Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin INTERNALISASI NILAI MODERASI BERAGAMA MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) STUDI KASUS MI BAITURROHMAH NGAGLIK KOTA BATU Muhammad Naufal Wavi. Maya Dwi Iriantika. Nabillah Putri MaAoarif. Zeid B. Smeer Email: Naufalwavi123@gmail. (UIN Maulana Malik Ibrahim Malan. Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana siswa MI Baiturrohmah Ngaglik di Kota Batu menginternalisasi prinsip-prinsip moderasi beragama ketika mereka mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana kurikulum SKI memengaruhi sikap dan perilaku siswa dalam lingkungan multikultural melalui penggabungan prinsip-prinsip moderasi beragama seperti keadilan, keterbukaan, dan toleransi. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Temuan penelitian menunjukkan adanya proses tiga langkah yakni transformasi nilai, transaksi nilai, dan trans-internalisasi nilai dalam proses asimilasi prinsip-prinsip moderasi beragama melalui SKI. Toleransi, keterbukaan terhadap keberagaman, dan kerukunan siswa sangat ditingkatkan melalui pembelajaran SKI. Selain itu , nuansa multikultural MI Baiturrohmah mendorong pengembangan perspektif yang seimbang dan rasa hormat terhadap keberagaman. Mengingat keberagaman agama di Indonesia, hasil ini dapat membantu merancang program pendidikan agama yang lebih baik yang menekankan moderasi beragama. Kata Kunci: internalisasi,moderasi beragama,sejarah kebudayaan islam Pendahulan Indonesia adalah sebuah negara yang multikultural dengan berbagai macam suku, budaya maupun agama. Tercatat lebih dari 300 suku yang berbeda dan enam agama resmi yang tercatat di Indonesia. 1 Dengan adanya berbagai kebudayaan serta agama tentu akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang rawan akan disintegrasi bangsa sebagai contoh konflik yang berada di Poso. Akar dari konflik ini yaitu adanya permasalahan individual yeng kemudian sampai merembet ke taraf agama. Maka sebagai negara multikultural membutuhkan sebuah upaya penanaman moderasi beragama untuk menciptakan harmonisasi di tengah keragaman etnis budaya, agama, dan suku. 1 Masyrullahushomad Masyrullahushomad. AuMENGOKOHKAN PERSATUAN BANGSA PASCA KONFLIK BERNUANSA AGAMA DI AMBON DAN POSO,Ay ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah 15, no. 1 (March 31, 2. 2 Kompas. AuKonflik Poso: Latar Belakang. Kronologi. Dan Penyelesaian,Ay last modified April 4, 2021, accessed October 4, 2024, https://w. com/stori/read/2021/07/30/100000279/konflik-poso-latar-belakangkronologi-danpenyelesaian#::text=Peristiwa Konflik Poso dimulai dari sebuah bentrokan kecil an tarkelompok pemuda. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Moderasi beragama difahami sebagai nilai agama Islam yang berlandaskan pola pikir yang shohih dan seimbang, tidak bersikap ekstrim. 3 Hal tersebut merupakan faktor yang sangat penting mengingat Indonesia bisa menjadi contoh praktik moderasi beragama di ranah global. Penanaman nilai moderasi beragama sejak dini sangat diperlukan mengingat masa anak-anak adalah periode emas dalam pembentukan karakter dan pola pikir. Pada usia ini, anak-anak lebih mudah memahami nilai-nilai yang diajarkan dan menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian 4 Generasi muda sebagai penerus bangsa harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang keberagaman dan mampu hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat yang Menarik untuk dicatat bahwa pada kenyataannya, keragaman identitas budaya, suku bangsa, atau kepercayaan tidak dapat dilebur begitu saja. Individu yang paling strategis untuk dididik dalam multikulturalisme adalah anak-anak. Terdapat dua kriteria umur anak, yaitu masa awal . arly childhoo. dan masa akhir . ate childhoo. anak usia dini berusia 3-6 tahun dan anak tengah berusia 6-11 tahun. 5 Para psikolog meyakini bahwa anak adalah sekelompok orang yang siap mengembangkan kepribadiannya sendiri. 6 Mereka siap berkembang dan menjadi pribadi baru, sebagai pribadi yang menghargai keberagaman budaya, suku, dan agama. Desa Ngaglik merupakan desa yang berada di kecamatan Batu Kabupaten Malang. Desa ini memiliki agama yang heterogen, tetapi warga desa Ngaglik tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan moderasi beragama. 7 MI Baiturrahmah Ngaglik merupakan salah satu institusi yang berada di Desa Ngaglik Kecamatan Batu. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik dikarenakan dalam kesehariannya murid-murid MI Baiturrahmah hidup berdampingan dengan masyarakat yang yang memiliki agama yang beragam. Karena demikian. MI Baiturrahmah Ngaglik patut menjadi sorotan karena lokasinya yang strategis di wilayah multikultural. Penanaman nilai moderasi beragama di sana tidak hanya berperan dalam memelihara kerukunan antar umat eragama, tetapi juga berfungsi sebagai edukasi penting bagi para siswa tentang nilai-nilai kewarganegaraan. Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa penting tokoh Islam secara turun-temurun. 8 Dalam studi Sejarah Kebudayaan Islam, siswa didorong untuk menyelami berbagai aspek peradaban Islam, mulai dari asal-usulnya, perkembangannya, hingga peran pentingnya dalam sejarah. Mereka juga akan mempelajari para tokoh inspiratif yang berkontribusi besar pada kemajuan Islam di masa lalu, termasuk perkembangan umat Islam pada masa Rasulullah. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan menitikberatkan pada sejarah serta perkembangan Islam. Dalam kurikulum MI, porsi pembelajaran 3 Sania Alfaini. AuPerspektif Al-QurAoan Tentang Nilai Moderasi Beragama Untuk Persatuan Indonesia,Ay Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. 2 (August 24, 2. : 113Ae124. 4 Gusti Ngurah Ketut Putera. AuPenanaman Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Dalam Keluarga Hindu Di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara BaratAy . ), https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH. 5 Herviana Muarifah Ngewa et al. AuPENDEKATAN MODEL PEMBELAJARAN MONTESSORI PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,Ay educhild: Journal of early chilhood education 3 (June 1, 2. : 15Ae28. 6 Dian Eka Priyantoro et al. AuThe Role of the Family in Cultivating Islamic Moderation Value to Early Childhood,Ay Elementary:Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (October 18, 2. : 183Ae194. 7 Adyla Mita Lestari. Mariana Fitria Rahmawati, and Umi Afdah. AuEFFORTS TO INCREASE COMMUNITY PARTICIPATION IN VILLAGE DEVELOPMENT THROUGH THE EMPOWERMENT PROCESS (CASE STUDY IN KEL. NGAGLIK. BATU CITY) UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA MELALUI PROSES PERBERDAYAAN (STUDI KASUS DI KEL. NGAGLIK KOTA BATU),Ay Journal of Scientech Research and Development 6, no. 1 (June 1, 2. : 1116Ae1122, https://idm. id/JSCR/inde. 8 Muhammad Nasrudin et al. AuArah Baru Kajian Pendidikan Sejarah Kebudayaan Islam Dari Muhammad Abid Jabiri,Ay Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman 12, no. 2 (August 25, 2. : 227Ae246. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin agama lebih besar dibandingkan dengan sekolah dasar pada umumnya. Oleh karena itu, studi tentang Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memiliki relevansi yang signifikan untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dan toleransi dalam pendidikan. Melalui pembelajaran SKI, siswa dapat memahami bagaimana Islam masa lampau menghargai prinsip-prinsip moderasi dan Menurut Muhaimin. proses internalisasi merupakan penerapan nilai-nilai yang dilakukan menurut langkah-langkah yang telah ditentukan. Pendidikan Sejarah Budaya Islam (ISH) yang mempromosikan toleransi beragama merupakan upaya berkelanjutan yang menyerukan partisipasi banyak orang. Melalui penerapan strategi serta metode yang sesuai, diharapkan siswa mampu membangun pemahaman, sikap, dan tindakan yang mencerminkan moderasi dalam menjalankan ajaran agama. Mengingat Indonesia sebagai negara multikultural dengan Desa Ngaglik sebagai contoh representasi toleransinya yang tinggi, peran aktif pendidik dalam menanamkan nilai-nilai multikultural sangatlah penting. SKI dalam hal ini, berperan sebagai jembatan untuk mempermudah proses internalisasi nilai moderasi beragama. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis Field research. Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan tambahan fokus pada pengumpulan data yang analitis dan kompleks terhadap kejadian serta peristiwa yang alami. 10 metode kualitatif deskriptif adalah studi yang bertujuan untuk menemukan fakta yang ada di lapangan, kemudian memberikan interpretasi yang tepat terhadap temuan tersebut. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data semata, tetapi juga pada proses analisis yang mendalam guna memahami makna dari data yang telah dikumpulkan. penelitian ini bertujuan memberi gambaran mengenai internalisasi nilai moderasi beragama melalui pembelajaran SKI siswa MI Baiturrohmah Ngaglik. Batu serta apa kontribusi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang berlangsung di MI Baiturrahman terhadap moderasi beragama di desa ngaglik. Subyek penelitian ini adalah MI Baiturrohmah Ngaglik. Batu. Peneliti di sini bertindak sebagai instrumen sentral, sembari data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Hasil dan Pembahasan Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Penanaman nilai-nilai moderasi beragama melalui pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh madrasah dan para pendidik guna membentuk sikap moderat pada peserta didik. Upaya ini sangat penting mengingat peserta didik adalah kelompok yang rentan terhadap pengaruh eksternal dan berpotensi menjadi target kelompok dengan doktrin ekstrem maupun radikal yang cenderung berpegang pada pemahaman keagamaan yang rigid dan eksklusif. Melalui pembelajaran ini, siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai seperti toleransi, keseimbangan, dan sikap saling menghormati, sehingga mereka memiliki daya tangkal terhadap pengaruh negatif yang dapat menghambat keharmonisan dalam kehidupan beragama. 9 Muhaimin. PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM:UPAYA MENGEFEKTIFKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH, 5th ed. (Bandung: Remaja RosdaKarya, 2. 10 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif Dan R&D, ed. sutopo, 2nd ed. (Bandung: Alfabeta, 2. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Internalisasi, menurut Muhaimin, bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam, melainkan proses yang metodis dan disengaja yang terjadi di seluruh sekolah formal. Bagian penting dari proses ini adalah memilih dan memperkenalkan siswa pada serangkaian nilai-nilai tujuannya adalah agar mereka menyerap prinsip-prinsip ini dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah sesuatu yang juga dilakukan oleh instruktur Sejarah Budaya Islam (SKI), untuk membantu siswa mereka menginternalisasi prinsip-prinsip moderasi Proses ini tidak terjadi secara instan, tetapi memerlukan perencanaan matang serta tahapan yang sistematis. Seorang pendidik harus menjalankannya secara bertahap selama proses pembelajaran di kelas agar nilai-nilai yang diajarkan dapat dipahami dan diterapkan oleh peserta didik secara efektif. Dalam proses internalisasi dibagi melalui tiga tahapan yakni sebagai berikut: Tahap Transformasi Nilai Menurut Muhaimin dalam tahapan transformasi nilai, yang merupakan proses komunikasi verbal satu arah dari guru kepada siswa, penekanan lebih diberikan pada pemindahan pengetahuan atau informasi mengenai nilai-nilai yang diajarkan. 11 Pada tahap ini, nilai-nilai yang disampaikan oleh guru hanya menyentuh aspek kognitif peserta didik. artinya fokus utamanya adalah pemahaman teoretis atau konseptual tentang nilai tersebut . Siswa menerima informasi mengenai apa yang dianggap penting atau benar, namun pada tahap ini, transformasi nilai belum mencapai ranah afektif dan psikomotorik. Dengan kata lain, siswa baru memahami secara intelektual, tanpa adanya internalisasi mendalam atau penerapan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Penerapan tahap pertama yaitu dengan cara menjelaskan materi tentang Perjanjian Damai Nabi Muhammad SAW dengan Kelompok Non-Muslim, dimulai dengan memberikan definisi, ciri-ciri, dan manfaat dari perjanjian tersebut. Tahap ini menekankan aspek kognitif siswa untuk memahami nilai-nilai yang disampaikan sebelum melanjutkan ke tahapan internalisasi yang lebih mendalam Pada tahap ini, pengajar berperan aktif sebagai sumber informasi, sementara peserta didik cenderung pasif, hanya mendengarkan, duduk diam, dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Proses ini bertujuan untuk memberikan pemahaman awal kepada siswa mengenai konsep-konsep dasar sebelum melanjutkan ke tahapan internalisasi yang lebih mendalam. Tahap Transaksi Nilai Menurut Muhaimin. Transaksi nilai adalah bentuk komunikasi verbal dua arah yang melibatkan guru dan siswa secara aktif dalam tanya jawab, diskusi, serta pemberian respons satu sama lain12. Pada titik ini, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena adanya kontak yang dinamis dan interaktif antara guru dan murid. Selain memberikan pengetahuan, guru juga, tetapi juga berpartisipasi dalam diskusi serta memberikan contoh konkret dari nilai-nilai yang diajarkan . Tahap transaksi nilai melibatkan penggunaan strategi yang membina hubungan yang bermakna antara guru dan muridnya untuk membantu mereka menghayati prinsip-prinsip moderasi beragama. Melalui peningkatan keterlibatan siswa, prinsip-prinsip moderasi 11 Muhaimin. PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM:UPAYA MENGEFEKTIFKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH. 12 Ibid. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin beragama dapat dipahami dan dianut dengan lebih baik. Mengingat bahwa Dalam pengajaran Islam, metode pembelajaran merupakan elemen penting yang mendukung siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efisien dan efektif. Metode ini berfungsi sebagai pedoman dalam menyampaikan materi pelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Guru dapat mengaplikasikan berbagai macam metode, seperti ceramah, diskusi, pemberian tugas . , demonstrasi, dan pemecahan masalah. Beberapa metode yang dipergunakan meliputi metode tanya jawab, di mana peserta didik didorong untuk aktif bertanya dan merespons, sehingga tercipta diskusi yang Selain itu, metode bercerita atau qishah juga digunakan untuk menyauntumpaikan nilai-nilai melalui kisah-kisah inspiratif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, memberikan gambaran konkret tentang bagaimana nilai-nilai tersebut Pada tahap ini, indikasi pemahaman peserta didik terhadap konsep internalisasi moderasi beragama yang telah disampaikan mulai terlihat dengan lebih jelas. Hal ini tercermin dari peningkatan keaktifan mereka dalam berpartisipasi selama proses pembelajaran, baik melalui pengajuan pertanyaan yang kritis maupun pemberian tanggapan yang relevan terhadap stimulus yang diberikan. Respon aktif ini menunjukkan adanya keterlibatan kognitif yang lebih mendalam, di mana peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mulai mengolah, menganalisis, dan menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari dengan konteks yang lebih luas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai moderasi beragama berlangsung secara bertahap dan progresif, selaras dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang untuk membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku moderat pada peserta didik. Tahap Trans-Internalisasi Menurut Muhaimin, tahap transinternalisasi merupakan tahap akhir dalam proses internalisasi nilai. Pada tahap ini, perhatian beralih dari sekadar komunikasi fisik menuju pembentukan sikap mental dan kepribadian peserta didik13. Nilai-nilai yang sebelumnya telah ditransaksikan kini melekat dalam diri siswa, tercermin dalam sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Upaya yang dilakukan pada tahap final ini yaiyu menggunakan metode keteladanan dalam proses Trans Internalisasinya, metode keteladanan adalah suatu pendekatan dalam proses pembelajaran dan internalisasi nilai yang dilakukan dengan memberikan contoh nyata dalam sikap, perilaku, dan tindakan. Metode ini menekankan pentingnya peran seorang figur teladan, seperti guru, orang tua, atau tokoh masyarakat, yang secara konsisten menunjukkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta didik . Metode ini menekankan pentingnya peran seorang figur teladan, seperti guru, orang tua, atau tokoh masyarakat, yang secara konsisten menunjukkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Berdasarkan hasil dari wawancara yang dilangsungkan peneliti pada tanggal 7 Mei 2024 bersama Ibu Muzayyanah. KepSek MI Baiturrohmah, terungkap sikap keterbukaan dan penerapan prinsip At-Tasamuh . di sekolah tersebut. Meskipun merupakan instansi berbasis Islam, sekolah ini menunjukkan keberanian untuk merekrut tenaga pengajar paduan suara dari kalangan yang berbeda keyakinan. Hal ini menjadi contoh yang nyata bagi para 13 Ibid. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin peserta didik bahwa para guru juga menerapkan konsep moderasi beragama di lingkungan sekolah, yang mengajarkan pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama di tengah Kontribusi Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Sikap toleransi dan keterbukaan Salah satu nilai utama yang diinternalisasikan adalah sikap toleransi dan keterbukaan. Toleransi dan keterbukaan merupakan pilar penting dalam moderasi beragama karena keduanya menjadi fondasi dalam Kehidupan yang harmonis dan damai di tengah keberagaman dapat diciptakan melalui sikap saling menghormati, toleransi, serta pemahaman yang mendalam terhadap perbedaan. Berdasarkan wawancara dengan wali kelas V pada tanggal 25 September 2024, diketahui bahwa siswa menunjukkan perkembangan dalam hal keterbukaan dan toleransi. Mereka lebih siap mendengarkan pandangan yang berbeda tanpa terburu-buru menolak, dan meskipun tidak selalu setuju, mereka tetap menghargai pendapat teman-teman mereka. Sikap ini terlihat jelas dalam diskusi kelompok, di mana siswa menunjukkan kematangan emosional dan intelektual dalam menangani perbedaan pendapat, bahkan dalam isu-isu yang sensitif seperti ibadah atau tradisi keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran SKI berhasil menanamkan sikap terbuka terhadap keragaman, yang penting dalam membentuk karakter beragama yang moderat. Penerapan Nilai-nilai Keadilan dan Keseimbangan Observasi yang dilakukan pada tanggal 24 Mei 2024 menunjukkan bahwa dalam diskusi kelompok, siswa tidak hanya diberi kesempatan yang sama untuk berbicara dan berpendapat, tetapi juga diajak untuk mendengarkan dengan adil dan menghargai pendapat teman-teman mereka. Peran penting dalam mendorong lingkungan belajar yang inklusif dan demokratis dipegang oleh pengajar, sehingga setiap siswa merasa dihargai dan Selain itu, keseimbangan juga diterapkan dalam aspek lain, seperti manajemen waktu antara kegiatan belajar akademik dan pengembangan bakat. Madrasah ini telah menerapkan jadwal yang seimbang antara kegiatan pembelajaran formal dan kegiatan ekstrakurikuler, yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan kreatif mereka secara seimbang. Konsep ini tidak hanya memiliki peran penting dalam pendidikan, serta dalam konteks sosial yang lebih luas, di mana kemampuan untuk mengatur beberapa prioritas ditanamkan pada anak-anak. Pemahaman Tentang pluralisme Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah pada 7 Juni 2024, terungkap bahwa peserta didik di MI Baiturrohmah memiliki latar belakang yang beragam, baik dalam aspek agama maupun budaya. Beberapa siswa bahkan memiliki orang tua yang menganut agama berbeda, yang menuntut madrasah untuk lebih memperhatikan pendidikan tentang Dalam situasi ini, penting bagi siswa untuk belajar memahami bahwa perbedaan agama dan budaya adalah bagian dari kehidupan bersama yang harus dihargai, bukan dianggap sebagai sumber konflik. Dengan kondisi yang multikultural ini, madrasah merasa perlu mengintegrasikan nilai-nilai pluralisme ke dalam proses pembelajaran agar peserta 99 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin didik mampu menerima dan menghargai keberagaman yang ada. Pembelajaran SKI memainkan peran sentral dalam hal ini, di mana siswa diajarkan melalui materi sejarah yang relevan, seperti "Perjanjian Damai Nabi Muhammad SAW dengan Kelompok NonMuslim". Materi ini secara khusus mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya toleransi dan bagaimana Nabi Muhammad SAW mencontohkan sikap moderat dalam berhubungan dengan masyarakat nonMuslim. Melalui kisah-kisah sejarah yang konkret ini, siswa mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana moderasi beragama telah diterapkan sepanjang sejarah Islam dan relevansinya dalam kehidupan pribadi mereka Dengan demikian, program SKI di MI Baiturrohmah dapat menjadi wahana transmisi informasi sejarah dan sekaligus menjadi instrumen ampuh dalam menyebarluaskan sikap moderat beragama. Pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk berpikir secara kritis, bersikap inklusif, dan menghargai perbedaan, serta mempraktikkan prinsip-prinsip moderasi dalam interaksi mereka sehari-hari. Pada akhirnya, melalui proses pembelajaran yang sistematis dan berkelanjutan, siswa diharapkan mampu menjadi generasi yang memiliki pemahaman mendalam tentang moderasi beragama. Mampu hidup berdampingan secara damai dengan orang lain dari berbagai latar belakang, serta menunjukkan sikap terbuka dan adil dalam menyikapi perbedaan. Kesimpulan Dari hasil penjelasan pada bagian pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Pertama. Berdasarkan temuan penelitian ini, pengajaran sejarah budaya Islam (SKI) merupakan cara yang tepat untuk membantu siswa mengembangkan pandangan moderat dengan membantu mereka menginternalisasi prinsip-prinsip moderasi agama. Valuasi memiliki tiga fase utama: transformasi, transaksi, dan transinternalisasi. Pada tahap awal, peserta didik menerima konsep secara kognitif. kemudian, melalui interaksi aktif dengan guru, mereka mulai memahami nilai secara lebih mendalam. Akhirnya, metode keteladanan membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada perencanaan yang matang serta konsistensi para pendidik dalam memberikan teladan nyata. Jadi, anak-anak tumbuh menjadi orang yang baik dan menerima orang lain di masyarakat sebagai hasil dari pendidikan SKI mereka, yang memiliki tugas ganda dengan mengajarkan mereka tentang sejarah. Kedua. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa internalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui pembelajaran SKI berdampak positif dan signifikan terhadap perkembangan karakter peserta didik di MI Baiturrohmah. Nilai-nilai toleransi, keterbukaan, keadilan, keseimbangan, dan pluralisme yang diajarkan melalui SKI telah tertanam dalam sikap serta perilaku siswa, sehingga menciptakan lingkungan belajar harmonis. Fakta ini menegaskan bahwa pembelajaran SKI, ketika dirancang dan dikelola secara optimal, dapat menjadi instrumen strategis dalam membentuk pemahaman dan penerapan moderasi beragama di kalangan peserta Relevansinya semakin kuat dalam konteks keberagaman agama di Indonesia, di mana sikap moderat menjadi kunci dalam membangun harmoni sosial. Daftar Pustaka