Romadhoni, dkk / Tropical Animal Science 7. :239-245 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :239-245 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH PUPUK BIO-SELURRY YANG DIPROSES DENGAN EM4 DAN MA-11 TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT ODOT (Pennisetum purpureum CV. Mot. DALAM SISTEM TUMPANG SARI DENGAN LEGUM Indigofera zollingeriana THE EFFECT OF BIO-CELLURRY FERTILIZER PROCESSED WITH EM4 AND MA-11 ON THE GROWTH OF ODOT GRASS (Pennisetum purpureum CV. Mot. IN A MIXED CROPPING SYSTEM WITH THE LEGUM Indigofera zollingeriana Iskhak Romadhoni1. Purwadi2*. Aris Budi Prasetyo2 Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia *E-mail korespondensi: purwadifptuby@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik bio-selurry yang diproses menggunakan Effective Microorganisms 4 (EM. dan MA-11 terhadap pertumbuhan rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mot. yang ditumpangsarikan dengan legum Indigofera Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2025 di Kecamatan Ampel. Kabupaten Boyolali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu P0 . io-selurry tanpa tambaha. P1 . io-selurry EM. P2 . io-selurry MA-. , dan P3 . io-selurry EM4 MA-. Parameter yang diamati meliputi waktu muncul tunas pertama, jumlah tunas, jumlah daun, panjang helai daun, diameter batang, produksi hijauan segar, dan bahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk bio-selurry tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap tunas pertama, jumlah tunas, jumlah daun, panjang daun, diameter batang, dan bahan kering. Namun, terdapat pengaruh nyata (P<0,. terhadap produksi hijauan segar, dengan hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 dan P3. Hal ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan pupuk bio-selurry yang difermentasi dengan EM4 dan MA-11 dapat meningkatkan produksi hijauan rumput odot, meskipun belum secara signifikan mempengaruhi parameter pertumbuhan lainnya pada fase awal. Kata kunci: Rumput Odot. Bio-selurry. Pertumbuhan ABSTRACT This study aims to determine the effect of organic fertilizer bio-selurry processed using Effective Microorganisms 4 (EM. and MA-11 on the growth of odot grass (Pennisetum purpureum cv. Mot. intercropped with legume Indigofera zollingeriana. The study was conducted from January to March 2025 in Ampel District. Boyolali Regency. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, namely P0 . io-selurry without additio. P1 . io-selurry Romadhoni, dkk / Tropical Animal Science 7. :239-245 EM. P2 . io-selurry MA-. , and P3 . io-selurry EM4 MA-. The parameters observed included the time of first shoot emergence, number of shoots, number of leaves, leaf blade length, stem diameter, fresh forage production, and dry matter. The results showed that the treatment of bio-selurry fertilizer had no significant effect (P>0. on the first shoot, number of shoots, number of leaves, leaf length, stem diameter, and dry matter. However, there was a significant effect (P<0. on the production of fresh greens, with the highest results obtained in treatments P2 and P3. This indicates that the use of bio-selurry fertilizer fermented with EM4 and MA-11 can increase the production of odot grass greens, although it has not significantly affected other growth parameters in the early phase. Keywords: Odot Grass. Bio-selurry. Growth PENDAHULUAN Hijauan pakan ternak yang berkualitas tinggi merupakan faktor esensial dalam menunjang produktivitas usaha peternakan, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Namun, ketersediaan hijauan berkualitas masih menjadi kendala karena terbatasnya lahan subur dan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian, sehingga peternak sering kali mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak secara berkelanjutan (Budiman et al. , 2. Untuk mengatasi hal ini, berbagai upaya dilakukan, salah satunya melalui inovasi pemupukan menggunakan bahan organik, seperti bio-selurry, yang merupakan limbah fermentasi anaerobik dari Bio-selurry kandungan hara makro dan mikro seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (C. , dan magnesium (M. yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara ramah lingkungan (Ariyani & Rahman, 2020. Etica et al. , 2. Meskipun pupuk anorganik lebih cepat diserap tanaman, penggunaannya secara terusmenerus terbukti dapat merusak struktur fisik, kimia, dan biologi tanah, seperti menurunkan kandungan bahan organik dan aktivitas mikroba tanah (Hartatik et al. , 2. Sebaliknya, pupuk organik seperti bio-selurry dapat memperbaiki struktur tanah dan mendukung kehidupan mikroorganisme tanah. Namun demikian, efektivitas bio-selurry dalam mendukung pertumbuhan tanaman sangat tergantung pada tingkat fermentasi dan kandungan mikroorganisme di dalamnya. Oleh bio-selurry menggunakan aktivator seperti Effective Microorganisms 4 (EM. dan MA-11 menjadi strategi yang menjanjikan. EM4 mengandung mikroorganisme seperti bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, dan actinomycetes yang mempercepat dekomposisi bahan organik, sementara MA-11 merupakan konsorsium mikroba dari rumen sapi dan Rhizobium sp. yang berperan dalam fiksasi nitrogen dan penguraian selulosa (Hadisuwito. Herlika, 2. Rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mot. dipilih dalam penelitian ini karena merupakan hijauan unggulan yang memiliki produktivitas tinggi, daya adaptasi luas, dan disukai ternak karena kandungan nutrisi dan kelembutan daunnya. Rumput ini responsif kemampuan regenerasi anakan yang baik ketika dilakukan pemotongan secara berkala (Sirait et al. , 2015. Sulaiman et al. , 2. Kombinasi penanaman rumput odot secara tumpangsari dengan leguminosa seperti Indigofera meningkatkan kualitas pakan dan memperkaya kandungan nitrogen di dalam tanah melalui mekanisme fiksasi biologis nitrogen oleh bakteri Rhizobium (Wahyudi, 2018. Santosa et , 2. Penelitian mengenai efektivitas bioselurry yang diperkaya EM4 dan MA-11 Romadhoni, dkk / Tropical Animal Science 7. :239-245 terhadap pertumbuhan rumput odot secara tumpangsari dengan legum masih terbatas. Penelitian mengevaluasi pengaruh pemberian pupuk bioselurry yang diproses dengan EM4 dan MA-11 terhadap parameter pertumbuhan rumput odot yang ditanam secara tumpangsari dengan legum Indigofera zollingeriana, sebagai strategi penyediaan hijauan pakan ternak yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. MATERI DAN METODE Penelitian dilakukan di Kecamatan Ampel. Kabupatan Boyolali. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mot. berupa setek batang sehat berukuran 20Ae25 cm dengan tiga ruas aktif, leguminosa Indigofera zollingeriana berupa bibit. Bahan pupuk yang digunakan adalah bio-selurry padat yang berasal dari limbah biogas, yang di . oses dengan Effective Microorganisms 4 (EM. dan MA-11 (Hadisuwito, 2007. Herlika, 2. Bahan tambahan yang digunakan dalam proses fermentasi adalah molase sebagai sumber karbon dan air bersih sebagai pelarut. Proses pengolahan pupuk dilakukan satu minggu sebelum diaplikasikan ke lahan. Pupuk bio-selurry dikeringkan dengan pengeringan alami di bawah sinar matahari. (Ayu, 2. Perlakuan P1 dan P2, pupuk dicampur dengan larutan EM4 atau MA-11 . asing-masing satu tutup botol per 100 ml air dan dua tutup molas. , kemudian difermentasi selama satu Perlakuan P3, pupuk difermentasi dengan campuran EM4 dan MA-11 serta molase dengan takaran yang sama. Pupuk sebanyak 1 kg diaplikasikan ke tiap petakan, dicampur merata dengan tanah sebelum penanaman dilakukan. Penyiangan gulma di lakukan seminggu sekali, dan penyulaman tanaman dilakukan seminggu setelah tanam. Parameter yang diamati terdiri dari: waktu muncul tunas pertama, jumlah tunas, jumlah daun, panjang helaian daun, diameter batang, produksi hijauan segar, dan berat bahan kering. Pengamatan tunas pertama dilakukan setiap hari setelah tanam. tunas dan daun dihitung setiap minggu. panjang helai daun diukur dari pangkal hingga ujung menggunakan penggaris. batang diukur menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,5 mm pada bagian tengah Produksi hijauan segar diukur dengan cara menimbang seluruh bagian tanaman saat panen umur 45 hari. Untuk analisis bahan kering, sampel hijauan segar sebanyak 100gram dikeringanginkan selama 48 jam, lalu dikeringkan dalam oven bersuhu 100Ae150AC hingga berat konstan (Trijaya Gane Putra. Analisis data dilakukan mengunakan ANOVA (Analisis Varianc. mengetahui pengaruh pupuk organik berbasis bio-slurry terhadap pertumbuhan rumput odot dengan menggunakan program SPSS. Apabila terdapat perbedaan yang nyata, maka dilakukan uji lanjut Duncan untuk mengetahui tingkat perbedaan pengaruh tersebut. Menurut Steel dan Torrie . Yij = AA i Ocij HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pemberian pupuk bio-selurry di peroses dengan mengunakan em4 dan ma-11 disajikan dalam tabel. 1 sebagai berikut: Parameter yang diamati Tunas pertama . 6,80 Jumlah tunas . 2,08 Jumlah daun . 6,82 Panjang helaian daun . 13,06 Diameter batang . 0,24 Produksi hijauan segar . 101,4a Bahan kering . Perlakuan 6,80 6,80 2,16 2,28 6,98 7,84 12,30 12,66 0,28 0,29 108,4b 120,2c 6,80 1,88 5,76 11,85 0,27 115,4c Keterangan: Notasi huruf yang berbeda bpada baris yang sama menunjukan perbedaan nyata (P<0,. Hasil penelitian pengamatan tunas pertama tidak menunjukan berbeda nyata (P>0,. Hasil antar perlakuan menunjukan bahwa ratarata tunas pertama keseluruhan perlakuan menunjukkan hasil tunas pertama yang sama yaitu 6,80 hari. Hal ini menunjukkan bahwa Romadhoni, dkk / Tropical Animal Science 7. :239-245 aplikasi pupuk bio-selurry, baik tanpa fermentasi (P. maupun difermentasi dengan EM4 (P. MA-11 (P. , dan kombinasi keduanya (P. , belum berdampak signifikan pada fase awal pertumbuhan tunas rumput Lambatnya respons ini disebabkan karena bio-selurry merupakan pupuk organik yang unsur haranya tidak langsung tersedia, melainkan perlu melalui proses dekomposisi terlebih dahulu agar dapat diserap tanaman (Suwignyo, 2016. Aji et al. , 2. Dalam konteks sistem tumpangsari, legum Indigofera zollingerian juga belum memberikan kontribusi fiksasi nitrogen pada pembentukan bintil akar oleh bakteri Rhizobium membutuhkan waktu 2Ae4 minggu (Giller, 2001. Rosmarkam & Yuwono, 2. Sehingga, kontribusi nutrisi dari legum belum cukup untuk mempengaruhi pertumbuhan awal tunas rumput odot. Hasil penelitian dan analisis ragam jumlah tunas setelah rumput odot di tanam dan bio-slurry menunjukan tidak berbeda nyata (P>0,. Tidak terdapat perbedaan nyata dalam jumlah tunas antar perlakuan (P>0,. Perlakuan P2 . io-slurry MA-. menghasilkan tunas . , namun tidak berbeda signifikan dibanding P1. P0, dan P3. Hal ini kemungkinan besar karena nutrien dari bio-selurry belum tersedia dalam jumlah cukup selama fase vegetatif awal. Seperti dijelaskan Kartasapoetra & Sutedjo . , pupuk organik membutuhkan waktu untuk terurai sebelum dapat dimanfaatkan Serli dan Harmoko . , menyatakan bahwa rasio pemberian pupuk yang tidak tepat dapat menghambat penyerapan nutrisi untuk perkembangan tunas. Sehingga pada awal pertumbuhan pengamatan jumlah tunas, nutrisi yang diberikan pupuk bio-selurry mungkin tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan jumplah tunas. Penelitian ini didukung oleh Yulipriyanto dan Suryanto . , yang juga menunjukkan bahwa tanaman awal respons pupuk organik seperti bio-selurry lebih lambat dari pada pupuk anorganik. Namun, dampak yang di berikan dari waktu ke waktu lebih tahan lama sehingga dapat Sementara tumpangsari, interaksi akar antara Indigofera dan rumput odot pada awal pertumbuhan dapat bersifat kompetitif dalam menyerap hara dari zona perakaran yang sama, sehingga menurunkan efektivitas penyerapan nutrisi oleh rumput odot (Fajri et al. , 2. Hasil penelitian dan analisis ragam setelah rumput odot ditanam dan pemberian pupuk organik bio-slurry tidak berbeda nyata (P>0,. Jumlah daun tertinggi diperoleh pada P2 dengan rata-rata menghasilkan sebanyak 7,84 cm. Hal ini dikarena, disebabkan belum tersedianya unsur hara dalam bentuk yang mudah diserap tanaman pada fase awal pertumbuhan (Supriyadi, 2. Namun dalam jangka panjang, bio-slurry difermentasi EM4 dan MA-11 dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah. Dalam pola tumpangsari. Indigofera dapat membantu menambah nitrogen tanah melalui fiksasi, yang akan bermanfaat pada fase pertumbuhan vegetatif selanjutnya (Siregar et al. , 2020. Subrata & Munir, 2. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik bio-slurry tidak berbeda nyata (P>0,. Rata-Rata panjang daun tertinggi terdapat pada perlakuan P0 sebesar 13,6 dan diikuti oleh perlakuan P2: 12,66 dan P1: 12,30. P3: 11,85. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk bioselurry yang di peroses dengan mikrooganise EM4. MA-11 dan pupuk kontrol belum dapat meningkatkan panjang daun yang dihasilkan Hal ini disebabkan karena Pupuk bioselury belum seimbang unsur hara C/N atau rendahnya ketersedian nitrogen dalam pupuk pada saat awal aplikasi (Hidayati, et al. , 2. Bio-selurry memiliki potensi untuk dapat meningkatkan panjang helaian daun dalam jangka panjang, kandungan bahan organiknya Romadhoni, dkk / Tropical Animal Science 7. :239-245 mampu memperbaiki sifat fisik tanah dan mendukung pertumbuhan mikroorganisme ketersediaan unsur hara makro dan mikro Nutrisi makro (Tim Biru, 2. Pengamatan diameter batang juga menunjukkan tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,. Rata-Rata diameter batang tertinggi terdapat pada Perlakuan P2 . ,2952 Hal ini disebabkan karena pengaruh bioslurry terhadap ketebalan batang belum cukup besar pada fase awal. Pertumbuhan batang lebih dipengaruhi oleh genetik dan kondisi air (Harahap, 2. Efek sinergis antara pupuk dan sistem tumpangsari juga belum optimal, karena diperlukan waktu dan ketercukupan unsur hara seperti N. P, dan K untuk mendorong pembentukan jaringan batang (Gardner et al. Munawar, 2. Kombinasi bio-selurry dan legum baru menunjukkan sinergi yang nyata pada pemupukan jangka menengah hingga panjang (Suwarto & Wicaksana, 2. Produksi hijauan segar menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan (P<0,. Perlakuan P2 dan P3 menghasilkan produksi tertinggi . ,2 g dan 115,4 . Hal ini menunjukkan bahwa pupuk bio-selurry yang difermentasi EM4 dan MA-11 efektif dalam meningkatkan biomassa melalui dekomposisi nutrien yang lebih cepat dan efisien (Hidayat et , 2. Efek ini diperkuat oleh keberadaan legum Indigofera dalam sistem tumpangsari yang mampu meningkatkan ketersediaan nitrogen tanah melalui fiksasi biologis (Wahyudi, 2. Dengan demikian, kombinasi bio-selurry EM4 MA-11 dan tumpangsari Indigofera menunjukkan potensi terbaik dalam mendukung produksi hijauan segar. Parameter menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan (P>0,. Hasil Rata-Rata mengindikasikan bahwa walaupun terdapat peningkatan produksi hijauan segar, konversinya ke dalam bahan kering belum optimal. Seperti dijelaskan oleh Sutardi . , kandungan bahan kering sangat dipengaruhi oleh kadar air dan belum tentu sebanding langsung dengan biomassa Namun, aplikasi berulang pupuk bioselurry dan pengaruh jangka panjang dari Indigofera meningkatkan hasil bahan kering secara akumulatif, karena adanya penambahan nitrogen dan perbaikan struktur tanah (Santosa et al. , 2021. Sundari et al. , 2. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah bio-selurry berpengaruh nyata terhadap produksi hijauan segar namun tidak berpengaruh nyata terhadap tunas pertama, jumlah kemunculan tunas, panjang helian daun, jumlah daun, bahan Pemupukan bio-selurry yang di proses dengan EM4 MA-11 serta yang di proses MA11 meningkatkan produksi hijauan segar rumput odot. DAFTAR PUSTAKA