Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Penggambaran Terorisme Dalam Film AuSayap-sayap PatahAy 1Adrian Bima Prayoga 2Catur Suratnoaji UPN AuVeteranAy Jawa Timur. Jl. Rungkut Madya No. Gn. Anyar. Kec. Gn. Anyar. Kota Surabaya. Jawa Timur . 18706369 Jurusan Ilmu Komunikasi. FISIP UPN AuVeteranAy Jawa Timur adrianbima04@gmail. Abstract Film has become a familiar audio-visual communication medium enjoyed by people of all ages and social backgrounds. The film AuSayap-sayap PatahAy, which recently appeared on Indonesian film screens, has become a public concern and is trending on Twitter social media. This is because the story behind it tells about the terrorist atrocities that occurred in the film. Apart from that, the film shows the scene of the main terrorist mastermind to invite his colleagues to carry out their duties under the pretext of religious interests under the guise of politics. The purpose of this study is to explain the representation of terrorism in the film AuSayap-sayap PatahAy using semiotic analysis. This study uses descriptive qualitative approach with Roland Barthes semiotics to find out the depiction or representation of terrorism that occurs in the film AuSayapsayap PatahAy. The results of the research that can be taken are in this film that there are scenes that contain symbols and signs regarding representations depicting acts of terrorism both through scenes and dialogues which are analyzed using the semiotics of Roland Barthes' perspective, namely emphasizing the system of meaning of signs or symbols used in a film goes through two stages, namely the meaning of denotation and connotation where in the second stage, namely connotation, the sign works through myth . Keywords: Semiotics. Film. Terrorism Abstrak Film telah menjadi media komunikasi audio visual yang familiar dinikmati oleh semua kalangan dari berbagai rentang usia dan latar belakang sosial. Film Sayap-sayap Patah yang baru-baru ini hadir di layar perfilman Indonesia menjadi perhatian publik dan trending di media sosial twitter. Hal tersebut lantaran kisah yang ada di baliknya yang menceritakan tentang kekejaman teroris yang terjadi pada film tersebut. selain itu dalam film tersebut menampilkan adegan dalang utama teroris untuk mengajak rekan-rekannya untuk melaksanakan tugasnya dengan dalih untuk kepentingan agama yang berkedok politik. penelitian ini adalah untuk menjelaskan representasi terorisme dalam film Sayap-sayap Patah menggunakan analisis semiotika. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika roland barthes untuk mengetahui penggambaran atau representasi terorisme yang terjadi dalam film SayapAesayap Patah. Hasil penelitian yang dapat diambil adalah pada film ini bahwa ditemukan adegan yang mengandung simbol-simbol dan tandatanda mengenai representasi penggambaran kejadian terorisme baik melalui adegan maupun dialog yang dianalisis dengan menggunakan semiotika perspektif Roland Barthes yakni menekankan pada sistem pemaknaan tanda atau simbol yang digunakan dalam sebuah film 975 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. melalui dua tahapan yaitu makna denotasi dan konotasi dimana pada tahapan kedua yaitu konotasi, tanda bekerja melalui mitos . Kata kunci: Semiotik. Film. Terorisme PENDAHULUAN Film sebagai media komunikasi massa hadir pada abad ke-18, dan mulai berkembang pada akhir abad ke-19. Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1992 yang dimaksud dengan film ialah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis dan ukuran melalui proses kimiawi, yang dapat dipertunjukan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan lainnya (Tamburaka, 2013:. Film bisa dikatakan sebagai media komunikasi massa yang dapat memanifestasikan gambar dan suara. Film menjadi sarana atau media komunikasi yang bisa memengaruhi masyarakat melalui rangkaian gambar yang ditampilkannya (Setiawan et al. , 2. Film mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang suatu hal secara luas kepada khalayak. Hal ini mempertegas eksistensi film sebagai media komunikasi massa yang ampuh dalam memengaruhi pola pikir publik (Mulyana, 2. Film hanya sekedar sebagai media refleksi semata, bisa dikatakan film hanya sebatas memindahkan sebuah realitas ke layar tanpa mengubah realitas tersebut. Sementara itu, sebagai representasi dari realitas, film membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensikonvensi, dan ideologi dari kebudayaan (Tuner dalam Sobur, 2016:. Melalui perkembangan media komunikasi massa ini, banyak isu-isu berita yang disebarkan oleh media kepada khalayak, salah satunya isu yang kembali muncul kepermukaan yaitu terorisme. Istilah terorisme sudah sangat familiar di berbagai belahan dunia, baik di negara-negara Eropa. Timur Tengah, bahkan Asia termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya kekerasan juga kehancuran di setiap tempat karena tindakan terorisme yang menyebabkan kerugian harta, benda, bahkan nyawa manusia (Wirianto & Girsang, 2. Terorisme merupakan aksi teror yang terorganisir menggunakan kekerasan fisik terhadap individu-individu yang tidak bersalah. Sebutan teroris sering diarahkan kepada kelompok-kelompok tertentu yang melatar belakangi tindakan terorisme sebagai bentuk dari jihad (Handoko, 2. Terorisme menjadi isu global dan menjadi perhatian dunia, terkhusus membuat pandangan Barat memandang negatif terhadap umat Islam setelah penyerangan gedung World Trade Center (WTC) di New York. Amerika Serikat pada 11 September 2001. Setelah kejadian ini negaranegara Barat secara resmi mengumumkan perang melawan teroris global atau disebut dengan . lobal war on terroris. (Pradana, 2. Fadhillah & Muhiddin . mengatakan bahwa media memiliki peranan besar dalam merekam jejak terorisme diberbagai belahan dunia, terkhusus media Hollywood dan Bollywood. Setelah tragedi penyerangan gedung WTC di Amerika Serikat dan penyerangan di 976 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. beberapa tempat di India, membuat media Hollywood dan Bollywood gencar membuat film layar lebar bertemakan aksi terorisme yang dilakukan oleh muslim diantaranya London Has Fallen . Phantom . The Kingdom . My Name is Khan . dan Hotel Mumbai . Di Indonesia kasus terorisme terbesar terjadi di Kuta Bali atau yang disebut kasus Bom Bali pada tahun 2002 silam. Menurut sumber dari museum. korban tewas mencapai 202 orang, sebanyak 164 orang diantaranya warga asing dari 24 negara, 38 orang lainnya warga Indonesia, 209 orang mengalami luka-luka. Peristiwa yang disebut Bom Bali ini dianggap sebagai aksi terorisme terparah dalam sejarah Indonesia (Tempo. co, 2. Film Sayap-sayap Patah yang baru-baru ini hadir di layar perfilman Indonesia, juga menjadi perhatian publik dan trending di media sosial Twitter. Hal tersebut lantaran kisah yang ada di baliknya. Adapun film Sayap-sayap Patah diproduseri oleh Denny Siregar disutradarai oleh Rudi Soedjwaro. Film ini berdurasi 110 menit serta diperankan oleh deretan aktor dan aktris top Indonesia diantaranya yaitu Nicholas Saputra. Ariel Tatum. Iwa K. Nugie. Edward Akbar. Poppy Sovia. Ariyo Wahab. Khiva Iskak. Dewi Irawan. Gibran Marten. Revaldo. Aden Bajaj. Ending cerita yang bikin terharu, membuat khalayak penonton tertarik kronologi kejadian Mako Brimob 2018, mengingat film ini menceritakan peristiwa berdasarkan tragedi kerusuhan Mako Brimob 2018. Melansir berita dari viva. Denny Siregar mengungkapkan banyak pesan moral yang ingin disampaikan melalui tayangan film Sayap-sayap Patah. Terutama membuka mata masyarakat bahwa aksi terorisme sangat kejam dan mengancam kehidupan umat manusia. Denny Siregar pun berharap, manfaat yang bisa diperoleh dari tontonan film itu dapat semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu, karya serupa akan terus diproduksi dengan tujuan Indonesia terbebas dari paham-paham radikalisme dan terorisme. Melalui film yang diangkat dari kejadian nyata itu. Denny Siregar juga mengajak kepada publik agar bersama-sama melawan dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham serta gerakan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (Adhiyasa, 2. Hal tersebut menggambarkan kondisi negara Indonesia yang merupakan salah satu negara yang rentan dengan aksi terorisme. Banyak penelitian yang menyebut ketidakhadiran negara di tengah masyarakat seperti kesenjangan sosial dan ekonomi, ketidakadilan, sulitnya mengakses pendidikan dan kesehatan, dekadensi moral, dan lain sebagainya (Rahimah et al. , 2. Keadaan ini dimanfaatkan oleh individu atau kelompok untuk melakukan perubahan sosial dengan cara-cara radikal. Realitas inilah yang AodirekamAo dan diinterpretasikan oleh sineas, kemudian direpresentasikan ke dalam sebuah film Sayap-sayap Patah. Model semiotika menurut pandangan Roland Barthes juga digunakan dalam penelitian ini sebagai pendukung pisau bedah analisis. Roland Barthes . 5 Ae 1. merupakan tokoh yang begitu identik dengan kajian Semiotik. Perspektif Roland Barthes yakni menekankan pada sistem pemaknaan tanda atau simbol yang digunakan dalam sebuah film melalui dua tahapan yaitu makna denotasi dan konotasi 977 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dimana pada tahapan kedua yaitu konotasi, tanda bekerja melalui mitos . (Jane & Kencana, 2. Sehingga dalam penelitian ini, analisis semiotika dilakukan untuk menginterpretasikan simbol-simbol yang menggambarkan terorisme yang terdapat pada film Sayap-sayap Patah dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hal ini penting dilakukan untuk mengurai pesan-pesan tersembunyi yang ada pada film tersebut. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti akan mengangkat judul AuRepresentasi Terorisme dalam Film (Analisis Semiotika Pada Film Sayap-sayap Pata. Ay. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan representasi terorisme dalam film Sayap-sayap Patah menggunakan analisis semiotika. TINJAUAN PUSTAKA Konsep Terorisme Terorisme adalah tema yang sangat unik dan menarik untuk diteliti dan dikaji. Terorisme sebagai sebutan bagi fenomena sosial, selalu dalam perdebatan yang terus-menerus dan tidak kunjung usai. Terorisme sebagai objek penelitian, telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah dan menelorkan kajian-kajian yang Di kalangan peneliti, banyak sekali yang mengangkat tema-tema terorisme dan mencetuskan berbagai teori-teori baru. Hal ini mengindikasikan bahwa terorisme itu adalah tema yang memiliki daya tarik yang sangat tinggi dan merupakan tema yang tidak akan pernah kering. Semua ini membuktikan bahwa kepedulian peneliti terhadap tema-tema terorisme, ternyata masih cukup tinggi. Dan begitu pula, hasil penelitian tentang terorisme yang sangat bervariasi itu menandakan bahwa masih ada aspek-aspek menarik yang masih perlu untuk dikaji lebih lanjut (Mubarak, 2012:. Dalam buku Root Causes of Terrorism: Myths. Reality, and Ways Forward. Bjyrgo menawarkan sebuah tipologi yang dapat digunakan untuk memahami faktor faktor penyebab terorisme. Bjyrgo membedakan antara dua kategori penyebab dalam tipologinya, yaitu precondition softerrorism dan precipitants of terrorism. Preconditions adalah faktor-faktor yang menyediakan kondisi yang dalam jangka panjang kemudian melahirkan terorisme. Sementara itu, precipitants of terrorism adalah peristiwa atau fenomena spesifik tertentu yang secara langsung mendahului atau memicu terjadinya sebuah tindak terorisme. Kedua faktor ini terbagi menjadi empat level (Zaidan, 2017:158-. Faktor penyebab struktural, yaitu faktor-faktor penyebab yang memengaruhi kehidupan masyarakat di tingkat makro, yang kemungkinan tidak disadari. Beberapa faktor struktural yang dikemukakan Bjorgo antara lain ketidak seimbangan emografik, globalisasi, modernisasi yang sangat cepat, transisi masyarakat, meningkatnya individualisme dan ketercerabutan dari akar serta keterasingan dalam masyarakat dan struktur kelas. Faktor penyebab fasilitator . , yaitu faktor-faktor yang menyebabkan terorisme menjadi pilihan menarik untuk dilakukan, meskipun 978 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. bukan pendorong utama terjadinya terorisme. Contoh-contoh penyebab di level ini seperti perkembangan media massa di era modern, perkembangan transportasi, teknologi persenjataan, lemahnya kontrol negara atas wilayahnya, dan lain sebagainya. Faktor penyebab motivasional, yaitu ketidakpuasan aktual . yang dialami di tingkat personal, yang memotivasi seseorang untuk bertindak. Para ideolog atau pemimpin politik mampu menerjemahkan penyebab-penyebab dilevel struktural dan membuatnya relevan ditingkat motivasional melalui ideologi-ideologi sehingga dapat menggerakan orang-orang untuk bergerak. Faktor pemicu, yaitu penyebab langsung terjadinya tindak teroris. Faktor pemicu dapat berupa terjadinya peristiwa yang provokatif atau persitiwa politik tertentu atau tindakan yang dilakukan oleh pihak musuh yang menimbulkan reaksi tertentu. Film Merujuk pada Alkhajar, sudah semenjak tahun 1930-an. Paul Rotha menyatakan bahwa film merupakan penemuan teknologi terbesar sepanjang masa dimana keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari dua arah yang melingkupinya secara bersamaan: budaya dan komersial. Dalam abad kedua puluh satu ini, film yang juga merupakan salah satu bentuk budaya kontemporer telah menjadi industri bernilai ribuan dollar Amerika (Alkhajar, 2. Film telah menjadi media komunikasi audio visual yang familiar dinikmati oleh semua kalangan dari berbagai rentang usia dan latar belakang sosial. Kekuatan dan kemampuan film untuk menjangkau banyak segmen sosial, kemudian membuat para ahli mengatakan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi Film dapat memberikan dampak bagi setiap penontonnya, dapat berdampak positif maupun negatif. Melalui pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, film mampu mempengaruhi bahkan mengubah dan membentuk karakter penonton (Ardianto et al. , 2. Analisis Semiotika Semiotika adalah studi tentang tanda dan simbol yang merupakan tradisi penting dalam pemikiran tradisi komunikasi. Tradisi semiotik mencakup teori utama tentang bagaimana tanda merepresentasikan objek, gagasan, situasi, keadaan, perasaan, dan sebagainya yang berada di luar diri (Subardja & Arviani, 2. Menurut Roland Barthes, semiotika adalah ilmu atau metode analisis untuk mempelajari tanda-tanda. Tanda adalah alat yang kita gunakan dalam mencoba menemukan jalan kita di dunia ini. Di tengah manusia dan dengan manusia. (Sobur. Barthes menyatakan bahwa semiologi bertujuan untuk mengambil berbagai sistem tanda seperti substansi dan batasan, gambar-gambar, berbagai macam gesture, berbagai suara musik, serta berbagai objek, yang menyatu dalam system of significance (Radityama, 2. System of significance atau two order of signification dalam semiotika adalah kajian mengenai makna atau simbol dalam bahasa atau tanda yang terbagi menjadi dua tingkat signifikasi yaitu tingkat denotasi dan konotasi serta aspek lain dari penandaan. 979 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel 2. Tabel Peta Tanda Barthes Signifier . Signified . Denotative sign . anda denotati. Connotative signifier . enanda Connotative signifier . enanda Connotative sign . anda konotati. Tabel Barthes di atas menjelaskan bahwa tanda denotatif . terdiri atas penanda . dan petanda . Akan tetapi, di saat yang bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif . Konotasi bersifat subjektif sehingga sering kali tidak disadari. Individu dapat dengan mudah membaca makna konotatif sebagai fakta Tahap pertama merupakan hubungan antara signifier . dan signified . dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Hal itu disebut Barthes sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi merupakan signifikasi di tahap kedua, konotasi bersifat subjektif dan menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda yang ada bertemu dengan perasaan atau emosi dan nilai kebudayaan dari individu yang merupakan penerima pesan. Dapat diartikan bahwa denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek sedangkan konotasi adalah bagaimana seseorang menggambarkannya. Representasi pada Roland Bartes Pada dasarnya representasi adalah proses sebuah objek ditangkap oleh indra seseorang, lalu masuk ke akal untuk diproses yang hasilnya adalah sebuah konsep/ide yang dengan bahasa akan disampaikan/diungkapkan kembali. Singkatnya, representasi adalah proses pemaknaan kembali sebuah objek/fenomena yang maknanya akan tergantung bagaimana seseorang itu mengungkapkannya melalui bahasa. Representasi juga sangat bergantung dengan bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang melakukan representasi tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, untuk mulai memilah-milah setiap tanda di dalam film. Membagi tanda menjadi pemaknaan dua tahap, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi merupakan penanda dan petanda, yakni objek dan makna langsungnya. Sedangkan, konotasi adalah makna tersembunyi yang tidak nampak dan tidak mudah dimengerti secara langsung yang biasanya bersifat kultural, lebih-lebih sangat ideologis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deksriptif kualitatif dengan cara mengumpulkan data selengkap-lengkapnya dan dianalisis sampai pada titik yang Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan teknik pengumpulan data 980 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. yang selengkap-lengkapnya dan digali sedalam-dalamnya serta tidak mengutamakan jumlah populasi atau sampling. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analaisis semiotika yang berfokus pada tanda dan teks sebagai objek kajian serta bagaimana peneliti menafsirkan atau memaknai dan memahami kode di balik tanda dan lambang yang ditampilkan. Fokus model semiotika Barthes adalah two order of signification atau yang biasa disebut signifikasi dua tahap. Tahap pertama yaitu korelasi antara signifier dan signified yang terdapat pada realitas eksternal, yang biasa disebut Barthes sebagai denotasi atau makna yang paling nyata dari tanda. Signifikasi tahap kedua adalah konotasi yang menunjukkan interaksi yang terjadi ketika sebuah tanda berhadapan dengan realita. Konotasi merupakan hubungan antara emosi dari dari penonton, pembaca, dan kebudayaan yang ada di masyarakat, maka konotasi bersifat subjektif. Teknik pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini yaitu studi literatur dan dokumentasi. Studi literatur adalah sebuah teknik mencari referensi teori yang relevan dengan kasus atau rumusan masalah yang ditemukan. Studi literatur berisikan ulasan, rangkuman, serta pemikiran penulis mengenai beberapa sumber pustaka seperti artikel, buku, informasi dari internet, data gambar, grafik dan lain sebagainya yang berkaitan dengan topik penelitian. Sedangkan dokumentasi merupakan suatu cara untuk memperoleh data serta informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, angka atau gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat menjadi pendukung penelitian. Penelitian ini akan mengumpulan scene atau adegan yang menunjukkan objektifikasi seksual terhadap perempuan di film Sayap-Sayap Patah. HASIL DAN PEMBAHASAN Scene 14 Leong melihat keponakan Rasyid yang bernama Desi untuk memengaruhi agar ikut bergabung dengan Rasyid melakukan terorisme dengan dalih tujuan terorisme mereka adalah surga. Denotasi Pada scene ini Leong berusaha mencuci otak Rasyid dan mempengaruhi Desi untuk mau terlibat dalam aksi terorisme. Ditampilkan secara visual scene ini, dengan beberapa kalimat Leong, akhirnya Desi terbujuk oleh rayuan Leong. Konotasi Peneliti memaknai bahwa Leong pandai dalam mempengaruhi pola pikir seseorang dengan Denotasi dan Konotasi Pada dalih tujuan jihad dalam Scene 14 981 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pada scene ini memperlihatkan ditengah dialog yang dilakukan antara Leong dan Rasyid, tiba-tiba Desi . eponakan Rasyi. menghampiri mereka lantaran penasaran. Melihat hal tersebut. Leong akhirnya membujuk Rasyid agar Desi berkeinginan untuk bergabung dalam aksi terorisme yang dilakukan di Mapolrestabes Surabaya. Peneliti melihat bahwa Leong berusaha mencuci otak Rasyid dan Desi dengan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan saat ini ialah pada akhirnya membawa tujuan mereka dalam beragama yakni meraih surga. Konsepsi tersebut membuat Desi mengiyakan permintaan Leong. Scene 24 Leong dan Abu Toyib membicarakan terkait rencana perjuangan yang pertama telah berhasil dan Leong menyampaikan ke Abu Toyib bahwa Rasyid terlihat tidak yakin dengan lingkaran terorisme sehingga membuat mereka untuk terus berusaha menyakinkan Rasyid. Denotasi Pada scene ini, menggambarkan dialog antara Leong dan Abu Toyib Rasyid. Ditampilkan secara visual, scene ini Leong menceritakan kalau keyakinan Rasyid. Melihat hal tersebut. Abu Toyib akan pola pikir Rasyid. Denotasi dan Konotasi Pada Konotasi Peneliti melihat bahwa Leong Scene 24 berusaha untuk mencuci otak Rasyid. Peneliti memaknai bahwa hal tersebut bertujuan untuk memperkuat pemikiran Rasyid. Pada scene ini menggambarkan situasi di mana Leong dan Abu Toyib. Mereka membicarakan mengenai terorisme yang mereka jalani sebagai bagian dari perjuangan untuk menuju surga. Setelah aksi pengeboman yang beberapa waktu lalu dilakukan di Mapolrestabes Surabaya. Leong menyampaikan kekhawatirannya kepada Abu Toyib terkait keyakinan Rasyid di jalur terorisme ini, sehingga membuat Abu Toyib akan berusaha meyakinkan mempengaruhi pola pikir Rasyid mengenai jalur perjuangan yang ia jalani sekarang. Peneliti memaknai bahwa dalam dunia terorisme, mereka seringkali menerapkan brainwash atau cuci otak terhadap anggotanya dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang kuat terkait jalur terorisme merupakan sebagai bagian jihad dalam beragama. Scene 13 Leong mendatangi rumah Rasyid untuk memeriksa baju rompi yang akan digunakan dalam aksi pengeboman di Mapolrestabes Surabaya. 982 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Denotasi Denotasi dan Konotasi Pada Scene 13 Konotasi Pada scene ini digambarkan pada Leong yang mendatangi rumah Rasyid untuk mengecek baju yang akan digunakan dalam aksi pengeboman. Ditampilkan memperlihatkan Leong yang sedang memegang atribut baju rompi di dalamnya terdapat Peneliti menggambarkan bahwa kostum yang digunakan dalam Mapolrestabes Surabaya yang didukung dengan make up atau tampilan wajah Leong yang berjenggot merepresentasikan seyogyanya stigma masyarakat terhadap terorisme, karena ternyata memang berjenggot sehingga memiliki kesesuaian. Pada scene ini, menampilkan persiapan yang dilakukan Leong beserta Rasyid yakni mengecek kostum yang akan digunakan oleh aksi pengeboman di Mapolrestabes Surabaya. Peneliti memaknai bahwa tampilan wajah Leong yang berjenggot dan memegang kostum tersebut telah merepresentasikan seyogyanya stigma masyarakat terhadap terorisme, karena setiap kali terjadi sebuah accident seperti pemboman masal, yang menjadi pelakunya berjenggot sehingga memiliki kesesuaian antara kostum dan make up wajah yang ditunjukkan oleh Leong. Scene 20 Pada scene 20 ini. Rasyid keluar dari halaman Kantor Kepolisian Mapolrestabes Surabaya sebagai kode kepada Desi untuk segera menjalankan aksi Ketika Rasyid keluar diikuti oleh Ipda Ridwan & Ipda Kuntadi, kemudian Rasyid menemui Leong sambil menunggu Desi memasuki halaman Kantor Kepolisian Mapolrestabes Surabaya. 983 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Denotasi Denotasi dan Konotasi Pada Scene 20 Konotasi Pada scene ini, digambarkan Desi memasuki halaman kantor Mapolrestabes Surabaya dengan tatapan yang terlihat kosong dan wajah yang pakaian jaket berwarna merah. Ditampilkan secara visual scene ini memperlihatkan tatapan mata Desi yang terlihat kosong dan wajah yang pucat serta menggunakan pakaian jaket berwarna merah. Peneliti tampilan tatapan mata Desi yang terlihat kosong dan wajah yang pakaian jaket berwarna merah menandakan kesan misterius. Adapun fungsi jaket merah sebagai alat samara. Tampilan wajah dan pakaian merupakan penunjang adegan yang Pada scene ini, rias wajah yang ditampilkan Desi ialah sangat pucat dengan tatapan mata yang kosong saat berjalan memasuki halaman Kantor Mapolrestabes Surabaya, sedangkan pakaian yang digunakan yakni jaket berwarna merah yang terlihat membesar dikarenakan didalamnya terdapat rompi jaket yang dilengkapi aksesoris bom. Kostum yang dikenakan Desi sebagao pelaku bom bunuh diri ini memiliki fungsi sebagai alat samaran, sehingga ia tidak dicurigai oleh petugas keamanan. Jika diperhatikan, warna kostum yang dikenakan oleh pelaku sangat mencolok sekali terlebih jaket yang terlihat juga Kostum dengan warna yang berbeda memang dibutuhkan, apalagi pada adegan di mana fokus yang ingin dituju hanya satu tokoh saja, namun berada di Hal ini agar penonton juga dapat membedakan mana yang menjadi fokus utama adegan tersebut. Scene 60 Leong meminta seorang Narapidana untuk membawa Ipda Sudarmaji menghadap dirinya. Sesaat kemudian Leong mendapat telepon dari AKP Sadikin yang mengintai dari luar. Denotasi Pada scene ini, menggambarkan AKP Sadikin yang mencoba 984 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Konotasi Denotasi dan Konotasi Pada Scene 58 Leong apabila tidak melepaskan Ditampilkan secara visual, scene ini Leong berusaha tidak tergoda dengan ancaman dari AKP Sadikin. Peneliti melihat bahwa dalam ideologi terorisme sekalipun mereka dalam keadaan terdesak penyerangan polisi, hal tersebut tidak sedikitpun melemahkan Melainkan membuat Leong semakin kejam memberikan Pada scene ni menampilkan drama penyanderaan terhadap Iptu Ruslan dan Ipda Sudarmaji. Leong yang melihat Ipda Sudarmaji tidak berdaya akibat melawan banyaknya narapidana meminta untuk salah satu narapidana untuk membawa Ipda Sudarmaji menghadap Leong. Namun di saat waktu yang sama, narapidana lainnya membawa telepon kabel yang berada di ruang kepolisian karena AKP Sadikin mencoba melakukan pendekatan persuasif. Akan tetapi, upaya tersebut membuahkan hasil yang nihil dikarenakan kuatnya serangan teror pada saat itu. Peneliti melihat bahwa dalam ideologi terorisme sekalipun mereka dalam keadaan terdesak dan mendapat ancaman penyerangan polisi, hal tersebut tidak sedikitpun melemahkan intensitas serangan teror. Melainkan membuat Leong semakin kejam memberikan penyiksaan kepada para sandera. Dapat diartikan bahwa dalam jaringan terorisme yang digambarkan dalam film ini menunjukkan ketika seseorang telah menyakini sebuah ideologi radikalisme dan memiliki dasar pembenaran atas tindakan yang ia lakukan, maka orang tersebut tidak akan mudah terhasut dan akan semakin menyakini bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah perang dan jihad dalam kebaikan. Scene 66 Iptu Ruslan mengingatkan Leong bahwa kalau ia membunuh polisi, maka pasukan polisi akan masuk dan menangkap kalian serta meminta Leong untuk Namun Leong menegaskan bahwa dirinya tidak takut mati dan siap untuk mati. Menurutnya mati di perang lebih baik daripada mati menghabiskan waktu di penjara. Denotasi Pada scene ini. Iptu Ruslan meminta Leong untuk menyerah Ditampilkan secara visual, scene 985 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Konotasi Leong propaganda kepada seluruh Peneliti melihat respon Leong saat mendengar ancaman dari Iptu Ruslan. Leong berusaha untuk memberikan dorongan keyakinan yang kuat kepada seluruh narapidana. Denotasi dan Konotasi Pada Scene 65 Pada scene ini, masih menampilkan proses penyanderaan di Mako Brimob. Narapidana yang dipimpin Leong dan sandera yakni Iptu Ruslan dan Ipda Sudarmaji saling melemparkan ancaman. Iptu Ruslan mengingatkan Leong bahwa kalau ia membunuh polisi, maka pasukan polisi akan masuk dan menangkap kalian serta meminta Leong untuk menyerah dan melepaskan sandera. Namun Leong menegaskan bahwa dirinya tidak takut mati dan siap untuk mati. Lebih lanjut, saat melihat ancaman dari Iptu Ruslan, peneliti memaknai bahwa Leong melakukan propaganda kepada narapidana lainnya dengan mempengaruhi aspek emosional dan mempengaruhi ego dari tiap narapidana secara massal bahwa pandangan mati di dalam medan perang lebih baik daripada menghabiskan waktu di dalam Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Menurut Barthes, mitos dalam semiotik bukan merupakan sebuah konsep tapi suatu cara pemberian makna (Sobur, 2017:. Pada film Sayap-sayap Patah, terorisme direpresentasikan sebagai suatu tindakan kekerasan yang dilakukan dengan tujuan eksplisit perjuangan jihad namun sebenarnya terdapat tujuan implisit di dalamnya yakni motivasi politik di mana targetnya tempat kepolisian yang notabene dianggap sebagai tempat paling aman. Dari sudut pandang studi terorisme, aksi teror terhadap kepolisian ini sekaligus menjadi konfirmasi bagi beberapa aspek yang dinilai menjadi bagian integral suatu tindakan terorisme. Namun, aksi terorisme dalam film Sayap-sayap Patah ini juga sekaligus meruntuhkan beberapa kepercayaan atau mitos yang selama ini dilekatkan dengan terorisme. Penggunaan mitos dalam hal ini tergambar pada tokoh Leong yang digambarkan sebagai tokoh antagonis utama sebagai terorisme yang tidak segan untuk melukai siapapun termasuk aparat keamanan kepolisian yang menghalangi dirinya untuk menjalankan rencananya. Artinya selama ini mitos mengenai terorisme didominasi oleh agama tertentu tidak tergambar pada film Sayap-sayap Patah. Mitos lainnya yang berhasil diungkap dalam film Sayap-sayap Patah adalah terorisme merupakan tindakan acak . andom act. yang dilakukan oleh orang yang Kepolisian yang dijadikan sebagai sasaran teror tidak dilakukan oleh orang gila yang dibakar kebencian lalu pergi dengan menembakkan senjata secara acak. 986 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pelaku teror dalam film Sayap-sayap Patah digambarkan sebagai orang-orang yang berinteligensi tinggi yang merencanakan aksinya setelah melalui perhitungan Leong diketahui telah merencanakan aksinya bersama dengan Rasyid dan Abu Toyib beserta rekan-rekan lainnya. Bahkan mereka memiliki basecamp di Rumah Leong serta Alas Purwo yang dijadikan sebagai aktivitas dalam merencanakan Beberapa scene yang diadegankan dalam film Sayap-sayap Patah menunjukkan tindakan-tindakan di mana polisi tidak memiliki kekuatan dalam menghadapi terorisme khususnya dalam adegan penyanderaan. Oleh sebab itu, peran tokoh Leong sebagai terorisme dan tokoh Iptu Ruslan, tokoh Iptu Gendis, serta tokoh Ipda Sudarmaji menunjukkan bukti bahwa mitos ini mengalami pemantapan mitos ditunjukkan dengan keberhasilan Leong membunuh anggota kepolisian yakni Ipda Sudarmaji yang memang sudah direncanakan sebelumnya. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti mengenai representasi representasi terorisme dalam film Sayap-sayap Patah, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah pada film ini bahwa ditemukan adegan yang mengandung simbolsimbol dan tanda-tanda mengenai representasi penggambaran kejadian terorisme baik melalui adegan maupun dialog yang dianalisis dengan menggunakan semiotika perspektif Roland Barthes yakni menekankan pada sistem pemaknaan tanda atau simbol yang digunakan dalam sebuah film melalui dua tahapan yaitu makna denotasi dan konotasi dimana pada tahapan kedua yaitu konotasi, tanda bekerja melalui mitos . Dengan demikian, representasi terorisme dalam rangkaian scene di atas pada film Sayap-sayap Patah adalah konstruksi terorisme atas nama agama sebagai kedok yang sebenarnya terdapat muatan unsur politis di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan aksi bom bunuh diri di kantor kepolisian Mapolrestabes Surabaya dan proses penyanderaan di Mako Brimob. Dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan terdapat maksud implisit dari berbagai teror yang dilakukan yakni upaya untuk melemahkan institusi kepolisian. Pada representasi penggambaran terorisme di atas, ditemukan beberapa kepercayaan atau mitos yang selama ini dilekatkan dengan terorisme seperti terorisme didominasi oleh agama tertentu. Mitos tersebut tidak digambarkan dalam film ini di mana sepanjang film tidak disebutkan secara gamblang perjuangan agama apa yang dimaksud oleh Leong. Artinya selama ini mitos mengenai terorisme didominasi oleh agama tertentu tidak tergambar pada film Sayap-sayap Patah. Mitos lainnya yang berhasil diungkap dalam film Sayap-sayap Patah adalah terorisme merupakan tindakan acak . andom act. yang dilakukan oleh orang yang irasional. Faktanya dalam film ini aksi terorisme dilakukan melalui perencanaan yang terstruktur dan tersistematis, bahkan juga diwarnai dengan propaganda oleh Leong kepada narapidana lainnya. 987 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 975-988 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. DAFTAR PUSTAKA