Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Peran Storytelling dalam Pengembangan Kecerdasan Emosional pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Babussalam Bengkulu Utara Siti Sundari1. Nurus Amzana2. Emy Herawati3 1 Universitas Dehasen Bengkulu 2 Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Lubuk Linggau 3 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Quraniyah Manna Bengkulu Selatan 1 siti. sundari@unived. 2 nurusamzana@gmail. 3 emyherawati042@gmail. Abstract This study aims to analyze and test the significance of the role and effectiveness of the Storytelling method in enhancing students' Emotional Intelligence (EQ) in the Islamic Cultural History (SKI) subject at MTs Babussalam Bengkulu Utara. Employing a quasi-experimental design with a quantitative approach, the research utilized a Non-Equivalent Control Group Design, involving an experimental group receiving Storytelling treatment and a control group using conventional The population consisted of all eighth-grade students at MTs Babussalam Bengkulu Utara, with a sample of two classes (N=60, 30 students eac. obtained through cluster random sampling or purposive sampling. Data were collected via Likert-scale questionnaires for pretest and posttest EQ measurements, supplemented by observation and documentation. Analysis employed inferential statistics, preceded by normality and homogeneity tests, and primary hypothesis testing used independent sample t-test or ANCOVA to compare posttest EQ score differences between groups (=0. Results indicated a significant difference between the experimental group . and control group . , with Sig. 2-tailed at 0. 000 < 0. , demonstrating Storytelling's significant role in EQ development through internalization of exemplary values from SKI, particularly in empathy and self-management. Recommendation: SKI teachers at MTs Babussalam should adopt Storytelling as a primary strategy to bridge historical knowledge with affective character formation in students. Keywords: Storytelling. Emotional Intelligence. Islamic Cultural History. How to cite this article: Sundari. Amzana. Herawati. Peran Storytelling Dalam Pengembangan Kecerdasan Emosional Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Babussalam Bengkulu Utara. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 252-263. Received: 7/26/2025 Revised: 10/24/2025 Accepted: 11/13/2025 Vol. No. December 2025 | Pages. 252-263 | 253 PENDAHULUAN Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Tsanawiyah (MT. memainkan peran multifaset, yakni mentransmisikan pengetahuan historis mengenai peradaban Islam serta menanamkan nilai-nilai moral, keteladanan, dan identitas keislaman yang kokoh. Dalam era pendidikan kontemporer, keberhasilan pembelajaran SKI tidak lagi semata-mata diukur melalui penguasaan hafalan terhadap tahun-tahun dan tokoh-tokoh penting, melainkan melalui kemampuan siswa untuk menginternalisasi pelajaran moral dari narasi-narasi masa lampau. Fenomena yang patut diperhatikan adalah pengakuan terhadap potensi narasi atau storytelling sebagai pendekatan pedagogis yang paling efektif dalam merangsang aspek afektif dan emosional siswa. Metode ini mampu membawa siswa ke dalam pengalaman emosional para tokoh sejarah, memicu empati, serta mengembangkan Kecerdasan Emosional (EQ), sebuah kompetensi esensial yang diperlukan siswa untuk mengelola emosi dan berinteraksi sosial secara konstruktif. Idealnya, pembelajaran SKI seharusnya menghasilkan siswa yang tidak hanya cerdas dalam bidang sejarah, tetapi juga memiliki kedewasaan emosional tinggi melalui keteladanan para tokoh. Namun, realitas di banyak sekolah, termasuk MTs Babussalam Bengkulu Utara, sering kali menunjukkan dominasi metode konvensional seperti ceramah atau hafalan, yang cenderung hanya menjangkau aspek kognitif sambil mengabaikan dimensi emosional dan afektif dari kisah sejarah. Selain itu, materi-materi sejarah yang terasa jauh dari konteks kehidupan siswa membuat narasi tersebut menjadi kering, sehingga nilai-nilai keteladanan sulit diinternalisasi. Akibatnya, siswa mungkin kesulitan menghubungkan keteladanan dari kisah Rasulullah atau para Sahabat dengan tantangan emosional sehari-hari, seperti mengelola kejujuran, kesabaran, dan empati. Kesenjangan antara potensi transformatif narasi sejarah dan implementasi metode pengajaran yang kurang menarik menimbulkan persoa-lan. Masalah utama dalam penelitian ini peneliti mencoba mengangkat persoa-lan "Sejauh mana implementasi metode Storytelling (Bercerit. oleh guru memengaruhi peningkatan Kecerdasan Emosional (EQ) siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Babussalam Bengkulu Utara?" Penelitian mengenai storytelling telah mapan dalam konteks pembelajaran Bahasa dan Sastra, berkat kemampuannya meningkatkan imajinasi dan keterampilan berbahasa . Dalam ranah pendidikan karakter, storytelling juga terbukti efektif dalam menanamkan nilai moral. Secara spesifik, studi-studi terkini, seperti yang dipublikasikan dalam jurnal pendidikan, telah menemukan bahwa intervensi berbasis narasi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan empat komponen utama EQ, termasuk pengenalan emosi dan pengambilan perspektif. Hal ini menunjukkan bahwa storytelling bukan sekadar teknik penyampaian informasi, melainkan strategi afektif yang kuat. Meskipun kondisi terkini penelitian mendukung penggunaan narasi, penelitian ini bertujuan mengisi dua celah spesifik. Pertama, integrasi subjek dan metode penelitian yang secara eksplisit menguji efektivitas storytelling sebagai instrumen peningkatan kecerdasan emosional khusus dalam konteks SKI di MTs masih terbatas, dengan fokus penelitian sebelumnya yang cenderung umum atau hanya menekankan hasil kognitif SKI. Kedua. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 254 | Siti Sundari1. Nurus Amzana2. Emy Herawati3 konteks lokal yang belum teruji. Belum ada data empiris yang mengukur dampak ini secara langsung di MTs Babussalam Bengkulu Utara, di mana kebutuhan dan karakteristik emosional siswa di wilayah Bengkulu Utara mungkin berbeda, sehingga memerlukan studi kontekstual untuk memastikan keberlakuan dan efektivitas metode tersebut. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus gpeneliti yang tepat sasaran, yaitu mengintegrasikan dua variabel krusialAistorytelling dan Kecerdasan EmosionalAidalam konteks mata pelajaran yang paling relevan untuk pengembangan karakter, yakni SKI. Hal ini menciptakan model intervensi spesifik bagi guru SKI untuk beralih dari pengajaran fakta menjadi pengajaran nilai dan emosi. Selain itu, kontribusi pedagogisnya bagi MTs akan menyediakan temuan empiris sebagai model percontohan bagi guru-guru SKI di institusi lain, membuktikan bahwa sumber-sumber sejarah Islam kaya akan muatan emosional dan moral yang efektif untuk melatih EQ siswa. Urgensi penelitian ini sangat tinggi, mengingat pendidikan SKI yang menjadi inti MTs menuntut bukan hanya pengetahuan, melainkan juga pengamalan. Storytelling sebagai alat pengembangan EQ menjadi penting untuk menjembatani aspek kognitif dengan Penelitian ini juga mendukung pengembangan kompetensi guru dengan menyediakan basis data dan model praktis bagi para pendidik SKI di MTs Babussalam Bengkulu Utara, sehingga mereka dapat meningkatkan variasi dan kualitas metode pengajaran, bertransformasi dari penceramah menjadi fasilitator emosional dan moral. Lebih lanjut, peningkatan EQ sangat krusial bagi siswa MTs yang berada pada masa remaja awal, guna menghadapi tantangan psikososial seperti perundungan dan tekanan kelompok, sehingga pembelajaran SKI dapat memberikan bekal spiritual dan emosional yang relevan. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi. , dan Huda. pada tahun 2020, berjudul "Pengaruh Penerapan Metode Storytelling terhadap Peningkatan Hasil Belajar dan Minat Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam", menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group. Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa implementasi metode storytelling secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif serta minat siswa terhadap materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Teknik bercerita terbukti mampu menghidupkan konten sejarah yang sering kali dianggap membosankan. Meskipun penelitian ini relevan dengan SKI dan storytelling, namun terbatas pada aspek kognitif . asil belaja. dan afektif awal . Penelitian Peneliti akan mengisi celah tersebut dengan mengukur secara spesifik dan mendalam dimensi kecerdasan emosional, seperti empati, kesadaran diri, dan regulasi emosi, yang belum diukur dalam studi ini. Pada tahun 2018. Nurhayati. , dan Setiawan. melakukan penelitian berjudul "Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional dan Sosial Siswa di Sekolah Menengah". Penelitian ini menerapkan metode studi korelasional dan deskriptif kuantitatif melalui kuesioner serta wawancara. Hasilnya mengungkapkan bahwa materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan SKI, yang kaya akan kisah teladan serta nilai moral, memiliki korelasi kuat dan positif dengan tingkat kecerdasan emosional serta sosial siswa, terutama dalam kemampuan empati dan kontrol diri. Studi ini hanya menunjukkan adanya korelasi umum antara konten PAI/SKI . ang mencakup kisa. dengan kecerdasan emosional. Penelitian ini tidak menguji storytelling Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 252-263 | 255 sebagai metode pengajaran yang disengaja. Penelitian Peneliti akan secara eksplisit mengevaluasi efektivitas teknik pedagogis storytelling dalam penyampaian materi SKI, bukan sekadar mengpenelitilkan konten kisahnya. Utami. , dan Purwanto. melakukan penelitian tindakan kelas . ction researc. pada tahun 2022 dengan judul "Model Pembelajaran Storytelling Berbasis Nilai untuk Peningkatan Akhlak Siswa Madrasah Ibtidaiyah". Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas storytelling yang menekankan penanaman nilai. Hasilnya menunjukkan bahwa storytelling yang dilaksanakan secara terstruktur terbukti efektif dalam internalisasi nilai moral . serta peningkatan pemahaman diri siswa, yang merupakan dasar kecerdasan emosional. Fokus utama penelitian ini adalah pembentukan akhlak atau moralitas di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang berbeda dari konteks pendidikan menengah atau lanjut (MTs/MA) yang mungkin menjadi objek penelitian Peneliti. Selain itu, penekanannya lebih pada aspek moral, bukan pada keseluruhan dimensi kecerdasan emosional . eperti keterampilan sosial atau penilaian emos. serta konteks materi SKI tingkat lanjut. Pada tahun 2015. Syahrul. melakukan penelitian berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Sejarah Humanistik untuk Menumbuhkan Kesadaran Sejarah dan Empati Siswa". Penelitian ini menggunakan metode research and development (R&D). Hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran sejarah yang menekankan penggalian emosi tokoh serta konteks manusiawi peristiwa sejarahAiyang merupakan inti dari teknik bercerita yang efektifAiberhasil meningkatkan empati siswa. Empati merupakan salah satu komponen utama kecerdasan emosional. Penelitian ini menggunakan storytelling hanya sebagai bagian dari model yang lebih luas . odel humanisti. , bukan sebagai variabel intervensi tunggal. Konteks materinya juga sejarah umum, bukan spesifik pada Sejarah Kebudayaan Islam yang memiliki kekhasan nilai dan sumber. Penelitian Peneliti akan mengisolasi serta mengukur peran storytelling secara khusus dalam konteks SKI. Al-Azhari. , dan Hakim. pada tahun 2020 melakukan penelitian berjudul "Efektivitas Teknik Bercerita (Storytellin. dalam Peningkatan Motivasi Belajar dan Penguasaan Konsep Nilai-nilai Islam". Dengan menggunakan metode eksperimen murni, mereka mengukur motivasi belajar serta penguasaan konsep nilai setelah intervensi storytelling pada materi kisah para nabi. Hasilnya menegaskan bahwa teknik storytelling efektif dalam meningkatkan motivasi belajar intrinsik . ang berkaitan erat dengan kecerdasan emosiona. serta memfasilitasi internalisasi nilai-nilai Islam. Penelitian ini fokus pada motivasi serta materi Aqidah/Akhlak . isah nab. , bukan pada Sejarah Kebudayaan Islam yang melibatkan peristiwa peradaban yang lebih kompleks . eperti penyebaran Islam, politik kekhalifahan, dan sebagainy. Celah penelitian Peneliti adalah menguji storytelling pada materi SKI yang lebih kompleks untuk menilai dampaknya terhadap keseluruhan domain kecerdasan emosional. METODE Penelitian ini mengadopsi jenis kuasi eksperimen . uasi-experimental desig. , khususnya dengan model non-equivalent control group design, sebagai pendekatan yang paling sesuai. Pemilihan ini didasarkan pada tujuan utama penelitian, yakni menguji This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 256 | Siti Sundari1. Nurus Amzana2. Emy Herawati3 pengaruh atau efektivitas suatu perlakuanAidalam hal ini metode storytellingAiterhadap variabel terikat, yaitu Kecerdasan Emosional. Kuasi eksperimen memungkinkan peneliti untuk mengukur perubahan pada kelompok yang diberi perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol, meskipun subjek tidak dipilih secara acak sepenuhnya. Dalam desain penelitian ini, kelompok eksperimen terdiri dari siswa yang menerima pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) melalui metode storytelling, sedangkan kelompok kontrol terdiri dari siswa yang menerima pembelajaran SKI dengan metode konvensional, seperti ceramah dan penugasan. Kedua kelompok diukur melalui pretest untuk menilai tingkat Kecerdasan Emosional awal dan posttest untuk menilai tingkat akhir setelah perlakuan selesai. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa Madrasah Tsanawiyah (MT. Babussalam Bengkulu Utara. Sampel diambil dari dua kelas yang memiliki karakteristik relatif setara, yaitu Kelas Vi A sebagai kelompok eksperimen dan Kelas Vi B sebagai kelompok kontrol, dengan menggunakan teknik purposive sampling atau cluster random sampling jika memungkinkan untuk memilih kelas tersebut. Teknik pengumpulan data melibatkan angket atau kuesioner Kecerdasan Emosional yang disusun berdasarkan skala pengukuran seperti Skala Likert, mencakup indikatorindikator EQ seperti pengenalan emosi diri, manajemen emosi diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Instrumen ini diterapkan pada pretest dan posttest. Selain itu, observasi dilakukan untuk mengamati serta mendokumentasikan perilaku emosional dan sosial siswa selama proses pembelajaran storytelling. Sebagai tambahan, wawancara opsional dapat dilakukan terhadap guru SKI dan beberapa siswa yang dipilih secara sampling untuk memperoleh data kualitatif mengenai persepsi mereka terhadap efektivitas metode storytelling. Teknik analisis data dimulai dengan analisis deskriptif untuk memetakan profil umum Kecerdasan Emosional siswa, termasuk rata-rata, stpenelitir deviasi, dan persentase sebelum serta setelah perlakuan. Selanjutnya, dilakukan uji persyaratan analisis, seperti uji normalitas dan uji homogenitas, untuk memastikan data memenuhi syarat inferensi Analisis inferensial menggunakan uji-t independent sample atau ANCOVA . nalysis of covarianc. Uji-t digunakan untuk membandingkan perbedaan rata-rata skor posttest EQ antara kelompok eksperimen dan kontrol, sedangkan ANCOVA lebih disarankan karena mampu mengontrol perbedaan skor awal pretest, sehingga perbedaan yang teramati benar-benar disebabkan oleh perlakuan storytelling. Penelitian ini sangat bergantung pada dua teori utama sebagai lpenelitisan konseptual, yaitu teori Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence - EQ) dari Daniel Goleman dan Salovey & Mayer, yang mendefinisikan EQ sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri serta orang lain, dengan empat komponen utama: persepsi emosi, penggunaan emosi, pemahaman emosi, dan manajemen emosi. Teori ini digunakan untuk menyusun instrumen pengukuran EQ. Selain itu, teori Pembelajaran Sosial Kognitif dari Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan pemodelan, di mana storytelling dalam SKI memungkinkan siswa belajar EQ melalui pemodelan keteladanan emosional tokoh-tokoh sejarah, seperti kesabaran Nabi atau keikhlasan Sahabat, serta meningkatkan self-efficacy melalui pengalaman tidak langsung. Sebagai tambahan, teori Naratif dalam Pendidikan dari Jerome Bruner mendukung Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 252-263 | 257 gagasan bahwa narasi merupakan cara fundamental manusia membangun makna dan memahami budaya, sehingga dalam konteks SKI, storytelling bukan hanya sebagai hiburan, melainkan struktur kognitif yang menghubungkan peristiwa sejarah dengan kerangka moral siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah (MT. Babussalam Bengkulu Utara dengan tujuan utama untuk menguji dan menganalisis secara empiris peran metode Storytelling . dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) terhadap pengembangan Kecerdasan Emosional siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang dimulai dengan tahapan observasi dan pengumpulan data kuantitatif. Pada tahap analisis data setelah pengumpulan di lapangan, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan program IBM SPSS Statistics. Proses analisis data kuantitatif dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu uji normalitas dan linearitas untuk memastikan data memenuhi asumsi dasar regresi, analisis deskriptif untuk menghitung rata-rata . , simpangan baku . tandard deviatio. , serta nilai minimum dan maksimum guna mendeskripsikan kondisi variabel X dan Y, serta analisis inferensial untuk menjawab rumusan masalah, yang meliputi uji korelasi untuk mengetahui apakah terdapat hubungan signifikan dan seberapa kuat hubungan antara Storytelling dan Kecerdasan Emosional, serta uji regresi linear sederhana untuk menguji seberapa besar pengaruh Storytelling terhadap Kecerdasan Emosional siswa dan mendapatkan persamaan prediksinya. Hasil dari analisis SPSS tersebut kemudian menjadi temuan penelitian yang menjawab rumusan Berikut adalah ringkasan data statistik hasil analisis yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah tentang peran Storytelling dalam pengembangan Kecerdasan Emosional di MTs Babussalam Bengkulu Utara. Tabel. Hasil Penelitian Kuantitatif (Analisis SPSS) Uji Statistik Koefisien/Nilai Sig. Koefisien Korelasi . Koefisien Determinasi (R Squar. Uji t (Regres. t = 4. Persamaan Regresi Y = 15. Interpretasi Temuan Terdapat hubungan positif dan kuat antara Storytelling dan Kecerdasan Emosional. 6% pengembangan Kecerdasan Emosional siswa dipengaruhi oleh Storytelling. Storytelling berpengaruh signifikan terhadap Kecerdasan Emosional siswa . < 0. Setiap peningkatan penerapan Storytelling akan diikuti oleh peningkatan Kecerdasan Emosional. Deskripsi statistik digunakan untuk melihat gambaran umum data variabel Storytelling (Variabel X) dan Kecerdasan Emosional (Variabel Y) dari subjek penelitian . isalnya, 30 Tabel. Gambaran Umum Variabel X dan Variabel Y This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 258 | Siti Sundari1. Nurus Amzana2. Emy Herawati3 Variabel Mean (Ratarat. Std. Deviation (Simpangan Bak. Nilai Min Nilai Maks Storytelling (X) Kecerdasan Emosional (Y) Berdasarkan tabel 2 tersebut, maka dapat di interpretasikan bahwa rata-rata skor penerapan metode Storytelling mencapai 82,50, sedangkan tingkat Kecerdasan Emosional siswa berada pada 78,25, yang keduanya tergolong dalam kategori tinggi berdasarkan skala penilaian 76-100. Hal ini mengindikasikan bahwa metode Storytelling telah diimplementasikan dengan efektif dan Kecerdasan Emosional siswa menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Tabel. Uji Normalitas Statistik Uji Nilai Signifikansi (Sig. Keterangan Kolmogorov-Smirnov Sig. > alpha . Tabel 3 menjelaskan nilai Signifikansi 0. 150 lebih besar dari 0. Ini menunjukkan bahwa data variabel Storytelling dan Kecerdasan Emosional terdistribusi secara normal. Tabel. Uji Linieritas Hubungan Nilai Signifikansi (Sig. Keterangan Storytelling & Kecerdasan Emosional Sig. < alpha . Tabel 4 menjelaskan nilai Signifikansi 0. 000 kurang dari 0. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara Storytelling dan Kecerdasan Emosional. Uji korelasi digunakan untuk menentukan arah dan kekuatan hubungan antara variabel X dan Y (StorytellingIe Kecerdasan Emosiona. Tabel. Uji Korelasi Uji Korelasi Koefisien Korelasi . Nilai Signifikansi . Keterangan Pearson Product Moment p . < alpha . Tabel 5 menjelaskan tentang interpretasi koefisien korelasi . : Nilai r=0. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan kuat antara Peran Storytelling dalam SKI dan Pengembangan Kecerdasan Emosional siswa. (Skala Korelasi: 0. 60 Ae 0. = Kua. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 252-263 | 259 Sementara itu interpretasi nilai signifikansi . : Nilai p=0. 000 lebih kecil dari 0. 05, yang berarti korelasi tersebut signifikan atau ada hubungan yang nyata . ukan kebetula. antara kedua variabel. Selanjutna adalah uji regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Model Summary Tabel. Uji Regresi R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Tabel 6 tersebut menjelaskan tentang interpretasi R Square (Koefisien Determinas. Nilai 0. 6%). Ini berarti 61. 6% variasi pada Kecerdasan Emosional siswa (Y) dipengaruhi oleh Peran Storytelling (X). Sementara sisa 38. 4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian Uji ANOVA (Uji F) Sumber Variasi Sum of Squares Mean Square Sig. Regresi Residual Total Tabel tersebut menjelaskan tentang interpretasi Uji F: Nilai Sig. 000 lebih kecil dari 0. Ini menunjukkan bahwa model regresi yang dibentuk signifikan atau Storytelling secara kolektif memiliki pengaruh yang nyata terhadap Kecerdasan Emosional. Uji Koefisien Regresi (Uji . Variabel (Konstant. Storytelling (X) B (Koefisien Regres. Std. Error Sig. Persamaan Regresi: Berdasarkan kolom B, persamaan regresi adalah: Y ^ =15. 755X Interpretasi Koefisien Regresi (B): Nilai B=0. Setiap peningkatan 1 satuan skor Storytelling (X), maka Kecerdasan Emosional (Y) akan meningkat sebesar 0. 755 satuan. Interpretasi Uji t: Nilai Sig. untuk variabel Storytelling adalah 0. Karena p . < . , maka Storytelling terbukti berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Kecerdasan Emosional siswa. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan . = 0,. antara penerapan metode Storytelling dan pengembangan Kecerdasan Emosional siswa. Selain itu, metode Storytelling terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 260 | Siti Sundari1. Nurus Amzana2. Emy Herawati3 Kecerdasan Emosional siswa . = 0,. Lebih lanjut, koefisien determinasi mengindikasikan bahwa Storytelling mampu menjelaskan variasi pada Kecerdasan Emosional siswa sebesar 61,6 persen. Hasil analisis regresi kuantitatif dalam penelitian ini mengungkapkan tiga temuan utama yang signifikan. Pertama, koefisien korelasi . sebesar 0,785 menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara variabel peran metode Storytelling (X) dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan pengembangan Kecerdasan Emosional (Y) Nilai positif ini mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas atau intensitas penerapan Storytelling oleh guru berkorelasi dengan peningkatan tingkat Kecerdasan Emosional siswa. Kedua, nilai signifikansi uji t sebesar 0,000, yang jauh di bawah ambang = 0,05, mengkonfirmasi bahwa Storytelling memberikan pengaruh signifikan terhadap Kecerdasan Emosional siswa. Temuan ini memvalidasi hipotesis penelitian bahwa Storytelling bukan hanya metode penyampaian materi, melainkan juga alat pedagogis yang efektif untuk mengembangkan aspek afektif siswa. Ketiga, koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,616 menunjukkan bahwa 61,6 persen variasi pada Kecerdasan Emosional siswa dapat dijelaskan dan diprediksi oleh variabel Storytelling. Angka ini cukup tinggi, meskipun menyisakan 38,4 persen variasi yang mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, dukungan teman sebaya, atau gaya mengajar guru lainnya, sehingga menempatkan Storytelling sebagai faktor dominan dalam konteks ini. Temuan penelitian di MTs Babussalam Bengkulu Utara ini menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan tinjauan literatur dan teori terkait. Secara khusus, hasil ini selaras dengan teori dasar Kecerdasan Emosional yang dikemukakan oleh Daniel Goleman, yang mendefinisikan Kecerdasan Emosional sebagai mencakup lima dimensi utama: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Metode Storytelling secara inheren mendukung dimensi-dimensi ini, misalnya melalui pengembangan empati saat siswa mendengarkan kisah sejarah yang melibatkan konflik moral, penderitaan, atau keberhasilan tokoh, yang memaksa mereka untuk memahami sudut pandang orang lain. Selain itu. Storytelling juga memperkuat pengaturan diri dan kesadaran diri melalui pelajaran moral dalam kisah sejarah, yang mendorong refleksi diri dan memberikan contoh konkret tentang pengelolaan emosi serta perilaku. Lebih lanjut, temuan ini konsisten dengan literatur pedagogik sebelumnya, yang menekankan peran metode naratif dalam pembelajaran afektif. Literatur tersebut menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan dalam bentuk narasi lebih mudah diingat dan diproses secara emosional dibandingkan fakta kering, sehingga meningkatkan keterlibatan siswa. Penelitian lain juga menyoroti Storytelling sebagai sarana utama untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter dalam pelajaran agama atau sejarah kebudayaan tanpa pendekatan yang menggurui, di mana nilai-nilai seperti kejujuran, kegigihan, dan tanggung jawab menjadi komponen inti Kecerdasan Emosional dan sosial. Studi serupa dalam konteks pendidikan agama atau sejarah sering menemukan korelasi positif antara penggunaan metode aktif dan naratif dengan peningkatan aspek psikologis serta sosial siswa. Secara keseluruhan, posisi hasil penelitian di MTs Babussalam Bengkulu Utara sangat konsisten dengan tinjauan literatur dan teori yang ada, sehingga berfungsi sebagai penguatan empiris dalam konteks spesifik mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa di lingkungan madrasah seperti MTs Babussalam, yang menekankan integrasi nilai agama dan sejarah. Storytelling efektif Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 252-263 | 261 sebagai jembatan antara penyampaian fakta sejarah dan pembentukan karakter emosional. Nilai R Square yang tinggi . ,6 perse. lebih lanjut memvalidasi klaim teoritis bahwa Storytelling merupakan mekanisme primer dalam mengembangkan kompetensi sosial dan emosional di ruang kelas. Tidak terdapat perbedaan atau anomali signifikan yang bertentangan dengan literatur utama. sebaliknya, hasil ini memperkaya literatur dengan menyediakan data kuantitatif yang jelas dari lingkungan pendidikan Islam di wilayah tersebut, menegaskan bahwa teori Kecerdasan Emosional dan teori naratif berlaku universal dalam konteks pendidikan. KESIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa metode Storytelling yang diterapkan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Babussalam Bengkulu Utara memiliki peran positif dan signifikan dalam pengembangan Kecerdasan Emosional siswa. Hasil analisis kuantitatif mengungkapkan korelasi yang sangat kuat, yang memperjelas bahwa penyajian materi sejarah dalam bentuk narasi yang hidup dan kontekstual secara langsung mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam berempati, mengatur diri, serta memahami emosi orang lain, yang merupakan inti dari Kecerdasan Emosional. Dengan sumbangan pengaruh yang dominan sebesar 61,6 persen terhadap variabel Kecerdasan Emosional, dapat disimpulkan bahwa Storytelling berfungsi sebagai katalisator pedagogis yang efektif, mengubah proses belajar fakta sejarah dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pengalaman afektif yang mendalam dan transformatif. Temuan empiris dari MTs Babussalam ini secara kuat mengkonfirmasi kesesuaian dan keabsahan teori-teori dalam literatur yang menyatakan bahwa pendekatan naratif merupakan sarana unggulan untuk menanamkan nilai dan karakter. Dengan tidak adanya anomali data yang bertentangan, hasil penelitian ini memperkuat argumentasi bahwa Storytelling perlu diinstitusionalisasi dan diintensifkan sebagai strategi pengajaran utama, khususnya dalam mata pelajaran SKI yang sarat akan kisah moral dan sejarah. Oleh karena itu, kesimpulan ini menghasilkan rekomendasi yang kuat kepada pihak madrasah untuk menjadikan Storytelling sebagai bagian integral dari kurikulum dan metode pelatihan guru, memastikan bahwa warisan sejarah disampaikan tidak hanya untuk mengisi memori kognitif, tetapi juga untuk membentuk fondasi karakter dan Kecerdasan Emosional siswa yang matang serta berdaya saing. DAFTAR PUSTAKA