Jurnal Pelita Teknologi, . Vol. 20 No. : September 2025, pp. PELITA TEKNOLOGI Journal homepage: jurnal. id,p-ISSN: 2301-475X, e-ISSN: 2656-7059 PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN BERTINGKAT MENGGUNAKAN BETON BERTULANG BERDASARKAN SNI 2019 DI KABUPATEN BEKASI Atthariq Sihabudin Suhrawardi1. Herol2. Isria Miharti Maherni Putri3. Juse Roejanto4 1Ao2Ao4 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa Jl. Inspeksi Kalimalang No. Cibatu. Cikarang Selatan. Kab. Bekasi. Jawa Barat Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Tanjungpura Jl. Prof. Dr. Hadari Nawawi. Bansir Laut. Pontianak Tenggara. Pontianak. Kalimantan Barat Korespondensi email: atthariqssuhrawardi@gmail. Abstrak Informasi Artikel Bekasi Regency, in addition to being one of the Diterima: 14 September 2025 largest industrial cities in Indonesia, is also an Direvisi: 22 September 2025 area that is experiencing rapid population growth Dipublikasikan: 26 September 2025 and economic development in supporting various needs, including educational facilities. The purpose of this design is to produce a design for a multi-storey lecture building using reinforced concrete according to environmental conditions in Bekasi Regency through the Special Moment Resisting Frame System (SRPMK) approach. With a design method based on SNI 2019, structural modeling using the SAP2000 program. Keywords and analyzing the reinforcement plan using Multi-storey Building Planning. Reinforced Microsoft Excel. Thus, the results of the analysis Concrete. SNI 2019. Bekasi Regency show that the structural elements of the planned building can withstand various forces with shifts that are still within safe limits. In understanding building design, it plays an important role, so that the application of multi-storey buildings on former rice fields such as in Bekasi Regency can be applied, therefore it is hoped that this design can be a reference for related government agencies and readers and further researchers. Pendahuluan Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan pesona keindahannya di mata dunia. Namun dibalik keindahannya yang memukau, terdapat kenyataan yang kurang indah di beberapa bidang, salah satunya yaitu bidang pendidikan. Mengutip . pada tahun 2022, hanya 6,41% penduduk Indonesia yang mendapatkan pendidikan hingga ranah perguruan tinggi, dengan rincian persentase D1 dan D2 . ,41%). D3 . ,28%). S1 . ,39%). S2 . ,31%), lalu S3 hanya . ,02%) saja. Berdasarkan pemaparan data diatas. Kabupaten Bekasi menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang termasuk dalam kategori tersebut. ISSN: p. 2301-475X e. Kabupaten Bekasi adalah daerah yang mengalami pertumbuhan penduduk serta ekonomi pembangunan sangat pesat dalam menopang berbagai kebutuhan sebagai salah satu kota industri terbesar di Indonesia. Tercatat di tahun 2023. Kabupaten Bekasi memiliki luas wilayah 273,88 Km2 . dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta jiwa . Menandakan bahwa Kabupaten Bekasi merupakan wilayah yang strategis dalam meningkatkan taraf ekonomi keluarga, sehingga banyak orang berharap mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Bekasi. Pendidikan memegang peranan penting untuk mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Bekasi. Begitu banyak perusahaan yang menerapkan persyaratan mengenai Auminimal pendidikanAy seseorang sebagai kriteria untuk mencari pekerja dengan keterampilan terbaik. Umumnya, untuk mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Bekasi wajib memiliki ijazah dengan pendidikan terakhir minimal SMA sederajat, sehingga banyak orang yang sengaja datang dari berbagai penjuru Indonesia ke Kabupaten Bekasi untuk menggantungkan nasibnya. Sedangkan pada tahun 2024, tercatat jumlah lulusan pendidikan SMA sederajat di Kabupaten Bekasi sebanyak 075 siswa . Akibat dari hal tersebut, timbul persaingan antar calon pekerja dalam berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di berbagai perusahaan yang tersedia. Upaya meningkatkan peluang dalam persaingan mendapatkan pekerjaan, maka tidak sedikit calon pekerja yang rela menginvestasikan biaya dan waktunya, dengan upaya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sedangkan bagi pekerja tamat SMA sederajat, berupaya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, karena berharap dengan rekam jejak ijazah terbarunya, dapat meningkatkan posisi di perusahaan dan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dari yang mereka terima saat ini. Mengutip dari laman data pendidikan, di Kabupaten Bekasi tersedia 46 instansi perguruan tinggi negeri maupun swasta, guna menyerap calon-calon mahasiswa dari berbagai kalangan masyarakat pekerja maupun siswa SMA sederajat yang baru lulus di Kabupaten Bekasi. Seiring berjalannya waktu, terjadi peningkatan jumlah lulusan SMA sederajat yang berasal dari dalam maupun luar Kabupaten Bekasi, sedangkan jumlah fasilitas perguruan tinggi yang tersedia tidak mengalami pertambahan untuk menampung calon mahasiswa yang terus datang untuk melanjutkan studinya. Sehingga diperlukan penambahan fasilitas akademik berupa pembangunan gedung perkuliahan yang strategis dan memadai, dengan perencanaan yang memenuhi standar keamanan sesuai standarisasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2019, agar bangunan yang direncanakan dapat berdiri dengan kokoh, bermanfat secara optimal, aman, nyaman serta tahan lama dalam penggunaanya untuk melakukan proses akademik. II. Metodologi Studi literatur merupakan tahapan awal sebelum melakukan perancangan dengan mempelajari beberapa perancangan serupa sebagai rujukan dan pembanding antara perancangan yang akan/sedang berjalan dengan yang sudah dilakukan. Tahapan kedua adalah pengumpulan data terdiri dari atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh melalui hasil observasi langsung ke lapangan. Sedangkan, data sekunder adalah data yang bersumber melalui studi literatur pada laporan perancangan serupa dan jurnal terkait. Mengacu pada data primer yang relevan dengan lokasi ISSN: p. 2301-475X e. penelitian, rincian parameter seismik yang akan digunakan sebagai dasar acuan perhitungan elemen struktur disajikan dibawah ini: Gambar 1. Parameter Grafik Desain Spektra Berdasarkan Lokasi Sumber: Website Desain Spektra Indonesia Tahapan ketiga adalah Preliminary design, tahapan perancangan bangunan dengan menganalisa gambar rencana untuk mendapatkan dimensi elemen struktur sebelum dilakukan pemodelan bangunan dengan rincian sebagai berikut: Pelat lantai Mengutip . , dalam menentukan jenis pelat yang tepat untuk elemen struktur bangunan Eey rencana, dapat dihitung dengan Ee dimana Eey berarti bentang panjang dan Eeycu berarti bentang Jika hasil perhitungan antara kedua bentang tersebut bernilai lebih dari 2 (> . , maka pelat yang digunakan yakni pelat satu arah. Sedangkan jika hasil perhitungan bernilai kurang dari 2 (< . , digunakan pelat lantai dua arah. Balok Dalam menentukan dimensi balok yang akan digunakan, dapat dilihat berdasarkan panjang bentangan dengan ketentuan mengenai tinggi balok maksimum nonprategang. Sedangkan untuk tinggi balok, akan dihitung berdasarkan A x tinggi balok yang sudah diketahui. Kolom Untuk menentukan dimensi kolom, dapat dicari dengan menggunakan 2 metode, yaitu: analisa berdasarkan lebar balok yang ditambah 10 cm dan metode dengan memperhitungkan bebanbeban . eban mati, beban hidup, serta beban mati tambaha. yang ditanggung oleh kolom Dinding struktural Untuk merencanakan dinding struktural terkait batasan desain tertulis pada dasar teori yang sudah dijelaskan diatas atau lebih detailnya dapat dilihat pada . Tahap keempat adalah analisis pembebanan. Hal yang dilakukan dalam tahapan ini yakni menentukan beban-beban berikut ini: ISSN: p. 2301-475X e. Beban hidup Untuk menentukan beban hidup apa saja yang akan bekerja pada bangunan, dapat diketahui dalam . Karena dalam rujukan tersebut, memberikan detail nilai beban hidup untuk berbagai ruangan dan jenis penggunaan bangunan rencana. Beban mati tambahan Untuk menentukan beban mati tambahan, dapat dilihat pada . Karena dalam sumber tersebut, tersedia berbagai nilai beban berdasarkan material yang akan digunakan pada bangunan rencana. Beban kombinasi Berdasarkan pemaparan pada dasar materi, maka beban kombinasi yang akan digunakan dalam perancangan ini adalah: 1,4DES 1,4DMT . 1,2DES 1,2DMT 1,6L . ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L (A. 0,3 (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L (A. - 0,3 (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L - (A. 0,3 (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L - (A. - 0,3 (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L 0,3(A. (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L - 0,3(A. (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L 0,3(A. - (A. ,2 0,2SDS) DES . ,2 0,2SDS) DMT 1L - 0,3(A. - (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT (A. 0,3 (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2 SDS) DMT (A. - 0,3 (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT - (A. 0,3 (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT - (A. - 0,3 (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT 0,3(A. (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT - 0,3(A. (A. ,9-0,2SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT 0,3(A. - (A. ,9-0,2 SDS) DES . ,9-0,2SDS) DMT - 0,3(A. - (A. Tahapan keenam adalah analisis respons spektrum. Respons spektrum merupakan sebuah grafik yang digunakan untuk menganalisa beban seismik yang akan bekerja pada bangunan rencana melalui grafik yang menggambarkan periode getar dalam kurun waktu tertentu. Dalam perancangan ini, terkait analisis respons spektrum akan dilakukan berdasarkan data internal yang didapatkan, dengan detail Titik lokasi berada di antara jalan raya . i bagian depa. dan kawasan padat penduduk . i bagian samping kana. dan Kondisi tanah pada titik lokasi sangat lunak karena kawasan tersebut merupakan tanah bekas pakai untuk persawahan. Tahapan ketujuh adalah analisis program SAP2000. Secara sederhana. SAP2000 adalah program yang dapat membantu perencana untuk melakukan pemodelan struktur bangunan serta menganalisis ketahanan struktur apabila diberikan beban yang bekerja di dalamnya. Pada perancangan ini menggunakan program tersebut sebagai media untuk pemodelan struktur rencana, dengan hasil analisis berupa gambar interaksi gaya dalam dari program SAP2000. Sesudah melakukan analisa dengan program SAP2000, langkah selanjutnya yaitu melakukan evaluasi kembali terkait hasil yang disediakan program dengan maksud sebagai argumen pendukung apabila keraguan pada hasil rancangan. Untuk memastikan hasil SAP2000. ISSN: p. 2301-475X e. dilakukan evaluasi secara manual menggunakan metode perhitungan yang diaplikasikan pada Microsoft Excel. Terakhir Analisis Rencana Penulangan Untuk persyaratan dalam merencanakan penulangan pada elemen struktur, dengan hasil analisa mengenai jumlah tulangan yang diperlukan, dimensi tulangan yang optimal, dan jarak sengkang maksimal yang diizinkan. Hasil dan Pembahasan Preliminary Design Preliminary design merupakan tahapan yang dilakukan untuk menentukan dimensi pada elemen struktur bangunan berlandaskan pada gambar kerja atau gambar denah lantai yang telah . Pelat Lantai Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan dimensi pelat lantai rencana untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Rekapitulasi Dimensi Pelat Lantai Tipe Pelat Lantai Dimensi . Dengan implementasi pelat lantai rencana pada setiap ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: pelat lantai tipe 1 digunakan untuk balkon dan lobi lantai 1, pelat lantai tipe 2 diterapkan pada ruang kelas serta koridor di depannya, sedangkan pelat lantai tipe 3 akan diaplikasikan pada toilet dan gudang. Balok Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan balok rencana untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Rekapitulasi Dimensi Balok Tipe Balok Dimensi . 900 x 600 800 x 400 3 . 800 x 400 700 x 350 500 x 250 Dengan implementasi balok rencana pada setiap ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: balok tipe 1 digunakan untuk lobi lantai 1, balok tipe 2 pada sekeliling bangunan rencana, balok tipe 3 ditempatkan di balkon, balok tipe 4 diaplikasikan dalam ruang kelas, sementara balok tipe 5 diterapkan atas toilet dan gudang. Kolom Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan kolom rencana untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: ISSN: p. 2301-475X e. Tabel 3. Rekapitulasi Dimensi Kolom Perletakan Kolom Dimensi . Balkon 900 x 900 Keliling 850 x 850 Ruang kelas 650 x 650 Toilet & Gudang 350 x 350 Dengan implementasi kolom rencana pada setiap ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: kolom tipe 1 . x900 m. digunakan untuk balkon, kolom tipe 1 . x850 m. pada sekeliling bangunan rencana, kolom tipe 2 . x650 m. ditempatkan di ruang kelas, kolom tipe 3 . x350 m. diaplikasikan dalam toilet dan gudang. Dinding Struktural Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan dinding struktural rencana untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Dimensi Dinding Struktural Tipe Dinding Dimensi . Dengan implementasi dinding struktural rencana pada ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: kolom tipe 1 diaplikasikan untuk sekitar lift bangunan Pembebanan . Beban Hidup Beban hidup bangunan merupakan jenis beban yang diakibatkan adanya pergerakan atau aktivitas bangunan. Berikut ini merupakan rekapitulasi beban hidup yang diterapkan pada bangunan, yaitu: Beban hidup atap . Beban hidup ruang: Balkon Ruang kelas Koridor lantai dasar Koridor lantai atas Toilet Gudang . Beban hidup peralatan: Eskalator Lift orang = 0,96 kN/m2 = 4,79 kN/m2 = 1,92 kN/m2 = 4,79 kN/m2 = 3,83 kN/m2 = 2,87 kN/m2 = 6,00 kN/m2 = 13,93 kN/m2 = 4,69 kN/m2 . Beban Mati Tambahan Beban mati tambahan adalah beban yang dihasilkan oleh perpaduan penggunaan berbagai macam material dalam suatu bangunan. Berikut ini merupakan rekapitulasi beban mati tambahan yang diterapkan pada bangunan, yakni: Beban mati tambahan atap bangunan Berdasarkan hasil kalkulasi, didapatkan total untuk beban mati tambahan pada atap bangunan sebesar 0,8030 kN/m2. ISSN: p. 2301-475X e. Beban mati tambahan ruang kelas Berdasarkan hasil kalkulasi, didapatkan total untuk beban mati tambahan pada ruang kelas sebesar 3,5880 kN/m2. Beban mati tambahan toilet dan gudang Berdasarkan hasil kalkulasi, didapatkan total untuk beban mati tambahan pada ruang toilet dan gudang sebesar 5,0470 kN/m2. Beban Balok Tepi . erimeter bea. Beban balok tepi merupakan berbagai beban desain yang akan ditanggung balok guna keperluan analisis kelayakan hasil preliminary design. Berikut ini merupakan hasil rekapitulasi beban balok tepi yang diterapkan pada bangunan, yaitu: Beban balok tepi pada bagian depan pintu masuk bangunan Berdasarkan hasil analisis, didapatkan total untuk beban balok tepi pada bagian depan pintu masuk bangunan sebesar 3,192 kN/m. Beban balok tepi pada bagian samping pintu masuk bangunan Berdasarkan hasil analisis, didapatkan total untuk beban balok tepi pada bagian samping pintu masuk bangunan sebesar 7,889 kN/m. Beban balok tepi pada bagian keliling bangunan Berdasarkan hasil analisis, didapatkan total untuk beban balok tepi pada bagian keliling bangunan sebesar 9,409 kN/m. Beban balok tepi pada bagian balkon Berdasarkan hasil analisis, didapatkan total untuk beban balok tepi pada bagian balkon sebesar 1,140 kN/m. Beban balok tepi pada bagian depan lift Berdasarkan hasil analisis, didapatkan total untuk beban balok tepi pada bagian depan lift sebesar 2,703 kN/m. Analisis Respons Spektrum Mengutip isi pada jurnal . , pengertian respons spektrum adalah suatu spektrum yang disajikan dalam bentuk grafik atau plot antara periode getar struktur T, versus respon-respon maksimum berdasarkan rasio redaman dan gempa tertentu. Analisis Website Kementerian PU Berdasarkan data primer . itik lokas. yang diinput pada website yang dipublikasikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atau yang bisa disebut laman Desain Spektra Indonesia, didapatkan data dengan rincian hasil berikut: Lokasi Klasifikasi tanah Periode tanah PGA = Kabupaten Bekasi = tipe D . anah sedan. = 20 detik = 0,8038 g = 0,3790 g = 0,3776 g . Data-Data Standarisasi Nasional Berlandaskan standarisasi yang telah dikeluarkan Kementerian PU, . , didapatkan beberapa data yang berfungsi sebagai pelengkap data awal dengan detail dibawah ini: ISSN: p. 2301-475X e. Kategori risiko Gravitasi bumi SF . afety facto. = IV = 1,5 = 5,5 = 9,81 m/s2 = g x I/R = 9,81 x 1,5/8 = 1,839 . Analisis Melalui Microsoft Excel Setelah data-data yang telah diperlukan sudah tersedia, maka data-data tersebut akan dimasukkan ke Excel untuk mendapatkan parameter gempa, dengan rincian hasil perhitungan dibawah ini: = 1,178 = 1,922 SMS = 0,947 SMl = 0,728 SDS = 0,631 SDl = 0,486 = 0,047 = 0,9 = 35 m = 1,143 = 0,118 Analisis Rencana Penulangan . Penulangan Pelat Lantai Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan rencana penulangan pelat lantai untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. Rekapitulasi Penulangan Pelat Lantai Tipe Pelat Lantai Tulangan & Spasi . D13 Ae 230 D13 Ae 200 D10 Ae 150 Jurnal Pelita Teknologi, . Vol. 20 No. : September 2025, pp. PELITA TEKNOLOGI Journal homepage: jurnal. id,p-ISSN: 2301-475X, e-ISSN: 2656-7059 Gambar 2. Detail Pelat Lantai . Sumber: Penulis Gambar 4. Detail Pelat Lantai . Sumber: Penulis Gambar 3. Detail Pelat Lantai . Sumber: Penulis Dengan implementasi rencana penulangan pelat lantai tergantung pada ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: digunakan tulangan D13 . pada pelat lantai tipe 1 dan 2, sedangkan untuk pelat lantai tipe 3 menggunakan tulangan D10 . Penulangan Balok Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan rencana penulangan balok untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6. Rekapitulasi Jumlah Penulangan Berdasarkan Letak Tumpuan & Lapangan Balok Tipe Balok Tumpuan Lapangan 9D25 . 5D25 . 6D25 . 9D25 . 3D25 . 2D25 . 2D25 . 3D25 . 7D25 . A) 4D25 . ISSN: p. 2301-475X e. 4D19 . 3D19 . 2D16 . 2D16 . 3D25 . 2D19 . 4D19 . 2D16 . 2D16 . Tabel 7. Rekapitulasi Diameter & Spasi Sengkang Balok Tipe Balok Diameter & Spasi . D13 Ae 300 D13 Ae 300 7D13 Ae 200 . A-B) 5D13 Ae 300 . C-ujun. D10 Ae 300 D10 Ae 200 Gambar 5. Detail Kolom & Balok . Sumber: Penulis Gambar 7. Detail Kolom & Balok . Sumber: Penulis Gambar 8. Detail Kolom & Balok . Gambar 6. Detail Kolom & Balok . Sumber: Penulis Sumber: Penulis Jurnal Pelita Teknologi, . Vol. 20 No. : September 2025, pp. PELITA TEKNOLOGI Journal homepage: jurnal. id,p-ISSN: 2301-475X, e-ISSN: 2656-7059 Gambar 9. Detail Kolom & Balok . Sumber: Penulis Dengan implementasi rencana penulangan balok tergantung pada ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: digunakan tulangan D25 . serta tulangan D13 . pada balok tipe 1, 2, dan 3, kemudian tulangan D19 . dan tulangan D10 . untuk balok tipe 4, sementara tulangan D16 . dengan tulangan D10 . diterapkan dalam balok tipe 5. Penulangan Kolom Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan rencana penulangan kolom untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 8. Rekapitulasi Jumlah Penulangan Kolom Letak Kolom Jumlah & Diameter Balkon 32D36 Keliling 36D32 Ruang kelas 36D25 Toilet & Gudang 20D19 Tabel 9. Rekapitulasi Diameter & Spasi Sengkang Kolom Letak Kolom Diameter & Spasi . Balkon D13 Ae 288 Keliling D13 Ae 256 Ruang kelas D13 Ae 200 Toilet & Gudang D10 Ae 152 Dengan implementasi rencana penulangan kolom tergantung pada ruangan dalam bangunan adalah sebagai berikut: digunakan tulangan D36 . serta tulangan D13 . yang diterapkan pada area balkon, selanjutnya tulangan D32 . dan tulangan D13 . digunakan untuk kolom yang mengelilingi bangunan. Sementara itu, kolom yang ISSN: p. 2301-475X e. terletak di ruang kelas dirancang menggunakan tulangan D25 . dengan tulangan D13 . Adapun untuk kolom toilet dan gudang, akan diaplikasikan tulangan D19 . beserta tulangan D10 . Penulangan Dinding Struktural Merujuk pada hasil analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan rencana penulangan dinding struktural untuk bangunan tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10. Rekapitulasi Penulangan Dinding Struktural Tipe Dinding Tipe Tulangan Diameter & Spasi . Longitudinal D19 Ae 200 Transversal D13 Ae 200 EBK sejajar lebar D13 Ae 100 EBK sejajar panjang D13 Ae 100 Gambar 10. Detail Dinding Struktural Sumber: Penulis Dengan implementasi rencana penulangan dinding struktural dalam bangunan adalah sebagai berikut: digunakan tulangan D19 . dan tulangan D13 . dengan dimensi penulangan yang dapat diterapkan untuk Elemen Batas Khusus / EBK . ika diperluka. yakni D13 IV. Kesimpulan Berdasarkan data situs gempa pada laman Desain Spektra Indonesia . ebsite Kementerian Pekerjaan Umu. , wilayah Kabupaten Bekasi dikategorikan sebagai area yang memiliki tingkat risiko IV untuk bangunan dan berada pada situs tanah D . anah sedan. dengan nilai percepatan respons spektrum Ss = 0,8038 g serta Sl = 0,3790 g. Oleh karena itu, melakukan analisis yang matang diperlukan untuk merancang bangunan di Kabupaten Bekasi guna memastikan struktur agar sesuai dengan standar keselamatan, kestabilan, dan kenyamanan yang direncanakan. Merencanakan dimensi elemen struktur yang optimal serta ekonomis guna keperluan gedung perkuliahan bertingkat, diperlukan serangkaian analisis mengenai preliminary design, evaluasi pembebanan bangunan, serta pemodelan struktur menggunakan program SAP2000. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh dimensi elemen struktur bangunan yang memenuhi aspek optimal serta ekonomis, tanpa menghiraukan standarisasi keselamatan. Adapun rincian dimensi elemen struktur yang diimplementasikan adalah sebagai berikut: ISSN: p. 2301-475X e. Dimensi pelat lantai . mm, 150 mm, 100 m. , dimensi balok . x600 mm, 800x400 mm, 700x350 mm, 500x250 m. , dimensi kolom . x900 mm, 850x850 mm, 650x650 mm, 350x350 m. , dan dimensi dinding struktural . Merencanakan penulangan elemen struktur agar memenuhi standar keamanan pada bangunan rencana, diperlukan analisis menyeluruh terhadap hasil output gaya dari SAP2000 serta perhitungan rasio kebutuhan tulangan terbesarnya, baik untuk keperluan tulangan longitudinal maupun transversal. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan hasil penulangan elemen struktur dengan rincian sebagai berikut: Dimensi tulangan pada pelat lantai terdiri dari D13 dan D10 untuk tulangan longitudinal. dimensi tulangan pada balok terdiri dari D25. D19, dan D16 untuk tulangan longitudinal, serta D13 dan D10 untuk tulangan transversal. dimensi tulangan pada kolom terdiri dari D36. D32. D25. D19 untuk tulangan longitudinal, serta D13 dan D10 untuk tulangan transversal. sedangkan dimensi tulangan pada dinding struktural menggunakan D19 untuk tulangan longitudinal. D13 untuk tulangan transversal dan Elemen Batas Khusus (EBK) jika diperlukan. Daftar Pustaka