P- ISSN 1412-0380. E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 22 Nomor 1. Juni 2018 p 55 - 62 Gerak Fire Dance Dalam Karya Fotografi Ekspresi I Kadek Angga Aditya. Anis Raharjo. Ida Bagus Candra Yana Institut Seni Indonesia Denpasar Gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi, gerak yang dimaksud dalam judul karya ini merupakan salah satu alasan utama penciptaan karya fotografi ini, gerak api yang fleksibel bisa dikreasikan menjadi sebuah pola-pola cahaya berupa garis ataupun membentuk dimensi berbeda pada objek penari api . ire dance. Pemilihan komponen api juga didasari karena api bersifat alami yang akan memberikan pencahayaan pada gestur penari api. Penari api memiliki gerakan dinamis yang menyimbolkan sebuah keindahan, sedangkan api disimbolkan sebagai hal yang berbahaya dan bersifat panas, maka diciptakan karya fotografi ekspresi ini sebagai suatu hal yang indah tetapi terdapat unsur yang berbahaya dan juga memiliki kerumitan didalamnya. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya fotografi ekspresi ini adalah metode ekplorasi, eksperimen dan visualisasi. Eksplorasi yaitu metode untuk menemukan ide dalam menciptakan pola-pola unik gerak fire dance dengan memperkaya referensi dari berbagai sumber seperti majalah, media elektronik seperti televisi dan internet. Tahap selanjutnya menggunakan metode eksperimen yaitu eksperimen dalam penggunaan alatalat penunjang dalam penciptaan karya foto ini, menggunakan triger secara manual atau tidak dipasang pada kamera, hal ini bertujuan untuk dapat memicu nyala flash sesuai dengan kehendak pencipta, baik nyalanya diawal, ditengah, maupun diakhir pengambilan gambar. Metode yang selanjutnya yaitu visualisasi, metode visualisasi merupakan proses pengubahan dari konsep menjadi gambaran dalam bentuk nyata disajikan dalam bentuk karya seni. Teknik-teknik fotografi ekspresi yang lebih banyak gunakan yaitu teknik slow speed seperti bulb, strobo, dan multiple eksposure. Sebelum menerapkan teknik tersebut pencipta harus memahami dan mempelajari lebih dalam tentang teknik tersebut. penerapan teknik yang tepat tentu akan menghasilkan sebuah karya fotografi yang menarik. Teknik komposisi seperti rule of third, sudut pengambilan atau angle, warna, garis, bentuk, dan juga foto editing adalah unsur-unsur yang penting dalam penciptan karya gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi. Kata Kunci: Fire Dance. Fotografi Ekspresi. Gerak. Pola-Pola Cahaya. Keindahan. Berbahaya. Teknik. The motion of fire dance in the expression photography work, the motion referred to in the title of this work is one of the main reasons for the creation of this photography work, flexible motion can be created into a pattern of light in the form of lines or forming different dimensions on the object of fire dancer. The selection of fire components is also based on fire because it is natural that will provide lighting on the gestures of fire dancers. Fire dancers have a dynamic movement that symbolizes a beauty, while fire is symbolized as a dangerous thing and hot, then created this photographic expression as a beautiful thing but there are elements that are dangerous and has a complexity in it. The method used in the creation of this expression photographic work is the exploration method, experimentation and visualization. Exploration is a method for finding ideas in creating unique patterns of fire dance motion by enriching references from various sources such as magazines, electronic media such as television and internet. The next stage is using the experimental method of experimenting in the use of supporting tools in the creation of this photo work, using the trigger manually or not installed on the camera, it aims to be able to trigger flash flashing in accordance with the will of the creator, either at the beginning, shooting. The next method is visualization, visualization method is a process of converting from concept to picture in real form presented in the form of artwork. The techniques of expression photography that mostly used are slow speed techniques such as bulb, strobe, and multiple exposure. Before applying the techniques, the creator should understand and learn more about the technique. The application of appropriate techniques will certainly produce an interesting photography work. Compositional techniques such as rule of third, angle of taking or angle, color, line, shape, and also photo editing are important elements in the creation of fire dance motion in expression photography works. Keywords: Fire Dance. Expression Photography. Motion. Light Patterns. Beauty. Dangerous. Technique. Proses review: 15 - 29 mei 2018, dinyatakan lolos 7 juni 2018 I Kadek Angga Aditya. Anis Raharjo. Ida Bagus Candra Yana (Gerak Fire Dance. PENDAHULUAN Perkembangan fotografi sejak dulu sampai sekarang mengalami banyak perubahan yang signifikan, dahulu kamera hanya difungsikan untuk menangkap gambar guna mengabadikan momen-momen tertentu, berbeda halnya dengan sekarang, kamera mampu menjadi alat untuk menuangkan seni guna memuaskan ekspresi batin dari para fotografer. Fotografi pada era sekarang ini merupakan sebuah pengimplementasian dari sebuah seni yang biasa disebut dengan seni fotografi, seni fotografi mulai diketahui banyak orang seiring dengan kemajuan teknologi yang menjadi alasan berkembangnya seni fotografi. Fotografi memiliki beberapa genre didalamnya salah satunya yaitu fotografi ekspresi. Fotografi ekspresi merupakan fotografi yang penciptaan karyanya bisa didasarkan untuk berbagai kepentingan dengan menyebutnya sebagai suatu medium penyampai pesan bagi tujuan tertentu. Dalam fotografi ekspresi berbagai macam teknik dapat digunakan agar penyampaian makna dari sebuah karya fotografi dapat tersampaikan dengan baik kepada penikmat Dalam judul tugas akhir ini selain seni fotografi, seni tari juga dilibatkan dalam penciptaan karya ini. Seni tari merupakan sebuah pengekspresian diri dari seorang penari. Seni tari memiliki beberapa genre atau aliran, salah satu alirannya yaitu jenis tari kontemporer. Tari kontemporer merupakan inovasi dari berbagai macam tarian yang mendapatkan sentuhan modernisasi. Inovasi yang lazim dilakukan pada jenis tari ini terdapat pada musik pengiring, gerakan, dan properti yang digunakan oleh para penari. Salah satu contoh dari tari kontemporer yaitu tari fire Fire dance sendiri diketahui memiliki gerakan yang bebas dan juga dinamis, hal ini dikarenakan dalam tarian ini memadukan gerakan penari dan item terbakar sebagai suatu pertunjukan yang ditampilkan. Atas dasar hal tersebutlah pencipta tertarik membuat karya fotografi yang berjudul AuGerak Fire Dance dalam Karya Fotografi EkspresiAy. Gerak yang dimaksud dalam judul karya ini merupakan salah satu alasan utama penciptaan karya fotografi ini. Gerak fire dance yang fleksibel bisa dikreasikan menjadi sebuah pola-pola cahaya berupa garis ataupun membentuk dimensi berbeda pada objek penari api . ire dance. Pemilihan komponen api juga didasari karena api bersifat alami yang akan memberikan pencahayaan pada gestur penari api. Penari api memiliki gerakan dinamis yang menyimbolkan sebuah keindahan, sedangkan api disimbolkan sebagai hal yang berbahaya dan bersifat panas, maka didapat sebuah kesimpulan untuk menciptakan karya fotografi ekspresi ini sebagai suatu hal yang indah tetapi terdapat unsur yang berbahaya dan juga memiliki kerumitan didalamnya. Gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi dilakukan pada tempat yang minim cahaya, maka waktu yang dipilih oleh pencipta yaitu Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 malam hari sehingga cahaya dari item yang terbakar akan lebih terlihat jelas dan lebih memaksimalkan karakter dari api tersebut. METODE PENELITIAN Fire Dance Seperti jenis kesenian lainnya, seni tari juga terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan selera pasar. Salah satu jenis tari yang sedang naik daun adalah tarian dengan api atau fire dance. Tak jarang atraksi fire dance terlihat pada acara pertunjukan musik atau pertunjukan lainnya . ttp://news. com/). Fire dance di Bali pertama kali dikreasikan oleh koreografer Italia dan Bali, berangkat dari tarian awal yang diciptakan bernama tarian finger dance pada tahun 2002, makin lama tarian ini makin dikreasikan dan berubah nama menjadi fire dance dan karna ini tarian kreasi maka makin banyak kombinasi dan jenis gerakan maupun variasinya berbeda-beda diciptakan . Fire dance adalah sebuah bentuk seni yang mengintegrasikan item terbakar menjadi tarian atau kinerja. Banyak kebudayaan telah berlatih tarian api dalam berbagai bentuk, dimana banyak orang tertarik dengan kombinasi keindahan dan bahaya. Ketika dilakukan dengan benar, tarian api adalah hal yang spektakuler untuk ditonton, dan biasanya dilakukan pada malam hari sehingga penonton dapat melihat nuansa kinerja. Penari api bertanggung jawab mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan keselamatan mereka, bersama dengan keamanan orangorang disekitarnya. Daya tarik manusia dengan api telah berlangsung selama ribuan tahun, bisa untuk memasak, menghangatkan, penerangan, dan lain-lain, tergantung pada keadaan dan tingkat kontrol. Tarian api sering dibandingkan dengan juggling, memutar-mutar tongkat, dan acrobatic, dan itu menggabungkan gerakan dari semua pelatihan yang disiplin. Dalam budaya asli banyak penari akan melakukan dengan barang-barang mudah terbakar pada upacara-upacara besar dan festival, dan tarian api menjadi bagian penting dari merayakan peristiwa besar. Namun, taruhannya dengan menari api, jika seorang pemain menjatuhkan tongkat atau kurang teliti dalam melakukannya, akan ada risiko cedera serius. Ada banyak seni tarian api, meskipun empat kategori umum diakui yaitu: Fire eating adalah seni tarian api dimana penari mematikan api didalam mulut, dan dapat dilakukan dipuncak dari pertunjukan tari. Fire breathing melibatkan bahan bakar mudah terbakar dimulut dan memicu untuk menciptakan semburan api, yang bisa sangat menakjubkan, tetapi juga agak berbahaya. Fire POI adalah seni tarian api dimana penari menggunakan rantai dengan bola dari bahan mudah terbakar diujung untuk menciptakan gerakan menukik dan berputar-putar. Fire stick yang agak lebih aman daripada Fire POI, karena Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 benda ini dapat dimanipulasi lebih lambat, dan merupakan pilihan yang baik untuk pemula. Sambil melakukan itu, sejumlah langkah yang harus diambil untuk keselamatan. Fire dancer selalu memakai perlengkapan yang nyaman, pakaian bentuk pas terbuat dari serat alami, seperti bahan seperti katun tidak mudah terbakar seperti bahan sintetis. Pelindung tangan berupa sarung tangan Kevlar sering digunakan, dan peralatan tarian api biasanya diperoleh dari sumber yang profesional dan disimpan dalam kondisi sangat baik . ttps://evolutionfireart. com/). Kajian Fotografi Pada dasarnya, fotografi merupakan kaya seni. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, fotografi merupakan seni dan proses penghasilan gambar melalui cahaya pada permukaan yang dipekakan. Artinya fotografi adalah teknik melukis menggunakan cahaya. Dalam hal ini, tampak adanya persamaan antara fotografi dan seni lukis. Perbedaannya terletak pada media yang digunakan oleh kedua teknik tersebut. Seni lukis menggunakan cat, kuas, dan kanvas, sedangkan fotografi menggunakan cahaya . elalui kamer. untuk menghasilkan suatu karya. Tanpa adanya cahaya, karya seni fotografi tidak akan tercipta (Giwanda, 2001:. Menurut Andreas Feiniger . kamera hanyalah alat untuk menghasilkan sebuah karya seni. Nilai lebihnya tergantung pada AutanganAy yang mengoperasikan alat tersebut. Jika kamera dianalogikan sebagai piano, setiap anak pasti mampu membunyikan piano, tetapi bukan memainkan sebuah lagu. Begitu pula dengan kamera, setiap orang pasti mampu menjepretkan kamera dan merekam objek untuk Tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan karya seni fotografi yang mengesankan. Fotografi adalah seni atau proses untuk menghasilkan gambar/foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya melalui sebuah alat yang bisa disebut kamera. Secara umum fotografi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: Fotografi Seni Foto seni adalah suatu karya foto yang memiliki nilai seni, nilai estetik, baik yang bersifat universal maupun lokal atau terbatas. Karya-karya foto dalam kategori ini mempunyai suatu sifat yang secara minimal memiliki daya simpan dalam waktu yang relatif lama dan tetap dihargai nilai Fotografi ini tumbuh dari dorongan ekspresi pribadi sebagai bagian dari seni rupa yang dituangkan kedalam medium dua dimensi. Fotografi jenis ini terkadang sulit dimengerti orang awam karena membutuhkan daya imajinasi dalam memahami konsepnya seperti layaknya seni lukis. Namun, karya fotografi seni juga memiliki nilai tinggi walaupun tak setinggi seni lukis (Rencana Pengembangan PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Fotografi Nasional, 2014:. Foto Komersil Fotografi komersial memotret untuk keperluan iklan atau yang biasa disebut advertising. Menurut Amien Nugroho . cabang dari fotografi yang lebih banyak bekerja untuk memenuhi kebutuhan industri dalam periklanan, penjualan, peragaan, untuk kebutuhan media massa ataupun publikasi khusus. Didalam foto komersial terdapat beberapa bagian lagi seperti food photography, product still life photography, dan fashion photography atau fotografi Foto Jurnalistik Foto jurnalistik adalah cabang fotografi dimana seseorang yang memotret . urnalis fot. menyampaikan sebuah berita lewat kameranya kepada pembaca sebuah media cetak. Fotografi jurnalistik yang baik dan benar adalah sebuah foto yang dapat merekam realita dengan tepat. Foto jurnalistik menampilkan fakta dan realita dalam bentuk visual yang terdokumentasi dengan baik bila diurut secara kronologis, melalui alur waktu yang benar dapat dikatakan sebagai suatu fakta bergambar (Soedjono, 2007:. Kajian Fotografi Ekspresi Fotografi ekspresi merupakan fotografi yang penciptaan karyanya bisa didasarkan untuk berbagai kepentingan dengan menyebutnya sebagai suatu medium penyampai pesan . essage carrie. bagi tujuan tertentu. Karya fotografi ekspresi disamping kediriannya yang mandiri juga dimanfaatkan bagi memenuhi suatu fungsi tertentu. Sebuah karya fotografi yang dirancang dengan konsep tertentu dengan memilih objek foto yang terpilih dan yang diproses dan dihadirkan bagi kepentingan si pemotretnya sebagai luahan ekspresi artistik dirinya. Dalam hal ini karya foto tersebut dimaknai sebagai medium ekspresi yang menampilkan jati diri si pemotretnya dalam proses berkesenian penciptaan karya fotografi seni. Karya fotografi yang diciptakannya lebih merupakan karya seni murni fotografi . ine art photograph. karena bentuk penampilannya yang menitikberatkan pada nilai ekspresif-estetis seni itu sendiri (Soedjono, 2007:. Fotografi ekspresi telah menjadi wahana untuk berkreasi bagi para fotografer. Ekspresi diri dalam sebuah karya foto menjadi tujuan pencarian identitas pribadi seorang fotografer masa kini. Disamping itu, penciptaan karya fotografi ekspresi memiliki subject matter dengan nilai intensitas tinggi, disamping keindahan yang dikandungnya merupakan tujuan bagi para setiap seniman Ekspresi diri melalui medium fotografi ekspresi bisa dicapai dengan berbagai cara, diantaranya dengan memilih objek-objek foto yang unik, penggunaan teknik khusus baik dalam proses pemotretan (Soedjono, 2007:5. Landasan Teori Landasan Teori yang digunakan dalam proses penciptaan karya fotografi seni ini yaitu : I Kadek Angga Aditya. Anis Raharjo. Ida Bagus Candra Yana (Gerak Fire Dance. Teori Estetika Fotografi Estetika adalah ilmu yang membahas tentang keindahan, bagaimana bisa terbentuk dan bagaimana seseorang bisa Kamera merupakan suatu bagian seni yaitu seni fotografi. Foto memang merupakan usaha untuk meyakinkan bahwa apa yang dipotret dapat hadir kembali dalam hasil karya berupa foto, persis seperti mata manusia melihatnya (Ajidarma, 2003:. Menurut Soeprapto Soedjono . fotografi memiliki bermacam-macam manfaat dengan tujuan baik untuk dokumentasi penelitian, maupun sebagai media dalam ranah estetika. Dalam bukunya yang berjudul pot-pourri fotografi, menyebutkan bahwa ada dua aspek tataran estetika dalam fotografi. Estetika pada tataran ideational Secara ideational, wawancara fotografi berkembang dari kesadaran manusia sebagai makhluk yang berbudi/berakal yang memiliki kemampuan lebih atau dapat merekayasa alam lingkungan kehidupannya. Dalam konteks fotografi hal ini terlihat bagaimana manusia menyikapi setiap fenomena alam dengan menentukan AosesuatuAo dan mengungkapkannya dalam berbagai bentuk konsep, teori dan wacana (Soedjono, 2007:. Dalam tataran ideational karya ini lebih menonjolkan nilai estetika pada fisik yaitu menyimak sebuah karya secara keseluruhan, dimana ideide yang dapat dituangkan disini berupa kreatifitas dalam menciptakan pola-pola melalui sebuah gerak fire dance, hal tersebut tentunya mengandung sebuah nilai estetika Estetika pada tataran technical Wacana estetika fotografi juga meliputi hal-hal yang berkaitan dengan berbagai macam teknik baik itu yang bersifat teknikal peralatan maupun yang bersifat teknik praxis-implementatif dalam menggunakan peralatan yang ada guna mendapatkan hasil yang diharapkan (Soedjono, 2007:. Dalam tataran technical penciptaan karya ini pencipta sangat memperhatikan teknik dalam pemotretannya. Eksposure yang tepat tentu akan memberikan nilai estetika lebih dalam karya ini. Menentukan eksposure dalam teknik slow speed seperti bulb tentunya memiliki kerumitan tersendiri dengan mengkombinasikan kecepatan rana yang lambat dan juga penggunaan bantuan flash guna membekukan gerak fire dancer sebagai objek utama dalam karya ini. Teori Pencahayaan Agar sebuah foto dapat tercipta, sensor kamera yang ada didalam kamera yang kedap cahaya harus disinari. Untuk memperoleh pencahayaan yang tepat pada saat memotret, proses masuknya cahaya kedalam sensor kamera harus Pengaturan cahaya yang masuk kedalam sensor dapat diibaratkan dengan mengisi air kedalam ember dari Jika keran dibuka sebesar-besarnya, ember akan Sebaliknya, jika keran dibuka sedikit, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember pasti lama. Demikian pula pada proses pemotretan. Keran diibaratkan Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 sebagai bukaan diafragma, sedangkan rana diibaratkan lamanya waktu mengisi ember. Makin besar bukaan diafragma, makin sedikit waktu yang diperlukan rana untuk Sebaliknya, semakin kecil bukaan diafragma, makin lama waktu yang dibutuhkan rana untuk membuka (Giwanda, 2002:. Diafragma dan rana Istilah pencahayaan atau eksposur digunakan untuk menentukan kuantitas cahaya yang direkam sensor kamera. Pengaturan cahaya dapat dilakukan dengan mengontrol bukaan diafragma dan kecepatan rana. Besarnya bukaan diafragma menentukan jumlah cahaya yang diteruskan ke sensor, sedangkan kecepatan rana menentukan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencahayai sensor. Kombinasi dari besarnya bukaan diafragma dan kecepatan rana merupakan jumlah cahaya yang dipantulkan dari objek dan kecepatan sensor kamera yang digunakan. Berbagai kombinasi dari bukaan dan kecepatan rana memberikan pencahayaan yang sama, misalnya pengukur cahaya kamera menunjukkan kombinasi 1/125 detik, f/8. Jika mengubah bukaan diafragma satu stop lebih kecil menjadi f/11 maka kuantitas cahaya yang masuk ke kamera akan berkurang setengah kali. Agar diperoleh nilai pencahayaan yang sama harus diimbangi dengan kecepatan rana lebih lambat satu stop, yaitu 1/60 detik. Sebaliknya, jika bukaan diafragma diperbesar satu stop f/5. 6 maka kecepatan rana harus dipercepat menjadi 1/250 detik (Giwanda, 2002:1. Kecepatan sensor kamera Selain diafragma dan rana, kecepatan sensor juga berpengaruh dalam proses pencahayaan. Kecepatan sensor berarti kepekaan sensor terhadap cahaya. Kecepatan sensor dinyatakan dengan ISO (International Standard Organizatio. atau ASA (American Standard Associatio. Bilangan ISO mengindikasikan seberapa besar kepekaan sensor terhadap Makin kecil angka ISO, makin rendah kepekaannya terhadap cahaya. Sebaliknya, makin tinggi angka ISO, makin peka sensor tersebut terhadap cahaya (Giwanda, 2002:. Teori Semiotika Secara umum, istilah semiotika atau semiotics merupakan suatu kajian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tanda-tanda. Dalam hal ini tanda-tanda yang dimaksud adalah semua hal yang diciptakan dan direka sebagai penyampaian informasi yang memiliki makna tertentu. Ausemiotics can be described as the study and application of signs being anything and everything that conveys meaningAy (Zakia, 1997:. Simbol pribadi yang diketemukan dalam kesenian merupakan suatu ciptaan yang menunjukkan nilai kreatif dan makin menonjolkan pribadi senimannya. Kreasi adalah kemampuan individu, orang kreatif adalah orang yang berpikiran original, luwes. Ia suka berekspresi dengan ide-ide dan materi lama untuk memunculkan ide baru dan barang baru (Bastomi,1992:. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Secara keseluruhan pemahaman terhadap semiotika menitikberatkan pada pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui sebuah simbol-simbol khusus dalam sebuah ciptaan karya seni. Dalam karya ini pencipta menggunakan teori semiotika agar makna dalam karya ini mampu tersampaikan dengan baik melalui kreatifitas dalam menciptakan karya foto AuGerak Fire Dance dalam Karya Fotografi EkspresiAy. Simbol dalam penciptaan karya ini merupakan sebuah pola-pola dari gerak api yang ditangkap dengan teknik slow speed, secara keseluruhan hal tersebut yang ingin disampaikan oleh pencipta karena dalam situasi yang berbahaya dimana penciptaan karyanya menggunakan item api tetapi mampu tercipta karya yang indah. Unsur-unsur Visual dalam Karya Fotografi Fotografi terdapat unsur-unsur visual yang digunakan dalam berkarya, yang merupakan bahasa ungkapan dalam merealisasikan ide-ide yang ada. Berikut adalah unsur-unsur visual dalam karya fotografi: Cahaya (Ligh. Cahaya merupakan hal paling mutlak dalam seni, khususnya dalam bidang fotografi. Karena tanpa adanya cahaya tidak akan mungkin terjadi proses penampakan gambar, yang mendasari istilah fotografi itu sendiri. Cahaya memberikan intensitas, ritme dan dimensi pada objek (Djelantik, 2004:. Maka akan muncul kesan yang nyata pada penampakan gambar, sesuai dengan arah dan intensitas Bentuk (For. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer dijelaskan pengertian bentuk sebagai kata benda meliputi bangun, gambaran, rupa, susunan, sistem, wujud yang tampak (Salim, 1991:. Sedangkan dalam buku Auhimpunan menteri pendidikan seni, seni rupaAy, diuraikan bahwa bentuk memiliki pengertian tentang segala sesuatu yang dapat kita lihat, baik benda, titik garis maupun bidang yang tekstur besarnya, dapat dilihat dari warnanya dan dapat dirasakan teksturnya (Raharjo, 1986:. Jadi secara singkat bentuk dapat diartikan sebagai wujud fisik yang dapat dilihat dan digambarkan. Berdasarkan atas sifatnya, bentuk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk organis, bentuk yang bersifat tidak teratur atau lebih varatif/bentuk dengan struktur/susunan alamiah, dan bentuk geometris bentuk dengan sifat susunan/stuktur yang teratur, seperti segitiga, segi empat dan lain-lain (Suryahadi,1994:. Didasarkan atas pengertiannya sebagai penggambaran atas suatu objek yang dapat terlihat oleh mata, yang kesannya kemudian dipindahkan pada bidang gambar melalui torehan, garisgaris, warna dan lain-lain, maka bentuk dapat dibedakan atas bentuk naturalis, intuitif, arsitektonis, abstrak, abstraktif, simbolis, filosofis dan figurative (Raharjo, 1986:. Warna (Colo. Dikatakan bahwa warna adalah salah satu bagian atau elemen yang sangat penting, karena warna dapat membangkitkan kesegaran, aroma dan kesan akan suasana kenyataan yang mengerikan, menggetarkan, mempesona. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain misteri, kedalaman, keagungan, suci dan lain-lain. Dapat dihayati baik secara emosional . maupun intelektual . , jadi dalam hal ini dapat pula dikatakan bahwa sebagai usaha untuk memberikan penekanan maupun penonjolan pada karya. Seperti adanya kesan atas sifat warna panas, warna dingin, warna warna sejuk, warna hangat, warna gelap, warna terang dan sebagainya (Raharjo,1986:. Garis (Lin. Garis adalah susunan dari titik-titik yang berhubungan. Pada alam dapat kita lihat garis-garis yang membentuk dari persinggungan sebuah bentuk atau daerah, (Mofit, 2003:. Sebagai bentuk mengandung arti lebih dari hanya kumpulan titik-titik, karena dengan bentuknya sendiri garis dapat menimbulkan kesan tertentu pada pengamat atau pemikat. Garis yang kencang memeberikan kesan berbeda dengan garis membelok atau melengkung. Garis bisa disusun sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan ilusi pada pengamat (Djelantik, 2004:. Tekstur (Textur. Tekstur adalah nilai raba pada permukaan baik yang nyata maupun semu. Suatu permukaan mungkin kasar, mungkin halus, keras atau buruk, bisa juga kasar atau licin (Sidik, 1979:. Ruang . Terbaginya sebuah bingkai atau frame menjadi beberapa bidang yang pembagiannya yang dilakukan secara harmonis. Salah satunya adalah komposisi simetris, dimana objek utama ditempatkan pada bidang tengah. Bentuk komposisi simetris tersebut punya sifat AumenyeretAy pandangan pemirsa langsung ke objek utama. Namun, pada satu sisi, bentuk komposisi yang simetris ini punya kesan yang tidak kaku atau tidak dramatis. Selain itu ruang terwujud sebagai bayangan berkat perspektif atau dengan menggunakan kontras antara gelap dan terang yang biasa disebut ruang ilusioner (Djelantik, 1990:. Teknik Observasi Observasi disini meliputi pengumpulan data mengenai alat yang digunakan dalam menciptakan api, kemudian karakter api yang akan digunakan dapat bertahan dalam waktu berapa lama, serta penari api yang akan dipakai dalam penciptaan karya ini. Objek tubuh manusia dalam judul karya ini digunakan model yang ahli dibidang tarian api . ire dance. Pencarian penari api yang tepat sangat menentukan penciptaan karya ini, observasi perlu dilakukan agar pencipta mengetahui berapa anggaran yang diperlukan, pencipta menggunakan 2 model yaitu satu wanita dan juga satu laki-laki guna menciptakan variasi dalam kreatifitas penciptaan karya ini. Adapun data yang dikumpulkan dibagi menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder, data primer didapat dari hasil wawancara langsung di lapangan. Dan data sekunder dari beberapa Serta mendapatkan informasi dari situs-situs internet. Metodelogi I Kadek Angga Aditya. Anis Raharjo. Ida Bagus Candra Yana (Gerak Fire Dance. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya fotografi ekspresi ini adalah metode ekplorasi, eksperimen dan visualisasi. Eksplorasi yaitu metode untuk menemukan ide dalam menciptakan pola-pola unik gerak fire dance dengan memperkaya referensi dari berbagai sumber seperti majalah, media elektronik seperti televisi dan internet. Tahap selanjutnya menggunakan metode eksperimen yaitu eksperimen dalam penggunaan alat-alat penunjang dalam penciptaan karya foto ini, menggunakan triger secara manual atau tidak dipasang pada kamera, hal ini bertujuan untuk dapat memicu nyala flash sesuai dengan kehendak pencipta, baik nyalanya diawal, ditengah, maupun diakhir pengambilan gambar. Metode yang selanjutnya yaitu visualisasi, metode visualisasi merupakan proses pengubahan dari konsep menjadi gambaran dalam bentuk nyata disajikan dalam bentuk karya seni. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 panas api ketika melakukan pengambilan gambar berdekatan dengan api yang diayunkan, karena pengambilan gambar dengan jarak dekat akan memunculkan variasi angle dan juga foto akan menjadi lebih menarik. Selain itu kendala yang dihadapi pencipta yaitu harus berpacu dengan waktu karena api yang digunakan tidak selamanya dapat Dalam sekali penyalaan apinya, pencipta hanya memiliki waktu selama 4 sampai 6 menit sebelum api benar-benar padam. disamping itu pencipta harus menciptakan 15 karya yang berbeda, hal itu menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam penciptaan karya ini. HASIL ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Karya 1. The Eight Lokasi Penciptaan Menentukan lokasi penciptaan sangat berpengaruh pada penciptaan hasil karya ini. tempat yang strategis dan juga mendukung dalam penciptaan karya sangatlah dibutuhkan. Maka oleh sebab itu pencipta membatasi ruang lingkup dari lokasi penciptaan yaitu dengan melakukan pemotretan di area bangunan rumah pencipta yang berlokasi di JL. Darmawangsa. Perumahan Pondok Kampial. Gang Flamboyan. Kampial. Nusa Dua. Tempat yang strategis dan juga mendukung menjadi alasan pemilihan lokasi ini karena dalam penciptaan karya ini menggunakan cukup banyak alat, sehingga jika memerlukan alat yang diperlukan bisa langsung mengambilnya di rumah pencipta. Proses Penciptaan Setelah mendapatkan data dari proses pengamatan atau observasi, pencipta mulai membuat sketsa konsep gerakan-gerakan penari api dalam bentuk gambar yang nantinya divisualisasikan sesuai sketsa tersebut. hal tersebut dilakukan agar proses pengambilan gambar bisa lebih cepat dan efisien dalam menentukan fosenya karena dalam penciptaannya api yang dipergunakan tidak dapat menyala secara terus menerus. Setelah membuat sketsa karya, pencipta mulai mempersiapkan alat-alat penunjang selain kamera yang diperlukan dalam penciptaan karya ini. Alat-alat tersebut berupa background kain hitam agar memudahkan dalam pengolahan foto, tripod untuk menjaga kestabilan kamera agar tidak goyang, triger untuk memicu flash dapat menyala sesuai keinginan pencipta, dan flash yang digunakan untuk membekukan fose dari tarian api. Setelah hal tersebut terpenuhi, pencipta mulai memvisualisasikan gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi. Proses pemotretan sendiri dilakukan pada malam hari agar cahaya dari api yang terbakar mampu terlihat lebih maksimal serta efek kobaran apinya lebih gampang tertangkap oleh kamera. Adapun kendala yang pencipta hadapi yaitu menahan Ukuran : 75 cm x 50 cm Bahan : Adhesive doff Tahun : 2017 The eight jika diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti Maksud judul delapan disini yaitu menampilkan gerak api yang melingkar membentuk angka delapan. Dalam foto ini menampilkan seorang fire dancer wanita dengan pakaian yang berwarna emas dan juga kuning yang cukup ketat agar menghindari pakaian terkena api. Kemudian estetika pada tataran ideationalnya pencipta mengarahkan model untuk melakukan gerakan yang simpel dengan hanya membuat lingkaran di depan model dan juga di bagian belakang model dengan posisi tinggi yang berbeda sehingga membentuk pola angka delapan. Kemudian estetika secara tataran teknikal pemotretan dilakukan menggunakan 2 buah flash yang ditempatkan diujung sisi kanan dan kiri model di arah depan. Penempatan flash secara terpisah dilakukan agar mendapatkan sisi gelap terang yang Untuk bukaan diafragma digunakan f/14 dan ISO 100 dengan kecepatan rana 4 detik, power flash YN460II 6 stop, sedangkan flash Canon 600EX 1/1. Sedangkan untuk mendukung pemotretannya pencipta menggunakan background hitam agar gerak api dapat tertangkap jelas, kemudian tripod dan juga light stand. Dalam pemotretannya pencipta menggunakan teknik bulb agar kecepatan Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 rana dapat ditentukan sendiri oleh pencipta. Saat menekan shutter dengan teknik bulb, fire dancer mulai melakukan gerakan yang sudah diintruksikan kemudian setelah diakhir gerakan pencipta langsung menekan tombol triger secara manual sesaat sebelum tombol shutter dilepas, tujuannya yaitu agar gerakan api dapat tertangkap dengan teknik bulb, kemudian foto diolah pada Adobe Photoshop CC 2017. Sebatas brightness/contrast, dan color balance, dilakukan juga burn untuk merapikan sisi terang menjadi PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain dancer mulai membuat lingkaran spiral dari depan kamera dan berjalan mundur menjahui kamera kemudian setelah diakhir gerakan pencipta langsung menekan tombol triger secara manual sesaat sebelum tombol shutter dilepas, agar gerak api dan tubuh fire dancer dapat tertangkap kamera. Untuk pengolahan fotonya pencipta mengolahnya disoftware Adobe Photoshop CC 2017 pengolahan sebatas croping, brightness/contrast, color balance, dan juga burn. Karya 3. Gender Karya 2. Born From Fire Ukuran : 40 cm x 40 cm, kolase menjadi tiga bagian foto Bahan : PVC Easy Banner Tahun : 2017 Ukuran : 80 cm x60 cm Bahan : Acrylic bening Tahun : 2017 Born from fire jika diartikan kedalam bahasa Indonesia yaitu terlahir dari api, sebuah penggambaran dimana fire dancer yang dikelilingi oleh lingkaran api yang menggulung seolah-olah api tersebut menjadi sebuah lorong yang dapat dilalui menuju dimensi ruang yang baru. Judul tersebut diambil karena menampilkan sosok fire dancer yang muncul dari dalam api. Dalam karya ini model yang digunakan yaitu fire dancer laki-laki, dengan pakaiaan sederhana dan sedikit terbuka agar bentuk tubuh fire dancer nampak jelas. Alat yang digunakan yaitu tongkat yang diujungnya dililitkan kain tebal kemudian dibakar, setelah api tercipta fire dancer mulai membentuk lingkaran spiral. Pada proses pemotretan pencipta menggunakan alat-alat penunjang dalam pembuatan karya ini seperti background hitam untuk memberi latar belakang yang gelap agar fire dance dapat tertangkap kamera dengan baik. Tripod untuk menjaga keseimbangan kamera agar minim getaran. Light stand sebagai tempat dudukan flash agar mudah ditempatkan dan mudah diatur. Kemudian dalam pemotretannya menggunakan setingan bulb 17. 7 detik dengan bukaan diafragma f/20 dan ISO 100. Dengan kecepatan rana selama itu maka diafragma dan intensitas cahaya flash juga harus dimaksimalkan maka dari itu menggunakan dua buah flash yang posisinya disejajarkan dalam jarak berdekatan agar cahayanya menjadi lebih terang dengan power flash YN460-II 7 stop, sedangkan flash Canon 600EX 1/1 pada tubuh fire dancer. Dengan rana yang lambat tersebut memungkinkan untuk membuat sebuah lingkaran spiral dengan objek utama ditempatkan pada tengah-tengah lingkaran api. Saat menekan shutter dengan teknik bulb, fire Kamehameha adalah sebuah jurus pamungkas yang terdapat pada serial kartun dari Jepang yang berjudul dragon Jurus ini mengumpulkan tenaga dalam dan melontarkannya kedepan seperti laser yang memanjang. Hal itu lah yang ingin divisualisasikan kedalam karya foto ini dengan mengarahkan model fire dancer sesuai arahan pencipta dengan menggunakan cakra fire yang diputar dari depan kemudian mundur secara perlahan dan berfose seperti foto diatas dengan menampilkan pola gerak api yang memanjang menjadi dasar sebuah teori estetika secara idetional. Pada tataran technical penciptaan karya menggunakan teknik bulb dengan settingan 10. 3 detik, diafragma f/13 dan ISO 200, power flash YN460-II 6 stop, sedangkan flash Canon 600EX 1/2. Komposisi yang digunakan sepertiga bidang dengan sudut pandang eye level. Alat-alat penunjang dalam pembuatan karya foto ini yaitu background hitam untuk memberi latar belakang yang gelap, kemudian tripod untuk mengurangi guncangan saat pengambilan gambar, light stand untuk dudukan flash, dan juga triger untuk memicu nyala flash. Pada foto ini dilakukan penggabungan, penggabungan dilakukan agar mendapatkan sebuah foto yang memanjang kemudian foto tersebut dikolase menjadi tiga bagian untuk menambah kesan artistik pada pencetakan karya. Pengolahan gambar dilakukan pada adobe photoshop CC 2017, pada tepi foto yang digabungnya disatukan dengan sedikit menghapus agar mendapat kesan seperti menyatu, kemudian digunakan burn tool untuk merapikan sisi gelapnya. PENUTUP Berdasarkan atas berbagai penjelasan dan analisis dari uraian bab-bab sebelumnya, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Untuk memvisualisasikan gerak fire dance dalam karya I Kadek Angga Aditya. Anis Raharjo. Ida Bagus Candra Yana (Gerak Fire Dance. fotografi ekspresi membutuhkan beberapa metode seperti menentukan ide atau konsep, alat-alat dan teknik-teknik fotografi yang digunakan, kemudian melakukan observasi dan eksperimen dengan semua percobaan yang terkait dengan penciptaan karya kemudian menyeleksi foto, asistensi, dan tahap akhirnya adalah pencetakan foto. Teknik-teknik fotografi ekspresi yang lebih banyak gunakan yaitu teknik slow speed seperti bulb, strobo, dan multiple eksposure. Sebelum menerapkan teknik tersebut pencipta harus memahami dan mempelajari lebih dalam tentang teknik tersebut. penerapan teknik yang tepat tentu akan menghasilkan sebuah karya fotografi yang menarik. Teknik komposisi seperti rule of third, sudut pengambilan atau angle, warna, garis, bentuk, dan juga foto editing adalah unsur-unsur yang penting dalam penciptan karya gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi. Untuk menyampaikan pesan visual pada setiap karya penciptaan gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi tentu harus memahami tentang apa itu teori semiotika dan memahami segala tanda-tanda untuk pemaknaan disetiap karyanya. DAFTAR RUJUKAN Ajidarma. Seno Gumira. Kisah Mata. Fotografi Diantara Dua Subyek: Perbincangan Tentang Ada. Yogyakarta: Galang Press. Bagus. Analisis Subsidi Silang. Jakarta: FKM-UI. Bastomi. Suwaji. Wawasan Seni. Semarang: IKIP Semarang Press. Djelantik. Pengantar Dasar Ilmu Estetika (Falsafah Seni dan Keindaha. Jilid II. Denpasar: STSI. Djelantik. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019. Jakarta: Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Giwanda. Griand. Panduan Praktis Belajar Fotografi. Jakarta: Puspa Swara. Anggota IKAPI. Giwanda. Griand. Panduan Praktis Menciptakan Foto Menarik. Jakarta: Puspa Swara. Anggota IKAPI. Nugroho. Amien. Kamus Fotografi. Yogyakarta: Andi. Permana. Erik. A-Z Otodidak Dslr & Mirrorless. Yogyakarta: Cemerlang Publising. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Raharjo. Budhy. Himpunan Materi Pendidikan Seni Rupa. Bandung: CV Yrama. Salim. Peter & Yenny salim. Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press. Santoso. Arif. Kamus Umum Bahasa Indonesia: Mahkota Kita. Sidik. Fajar. Desain Elementer. Yogyakarta: STSRI AuASRIAy Soedjono. Soeprapto. Port-pourri fotografi. Jakarta: Universitas Trisakti. Suryahadi. A Agung. Pengembangan Kreativitas Melalui Seni Rupa. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru. Sutrisno. Mudji. Oase Estetis Estetika Dalam Kata Sketza. Yogyakarta: Kanisius. Zakia. Richard D. Perception and Imaging. Boston: Focal Press.