Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 REKONSTRUKSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN SALAFI DI ERA MODERN Ida Amelia1. Reni Astuti1. Mumu Zainal Mutaqin2. Muhammad Arifin3 1,1,2,3 Universitas MathlaAoul Anwar. Banten *alamat email koresponden: Idaamelia24@gmail. com1, reni92836@gmail. mutaqin@gmail. com2, novarifin@gmail. Doi: https://doi. org/10. 56406/jurnalkajianislammodern. ABSTRACT This research aims to dig deeper into the reconstruction of the Salafi Islamic boarding school education system in the face of global challenges and modernization, the education system implemented by kiai and educators in salafi Islamic boarding schools must be created to be able to follow the flow of change. The challenges and opportunities brought by globalization must be faced by Islamic boarding schools wisely. So that it can ensure that Islamic boarding school graduates can compete in the global community. The research method used in this study is a descriptive method with a qualitative approach. The data collection technique used is a literature study, which is to review various literature, both in the form of books and scientific articles, related to research topics. The things that need to be reconstructed from the salafiyah pesantren education system to catch up in facing the demands of change in the midst of the rapid flow of modernization and globalization include, . changing the leadership pattern/paradigm from charismatic to rationalistic and from authoritarian-paternalistic to diplomatic, . improving the curriculum structure with a more broad orientation, . changing the scientific paradigm of pesantren from a verbalistic approach and dogmatic to a critical and innovative attitude, . making business activity and skills education programs, . facilitating access to media and information about the development of the times. Keywords Recontruction of Salafi Islamic Boarding School Education System. Modern Era ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menggali lebih dalam tentang rekonstruksi sistem pendidikan pesantren salafi dalam menghadapi tantangan global dan modernisasi, sistem pendidikan yang diterapkan oleh kiai dan pendidik di pesantren salafi harus dicipta untuk mampu mengikuti alur perubahan tantangan dan peluang yang dibawa oleh globalisasi harus dihadapi oleh pesantren dengan bijak. Sehingga dapat memastikan bahwa lulusan pesantren dapat bersaing di Masyarakat global. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, yakni mengkaji berbagai literatur, baik berbentuk buku maupun artikel ilmiah, yang berkaitan dengan topik penelitian. Adapun hal-hal yang perlu di rekonstruksi dari sistem pendidikan pesantren salafiyah untuk mengejar ketertinggalan dalam menghadapi tuntutan perubahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi di antaranya adalah, . mengubah pola/paradigma kepemimpinan dari karismatik ke rasionalistik dan dari otoriterpaternalistik ke diplomatikpastisipatif, . memperbaiki struktur kurikulum dengan orientasi yang lebih meluas, . mengubah paradigma keilmuan pesantren dari pendekatan verbalistis dan dogmatis kepada sikap kritis dan inovatif, . membuat program kegiatan usaha dan pendidikan keterampilan, . memfasilitasi akses media dan informasi seputar perkembangan zaman. Kata Kunci Rekontruksi Sistem Pendidikan Pesantren Salafi. Era Modern Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDAHULUAN Pesantren sudah merasakan dampak globalisasi saat era modernisasi. Ini terutama berlaku untuk lingkungan pesantren atau lembaga pendidikan. Pesantren atau lembaga tersebut mempengaruhi pemahaman keagamaan masyarakat di sekitar pesantren. Penilaian juga menggunakan ide-ide keilmuan yang dikembangkan (Asyar, 2. Menurut KH. Ahmad Dahlan, tujuan utama dari pendidikan Islam adalah untuk menghasilkan umat yang berkarakter, berilmu, terbuka dalam keyakinan, dan mampu memahami masalah modern. Selain itu, tujuan pendidikan agama Islam adalah agar masyarakat dapat mengabdi dan berkontribusi kepada masyarakat (Sri Rezki, 2. Melalui proses pembelajaran kitab kuning, pondok pesantren memiliki peran penting dalam membangun karakter manusia yang baik dan nilai-nilai Islam. Masjid berfungsi sebagai pusat lembaga dan Kyai dianggap sebagai figur utama. Kualitas Kyai ditentukan oleh kualitas pendidikan pesantren. Dengan demikian. Kyai akan cepat menanggapi jika ada yang mengatakan bahwa pendidikan santri tidak berkualitas, dengan mengubah semua aspek untuk memenuhi kebutuhan Masyarakat (Hidayah ,2. Di tengah pergulatan masyarakat informasional, pesantren tidak dapat hanya berbangga dengan mampu bertahan dengan model pendidikan yang kontroversial tanpa menghasilkan produk unggul dan kompetitif, khususnya untuk peningkatan kualitas sistem pendidikannya. Pesantren harus mampu menjawab tantangan modernitas dengan memasuki ruang kontestasi dengan institusi pendidikan modern, terutama dengan banyaknya pendidikan berlabel internasional, yang menghasilkan semakin banyak siswa yang tidak puas dengan sistem pendidikan mereka (Hasan Ruzakki, 2. Adapun pada hari-hari kemarin banyak opini negatif terhadap kemajuan pondok pesantren, bahwa pondok pesantren dinilai tidak responsif terhadap perkembangan zaman, sulit menerima perubahan . , dengan tetap mempertahankan pola pendidikannya yang tradisional . pondok pesantren menjadi semacam institusi yang cenderung eksklusif dan isolatif dari kehidupan sosial umumnya. Belum lagi doktrinasi atas imajinasi-imajinasi keilmuan yang hanya dibatasi pada hubungan relasionalitas antara kitab kuning, barokah, karomah dan Gencarnya cemoohan yang melanda dunia pesantren tradisional telah mengiringi pergeseran era modernisasi yang berjalan begitu cepat (Wakidatul, 2. Sedangkan di era saat ini, perencanaan yang akurat, strategi bersaing, tata kelola yang akuntabel, dan integritas akademik institusi pendidikan semuanya diperlukan (Rahman, 2. Berangkat dari pendapat sementara orang mengenai lembaga pendidikan yang dikenal dengan pondok pesantren salafiyah, maka tulisan ini akan mengkaji tentang AuRekontruksi Sistem Pendidikan Pesantren Salafi Di Era ModernAy. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, yakni mengkaji berbagai literatur, baik berbentuk buku maupun artikel ilmiah, yang berkaitan dengan topik penelitian. Informasi yang didapat dari berbagai sumber lalu dikumpulkan, ditelaah kemudian diambil Kesimpulan sehingga menghasilkan informasi yang sesuai dengan studi kajian pustaka yang telah dilakukan (Sugiyono, 2. Di sini penulis hanya memfokuskan terhadap rekonstruksi sistem pendidikan pesantren modern di era modern. Bagaimana dinamika pesantren salafi, bagaimana tantangan yang harus dihadapi dan langkah apa yang harus dilakukan oleh pondok pesantren salafi agar mampu beradaptasi di era modern sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing dalam ranah yang global. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Pesantren Salafi Pondok pesantren adalah tempat pendidikan Islam tradisional di mana siswa tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang atau lebih guru, biasanya disebut Kyai (Anonim, 2. Menurut Imam Zarkasyi, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dengan struktur asrama atau pondok di mana Kyai merupakan sosok sentralnya. Masjid merupakan pusat aktivitasnya, dan tujuan utamanya adalah mengajarkan ajaran Islam kepada santri di bawah bimbingan Kyai (Gatot Krisdiyanto, 2. Selama bertahun-tahun, pesantren telah memiliki sejarah yang luar biasa dalam membangun, meningkatkan, dan mengembangkan masyarakat di sekitarnya. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang unik karena sejarah panjangnya, serta budaya, metode, dan jaringan agama yang ditetapkan oleh lembaga tersebut. Oleh karena itu. Clifford Geertz . menyebutnya sebagai sub-kultur masyarakat Indonesia karena keunikan tersebut. hususnya Jaw. Saat ini, arus globalisasi yang cepat dapat mengubah semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan, yang pasti akan berdampak pada sistem pendidikan pesantren. Penting bagi pesantren untuk tetap berfungsi sebagai pengimbang . dari pendidikan umum di tengah konflik sistem pendidikan nasional yang mengutamakan pendidikan umum. Akibatnya, pesantren mengambil tindakan penyesuaian yang bermanfaat bagi siswa dan mendukung keberlanjutan pesantren. Contoh tindakan ini termasuk penjenjangan . , kurikulum yang direncanakan, jelas, dan teratur (Iryana, 2. Pesantren mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu, sehingga ada yang bergaya modern dan yang bergaya salaf. Pesantren salaf hanya memberikan ilmu agama Islam kepada siswanya, sedangkan pesantren modern menerapkan prinsip-prinsip modern dalam pendidikan dan pengelolaan dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Ling . Penamaan "pondok pesantren salaf" mengacu pada pesantren yang tidak memberikan pendidikan formal seperti sekolah atau madrasah. Jika pendidikan keagamaan dijalankan melalui sistem berkelas, kurikulumnya akan berbeda dari kurikulum model sekolah atau madrasah umumnya (Tohir, 2. Beberapa hal yang sering terjadi di pesantren salafiyah termasuk: Pertama dan terpenting, sistem pembelajaran. Sudah umum bahwa pesantren menggunakan sistem pembelajaran klasik. Sistem pembelajaran ini diambil dari sistem di Asia Barat, juga dikenal sebagai "timur tengah", yang mencakup Jazirah Arab. Mesir. Palestina, dan sebagian Benua Afrika. Namun, sistem ini telah dihapus di negara asalnya oleh gelombang pembaharuan pada akhir abad ke-19. Kedua, mekanisme manajemen pondok pesantren. Pondok pesantren tidak memiliki struktur organisasi yang jelas. Pondok pesantren seperti kerajaan kecil dengan Kyai sebagai raja dan Nyai sebagai Segala aturan di pesantren terpusat pada Kyai. Begitu juga, proses belajar mengajar, mulai dari metode, kitab yang dibacakan, hingga waktu pelaksanaan, semuanya merupakan keputusan penuh Kyai. Selanjutnya, teknologi. Sampai dewasa ini, pesantren termasuk institusi yang menahan diri dari teknologi. Contohnya adalah perangkat elektronik seperti TV dan radio, meskipun alat tersebut memiliki banyak manfaat dan harus diakui bahwa mereka memiliki efek negatif (Iryana, 2. Sebagai pemilik pesantren. Kiai sangat menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang berkualitas tinggi kepada para santrinya. Hal ini dapat dilihat dari cara kiai mengajarkan agama kepada para pengikutnya. Dalam mengajar, kiai menggunakan metode "sorogan", yang berarti kiai mendengarkan dan santri membaca kitab, sehingga kiai dapat memperbaiki kesalahan segera. Metode ini sangat efektif karena pembelajaran ini dilakukan secara individual, sehingga kiai dapat mengontrol kualitas pendidikan. Kiayi juga menggunakan metode "bandugan", di mana mereka membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan kitab yang Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Muhafadzah, atau menghafal, sebagai model pembelajaran inti adalah pendekatan Demikian pula, masyarakat sangat menghargai kualitas guru. Mereka dianggap sebagai anggota masyarakat yang terpelajar dalam hal agama, sholih dalam hal taat beribadah, dan terpercaya dalam hal perilaku terpelihara. Ketika banyak orang yang lulus dari pesantren menjadi ulama, ustaz, atau Kyai terkenal, minat masyarakat terhadap pesantren meningkat (Hanafi, 2. Urgensi Sistem Pendidikan Pesantren Salafi di Era Modern Sistem berasal dari kata Yunani systema, yang berarti AusehimpunanAy bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Jika pendidikan dilihat sebagai suatu sistem, maka dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang berfungsi bersama untuk mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan. Sistem pendidikan biasanya didefinisikan sebagai suatu metode atau pendekatan untuk melaksanakan proses pendidikan dengan tujuan agar siswa dapat secara aktif mengembangkan potensi diri mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan diri mereka sendiri. Setiap sistem pasti memiliki tujuan, dan semua kegiatan yang dilakukan oleh setiap komponen atau bagian-bagiannya dimaksudkan untuk mencapai tujuan tersebut. Akibatnya, proses pendidikan adalah sebuah sistem yang dikenal sebagai sistem pendidikan (Rabbani, n. Pendidikan adalah pembelajaran tentang nilai dan martabat manusia yang bertahan sepanjang hidup. Pendidikan akan terus berkembang dan banyak mengalami transformasi, terutama untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman ini. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus dibuat untuk mampu mengikuti alur perubahan tersebut. Jika tidak, sistem pendidikan akan ketinggalan zaman setiap saat. Contohnya adalah pendidikan untuk masyarakat, yang dirancang untuk mengikuti kebutuhan dan perubahan masyarakat. Misalnya, pendidikan dirancang untuk sesuai dengan irama perkembangan masyarakat agraris dan kebutuhan masyarakat saat itu. Pendidikan dirancang untuk mengikuti perkembangan dan kebutuhan masyarakat selama era industri dan informasi. Siklus ini menunjukkan betapa pentingnya perkembangan dan perubahan sistem pendidikan. jika tidak, pendidikan akan ketinggalan zaman dengan cepat. Dengan demikian, perubahan yang dilakukan pada sistem pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa itu, termasuk proses, fungsi, materi, kurikulum, konsep, dan tujuan lembaga pendidikan (Maktumah, 2. Dunia pesantren merupakan salah satu subjek penelitian dalam pendidikan klasik dan Pesantren adalah lembaga pendidikan unik di Indonesia yang didirikan atas kesadaran masyarakat dan kemandirian. Tidak mengherankan bahwa sejak awal, telah menjadi potensi dan pusat pendidikan Indonesia. (Nur Khasanah, 2. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, pesantren disebutkan sebagai AuLembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan Diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnyaAy (Anam, 2. Belakangan ini, stigma negatif tentang pesantren sering muncul. Misalnya, orang percaya bahwa pesantren hanyalah sistem pendidikan yang menggunakan wetonan, bandongan, dan halaqah untuk mengajarkan kitab kuning. Menurut Dadan Darmawan . Memang, pesantren model ini menghasilkan murid yang sadar diri, mandiri, dan mahir dalam ilmu Namun, mereka memiliki kekurangan, seperti tidak kompetitif dalam dunia modern (Rohman, 2. Kehadiran pondok pesantren di era kontemporer merupakan fenomena pendidikan unik. Pesantren harus bijak menghadapi tantangan dan peluang globalisasi (Nugroho, 2. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 menjamin bahwa lulusan pesantren dapat berpartisipasi dalam masyarakat global. Akibatnya, pesantren harus terus beradaptasi dan berinovasi. Menjaga prinsip tradisional sambil menanggapi perubahan Prinsip "mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik" harus menjadi panduan yang harus diikuti oleh pesantren untuk beradaptasi dengan era modern (Nurhadi Hizbullah, 2. Pondok pesantren salaf menghadapi tantangan yang semakin kompleks saat berusaha mempertahankan eksistensinya di tengah modernisasi yang berkembang. Di bidang pendidikan, teknologi, dan sosial budaya, modernisasi membawa perubahan besar (Aziz. Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi pesantren untuk mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan pendekatan tradisional dengan kemajuan teknologi, sehingga pesantren tetap menjadi pilihan utama bagi generasi muda yang ingin mendapatkan pendidikan agama yang kuat, sekaligus memahami perkembangan dunia luar. Adanya rekonstruksi dalam sistem pendidikan pesantren akan memungkinkan lembaga ini tetap relevan, mendidik karakter dan mengajarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang lebih menarik dan efektif bagi generasi milenial dan gen Z yang kini menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia (A Yasin Nahrowi, 2. Dalam menghadapi tantangan modernisasi yang demikian itu, dunia pesantren memiliki upaya , yang secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut : (Budiyanto, 2. Dalam menghadapi kemajuan IPTEK Sistem pendidikan pesantren harus selalu dibangun kembali jika mereka ingin pemahaman ajaran mereka tetap relevan dan hidup. Mereka juga harus mampu membangun sistem pendidikan yang sinergik, yang memadukan elemen modernitas dan tradisi. Dalam menghadapi budaya barat Pesantren dianggap sebagai lembaga pendidikan yang paling efektif dalam membentuk karakter bangsa dalam menghadapi budaya Barat yang hedonistik, materialistik, pragmatis, dan sekularistik yang berdampak pada dekadensi moral. Melalui nilai religiulitas yang berbasis pada ajaran tasawuf dan di bawah pengawasan langsung Kyai, pesantren dapat secara efektif membentuk karakter atau akhlak mulia para santri. Dalam menghadapi tuduhan miring Selama dua puluh tahun terakhir, baear membuat tuduhan miring terhadap pesantren. Misalnya, menyatakan bahwa pesantren adalah tempat di mana teroris atau kaum radikal Para pemimpin pondok pesantren saat ini, seperti KH. Hasyim Mujadi dan KH. Sahal Mahfudz, mengutamakan pemahaman Islam yang moderat, toleransi . , dan inklusif dalam menghadapi tuduhan tersebut. Dalam mengembangkan ilmu agama Pesantren telah menjadi pusat perhatian masyarakat sejak awal untuk menemukan solusi atas berbagai masalah agama yang mereka hadapi. Rekonstruksi Sistem Pendidikan Pesantren Salafiyah Seperti telah dijelaskan, sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren memilahkan secara tegas aspek pengembangan intelektual dan aspek pembinaan kepribadian. Sistem pendidikan pesantren lebih mengutamakan pembinaan kepribadian daripada pengembangan intelektual, sehingga daya kritis dan kepedulian untuk menawarkan konsep keilmuan tidak muncul dari pesantren. Akibatnya output pesantren tidak banyak berubah, sementara kecenderungan masyarakat telah berubah seiring dengan perjalanan waktu, tantangan kemajuan, serta tantangan globalisasi. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Pesantren harus responsif terhadap perubahan yang terjadi, tidak bisa bersikap isolatif dalam menghadapi tantangan perubahan tersebut. Respons yang positif adalah dengan memberikan alternatif-alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan santri dalam menghadapi era global yang membawa persoalan-persoalan makin kompleks sekarang ini. Respons yang tidak kondusif seperti isolatif ini akan menjadikan pesantren mengalami kelemahan dan kemunduran, yang pada gilirannya akan ditinggalkan oleh masyarakat. Adapun hal-hal yang perlu direkonstruksi dari sistem pendidikan pesantren salafiyah untuk mengejar ketertinggalan dalam menghadapi tuntutan perubahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi adalah sebagai berikut: (Iryana, 2. Pola Kepemimpinan Paradigma kepemimpinan pesantren harus diubah dari kharismatik ke rasionalistik dan dari otoriter-paternalistik ke diplomatik-pasisipatif untuk memenuhi tuntutan perubahan Misalnya, dengan membentuk dewan kiai atau dewan guru sebagai bagian dari unit kerja administrasi untuk mengelola dan menyelenggarakan pesantren, pusat kekuasaan tidak terlalu terpusat pada kiai, tetapi lebih terdistribusi di kalangan elite pesantren. Saat ini, pemimpin pesantren membutuhkan pemimpin yang fleksibel dan responsif yang peka terhadap kebutuhan siswa, komunitas pesantren, dan masyarakat secara keseluruhan. Pemimpin pesantren yang fleksibel dan responsif selalu berpegang pada prinsip bahwa pesantren adalah lembaga yang memberikan pelayanan kepada komunitasnya, yang terdiri dari santri, wali santri, dan masyarakat umum. Pemimpin pesantren yang dapat diadaptasi akan selalu terbuka terhadap ide-ide baru dan reformatif. Struktur Kurikulum Kurikulum pesantren salafiyah telah menyempit. Kitab-kitab aqa 'id, fiqh, tasawuf, nahwusharaf, tafsir, dan hadits biasanya merupakan satu-satunya bidang keahlian di pesantren. Namun, di pesantren-pesantren salafiyah ini, kitab-kitab tentang tafsir, mushthalah hadits, ushul fiqh, manthiq, dan balaghah kurang diprioritaskan. Meskipun demikian, ilmu-ilmu ini sangat mendasar karena menjadi landasan bagi ilmu-ilmu furu'iyah lainnya. Untuk memahami tafsir, membandingkannya dengan tafsir lain, dan bahkan membuat tafsir sendiri, ilmu tafsir sangat penting. Ushul fiqh sangat penting untuk mempelajari dalil-dalil, menilai argumen para mujtahid, dan bahkan merekonstruksi hukum yang belum dibahas oleh para ulama masa lalu karena belum muncul. Ilmuwan Matnhiq sangat penting sebagai cara berpikir formal untuk menemukan kebenaran ilmiah. Untuk mendalami bahasa Arab dan ketinggian Alquran, ilmu balaghah juga sangat penting. Meskipun kitab-kitab ushul fiqh diajarkan di hampir semua pesantren salafiyah, kebanyakan dari mereka hanya melihat ushul fiqh sebagai pelengkap pelajaran dan tidak atau bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membuat dan merekonstruksi hukum. Oleh karena itu, sebagian besar pesantren hanya dapat mencetak kaderkader pengikut madzhab dengan metode taqlid. Akibatnya, santri kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan inovatif dan tidak dapat menghasilkan ide baru. Selain banyak mata pelajaran mendasar yang kurang mendapat perhatian, pelajaran kitabkitab yang telah dipelajari masih menyisakan banyak masalah yang hampir tidak dapat Dalam bidang aqa'id, kebanyakan pesantren salafiyah hanya mempelajari kitabkitab yang beraliran ahlussunnah dan terbatas pada kitab-kitab Al-Asy'ariyah dan alMaturudiyah. Namun, banyak kitab aqa'id yang berhaluan selain Al-Asy'ariyah dan alMaturudiyah, sehingga santri juga dianggap harus mengetahui kitab-kitab aqa'id yang berhaluan selain ahlussunnah. Kursus fiqh juga dikurangi. Sebagian besar pesantren hanya mempelajari buku-buku fiqh yang berafiliasi dengan madzhab Imam Syafi'i. Namun, kalangan pesantren pada umumnya Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 hampir tidak pernah menyentuh kitab-kitab fiqh bermadzhab Hanafi. Maliki. Hambali, dan Namun, hal ini tidak perlu menyebabkan para santri, para ulama, dan umat Islam pada umumnya menjadi fanatik. Dalam tasawuf juga. Dalam kebanyakan pesantren, tasawuf didefinisikan hanya sebagai tarekat, suluk, dan wirid. Tasawuf sekarang beralih ke ritual murni. Tasawuf fokus pada aspek formal, seperti wirid dan penggunaan simbol sufi, bahkan terkadang orang menghabiskan banyak waktu untuk wirid dan mujahadah. Selain itu, mereka percaya bahwa tasawuf adalah tentang kesederhanaan dan penyiksaan diri, jauh dari kesenangan duniawi yang ditandai oleh perut lapar, pakaian jelek, rumah gubuk, dan lain sebagainya. Akibatnya, sikap keagamaan mereka menjadi statis, ketinggalan zaman, dan mereka menghadapi kendala dalam pekerjaan dan profesi mereka. Dengan mempertimbangkan uraian kurikulum di atas, struktur kurikulum harus diperbarui dan diperbaiki untuk memenuhi kebutuhan siswa dan masyarakat. Ini termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Agar pendidikan pesantren menjadi lebih efektif, kegiatan penelitian yang tepat harus dilakukan sebelum perencanaan kurikulum pesantren. Kajian kebutuhan tersebut harus dikaitkan dengan tuntutan era global, terutama pendidikan yang berbasis kecakapan hidup yang akrab dengan lingkungan kehidupan santri. Metode pembelajaran kontekstual dan kecerdasan majemuk harus digunakan saat kurikulum dijalankan. Namun, evaluasi harus mencakup semua kemampuan siswa, termasuk kecerdasan emosional, intelektual, spiritual, sosial, dan mental, antara lain. Sehubungan dengan itu, maka dipandang perlu di pesantren salafiyah diajarkan kitab-kitab yang lain selain yang telah disebutkan di atas. Dalam bidang tafsir seperti tafsir al-Manar . arya Rasyid Ridl. , tafsir al-Maraghi . arya Mushthafa al-Maragh. , tafsir al-Kasysyaf . arya Zamakhsyar. , tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an . arya Imam al-Qurthub. , tafsir al-Durr alMantsurfi al-Tafsir bi al-Ma'tsur . arya Jalaluddin al-Suyuth. , dan lain-lain. Dalam bidang aqa'id seperti Fathul Majid . arya Ibnu al-Qoyyi. Risalah al-Tauhid . arya Muhammad Abdu. Majmu 'ah al-Tauhid . arya Syekh Muhammad bin Abdul Wahha. , al-Milal waalNihal . arya Syaharstan. , dan lain-lain. Dalam bidang fiqh seperti Bidayah al-Mujathid . arya Ibnu Rusyd. , ul-Fatawa al-Kubra . arya Ibnu Taimiya. , al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah . arya Abdurrahman al-Jazir. Minhaj al-Muslim . arya Abu Bakar Jabir al-Jazair. Nail alAuthar . arya al-Syaukan. Fiqh al-Sunnah . arya Sayyid Sabi. , al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh . arya Wahbah al-Zuhail. , dan lain-lain. Daiam bidang tasawuf seperti alRisalah alQusyairiyah (Karya Abul Qasim al-Qusyair. Tradisi Keilmuan dan Sistem Pengajaran Masyarakat pesantren percaya bahwa ajaran-ajaran yang didukung oleh kitab-kitab salaf . uga dikenal sebagai kitab kunin. terus menjadi pedoman hidup yang sah dan relevan sepanjang masa. Hal ini mungkin tidak benar karena kitab-kitab tersebut ditulis oleh para ulama pada waktu, tempat, dan kondisi yang berbeda dari yang ada sekarang. Bukankah pesantren sendiri yang senang membaca kaidah "taghayyur al-fatwa bi taghayyur al-amkinah wa alozmina", yang menyatakan bahwa fatwa dapat berubah karena waktu dan tempat. Sikap seperti ini muncul di pesantren mungkin karena tradisi keilmuan dan sistem pengajaran yang telah ada sejak lama. Dalam pondok pesantren, sistem sorogan dan wetonan, yang didasarkan pada gramatikal . ahwu-shara. , mendominasi pendidikan santri dengan menghafal . , secara verbalisme, teks kitab tertentu dan kosa kata, dan hanya mendapatkan penjelasan dogmatis dari kiainya. Bahkan menurut pendidikan modern, pendidikan pesantren tradisional adalah jenis pendidikan di mana siswa hanya bergantung pada guru dan hanya membaca buku (Maftuh, 2. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Meskipun metode pengajaran seperti itu memiliki beberapa keuntungan, ada juga banyak konsekuensi negatifnya. Salah satu konsekuensi utama dari sistem verbalisme dan dogmatisme ini adalah bahwa pikiran santri menjadi stagnan dan tidak memiliki sikap kritis atau kemampuan untuk berpikir kreatif. Karena karakter hafalan adalah keharusan untuk secara dogmatis membandingkan apa yang dihafal dengan teks aslinya. Jika seorang guru atau kiai salah sedikit, dia akan dihukum. Dengan demikian, budaya kritis dalam sistem pengajaran pesantren salafiyah hampir tidak ada, baik dalam hal materi kitab yang dipelajari maupun penjelasan dari kiai. Mereka yang tinggal di pesantren percaya bahwa berpikir kritis adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh santri. Jika seorang santri kritis terhadap kitab atau penjelasan kiainya, dia dianggap tidak beretika . u'ul ada. , tidak menghormati kiai . , ia pasti kualat, dan sebagainya. Di negara kita, budaya kritis dalam dunia keilmuan masih sangat lemah, baik di pesantren salafiyah maupun di lembaga pendidikan formal. Tilaar mengoreksi bahwa pendidikan di negara kita berasal dari sistem pendidikan lama yang berfokus pada menghafal fakta tanpa arti. Pembelajarannya sama dengan menuangkan air ke dalam botol, jadi tidak banyak berpengaruh pada kemampuan kreatifnya. 2 Kemungkinan besar yang dimaksud dengan sistem pendidikan lama oleh Tilaar itu adalah sistem pendidikan Islam, yakni sistem pendidikan pesantren, karena sebagaimana telah dikemukakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Dengan demikian, paradigma pemikiran seperti itu tidak lagi relevan dengan tuntutan perubahan dan peradaban kontemporer. Jadi, pesantren harus bersemangat untuk mengubah paradigma keilmuannya. Mereka harus beralih dari pendekatan verbalistis dan dogmatis ke pendekatan yang lebih kritis dan kreatif. Bukti pengelolaan pesantren salaf yang apa adanya adalah tenaga pengajar pesantren yang belum dipersiapkan secara sistematis sebagai ustadz profesional yang menguasai maddah dan sekaligus mampu mempraktikkan metode . pembelajaran yang baik. Hal lain yang membuktikan lemahnya pengelolaan pesantren salaf adalah jaringan sebagian pesantren juga diakui lemah, baik jaringan dengan sesama pesantren seacara umum, masyarakat, pengusaha, maupun pemerintah. komunikasi yang dilakukan pesantren kurang intensif dan efektif. Hal lain yang bisa dijadikan bukti adalah rendahnya pengelolaan pembelajaran di pesantren salaf bisa dilihat dari terbatasnya sarana dan prasarana yang dimilikinya. Padahal jika pesantren salaf juga mampu meyakinkan stake holder bahwa ia mampu menyiapkan santri yang berkualitas maka pesantren tersebut akan mudah membangun jaringan yang kuat, yang memungkinkan kebutuhannya akan sarana dan prasarana terpenuhi dengan baik. Menurut Tirtarahardja . , hal ini telah terbukti di beberapa pesantren salaf yang makmur dan sukses, yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan dana dari masyarakat melalui wakaf dan metode Menurut Hasbi . , meskipun pesantren salaf memiliki kelemahan, sebagian besar tetap populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Selain itu, pesantren salaf memiliki figur yang menarik, mampu mempertahankan kualitas pendidikan, berkonsentrasi penuh pada pengembangan siswa, dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat dan pemerintah (Anwar, 2. Kegiatan Usaha dan Pendidikan Keterampilan Kegiatan di pesantren salafiyah biasanya terbatas pada pengajaran dan upacara Namun, pesantren ini hampir tidak memprogramkan keterampilan hidup yang diperlukan para santri saat mereka kembali ke masyarakat. Meskipun dunia semakin maju dan arena pertempuran terus terjadi. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Pesantren harus memahami bahwa untuk bertahan hidup di era modern, tidak cukup hanya menjadi imam masjid atau guru ngaji dan bergantung pada bantuan masyarakat. Hampir semua orang yang keluar dari pesantren salafiyah tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak belajar di masyarakat, tetapi pergi ke kota besar bersama saudaranya untuk belajar usaha. Karena ekonomi mereka tidak stabil, mereka tidak mau mengajar agama di desa tempat mereka dibesarkan. Kultur masyarakat modern telah berubah. Orang yang tidak memiliki agama tetapi berhasil menjadi pengusaha dihormati lebih dari orang yang memiliki agama tetapi tidak bisa bekerja. Pesantren akhirnya dianggap sebagai tempat untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, sehingga dalam memilih pasangan hidup atau menantu, lulusan pesantren hanya menempati urutan ketiga. Pertama adalah orang kaya atau pengusaha, kedua adalah lulusan sarjana meskipun masih menganggur, dan ketiga adalah lulusan pesantren. Pesantren akan ditinggalkan oleh masyarakat jika tidak segera mengantisipasi perubahan nilai ini yang sangat berbahaya. Akibatnya, pesantren harus mulai memperbaiki diri dan melengkapi diri dengan strategi untuk mempertahankan kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, sangat penting bagi pondok pesantren untuk mengadakan pendidikan keterampilan Sumber daya alam, tempat tinggal santri, sumber daya manusia, dan budaya masyarakat di lingkungan pesantren harus disesuaikan dengan keterampilan usaha yang dapat dilaksanakan dan dikembangkan di pondok pesantren. Bercocok tanam, budidaya jamur, peternakan, perikanan, mebeuler, bordir, konstruksi, kursus menjahit, tata rias, desainer, komputer, dan lain-lain. Akses ke Dunia Luar akses ini mencakup berbagai sarana dan prasarana pembangunan pondok pesantren salafiyah biasanya berada di pedesaan dan tidak memiliki infrastruktur telekomunikasi dan informatika yang lengkap. Akibatnya, banyak pesantren di daerah pedesaan masih tidak terjangkau oleh jalur telepon, koran, kendaraan umum, dan sebagian besar pesantren menolak akses ke radio dan televisi. Akibatnya, banyak pesantren tetap ketinggalan, tidak berkembang, dan terisolasi dari lingkungan zamannya. Meskipun pesantren sangat penting sebagai pusat pendidikan dan dakwah, mereka sangat membutuhkan alat pendukung agar dapat berfungsi dengan baik di tengah-tengah peradaban kontemporer. Untuk mengembangkan misi pesantren, alat pendukung ini sangat penting karena pendidikan dan dakwah yang telah dikembangkan oleh pesantren pada dasarnya merupakan kegiatan komunikasi, baik secara individu, kelompok, maupun massa. Namun, komunikasi yang baik juga membutuhkan informasi yang baik. Dan tentu saja, sumber daya yang memadai harus mendukung informasi yang baik. Dengan demikian, pesantren harus memiliki akses ke dunia luar dan dapat berkomunikasi dan mendapatkan informasi tentang perkembangan zaman melalui surat kabar, majalah, buku, radio, televisi, atau internet. Sekarang adalah saatnya bagi pesantren untuk membuka diri. Karena dalam era globalisasi saat ini, manusia akan mati tanpa teknologi dan informasi. SIMPULAN Di tengah persaingan masyarakat informasional, pesantren tidak dapat hanya bertahan dengan model pendidikan yang kontroversial tanpa menghasilkan produk yang unggul dan Ini terutama berkaitan dengan peningkatan sistem pendidikan. Oleh karena itu, pesantren harus melakukan perubahan yang bermanfaat bagi siswa dan mendukung keberlangsungan pesantren. Contohnya adalah penjenjangan . , kurikulum yang direncanakan, jelas, dan teratur. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Selain itu, sistem pendidikan harus dibangun untuk mampu mengikuti alur perubahan Jika tidak, sistem pendidikan akan ketinggalan dengan pesatnya perubahan yang terjadi di setiap zaman yang saat ini terjadi. Pesantren harus bijak menangani tantangan dan peluang yang dibawa oleh globalisasi. untuk menjamin bahwa lulusan pesantren dapat berpartisipasi dalam masyarakat global. Adapun hal-hal yang perlu direkonstruksi dari sistem pendidikan pesantren salafiyah untuk mengejar ketertinggalan dalam menghadapi tuntutan perubahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi di antaranya adalah, . mengubah pola/paradigma kepemimpinan dari kharismatik ke rasionalistik dan dari otoriter-paternalistik ke diplomatikpastisipatif, . memperbaiki struktur kurikulum dengan orientasi yang lebih meluas, . mengubah paradigma keilmuan pesantren dari pendekatan verbalistis dan dogmatis kepada sikap kritis dan inovatif, . membuat program kegiatan usaha dan pendidikan keterampilan, . memfasilitasi akses media dan informasi seputar perkembangan zaman. DAFTAR PUSTAKA