PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di kota Arga Makmur dalam Perspektif Filsafat Islam Senno UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu senno@gmail. Abstract: Javanese Mitoni Tradition In Arga Makmur City (Islamic Philosophy Perspectiv. One of the ritual traditions in Javanese customs that is currently still believed by the Javanese people in Arga Makmur City is the Mitoni ritual. Mitoni is a ceremony performed by mothers who are pregnant with their first child at the age of 7 months. The cycle of life that will be born into the world in Javanese society is used to face the birth stage, where the Mitoni ceremony is considered sacred so that it is still carried out when the baby is still in the womb and at the age of seven months until now. The purpose of this study was to find out about the Javanese Mitoni Tradition in the city of Arga Makmur. The approach used in this research is qualitative research. From the results of research conducted by researchers about the Javanese Mitoni Tradition in Arga Makmur City. North Bengkulu Regency, it can be concluded as follows: Mitoni tradition Mitoni tradition is a tradition that has existed since the ancestors/ancestors first. Mitoni tradition is carried out if someone is pregnant and has reached the age of seven months of Usually this tradition is carried out if the first child enters the age of seven months of pregnancy, the implementation of the mitoni tradition is carried out at the house of someone who has an intention. Islamic Values in the Mitoni Tradition Values of Worship are chanting prayers, namely Tahlil, and reading QS. Yusuf and QS. Maryam with the aim of giving birth to healthy children and becoming pious and pious children. The value of Amaliah is to increase good deeds through charity among The value of Ukhuwah Islamiyah is to create a sense of togetherness and a sense of unity, unity in society so that harmony and close friendship between people arise. The value of trust is to believe wholeheartedly that Allah SWT is the only place to worship and ask for all the requests and pleasures that we have received in life. Keywords: Tradition. Mitoni. Islamic Philosofi Abstrak: Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa Di Kota Arga Makmur (Perspektif Filsafat Isla. Salah satu tradisi ritual dalam adat Jawa yang saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa yang ada di Kota Arga Makmur yaitu ritual Mitoni. Mitoni merupakan upacara yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan yang memasuki 7 bulan. Siklus kehidupan yang akan lahir kedunia dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menghadapi tahap kelahiran, dimana upacara Mitoni dianggap sakral sehingga masih dilakukan saat bayi masih berada dalam kandungan dan pada usia tujuh bulan sampai saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang Tradisi Mitoni MasyarakatJawa di kota Arga Makmur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Tentang Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara dapat disimpulkan sebagai berikut Tradisi mitoni Tradisi mitoni merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang/leluhurter dahulu. Tardisi mitoni dilakukan jika ada seseorang yang sedang mengandung dan sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan. Biasanya tradisi tersebut dilakukan jika anak pertama yang memasuki usia kandungan tujuh bulan, pelaksaan tradisi mitoni dilakukan dirumah seseorang yang mempunyai hajat. Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Mitoni Nilai Ibadah yaitu melantunkan doa-doa yakni Tahlil, dan bacaan QS. Yusuf dan QS. Maryam dengan tujuan anak yang dilahirkan diberi kesehatan dan menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Nilai Amaliah yaitu untuk meningkatkan amal yang baik melalui bersedekah antar sesama. Nilai Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan mewujudkan rasa kebersamaan dan rasa persatuan, kesatuan dalam masyarakat sehingga timbulnya kerukunan dan erat silaturahmi antar sesama. Nilai Kepercayaan yaitu dengan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT merupakan tempat satu-satunya untuk beribadah dan meminta atas segala permintaan dan kenikmatan yang telah kita peroleh dalam Kata kunci: Tradisi. Mitoni. Filsafat Islam PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Di indonesia banyak sekali ragam budaya dan adat istiadat dan tradisi yang Indonesia. Terutama di Bengkulu Utara terdapat banyak keanekaragaman budaya dan tradisi. Keanekaragaman inilah yang membuat suku, adat bahkan sebuah kelompok membangun toleransi antar budaya, berdasarkan Al-qurAoan dalam surat Al-Hujarat ayat 13: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Tradisi dalam kamus antropologi sama dengan adat istiadat, yakni kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan-aturan yang saling berkaitan, dan kemudian menjadi sistem atau peraturan yang sudah mantap serta mencakup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosial. Terutama sekali di Indonesia banyak sekali ragam adat istiadat atau pun budaya yang masih dilestarikan dimasing-masing suku bangsa, oleh karena itu adat istiadat dan budaya ini juga masih terlestarikan di masyarakat kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara. Berkaitan dengan hal tersebut masyarakat kota Arga Makmur Ariyono dan aminuddin sinegar, kamus antropologi, jakarta:akademika pressindo. Hal 4 juga sebagian besar beragama Islam. sebagian mayoritas masyarakat Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara adalah pemeluk agama Islam. Bersadarkan data Globalreligiousfutures, jumlah penduduk muslim sangat mendominan. Masyarakat muslim meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah SWT. Dia yang mengatur segalanya, mendatangkan pahala dan cobaan. Namun demikian, masih banyak diantara mereka perbuatan-perbuatan irasional yaitu perbuatan yang tidak berdasarkan pada akal pikiran yang sehat, misalnya seseorang yang ingin cepat kaya tempat-tempat yang dianggap keramat. AuMasyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agamaAy. 2 Masyarakat Jawa masih sangat kental dalam menjalankan berbagai aturan-aturan dalam tradisi mereka. Tradisi dapat dikatakan sebagai suatu kebiasaan turun-temurun masyarakat dengan sifatnya yang luas. Tradisi bisa meliputi segala kompleks kehidupan, sehingga tidak mudah disisikan diperlakukan serupa atau sama, karena tradisi bukan sesuatu hal yang bisa dibiarkan begitu saja, melainkan sesuatu yang dapat menghidupkan perkembangan atau keterikatan antar sesama. Kepercayaan terhadap hal-hal magis atau mistis masih sangat kental dirasakan oleh masyarakat Jawa dari zaman dahulu hingga sekarang. Kebiasaan inilah yang saat ini masih dilakukan baik yang menyangkut Kepercayaan masyarakat Jawa sudah mentradisi sepenuhnya terutama bagi Darori amin, islam dan kebudayaan jawa,yogyakarta: grama media, 2000. Hal 4 PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 masyarakat Jawa yang muslim. Hal ini dilatarbelakangi oleh keyakinan terhadap ajaran-ajaran terdahulu sebelum adanya pengenalan terhadap hukum dalam Islam. Karena mitoni ini untuk masyarakat Jawa pelaksanaannya bagi ibu hamil untuk anak yang pertama yang bertujuan memohon kepada Allah agar anak yang dilahirkan nantinya menjadi sehat dan normal. Salah satu tradisi ritual dalam adat Jawa yang saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa yang ada di Kota Arga Makmur yaitu ritual Mitoni. Mitoni merupakan upacara yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan yang memasuki 7 bulan. Siklus kehidupan yang akan lahir kedunia dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menghadapi tahap kelahiran, dimana upacara Mitoni dianggap sakral sehingga masih dilakukan saat bayi masih berada dalam kandungan dan pada usia tujuh bulan sampai saat ini. Perilaku memasuki usia tujuh bulan, maka masyarakat muslim Jawa menyebutnya wes mbobot atau sudah berbobot. Karena pada usia ini, bentuk bayi dalam kandungan sudah sempurna, sementara sang ibu yang mengandung sudah mulai merasakan Saat itulah diadakan ritual yang disebut dengan mitoni. Disebut mitoni, kehamilan tujuh bulan. Tujuh bulan dalam adat Jawa adalah pitu, maka jadilah mitoni. yakni selametan kehamilan usia 7 bulan, yang maksudnya adalah sudah genap, dan memasuki waktu wajar jika lahir. Acara selametan 7 bulanan juga diajarkan oleh ulama terdahulu kepada Muhammad sholikhin, ritual dan tradisi islam jawa,jakarta, pt suka buku, 2010 hal. umat Islam tidak secara asal. Acara selametan yang telah membudaya ini diajarkan dengan berdasarkan kepada firman Allah SWT (Qs. Al-AAoraf ayat 189,Dalam pelaksaan ritual mitoni terdapat beberapa rangkaian yang harus dilakukan diantaranya sungkeman, siraman, brojolan benang/janur, membelah kelapa muda, ganti busana 7 kali, jualan rujak dan kenduriAy. Tradisi mitoni di setiap daerah berbeda-beda karena adanya budaya yang menyebar luas, sehingga ritual mitoni ada yang mempunyai banyak rangkaian ataupun sebaliknya. Hal ini sudah dianggap wajar karena itu sudah menjadi suatu keharusan atau kewajiban yang akan dilaksanakan di kemudian hari bagi masyarakat Jawa. Desa Karang Suci merupakan daerah yang ditempati oleh orang-orang Jawa, kebudayaan yang mereka miliki masih sangat kental dan kuat dalam kesehariannya. Selain itu, terdapat suatu solidaritas yang tertuju pada adat turun-temurun dilestarikan oleh masyarakat Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara, tradisi Mitoni mengandung nilai kepercayaan dan simbol serta penghayatan magis terhadap warisan nenek moyang mereka. Masyarakat Jawa yang ada di Arga Makmur ini masih percaya apabila tidak melaksanakan upacara Mitoni akan mengakibatkan adanya gangguan terhadap keselamatan ibu dan bayi yang ada dalam kandungan, dan juga mengakibatkan celaan terhadap nama baik keluarga yang bersangkutan di mata Sedangkan Islam mengajarkan bahwa manusia hanya boleh meminta pertolongan kepada Allah SWT. Meskipun telah menerima ajaran atau kepercayaan dalam Islam, mereka tetap masih melestarikan dan menjujung tinggi PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 budaya warisan nenek moyangnya. Hal ini terlihat pada kehidupan sehari-hari yang masih mereka lakukan, salah satunya yaitu Mitoni. Bagaimana pelaksanaan tradisi Mitoni Masyarakat Jawadi Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara? Bagaimana nilai-nilai Islam dalam Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara? Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Secara sederhana penelitian kualitatif bertujuan menemukan jawaban terhadap suatu fenomena atau pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah secara sistematis Pembahasan Upacara adat tingkepan atau mitoni merupakan tradisi Jawa yang hingga kini masih dilaksanakan secara turun-temurun. Secara sosial dan budaya, mitoni menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk menghilangkan kecemasan seorang ibu pada saat mengandung jabang bayi, karena sudah menjadi kepercayaan orang Jawa sejak jaman nenek moyang atau leluhur yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh kalangan orang jawa yang berada di Kota Arga Makmur. Kabupaten Bengkulu Utara. Tradisi melaksanakan peninggalan leluhur. Sejarah itu terkait dengan agama. Dalam agama sendiri saat mulai hamil terdapat tradisi ngupatan atau disebut dengan empat bulanan yang mana saat itu merupakan momen Allah meniupkan ruh kepada jabang Intinya mitoni sendiri adalah usaha Endang Widi Winarni, menggunakan pendekatan kualitataif. Bumi Aksara, 2018 memohon kepada Allah SWT agar jabang bayi lahirannya nanti diberi keselamatan, kelancaran, kemudahan, dan menjadi anak yang sholeh/sholehah. Jika terkait dengan tradisi tujuh bulanan tersebut, pada masa kandungan itu masa-masa mau melahirkan. Dalam tradisi Jawa itu. Pelaksanaannya ada selametan mengundang jiran tetangga, agar dapat mendoakan jabang bayi yang dilahirkan dengan selamat dan penuh kelancaranAy. Dari pertanyaan di atas dapat merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Tradisi mitoni itu bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar jabang bayi bisa dilahirkan dengan selamat, diberi kelancaran, kemudahan, dan menjadi anak yang sholeh/sholehah. Mitoni dalam Persfektip Islam Di dalam tradisi Mitoni masyarakat jawa yang dilaksanakan di Arga Makmur ada nilai-nilai Islamnya. Adapun nilai-nilai Islam dalam tradisimitoni di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara . Nilai Ibadah Dalam pelaksanaan tradisi mitoni, masyarakat melantunkan doa-doa seperti doa yasin, tahlilan, pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran pilihan yang seperti Q. Yusuf dan Q. Maryam, diyakini sebagai sebuah symbol untuk mendapatkan berkah bagi si jabang bayi apa bila anak yang dilahirkan perempuan, maka berharap anaknya menjadi pribadi yang shalihah seperti Siti Maryam, dan sebaliknya jika anaknya laki-laki berharap menjadi pribadi yang saleh seperti Nabi Yusuf r. dan ada sebuah doa yang yang dianjurkan kepada calon ibu untuk membacanya dalam doa di atas bertujuan untuk permohonan yang diperuntukkan buat si jabang bayi agar PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 mendapat perlindungan dan tidak lupa mendoakan calon ibu bayi agar di beri kesehatan dan diberi kelancaran pada proses kelahiran nanti. Nilai Amaliah Dalam pelaksanaan tradisi mitoni, masyarakat yang mempunyai hajat acara selametan tradisi mitoni senantiasa meningkatkan amal yang baik melalui bersedekah kepada sesama, sanak saudara, dan masyarakat yang ada di . Nilai Ukhuwah Islamiyah Di dalam setiap tradisi atau budaya, termasuk tradisi mitoni tentunya melibatkan banyak orang, banyak interaksi yang terjadi antara individu satu dengan individu lain, sehingga terwujudlah rasa kebersamaan, rasa sehingga kehidupan masyarakat Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara senantiasa rukun dan erat dalam tali silaturahmi. Nilai Kepercayaan Dalam melaksanakan tradisi mitoni. Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara, menyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT adalah tempat satu-satunya untuk beribadah dan meminta. Di sini dengan beribadah kepada Allah SWT menjadi dasar pandangan hidup untuk sesuatu hal yang diinginkan. Di zaman modern ini, pada umumnya tradisi-tradisi yang ada di Kota Arga Makmur merupakan warisan dari leluhur atau generasi sebelumnya. Tradisi tersebut ada yang mengalami perubahan dan kemudian hilang, ada juga yang dipelihara dan dikembangkan sehingga dapat disaksikan oleh generasi selanjutnya. Tradisi yang tetap dilaksanakan tersebut merupakan sebuah simbol masyarakat untuk senantiasa menjaga warisan leluhur atau nenek moyang. Penyelenggaraan dalam sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat, pada umumnya mempunyai tujuan seperti wujud rasa syukur atas nikmat Tuhan. Begitu pun juga dengan tradisi mitoni yang menjadi tradisi kebudayaan masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi penerus masih bisa merasakan tradisi-tradisi Jawa yang beraneka ragam Nilai FilsafatDalam ritual Mitoni di Arga Makmur Tradisi masyarakat Jawa yang ada sejak leluhur atau nenek moyang terdahulu. Tradisi mitoni dilaksanakan setiap ada seseorang sedang hamil anak pertama yang sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan. Tradisi mitoni dilaksanakan juga sebagai tanda rasa syukur atas kehamilan dan semoga diberi keselamatan buat jabang bayi yang di dalam kandungan. Dari hasil wawancara mengenai pemahaman sejarah tradisi mitoni, rata-rata mengemukakan bahwa tradisi mitoni merupakan sebuah ungkapan rasa syukur atas kehamilan dan permohonan agar diberi keselamatan pada saat proses melahirkan. Adapun hasil wawancara dengan beberapa informan yang dilakukan peneliti, salah satunya Ibu siti Khalimah. Ibu siti Khalimah mengatakan sebagai berikut: AuTradisi mitoni itu jika ada orang hamil pertama kalau udah masuk usia tujuh bulan biasanya ada istilah selametan. Selametan itu biar jabang bayi yang di dalam itu agar selamat jika proses melahirkan, nah bila jika menyangkut sejarah di situ kan sudah dilakukan sejak jaman dahulu dan ada doa pas usia kandungan tujuh bulan nah itu tradisi orang PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Jawa waktu selametan biasanya ada nasi gudangan, ada rujak, nah rujaknya biasanya diambil dari tujuh macam buah yang berbeda, tapi di hadits tidak ada perintah diwajibkan untuk membuat rujak tujuh macam. Di hadits cuma dijelaskan untuk selametan agar si jabang bayi yang berada di dalam kandungan agar selamat pada saat dilahirkan. Kemudian di hadits ada juga jika usia kandungan masuk usia 40 hari pertama itu berupa segumpal darah, terus jika sudah masuk usia 100 hari itu AuAllah SWT memerintahkan malaikat supaya mencatat di dalam kan dungan jabang bayi yang Pertama atas rejeki yang akan diberikan selama ada di dunia. Kedua kematian. Ketiga jika sudah didunia itu termasuk orang yang beruntung ataupun tidak, nah itu semua sudah dicatat. Setelah itu terus berjalanlah usia kandungan sampai Sembilan bulan sepuluh hari, itulah baru lahir jabang bayiAy. Dilanjutkan oleh Ibu Jumiyem yang mengatakan sebagai berikut : AuMitoni itu usia kandungan tujuh bulan, misalnya jika mau lahirkan istilahnya kandungannya sudah matang, sudah bisa dilahirkan meskipun beratnya biasanya ada 2 kg yang biasanya prematur. Jika sejarahnya itukan sudah termasuk adat Jawa, nah biasanya itu untuk mendoakan agar si jabang bayi selamat, dan doa itu penting, di samping mendoakan si jabang bayi sekaligus mendoakan ibu jabang bayi agar selamat pada saat proses kelahiran Dilanjutkan juga oleh. Ibu Nur yang mengatakan sebagai berikut: AuMitoni itu kan jika kehamilan anak pertama yang berusia tujuh bulan. Nah dalam masyarakat Jawa, jika kehamilan berusia tujuh bulan itu dinamakan dengan istilah mitoni. Jika menyangkut sejarah dari mitoni sendiri kurang tahu, tetapi sepemahaman Penulis mengikuti adat tradisi yang sudah ada sejak zaman leluhur kita. Mbak. Nah jika usia kehamilan anak pertama sudah masuk tujuh bulan dinamakan dengan mitoni, kemudian jika usia kandungan sudah masuk empat bulan dinamakan dengan ngapatiAy. Dari beberapa pertanyaan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa mitoni itu jika kehamilan anak pertama yang sudah masuk usia tujuh bulan dalam masyarakat Jawa akan dilaksanakan tradisi Tujuan dari tradisi mitoni adalah untuk mengungkapkan rasa syukur dan nikmat yang telah di berikan oleh Allah SWT seorang jabang bayi di dalam kandungannya dan semoga jika proses Selain itu, tradisi mitoni dapat dipahami pengertiannya melalui hasil wawancara oleh peneliti dengan beberapa Di antaranya wawancara dengan Bapak Ngatijan yang mengatakan sebagai AuTradisi mitoni itu kan sudah turun temurun dari leluhur dan intinya itu baik yang di mana pada saat itu memohon doa buat jabang bayi agar diberi keselamatan dan kelancaran jika nanti kelahiran. Nah biasanya itu dilakukan pada kehamilan anak pertama yang berusia tujuh bulan. Jika mengenai tentang sejarah setahu penulis selama ini tradisi mitoni ya seperti itu karena sejak jaman nenek moyang kita juga tidak pernah diceritakan bagaimana aslinya sejarah tentang tradisi mitoni. Nilai-Nilai Islam dalam ritual Mitoni Masyarakat Jawa di Arga Makmur Nilai-nilai Islam dalam pelaksanaan tradisi mitoni adalah bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan suatu kepercayaan untuk menjadi orangtua bagi anaknya,bersedekah terbentuknya kerukunan pada masyarakat, dan mengandung nilai kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksaan tradisi mitoni biasanya dilakukan pada saat kehamilan memasuki usia kandungan tujuh PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Dan biasanya dilakukan di rumah calon orang tua dari jabang bayi. Dalam hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara kepada Ibu Ani yang mengatakan sebagai AuBiasanya rangkaiannya dalam pelaksanaan Mitoni maka pada akhir pelaksanaan diadakan pembacaan ayat-ayat suci Al-QurAoan seperti pembacaan yaasiin, tahlil dan doa selamat untuk Ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan untuk jabang bayi yang dikandungnya. kalau dalam adat kejawen khas Jawa tulen itu ada siraman, selematan, nah selain ada selematan orang muslim kan biasanya bikin rujak, tapi kalau kejawen asli khas Jawa itu ada yang namanya rumit, rumit itu nglitik lah, nglitik itu istilahnya njlemet. Nah nanti ada siraman buat ibu calon bayi dimandikan, nah yang memandikan itu keluarga dari si ibu hamil biasanya, nanti di saksikan sama keluarga-keluarganya, nah nanti ada juga kain jarik, biasanya menggunakan segala macam jarik yang berjumlah tujuh macam, kadang jarikromo, dan jarik yang lainnya, biasanya itu dipakaikan kepada calon ibu jabang bayi sebanyak tujuh kali dengan jarik yang berbeda seseuai dengan usia kandungan tujuh bulan karena adatnya seperti itu, nah nanti biasanya ada percakapan seperti ini AuIni gimana pantes apa enggak?Ay kemudian keluarga menjawab. AuBelum pantesAy nah itu dilakukan sebanyak enam kali, dan yang terakhir tujuh kali keluarga harus menjawab Ausudah pantesAy, kemudian ada jualan cendol, air yang dibuat memandikan ya biasanya menggunakan air biasa, tapi kalau buat siraman orang hamil biasanya dinamakan dengan mandi kembang, dan sudah disiapkan oleh dukun bayinya, nah itu nanti ditaruh di tempat bak besar kemudian mbah dukun yang pertama memandikan itu biasanya menggunakan kembang telon, kembang telon itu biasanya kembang melati, kembang kantil, kembang mawar, kemudian ada pecah telur, biasanya menggunakan telur kampung itu nanti diglundungkan di atas kepala calon ibu biasanya yang mengglundungkan telur mbah perempuan, jika tidak pecah nanti anaknya laki-laki, nah kemudian ada memecahkan kelapa muda biasanya menggunakan kelapa gading, kelapa gading itu kelapa yang pohonnya kecil pendek tidak tinggi seperti kelapa pada umumnya. Misalkan tidak memakai adat seperti itu juga gak papa, di Islam juga yang penting ada selametan minta kepada Allah SWT semoga calon jabang bayi diberikan kesehatan sama calon ibunya agar proses kelahiran agar selamat tidak ada halangan apapun karena itu kan kalau orang hamil itu namanya Autoh nyowoAy. Dilanjutkan oleh Ibu Romanah yang mengatakan sebagai berikut: AuPelaksanaan tradisi mitoni diambil di hari yang baik, biasanya hari Jumat sore kalau enggak Jumat, ya Senin. Biasanya dilakukan di rumah ibu calon bayi. Proses pelaksanaan biasanya ada hajatan ada siraman menggunakan kembang, dan yang boleh memandikan pertama dukun bayinya kemudian sesepuh dan dari keluarga dari ibu si jabang bayi, nah air digunakan menggunakan tujuh sumber mata air, tetapi kalau sekarang menggunakan air biasa juga gak papa, kemudian kembang yang digunakan itu menggunakan kembang telon, kembang telon itu kembang mawar, melati, dan kantil. Nah biasanya dibuat memandikan pada saat acara siraman. Kemudian juga ada jarik yang berjumlah PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 tujuh, biasanya menggunakan motif yang berbeda-beda. Kemudian ada momen memecahkan kelapa. Buah kelapa yang digunakan biasanya menggunakan kelapa gading yang diukir gambar dari tokohtokoh pewayangan biasanya tokoh Arjuna atau Srikandi, tujuannya jika digambar Arjuna jika laki-laki nanti anaknya bisa seperti tokoh dari Arjuna sifatnya, dan jika perempuan sifatnya bisa seperti Srikandi. Nah biasanya malamnya nanti ada selametan untuk mendoakan si jabang bayi agar selamat nanti pada proses kelahiran dan diberi kemudahan dan kelancaran. Ay Dilanjutkan oleh Ibu Nur yang mengatakan sebagai berikut: AuPelaksanaan tradisi mitoni biasanya hari Jumat sore sekitar jam 4, biasanya dilakukan di rumah ibu calon bayi, kemudian proses pelaksanaannya ada siraman, kemudian pada saat siraman yang memandikan biasanya yang pertama dari dukun bayinya, kedua dilanjutkan dari pihak keluarga dari ibu si jabang bayinya, bisa simbahnya, bisa mertua nya, kemudian air yang digunakan kalau jaman dulu menggunakan air dari tujuh sumur tapi kalau sekarang menggunakan air biasa juga gak papa, kemudian pada proses siraman ada kembang yang dinamakan dengan kembang telon biasanya bisa beli di pasar, kemudian ada menggunakan jarik tujuh kali berbeda-beda, kemudian ada proses memecahkan kelapa biasanya menggunakan kelapa gading. Ay Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan tradisi mitoni biasanya diambil hari Jumat sore, dan biasanya pelaksanaan tradisi mitoni dilakukan di rumah calon ibu dari si jabang bayinya. Dan proses pelaksanaan tradisi mitoni yang Pertama adalah siraman yang pada jaman nenek motang/leluhur menggunakan air dari tujuh sumber mata air, namun di jaman modern ini jika menggunakan air biasa juga diperbolehkan, kemudian pada saat proses siraman biasanya airnya dikasih kembang yang dinamakan kembang telon yang ditaburi di air yang dibuat untuk siraman. Kemudian yang memandikan biasanya didahului dukun bayi dan dilanjutkan dari pihak keluarga dari ibu si jabang bayi. Kedua, pecah telur, telur yang digunakan telur Jawa diglundungkan dari atas kepala dan apabila telurnya pecah masyarakat menyakini nantinya anak yang dilahirkan akan sebaliknya jika telurnya tidak pecah akan laki-laki. Ketiga pemecahan kelapa muda, kelapa yang digunakan biasanya kelapa gading yang digambar tokoh pewayangan misalnya seperti Arjuna dan Srikandi. Ketiga, biasanya menggunakan jarik sebanyak tujuh kali dengan motif yang berbeda dan dilanjutkan dengan berjualan cendol. Keempat dilakukan adanya selametan atau hajatan yang biasanya dilakukan pada mendoakan untuk si jabang bayi dan calon ibu agar diberi keselamatan dan diberi kelancaran, kemudahan pada proses Selain itu, pelaksanaan tradisi mitoni dapat dipahami melalui hasil wawancara oleh peneliti dengan beberapa informan. antaranya wawancara dengan Bapak Istirahat yang mengatakan sebagai berikut : AuPelaksanaan tradisi mitoni itu pada saat usia kandungan tujuh bulan, nah kalau tanggalnya biasanya diambil dari tanggal 7 tanggal 17 tanggal 27 ya kenapa diambil dari angka 7, karena tujuh itu artinya biar ada tujuan, agar tujuannya tercapai seperti PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 mendoakan si jabang bayi dan calon ibunya. Jadi, mitoni kalau di Jawa itu bisa diartikan pitu atau pitulungan kalau dalam Bahasa Indonesia itu pertolongan, nah artinya itu meminta pertolongan kepada Allah SWT agar kelak si jabang bayi dan calon ibunya Nah tradisi itu biasanya dilakukan di rumah laki-laki umumnya, tetapi kalau sekarang kan sudah bergeser tidak harus di rumah laki-laki, sekarang pun di rumah yang perempuannya pun apa-apa, diperdebatkan tentang di mana tempatnya. Nah kalau proses pelaksanaan tradisi mitoni biasanya ada siraman, mandi tujuh memandikan itu dukun bayinya, dan air yang digunakan ya air biasa. Mbak. kembang setaman, dinamakan kembang setaman itu karena setaman kan artinya banyak tapi bisa juga diambil kembang tiga macam jadi kalau dulu istilahnya kembang setaman biasanya yang diambil itu ya kembang melati, mawar, dan kantil, dan dilanjutkan ada pecah telur kemudian ada jarik digunakan pada saat pelaksanaannya, biasanya itu menggunakan sebanyak tujuh jarik yang berbeda- beda, nah biasanya menggunakan jarik sidomukti, maksud dari sidomukti itu kan mukti artinya wong bahagia, wongseneng, wongmukti istilahe wongsugih, nah artinya itu, jadi sidomukti ki yen sido sugih dan isinya biasanya menggunakan jarik-jarik dengan motif yang mengandung doa-doa, kemudian itu ada digambar wayang. Biasanya Arjuna dan Srikandi, artinya Arjuna kan itu kesatria, bijaksana, kuat, sakti, makanya itu kan biar anak yang dikandunganya kelak bisa seperti tokoh wayang Arjuna, kemudian terakhir biasanya ada selametan yang dilakukan pada saat malam harinya. Ay Dilanjutkan juga oleh. Ibu Jumiyem yang mengatakan sebagai berikut: AuPelaksaan tradisi mitoni biasanya pas tujuh bulan biasanya harinya diambil hari Sabtu, kemudian biasanya pelaksaan dilakukan di rumah laki-laki boleh di rumah perempuan juga boleh, tetapi kalau hamil anak pertama pelaksaan bisa dilakukan di kedua-duanya juga boleh, kemudian proses pelaksaannya biasanya memberikan doa terus ada siraman, dan yang memandikan biasanya orang tua pihak perempuan, pihak laki-laki, dan sesepuh dari keluarga yang dianggap bisa memberikan doa kepada si jabang bayi dan calon ibunya, kemudian air yang digunakan itu relatif bisa diambil dari tujuh sumber mata air ya boleh malah lebih bagus, menggunakan air biasa juga diperbolehkan, kemudian kan ada kembang yang kembang telon, dan selanjutnya itu ada pecah telur untuk menentukan anaknya laki-laki ataupun perempuan, jika telurnya pecah artinya anaknya perempuan, dan sebaliknya jika telurnya tidak pecah maka anaknya laki- laki dan kemudian ada jarik yang digunakan nah jariknya itu pokoknya berjumlah tujuh dengan motif yang berbeda-beda, kemudian ada kelapa yang dibelah nah biasanya menggunakan kelapa gading yang digambar wayang, kemudian ada hajatan mengundang tetangga kanankiri untuk mengirim doa kepada leluhur, kepada Allah SWT agar kelak si jabang bayi dan calon ibunya diberi kesehatan, dan dipermudahkan diberi kelancaran pada saat proses kelahiran. Dari penyataan di atas PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tradisi mitoni itu dilakukan di hari JumAoat atau hari Sabtu atau juga bisa dihitung dengan angka yang hurufnya ada angka tujuh, karena di masyarakat Jawa menyakini bahwa angka tujuh itu berarti tujuan, dapat diartikan dengan tujuannya agar tercapai untuk mendoakan jabang bayi dan calon ibu di saat proses kelahiran nanti. Kemudian pelaksanaan tradisi mitoni bisa dilakukan di rumah pihak laki-laki ataupun Selanjutnya proses pelaksaan tradisi mitoni ada siraman, di dalam siraman biasanya ada air yang ditaburi kembang telon, yang terdiri dari kembang melati, mawar, kantil, pada proses memandikan biasanya siraman pertama dilakukan oleh dukun bayinya dan siraman selanjutnya bisa dilakukan dari pihak keluarga perempuan ataupun laki-laki, dan sesepuh yang dianggap bisa mendoakan si jabang bayi dan calon ibunya. Kemudian ada pemecahan telur dan pemecahan kelapa muda dan dilanjutkan dengan pergantian menggunakan tujuh jarik dengan motif yang berbeda, dan terakhir adalah selametan bertujuan untuk mendoakan si jabang bayi dan calon ibu agar diberikan kesehatan, keselamatan, dan diberi kemudahan. Ay Dalam pelaksanaan tradisi mitoni yang pasti memiliki sebuah nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang akan dikaji oleh peneliti adalah nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi mitoni Adapun nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi mitoni meliputi: nilai ibadah, nilai kepercayaan, nilai Dalam hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara kepada Ibu Wahyu indrayani yang mengatakan sebagai AuNilainya yaitu kita sebagi orang muslim apalagi ini ada kok udah dewasa sudah bersuami terus ini ada namanya kehamilan, nah inilah namanya nilai-nilai yang perlu kita lestarikan. Kita berdoa agar kita berkeluh kesah dan kita meminta pertolongan kepada Allah SWT. Ay Dari Ibu Wahyu Indrayani diatas tidak menyebutkan unsur nilai-nilai Islam satu per satu. Namun, peneliti menangkap pernyataan dari Ibu Wahyu Indrayani bahwa tradisi mitoni mengandung nilai ibadah, yakni dengan ibadah kita membaca doa, kita meminta pertolongan, kita berserah diri kepada Allah SWT dan juga mengandung nilai moral, yang mana kita mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita atas kehamilan, dan diberikan kesehatan, kemudian juga ada nilai kepercayaan, yang berupa mempercayai bahwa hanya kepada Allah kita meminta pertolongan dan hanya kepada Allah kita berserah diri, dan hanya kepada Allah SWT. kita menyembah karena Allah SWT sang Maha Pemberi Pertolongan kepada seluruh umat Muslim yang ada di Dilanjutkan oleh Ibu Romanah yang menyatakan sebagai berikut: AuNilai pendidikan Islam dalam tradisi mitoni itu yang pasti kan doanya. Mbak. Karena kita mendoakan agar nantinya jabang bayi selamat dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan, kemudian keselamatan untuk jabang bayi dan calon kemudahan saat lahiran. Dari pernyataan Ibu Romanah di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi mitoni itu mengandung nilai ibadah karena dengan beribadah kita berdoa kepada Allah PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 SWT kemudian ada nilai kepercayaan berupa permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan keselamatan bagi calon ibu bayi dan jabang bayi, dengan ini memberikan pemahaman bahwa Allah SWT yang berkuasa atas keselamatan dan kebaikan untuk setiap hambanya. Dilanjutkan oleh Ibu Siti Khaimah yang juga mengungkapkan sebagai berikut AuNilainya itu yang penting kita berdoa untuk mendoakan si jabang bayi dan calon ibu untuk diberikan kesehatan dan kelancaran nanti di saat proses kelahiranAy Dari pernyataan Ibu Siti Khalimah di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi mitoni mengandung nilai ibadah yang intinya sama dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya bahwa dalam nilai ibadah itu mengandung doa yang artinya memohon doa kepada Allah SWT untuk si jabang bayi dan calon ibu agar diberikan keselamatan, dan kemudahan, kelancaran, dan diberikan kesehatan pada saat proses melahirkan. Selanjutnya dilanjutkan dengan pernyataan dari Bapak Sunarmo yang mengungkapkan sebagai berikut: AuNilainya itu ada nilai ibadah membacakan doa, kemudian ada selametan yang mengumpulkan tetangga kanan-kiri dari situ kan ada sodaqoh kita kepada tetangga membagikan rejeki, nah tujuan mengumpulkan tetangga kan kita juga meminta agar didoakan nantinya untuk si jabang bayi dan calon ibu agar diberikan Ay Dari pernyataan Bapak Sunarmo peneliti dapat menyimpulkan bahwa nilainilai Islam yang terkandung dalam tradisi mitoni adalah: Pertama, nilai Ibadah, mengandung unsur doa, memohon kepada Allah kepada Allah untuk keselamatan jabang bayi dan calon ibunya. Kedua, mengandung nilai Ukhuwah Islamiyah kebersamaan antar tetangga, rasa kesatuan senantiasa rukun dan damai. Ketiga, mengandung nilai amaliah yang bermakna senantiasa bersedekah antar sesama dan memberikan sedikit rejeki yang dimiliki. Keempat, nilai ibadah yang di mana kita memohon doa kepada Allah SWT agar si keselamatan, dan diberikan kemudahan, kelancaran saat proses melahirkan. Tradisi mitoni dalam bahasa Jawa berasal dari kata pitu yang berarti tujuh, yang dimaksud dengan tujuh ini ada kaitannya dengan tujuh bulan kehamilan. Dalam sejarah tradisi mitoni sendiri sudah ada sejak nenek moyang/ leluhur Masyarakat sekarang ini merupakan sebagai penerus adanya tradisi Jawa dan dapat melestarikan tradisi tersebut tanpa melebihi kaidah tradisi yang telah ada. Tradisi mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan sudah masuh tujuh bulan, biasanya tradisi ini dilakukan pada saat kehamilan anak pertama yang memasuki usia kandungan tujuh bulan. Tradisi ini bertujuan untuk mendoakan si jabang bayi agar diberi kesehatan, dan diberikan keselamatan agar hal-hal diinginkan, dan saat proses melahirkan agar diberikan kemudahan dan Tradisi mitoni merupakan salah satu bentuk budaya leluhur yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Kota Arga Makmur. Kabupaten Bengkulu Utara, pelaksanaan tradisi mitoni semata-mata bentuk melestarikan budaya leluhur nenek PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 moyang terdahulu karena dalam pelaksaan tradisi ini berdampak positif bagi masyarakat, sehingga masyarakat dari generasi ke generasi masih melaksanakan, dan serta menjaga dan melestarikan tradisi Pelaksanaan tradisi mitoni dilakukan pada hari Jumat sore atau Sabtu, atau bisa juga diambil dengan tanggal ganjil yang terdapat angka tujuh. Pemilihan tanggal tujuh ini melambangkan umur kehamilan. Pelaksanaan tradisi mitoni pada zaman dahulu dilakukan di rumah pihak laki-laki, tetapi di era modern ini biasanya dilakukan dirumah pihak perempuan. Namun, itu semua sudah tidak dipermasalahkan, ada pun pelaksanaan dilakukan di rumah pihak laki-laki atau perempuan itu sama saja yang terpenting adalah pelaksanaan tradisi mitoni bisa berjalan dengan lancar dan mendoakan jabang bayi dan calon ibu agar diberi Proses pelaksanaan tradisi mitoni biasanya yang pertama Siraman yang dilakukan dengan cara memandikan calon ibu yang berpakaian dengan menggunakan lilitan jarik, pada jaman dahulu air yang digunakan menggunakan tujuh sumber mata air, namun di era modern ini jika menggunakan air biasa juga tidak dipermasalahkan, kemudian air yang dipergunakan untuk siraman biasanya ditaburi kembang telon yaitu kembang melati, mawar, dan kantil. Siraman dilakukan dengan menuangkan air yang telah ditaburi bunga kepada calon ibu bayi, biasanya sebelum menuangkan siraman pertama ke tubuh calon ibu bayi, dukun bayi membaca doa terlebih dahulu agar kelak bayi dapat dilahirkan dengan mendapat pertolongan dan diberi kemudahan oleh Allah SWT saat kelahiran nanti, kemudian dilanjutkan dengan siraman, biasanya siraman pertama diawali oleh dukun bayi kemudian siraman kedua sampai ketujuh dari pihak keluarga perempuan atau pihak keluarga laki-laki, dan sesepuh yang dipercayai mampu memberikan doa. Kedua, pecah telur. Telur yang digunakan telur ayam kampong. Pecah telur ini dilakukan dengan cara memasukkan telur ke dalam kain jarit yang digunakan calon ibu bayi sampai menggelinding ke bawah. Dan apabila telur yang digelindingkan pecah biasanya masyarakat mempercayai bahwa anak yang akan dilahirkan nanti akan berjenis kelamin perempuan, dan sebaliknya jika telur yang digelindingkan tidak pecah, maka anak yang akan dilahirkan akan berjenis kelamin laki-laki. Ketiga pergantian busana dan jarit sebanya ketujuh kali dengan motif yang berbeda, biasanya jarit yang digunakan salah satunya jarit sidomukti, yang artinya mukti iku wongsugih, wongseneng, dapat dipercayai nantinya anak yang akan dilahirkan menjadi seseorang yang selalu bahagia dan Keempat, memecahkan kelapa gading, kelapa gading yang digunakan biasanya diberi gambar tokoh pewayangan misalnya tokoh pewayangan Arjuna, dan Srikandi. Jawa menyakini jika jaban bayi dilahirkan nanti agar memiliki sifat seperti tokoh Arjuna Srikandi. Kelima selametan biasanya dilakukan di malam harinya dengan mengundang tentangga kanan-kiri, dan sanak saudara agar dapat mendoakan jabang bayi dan calon bayi diberikan kemudahan, kelancaran saat proses kelahiran nanti. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tentang tradisi PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara dapat disimpulkan sebagai berikut Tradisi mitoni merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang/leluhur terdahulu. Tradisi mitoni dilakukan jika ada seseorang yang sedang mengandung dan sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan. Biasanya tradisi tersebut dilakukan jika anak pertama yang memasuki usia kandungan tujuh bulan, pelaksanaan tradisi mitoni dilakukan di rumah seseorang yang mempunyai hajat. Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Mitoni . Nilai Ibadah yaitu melantunkan doa-doa yakni tahlil, dan bacaan QS. Yusuf dan QS. Maryam dengan tujuan anak yang dilahirkan diberi kesehatan dan menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Nilai Amaliah yaitu untuk meningkatkan amal yang baik melalui bersedekah antar sesama. Nilai Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan mewujudkan rasa kebersamaan dan rasa persatuan, kesatuan dalam masyarakat sehingga timbulnya kerukunan dan erat silaturahmi antar . Nilai Kepercayaan yaitu dengan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT merupakan tempat satu-satunya untuk beribadah dan meminta atas segala permintaan dan kenikmatan yang telah kita peroleh dalam kehidupan. Daftar Pustaka