Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Systematic Literature Review: Analisis Kepemimpinan Pendidikan dalam Pencegahan Cyberbullying pada Siswa Sekolah Dasar Arif Prayogo*. Siti Nuraeni. Siswadi UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Indonesia *Coresponding Author: 2441220300052@mhs. Dikirim: 02-11-2025. Direvisi: 21-12-2025. Diterima: 24-12-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren penelitian cyberbullying berdasarkan pendekatan metodologi serta fokus kajian yang digunakan dalam berbagai studi ilmiah. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Data penelitian diperoleh dari berbagai basis data jurnal bereputasi melalui proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah Sebanyak 30 artikel ilmiah yang terbit pada rentang tahun 2021Ae2025 dianalisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kuantitatif mendominasi penelitian terkait cyberbullying, dengan desain yang paling banyak digunakan adalah analisis regresi, survei cross-sectional, dan studi korelasional. Sementara itu, metode kualitatif dan pendekatan Research and Development (R&D) masih digunakan dalam jumlah yang terbatas. Berdasarkan tren penelitian, sebagian besar studi berfokus pada dampak psikologis cyberbullying, faktor risiko, serta peran lingkungan sosial seperti orang tua, teman sebaya, dan iklim sekolah. Selain itu, terdapat pula perhatian pada aspek empati, moral, dan dinamika peran individu sebagai pelaku, korban, dan bystander. Namun demikian, penelitian yang mengarah pada intervensi, program pencegahan, serta kebijakan pendidikan masih relatif sedikit dan belum berkembang secara optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian cyberbullying masih didominasi oleh pendekatan eksploratif dan korelasional, dengan kecenderungan pada identifikasi masalah dibandingkan solusi. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan penelitian yang lebih aplikatif dan inovatif, khususnya melalui pendekatan kualitatif dan R&D. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memetakan arah dan tren penelitian, serta menjadi dasar dalam pengembangan studi selanjutnya yang lebih komprehensif dan solutif. Kata Kunci: cyberbullying. systematic literature review. tren penelitian. Abstract: This study aims to analyze research trends in cyberbullying based on methodological approaches and research focuses used in previous studies. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR) following the PRISMA guidelines. Data were collected from reputable academic databases through a selection process based on predefined inclusion and exclusion criteria. A total of 30 scholarly articles published between 2021 and 2025 were analyzed. The results indicate that quantitative methods dominate cyberbullying research, with regression analysis, cross-sectional surveys, and correlational studies being the most frequently used designs. In contrast, qualitative methods and Research and Development (R&D) approaches are still limited. In terms of research trends, most studies focus on the psychological impacts of cyberbullying, such as depression and mental health issues, as well as risk factors related to digital technology use. Additionally, attention has been given to the role of social environments, including parents, peers, and school climate, as well as aspects of empathy, morality, and individual roles as perpetrators, victims, and bystanders. However, studies focusing on intervention, prevention programs, and educational policy remain relatively scarce. These findings suggest that cyberbullying research is still predominantly exploratory and correlational, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. with a greater emphasis on problem identification rather than solution development. Therefore, future research is recommended to adopt more applied and innovative approaches, particularly through qualitative and R&D methods. This study is expected to contribute to mapping research trends and provide a foundation for developing more comprehensive and solution-oriented future studies. Keywords: cyberbullying. systematic literature review. research trends. research methods. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. Era ini telah membawa berbagai perubahan vital, mulai dari cara berpikir, bersosialisasi, bekerja, hingga menjalankan berbagai aktivitas kehidupan (Siswadi, 2. Anak-anak usia sekolah dasar saat ini tidak lagi terlepas dari penggunaan perangkat digital seperti smartphone, tablet, dan komputer yang terhubung dengan internet. Kemudahan akses terhadap media sosial dan berbagai platform digital memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran, namun di sisi lain juga menghadirkan berbagai risiko yang perlu diwaspadai. Pencegahan resiko tersebut bisa dilakukan oleh kepemimpinan pendidikan. Kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai fungsi administratif semata (Siswadi, 2. , melainkan juga dapat mencegah salah satu risiko yang semakin meningkat seiring dengan penggunaan teknologi digital adalah munculnya fenomena Cyberbullying. Cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital, seperti pesan singkat, media sosial, maupun platform komunikasi online lainnya (Marlef et al. , 2. Bentuk perilaku ini dapat berupa penghinaan, ancaman, penyebaran informasi palsu, hingga pengucilan secara daring yang berdampak negatif bagi korban. Fenomena Cyberbullying tidak hanya terjadi pada remaja, tetapi juga mulai merambah pada anak usia sekolah dasar. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat siswa sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan emosional dan sosial yang belum stabil. Pentingnya kepemimpinan tercermin dalam kemampuan membangun budaya organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu (Siswadi, 2. Paparan terhadap perilaku negatif seperti Cyberbullying dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan pada kelompok usia yang lebih dewasa. Kepemimpinan pendidikan mengacu pada keterlibatan pemimpin dalam penanganan Cyberbullying di lingkungan sekolah (Siswadi, 2. Dampak dari Cyberbullying terhadap siswa sekolah dasar sangat beragam, mulai dari gangguan psikologis seperti kecemasan, stres, dan rendahnya kepercayaan diri, hingga penurunan prestasi belajar. Dalam beberapa kasus, korban Cyberbullying juga dapat mengalami isolasi sosial dan kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi ini tentunya dapat menghambat perkembangan optimal anak baik secara akademik maupun sosial (Indah et al. Selain dampak terhadap korban. Cyberbullying juga mencerminkan adanya permasalahan dalam pembentukan karakter dan nilai moral pada pelaku. Anak yang melakukan Cyberbullying umumnya kurang memiliki empati serta pemahaman tentang konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. pendidikan karakter dan literasi digital belum sepenuhnya terinternalisasi dengan baik pada siswa sekolah dasar. Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi sangat penting dalam mencegah dan menangani kasus Cyberbullying. Kepemimpinan pendidikan harus mampu menciptakan penguatan karakter yang tidak hanya dilakukan melalui kegiatan formal didalam kelas, tetapi juga melalui non akademik yang dirancang sistematis guna mencegah terjadinya Cyberbullying di lingkungan sekolah (Siswadi, 2. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang mampu menanamkan nilai-nilai etika dalam penggunaan teknologi digital. Namun, pada kenyataannya masih banyak sekolah yang belum memiliki program khusus atau strategi efektif dalam mengatasi Cyberbullying (Manik, 2. Peran kepemimpinan pendidikan juga harus bisa mengusung konsep keteladanan yang dilaksanakan di dalam ruang digital untuk hadir menjadi sosok yang bijak dimedia sosial dan platform komunikasi sekolah (Siswadi, 2. Di sisi lain, peran orang tua juga tidak kalah penting dalam mengawasi dan membimbing anak dalam penggunaan teknologi. Kurangnya pengawasan dari orang tua serta minimnya pemahaman tentang dunia digital seringkali menjadi faktor yang memperbesar peluang terjadinya Cyberbullying. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak. Meskipun penelitian mengenai Cyberbullying telah banyak dilakukan, kajian yang secara khusus berfokus pada siswa sekolah dasar masih relatif terbatas dan tersebar di berbagai sumber. Hal ini menyebabkan sulitnya memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai faktor penyebab, bentuk, serta dampak Cyberbullying pada anak usia sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis untuk mengkaji berbagai hasil penelitian yang telah ada. Systematic Literature Review (SLR) merupakan metode yang tepat untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis hasil penelitian secara sistematis dan terstruktur. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengumpulkan berbagai temuan penelitian yang relevan, kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menggunakan metode SLR, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai fenomena Cyberbullying pada siswa sekolah dasar, termasuk faktor penyebab, bentuk perilaku, dampak yang ditimbulkan, serta strategi pencegahan dan penanganannya. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian mengenai analisis Cyberbullying pada siswa sekolah dasar melalui pendekatan Systematic Literature Review menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam upaya pencegahan dan penanganan Cyberbullying di lingkungan pendidikan dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Systemic Literature Review (SLR) untuk mengkaji secara sistematis dan komprehensif berbagai penelitian terkait cyberbullying, khususnya yang berfokus pada tren metodologi penelitian. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. Pendekatan SLR dipilih karena mampu menyajikan sintesis bukti ilmiah secara terstruktur, transparan, dan replikatif, sehingga dapat meminimalkan bias serta meningkatkan reliabilitas hasil kajian (Kitchenham, 2. Selain itu, penelitian ini juga mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) dalam proses seleksi dan pelaporan artikel (Page et al. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai basis data jurnal ilmiah bereputasi, antara lain Google Scholar. Scopus, dan Science Direct. Proses pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kombinasi kata kunci seperti Aucyberbullying in educationAy dan Austudent cyberbullyingAy. Proses seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi: . artikel merupakan penelitian ilmiah yang membahas cyberbullying, . diterbitkan dalam rentang tahun 2021Ae 2025, . memiliki kejelasan metode penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun Research and Development (R&D), serta . tersedia dalam bentuk teks lengkap . ull tex. Adapun kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak relevan dengan topik penelitian, artikel non-empiris seperti opini atau editorial, serta artikel yang tidak menjelaskan metode penelitian secara jelas. Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi awal, penyaringan judul dan abstrak, serta evaluasi kelayakan melalui pembacaan teks lengkap, sebagaimana direkomendasikan dalam alur PRISMA(Page et al. , 2. Berdasarkan tahapan tersebut, diperoleh sebanyak 30 artikel ilmiah yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Data dari setiap artikel kemudian diekstraksi dan dikategorikan berdasarkan jenis metode penelitian dan desain penelitian yang HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan daftar artikel yang dianalisis dalam penelitian ini, kajian multidimensional yang berkaitan dengan perilaku individu, lingkungan sosial, dukungan keluarga, literasi digital, kesehatan mental, serta nilai moral. Artikelartikel yang dikaji menggunakan beragam pendekatan, terutama metode kuantitatif seperti survei, regresi logistik, analisis faktor. Structural Equation Modeling, studi longitudinal, serta beberapa pendekatan kualitatif dan pengembangan intervensi. Secara umum, fokus penelitian terdahulu dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tema besar, yaitu perilaku membela korban, faktor risiko cyberbullying, dampak psikologis, peran keluarga dan teman sebaya, literasi media, pendidikan nilai, serta program pencegahan cyberbullying. Kajian mengenai perilaku membela korban cyberbullying tampak dalam penelitian H. Chen et al. yang dipublikasikan dalam Behavioral Sciences. Penelitian ini mengembangkan dan memvalidasi Defending Behavior Scale untuk mengukur perilaku membela dalam kasus cyberbullying pada remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku membela terdiri atas dimensi dukungan emosional, bantuan teknis, dan pelaporan. Temuan ini diperkuat oleh Knauf dan Eschenbeck . dalam Social Psychology of Education yang menemukan bahwa siswa yang berperan sebagai pembela memiliki empati, tanggung jawab, dan efikasi diri yang lebih tinggi, serta tingkat pelepasan moral yang lebih rendah dibandingkan pelaku. Chen . dalam BMC Psychology juga menunjukkan bahwa pola pengasuhan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. orang tua, terutama penolakan dan proteksi berlebihan, dapat memengaruhi kecenderungan remaja dalam memberikan reaksi pembelaan ketika menyaksikan Beberapa artikel lain menyoroti faktor risiko dan pola keterlibatan remaja dalam cyberbullying. Rusillo-Magdaleno et al. dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa korban cyberbullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami prokrastinasi akademik dan pembelajaran superfisial dibandingkan siswa yang bukan korban. Healthcare menguji indikator risiko siber pada remaja Korea dan menemukan bahwa perilaku online berisiko serta intensitas aktivitas digital berhubungan signifikan dengan keterlibatan remaja dalam berbagai peran Marinoni et al. dalam Current Psychology menunjukkan bahwa penggunaan profil palsu dan durasi online selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko seseorang melakukan cyberbullying karena adanya rasa Barlett . dalam International Journal of Environmental Research and Public Health juga menemukan bahwa kepemilikan ponsel pribadi pada usia dini dan sikap positif terhadap agresi siber merupakan prediktor kuat perilaku cyberbullying pada anak usia 8Ae10 tahun. Dampak psikologis cyberbullying juga banyak dikaji dalam artikel-artikel yang dianalisis. Wright . dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa kelekatan teman sebaya yang kuat dapat mengurangi dampak negatif cyberbullying terhadap gejala depresi pada Song et al. dalam Behavioral Sciences menguji hubungan antara viktimisasi cyberbullying dan depresi pada anak melalui model mediasi yang Wright . dalam Children menilai perbedaan usia dalam hubungan antara viktimisasi cyberbullying, peran pengamat, depresi, serta mediasi orang tua, dan menemukan bahwa peran orang tua dalam memediasi penggunaan teknologi digital berpengaruh terhadap tingkat depresi akibat viktimisasi cyberbullying. Wright dan Wachs . dalam International Journal of Environmental Research and Public Health juga menunjukkan bahwa dukungan sosial dari orang tua dan guru mampu memitigasi dampak depresi akibat cyberbullying, meskipun hasilnya dapat berbeda berdasarkan gender. Hinduja dan Patchin . dalam BMC Public Health bahkan mengkaji cyberbullying melalui perspektif trauma dan menemukan bahwa pengalaman cyberbullying berkaitan dengan gejala PTSD pada remaja. Artikel lain membahas kelompok rentan serta proses perubahan peran dari korban menjadi pelaku. Amadori . dalam Journal of Adolescence meneliti viktimisasi cyberbullying pada pemuda marjinal dengan kerangka Hasilnya menunjukkan bahwa pemuda dari kelompok minoritas seksual dan gender mengalami tingkat viktimisasi cyberbullying yang lebih tinggi dibandingkan kelompok mayoritas. Jankowiak et al. dalam Social Sciences menemukan adanya hubungan kuat antara pengalaman menjadi korban dengan kecenderungan menjadi pelaku pada masa berikutnya, baik dalam perundungan tradisional maupun siber. Li et al. dalam Applied Research in Quality of Life juga menunjukkan bahwa pelepasan moral dan keyakinan normatif tentang agresi memediasi hubungan antara viktimisasi siber dan perilaku cyberbullying pada anak-anak. Sementara itu. Chen et al. dalam Frontiers in Psychiatry menemukan bahwa modal sosial online, efikasi diri internet, dan kesehatan mental berperan dalam menjelaskan keterlibatan seseorang dalam siklus korban-pelaku @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. Aspek empati, kompetensi sosial-emosional, dan literasi media juga menjadi perhatian penting dalam artikel-artikel yang dianalisis. Mehari et al. dalam International Journal of Bullying Prevention menemukan bahwa empati kognitif yang rendah menjadi prediktor kuat munculnya perilaku cyberbullying pada masa kanak-kanak akhir. Xiao et al. dalam BMC Psychology menunjukkan bahwa literasi media dan kompetensi sosial-emosional yang tinggi dapat menjadi faktor pelindung yang menurunkan risiko remaja menjadi pelaku cyberbullying. Dolanbay . dalam International Journal of Curriculum and Instruction meneliti peningkatan literasi media pada calon guru melalui metodologi action research dan menemukan bahwa pelatihan literasi media mampu meningkatkan kesadaran serta kemampuan kritis mahasiswa dalam mengevaluasi pesan media. Choi dan Park . dalam Sustainability juga menunjukkan bahwa program pendidikan online AuCyber-SecurityAy efektif meningkatkan literasi digital serta menurunkan niat siswa sekolah dasar untuk terlibat dalam cyberbullying. Choi et al. dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menambahkan bahwa peningkatan waktu penggunaan internet dan lemahnya pengawasan orang tua selama pandemi COVID-19 menjadi faktor risiko meningkatnya cyberbullying pada siswa sekolah dasar. Selain faktor digital, artikel-artikel yang dianalisis juga menekankan pentingnya moralitas, pendidikan nilai, dan iklim sekolah. Journal et al. dalam International Journal of Psychology and Educational Studies menemukan bahwa kurikulum pendidikan nilai dapat meningkatkan kematangan moral dan nilai-nilai kemanusiaan mahasiswa. Bulut et al. dalam Darulfunun Ilahiyat menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Allah Centeredness dan moral disengagement, sehingga orientasi kehidupan yang berpusat pada Allah dapat menurunkan kecenderungan pelepasan moral. Akman . dalam International Journal of Progressive Education menemukan bahwa iklim sekolah yang positif, perilaku guru yang mendukung, dan lingkungan belajar yang aman berkontribusi terhadap penurunan perilaku agresif siswa. ynfke et al. dalam Turkish Psychological Counseling and Guidance Journal juga menemukan hubungan signifikan antara kemarahan, agresi, dan keterampilan pemecahan masalah pada siswa sekolah menengah. Beberapa artikel memperluas pembahasan pada konteks pendidikan, strategi kelembagaan, dan perlindungan hukum. Polat dan Murat Topal . dalam Journal of Educational Technology & Online Learning meneliti kecanduan gim digital dan menemukan bahwa jenis kelamin serta prestasi akademik menjadi prediktor signifikan kecanduan gim, sedangkan BMI dan tipe pemain tidak menjadi prediktor utama. MAV et al. dalam Bartn University Journal of Faculty of Education menganalisis rencana strategis pendidikan di Turki, khususnya di wilayah kurang beruntung, dan menemukan bahwa rencana strategis berfungsi sebagai peta jalan untuk mengatasi tantangan pendidikan meskipun implementasinya menghadapi hambatan administratif dan lingkungan. Cahyandari dan Wangi . dalam Jurnal Magister Hukum Argumentum meninjau upaya preventif dan perlindungan hukum bagi anak disabilitas yang mengalami bullying di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa perlindungan anak disabilitas telah dijamin secara konstitusional, tetapi penanganan bullying di lapangan masih belum @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. Dari sisi intervensi pencegahan, beberapa artikel memberikan gambaran mengenai model program yang dapat digunakan untuk mengurangi cyberbullying. Touloupis dan Christina Athanasiades . dalam Frontiers in Psychology mengevaluasi program pencegahan cyberbullying di sekolah dasar Yunani dan menemukan bahwa program tersebut berhasil meningkatkan harga diri siswa serta menurunkan kejadian cyberbullying. Wienrich et al. dalam Virtual Reality mengembangkan tindakan pencegahan cyberbullying berbasis VR melalui pengalaman invasi ruang pribadi virtual. Intervensi tersebut terbukti mampu memicu disonansi kognitif, membangun empati terhadap korban, serta membuat dampak cyberbullying terasa lebih nyata bagi remaja. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying dapat dilakukan melalui pendekatan edukatif, psikologis, teknologi, serta penguatan pengalaman langsung yang mendorong empati. Analisis ini difokuskan pada identifikasi dan pengelompokan metode penelitian yang digunakan dalam setiap artikel untuk melihat pola, kecenderungan, dan distribusi pendekatan metodologis dalam bidang kajian ini. Pengelompokan metode penting dilakukan untuk memahami arah penelitian yang telah berkembang, baik melalui pendekatan kuantitatif, kualitatif, maupun Research and Development. Selain itu, analisis ini membantu mengidentifikasi kekuatan, keterbatasan, serta celah penelitian yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan studi selanjutnya. Setiap artikel dikategorikan berdasarkan jenis metode dan desain penelitian, seperti survei, eksperimen, korelasional, regresi, kualitatif, dan pengembangan. Hasil kategorisasi kemudian disajikan dalam bentuk tabel agar pola distribusi metode penelitian dapat dibaca secara sistematis. Hasil analisis terhadap metode penelitian yang digunakan dalam kumpulan artikel menunjukkan bahwa pendekatan kuantitatif merupakan metode yang paling Hal ini terlihat dari banyaknya variasi desain kuantitatif yang digunakan dalam penelitian, dengan analisis regresi . ogistik, multipel, dan multinomia. sebagai desain yang paling sering digunakan, yaitu sebanyak 7 penelitian (Barlett. Chen, 2024. Choi et al. , 2022. Marinoni et al. , 2024. Polat & Murat Topal, 2022. Rusillo-magdaleno et al. , 2. Selain itu, desain survei crosectional digunakan dalam 4 penelitian (Akman, 2021. Barlett, 2023. Bulut et al. Wright & Wachs, 2. , sedangkan studi korelasional serta eksperimen/quasi-eksperimen masing-masing digunakan dalam 3 penelitian. Desain lain seperti structural equation modeling (SEM), longitudinal, serta analisis mediasi dan moderasi masing-masing ditemukan dalam 2 penelitian (Q. Chen et al. , 2025. Li et al. , 2025. Mehari et al. , 2023. Song et al. , 2024. Wright, 2. Sementara itu, analisis faktor dan multi-level analysis merupakan desain yang paling jarang digunakan, masing-masing hanya terdapat dalam 1 penelitian (H. Chen et al. , 2024. Knauf & Eschenbeck, 2. Dominasi berbagai desain kuantitatif ini menunjukkan bahwa penelitian dalam bidang ini cenderung berfokus pada pengujian hubungan antar variabel, analisis prediktif, serta penguatan bukti empiris melalui pendekatan Di sisi lain, penggunaan metode kualitatif masih tergolong sangat terbatas. Hanya terdapat dua jenis desain yang ditemukan, yaitu analisis dokumen atau literature review dan penelitian hukum normatif (Cahyandari & Wangi, 2022. Mavi, et. , 2. Keterbatasa ini menujukkan bahwa eksplorasi mendalam terhadap fenomena, khususnya yang berkaitan dengan konteks sosial, budaya, dan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. kebijakan, belum banyak dilakukan. Padahal, pendekatan kualitatif memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap fenomena yang tidak sepenuhnya dijelaskan melalui data kuantitatif. Selain itu, pendekatan Research and Development (R&D) juga masih relatif Hanya terdapat dua penelitian yang menggunakan pendekatan ini, yaitu pengembangan model atau intervensi berbasis teknologi seperti virtual reality serta action research (Dolanbay, 2022. Wienrich et al. , 2. Meskipun jumlahnya terbatas, keberadaan penelitian R&D menunjukkan adanya upaya untuk mengembangkan solusi praktis dan inovatif terhadap permasalahan yang diteliti, khususnya dalam konteks pendidikan dan pencegahan cyberbullying. Namun demikian, proporsi penelitian jenis ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kuantitatif yang bersifat eksploratif dan korelasional. Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa tren metodologi penelitian masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif yang berorientasi pada pengujian hubungan dan prediksi. Sementara itu, pendekatan kualitatif dan pengembangan belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengintegrasikan berbagai pendekatan metodologis, khususnya memperkuat penggunaan metode kualitatif dan R&D, guna menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus solusi yang lebih aplikatif terhadap fenomena yang diteliti. Tabel 1. Distribusi Jurnal Berdasarkan Tren Penelitian Tren Penelitian Cyberbullying & Dampak Psikologis Perilaku Cyberbullying & Faktor Risiko Peran Empati. Moral, dan Psikososial Peran Lingkungan Sosial (Orang Tua. Teman. Sekola. Korban. Pelaku, dan Bystander (Peran dalam Cyberbullyin. Intervensi & Program Pencegahan Kelompok Rentan / Marginal Perilaku Agresi & Keterkaitan Umum Kebijakan & Analisis Pendidikan Fokus Kajian Depresi. PTSD, kesehatan mental, prokrastinasi Jumlah Intensitas internet, anonimitas, profil palsu, aktivitas online Empati, moral disengagement, efikasi diri, nilai Dukungan sosial, pola asuh, iklim sekolah Transisi korbanAepelaku, perilaku membela. Program pendidikan. VR, literasi media, cybersecurity Minoritas gender, disabilitas, kelompok rentan Agresi, kemarahan, problem solving, kecanduan Strategi pendidikan, perlindungan hukum Berdasarkan hasil pemetaan jurnal yang dianalisis, penelitian tentang cyberbullying menunjukkan perkembangan yang kompleks dan multidimensional. Secara umum, tema penelitian dapat dikelompokkan ke dalam beberapa aspek utama, yaitu dampak psikologis, faktor risiko, empati dan moral, peran lingkungan sosial, dinamika peran pelaku-korban-bystander, intervensi pencegahan, kelompok rentan, serta kebijakan dan pendidikan. Tren paling dominan adalah kajian mengenai dampak psikologis Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental, seperti depresi, stres, prokrastinasi akademik, pembelajaran superfisial, hingga PTSD. Korban cyberbullying memiliki risiko prokrastinasi akademik dan pembelajaran superfisial yang lebih tinggi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. dibandingkan non-korban (Rusillo-magdaleno et al. , 2. Selain itu, viktimisasi cyberbullying berhubungan dengan meningkatnya depresi pada anak melalui mekanisme mediasi tertentu (Song et al. , 2. Kelekatan teman sebaya dan dukungan sosial dari orang tua serta guru dapat menjadi faktor pelindung yang mengurangi dampak negatif cyberbullying terhadap depresi (Wright, 2025. Wright & Wachs, 2. Bahkan, pengalaman cyberbullying juga berhubungan dengan gejala PTSD pada remaja, termasuk akibat pengucilan digital (Hinduja & Patchin. Tren berikutnya adalah kajian tentang faktor risiko cyberbullying. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku online yang berisiko, tingginya intensitas penggunaan internet, anonimitas, penggunaan profil palsu, kurangnya pengawasan orang tua, serta kepemilikan ponsel sejak usia dini dapat meningkatkan peluang seseorang terlibat dalam cyberbullying (Marinoni et al. , 2024. Choi et al. , 2022. Barlett, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga membuka peluang munculnya perilaku negatif apabila tidak disertai literasi digital dan pengawasan yang Aspek empati, moral, dan faktor psikososial juga menjadi perhatian penting. Rendahnya empati kognitif terbukti menjadi prediktor munculnya perilaku cyberbullying pada anak (Mehari et al. , 2. Selain itu, moral disengagement dan keyakinan normatif tentang agresi dapat memperkuat hubungan antara pengalaman menjadi korban dan kecenderungan menjadi pelaku cyberbullying (Li et al. , 2. Sebaliknya, orientasi spiritual seperti Allah centeredness memiliki hubungan negatif dengan moral disengagement, sehingga nilai spiritual dapat menjadi faktor pelindung dari perilaku agresif (Bulut et al. , 2. Individu yang berperan sebagai pembela juga cenderung memiliki empati, tanggung jawab, dan efikasi diri yang lebih tinggi dibandingkan pelaku (Knauf & Eschenbeck, 2. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dan penguatan nilai moral dalam mencegah cyberbullying. Lingkungan sosial, seperti orang tua, teman sebaya, guru, dan iklim sekolah, juga memiliki peran besar. Pola asuh yang negatif, seperti penolakan atau proteksi berlebihan, dapat menurunkan kecenderungan remaja untuk membela korban cyberbullying (Q. Chen, 2. Peran orang tua dalam memediasi penggunaan teknologi juga berpengaruh terhadap tingkat depresi akibat viktimisasi cyberbullying (Wright, 2. Selain itu, iklim sekolah yang positif, perilaku guru yang suportif, serta lingkungan belajar yang aman dapat menurunkan perilaku agresif siswa (Akman, 2. Literasi media dan kompetensi sosial-emosional juga berfungsi sebagai faktor pelindung dalam mengurangi risiko keterlibatan cyberbullying (Xiao et al. , 2. Empati dan iklim sekolah turut berperan dalam mencegah perubahan dari korban menjadi pelaku (Jankowiak et al. , 2. Dalam konteks peran individu, cyberbullying melibatkan dinamika antara pelaku, korban, dan bystander. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang pernah menjadi korban berpotensi menjadi pelaku di kemudian hari, terutama jika dipengaruhi oleh rendahnya empati dan iklim sekolah yang kurang mendukung (Jankowiak et al. , 2. Peran bystander juga penting, terutama ketika mereka bertindak sebagai pembela korban. Chen et al. mengembangkan Defending Behavior Scale yang menunjukkan bahwa perilaku membela dapat berupa dukungan emosional, bantuan teknis, dan pelaporan. Individu yang menjadi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. pembela cenderung memiliki empati, tanggung jawab, dan efikasi diri yang lebih tinggi dibandingkan pelaku (Knauf & Eschenbeck, 2. Dengan demikian, penanganan cyberbullying tidak hanya berfokus pada pelaku dan korban, tetapi juga perlu memperkuat peran bystander sebagai agen perubahan. Penelitian mengenai intervensi dan pencegahan cyberbullying masih relatif terbatas, tetapi mulai berkembang. Beberapa program berbasis teknologi dan pendidikan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran, empati, dan literasi digital siswa. Intervensi berbasis virtual reality mampu membangkitkan empati dan membuat dampak cyberbullying terasa lebih nyata bagi remaja (Wienrich et al. Program pendidikan online Cyber-Security juga terbukti meningkatkan literasi digital dan menurunkan niat siswa untuk terlibat dalam cyberbullying (E. Choi & Park, 2. Selain itu, program pencegahan berbasis sekolah dapat meningkatkan self-esteem siswa dan menurunkan kasus cyberbullying (Touloupis & Christina Athanasiades, 2. Pelatihan literasi media juga mampu meningkatkan kesadaran kritis mahasiswa dalam mengevaluasi pesan media (Dolanbay, 2. Kajian tentang kelompok rentan dan kebijakan masih tergolong minim. Padahal, kelompok minoritas seksual, gender, dan anak disabilitas memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban cyberbullying. Pemuda dari kelompok minoritas seksual dan gender mengalami tingkat viktimisasi cyberbullying yang lebih tinggi dibandingkan kelompok mayoritas (Amadori, 2. Sementara itu, anak disabilitas sebenarnya telah memperoleh perlindungan hukum, tetapi penanganan bullying di lapangan masih belum optimal dan sering dianggap sebagai hal biasa (Cahyandari & Wangi, 2. Kajian kebijakan juga menunjukkan bahwa rencana strategis pendidikan penting sebagai panduan dalam menghadapi tantangan pendidikan, terutama di wilayah kurang beruntung, meskipun implementasinya masih menghadapi hambatan struktural dan administratif (MAV et al. , 2. Secara keseluruhan, hasil pemetaan menunjukkan bahwa cyberbullying bukan hanya persoalan penggunaan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan aspek psikologis, sosial, moral, pendidikan, hukum, dan kebijakan. Penelitian yang ada masih banyak didominasi oleh studi eksploratif dan korelasional, sedangkan penelitian tentang intervensi, kelompok rentan, dan kebijakan masih perlu Oleh karena itu, terdapat peluang besar untuk merancang penelitian yang lebih aplikatif, kontekstual, dan berkelanjutan, khususnya dalam upaya pencegahan cyberbullying di lingkungan pendidikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil Systematic Literature Review terhadap 30 artikel ilmiah, dapat disimpulkan bahwa penelitian mengenai cyberbullying masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif, khususnya dengan desain analisis regresi, survei crosectional, dan studi korelasional. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian berfokus pada pengujian hubungan antar variabel serta identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya cyberbullying. Sementara itu, penggunaan metode kualitatif dan pendekatan Research and Development (R&D) masih relatif terbatas, sehingga kajian yang bersifat eksploratif mendalam dan pengembangan solusi praktis belum banyak dilakukan. Dari segi tren penelitian, mayoritas studi berfokus pada dampak psikologis cyberbullying, seperti depresi dan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Prayogo dkk. Systematic Literature Review :Analisis Kepemimpinan Pendidikan. gangguan mental lainnya, serta faktor risiko yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital. Selain itu, penelitian juga menyoroti peran lingkungan sosial, seperti orang tua, teman sebaya, dan iklim sekolah, serta aspek empati, moral, dan dinamika peran individu sebagai pelaku, korban, dan bystander. Namun demikian, penelitian yang berorientasi pada intervensi, program pencegahan, dan kebijakan pendidikan masih tergolong minim. Temuan ini mengindikasikan bahwa arah penelitian cyberbullying saat ini masih didominasi oleh pendekatan eksploratif dan korelasional, sehingga diperlukan pergeseran menuju penelitian yang lebih aplikatif dan solutif. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan R&D, serta mengembangkan model intervensi yang kontekstual, khususnya dalam lingkungan pendidikan. Dengan demikian, diharapkan penelitian di masa mendatang tidak hanya mampu mengidentifikasi permasalahan, tetapi juga memberikan solusi yang efektif dalam upaya pencegahan dan penanganan DAFTAR PUSTAKA