JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Journal Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski doi :x/x. PROGRAM BUDAYA MADRASAH MADRASAH DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING Sevia Umi Wardini 1 Nihayatul Laili Yuhana 2 Fathur Rochim 3 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung 1 Kemenag Kabupaten Nganjuk 2 IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk3 viasevia117@gmail. yuhanaku@gmail. fathurrochim28@gmail. Abstrak Budaya Madrasah memang menjadi barometer dari kegiatan Madrasah yang mana menjadi ukuran apakah Madrasah itu mempunyai suatu budaya yang menghasilkan suatu hasil yang baik untuk Madrasah atau sebaliknya budaya yang buruk bagi Madrasah, oleh karena itu madrasah sangat mengedepankan Budaya Madrasah dalam meningkatkan daya saing lembaganya agar lembaga tersebut mempunyai ikonik dan kebiasan yang baik dalam keseharian di madrasah sehingga meningkatkan daya saing madrasah. tujuan penelitian ini adalah Menemukan dan menganalisis Program budaya Madrasah dalam meningkatkan daya saing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multisitus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang mana sumber datanya dari orang . , dokumen . dan tempat . Hasil penelitian ini memperkuat sepenuhnya teori the Culture of a School yang disampaikan oleh memperkuat teori Beare. Caldwell. Spinks dan Milikan bahwa prinsip utama dalam Budaya Madrasah adalah Program Budaya Madrasah yang berisi tujuan dan sasaran (Aims and objective. Kurikulum(Curriculu. , bahasa (Languag. Pemikiran(Metapho. dan Pengorganisasian (Organizationa. Kata Kunci : Budaya Madrasah. Daya Saing Abstract Madrasah culture is indeed a barometer of Madrasah activities which is a measure of whether the Madrasah has a culture that produces good results for Madrasas or vice versa a bad culture for Madrasahs, therefore prioritize Madrasah Culture in increasing competitiveness institutions so that these institutions have good icons and habits in daily life in madrasas so as to increase the competitiveness of madrasah. the purpose of this research is to find and analyze the Madrasah cultural program in increasing competitiveness. This study uses a qualitative approach with a multisite study design. Data collection in this study used in-depth interviews, observation, and documentation techniques in which the data sources were people , documents ( papers ) and places ( place ). The results of this study fully strengthen the theory of the Culture of a School conveyed by strengthening the theories of Beare. Caldwell. Spinks and Milikan that the main principle in Madrasah Culture is the Madrasah Culture Program which contains goals and objectives ( Aims and objectives ). Curriculum ( Curriculum ), language ( Language ). Thought ( Metaphor ) and Organizing ( Organizationa. Keyword: Madrasa Culture. Competitiveness Program Budaya Madrasah Dalam Meningkatkan Daya Saing Madrasah 15 Pendahuluan Pendidikan merupakan salah satu sarana penting dalam membangun suatu bangsa dan negara. Karena melalui jalur pendidikan akan terbentuk sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus bermoral sehingga mampu membangun negara ini menjadi semakin baik dan maju. Apalagi dewasa ini dengan pesatnya perkembangan IPTEK, terutama dalam bidang komunikasi dan elektronika, mengakibatkan revolusi informasi pada seluruh bidang kehidupan tanpa mengenal batas-batas geografis, politis dan sosial budaya. Mencapai tujuan Madrasah , maka suatu lembaga pendidikan (Madrasah ) haruslah mengembangkan budaya Madrasah dalam meningkatkan daya saing Madrasah yang mencakup seluruh kegiatan yang berhubungan dengan akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh warga Madrasah, sehingga dapat mencetak generasi berkualitas yang memiliki jati diri dan kompetensi di bidangnya. Budaya Madrasah adalah Aukarakteristik khas Madrasah yang dapat diidentifikasi melalui nilai yang dianutnya, sikap yang dimilikinya, kebiasaan-kebiasaan yang ditampilkannya, dan tindakan yang ditunjukkan oleh seluruh personel Madrasah yang membentuk satu kesatuan khusus dari sistem Madrasah . Ay1 Dalam penerapannya, keyakinan dan nilai-nilai yang terinternalisasikan pada setiap anggota organisasi Madrasah merupakan prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dalam mencapai tujuan Madrasah yang telah ditetapkan. Kultur Madrasah akan membentuk situasi organisasi Madrasah , baik situasi fisik maupun sosial, dan kondisi ini menunjukkan suatu iklim Madrasah . Dengan demikian kultur Madrasah pada dasarnya akan membentuk iklim Madrasah . Secara praktis, indikasi adanya daya saing madrasah adalah Pertama, jumlah pendaftar melampaui kapasitas ruang belajar yang tersedia, karena itu, semakin besar jumlah pendaftar pada madrasah semakin tinggi daya saing yang dimiliki madrasah tersebut. Kedua, memiliki prestasi kejuaraan setiap tahun, baik pada bidang akademik atau non akademik, serendah-rendahnya tingkat kota/kabupaten, dan tertinggi berprestasi pada tingkat. Strategi meningkatkan daya saing Madrasah banyak sekali caranya yang bisa diterapkan diantaranya dengan mengadopsi konsep pemasaran dalam suatu perusahaan bisnis yaitu marketing mix atau bauran pemasaran dan membangun brand image atau citra merek. Bauran pemasaran merupakan salah satu strategi pemasaran untuk menyampaikan informasi secara luas, memperkenalkan suatu produk barang dan jasa, menarik konsumen untuk memberi bahkan menciptakan preferensi pribadi terhadap image suatu produk. Bauran pemasaran dianggap sebagai salah satu unsur strategi yang paling potensial didalam memasarkan produk. Strategi bauran pemasaran meliputi tujuh komponen yaitu : produk, harga, promosi, tempat, sumber daya manusia, bukti fisik, dan proses. Daya saing skolah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam dunia pendidikan, karena setiap lembaga pendidikan selalu berlomba untuk menjadi yang nomor satu. Adanya tuntutan 1 Aan Komariah dan Cepi Triatna. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hlm. 2 Imam Tholkhah. Strategi Peningkatan Daya Saing Madrasah. Studi Kasus Madrasah Ibtidaiyah Negeri Madiun, (Jakarta: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 14, no. , 246. 3 Christian A. D Selang. Bauran Pemasaran (Marketing Mi. Pengaruhnya Terhadap Loyalitas Konsumen Pada Fresh Mart bahu Mall Manado, (Jurnal Emba Vol. 1 No 3. Juni 2. , hlm. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Sevia Umi Wardini. Nihayatul Laili Yuhana. Fathur Rochim 16 pendidikan dan penilaian kualitas menjadikan banyak Madrasah yang berusaha menjadi terbaik dari yang lainnya. Mulai dari persaingan prestasi pendidikan, ekstrakurikuler, akreditasi, dan popularitas Madrasah membuat banyak Madrasah berlomba-lomba memperbaiki citranya di masyarakat. Keberadaan peran kepala Madrasah disini sangat penting dalam penggerakan budaya Madrasah karena merupakan motor penggerak bagi segenap sumber daya yang tersedia di lingkungan organisasi, terutama terhadap komponen sumber daya manusia yang terdiri dari para guru, karyawan atau tenaga personel lainnya. Begitu besarnya peranan kepala Madrasah dalam proses pencapaian tujuan organisasi sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sukses tidaknya penyelenggaraan aktivitas suatu unit kerja dalam organisasi sebagian besar ditentukan oleh pemimpin organisasi, baik berkaitan dengan kualitas kepribadian maupun penguasaan konsep dan teknik memimpin yang efektif di lapangan. Beberapa tantangan daya saing yang cukup fenomenal bagi Madrasah adalah bahwa saat ini banyak Madrasah yang telah menjadikan pendidikan agama Islam menjadi faktor unggulan atau nilai tambah yang menjadi daya tarik masyarakat Islam. Para kepala Madrasah tersebut tampaknya berasumsi bahwa masyarakat Islam yang berada di sekitar lingkungan Madrasah akan semakin mendukung Madrasah-Madrasah yang mampu memperkuat pendidikan agama anak-anaknya yang berada di Madrasah. Untuk itu Madrasah kemudian memperkuat materi pendidikan agama dengan menambah jumlah jam pendidikan agama di luar kelas, sehingga Madrasah nampak menjadi full day Budaya Madrasah memang menjadi barometer dari kegiatan Madrasah yang mana menjadi ukuran apakah Madrasah itu mempunyai suatu budaya yang menghasilkan suatu hasil yang baik untuk Madrasah atau sebaliknya budaya yang buruk bagi Madrasah, oleh karena itu madrasah sangat mengedepankan Budaya Madrasah dalam meningkatkan daya saing lembaganya agar lembaga tersebut mempunyai ikonik dan kebiasan yang baik dalam keseharian di madrasah. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. karena penelitian jenis ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi di balik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk diketahui atau dipahami. Penelitian kualitatif juga diharapkan mampu memberikan suatu penjelasan secara terperinci tentang fenomena yang sulit disampaikan dengan metode kuantitatif. Lexi J. Moleong mengemukakan bahwa pendekatan kualitatif adalah Ausuatu prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau pelaku yang dapat diamatiAy. 6 Kemudian Sukmadinata menjelaskan pendekatan kualitatif yaitu suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalisasi fenomena, peristiwa, aktifitas, sosial, sikap, kepercayaan, pemikiran orang secara individual. 4 Prim Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah: Strategi Peningkatan Mutu dan DayaSaing Lembaga Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 271. 5 Anselm Strauss & Juliet Corbin. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif (Surabaya: Bina Ilmu, 1. , hlm. 6 Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 3. 7 Nana Syabdih Sukmadinata. Metode Penelitan Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 60. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Program Budaya Madrasah Dalam Meningkatkan Daya Saing Madrasah 17 Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi data yang ditetapkan. Oleh karena itu agar hasil yang diperoleh dalam penelitian ini benar-benar data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai Observasi Partisipasif Observasi berarti peneliti melihat dan mendengarkan apa yang dilakukan dan dikatakan atau diperbincangkan para responden dalam aktivitas kehidupan sehari-hari baik sebelum, menjelang, ketika dan sesudahnya. Aktivitas yang diamati terutama yang berkaitan dengan konsepkunci penelitian, tanpa melakukan intervensi atau memberi stimuli pada aktivitas subjek Penelitian ini menggunakan observasi partisipasif, yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan demikian, peneliti melibatkan diri pada kegiatan yang dikerjakan oleh sumber data, dan mengumpulkan data secara sistematis dari data yang dibutuhkan. Dengan demikian peneliti hadir dilapangan . okasi penelitia. secara langsung untuk mengetahui keberadaan obyek, situasi, konteks, dan maknanya dalam mengumpulkan data penelitian, yaitu mengenai fenomenafenomena dan hal-hal yang berhubungan dengan program budaya madrasah dalam meningkatkan daya saing madrasah . Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila penelitian ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Wawancara merupakan sebuah proses interaksi komunikasi yang dilakukan oleh setidaknya dua orang, atas dasar ketersediaan dan dalam setting alamiah, di mana arah pembicaraan mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan mengedepankan trust . sebagai landasan utama dalam proses memahami. Poin penting dalam melakukan wawancara dalam konteks penelitian kualitatif ada lima tahap, yaitu:11 Pertama. Interaksi-komunikasi. Interaksi-komunikasi berarti adanya komunikasi yang timbal balik antara peneliti dan subyek penelitian. Kedua, dilakukan oleh setidaknya dua orang. Wawancara minimal dilakukan oleh dua orang. Tetapi dalam setting penelitian kualitatif, boleh jadi tidak selalu harus dilakukan oleh dua orang saja . eneliti dan subjek penelitia. Wawancara dapat terjadi dalam setting kelompok yang melibatkan banyak subjek penelitian beserta informan Ketiga, atas dasar ketersediaan dan dalam setting alamiah. Tidak ada paksaan dalam Terlebih lagi dalam wawancara kualitatif, ketersediaan berkolerasi dengan kejujuran 8 Hamidi. Metode Penelitian Kualitatif (Malang: UMM Press, 2. , 58. 9 Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2. , 64. 10 Haris Herdiansyah. Wawancara. Observasi, dan Focus Groups (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2. , 31. 11 Ibid, 33. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Sevia Umi Wardini. Nihayatul Laili Yuhana. Fathur Rochim 18 dan keikhlasan dalam berbicara yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat validitas dan reliabilitas data. Keempat, pembicaraan mengacu kepada tujuan yang ditetapkan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan penelitian kualitatif yang sedang dilakukan. Sehingga apa pun yang dibicarakan dalam wawancara, menjurus kepada tujuan penelitian. Kelima, trust . sebagai landasan Trust adalah kunci utama dalam memaham. Trust tidak dapat muncul secara terpaksa. Trust akan muncul secara alamiah ketika seseorang/subjek penelitian telah percaya penuh kepada Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. 12 Metode dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen baik dokumen tertulis maupun elektronik. Sebagaimana dalam dokumen-dokumen yang dihimpun tersebut dipilih sesuai dengan tujuan fokus masalah. Selain dokumen, dipergunakan pula catatan lapangan . ield note. yang sangat diperlukan dalam menjarig data kualitatif. Peneliti akan melakukan pencatatan dengan lengkap dan cepat setelah data terkumpul, agar terhindar dari kemungkinan hilangnya data. Karena itu pengumpulan data dilakukan secara terus-menerus dan berakhir apabila terjadi kejenuhan, yaitu tidak ditemukannya data baru dalam penelitian. Dengan demikian dianggap telah diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap kajian ini. Hasil Penelitian dan Pembahasan Budaya madrasah memang menjadi barometer dari kegiatan madrasah yang mana menjadi ukuran apakah madrasah itu mempunyai suatu budaya yang menghasilkan suatu hasil yang baik untuk sekolahan atau sebaliknya budaya yang buruk bagi madrasah. Adapun program budaya madrasah dalam meningkatkan daya saing sekolah yakni adalah: Membangun kurikulum dan mengimplementasikannya. Sesuai dengan Muhammad Mudif dkk. Kurikulum yang mencerminkan kualitas peserta didik yang diharapkan, dapat menjadi arena atau race yang efektif untuk membawa perilaku peserta didik menjadi lebih baik. Isi kurikulum bukan hanya menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang, tetapi juga masa datang. Prinsip kontinuitas kurikulum ini hendaknya disertai dengan perubahan pemahaman isi dan cara bertindak seorang guru. Semua warga madrasah sedapat mungkin tidak mempertahankan pedagogi konvensional dalam menerapkan isu-isu inovatif yang muncul bersamaan dengan perubahan kurikulum yang terjadi. Pembaruan yang terjadi diharapkan diikuti oleh perubahan tindakan yang sesuai dengan tuntutan pembaruan baik dalam perilaku maupun kepercayaan yang muncul dari perilaku tersebut. Isu-isu inovatif yang perlu dipahami adalah perubahan peranan dalam proses Antara lain perubahan peranan sebagai transmiter menjadi fasilitator, dari teacher 12 Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif A , 82. 13 Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 52. Muhammad Munif. Fathor Rozi. Moh. Aminullah . Inovasi Pengembangan Kurikulum Sekolah Berbasis Pesantren dalam Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat. MANAZHIM : Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan Volume 3. Nomor 2. Agustus 183-200 https://ejournal. id/index. php/manazhim JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Program Budaya Madrasah Dalam Meningkatkan Daya Saing Madrasah 19 centered menjadi student centered, pergeseran dari content-based curriculum menjadi competency-based Dengan adanya madrasah adalah madrasah mampu menerapkan strategi efektif dalam mengimplementasi kurikulum yang berbeda. Siapa pun yang berpandangan positif tentu tidak akan setuju,apabila madrasah hanya menampakkan keindahan fisik yang menakjubkan, sementara sekolah tersebut mengalami masalah serius dari aspek pelaksanaan kurikulum dan gagal dari segi pencapaian tujuan. Untuk melaksanakan kurikulum dengan berhasil guna, warga madrasah hendaknya terlebih dahulu memahami dan menghayati falsafah dan tujuan kurikulum, struktur, dan organisasi kurikulum serta mata-mata pelajaran. Madrasah dapat disebut madrasah yang bagus apabila madrasah itu berhasil dalam mengelola orang, mengelola organisasi dan mengelola perubahan. Salah satu pengelolaan perubahan itu adalah perubahan kurikulum. Perubahan tersebut tampak pada madrasah yang pelaksanaan kurikulumnya memberi kesempatan belajar yang memadai kepada peserta didik, terkoordinasi, pengajaran aktif, fokus dan misi pendidikan madrasah yang jelas. Sebuah kurikulum yang baru diberlakukan menyebabkan kepercayaan profesional berkurang dan kemampuan profesional melemah. Warga madrasah memerlukan berbagai penyesuaian baik penyesuaian tentang konsep maupun implementasinya. Strategi implementasi kurikulum hendaknya diarahkan kepada peningkatan kemampuan warga madrasah sebagai manusia kunci . ey perso. di dalam ruang kelas. Merumuskan program budaya madrasah serta mewujudkan perlahan-lahan dalam setiap hari dapat meningkatkan daya saing. Untuk membuat suatu program budaya madrasah, pemimpin dituntut untuk berpikir Kreatif. Inovatif, dan Sistematis, oleh karena program budaya madrasah yang jelas akan sangat berpengaruh terhadap kualitas serta efektifitas dalam menghasilkan kinerja yang sesuai dengan tujuan dan masa depan. Visi tercipta dari hasil kreatifitas pikir pemimpin sebagai refleksi profesionalisme dan pengalaman pribadi atau sebagai hasil kolaborasi pemikiran mendalam dengan pengikut atau personil lain berupa ide-ide ideal tentang cita-cita organisasi di masa depan yang ingin diwujudkan bersama. Pemimpin sebagai pencipta visi berarti mampu memikirkan secara kreatif masa depan madrasah. Menurut Mulyadi, sebagai mana dikutip kembali oleh Sudaryono, ada dua tahapan dalam penciptaan visi, yaitu: Trend watching, adalah kemampuan tingkat tinggi untuk dapat memprediksi kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang melalui kepiawaiannya dalam bidang yang digeluti serta kepekaan terhadap tanda-tanda alam dan perubahannya sekaligus memiliki kekuatan mendekatkan diri pada Tuhan sebagai kekuatan supra natural luar biasa yang dapat 15 K. Toh et al. Developing curriculum in Singapore: teacher-academic Partnerships. Journal ofCurirculum Studies. 16 Mook Soon Sang Falsafah Pendidikan. Kurikulum dan Profesionalismne Keguruan. (Selangor: Penerbitan Multimedia SDN. BHD, 2. , 170. 17 H. Sudirman. Strategi Implementasi Kurikulum: Suatu Kajian Perspektif Teori Di Sekolah Dasar Volume. No. Agustus 2019 P-ISSN: 2407-8107 E-ISSN: 2685-4538. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Sevia Umi Wardini. Nihayatul Laili Yuhana. Fathur Rochim 20 membimbing prilaku yang dapat menangkap dari suatu gejala alam. Melalui trend watching pimpinan dapat mendeteksi arah perubahan di masa yang akan datang dan berbagai peluang yang tersembunyi. Envisioning, yaitu kemampuan pimpinan untuk merumuskan program budaya madrasah berdasarkan hasil pengamatan trend perubahan yang akan terjadi di masa yang akan Envisioning merupakan kemampuan manusia untuk menggambarkan sesuatu yang melampaui realitas sekarang, kemampuan untuk menggambarkan sesuatu yang akan diciptakan yang belum pernah ada sebelumnya, dan kemampuan untuk menggambarkan kondisi baru yang belum pernah dialami sebelumnya. Kepemimpinan mempunyai peranan penting dalam merumuskan visi dan misi Seorang pemimpin merumuskan visi, misi, strategi. Sedangkan manajemen yang dipimpin oleh kepala madrasah adalah individu yang membuat perencanaan, program, taktik, kendali, dan anggaran untuk mewujudkan visi, misi, strategi, dan nilai yang ada dalam madrasah tersebut. Terdapat lima aspek yang bisa dijadikan dasar dalam merumuskan visi, yaitu: Menantang, memberi inspirasi, dan semangat. Menciptakan tujuan, arah, dan komitmen. Melampaui kepentingan setiap pribadi. Menjadi bagian integral dari budaya organisasi madrasah, dan Tidak rumit, ringkas, mudah dipahami, dan dikomunikasikan. Rumusan visi yang baik: Mencerminkan cita-cita yang akan dicapai Memiliki Orientasi masa depan madrasah Menimbulkan komitmen tinggi dari seluruh jajaran dan lingkungan madrasah Memberikan arah dan fokus strategi madrasah yang jelas, dan Menjaga kesinambungan kepemimpinan madrasah19 Menjadikan Madrasah sebagai wadah riset atau wadah prestasi bagi siswanya. Pendidikan harus mencetak produk lulusan yang unggul tidak hanya dari segi intelektual melainkan juga spiritual dan sosialnya. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi bawaan yang berupa jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. 20Sebagai seorang peserta didik yang sedang menempuh pendidikan di suatu lembaga pendidikan, sebenarnya mereka telah memiliki potensi dan kemampuan yang harus diaktulisasikan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Tinggi randahnya tingkat aktualisasi seseorang terhadap potensinya itu akan sangat menentukan terhadap prestasi yang mereka raih. 18 Sudaryono. Leadership: Teori dan Praktek Kepemimpinan, (Jakarta: Lentera Ilmu Cendikia, 2. , 212-213. Moh. Muslim. Membangun Visi Perusahaan Esensi, jurnal. Vol. 20 No. 3 / 2017. Fuad Ihsan. Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 2. 21 Ahmad Fatah Yasin. Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lembaga Pendidikan Islam (Malang: UIN-Maliki Press, 2. , 28-2. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Program Budaya Madrasah Dalam Meningkatkan Daya Saing Madrasah 21 Salah satu bagian dari dimensi pendidikan di madrasah adalah siswa atau peserta didik. Siswa atau peserta didik merupakan raw material . ahan menta. di dalam proses transformasi yang disebut pendidikan. Ketika di madrasah, peserta didik harus mendapatkan pelayanan atau pengaturan yang benar agar mereka bisa menjadikan sekolahnya sebagai lingkungan yang pas untuk mengembangkan seluruh potensi yang mereka miliki. Dengan begitu penerapan Riset dan wadah prestasi bagi peserta didik merupakan sebuah keharusan bagi setiap madrasah. Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan subjek dan objek yang aktif. Dikatakan sebagai subjek karena mereka berperan aktif sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran, sedangkan dikatakan objek karena sebagai sasaran didik untuk ditumbuhkembangkan oleh pendidik. Jika peserta didik dijadikan sebagai sasaran, maka mereka harus berperan sebagai subjek yang aktif dalam belajar dengan difasilitasi oleh pihak madrasah, yaitu salah satunya dengan menerapkan madrasah Riset dan wadah prestasi bagi peserta didik yang dapat merangsang seluruh potensi yang ada dalam diri mereka. Menggerakkan seluruh stakeholder yang ada. Stakeholder dalam madrasah adalah orang-orang atau badan yang berkepentingan langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan pendidikan di madrasah. Menjadi pemegang dan sekaligus pemberi support terhadap pendidikan atau lembaga pendidikan. Sebagimana merujuk pada UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, khususnya Pasal 56 menjelaskan bahwa stakeholder, yaitu22: Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah. Dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan tenaga sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/ kota yang tidak mempunya hubungan hierarkis. Komite sekolah sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkatan satuan pendidikan. Muhaimin, dkk dalam kutipan Bilqisti Dewi membagi stakeholder menjadi 3 yakni primer, sekunder, dan tersier23: Stakeholder pimer . adalah stakeholder yang memiliki keterlibatan secara langsung dengan suatu kebijakan pendidikan, penentu utama dalam proses pengambilan keputusan, yaitu pemerintah. Stakeholder sekunder (Pendukun. , adalah stakeholder yang memiliki keterkaitan langsung dalam pendidikan dan menjadi pelaku dalam mengimplementasikan kebijakan dari stakeholder primer. Yang dimaksud dalam pembagian stakeholder ini adalah kepala madrasah, pendidik dan tenaga kependidikan, siswa, staf administrasi, yayasan dan komite Bilqisti Dewi. Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Program Unggulan Madrasah Jurnal Islamic Education Manajemen 3 . 77-88, http://journal. id/index. php/isema , p-ISSN: 2541-383X e-ISSN: 2541-7088. 23 Bilqisti Dewi. Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Program Unggulan Madrasah Jurnal Islamic Education Manajemen 3 . 77-88, http://journal. id/index. php/isema , p-ISSN: 2541-383X e-ISSN: 2541-7088. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Sevia Umi Wardini. Nihayatul Laili Yuhana. Fathur Rochim 22 Stakeholder tersier . , merupakan stakeholder yang tidak memiliki pengaruh dalam kebijakan pendidikan dan pelaksanaan atau implementasi kebijakan pendidikan, namun memiliki hak untuk menentukan penilaian terhadap kebijakan pendidikan dan memiliki hak untuk menggunakan lulusan lembaga pendidikan. Stakeholder ini adalah masyarakat mitra penyedia lapangan pekerjaan atau masyarakat pengguna lulusan lembaga Peran setiap stakeholder dalam pendidikan memiliki peran yang berbeda-beda, mulai dari penentuan kebijakan pendidikan, implementasi kebijakan dan pengguna lulusan24: Pemerintah, berperan mengusahakan dan menyelanggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala sekolah, berperan dalam mengatur rumah tangga sekolah, memelihara hubungan baik sekolah dengan orang tua, lembaga-lembaga lain baik pemerintah maupun swasta. Guru, berperan dalam pembelajaran anak dan komunikasi secara berkala dengan: orang tua atau wali tentang kemajuan anak dalam belajar. Orang tua, berperan untuk mendukung pelaksanaan belajar mengajar di madrasah, berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar di rumah. Komite sekolah, berperan sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan di sekolah. Masyarakat, berperan dalam mendukung kebijakan sekolah, tidak hanya sekedar memeras dan menjadikan lulusan sekolah sebagai obyek komoditas. Menciptakan kurikulum yang tidak menjauh dari kegiatan pesantren. Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan diakui oleh masyarakat sekitar dengan sistem asrama yang santri-santrinya menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah, yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dan kepemimpinan seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri khas yang bersifat kharismatis dan independen dalam segala hal. Pesantren dapat dikategorikan sebagai lembaga non-formal Islam, karena keberadaan dalam jalur pendidikan kemasyarakatan memiliki program pendidikan yang disusun sendiri dan pada umumnya bebas dari ketentuan formal. Sebagai jantung pendidikan, kurikulum dipandang sebagai hal esensial bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat belajar menghadapi segala problematika yang ada di alam semesta demi mempertahankan hidup. Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki peran sangat penting. Pendidikan dapat membentuk kepribadian seseorang dan pendidikan diakui sebagai kekuatan yang mampu menentukan prestasi dan produktivitas seseorang. Dengan bantuan pendidikan, seseorang memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi. Bilqisti Dewi. Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Program Unggulan Madrasah Jurnal Islamic Education Manajemen 3 . 77-88, http://journal. id/index. php/isema , p-ISSN: 2541-383X e-ISSN: 2541-7088. 25Ihsan Muhadi. Giyoto. Lilik Untari. Tata Kelola Stakeholder dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan PadaMadrasah Tsanawiyah . Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Available at http://jurnal. stie-aas. id/index. php/jie. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 7. , 2021, 256-265. 26 Manfred Oepon Walfgang Karcher. Dinamika Pesantren, 110. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Program Budaya Madrasah Dalam Meningkatkan Daya Saing Madrasah 23 sehingga mampu menciptakan karya gemilang dalam hidup atau mampu mencapai suatu peradaban dan kebudayaan tinggi dengan bantuan pendidikan. Memberikan pembeda karena ada Pendidikan khusus dan harus disesuaikan dengan prosedur. Madrasah adalah salah satu model lembaga pendidikan Islam, jika dilihat secara normatif pada dasarnya bersumber dari ajaran agama yang universal. Berdasarkan komitmen ini jelas pendidikan Islam akan mampu bertahan dalam perubahan yang terjadi dari masa ke masa. Perinsip universal menunjukan kesanggupannya untuk di satu sisi mempertahankan semangat keislamannya dan di sisi lain menyesuaikan aspek teknisnya dengan perkembangan zaman. Trend perkembangan kehidupan manusia dalam abad 21, ada dua kecendrungan. Pertama ialah peranan agama yang akan semakin relevan, dan kedua trend mengenai kemajuan ilmu dan teknologi yang akan mengubah wajah dan kehidupan manusia. Pernyataan ini paling tidak memberi sebuah prospek kedepan bahwa kebutuhan akan pendidikan agama di masa depan akan menjadi salah satu bagian trend dari kebutuhan Dan ini memberikan peluang yang besar bagi kemantapan eksistensi lembaga pendidikan Islam . ditengah arus globalisasi. Aumenjadikannya salah satu pendidikan alternatifAy. Karena agama akan muncul kembali sebagai pegangan hidup manusia di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan tantangan yang sedang dan yang akan dihadapi maka madrasah perlu berbenah dengan menata kembali sistem pendidikannya sesuai dengan tuntutan dari tantangan tersebut. Malik Fajar dalam kutipan fathor rozi dkk merumuskan pendidikan Islam dapat menjadialternatif apabila memenuhi empat tuntutan sebagai berikut29 : Kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah yang oprasional di dalam usaha mewujudkan cita-cita pendidikan Islam. Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya. Meningkatkan dan memperbaiki manajemen. Peningkatan mutu sumberdaya manusia. Pemikiran di atas di kemas lebih spesifik lagi dengan melihat kekuatan madrasah yang bersumber dari masyarakat dan kelemahan madrasah yang dianggapnya cendrung kepada ortodoksi, maka menurutnya pengelolaan pendidikan Islam di prioritaskan pada empat bidang yaitu . peningkatan mutu, . pengembangan inovasi dan kreativitas, . membangun jaringan kerjasama(Networkin. , dan . pelaksanaan otonomi daerah. Mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang berbasis pesantren. 27Faizin . Farhah . Pola Integrasi Nilai-Nilai Kepesantrenan Dalam Mengimplementasikan Budaya Religi Di Universitas Nurul Jadid. Jurnal edureligia Vol. No. 2, 2018. 27 Zamaksyari Dhofier. Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1. , 55. 28 Bilqisti Dewi. Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan ProgramUnggulan Madrasah Jurnal Islamic Education Manajemen 3 . 77-88, http://journal. id/index. php/isema , p-ISSN: 2541-383X e-ISSN: 2541-7088. 29 Muhammad Munif. Fathor Rozi. Moh. Aminullah . Inovasi Pengembangan Kurikulum Sekolah Berbasis Pesantren dalam Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat. MANAZHIM : Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan Volume 3. Nomor 2. Agustus 183-200 https://ejournal. id/index. php/manazhim JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 14-27 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Sevia Umi Wardini. Nihayatul Laili Yuhana. Fathur Rochim 24 Pendidikan dan kurikulum merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, terlebih dari pembinaan dan pengembangan semua potensi individu, terutama pengembangan potensi fisik, intelektual, dan moral peserta didik30. Pengembangan kurikulum berfungsi sebagai sumber kegiatan akademis untuk mencapai tujuan pendidikan. masa depan dan kepentingan anak didik, sesuai dengan tantangan zaman modern yang mementingkan prestasi. Keberadaan kurikulum sebagai landasan utama pendidikan selalu menuntut perubahan-perubahan yang signifikan dari masa ke masa. Sebab seiring perkembangan ilmu pengetahuan maka kurikulum pun harus dinamis dan membutuhkan sentuhan inovasi agar mampu mengimbangi kemajuan tersebut. Bahkan kurikulum dapat berubah secara fundamental jika memang suatu negara atau otoritas mengalami perubahan. Hal itu berarti pada dasarnya gerak dinamika kurikulum memang merupakan sesuatu yang alami dan diharapkan, karena struktur ilmu pengetahuan terus bergerak maju dan kurikulum mesti berbanding lurus. Berbicara dalam konteks kurikulum, maka inovasi dapat diartikan sebagai pengembangan, pembaharuan, memasukkan hal baru ke dalam proses KBM. Fenomena kurang baik yang sering dijumpai dalam kaitannya dengan kurikulum, adanya pemisahan sistematis antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Padahal kurikulum yang baik haruslah saling mengisi, tidak boleh ada dikotomi antara kedua jenis disiplin ilmu yang berlainan tersebut. Agil menyatakan bahwa, ilmu-ilmu yang mampu mengangkat kualitas hidup manusia secara lahiriya dipandang perlu untuk diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang membawa kesejahteraan batin, karena pada dasarnya semua ilmu merupakan anugerah Allah SWT. Perkembangan kurikulum memiliki landasan strategis yaitu harus disadari bahwa kurikulum disusun guna mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sesuai dengan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Dengan adanya landasan tersebut maka kurikulum memiliki limit yang jelas dan tidak berbenturan dengan kepentingan yang lebih luas yakni kepentingan berbangsa dan bernegara. Adanya Budaya prestasi dan budaya birokrasi dalam meningkatkan daya saing madrasah. Madrasah yang berprestasi dan mempunyai budaya birokrasi yang baik ialah harus mampu mengelola siswa untuk dijadikan pribadi yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakteristik individualnya. Madrasah juga mampu dan sanggup mendidik siswanya untuk menguasai sains dan teknologi. Kriteria tersebut mencakup: Guru profesional yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam menguasai kurikulum, materi pembelajaran, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran dengan kualitas yang tinggi, . Berprestasi, menguasai teknik- teknik evaluasi pembelajaran, dan menguasai strategi 30 Mursalim and HattaAInovasi Pengembangan Kurikulum PAI Di Sekolah Menengah PertamaRaudatut Tholabah Berbasis PesantrenA. Journal of Islamic Education Research, 1. , 1Ae14 https://doi. org/10. 35719/jier. 31 Nurul Huda. Manajemen Pengembangan KurikulumA. Al-Tanzim : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1. , 52Ae75