Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi https://journal. id/index. php/psikosains DIPERLAKUKAN BERBEDA Ae DINAMIKA PENYESUAIAN DIRI WANITA BERCADAR Dedi Nasruddin1*. Arie Gunawan Hazairin Zubair2. Andi Budhy Rakhmat3 Fakultas Psikologi. Universitas Bosowa Poli Psikologi. Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Sulawesi Barat Article Info Article History Submitted: February 2025 Final Revised: 11th August 2025 Accepted: August 2025 Abstract Background: Every religion has its own set of rules, including Islam, which regulates the use of clothing to cover the aurat. Veiled women believe that wearing the niqab is part of the obligatory dress code in accordance with Islamic law. However, social reality shows that they often receive unpleasant treatment, such as stigma, discrimination, and negative labelling. These conditions create significant challenges in the process of self-adjustment within their social environment. Objective: This study aims to gain an in-depth understanding of the dynamics experienced by veiled women in facing various social challenges related to niqab use, as well as the factors influencing their adjustment process. Method: This research employed a mixed-method design with a triangulation approach, involving 350 quantitative respondents and 6 qualitative participants who met the study criteria. Results: A total of 35% of respondents demonstrated self-adjustment in the high category. The adjustment stages include motivation, preparation, decision-making, social engagement, consequences, openness, tolerance, cooperation, ethical awareness, familiarity, and independence. Conclusion: The main factor contributing to optimal self-adjustment is intellectual maturity, particularly related to personal values. Keywords: Self Adjusment. Veilde Women. Mix Method Abstrak This is an open access article under the CC-BY-SA license Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Muhammadiyah Gresik Latar Belakang: Setiap agama memiliki aturan tersendiri, termasuk agama Islam yang mengatur penggunaan pakaian untuk menutup aurat. Wanita bercadar meyakini bahwa penggunaan cadar merupakan bagian dari kewajiban berbusana sesuai syariat. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa mereka sering mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, seperti stigma, diskriminasi, dan pelabelan negatif. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam proses penyesuaian diri di lingkungan sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam dinamika wanita bercadar dalam menghadapi berbagai tantangan sosial terkait penggunaan cadar, serta faktor-faktor yang memengaruhi proses penyesuaian diri mereka. Metode: Penelitian menggunakan metode campuran dengan pendekatan triangulasi, melibatkan 350 responden kuantitatif dan 6 responden kualitatif yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Sebanyak 35% responden menunjukkan penyesuaian diri pada kategori tinggi. Tahapan penyesuaian diri meliputi motivasi, persiapan, pengambilan keputusan, keterlibatan sosial, konsekuensi, keterbukaan, toleransi, kerja sama. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 126-136 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 kesadaran etika, keakraban, dan kemandirian. Kesimpulan: Faktor utama yang membuat penyesuaian diri optimal adalah kematangan intelektual, khususnya terkait nilai-nilai personal yang dimiliki. Kata kunci: Penyesuaian Diri. Wanita Bercadar. Metode Campuran *email : dedinasruddin6@gmail. Fakultas Psikologi. Universitas Bosowa. Makassar. Indonesia PENDAHULUAN Keberagaman masyarakat Indonesia bukan lagi hal yang baru sebab Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan tersebut memiliki sebuah arti perbedaan bukanlah penghalang bagi masyarakat Indonesia. Keberagaman masyarakat mulai dari keberagaman etnis, suku, bahasa, ras, budaya dan bahkan keberagaman agama. Indonesia memiliki banyak agama yang diakui secara resmi, diantaranya Islam. Kristen. Hindu. Buddha, dan Konghucu. Walaupun demikian. Indonesia masih didominisi masyarakat yang beragama Islam. Setiap agama memiliki kaidah dan aturan, baik aturan beribadah, aturan berperilaku bahkan dalam aturan berpakaian juga telah diatur oleh agama, termasuk agama Islam. Agama Islam telah diatur tata cara berpakaian, khususnya bagi Seorang wanita muslim diwajibkan untuk menutup aurat, seperti yang tercantum dalam AlQurAoan Surah Al-Ahzab ayat 59. Surah Al-Ahzab ayat 59 inilah yang menjadi acuan sebagian besar wanita muslim untuk menggunakan pakaian tertutup termasuk cadar. Dengan menggunakan cadar membuat para muslimah merasa nyaman dalam berperilaku serta mereka merasa terhindar dari fitnah yang dapat membuat dosa. Wanita yang menggunakan cadar sering mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari Rahman & Syafiq . memperlihatkan gambaran stigma masyarakat terhadap wanita bercadar serta wanita bercadar mengaku mendapatkan perilaku diskriminasi, seperti dikatakan sebagai teroris, ninja, setan dan lain sebagainya. Dengan adanya perilaku diskiriminasi tersebut, wanita bercadar merasa terbatas dalam melakukan aktifitas di lingkungan sosialnya. Sari. Lilik & Agustin . wanita bercadar selalu mendapatkan tuntutan sosial yang kurang baik, terutama dalam proses interaksi dengan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa wanita bercadar tetap mendapatkan perlakuan diskriminasi walaupun telah berusaha aktif di lingkungan. Perilaku deskriminasi yang diberikan kepada wanita bercadar tergambarkan dari beberapa media nasional seperti pada Media Suara Nasional pada tanggal 23 Februari 2016 beberapa wanita bercadar menyatakan bahwa mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan seperti dikatakan sebagai setan, teroris. ISIS, ninja dan lain sebagainya. Salah satu narasumber dari berita tersebut menceritakan pengalaman pribadi yang ia rasakan pada saat menggunakan kereta api. Pada saat wanita tersebut menggunakan kereta, terdapat seorang ibu dengan anaknya yang sedang menangis, kemudian ibu tersebut spontan memberikan stimulus ke anaknya dengan cara menakuti anaknya bahwa wanita bercadar tersebut merupakan penjahat yang suka menyembunyikan anak dalam pakaiannya. Berdasarkan pemberitaan dari BBC News pada tanggal 16 September 2016 menyatakan bahwa salah satu wanita bercadar usir paksa dari salah satu restoran. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa perempuan tersebut tidak sopan sebab mukanya tidak diperlihatkan . Liputan6. pada tanggal 28 April 2016, memberitakan seorang Ibu dan anak yang sedang berbelanja di pasar dipaksa untuk membuka cadarnyadengan alasan bahwa wanita bercadar merupakan teroris yang membawa Bom dalam pakaian. Diperlakukan Berbeda Ae Dinamika Penyesuaian Diri Wanita Bercadar Dedi Nasruddin. Arie Gunawan Hazairin Zubair. Andi Budhy Rakhmat Wanita bercadar merasa diperlakukan berbeda dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mereka sulit dalam menyesuaikan diri. Kesulitan menyesuaikan diri diakibatkan oleh stigma dan perilaku negatif dari lingkungan (Rahman & Syafiq, 2. Hal ini juga dibuktikan oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa penyesuaian diri sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tergantung dimana individu berada (Cahyanigrum & Desinigrum, 2. Tandra. Nawir, & Syarifuddin . wanita bercadar selalu mendapatkan ucapan kata-kata tidak menyenangkan sehingga wanita bercadar sulit berbaur dengan orang baru. Pandangan orang baru terhadap wanita bercadar yang sering didapatkan yaitu wanita bercadar dianggap aliran sesat, teroris, ninja, setan dan lain sebagainya. Penyesuaian diri merupakan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya baik secara fisik maupun secara emosional sehingga menghasilkan sebuah proses pengambilan keputusan, dan cara bersikap dalam lingkungan (Fromm,1957. Semiun, 2006. Rassmussen & Salhani. Proses adjustment tentunya akan berhubungan langsung dengan lingkungan sosial (Ekanita dan Putri, 2019. Baron & Byrne, 2. Desmita . menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk dapat beradaptasi sesuai kondisi lingkungan, baik secara emosi, kognitif, sosial dan tanggung jawab individu. Terdapat empat aspek dalam penyesuaian diri yaitu, kematangan kognitif, kematangan emosional, kematangan sosial dan tanggung jawab. Kematangan kognitif berkaitan dengan kemampuan individu dalam memandang suatu lingkungan dengan melibatkan proses berpikir (Fromm, 1957. Solso. Maclin & Maclin, 2. Kematangan emosional mencakup proses emosi yang mencakup ekspresi dan kontrol emosi pada diri sendiri dan lingkungan (Fromm, 1957. Chaplin. Kematangan sosial merupakan suatu kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan sesuai dengan norma yang dianut dalam masyarakat (Bordens & Horowits, 2002. Aronson. Wilson, & Akert, 2. Tanggung jawab yang dimaksud adalah dorongan-dorongan yang timbul dalam diri yang mempengaruhi kepribadian individu dalam penyesuaian diri (Fromm, 1. Berdasarkan data dan fenomena di atas maka peneliti ingin melakukan sebuah penelitian yang berjudul Diperlakukan Berbeda - Dinamika Penyesuaian Diri Wanita Bercadar. Adapun tujuan dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui tingkat penyesuaian diri serta mengetahui proses dinamika penyesuaian diri wanita bercadar. Adapun pertanyaan penelitian yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini, sebagai berikut: Bagaimana gambaran penyesuaian diri wanita bercadar secara umum yang terjadi kota Makassar? Apa yang menjadi faktor utama wanita bercadar menggunakan cadar? Apa yang menjadi faktor utama wanita tetap mempertahankan cadar walaupun mereka mendapatkan perilaku deskriminasi dari masyarakat? Bagaimana dinamika psikologi penyesuaian diri wanita bercadar dilihat dari aspek emosi, sosial, intelektual dan tanggung jawab . orongan-doronga. ? METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode campuran . ix metho. dengan pendekatan triangulasi. Pendekatan mix method triangulasi menggunakan penggabungan data antara kuantitaif dan data Variabel penelitian yaitu penyesuaian diri dengan subjek penelitian wanita bercadar. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 126-136 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Partisipan Partisipan dalam penelitian ini adalah Wanita bercadar yang berdomisili di Kota Makassar. Partisipan dibagi dalam dua kategori yakni kategori partisipan kuantitatif dan partisipan kualitatif. Partisipan memiliki penentuan karakteristik khususnya dalam penentuan kualitatif yang yaitu partisipan harus menjadi bagian dari partisipan kuantitatif. Sampel atau Populasi Teknik pemilihan subjek dilakukan dengan non-probability. Sampel penelitian terbagi 2 jenis yaitu kuantitatifsebanyak 350 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik penentuan tabel krejcie dengan taraf kesalahan 5% serta sampel kualitatif sebanyak 6 responden yang dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Kriteria subjek kualitatif yakni Wanita bercadar yang telah mengisi skala kuantitatif dan memperoleh skor dalam kategori tinggi. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data terdiri dari dua yakni secara kuantitif dan kualitatif. Secara kuantitaif yaitu menggunakan instrument penelitian yang dikonstruksi peneliti dengan teori penyesuaian diri oleh Desmita . Instrument merupakan jenis skala likers sebanyak 34 butir Intrumen ini memiliki alpha Cronbach sebesar 0. 90 dan semua aitem memperlihatkan faktor loading positif dan nilai r hitung lebih besar dari r tabel, hal ini memperlihatkan hasil skala yang validitas dan reabilitasnya baik. Sedangkan data kualitatif menggunakan observasi dan wawancara, dengan pendekatan teori Desmita . yang dijadikan butir pertanyaan dalam instrumen Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu untuk kuantitatif menggunakan analisis deskriptif dengan kategorisasi kelompok dalam kategori tinggi, sedang dan rendah. Kemudian untuk data kualitatif dengan pendekatan interpretasi data non-numerik atau penentuan tema dengan penggunaan koding hasil wawancara. Kemudian dua data tersebut digabungkan dengan pendekatan triangulasi data kuantitatif dan kualitatif. HASIL Hasil Kuantitatif Berdasarkan analisis deskriptif dengan menggunakan sampel sebanyak 350 orang, memperlihatakan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Deskripsi Statistik Variabel Penyesuaian Diri Mean Skor Std. Deviation Min Max Data yang terlihat pada tabel 1 menunjukkan bahwa variabel penyesuaian diri memiliki nilai mean atau rata-rata 137. Skor minimum yang dicapai oleh responden sebesar 84 dan skor maksimum yang dapat dicapai sebesar 170. Adapun nilai satuan standar deviasi populasi yang diperoleh sebesar Berikut akan dipaparkan kategori penyesuaian diri berdasarkan tinggi, sedang, dan rendah. Gambar 1. Diagram Kategori Penyesuaian Diri Pada gambar 1, dapat dilihat bahwa tingkat penyesuaian diri wanita bercadar berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak 122 responden atau 35% dari total sampel. Pada kategori sedang sebanyak 117 responden atau 33% dari total sampel. Adapun pada kategori rendah sebanyak 111 responden atau 32% dari total 350 responden. Hasil Kualitatif Berdasarkan dari hasil analisis dinamika penyesuaian diri wanita bercadar dijabarkan secara keseluruhan sebagai berikut: Gambar 2. Dinamika Penyesuaian Diri Wanita Bercadar Berdasarkan hasil analisis kualitatif pada gambar 2 diatas, maka dapat dinyatakan bahwa proses penyesuaian diri wanita bercadar dapat dijabarkan dengan beberapa tahapan, yaitu latarbelakang penggunaan cadar, tahapan persiapan, dampak serta tahap penyesuaian. Pada proses penyesuaian diri wanita bercadar akan melalui dinamika yang berbeda hanya saja secara garis besar mereka akan diawali dengan adanya proses persiapan seperti faktor yang menyebabkan mereka menggunakan cadar tersebut dan diakhiri dengan komitmen untuk menggunakan cadar jika bisa melewati tantangan yang dilalui berupa konsekuensi seperti stigma, diskriminasi dan pelabelan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis dinamika penyesuaian diri wanita bercadar. Terdapat empat proses penyesuaian diri wanita bercadar yaitu kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan Diperlakukan Berbeda Ae Dinamika Penyesuaian Diri Wanita Bercadar Dedi Nasruddin. Arie Gunawan Hazairin Zubair. Andi Budhy Rakhmat sosial serta dorongan-dorongan yang didalamnya terdapat motivasi, tanggung jawab dan sebagainya yang berkaitan dengan penyesuaian diri tapi tidak masuk kedalam tiga ranah sebelumnya. Kematangan Emosional Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif diperoleh hasil yang menggambarkan kematangan emosional. Pertama untuk gambaran kematangan emosional dari hasil kuantitatif diperoleh hasil sebanyak 39% responden yang dapat menyesuaikan diri dengan total jumlah 135 orang dari 350 responden. Untuk kategori sedang sebanyak 29% atau sebanyak 103 orang responden dan yang masuk kategori rendah dan sangat rendah sebanyak 32% atau sebanyak 122 orang Kedua untuk data kualitatif diperoleh kesimpulan bahwa dari total 6 responden berdasarkan hasil wawancara menyatakan bahwa mereka bisa mempunyai kematangan emosional yang baik. Hal tersebut dibuktikan dari indikator keprilakuan yang digunakan dalam melakukan wawancara tergambarkan semua, baik dari kontrol diri, ekspresi emosi, pemahaman terhadap orang lain dan kedekatan emosional. Nugraha . terdapat korelasi yang sangat signifikan antara kontrol diri dengan penyesuaian diri. Semakin tinggi kontrol diri maka penyesuaian diri juga semakin tnggi dan sebaliknya semakin rendah kontrol diri maka semakin rendah pula penyesuaian diri. Terkait dengan kontrol emosi atau kontrol diri individu tergambarakan dari cara individu menanggapi stigma, pelabelan dan perilaku deskriminasi yang diberikan oleh orang lain. Semua responden menyatakan bahwa mereka menganggap orang yang memberikan stigma adalah orang yang tidak paham tentang keyakinan wanita bercadar. Hal ini sudah masuk dalam kategori memahami orang lain yang merupakan bagian dari kematangan emosional. Selain itu semua responden juga dapat mengekspresikan emosi yang mereka rasakan terutama kepada teman dekat yang punya kedekatan emosional baik, misalnya sahabat, suami dan orangtua. Kematangan Intelektual Berdasarkan hasil analisis data yang memperlihatkan bahwa terdapat hasil kematangan intelektual yang diperlihatkan secara kuantitatif dan secara kualitatif. Pertama terkait dengan hasil kuantitatif diperoleh kematangan emosional presentase sebanyak 28% masuk kedalam kategori tinggi dan sangat tinggi dengan total responden sebanyak 100 orang. Pada kategori sedang sebanyak 37% atau sebanyak 131 orang responden, sedangkan pada kategori rendah dan sangat rendah sebanyak 34% dengan total responden sebanyak 119 orang. Dengan demikian, jika dikalkulasikan dapat dikatakan bahwa lebih dominan wanita bercadar mengalami kematangan intelektual yang tinggi. Indikator keprilakuan dalam aspek kematangan intelektual ini diantaranya yaitu mampu memahami keberagaman dan orang lain, keterbukaan mengenal lingkungan, percaya akan kemampuan diri serta kemampuan pengambilan keputusan. Aziz . , dalam risetnya memperlihatkan hasil bahwa pengaruh antara kepercayaan diri terhadap penyesuaian diri. Berdasarkan dari hasil analisis kualitatif dapat disimpulkan bahwa semua responden sepakat memahami kondisi lingkungannya bahwa sahnya orang yang memberikan pelabelan adalah orang yang kurang paham dan belum mendapatkan ridho oleh Allah SWT, sehingga memberikan perlakuan yang kurang baik. Kematangan Sosial Berdasarkan hasil analisis data kualitatif dan data kuantitatif maka dapat dideskripsikan kematangan sosial yang terjadi pada wanita bercadar. pertama terkait dengan hasil kuatitatif terlihat hasil sebanyak 31% responden masuk dalam kategori yang tinggi untuk kematangan sosial atau Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 126-136 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 sebanyak 106 responden. Untuk kategori sedang sebanyak 37% atau 129 orang responden, sedangkan kategori rendah sebanyak 33% atau sebanyak 115 orang responden. Jika dikalkulasikan responden yang memiliki kematangan sosial yang cukup baik sebanyak 235 orang responden dan sebanyak 115 Pada data kualitatif memperlihatkan hasil analisis wawancara pada semua respon, memperlihatkan hasil yang baik dalam melakukan sebuah pasrtisipasi sosial, sikap toleransi yang baik serta kerjasama yang baik. Hal ini dapatkan berdasarkan analisis wawancara yang dikaitkan dengan indikator keperilakuan yang terdapat dalam aspek kematangan sosial. Keenam responden kualitatif menyatakan kesedian mereka dalam bekerjasama antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya bahkan mereka sudah memperlihatkan dengan contoh kongkrit yang pernah mereka alami di lingkungan sehari-hari mereka. Hal ini diperkuat oleh hasil riset yang dilakukan Estiane . , memperlihatkan hasil terdapat pengaruh dukungan sosial dalam melakukan proses penyesuaian diri. Dukungan sosial yang dimaksud adalah dukungan dari orang terdekat seperti sahabat, teman maupun orang terdekat lainnya. Semua responden dalam penelitian memiliki teman dekat yang dijadikan tempat berkeluh kesah, terutama ketika terdapat kendala serta teman selalu memberikan dukungan sosial yang positif bagi wanita bercadar dalam menghadapi stigma dan diskriminasi dari lingkungan. Tanggung Jawab Berdasarkan hasil analisis data kualitatif dan data kuantitatif maka dapat dideskripsikan tanggung Jawab yang terjadi pada wanita bercadar. pertama terkait dengan hasil kuantitatif terlihat hasil sebanyak 38% responden masuk dalam kategori yang tinggi untuk kematangan sosial atau sebanyak 133 responden. Untuk kategori sedang sebanyak 33% atau 116 orang responden, sedangkan kategori rendah sebanyak 29% atau sebanyak 101 orang responden. Jika dikalkulasikan responden yang memiliki kematangan sosial yang cukup baik sebanyak 249 orang responden dan sebanyak 101 Pada data kualitatif memperlihatkan hasil analisis wawancara pada semua respon, memperlihatkan hasil seperti motivasi bercadar, persiapan, konsekuensi bertindak independent, dan kesadaran akan etika. Hal ini dapatkan berdasarkan analisis wawancara yang dikaitkan dengan indikator keprilakuan yang terdapat dalam aspek tanggung Jawab. Terkait dengan beberapa pernyataan responden memperlihatkan bahwa ketika seseorang ingin menentukan sebuah tindakan tentunya dipengaruhi oleh motivasi dari dalam diri. (Handoko, 2. menyatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang mendorong keinginan individu untuk melakukan keinginan tertentu guna mencapai tujuan. Hal ini membuktikan bahwa ketika seseorang ingin mengambil sebuah sikap atau tindakan tertentu, hal itu akan dilatar belakangi oleh suatu motivasi atau tujuan tertentu. Dengan demikian terlihat bahwa aspek tanggung Jawab terpenuh dalam penyesuaian diri wanita bercadar. Berdasarkan hasil data diatas memperlihatkan bahwa pada proses penyesuaian diri wanita bercadar dipengaruhi oleh empat aspek yang telah dijelaskan diatas. Namun, selain keempat aspek tersebut terdapat pula salah satu faktor yang sangat mempengaruhi peroses penyesuaian diri wanita bercadar yaitu faktor religiusitas. Hal ini dapat dilhat berdasarkan hasil olah data kualitatif yang sebagian besar responden menyatakan bahwa dia selalu berserah diri kepada Allah atas apapun yang terjadi pada dirinya, seperti perlakuan yang kurang etis merupakan bagian dari cobaan yang diberikan oleh Allah. AuAmungkin ini jalan juga yang terlanjur diberikan ka sama Allah supaya bisa ka bertaubatAAy [R01. Diperlakukan Berbeda Ae Dinamika Penyesuaian Diri Wanita Bercadar Dedi Nasruddin. Arie Gunawan Hazairin Zubair. Andi Budhy Rakhmat Auiya jangan mako ambil hati kalau dia tidak paham ji dan nanti Allah yang bantu. Ay [R03. AuAjadi saya berusaha ya Allah saya mau pakai yang ini cadar keluar jika engkau meridoi saya untuk menggunakan cadar ini maka pasti engkau akan memberikan jalan engkau akan memberikan kemudahan dan orangtua saya tidak akan mengoreksi apapun dari penampilan Ay [R02. Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dilihat secara jelas bahwa wanita bercadar baik sebelum menggunakan cadar dan setelah menggunakan cadar selalu karena Allah SWT. Lestari dan Indrawati . dalam hasil risetnya memperlihatkan hasil bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara religiusitas dengan penyesuaian diri. Dengan demikian bahwa dalam proses penyesuaian diri terdapat faktor baru yang mempengaruh secara siginifikan yaitu KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terkait dengan penyesuaian diri wanita bercadar di kota Makassar, dapat ditarik kesimpulan, yaitu . Penyesuaian diri wanita bercadar di kota Makassar berada dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 122 responden atau 35% dari total 350 Adapun pada kategori sedang sebanyak 117 responden atau 33%, serta pada kategori rendah sebanyak 111 responden atau 32% dari total 350 responden. Penyesuaian diri dipengaruhi oleh empat aspek yaitu emosional, intelektual, sosial dan tanggung Jawab. Keempat aspek tersebut tergambarkan disemua responden, baik responden kualitatif maupun responden kuantitatif. Namun ada aspek yang memiliki indikator keprilakuan yang tinggi dan begitupun sebaliknya. Selain keempat aspek tersebut terdapat suatu faktor yang mempengaruhi secara signifikan penyesuaian diri wanita bercadar jika ditinjau dari hasil kualitatif. Faktor tersebut adalah religiusitas, hal ini didapatkan berdasarkan hasil analisis kualitatif yang memperlihatkan bahwa responden lebih cenderung segala sesuatunya dia serahkan kepada Allah SWT, atas apa yang telah didapatkan baik itu hal yang baik maupun perlakuan yang buruk. DAFTAR PUSTAKA