Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. Muhammad Yazid Al Busthomi a,1. Wisnu b,2 Universitas Negeri Surabaya. Surabaya. Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Surabaya. Indonesia 22013@mhs. 2 wisnu@unesa. * Corresponding Author. Muhammad Yazid Al Busthomi Received 11 Desember 2025. accepted 18 Desember. published 30 Desember 2025 KEYWORDS ABSTRAK Salah satu bentuk orientasi seksual sendiri yakni homoseksual. LAMBDA Indonesia merupakan salah satu organisasi gay pertama di Kawasan Asia dan merupakan organisasi gay pertama di Indonesia setelah kemerdekaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana proses berdirinya hingga bubarnya serta tantangan LAMBDA Indonesia pada jangka waktu 1982-1986, serta untuk mengetahui perkembangan Majalah G: Gaya Hidup Ceria selama terbitan 19821984. Metode penelitian sejarah yang dilakukan dalam penelitian ini yakni melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sumber tertulis yakni Majalah G: Gaya Hidup Ceria dan koran, serta wawancara dengan pendiri LAMBDA, dan pelanggan Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Pendiri LAMBDA Indonesia sendiri yakni Dede Oetomo. Chandra, dan Yongki, akan tetapi keunikan dalam pendiriannya yang dimana terdapat Franz yang merupakan orang heteroseksual yang ikut berdiskusi terkait dengan isu homoseksual. LAMBDA Indonesia sendiri berdiri pada 1 Maret 1982 di Surakarta dan pada bulan Agustus 1982 resmi menerbitkan Majalah G: Gaya Hidup Ceria yang merupakan majalah yang terbit hanya untuk anggota organisasi sehingga untuk mendapatkannya sendiri harus bergabung ke komunitas. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri terbit sebanyak delapan kali yang pada edisi pertama sampai keenam konsisten selama dua bulan sekali, akan tetapi pada edisi ketujuh dan kedelapan sendiri terbit satu tahun sekali karena masalah internal dan akhirnya berhenti terbit pada tahun 1984. LAMBDA Indonesia sendiri bubar pada tahun 1986 dan anak-anak organisasinya sendiri mendirikan organisasi gay di kota masing-masing. Organisasi. Gay. Indonesia. Majalah. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Perilaku seksual yang menyimpang muncul atas dasar orientasi seksual yang menyimpang. Orientasi seksual adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan rasa ketertarikan, romantisme, emosional, dan seksualnya kepada pria, wanita, atau kombinasi keduanya (APA 2. Karl-Maria Kertbeny memberi pandangan dalam konteks medis dan hukum terutam untuk menentang kriminalisasi perilaku sesama jenis di Kekaisaran Austria-Hongaria. Seiring dengan berkembangnya psikiatri dan psikologi, homoseksualitas mulai dikategorikan sebagai "penyimpangan" atau "penyakit jiwa", meski beberapa ilmuwan seperti Magnus Hirschfeld justru memperjuangkan penerimaan terhadap orientasi seksual yang berbeda. Dede Oetomo . dalam buku Memberi Suara pada Yang Bisu memberikan definisi bahwa yang disebut dengan Homoseksual adalah ketertarikan sejenis, artinya meskipun belum sampaipada tahapan hubungan kelamin manakala seseorang suka, mencintai, tertarik pada sejenisnya berarti sudah masuk pada ranah homosekual, walaupunmasih dalam kategori Homoseksual skala ringan, karena belum berhubungan seksual. Fenomena penyuka sesama jenis atau disebut LGBTQ sendiri telah menjadi sebuah perbincangan global dalam beberapa tahun terakhir. Perilaku AumenyimpangAy kaum LGBTQ tentu tidak bisa diterima begitu saja, karena selalu ada alasan- alasan mendasar dari masyarakat untuk menolak pelaku dan perilaku seksual menyimpang, baik itu didasari atas ajaran agama maupun budaya (Yansyah. & Rahayu, 2. Penyimpangan seksual sering kali menjadi objek tabu dalam banyak budaya, terutama di negara-negara dengan sistem nilai yang didominasi oleh 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. agama tertentu, seperti Indonesia, di mana ajaran agama Islam sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran Islam, misalnya, homoseksualitas dianggap sebagai dosa besar dan bertentangan dengan ajaran Tuhan. Meskipun demikian, perdebatan tentang hak-hak individu dan kebebasan seksual semakin mengemuka di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, meskipun seringkali ditemui resistensi yang kuat. Komunitas LGBTQ memiliki pola komunikasi yang khas, termasuk penggunaan simbol-simbol tertentu yang hanya dipahami oleh sesama anggota (Hasni dkk. Fenomena LGBTQ di Indonesia dari hari ke hari kian mengalami penambahan anggota yang dibuktikan dengan banyaknya grup-grup LGBTQ di media sosial yang dimana mereka menggunakan grup media sosial untuk saling berkomunikasi dimana komunitas LGBTQ berkomunikasi menggunakan ragam bahasa yang bersifat rahasia dan tidak diketahui oleh orang lain selain anggota komunitas tersebut identitas gender dan orientasi seksual turut memengaruhi gaya berkomunikasi, termasuk dalam penggunaan bahasa tubuh (Santoso dkk, 2. Di Indonesia sendiri, penyimpangan seksual sering kali dikaitkan dengan berbagai bentuk perilaku yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan budaya lokal. Misalnya, homoseksualitas, biseksualitas, atau transseksualitas sering kali dipandang sebagai bentuk penyimpangan yang harus dikendalikan atau disembuhkan. Di Indonesia, kelompok gay sendiri tergabung dalam LAMBDA yang didirikan di Surakarta pada 1 Maret 1982. Melalui komunikasi dan penerbitan buletin internal seperti Majalah G: Gaya Hidup Ceria, organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang identitas dan hubungan antar komunitas LAMBDA Indonesia merupakan bentuk artikulasi awal gerakan gay modern di Indonesia yang berusaha membentuk identitas kolektif dan solidaritas di tengah rezim Orde Baru yang represif. Studi sejarah queer . ueer historiograph. menekankan pentingnya mengangkat kembali pengalaman komunitas LGBTQ yang seringkali diabaikan atau dihapus dari narasi besar nasional. LAMBDA Indonesia dan majalah G:Gaya Hidup Ceria berperan sebagai penghubung antara individu-individu dari komunitas LGBTQ yang sebelumnya tersembunyi dan dunia luar yang seringkali memandang mereka dengan rasa curiga atau ketidakpahaman. Oleh karena itu, penting untuk menelaah lebih dalam mengenai peran media ini dalam membentuk dan memperkuat komunitas LGBTQ di Indonesia selama periode 1982 hingga 1986. Tahun-tahun ini merupakan periode yang sangat penting, karena pada masa tersebut, meskipun masih dalam kondisi yang penuh tantangan, komunitas ini mulai menunjukkan keberanian untuk keluar dari bayang-bayang ketakutan dan memperjuangkan hak-hak Konstruksi gender dan seksualitas pada masa ini tidak hanya menjadi norma sosial, tetapi juga alat politik untuk mendefinisikan Auwarga negara yang baikAy dalam kerangka moralitas negara. Pada rezim Orde Baru, yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, yang menekankan stabilitas politik, ekonomi, dan sosial melalui pengawasan ketat terhadap kehidupan sosial dan ekspresi publik. Ideologi pembangunan, atau developmentalisme, dianut oleh negara dan menekankan ketertiban umum, moralitas tradisional, dan keluarga Organisasi LAMBDA di Indonesia sendiri menggunakan majalah sebagai salah satu media dalam menyebarkan pendapat mereka. Tujuan majalah mereka sendiri yakni untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi audiensnya yang dalam hal ini adalah audiens LGBTQ (Christiany, 2. Majalah ini tidak hanya menawarkan informasi, tetapi juga mendidik pembacanya tentang pentingnya penerimaan dan pemahaman terhadap keragaman orientasi seksual dan identitas gender. Melalui tulisan yang menggugah. G:Gaya Hidup Ceria mengajak masyarakat untuk melihat kehidupan LGBTQ bukan dari perspektif yang terjebak pada label "abnormal" atau "penyimpangan", tetapi sebagai bagian dari keberagaman manusia yang harus dihargai dan diterima. Penelitian ini berfokus pada pada perkembangan organisasi LAMBDA Indonesia dan Majalah G: Gaya Hidup Ceria yang dimana merupakan organisasi gay pertama dan publikasi majalah pertama di Indonesia setelah kemerdekaan. Metode Penelitian Metode Sejarah sendiri didefinisikan sebagai seperangkal prinsip-prinsip yang sistematis dan seperangkal aturan-aturan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif menilainya secara kritis dan menyajikan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis (Wisnu, 2. Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Pada tahap heuristik sendiri diperlukan pencarian dan penemuan sumber-sumber Sejarah yang diperlukan sesuai dengan topik yang akan diteliti (Gottschalk, 1. Sumber-sumber sejarah sendiri terdiri dari tiga sumber yakni, sumber primer, sekunder, dan tersier. Pada tahap kritik sumber yakni dimana melakukan pengujian terhadap sumber-sumber yang ditemukan. Kritik ini dilakukan dengan tujuan untuk menyeleksi data menjadi fakta (Kasdi, 2. Kritik intern berarti menilai unsur intrinsik isi sumber yang didapatkan serta membandingkan kesaksian satu sumber dengan sumber yang lainnya. Pada tahap Interpretasi sendiri yakni merupakan penafsiran dari fakta (Kasdi, 2. Dalam tahapan interpretasi sendiri terdapat dua cara dalam melakukan interpretasi yakni menghubungkan analisis dengan sintesis (Kuntowijoyo, 1. Pada tahap historiografi sendiri yakni dimana merupakan tahapan akhir dari penelitian yang dimana menulis hasil dari interpretasi Hasil dan Pembahasan Awal Mula LAMBDA Indonesia LAMBDA Indonesia sendiri bermula dari seseorang yang bernama Dede Oetomo yang dimana merupakan seorang intelektual yang berhasil menempuh pendidikan doktoral dalam bidang linguistik di Cornell University. Wawancara dengan Dede Oetomo . sendiri menyebutkan beliau mengenal organisasi GayPAC (Gay People at Cornel. dimana Beliau kemudian dihubungi oleh seorang aktivis lesbian dari GayPAC dan mulai menghadiri pertemuan mingguan kelompok tersebut. Melalui diskusi-diskusi yang intens, pembacaan literatur kritis, serta keterlibatannya dalam berbagai aktivitas organisasi, ia semakin mendalami isu gender dan seksualitas. Proses intelektual dan praksis tersebut mendorongnya menyadari pentingnya kerja-kerja advokasi yang terstruktur dan berkelanjutan melalui organisasi formal sebagai sarana memperjuangkan hak dan pengakuan kelompok minoritas seksual. Sepulang ke Indonesia dari Amerika Serikat. Dede Oetomo aktif membangun jaringan melalui surat-menyurat untuk menyebarkan gagasan gender dan seksualitas. Dede Oetomo memperoleh legitimasi penting dari pamannya. Basuki Soejatmiko, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Direktur Redaksi Liberty. Dukungan ini tidak bersifat simbolik semata, melainkan diwujudkan secara konkret melalui penyediaan fasilitas penerbitan. Basuki Soejatmiko menyatakan bahwa apabila Dede Oetomo menulis buletin atau media internal, maka proses percetakannya dapat difasilitasi oleh PT Surya Chandra Keencana Press Surabaya. Jaminan ini memberi kepastian teknis dan psikologis bagi Dede Oetomo untuk memulai kerja dokumentasi, penyebaran gagasan, serta komunikasi komunitas secara lebih Penguatan legitimasi intelektual juga datang dari kalangan akademisi. Salah satu tokoh yang memberikan pengaruh signifikan adalah Benedict Anderson, seorang profesor yang terkemuka dalam bidang kajian Asia Tenggara yang dikenal luas melalui pemikiran kritisnya tentang nasionalisme, identitas, dan komunitas terbayang. Dukungan moral dan intelektual dari Anderson memberi kepercayaan diri bagi Dede Oetomo bahwa isu gender dan seksualitas layak dibicarakan secara akademik dan publik, serta memiliki posisi sah dalam diskursus ilmu sosial. Pada 1 Maret 1982. Dede Oetomo Bersama rekan-rekannya yakni Chandra Djatmika. Yongki Suadi, dan Franz Tjoa mendirikan LAMBDA Indonesia yang dimana merupakan organisasi gay pertama dalam Sejarah Indonesia modern. Dengan berdirinya LAMBDA Indonesia, komunitas gay di Indonesia sendiri untuk pertama kalinya memiliki wadah formal untuk bertemu, berdiskusi, dan membangun Pada masa ketika homoseksualitas masih dipandang sebagai AupenyimpanganAy, keberadaan organisasi ini menjadi bentuk keberanian politik dan intelektual yang luar biasa. Tujuan LAMBDA Indonesia Dalam Majalah G: Gaya Hidup Ceria edisi 1 tahun 1982 sendiri terncantumkan tujuan LAMBDA Indonesia yakni: . Menyediakan arena komunikasi dan kontak bilat ternan-ternan Gay . terutama yang mencari alternatif yang lain dari kehidupan Gay di taman-taman dsb. yang terutama kita pikirkan ialah teman-teman yang bertempat-tinggal di daerah-daerah terpencil yang jauh dari kehidupan Gay kota besar. Dengan menghubungi LI, kalian bisa saling berhubungan satu sama lain dengan lebih . Mengusahakan perubahan sikap, baik di kalangan kita sendiri maupun di dunia heteroseks, agar sikap terhadap homose'ksualitas berubah menjadi sikap yang penuh pengertian, toleransi serta penerimaan yang positif. Di pihak kita sendiri. LI berusaha menanamkan kebanggaan Gay dan menghapuskan perasaan malu, takut, dan bersalah karena sifat gay kita. LI memonitor media massa dan penerbitan yang ada di RI sejauh kemampuan kita mengijinkan, dan sedapat mungkin mengoreksi citra Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . yang salah tentang kaum kita. Memberikan penyuluhan, terutama kepada temanternan yang masih men-cari-cari pola kehidupan cinta-kasih dan seks, yang sudah merasakan dorongan homoseks namun belum pasti, dan yang merasa menghadapi masalar. dalam hidup sebagai seorang Gay. Penyuluhan diberikan dengan menjaga rahasia pribadi kalian se-ketat-ketatnya. Mengadakan kontak-kontak dengan ternan-ternan di luar negeri untuk belajar dan tukar menukar pengalaman, mengingat di Eropa Barat. Amerika Utara dan Australia-Selandia Baru gerakan emansipasi Lesbian dan Gay sudah jauh lebih Kontak juga diadakan dalam rangka persahabatan pribadi yang saling mengisi demi pengertian Pendiri LAMBDA Indonesia Chandra Djatmika/Sudarsana Chandra Djatmika yang dalam sejumlah sumber juga tercatat menggunakan nama Chandra Sudarsana merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Ia dikenal sebagai salah satu dari empat pendiri utama LAMBDA Indonesia, dan memiliki peran sentral dalam fase awal pembentukan organisasi tersebut. Latar belakang akademiknya sebagai mahasiswa kedokteran turut membentuk cara berpikirnya yang sistematis dan terorganisasi dalam membangun gerakan. Chandra sendiri berperan sentral dalam fase awal LAMBDA Indonesia. Ia menyusun struktur organisasi sederhana, mengatur komunikasi internal, dan menjadi penghubung antaranggota lintas kota. Rumah keluarganya difungsikan sebagai markas aman. Ia juga menyediakan Kotak Pos 122 Solo sebagai alamat resmi organisasi. Perannya menopang keberlanjutan gerakan di tengah keterbatasan sosial dan Gambar 1. Chandra saat masih berkuliah di UNS Sumber : Majalah G: Gaya Hidup Ceria edisi 4 Dede Oetomo Dede Oetomo sendiri merupakan seorang akademisi dan aktivis hak-hak LGBTQ yang ada di Indonesia. Beliau sendiri lahir dan besar di Surabaya. Perjalanan pendidikan Dede Oetomo sendiri dimulai ketika menempuh sarjana muda dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Surabaya . ekarang UNESA) pada tahun 1972-1975. Kemudian beliau melanjukan ke jenjang sarjana lengkap di IKIP Malang . ekarang UM) pada tahun 1976-1978. Setelah beliau lulus dari IKIP Malang beliau pergi ke Amerika Sertikat untuk melanjutkan jenjang magister linguistik di Cornell University pada tahun 19781981 untuk menempuh pendidikan master. Dalam wawancara dengan Dede Oetomo . mengatakan Aumagister itu hadiah dari kampus Cornell University karena saya lulus di semua mata kuliah saya dan saya tidak mengerjakan tesisAy. Selama studi di Cornell University. Dede Oetomo terlibat aktif dalam diskusi akademik dan komunitas Gay People at Cornell, yang membentuk kesadaran kritisnya tentang bahasa, tubuh, dan identitas. Pengalaman ini mendorongnya menggagas organisasi gay dan lesbian sepulang ke Indonesia, seiring kiprahnya sebagai doktor linguistik muda di Universitas Airlangga. Pada akhir tahun 1981. Dede Oetomo. Chandra. Yongki sendiri saling bertukar surat dan mengadakan pertemuan kecil di Solo yang pada akhirnya membentuk organisasi yang bernama LAMBDA Indonesia. Nama LAMBDA sendiri dipilih dikarenakan merupakan simbol gerakan gay internasional terutama di wilayah Eropa dan Amerika. Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gambar 2. Dede Oetomo Saat Masih Berkuliah di Amerika Serikat Sumber: Majalah G: Gaya Hidup Ceria edisi 4 Yongki Suandi Yongki Suandi merupakan seorang mahasiswa arsitektur di Universitas Trisakti yang memiliki peran penting dalam perkembangan awal LAMBDA Indonesia. Selain latar belakang akademiknya. Yongki juga dikenal sebagai pasangan dari Chandra, salah satu pendiri LAMBDA Indonesia. Relasi personal tersebut tidak hanya bersifat privat, tetapi juga beririsan erat dengan kerja-kerja organisasi, terutama dalam membangun dan memperluas jaringan komunitas di tingkat perkotaan. Keberadaan Yongki Suandi di Jakarta memberi keuntungan strategis bagi LAMBDA Indonesia. Ia menjembatani organisasi dengan jaringan lintas profesi dan sosial, sekaligus menjalankan peran penting sebagai bendahara. Pengelolaan keuangan yang ia lakukan menopang konsolidasi organisasi di tengah keterbatasan sumber daya serta risiko sosial-politik pada masa awal. Gambar 3. Yongky saat menjadi mahasiswa Arsitektur di Universitas Trisakti Sumber: Majalah G: Gaya Hidup Ceria Franz Subagio Franz sendiri merupakan kaum AuheteroseksualAy yang dimana dia menyukai perempuan akan tetapi dia membantu proses pendirian organisasi LAMBDA Indonesia. Diawali dengan beliau tidak lulus SMA yang dalam wawancaranya Franz . mengatakan Ausaya ini kurang dua bulan lulus SMA, saya keluar dari SMA buat kerja, karena menurut saya lebih baik kerja untuk cari uang, orang saya miskin, saya juga tipikal orang yang kalau belajar sampai akar-akarnya, akan tetapi di Indonesia tidak diajarkan kehidupan nyata, hanya teori saja. Au. Franz berasal dari latar kemiskinan dan bekerja sejak SMP hingga menjadi pengusaha kopi, tembakau, dan cengkeh, bahkan juragan tembakau di Kalimantan sejak 1979. Meski tidak bergabung formal dengan LAMBDA Indonesia karena mobilitas tinggi dan identitas heteroseksual, ia mendukung penuh prinsip kemanusiaan dan kesetaraan. Bagi Franz, orientasi seksual tidak boleh menjadi dasar semua manusia layak dihormati. Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gambar 2. 1 Franz Subagio Sumber: Arsip Pribadi Tokoh-Tokoh Redaksi Majalah G: Gaya Hidup Ceria Chandra Djatmika/Sudarsana Chandra merupakan mahasiswa kedokteran Universitas Sebelas Maret yang merupakan salah satu pendiri LAMBDA Indonesia. Chandra sendiri mengelola PO Box 122 Solo, yang menjadi alamat resmi surat-menyurat yang dilakukan oleh LAMBDA Indonesia. PO BOX 122 Solo sendiri menerima banyak permintaan bergabung ke LAMBDA Indonesia, berkeluh kesah terkait dengan pengalaman selama menjadi kaum homoseksualitas dan menjadi tempat dikirimnya asal Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Dede Oetomo Dede Oetomo sendiri merupakan seorang ahli linguistik lulusan Cornell University. Beliau merupakan salah satu pendiri LAMBDA Indonesia yang memiliki peran penting dalam memberikan arah intelektual bagi isi Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Dalam konteks ini, majalah tidak sekadar diposisikan sebagai media informasi, melainkan sebagai ruang refleksi dan pembentukan kesadaran kolektif Dede Oetomo sendiri mengambil peran sebagai pemikir, mentor, dan penulis awal dari majalah. Dede Oetomo memberikan banyak referensi budaya-budaya barat dan gaya majalah queer Eropa ke Indonesia yang dimana melalui pengalaman akademiknya sendiri membuat Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri mendapat banyak sekali tanggapan dari media internasional dikarenakan media gay yang berasal dari Indonesia dianggap sangat susah dan sangat berani untuk terbit pada zaman itu sehingga Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri mejadi awal mula Gerakan LGBTQ di Indonesia. Yongki Suandi Yongki Suandi sendiri mahasiswa Universitas Trisakti jurusan Arsitektur yang dimana dia sendiri merupakan orang yang dekat dengan dunia desain sendiri dia sangat peka terhadap tampilan Majalah G: Gaya Hidup Ceria yang dimana dia menyusun tampilan majalah, pemilihan gaya desain, serta perencanaan rubrik-rubrik yang ditujukan untuk menjangkau pembaca muda di berbagai kota. Yongki sendiri sering berdiskusi dengan Chandra dan Dede Oetomo mengenai cara membuat majalah yang baik dan tidak terlalu kaku untuk pembacanya dikarenakan banyak pembaca yang berasal dari kalangan mahasiswa dan remaja sehingga menurut Yongki sendiri tidak perlu terlalu akademis. Marleon Marleon merupakan tokoh yang berasal dari Semarang dan mulai terlibat dalam dinamika Majalah G: Gaya Hidup Ceria pada fase yang relatif penting dalam sejarah penerbitan media komunitas tersebut. Keterlibatannya pertama kali tercatat pada edisi ke-5 Majalah G: Gaya Hidup Ceria, sebuah periode ketika majalah ini mulai mengalami perluasan jaringan pembaca sekaligus menghadapi tantangan internal akibat keterbatasan sumber daya manusia. Menurut penuturan Dede Oetomo. Marleon dikenal sebagai individu yang aktif dalam komunitas, memiliki kepekaan sosial, serta menunjukkan komitmen yang cukup kuat terhadap isu-isu kemanusiaan dan identitas seksual. Atas dasar itulah, ia kemudian diajak untuk ikut terlibat lebih jauh dalam pengelolaan majalah dan aktivitas organisasi. Peran Marleon menguat saat ia mengelola Majalah G: Gaya Hidup Ceria edisi 7Ae8, ketika Dede Oetomo melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan Chandra Djatmika serta Yongky keluar dari Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . LAMBDA Indonesia. Di tengah kekosongan kepemimpinan. Marleon secara situasional menjaga keberlanjutan majalah sebagai media komunikasi komunitas, meski tanpa legitimasi struktural formal. Don D. Don D. R . ama samara. merupakan seorang mahasiswa pertanian di salah satu kampus swasta di Solo. Dalam wawancaranya sendiri Don D. mengaku bukan sebagai ahli dalam bidang seni saat itu Ausaya bukan ahli desain gambar saat itu, tapi mungkin nama saya masuk karena saya pintar gambar, padahal saya hanya membantu Chandra mengambil dan mengantar surat saja, kadang kalua sibuk saya sendiri yang mengambilAy. Pengakuan tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai peran Don D. mendukung kerja-kerja awal LAMBDA Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan dan distribusi Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Tugas utama Don D. membantu Chandra mengambil dan mengelola surat dari Kotak Pos Solo sebagai sarana komunikasi LAMBDA Indonesia. Aswin Aswin merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi di Universitas Airlangga. Surabaya. Dalam sejarah awal LAMBDA Indonesia. Aswin menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu anggota yang aktif terlibat dalam komunitas. Aswin berperan sebagai rekan diskusi dan penghubung yang membantu menjaga kesinambungan komunikasi komunitas. Keaktifannya menunjukkan bahwa LAMBDA Indonesia tidak hanya dihuni oleh aktivis dengan latar belakang sosial-budaya tertentu, tetapi juga oleh individu dengan basis akademik ekonomi yang kelak berkiprah di dunia profesional. Aswin menjadi orang yang cukup penting saat itu dimana dia berkembang cukup pesat di sektor Ia tercatat pernah menjabat sebagai Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia di salah satu wilayah Surabaya. Pencapaian ini menunjukkan bahwa keterlibatannya dalam komunitas tidak menghalangi keberhasilan profesionalnya, sekaligus menegaskan bahwa anggota komunitas gay memiliki kapasitas dan kompetensi yang setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Nell Harris Nell Harris merupakan sosok yang berasal dari Australia dan memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang, kesadaran, serta pemikiran Dede Oetomo mengenai isu homoseksualitas. Melalui interaksi personal dan pertukaran gagasan. Nell Harris mendorong Dede Oetomo untuk melihat pentingnya membuka dan membangun jaringan komunitas gay di Indonesia sebagai ruang aman dan sarana pemberdayaan. Dalam Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri Nell Harris sendiri berperan sebagai Tom Lebour Tom Lebour merupakan seseorang yang berasal dari Kanada dan tercatat sebagai salah satu koresponden penting dalam jaringan Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Keberadaannya merepresentasikan keterlibatan pihak luar negeri dalam mendukung penyebaran informasi mengenai gerakan gay dan lesbian di Indonesia pada fase awal pembentukannya. Melalui korespondensi yang intens dan berkelanjutan. Tom Lebour menjadi penghubung antara LAMBDA Indonesia dengan jaringan internasional yang lebih luas, terutama di tengah keterbatasan akses informasi dan komunikasi lintas negara pada masa tersebut. Ken Lovett Ken Lovett merupakan responden yang berasal dari Kanada dan memiliki peran penting dalam jaringan korespondensi internasional yang menopang keberadaan awal LAMBDA Indonesia pada sekitar Keterlibatan Ken Lovett menunjukkan bahwa sejak fase awal. LAMBDA Indonesia tidak berdiri secara terisolasi, melainkan telah terhubung dengan komunitas gay global melalui hubungan personal dan pertukaran informasi lintas negara. Dalam konteks ketika teknologi komunikasi digital belum berkembang, jaringan korespondensi berbasis surat menjadi sarana utama untuk membangun solidaritas dan pertukaran gagasan. Basuki Soejatmiko Basuki Soejatmiko merupakan paman dari Dede Oetomo yang memiliki peran penting dalam dunia pers dan percetakan. Ia menjabat sebagai Wakil Direktur Redaksi di Majalah Liberty, sebuah media yang cukup dikenal pada masanya. Selain berkiprah di bidang jurnalistik. Basuki juga merupakan pengusaha percetakan dengan mendirikan PT Surya Chandra Kencana Press yang berlokasi di Surabaya, yang turut mendukung produksi dan distribusi berbagai bahan cetak. Peran beliau dalam Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri yakni memberikan fasilitan kepada LAMBDA Indonesia untuk menerbitkan Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . majalahnya yang dimana masa itu isu homoseksualitas masih dianggap sangat sensitif, sehingga tidak mudah bagi sebuah kelompok kecil seperti LAMBDA Indonesia untuk mencari percetakan yang bersedia memuat konten semacam itu. Dalam wawancara dengan Dede Oetomo . menjelaskan bahwa Pamannya menekankan pentingnya peran media dalam membangun wacana publik sekaligus memperkuat komunitas LAMBDA Indonesia. Sumber Pendanaan Awal Majalah G: Gaya Hidup Ceria Dalam proses penerbitan sebuah majalah, ketersediaan modal awal menjadi faktor penting untuk menunjang berbagai kebutuhan operasional, seperti biaya pencetakan, distribusi, dan pengelolaan Berdasarkan penuturan Dede Oetomo, modal awal majalah tersebut bersumber dari dana hibah riset yang ia peroleh ketika berada di Amerika Serikat. Dede Oetomo menyebutkan bahwa nilai hibah tersebut pada masa itu mencapai sekitar U$ 3. yang jika dikonversikan dengan nilai saat ini setara dengan kurang lebih Rp48. Jumlah tersebut digunakan sebagai modal awal untuk membiayai proses produksi majalah, termasuk pencetakan, penggandaan, serta kebutuhan teknis lainnya. Pendanaan ini menunjukkan bagaimana aktivitas riset akademik dan jejaring internasional turut berkontribusi secara langsung dalam mendukung inisiatif media komunitas pada masa awal perkembangan LAMBDA Indonesia. Dengan modal awal tersebut. Majalah G: Gaya Hidup Ceria akhirnya dapat terbit untuk pertama Proses pencetakan majalah ini dilakukan di Percetakan Offset Surya Chandra Kencana Press yang berlokasi di Surabaya. Menurut keterangan keponakan pemilik percetakan tersebut yakni inisial Agus . , jumlah eksemplar yang dicetak pada edisi perdana diperkirakan mencapai sekitar 500 Jumlah ini dinilai cukup signifikan untuk ukuran media komunitas pada masa itu, terutama mengingat keterbatasan sumber daya dan situasi sosial yang belum sepenuhnya terbuka. Struktur Penerbit. Tujuan, dan Target Pembaca Awal Majalah G:Gaya Hidup Ceria Dalam sebuah majalah, terdapat penanggung jawab dalam setiap penerbitan yang dimana dipimpin oleh Ketua LAMBDA Indonesia yakni Chandra pada edisi 1-6 dan Marleon pada edisi 7-8. Sebagai penanggung jawab Majalah G: Gaya Hidup Ceria, yang pada praktiknya dijalankan oleh tokoh utama LAMBDA Indonesia, tugas-tugasnya mencakup berbagai fungsi strategis, administratif, intelektual, dan jaringan sosial yang memastikan majalah dapat terbit secara konsisten dan aman di tengah konteks sosialpolitik Indonesia pada tahun 1982. Dalam redaksi Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri terdapat beberapa orang yang mengurus terkait dengan isi Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Chandra mengurus korespondensi nasional, pendaftaran anggota, dan pengambilan keputusan LAMBDA Indonesia melalui Kotak Pos Solo. Dede Oetomo berperan sebagai penulis dan penghubung jaringan internasional Majalah G: Gaya Hidup Ceria, sementara Yongki mengelola keuangan organisasi dan majalah. Marleon menangani korespondensi surat dan kemudian terlibat redaksi. Aspek artistik dikerjakan Don D. dan J. Aswin. Majalah juga memuat koresponden internasional dari Australia dan Kanada untuk melaporkan perkembangan gerakan gay global. Majalah G: Gaya Hidup Ceria diterbitkan sebagai buletin resmi LAMBDA Indonesia untuk Aukalangan sendiriAy dengan tujuan utama sebagai media komunikasi, pendidikan, dan pengorganisasian komunitas gay Indonesia saat itu. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri mengubungkan orang-orang homoseksual dari berbagai daerah di Indonesia agar saling menyemangati dan mencari relasi yang dimana orang-orang homoseksual di Indonesia sendiri lebih cenderung introvert. Tekanan-tekanan dari keluarga, orangtua dan teman sebaya memungkinkan mendorong kaum gay untuk bersikap introvert kepada orang lain karena cemas identitasnya diketahui oleh masyarakat umum (Rianti, 2. Majalah G: Gaya Hidup Ceria ditujukan khusus bagi anggota LAMBDA Indonesia yang hidup dalam stigma dan tekanan sosial. Buletin ini beredar terbatas Auuntuk kalangan sendiriAy menyesuaikan aturan SIUPP. Pembacanya berasal dari berbagai kota dan latar sosial, terutama individu yang masih mencari pemahaman atas identitas dan pengalaman ketertarikan sesama jenis. Lokasi Penerbitan dan Jangkauan Distribusi Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri merupakan majalah pertama di Indonesia yang mengangkat isu homoseksualitas yang terbit pada tahun 1982 dan berakhir pada 1984. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri terbit ditengah-tengah kondisi orde baru yang banyak menghadapi sensor mengenai publikasi. Pada edisi pertama sampai edisi keenam sendiri diterbitkan oleh PT Surya Chandra Keencana Press Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Surabaya yang berlokasi di Surabaya. Pemilik percetakan tersebut yakni Paman Dede Oetomo yakni Basuk Soejatmiko. Pada edisi ke-7 dan 8 sendiri percetakan Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri berada di Yogyakarta yakni di Sinar Offset dan Jujur Offset dimana dikarenakan Dede Oetomo pergi ke Amerika Serikat dan pengurus LAMBDA Indonesia yang berada di pusat sendiri tinggal beberapa dan saat itu PO BOX Solo sendiri berubah menjadi PO BOX Yogyakarta karena teman-teman Yogyakarta mengurusnya. Jangkauan distribusi dari Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri tidak berjalan seperti media umum. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri tidak dipajang di kios, tidak dijual di pasar bebas, dan tidak memiliki SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Per. Distribusinya berlangsung melalui jaringan bawah tanah . nderground circulatio. , penuh kehati-hatian, memanfaatkan relasi personal, jaringan surat, dan solidaritas komunitas yang masih sangat awal. Pada halaman kedua setiap halaman sendiri terdapat tulisan Auuntuk kalangan sendiriAy yang menandakan bahwasanya Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri hanya diterbitkan untuk kalangan komunitas dan sudah terdaftar menjadi anggota LAMBDA Indonesia. Model dan Harga Pemasaran Majalah G: Gaya Hidup Ceria Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri terbit selama 2 tahun yakni 1982-1984 yang dimana terdapat 8 edisi yang dimana terbitan tiap edisinya tidak menentu. Menurut wawancara dengan salah satu langganan majalah LAMBDA Indonesia dengan inisial Jonet . sendiri mengatakan bahwasanya majalah LAMBDA Indonesia sendiri terbit dua bulan sekali. Edisi yang terbit dalam perkembangan LAMBDA Indonesia sendiri terdapat delapan edisi. Dalam majalah tersebut terdapat beberapa keunikan sendiri dimana memperkenalkan kegiatan atau organisasi gay Internasional, kemudian terdapat pemahaman keilmuan tentang homoseksual. Majalah G: Gaya Hidup Ceria ini juga memiliki cerpen dan puisi dari pelanggannya yang dapat dikirim melalui PO Box. Terdapat juga kontak nasional dan Internasional jika teman sesama gay ingin saling berkenalan. Pada awal terbit pada tahun 1982 dengan edisi pertamanya pada bulan Agustus 1982. Majalah G:Gaya Hidup Ceria memberikan harga Rp. 400/bulan yang dimana majalah tersebut sendiri tidak Majalah tersebut hanya bisa didapatkan dengan bergabung dengan organisasi LAMBDA. Cara untuk mendapatkan majalah tersebut sendiri yakni dimana seseorang dapat mengisi lembar formulir organisasi yang terdapat pada halaman pertama. Pada edisi ketiga, terdapat usulan kenaikan iuran dari anggota LAMBDA Indonesia sendiri yang sebelumnya Rp. 400/bulan kemudian naik menjadi Rp. 750/bulan. Usulan tersebut kemudian disetujui oleh Koordinator LAMBDA Indonesia yang dimana kenaikan tersebut terjadi karena biaya operasi dari organisasi LAMBDA Indonesia sendiri makin banyak. Pada edisi ketiga ini majalah LAMBDA Indonesia memberikan kesempatan bagi teman-teman yang ingin meneliti terkait dengan Majalah G: Gaya Hidup Ceria dengan mengirimkan nama, alamat, dan uang Rp. 1000/majalah sebagai pengganti ongkos cetak dan ongkos kirim. Pada edisi kelima sendiri harga turun menjadi Rp. 500/majalah yang dimana jika seseorang ingin mendapatkan majalah tersebut cukup mengirimkan uang sebesar Rp. 500/majalah ke Alamat redaksi yakni Kotakpos 122. Solo. Pada edisi ketujuh sendiri dikarenakan perpindahan pusat LAMBDA Indonesia dari Solo ke Yogyakarta serta PO BOX yang berubah dari Solo ke Yogyakarta dan juga penerbitan yang sebelumnya diterbitkan oleh Percetakan Offset Surya Chandra Kencana Press Surabaya, kemudian beralih ke PT. Percetakan Sinar OFFSET dan JUJUR OFFSET yang pada akhirnya untuk mendapatkan majalah tersebut harus membayar Rp. 1000/majalah yang dikirim ke PO BOX Yogyakarta (Kotak Pos 17/YKBS. Yogyakart. Tantangan Organisasi LAMBDA Indonesia dan Majalah G: Gaya Hidup Ceria Pada Zaman Orde Baru Orde Baru adalah masa yang demikian dikenal dengan era Orde Konstitusional dan juga era Orde Pembangunan (Khaeruddin, 2. Pada zaman Orde Baru sendiri kehidupan sosial, politik, dan budaya Indonesia sediri sangat diatur oleh pemerintah mellaui kerangka ideologi pembangunan nasional yang telah dirancang oleh Soeharto. Ideologi pembangunan sendiri merupakan alat ekonomi, akan tetapi juga merupakan alat hegemoni yang membentuk warga negara yang disiplin dan patuh terhadap nilai-nilai Wacana gender yang biasanya diasosiasikan dengan kelomlok minoritas seksual memiliki tendensi untuk diminoritaskan bahkan dikriminalisasikan (Reksodirdjo, 2. LAMBDA Indonesia merupakan komunitas yang berupaya memperjuangkan keberadaan dan hak kelompok homoseksual dalam konteks Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. sosial Indonesia. Dalam perjalanannya, organisasi ini menghadapi tekanan kultural yang kuat, karena orientasi dan praktik yang diperjuangkannya kerap dipersepsikan menyimpang dari norma dominan. Pada zaman Orde Lama dan Orde Baru sendiri terdapat sebuah kebijakan yang bermana GarisGaris Besar Haluan Negara (GHBN) yang dimana Garis-Garis Besar Haluan Negara sendiri yakni Haluan negara tentang penyelenggaraan negara yang dirumuskan dalam garis besar dengan tujuan mengakomodir kehendak rakyat dalam garis besar tersebut (Bambang & Lintang, 2. Seksualitas manusia dipandang sebagai bagian dari moralitas sosial, yang harus dikendalikan sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial yang berlaku. Meskipun agamawan melarangnya, pandangan HAM dan Jaringan Islam Liberal berbeda terkait homoseksual (Subhi, 2. Homoseksualitas dikonstruksikan sebagai ancaman terhadap stabilitas sosial dan ketertiban moral masyarakat. Dalam logika pembangunan saat itu, orientasi seksual ini juga dinilai problematis karena dianggap tidak sejalan dengan agenda demografis negara. Individu homoseksual dipersepsikan sebagai subjek yang tidak produktif secara biologis, sebab tidak berkontribusi pada reproduksi bangsa. Organisasi LAMBDA Indonesia yang muncul pada awal 1982 sebagai komunitas gay pertama di Indonesia, secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah pengawasan sistem keamanan LAMBDA Indonesia sendiri bersifat sosial-budaya dan tidak berorientasi politik, akan tetapi mereka tetap dianggap sensitif karena mengusung identitas seksual yang tidak sesuai dengan norma moral resmi Orde Baru. Melalui penerbitan Majalah G: Gaya Hidup Ceria . 2Ae1. LAMBDA Indonesia sendiri mencoba menciptakan ruang komunikasi bagi kaum homoseksual, namun langkah ini dijalankan dalam situasi politik yang menempatkan setiap bentuk kegiatan di luar struktur negara sebagai subjek pengawasan ketat. Dalam UU No. 8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan Pasal 2 berbunyi Au Organisasi kemasyarakatan berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegaraAy. Setiap organisasi sendiri wajib menyatakan kesetiaan kepada ideologi Pancasila dan tunduk kepada kebijakan pemerintah. Ormas yang dianggap bertentangan dengan asas tersebut dapat dibubarkan oleh Menteri Dalam Negeri. Dalam praktiknya, ketentuan ini memberi pemerintah kewenangan mutlak untuk membatasi organisasi yang dianggap menyimpang atau berpotensi mengganggu stabilitas politik. LAMBDA Indonesia tidak terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan resmi dan tidak memiliki bentuk hukum formal. Kegiatan LAMBDA sendiri terbatas pada pertemuan internal, diskusi, dan penerbitan majalah komunitas. Salah satu bentuk dari implementasi atas hak setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat tersebut adalah pembentukan organisasi kemasyarakatan (Orma. sebagai salah satu wadah bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan kebebasannya dalam berserikat dan berkumpul (Santoso, 2. Karena tidak memiliki izin ormas. LAMBDA Indonesia sendiri harus beroperasi secara hati-hati dan underground agar tidak dicurigai sebagai kelompok subversif atau penyebar Aupenyimpangan moral. Ay Media massa merupakan bagian penting dalam kehidupan bernegara. Pemerintah membutuhkan pers untuk memperoleh dukungan dan ketaatan masyarakat dalam melaksanakan program dan kebijakan pemerintah (Oktaviani, 2. Menurut Undang-Undang Nomor 11 tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers yang diubah menjadi Undang-Undang No. 4 tahun 1967 diantaranya pada ketentuan pasal 13 ayat . yang menyatakan bahwa AuSetiap penerbitan pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers memerlukan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan oleh pemerintah. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan oleh Departemen Penerangan sendiri merupakan sebuah ancaman bagi Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Ancaman tersebut yakni karena isi majalah tersebut berisi sesuatu bertentangan dengan kepentingan negara, moral Pancasila, dan ketertiban umum. Penerbitan Majalah G: Gaya Hidup Ceria . 2Ae1. merupakan tindakan yang berisiko tinggi. Karena tidak memiliki SIUPP, majalah ini tidak dapat diedarkan secara umum. Distribusinya terbatas di kalangan komunitas melalui jaringan pertemanan dan surat pribadi. Untuk menghindari sensor, isi majalah dikemas dalam bentuk humor, rubrik gaya hidup, cerita pendek, dan profil pembaca sendiri tanpa membicarakan seksualitas secara eksplisit. LAMBDA Indonesia sendiri berusaha membangun counter-public sphere . uang publik tandinga. di tengah dominasi wacana negara. Namun, ruang tersebut tetap rentan terhadap Masa Operasional Majalah G: Gaya Hidup Ceria dan Berhenti Terbitnya Operasional Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri dimulai pada akhir tahun 1982 yang dimana menghasilkan output yakni Majalah G: Gaya Hidup Ceria edisi pertama yang beredar dikalangan organisasi Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Majalah G:Gaya Hidup Ceria sendiri pada edisi pertama hingga edisi keenam sendiri diterbitkan oleh Percetakan Offset Surya Chandra dan Kencana Press Ltd. Pada edisi ketujuh sendiri diterbitkan oleh PT. Percetakan SINAR OFFSET dan pada edisi kedelapan sendiri diterbitkan oleh JUJUR OFFSET. Dalam wawancara dengan Dede Oetomo . Auedisi satu sampai enam saya yang pegang, edisi tujuh saya tidak ikut pegang, kalau tidak salah Marleon yang megang, waktu itu saya kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan program doktor sayaAy. Edisi pertama hingga keenam Majalah G: Gaya Hidup Ceria dicetak di Surabaya, sebelum Dede Oetomo kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan studi doktoralnya. Setelah ia kembali ke Cornell University sekitar tahun 1982Ae1983, proses produksi majalah mulai mengalami ketidakstabilan. Ketiadaan figur sentral dalam pengelolaan redaksi berdampak pada kesinambungan penerbitan. Pada edisi ketujuh bahkan disebutkan bahwa salah satu pengurus Aukembali ke Amerika Serikat,Ay yang merujuk pada keberangkatan Dede untuk melanjutkan disertasinya. Hal ini menandai awal mula menurunnya intensitas produksi majalah. Ketiadaan figur sentral seperti Dede Oetomo sendiri menyebabkan organisasi kehilangan konsolidasi redaksional. Beberapa pengurus yang tersisa di Indonesia tidak memiliki kapasitas teknis ataupun jaringan percetakan yang sama untuk melanjutkan produksi menurut Dede Oetomo dalam wawancaranya. Kondisi sosial-politik pada masa Orde Baru turut memberikan tekanan tersendiri. Meskipun tidak ada pembubaran resmi dari negara, fakta bahwa tema homoseksualitas masih dianggap tabu dan sensitif membuat aktivitas produksi dan distribusi majalah harus dilakukan secara hati-hati. Banyak anggota yang enggan menampakkan identitasnya secara publik. Ini membuat sistem distribusi berbasis kotak pos menjadi rentan sehingga jika salah satu pengurus berhenti aktif, maka alur surat, permintaan majalah, dan pengiriman naskah langsung terputus. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri terakhir terbit pada edisi 8 yakni bulan November 1984 karena Marleon sendiri ketakutan untuk melanjutkan majalah tersebut. Dede Oetomo yang kembali dari Indonesia pada akhir 1984 sendiri mencoba untuk mengambil alih, akan tetapi tidak diperbolehkan karena dia tiba-tiba pergi ke Amerika Serikat dan tiba-tiba datang kembali ke Indonesia yang mengambil apa yang tidak dia urus selama ditinggal. Dalam wawancara. Dede Oetomo sendiri menceritakan bahwa Marleon sendiri merasa AumarahAy ketika ia menawarkan bantuan untuk meneruskan majalah. Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan visi dan mungkin juga beban emosional akibat tekanan kerja aktivisme pada masa itu. Ketegangan tersebut membuat Dede Oetomo memutuskan untuk mundur sementara dan Aumembiarkan orang lain mengurusnya dulu. Ay Pada akhir 1984 Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri sudah tidak beroperasi lagi dimana Marleon sendiri merasa ketakutan dengan kondisi sosial-politik yang ada di Indonesia saat itu dan kemudian memutuskan untuk mundur dari LAMBDA Indonesia Bubarnya LAMBDA Indonesia LAMBDA Indonesia sendiri berdiri pada tahun 1982, dengan tujuan utama membangun solidaritas dan jejaring antar individu homoseksual di Indonesia yang selama ini hidup dalam isolasi sosial. Tidak ada payung hukum LAMBDA Indonesia yang dimana merupakan organisasi yang memiliki orientasi seksual non-heteroseksual tidak diakui secara sosial, apalagi secara legal. Karena itu. LAMBDA Indonesia sendiri tidak pernah terdaftar secara resmi di Departemen Dalam Negeri atau Departemen Sosial. Mereka beroperasi secara diam-diam, meminjam ruang di rumah anggota atau kafe tertentu untuk pertemuan, dan mendistribusikan Majalah G: Gaya Hidup Ceria secara terbatas melalui jaringan pribadi. Kondisi ini membuat Lambda lebih menyerupai komunitas kultural bawah tanah daripada organisasi Anggota pertama yang keluar dari LAMBDA Indonesia sendiri yakni Chandra yang dimana mendapat tekanan dari keluarganya ketika tau dia memiliki kelainan seksual. Keluarga Chandra sendiri mengetahui Chandra memiliki kelainan seksual Ketika melihat majalah Tempo tahun 1983 sedang berfoto disamping dan terdapat latar kamar yang memiliki banyak kaset jadul yang menjadi ciri khas dari Chandra. Keluarga tersebut mengetahui gambar latar belakang dari foto di Tempo tersebut. Dede Oetomo sendiri mengatakan Chandra pun mengakui dia memiliki kelainan seksual dan keluar dari LAMBDA agar meredakan amarah keluarganya. Lalu Yongki sendiri keluar mengikuti Chandra. Dede Oetomo sendiri tidak keluar, akan tetapi pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi doktornya, kepemimpinan sendiri dilanjutkan oleh Marleon. Selama masa Marleon. Majalah G: Gaya Hidup Ceria hanya terbit dua kali dalam dua tahun yang dimana para pembaca sangat menunggu terbitan dari Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Kembalinya Dede Oetomo pada tahun 1984 sendiri ingin mengambil alih LAMBDA Indonesia dari tangan Marleon yang dimana menurut Dede Oetomo kurang kompeten Muhammad Yazid Al Busthomi. Wisnu (Organisasi LAMBDA dan Peran Majalah G (Gaya Hidup Ceri. dalam Perjuangan Komunitas LGBTQ di Indonesia . 2Ae1. ) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. dalam pengelolaan komunitas dan majalah. Akan tetapi, dalam wawancara dengan Dede Oetomo. Ia dimarahi oleh Marleon karena tiba-tiba pergi ke Amerika Serikat dan pulang tiba-tiba untuk meminta izin mengelola organisasinya, akan tetapi tidak diizinkan oleh Marleon, akhirnya Dede Oetomo memutuskan untuk berhenti sejenak dari LAMBDA Indonesia Pada akhir tahun 1986. LAMBDA Indonesia mulai mengalami kelelahan organisasi yang cukup Intensitas kegiatan perlahan menurun, seiring berkurangnya jumlah anggota yang masih aktif Distribusi Majalah G: Gaya Hidup Ceria pun semakin terbatas dan tidak lagi berjalan seintensif periode sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan akumulasi tekanan sosial, keterbatasan sumber daya, serta beban psikologis yang dihadapi organisasi dalam mempertahankan keberlanjutan gerakan di tengah situasi sosial-politik yang tidak mendukung. Pada tahun 1986. LAMBDA Indonesia sendiri tidak lagi melakukan kegiatan publik. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri berhenti terbit setelah edisi terakhir pada 1984 yang menampilkan tema ringan tentang AuGaya Hidup Musim Panas. Ay Tidak ada pengumuman resmi mengenai penghentian ini. Pada akhir 1986, sebagian anggota LAMBDA di B Surabaya mulai membentuk jaringan baru secara informal. Mereka menggunakan jalur korespondensi pribadi dan kegiatan sosial kecil untuk tetap terhubung. Jaringan inilah yang kemudian menjadi embrio yang bernama GAYa Nusantara. Simpulan LAMBDA Indonesia sendiri merupakan organisasi gay pertama di Indonesia yang diinisasi oleh Dede Oetomo. Chandra. Yongki, dan Franz yang dimana memiliki tujuan untuk merangkul kaum homoseksual agar mengetahui terkait dengan dirinya dan masalah psikologi seseorang terkait dengan LAMBDA Indonesia sendiri berdiri pada 1 Maret 1982 dan saat itu Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri pertama kali terbit pada Agustus 1982 yang memiliki banyak sekali humor-humor terkait dengan isu homoseksual, akan tetapi Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri tidak memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), sehingga termasuk kedalam penerbit illegal. Majalah G: Gaya Hidup Ceria sendiri hanya terbit untuk kalangan komunitas yang dimana dapat didapatkan dengan cara mengisi formular dan mengirimkan perangko ke PO BOX Kota Solo bagi edisi 1 sampai 6 dan PO BOX Yogyakarta bagi edisi 7 dan 8. LAMBDA Indonesia sendiri mulai mengalami kemunduruan ketika tokoh sentral seperti Dede Oetomo. Chandra, dan Yongki sendiri menarik diri dari LAMBDA Indonesia yang membuat LAMBDA Indonesia kehilangan arah ketika dipimpin oleh Marleon. Hingga pada tahun 1986 LAMBDA Indonesia resmi bubar dan cabang-cabangnya sendiri mendirikan organisasi sendiri-sendiri sesuai dengan References