manajemen laba merupakan pilihan yang dilakukan oleh manajer akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. Adapun dorongan dari manajemen laba adalah pertama dalam perspektif kontrak antara agen dan prinsipal, dimana adanya anggapan perilaku oportunis manajemen untuk memaksimalkan utilitasnya dan efisiensi kontrak dimana manajemen laba memberikan fleksibiltas bagi manajer dalam melindungi dan mengantisipasi permasalahan yang tidak terduga demi keuntungan semua pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut. Kedua adalah dorongan politik, dimana dalam teori akuntansi positif adanya tekanan publik yang mendorong adanya regulasi yang berpotensi mempengaruhi profitabilitas. Ketiga adalah kebijakan perpajakan, adanya otoritas perpajakan yang memaksa untuk meningkatkan penghasilan kena pajak sehingga membatasi ruang gerak perusahaan. Keempat adanya pergantian CEO perusahaan, dimana CEO cenderung melakukan manajemen laba untuk memaksimalkan utilitasnya menjelang masa pensiun atau diganti. Kelima Initial Public Offerings (IPO), perusahaan yang akan melakukan IPO tidak memiliki harga pasar yang mapan sehingga sulit untuk menilai harga sahamnya, untuk itu informasi akuntansi keuangan yang merupakan bagian dari prospektus perusahan sehingga dapat digunakan untuk menilai perusahaan. Keenam bentuk komunikasi kepada investor, dalam pasar efisien maka investor akan menggunakan informasi dan membandingkan kinerja perusahaan sehingga dapat meningkatkan keinformatifan laporan keuangan perusahaan. Dewan Komisaris Perusahaan di Indonesia menganut two board system, yaitu terdiri dari dewan komisaris dan direksi perusahaan, dimana keduanya mempunyai tanggungjawab untuk menjaga dan memelihara kesinambungan perusahaan dalam jangka panjang. Pedoman GCG Indonesia Tahun 2006 menyatakan bahwa dewan direksi merupakan organ perusahaan yang bertugas dan bertanggung jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada direksi serta memastikan bahwa perusahaan menjalankan GCG. Komposisi dewan komisaris harus memungkinkan pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat serta dapat bertindak independen. Dalam Pedoman GCG Indonesia Tahun 2006. Mas Achmad Daniri. Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance, menyatakan bahwa dewan komisaris merupakan organ perusahaan yang menjadi garda terdepan dalam implementasi Good Corporate Governance. Kualitas Laba Kualitas laba mencerminkan kinerja saat ini, menjadi indikator kinerja di masa yang akan datang dan dengan akurat menilai nilai intrinsik perusahaan. Volatilitas laba yang meningkat dapat menunjukkan penurunan kualitas laba (Dechow dan Schrand, 2. Kualitas laba merupakan nilai yang mencerminkan kinerja perusahaan, volatilitas laba yang tinggi memiliki dampak buruk bagi perusahaan karena adanya indikasi beban hutang yang tinggi dan tekanan keuangan perusahan serta lindung nilai dari resiko atas pertumbuhan perusahaan (Scott. Kualitas laba merupakan indikator dari kualitas informasi keuangan. Kualitas informasi keuangan yang tinggi berasal dari tingginya kualitas pelaporan keuangan (Surifah, 2. Nilai Perusahaan Tujuan utama manajemen keuangan adalah membuat para manajer memaksimalkan nilaiAenilai perusahaan mereka. Nilai pasar saham perusahaan mencerminkan nilai perusahaan (Scott, 2. Secara umum dalam mengukur nilai perusahaan yang biasa digunakan adalah dengan TobinAos Q dan Price to Book Value serta Price Earnings Ratio. TobinAos Q merupakan metode yang ditemukan oleh James Tobin, yaitu dengan menggunakan rasio antara total nilai pasar ditambah total nilai hutang dibagi dengan Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 nilai buku total aset. Sedangkan Price to Book Value dihitung dengan mengukur rasio dari harga pasar perlembar saham dibagi dengan nilai buku perlembar saham. Price Earnings Ratio adalah rasio yang membandingkan harga pasar perlembar saham dengan laba perlembar saham. Berdasarkan fenomena dan rumusan masalah serta telaah literatur maka hipotesis penelitian ini adalah: Manajemen laba memiliki pengaruh positif terhadap kualitas laba Komposisi komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas Manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan Komposisi komisaris independen memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan Kualitas laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan Kualitas laba memiliki peran mediasi dalam hubungan pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap nilai perusahaan. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan kuantitatif yang akan menguji secara empiris apakah manajemen laba dan komposisi komisaris independen memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap nilai perusahaan dengan kualitas laba sebagai mediasi. Untuk mendukung penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu perusahaan publik yang terdaftar di Indek LQ45 Bursa Efek Indonesia secara berturutAeturut dari tahun 2013Ae2016 dengan asumsi bahwa perusahaan yang masuk dalam indeks LQ45 memiliki kapitalisasi pasar yang tinggi sebagai bahan rujukan dalam pasar saham. Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh sampel sebanyak 15 perusahaan publik dengan data yang digunakan dari tahun 2012Ae2017. Model analisis yang digunakan untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung variabel-variabel penelitian sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Adapun rerangka pemikiran penelitian ini adalah sebagai berikut: Gambar 1 Rerangka Pemikiran Variabel dependen adalah variabel terikat yang dipengaruhi oleh variabel independen. Dalam penelitian ini variabel de- penden yang digunakan adalah nilai perusahaan yang diukur dengan Price to Book Value (PBV) dengan mengacu pada peneliti- Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman an Putra . Perdana dan Raharja . Darwis . Persamaan yang digunakan Harga Pasar Perlembar Sahamit Price to Book Value (PBV)it Nilai Buku Perlembar Sahamit CFO = Arus kas Operasi = Total Aset OIREV = Perubahan Pendapatan OIREC = Perubahan Piutang OIPPE = Perubahan Aset Tetap 0 = Intercept (Konstant. 1 dan 2 = Koefisien Regresi Variabel independen merupakan variabel tidak terikat yang tidak dipengaruhi oleh variavel lainnya. Dalam penelitian ini variabel independen terdiri dari manajamen laba dan komposisi komisaris independent. Manajemen laba dalam penelitian ini diproksikan dengan discretionary accrual yang diukur dengan model Jones Modifikasi yang dikembangkan oleh Dechow . dengan mengacu pada penelitian Jonathan dan Machdar . Farichah . Lento dan Yeung . Suyono . Kamil dan Hapsari . Gamayuni . Discretionary accrual merupakan kebijakan akrual yang diperolah hasil pengurangan total akrual dengan non-discretionary accrual. Semakin tinggi Discretionary Accrual menunjukkan semakin tinggi manajemen laba dilakukan manajemen dan nilai nol atau negatif menunjukan tidak ditemukan indikasi manajemen laba. Perhitungan discretionary accrual adalah sebagai berikut: Menghitung Total Accrual (TA) TAit =NIit Ae CFOit Meregresikan Total Accrual TAit/Ait-1 = 01/Ait-1 1OIREVit/Ait-1 2OIPPEit/Ait-1 ait Hasil regresi 0, 1 dan 2 digunakan untuk menghitung Non-Discretionary Accrual Menghitung Non-Discretionary Acrual (NDCCA) NDCCAit = 01/Ait-1 1(OIREVit OIRECit/Ait-. 2OIPPEit/Ait-1 ait Menghitung Discretionary Accrual (DACC) DACCit = TAit/Ait-1 - NDCCAit Komposisi komisaris independen yang semakin tinggi maka fungsi pengawasan akan semakin efektif sehingga mampu memberikan jaminan informasi yang disampaikan perusahaan dan akan direspon positif oleh investor sehingga mampu meningkatkan nilai perusahaan. komposisi komisaris independen diukur dengan menggunakan persamaan berikut: Keterangan: = Total akrual = Laba Bersih Komposisi Komisaris Independen Jumlah Komisaris Independen Jumlah Dewan Komisaris Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung . ariabel penyel. dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah kualitas laba yang diukur dengan volatilitas laba yang dihitung dengan standar deviasi dari Return on Assets (ROA) mengikuti Jannah dan Haridhi . dan Wijayanti dan Diyanti . ROA dihitung selama 3 . tahun, yaitu tahun sebelumnya . , tahun berjalan dan tahun yang akan datang . Persamaan yang digunakan dalam menghitung standar deviasi adalah sebagai berikut: Oc Oe Oe1 Keterangan: = Standar Deviasi (Volatilitas Lab. ROAi = Return on Assets periode i ROA = Rata Ae Rata Return on Assets = Ukuran Data Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 Model penelitian ini menggunakan model Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM PLS) sedangkan metode penelitian meliputi analisis deskriptif dan analisis jalur . ath analysi. Analisis jalur . ath analysi. yang terbagi dalam sub struktur 1 yang menunjukkan pengaruh langsung variabel independen terhadap variabel dependen dan sub struktur 2 yang menunjukkan pengaruh tidak langsung variabel independen melalui variabel intervening terhadap variabel dependen. Adapun model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Persamaan Sub Struktur 1 Yit = Ayx1. X1it Ayx2. X2it Aya1 Dimana: Yit = Kualitas Laba Perusahaan i Periode t X1it = Manajemen Laba Perusahaan i Periode t X2it = Komposisi Komisaris Independen Perusahaan i Periode t a = Standard Error Persamaan Sub Struktur 2 Zit = Azx1. X1it Azx2. X2it Azy. Yit Aza2 Dimana: Zit = Nilai Perusahaan i Periode t X1it = Manajemen Laba Perusahaan i Periode t X2it = Komposisi Komisaris Independen Perusahaan i Periode t Yit = Kualitas Laba Perusahaan i Periode t a = Standard Error ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berdasarkan purposive sampling maka diperoleh sampel perusahaan publik yang masuk dalam Indek LQ45 Bursa Efek Indonesia secara berturutAeturut untuk periode 2012Ae2017 sebanyak 15 . ima bela. dengan 60 data observasi. Analisis Deskriptif Hasil analisis deskriptif digambarkan dalam Tabel 1. Tabel 1 Hasil Analisis Deskriptif Variabel Min 0,000 0,300 0,003 0,047 Maks 1,007 0,800 0,067 14,321 Rata-Rata 0,109 0,415 0,019 3,304 Standar Deviasi 0,262 0,113 0,015 2,571 Sumber : Diolah (SmartPLS, 2. Keterangan: X1 = Manajemen Laba X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba Z = Nilai Perusahaan Tabel 1 menunjukkan hasil dari analisis yang dilakukan terhadap 60 data sampel penelitian dengan hasil sebagai berikut: Manajemen laba (X. menunjukan nilai discretionary accrual terendah . sebesar 0,000 dan nilai tertinggi . sebesar 1,007 dengan nilai rataAe rata . 0,109 dan standar deviasi atau sebaran nilai data atau perbedaan nilai Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman sampel dengan nilai rata-rata sebesar 0,262. Komposisi komisaris independen (X. menunjukkan nilai rasio komisaris independen terhadap dewan komisaris minimum 30% dan maksimum 80% dengan nilai rataAerata . 41,5% dan standar deviasi atau sebaran nilai data atau perbedaan nilai sampel dengan nilai rataAe rata sebesar 11,3 Kualitas laba (Y) menunjukkan nilai volatilitas laba minimum 0,003 dan nilai maksimum 0,067 dengan nilai rataAerata . 0,019 dan standar deviasi 0,015 Nilai Perusahaan (Z) yang menunjukkan nilai price to book value minimum 0,047 dan maksimum 14,32 dengan nilai rata Ae rata . 3,304 dan standar deviasi 2,571. Analisis Outer Model Analisis outer model dilakukan untuk memastikan bahwa model yang digunakan layak untuk dijadikan model . alid dan Pada penelitian ini analisis outer model dilakukan dengan indikator sebagai Convergent Validity Convergent validity dapat dilihat pada nilai Average Variance Extrated (AVE) dengan nilai yang diharapkan lebih besar dari 0,5. Berdasarkan hasil PLS Algorithm diperoleh nilai AVE sebagai berikut: Tabel 2 Hasil PLS Algorithm Untuk Nilai AVE Konstruk AVE 1,000 1,000 1,000 1,000 Keterangan > 0,5 > 0,5 > 0,5 > 0,5 Keterangan: X1 = Manajemen Laba X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba Z = Nilai Perusahaan Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai AVE setiap variabel menunjukkan nilai di atas 0,5 (>0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan adanya permasalahan convergent validity pada model yang digunakan. Descriminant Validity Descriminant validity dapat dilihat dari perbandingan nilai korelasi akar kuadrat AVE dengan nilai korelasi antar konstruk . Berdasarkan hasil perhitungan PLS Algorithm diperoleh sebagai berikut: Tabel 3 Hasil PLS Algorithm Untuk Descriminant Validity Konstruk 1,000 0,046 -0,270 -0,160 1,000 -0,055 -0,318 1,000 0,029 1,000 Keterangan: X1 = Manajemen Laba X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba Z = Nilai Perusahaan Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai akar kuadrat AVE lebih besar dari nilai korelasi antar konstruk dan menunjukkan nilai lebih besar dari 0,7 (> 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa model tidak temukan permasalahan descriminant validity. Unidimensionality Pengujian Unindimensionality dilakukan dengan melihat nilai Cronbach alpha, dengan nilai yang diharapkan lebih besar dari 0,7. Berdasarkan hasil perhitungan PLS Algorithm diperoleh pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai Cron bachAos Alpha sebesar 1,000 atau lebih besar dari 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa pada model tidak ditemukan permasalahan reliabilitas atau undimensinality. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 Tabel 4 Hasil PLS Algorithm Untuk Nilai Cronbach Alpha Konstruk CronbachAos Alpha 1,000 1,000 1,000 1,000 Keterangan > 0,7 > 0,7 > 0,7 > 0,7 Keterangan: X1 = Manajemen Laba X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba Z = Nilai Perusahaan Multicollinearity Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya korelasi yang sempurna atau mendekati sempurna antar variabel independen dalam model regresi. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji ini dapat dilakukan dengan melihat nilai Inner Variance Inflator Factor (VIF) dengan ketentuan bahwa nilai VIF lebih kecil dari 5 maka terbebas dari multi kolinearitas (Hussein, 2. Hasil ujimultikolinearitas pada model ini diperoleh sebagai berikut: Tabel 5 Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Manajemen Laba (X. Komposisi Komisaris Independen (X. Kualitas Laba (Y) Inner Variance Inflator Factor (VIF) 1,002 1,079 1,002 1,004 1,080 Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai Inner VIF semua variabel independen lebih kecil dari 5 sehingga tidak ditemukan adanya korelasi sempurna antara variabel independen dan memenuhi syarat uji Analisis Inner Model Analisis ini dilakukan untuk memastikan bahwa model struktural yang dibangun robust dan akurat. Inner model dalam penelitian ini diukur dengan R-Square. QSquare dan Goodness of Fit (GoF). Hasil analisis Inner model sebagai berikut: R-Square (R. Berdasarkan hasil PLS Algorithm diperoleh nilai R2 sebagai berikut: Tabel 6 Hasil PLS Algorithm Untuk Nilai RSquare Uraian X1. X2 X1. X2 dan Y R-Square 0,074 0,123 Keterangan: X1. Manajemen Laba X2. Komposisi Komisaris Independen Kualitas Laba Nilai Perusahaan Tabel 6 menunjukkan bahwa pada sub struktur 1 diperoleh bahwa pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen secara simultan memiliki pengaruh sebesar 7,4% terhadap kualitas laba sedangkan 92,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Untuk sub struktur 2 diperoleh bahwa manajemen laba, komposisi komisaris independen dan kualitas laba secara simultan memiliki pengaruh sebesar 12,3% terhadap nilai perusahaan sedangkan 87,7% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Q-Square (Q. Hasil dari Nilai Q-Square dihitung sebagai berikut: Q2 = 1 Ae . -R. -R. -Rp. Q2 = 1 Ae . -0,. -0,. Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman Q2 = 1 Ae . Q2 = 1 Ae 0,812 Q2 = 0,188 Goodness of Fit (GoF) Hasil nilai dari GoF dihitung sebagai = Oo GoF = Oo1. 000 x 0. GoF = Oo 0. GoF = 0,3138 Nilai GoF sebesar 0,3138 atau lebih besar 0,25 dan lebih kecl dari 0,38 sehingga dapat disimpulkan bahwa model memiliki nilai GoF medium. Analisis Jalur (Path Analysi. Path analysis adalah model dekomposisi yang membagi hubungan antara variabel dalam 2 sub struktur. Analisis jalur pertama dilakukan pada sub struktur 1 dengan menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sedangkan analisis jalur kedua dilakukan pada sub struktur 2 dengan menguji pengaruh variabel independen melalui variabel intervening terhadap variabel dependen. Gambar 2 Hasil Bootstrapping dengan SmartPLS Analisis Jalur Sub Struktur 1 Analisis jalur pertama dilakukan pada sub struktur 1 untuk melihat hubungan langsung antara variabel independen, yaitu manajemen laba (X. dan komposisi komisaris independen (X. terhadap variabel dependen, yaitu kualitas laba (Y) dan nilai perusahaan (Z). Hasil analisis jalur sub struktur 1 disajikan pada Tabel di bawah ini: Tabel 7 Hasil Analisis Jalur Sub Struktur 1 Uraian X1 E Y X1 E Z X2 E Y X2 E Z YEZ Orginal Sample -0,268 -0,154 -0,042 -0,313 -0,030 TStatistics 4,815 2,617 0,410 2,693 0,297 PValue 0,000* 0,009* 0,682 0,007* 0,767 Keterangan: * Pengaruh Signifikan pada tingkat alpha 5% X1 = Manajemen Laba (Discretionary Accrua. X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba (Volatilitas Lab. Z = Nilai Perusahaan (Price to Book Valu. Tabel 7 menunjukkan bahwa: Manajemen laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan terhadap kualitas laba, nilai original sample -0,268 atau pola pengaruhnya negatif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas Manajemen laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,009 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, nilai original sample sebesar -0,154 atau pola pengaruhnya negatif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan Komposisi komisaris independen memiliki nilai P-Value sebesar 0,682 atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan terhadap kualitas laba dengan demikian Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 dapat disimpulkan bahwa komposisi komisaris independen tidak memiliki pengaruh terhadap kualitas laba. Komposisi komisaris independen memiliki nilai P-Value sebesar 0,007 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dan memiliki nilai original sample sebesar -0,313 atau pola pengaruhnya negatif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komposisi komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Kualitas laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,767 atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai Analisis Jalur Sub Struktur 2 Analisis jalur kedua dilakukan pada sub struktur 2 untuk melihat hubungan tidak langsung antara variabel independen, yaitu manajemen laba (X. dan komposisi komisaris independen (X. melalui variabel intervening, kualitas laba (Y) terhadap variabel dependen, yaitu nilai perusahaan (Z). Hasil analisis jalur sub struktur 2 disajikan pada Tabel di bawah ini: Tabel 8 Hasil Analisis Jalur Sub Struktur 2 Uraian X1 E Y X2 E Y Original Sampel TStatistics PValue 0,008 0,288 0,773 0,001 0,105 0,916 Keterangan: X1 = Manajemen Laba (DACC) X2 = Komposisi Komisaris Independen (%) Y = Kualitas Laba (Volatilitas Lab. Z = Nilai Perusahaan (PBV) Tabel 8 menunjukan bahwa: Pengaruh Manajemen laba (X. melalui kualitas laba (Y) terhadap nilai perusahaan (Z) memilik nilai P-Value sebesar 0,773 atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan, namun memiliki nilai original sample sebesar 0,008 atau positif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh manajemen laba melalui kualitas laba terhadap nilai perusahaan tidak signifikan. Pengaruh komposisi komisaris independen (X. melalui kualitas laba (Y) terhadap nilai perusahaan (Z) memiliki nilai P-Value sebesar 0,916 atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan, namun memiliki nilai original sample sebesar 0,001 atau positif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh komposisi komsisaris independen melalui kualitas laba terhadap nilai perusahaan tidak signifikan. Pembahasan Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Kualitas Laba Berdasarkan hasil uji statistik manajemen laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,000 terhadap kualitas laba atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan manajemen laba terhadap kualitas laba, namun nilai original sample sebesar -0,268 atau pola pengaruhnya negatif, artinya setiap kenaikan nilai discretionary accrual sebesar 1 poin akan menurunkan volatilitas laba sebesar 0,268 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba dan hipotesis 1 tidak didukung. Dalam penelitian ini ditemukan adanya indikasi yang tidak mendukung teori agensi yang menyatakan bahwa manajemen laba oportunis merupakan dampak dari konflik keagenan dimana agen memaksimalkan Penelitian ini mendukung penelitian Farichah . Ahmadpour dan Shahsavari . dan Syanthi . yang Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman menyatakan adanya pengaruh negatif menajemen laba terhadap kualitas laba perusahaan. Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 cenderung melakukan praktek manajemen laba yang efisien . ncome smoothin. untuk menjaga volatilitas laba yang rendah sehingga kualitas laba tetap terjaga, hal ini dibuktikan pada tabel 4. 10 yang menunjukkan bahwa volatiltas laba yang tinggi terjadi ketika tidak ditemukannya praktek manajemen laba dan volatilitas terendah ditemukan ketika adanya praktek manajemen laba. Tabel 9 Perbandingan Tingkat Volatilitas Laba Tertinggi dan Terendah pada Tingkat Manajemen Laba Tertinggi Terendah Volatilitas Laba Manajemen Laba Volatilitas Laba Manajemen Laba 0,05926 0,05367 0,06696 0,04725 0,04903 0,00009 0,00011 0,00000 0,00000 0,00000 0,00525 0,00386 0,00384 0,00336 0,00414 0,01022 0,00000 0,00000 0,00057 0,00000 Pengaruh Komposisi Komisaris Independen Terhadap Kualitas Laba Berdasarkan hasi uji statistik komposisi komisaris independen memiliki nilai P-Value sebesar 0,682 terhadap kualitas atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan komposisi komisaris independen terhadap kualitas laba dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komposisi komisaris independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas laba dan hipotesis 2 tidak didukung. Penelitian ini menunjukkan indikasi bahwa teori agensi yang menyatakan bahwa komposisi komisaris independen mampu meningkatkan fungsi pengawasan terhadap tata kelola perusahaan sehingga mampu meningkatkan keinformatifan informasi laba dengan menghasilkan laba yang berkualitas tidak terbukti. Penelitian ini mendukung Abdulmalik . Kartikasari dan Setiawan . serta Boediono . yang menyatakan bahwa komposisi komisaris independen memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap kualitas laba. Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 memiliki fungsi pengawasan yang dilakukan oleh komisaris independen yang tidak efektif karena tidak memiliki kapabilitas dan kompetensi dalam bidang akuntansi atau keuangan. Terdapat 8 . purnawirawan TNI dan Kepolisian, dan 6 . orang birokrat serta 2 . orang yang terlibat langsung dengan politik Penelitian ini tidak mendukung Oktaviani et al. Yushita dan Triatmoko . dan Siallagan dan Machfoedz . yang menyatakan bahwa komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba pada perusahaan di Indonesia. Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan hasil uji statistik manajemen laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,009 terhadap nilai perusahaan atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan nilai original sample sebesar -0,154 menunjukkan pola pengaruhnya negatif, artinya setiap kenaikan nilai discretionary accrual sebesar 1 poin akan menurunkan Price to Book Value (PBV) sebesar 0,154 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan dan hipotesis 3 didukung. Penelitian ini mengindikasikan bahwa teori sinyaling yang menyatakan bahwa manajemen laba oportunis yang dilakukan oleh manajemen akan direspon negatif oleh stakeholders sehingga dapat menurunkan nilai perusahaan terbukti. Penelitian ini mendukung Jonathan dan Machdar . yang menyatakan bahwa manajemen laba memberikan dampak negatif terhadap nilai Stakeholders pada perusahaan yang masuk dalan Indeks LQ45 cenderung memiliki pemahaman yang baik terhadap pasar modal sehingga ketika ditemukan adanya praktek manajemen laba akan direspon secara negatif khususnya manajemen Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 laba oportunis. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Kamil dan Hapsari . dan Darwis . yang menyatakan bahwa discretionary accrual tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Pengaruh Komposisi Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaa Berdasarkan hasil uji statistik komposisi komisaris independen memiliki nilai P-Value sebesar 0,007 terhadap nilai perusahaan atau lebih kecil dari 0,05 sehingga ditemukan adanya pengaruh signifikan komposisi komi saris independen terhadap nilai perusahaan, dengan nilai original sample sebesar -0,313 atau pola pengaruhnya negatif, artinya setiap kenaikan nilai persentase komposisi komisaris independen 1% akan menurunkan nilai Price to Book Value (PBV) 0,313 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komposisi komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap nilai peusahaan dan hipotesis 4 tidak didukung. Penelitian ini menunjukkan bahwa teori sinyaling yang menyatakan komposisi komisaris independen yang tinggi mampu meningkatkan fungsi pengawasan terhadap tata kelola perusahaan sehingga memberikan keyakinan stakeholders untuk meningkatkan investasinya dan nilai perusahaan meningkat tidak terbukti kebenaranya. Penelitian ini mendukung penelitian Perdana dan Raharja . yang menemukan pengaruh negatif komposisi komisaris independen terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa stakeholders pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 akan memberikan respon negatif terhadap peningkatan persentase komisaris independen karena posisi komisaris independen tidak diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kompetensi seperti keberadaan purnawirawan yang mengisi jabatan tersebut dan peran dominan pemegang saham yang terlibat dalam politik praktis. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Putra . yang menemukan bahwa komposisi komisaris independen memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Pengaruh Kualitas Laba Terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan hasil uji statistik kualitas laba dengan proksi volatilitas laba memiliki nilai P-Value sebesar 0,767 terhadap nilai perusahan atau lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ditemukan adanya pengaruh signifikan kualitas laba terhadap nilai perusahaan, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas laba tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan dan hipotesis 5 tidak didukung. Penelitian ini mengindikasikan bahwa teori sinyaling yang menyatakan indikator dari kualitas informasi dan akan direspon baik oleh stakeholders sehingga mampu meningkatkan nilai perusahaan tidak terbukti. Penelitian ini mendukung penelitian Gamayuni . yang menyatakan bahwa kualitas laba tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaa. Volatilitas laba sebagai proksi kualitas laba tidak akan direspon oleh stakeholders selama menunjukan keadaan yang sebenarnya bukan dari praktek manajemen laba yang oportunis. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Saiallagan dan Machfodz . dan Jonathan dan Machdar . yang menyatakan bahwa kualitas memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Peran Mediasi Kualitas Laba Dalam Hubungan Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan Hasil uji hipotesis digambarkan dalam Tabel 10. Tabel 10 menunjukkan bahwa: Peran mediasi Kualitas Laba Dalam Hubungan Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa manajemen laba (X. memiliki nilai original sample . oefisien pat. secara langsung terhadap nilai perusahaan sebesar -0,154 sedangkan pengaruh tidak langsung manajemen laba (X. melalui kualitas laba (Y) terhadap nilai perusahaan (Z) sebesar0,154 x -0,030 = 0,005 maka pengaruh totalnya yang diberikan manajemen laba Pengaruh Manajemen Laba Dan Komposisi Komisaris Independen . - Sulaeman Tabel 10 Gambaran Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langusng Serta Pengaruh Total Variabel Independen Melalui Variabel Intervening terhadap Variabel Dependen Uraian X1 E Y E Z X2 E Y E Z Peng. Langsung XEZ -0,154 -0,313 Peng. Tidak Langsung (X E Z) x (Y E Z) 0,005 0,009 Peng. Total -0,149 -0,304 Sumber : SmartPLS, 2019 . Keterangan: X1 = Manajemen Laba (Discretionary Accrua. X2 = Komposisi Komisaris Independen Y = Kualitas Laba (Volatilitas Lab. Z = Nilai Perusahaan (Price to Book Valu. (X. terhadap nilai perusahaan (Z) sebesar -0,154 0,005 = -0,149. Berdasarkan perhitungan Tabel 10 maka pengaruh tidak langsung lebih besar dari pengaruh langsung sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas laba memiliki pengaruh signifikan dalam mediasi hubungan pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahan (Z) sehingga hipotesis 6a didukung. Penelitian ini menunjukan bahwa manajemen laba opotunis yang mengakibatkan volatilitas laba yang tinggi akan direspon negatif oleh stakeholders karena tidak mencerminkan laba yang sebenarnya atau laba yang tidak persisten . dak berkelanjuta. Penelitian ini memiliki referensi yang terbatas sehingga tidak ditemukan adanya penelitian terdahulu yang mendekati penelitian ini. Peran Mediasi Kualitas Laba Dalam Hubungan Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan. Hasil uji statistik menunjukan bahwa komposisi komisaris independen (X. memiliki nilai original sample . oefisien pat. secara langsung terhadap nilai perusahaan sebesar -0,313 sedangkan pengaruh tidak langsung komposisi komisaris independen (X. melalui kualitas laba (Y) terhadap nilai perusahaan (Z) sebesar -0,313 x -0,030 = 0,009 maka pengaruh totalnya yang diberikan komposisi komi- saris independen (X. terhadap nilai perusahaan (Z) sebesar -0,313 0,030 = 0,304. Berdasarkan perhitungan di atas maka pengaruh tidak langsung lebih besar dari pengaruh langsung sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas laba memiliki peran mediasi yang signifikan dalam hubungan pengaruh komposisi komisaris independen (X. terhadap nilai perusahaan (Z) sehingga hipotesis 6b Penelitian ini menunjukan bahwa fungsi pengawasan yang efektif komisaris independen tidak mampu mencegah volatilitas laba yang tinggi sehingga direspon negatif oleh stakeholders karena tidak mencerminkan tata kelola yang tidak baik. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Siallagan dan Machfoedz . yang menyatakan bahwa kualitas laba tidak memiliki peran mediasi dalam hubungan pengaruh dewan komisaris terhadap nilai perusahaan. SIMPULAN. DAN SARAN Simpulan Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan yang masuk dalam indek LQ45 Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan analisis jalur ditemukan bahwa: Manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas laba dan hipotesis tidak didukung. Perusahaan yang masuk Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 188 Ae 205 dalam Indeks LQ45 cenderung melakukan praktek manajemen laba yang efisien . ncome smoothin. untuk menjaga volatilitas laba yang rendah sehingga kualitas laba tetap terjaga. Komposisi komisaris independen memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap kualitas laba dan hipotesis tidak didukung. Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 memiliki fungsi pengawasan yang tidak efektif karena komisaris independen tidak memiliki kapabilitas dan kompetensi dalam bidang akuntansi atau keuangan. Manajemen laba memiliki pengaruh negatif terhadap nilai dan hipotesis didukung. Stakeholders pada perusahaan yang masuk dalan Indeks LQ45 cenderung memiliki pemahaman yang baik terhadap pasar modal sehingga ketika ditemukan adanya praktek manajemen laba akan direspon secara negatif khususnya manajemen laba oportunis. Komposisi komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan dan hipotesis tidak didukung. stakeholders pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 akan memberikan respon negatif terhadap peningkatan persentase komisaris independen karena posisi komisaris independen tidak diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kompetensi seperti keberadaan purnawirawan yang mengisi jabatan tersebut dan peran dominan pemegang saham yang terlibat dalam politik praktis. Kualitas laba memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai perusahaan dan hipotesis tidak didukung. Volatilitas laba sebagai proksi kualitas laba tidak akan direspon oleh stakeholders selama menunjukan keadaan yang sebenarnya bukan dari praktek manajemen laba yang oportunis. Kualitas laba memiliki peran mediasi dalam hubungan pengaruh manajemen laba dan komposisi komisaris independen terhadap nilai perusahaan sehingga hipotesis didukung. Keterbatasan Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia sehingga hasilnya tidak mampu mengeneralisir semua perusahaan publik yang ada di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Komposisi komisaris independen dalam penelitian ini hanya diukur berdasarkan rasio komisaris independen terhadap dewan komisaris sehingga peran pengawasan komisaris independen tidak mempertimbangkan kapabilitas dan karakteristik dari komisaris independen. Kualitas laba hanya diproksikan dengan volatilitas laba padahal terdapat proksi lain yang dapat dijadikan sebagai indikator kualitas laba. Saran Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan Menggunakan sampel dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga hasilnya bisa mengeneralisasi perusahaan publik di Indonesia atau dapat dikelompokkan berdasarkan jenis usaha perusahaan untuk mendeteksinya adanya hasil yang bervariasi pada jenis usaha tertentu. Menggunakan pengalaman komisaris independen, gender dan latar belakang pendidikan selain persentase komposisi komisaris independen sehingga komposisi komisaris independen yang digunakan dalam penelitian ini menjadi lebih mendalam dan hasilnya dapat lebih baik atau data juga menggunakan mekanisme GCG. Menggunakan atau Menambahkan indikator Earnings Response Coefficient (ERC). Earnings Persintence untuk mengukur kualitas laba selain volatilitas laba. DAFTAR PUSTAKA