Jurnal Kajian Bali Journal of Bali Studies p-ISSN 2088-4443 # e-ISSN 2580-0698 Volume 10, Nomor 02, Oktober 2020 http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali .......................................................................................................................................... Terakreditasi Sinta-2, SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti No. 23/E/KPT/2019 .......................................................................................................................................... Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi: Kajian Linguistik Kebudayaan Ni Wayan Sartini Universitas Airlangga Penulis Koresponden ni-wayan-s@fib.unair.ac.id Abstract Verbal Expressions of Balinese Community on the Birth of a Baby: A Cultural Linguistics Study The birth of a baby is universally always accompanied by a joyful and touching expressions. This article aims to describe the verbal expression of Balinese people to the birth of a baby. The data was taken from social media Whatsapp and Facebook which is collecting using the observation method assisted by saving techniques. The data were analyzed by discovering the essence of the expressions and correlating it to Balinese culture. The analysis results discovered that there are differences in the verbal expressions toward baby boys and baby girls. The expressions toward baby boys contained more positive meanings like hopes, happiness, and gratitude; meanwhile, for baby girls, in addition to positive meanings such as prayers and hopes, it also comprised negative meanings, such as disappointment and less grateful. This implied the gender inequality since Balinese community still give preference of men. Variations of these verbal expression were not merely accidental, yet it ideologically demonstrated how the community perceives the existing realities. Keywords: baby boys and girls, Balinese community, cultural linguistics, verbal expression Abstrak Kelahiran bayi selalu disertai ungkapan suka cita dan meng­ harukan. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan ekspresi verbal masyarakat Bali terhadap kelahiran bayi. Data diambil dari media sosial WhatsApp dan Facebook yang dikumpulkan dengan metode simak yaitu menyimak ungkapan masyarakat Bali terhadap kelahiran bayi di media sosial dibantu dengan teknik simpan. Data dianalisis dengan cara menemukan inti ungkapan tersebut dikaitkan dengan konteks budaya Bali. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan ekspresi verbal JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 395 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 antara bayi laki-laki dan perempuan. Ekspresi verbal untuk bayi laki-laki banyak mengandung makna positif seperti harapan, kebahagiaan, rasa syukur sedangkan untuk bayi perempuan di samping makna positif seperti doa dan harapan, juga mengandung makna negatif seperti kurang bersyukur dan rasa penyesalan. Hal tersebut mengimplikasikan adanya bias gender karena ekspresi verbal yang diberikan mengandung ketimpangan yaitu masyarakat Bali masih mengutamakan jenis kelamin laki-laki. Variasi ekspresi verbal tersebut tidak semata-mata karena kebetulan, tetapi secara ideologis menunjukkan pemaknaan masyarakat terhadap fakta atau realitas yang ada. Kata kunci: ekspresi verbal, bayi laki-laki dan perempuan, linguistik kebudayaan, masyarakat Bali 1. Pendahuluan ada umumnya setiap pengantin baru pasti berharap dapat memiliki keturunan karena tujuan pernikahan salah satunya adalah melanjutkan keturunan. Oleh sebab itu, kehadiran bayi dalam sebuah keluarga merupakan keinginan utama dari setiap pasangan suami-istri. Dalam kebudayaan dan tradisi Bali, keturunan dapat dianggap sebagai sumber kebahagiaan seluruh keluarga. Oleh karena itu, berbagai macam upaya dilakukan oleh pasangan menikah agar mendapatkan keturunan. Begitu pula yang terjadi pada masyarakat Bali dan mungkin juga pada seluruh masyarakat di dunia. Pada masyarakat Bali pentingnya keturunan karena seorang anak sebagai penerus garis keturunan dan sebagai pelestari adat dan tradisi. Di samping itu kedudukan anak atau keturunan termasuk sesudah mereka melangsungkan perkawinan (pasangan suami istri) sangat penting karena terkait dengan penerusan tanggung jawab orang tua dan leluhur baik berupa kewajiban atau swadharma maupun hak atau swadikara (Dyatmikawati, 2015 :740). Sama halnya dengan masyarakat-masyarakat lainnya di dunia, bagi masyarakat Bali memiliki keturunan adalah sebuah anugerah Tuhan yang harus selalu disyukuri. Oleh sebab itu, dalam konsep masyarakat Bali, keturunan itu akan dirawat, dibesarkan, dan dididik dengan penuh kasih sayang. Hal ini merupakan sebuah tindakan positif dan mengandung nilai-nilai luhur. Pada era modern seperti saat P 396 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... ini, banyak pasangan yang tidak mempersoalkan jenis kelamin anak. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan bagi mereka sama saja. Namun, dalam kenyataannya ada semacam diskrinimasi terhadap jenis kelamin seorang anak. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata jenis kelamin anak masih menjadi persoalan (Susanta, 2018). Hal ini nampak dari ekspresi verbal atau ungkapan yang diberikan ketika menyambut kelahiran bayi dengan jenis kelamin tertentu. Variasi ekspresi verbal yang diberikan terhadap kelahiran seorang bayi pada masyarakat Bali bermacam-macam bentuknya. Ekspresi verbal tersebut sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis dari sudut pandang linguistik kebudayaan. Ekspresi verbal tersebut bukan hanya semata-mata data linguistik yang berdiri secara linier sebagai rentetan bunyi, melainkan merupakan bagian dari ekspresi totalitas lahir-batin (ekspresi verbal maupun non-verbal) masyarakat penuturnya berdasarkan konteks budaya yang dimiliki beserta dengan segala nilai-nilai kehidupan secara individual maupun berkelompok (Rais, 2017:50). Ekspresi verbal sebagai data bahasa merupakan refleksi dari cara pandang serta filosofi kehidupan yang dianut oleh penuturnya. Berkaitan dengan itu (Suhandano, 2004:41) menyatakan untuk menafsirkan dan memahami pandangan dunia penutur terhadap suatu hal dapat dilakukan dengan memeriksa kosa kata, dalam hal ini dapat juga dilakukan dengan mengkaji ekspresi verbal yang berupa frasa dan kalimat-kalimat. Dalam kaitan dengan ekspresi verbal, menurut Liliweri (2002), terdapat dua jenis ekspresi untuk bahasa, yaitu ekspresi verbal dan nonverbal. Bahasa tidak selalu digunakan dalam bentuk tuturan atau tulisan, namun ada cara lain yang dapat digunakan. Di dalam interaksi menggunakan bahasa, terdapat ekspresi yang dikomunikasikan secara verbal (kata-kata) dan nonverbal (tidak dengan kata-kata). Ekspresi verbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan kata, frasa, atau kalimat sedangkan nonverbal dapat berupa gerakan tubuh atau aktivitas dan benda-benda. Berkaitan dengan itu, ekspresi verbal dalam tulisan ini adalah bentuk pengungkapan untuk kelahiran seorang bayi baik laki-laki maupun perempuan dalam bentuk data tulis yang ditemukan di media sosial. Masyarakat Bali sebagaimana telah diketahui secara umum, menganut sistem perkawinan patrilineal yang menempatkan garis JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 397 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 keturunan ada pada anak laki-laki. Maka dari itu dalam adat dan tradisi Bali, seorang anak laki-laki memegang peranan penting dibandingkan dengan anak perempuan. Untuk itu, persoalan jenis kelamin anak pun akan sangat diperhitungkan dan hal itu terlihat jelas dalam ekspresi verbal dalam menyambut kelahiran seorang bayi. Tulisan ini membahas ekspresi verbal yang disampaikan oleh masyarakat Bali terhadap kelahiran seorang bayi baik laki-laki maupun perempuan. Ekspresi verbal tersebut berupa pengungkapan yang disampaikan atas kelahiran seorang bayi melalui media sosial. Topik ini menarik karena ekspresi verbal dalam bentuk pengungkapan ini mengandung muatan-muatan budaya dari masyarakat Bali. Ekspresi verbal tersebut tidak semata-mata berupa deretan bunyi tanpa makna namun mengandung makna yang berkaitan dengan latar belakang sosial budaya serta tradisi yang hidup pada masyarakat Bali. 2. Metode Penelitian dan Teori 2.1 Metode Penelitian Korpus data penelitian ini bersumber dari percakapan yang ada di media sosial Facebook dan Whatsapp Group (Wag) yang diambil dari bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2020. Data dikumpulkan dengan metode simak dan teknik simpan, yaitu menyimak percakapan mengenai kelahiran bayi di media sosial Wag Sektor Deltasari Jawa Timur (dengan anggota 86), Wag Pura JSA Juanda Sidoarjo (anggota 120), Wag alumni Sastrindo Unud (anggota 74), Wag Smantap (anggota 90), Wag Keluarga Cemara (anggota 30), Wag Keluarga Cempaka (anggota 45), Wag Golfer Bali Jatim (anggota 30), Wag Arisan Hindu (anggota 35) dan percakapan di Facebook. Data yang dipilih dalam percakapan tersebut adalah yang berkategori ekspresi verbal (ungkapan) yang ditujukan untuk kelahiran bayi. Data yang sama atau memiliki kemiripan akan dipilih satu data untuk mewakili bentuk ungkapan tersebut. Jumlah data yang terkumpul sebanyak 184 ekspresi verbal dengan berbagai bentuk ungkapan dan selanjutnya disimpan dalam file-file data. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode kualitatif melalui tahapan-tahapan yaitu klasifikasi dan identifikasi data (ekspresi verbal bayi laki-laki dan perempuan); analisis inti ekspresi verbal (bentuk pengungkapan) dan tahapan terakhir adalah mengaitkan ekspresi verbal tersebut dengan konteks sosial budaya 398 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... masyarakat Bali. Hasil analisis terhadap ekspresi verbal ini akan disajikan dengan metode informal yaitu metode penyajian hasil analisis data dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. 2.2 Teori 2.2.1 Linguistik Kebudayaan Bahasa dan budaya memiliki kaitan yang sangat erat karena penggunaan bahasa adalah cermin dari budaya penuturnya. Bahasa adalah refleksi nilai-nilai budaya masyarakatnya. Tulisan ini merupakan kajian yang mengaitkan antara bahasa dan kebudayaan. Oleh sebab itu kajian dalam tulisan ini merupakan kajian Linguistik Kebudayaan atau Linguistik Budaya. Linguistik Kebudayaan adalah sebuah kajian multidisiplin yang mengkaji hubungan antara bahasa, budaya dan konseptualisasi (Palmer, 1996; Sharifian, 2011). Linguistik kebudayaan menggali secara eksplisit konseptualisasi yang memiliki basis budaya yang dikodekan dan dikomunikasikan lewat fiturfitur bahasa manusia. Berkaitan dengan istilah yang digunakan oleh beberapa ahli, istilah linguistik budaya tersebut dapat dipahami memiliki kesepadanan dengan istilah linguistik antropologi yang digunakan Foley (1997). Berbagai istilah yang digunakan oleh para ahli hanyalah ‘masalah sudut pandang’ (Oktavianus, 2006:116). Dengan demikian linguistik kebudayaan adalah disiplin ilmu yang lebih jauh mengupas bahasa untuk mengemukakan pemahaman budaya, dan menaruh perhatian terhadap posisi bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas untuk memajukan dan mempertahankan praktik-praktik budaya dan struktur sosial (Foley, 1997:3). Berkaitan dengan itu, Mbete (2004:34) menyatakan linguistik kebudayaan sebagai ilmu interdisipliner yang mengkaji hubungan kovariatif antara struktur bahasa dengan kebudayaan suatu masyarakat. Linguistik kebudayaan pertama kali digunakan oleh Ronald Langacker sebagai pendiri dari linguistik kognitif dan dalam pernyataannya menekankan hubungan antara pengetahuan budaya dan gramatika (Sharifian, 2015). Teori Linguistik kognitif mengakui bahwa pondasi pengetahuan budaya tidak hanya pada leksikon tetapi berpusat juga pada aspek tatabahasa dan makna diidentifikasi sebagai konseptualisasi, kognisi di semua tingkatan yang diwujudkan dan JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 399 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 disematkan secara budaya. Sementara itu Palmer (1996:3) menyatakan bahwa bahasa adalah permainan simbol verbal yang didasrkan pada pencitraan, dan pencitraan itu dibangunsecara budaya. Palmer juga berpendapat bahwa citra yang ditentukan secara budaya mengatur bentuk bahasa figuratif, semantik, tata bahasa, wacana, dan bahkan fonologi. Linguistik kebudayaan harus dipahami sebagai kajian yang mengaitkan antara peran bahasa yang sangat sangat luas yaitu sebagai wadah budaya karena persoalan bahasa tidak semata-mata masalah internal saja melainkan kaitan dan pengaruhnya atas sendi-sendi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Linguistik kebudayaan mengkaji bahasa dalam konteks budaya dan mencoba mencari makna tersembunyi yang ada di balik pemakaian bahasa. Akibatnya berbagai aspek sosio-kultural tidak dapat diabaikan ketika kajian itu berangkat dari aspek intralinguistik karena aspek ekstralinguistik sering tidak dapat terlepas begitu saja dari aspek intralinguistik (Rais, 2017:50). Oleh karena itu secara mikrolinguistik data yang dipakai berupa kosa kata, frasa, struktur kalimat, bentuk-bentuk kalimat, register, dan sejenisnya (Kridalaksana, 2008:59) dan melalui data tersebut akan diperoleh dan ditafsirkan informasi-informasi penting mengenai sistem pengetahuan yang terkandung di dalamnya (Foley, 2001:3). Dengan demikian, menggali data bahasa berupa ekspresi verbal masyarakat Bali ini merupakan kajian linguistik kebudayaan. Ekspresi verbal yang berupa ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh masyarakat Bali terhadap kelahiran seorang bayi merupakan kajian linguistik kebudayaan yakni bidang ilmu yang mengkaji hubungan antara bahasa dan kebudayaan dalam suatu masyarakat (Richards dan Weber, 1990:13). Dalam ekspresi verbal tersebut melekat simbol-simbol budaya yang hidup dan berkembang pada masyarakat Bali. Sejalan dengan hal itu dan sesuai dengan pendapat Boas (dalam Suhandano, 2004) menyatakan bahwa bahasa merupakan manifestasi terpenting dari kehidupan mental penuturnya dan sebagai dasar pengklasifikasian pengalaman sehingga berbagai bahasa mengklasifikasikan secara berbeda-beda dan tidak selalu disadari oleh penuturnya. Sehubungan dengan itu, dapat dipahami bahwa pengklasifikasian yang tampak pada sistem tata bahasa mencerminkan pikiran dan psikologi penuturnya. 400 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... Bahasa merupakan jalan yang paling mudah untuk sampai pada sistem pengetahuan suatu masyarakat (Ahimsa-Putra, 1985:107). Melalui bahasa berbagai pengetahuan baik yang tersembunyi (tacit) maupun yang tidak (explicit) terungkap oleh peneliti (Ahimsa-Putra, 1985:121). Data primer yang diperoleh dari masyarakat dan berkaitan dengan ekspresi linguistik dan ketegorisasi budaya dalam masyarakat pendukungnya secara teknis dikumpulkan dengan metode etnossains dalam kajian etnolinguistik (Rais, 2017:51). 2.2.2 Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan pada masyarakat Bali menganut sistem sistem patrilineal, dalam hal ini garis keturunan ditarik melalui pihak laki-laki (purusa) menurut garis lurus. Dalam kaitan ini pihak laki-laki memegang peran penting baik dalam hubungan kekeluargaan itu sendiri maupun dalam hubungan kemasyarakatan. Dalam hubungan dengan kekeluargaan, anak laki-laki (purusa) sebagai penerus keturunan, penerus hak dan kewajiban dalam keluarga. Anak lakilaki mempunyai hak mewaris harta kekayaan orang tuanya (pewaris) dan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam pemeliharaan sanggah atau pemerajan baik secara fisik maupun spiritual (Budiana, 2009:10). Di samping itu, kewajiban lain adalah melakukan pitra yadnya (persembahan kepada para leluhur) antara lain pembakaran jenazah orang tuanya yang disebut ngaben (upacara pembakaran mayat). Dalam hubungan dengan kemasyarakatan, peran laki-laki dalam struktur kuren (keluarga) di Bali tampak lebih menonjol yaitu sebagai krama (anggota) banjar dan desa. Oleh sebab itu, kehadiran anak lakilaki menjadi harapan utama bagi masyarakat Bali. Hal itu akan terlihat dalam ekspresi verbal yang diberikan ketika merespon kelahiran seorang bayi laki-laki. Menurut Astiti (1994) nilai seorang anak bagi orang tua dapat diketahui antara lain adanya kenyataan bahwa anak menjadi tempat orang tua mencurahkan kasih sayang, anak merupakan sumber kebahagiaan keluarga, anak menjadi tempat orang tua untuk meng­ gantungkan harapan. Selanjutnya dikatakan, keinginan memiliki anak bagi masyarakat Bali terkait dengan nilai anak yang dikategorikan dari berbagai segi, yaitu religius, sosial, ekonomi, dan psikologis. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 401 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 Secara khusus di keluarga Bali, mempunayi anak sangat penting karena hal tersebut dapat dianggap menjadi hutang kepada orang tua, karena dengan mempunyai anak barulah segala macam kesulitan dan penderitaan yang pernah dialami orang tua dapat dirasakan. Menurut penelitian Astiti, keinginan memiliki anak bagi orang Bali terkait dengan nilai anak yang dikategorikan dari berbagai segi yaitu segi religius, sosial, ekonomi, dan psikologis. Pertama, anak dari sudut pandangan religius mempunyai nilai yang dilandasi oleh adanya prinsip hutang secara timbal balik antara orang tua dan anak. Seorang anak dapat membayar hutang orang tuanya kepada leluhur (Astiti, 1999: 237-238). Kedua, kedudukan anak laki-laki lebih tinggi dari anak perempuan. Masyarakat Bali yang dipengaruhi sistem patrilineal menetapkan bahwa warisan diteruskan melalui garis keturunan lakilaki. Aturan pewarisan ini secara umum diatur dalam hukum adat dan secara khusus diatur dalam awig-awig(aturan) banjar (desa) masingmasing (Astiti, 1999: 234-235). Ketiga, dari sudut ekonomi anak berperan untuk memberikan bantuan baik berupa tenaga maupun materi. Bantuan tersebut dilandasi adanya kewajiban, sedangkan bantuan yang diberikan anak perempuan hanya bersifat sukarela (Astiti, 1999: 237). Keempat, kelak seorang anak dapat menggantikan orangtua dalam melaksanakan kegiatan adat di lingkungan kerabat maupun masyarakat. Selain itu, anak dirasakan dapat menghibur orangtua, memberi dorongan untuk lebih maju, dan bertahan dalam situasi sulit (Astiti, 1999: 237). Menurut Astiti, keempat segi tersebut menyebabkan masyarakat Bali, lebih mengharapkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Hasil penelitian Astiti tersebut juga dapat dijumpai ke­mi­ ripannya pada warga Olooloho, Konawe, Sulawesi yang mayoritas berasal dari suku Bali (Susanta, 2018). Warga desa Olooloho di Konawe Sulawesi sebagian besar bekerja sebagai petani. Menurut beberapa orang warga, selain alasan budaya atau adat, kehadiran seorang anak dalam keluarga dapat membantu pekerjaan mereka (alasan praktis) seperti anak-anak bisa membantu pekerjaan orang tua untuk ngangon (menggembalakan) sapi atau bekerja di sawah. Anak laki-laki juga bisa 402 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... ngarit (mencari rumput) sedangkan anak perempuan bisa membantu pekerjaan ibunya di rumah. Para orangtua di desa membiasakan anak mereka untuk membantu bekerja baik di sawah milik keluarga sendiri maupun bekerja dengan mendapatkan upah dari orang lain (Susanta, 2018). 2.2.3 Bahasa dan Gender Ekspresi verbal adalah fakta linguistik (bahasa). Bahasa merupakan sebuah dinamika yang dapat merefleksikan budaya masyarakatnya. Oleh sebab itu, berbagai aspek dapat diketahui dari penggunaan bahasa. Salah satunya adalah adanya ketimpangan gender dalam suatu budaya seperti pada ekspresi verbal ini. Banyak bahasa menunjukkan gambaran gender yang terkandung dalam katakata dan gramatika serta bentuk-bentuk linguistik khusus yang dapat mengekspresikan gambaran gender secara bervariasi. Bagaimana persepsi dan pandangan suatu masyarakat terhadap gender akan terkodekan dalam bahasanya. Posisi laki-laki dan perempuan secara sosial berbeda dalam lintas budaya, tingkat perbedaan tersebut terpola dalam bentuk-bentuk linguistik. Dalam beberapa bahasa ada aturan-aturan bentuk eksklusif gender yang berlaku mengarah pada perbedaan yang tetap antara laki-laki dan perempuan (Bonvillain, 2003:239). Namun dalam pola yang lebih luas, merupakan preferensi untuk alternatif linguistik, diperlihatkan melalui frekuensi dalam penggunaan berbagai variasi stilistik yang meliputi bunyi-bunyi, kata-kata, dan kostruksi gramatika. 3. Hasil dan Pembahasan Ditinjau dari struktur formalnya, ekspresi verbal yang di­ sampaikan terhadap kelahiran seorang bayi sangat bervariasi, yaitu terdiri atas kata, frasa, kalimat dan bahkan ada yang berbentuk paragraf. Dari variasi bentuk tersebut pembahasan difokuskan pada inti dari ekspresi verbal yang ditujukan untuk kelahiran bayi perempuan atau laki-laki (Foto 1 dan Foto 2). JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 403 Hlm. 395–416 Ni Wayan Sartini Foto 1. Bayi perempuan dalam suatu upacara secara Hindu (Foto: Barnie). Foto 2. Bayi laki-laki dalam sebuah upacara Hindu Bali (Foto: Sukma Nursasih). 3.1 Ekspresi Verbal untuk Kelahiran Bayi Laki-laki Pada umumnya kelahiran seorang bayi akan disambut dengan rasa bahagia. Kebahagiaan tersebut ikut dirasakan oleh seluruh keluarga, kerabat dan sahabat yang diwujudkan ekspresi verbal atau pengungkapan baik yang disampaikan secara langsung maupun lewat media sosial. Berikut ini adalah bentuk pengungkapan untuk menyambut kelahiran bayi laki-laki di media soosial. (1) Selamat ya sudah dapat baby laki-laki penerus keturunan di sini. Selamat ya atas kelahiran baby-nya. Laki apa perempuan? Wah selamat laki-laki, dapat pewaris keluarga nih. (2) Selamat ya, dapat penerus keluarga, semoga menjadi anak suputra dan membanggakan keluarga. (3) Wow, yang diinginkan dapet baby cowok kebanggaan keluarga. Semoga cepat besar dan pintar. (4) Akhirnya doaku terkabul dapat keturunan laki-laki sebagai tiang penjaga orang tua. (6) Waduh, seperti dapat undian 1 miliar rasanya dapat baby laki-laki. Astungkara. (7) Astungkara, sampun wenten jagoan mangkin di rumah Pak Made 404 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... semoga menjadi anak suputra. (8) Pihhh..jagoan nihh..mantap! (9) Selamat atas kelahiran putranya ya, astungkara diberkahi bayi lakilaki. (10) Suksma. Bentuk kasih sayang Tuhan yang sangat besar, terima kasih atas perlindunganNya. Semoga selalu diberi yang terbaik untuk kami. (11) Selamat ya Mang, duhhh rasanya bahagia banget. (12) Matur suksma Dik Komang, kebetulan permohonan kami di­ kabulkan Ida SWW...ya tiang sangat bersyukur atas nikmat dan anugerah ini. Data (1-12) di atas mengandung inti dari ekspresi verbal (bentuk pengungkapan) terhadap kelahiran bayi laki-laki. Inti bentuk pengungkapan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Inti pengungkapan untuk bayi laki-laki No. Inti bentuk pengungkapan 1. Jagoan, jagoan ganteng, jagoan top 2. Suputra 3. Berkah 4. Anugerah 5. Mantap 6. Pangeran 7. Pewaris keluarga 8. Penerus keluarga 9. Kebanggaan keluarga 10. Penerus keturunan 11. Tiang penjaga keluarga 11. Putera tercinta yang ganteng 12. Putera ganteng 13. Bahagia banget 14. Seperti dapat undian 1M 15. Sangat bersyukur atas nikmat dan anugerah ini 16. Bentuk kasih sayang Tuhan yang sangat besar Dari inti ekspresi verbal (bentuk pengungkapan) pada Tabel 1 terlihat kebahagiaan yang mendalam dan rasa syukur ketika JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 405 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 mendapatkan seorang bayi laki-laki. Hal itu tercermin dari pilihan kata atau diksi yang menyusun ekspresi verbal tersebut. Di samping mengandung kebahagiaan dan rasa syukur, bentuk pengungkapan tersebut juga mengandung doa dan harapan yang secara keseluruhan mengandung makna positif. Untuk mengetahui adanya bias gender pada ekspresi verbal tersebut, data diklasifikasikan menjadi dua yaitu data dengan makna positif dan negatif yang dipresentasikan dalam bukti linguistik yang ditemukan. Bentuk pengungkapan dengan makna positif terlihat sebagai berikut: (1) fisik (jagoan, jagoan ganteng, jagoan top, pangeran, putera tercinta yang ganteng, putera ganteng); (2) penerus keluarga (pewaris keluarga, Penerus keluarga, tiang penjaga keluarga); (3) rasa syukur (berkah, anugerah, Sangat bersyukur atas nikmat dan anugerah ini, Bentuk kasih sayang Tuhan yang sangat besar, Seperti dapat undian 1M; (4) harapan (suputra, kebanggaan keluarga). Makna negatif tidak ditemukan dalam data bentuk pengungkapan kelahiran bayi laki-laki. Hal ini merefleksikan bahwa kelahiran seorang bayi laki-laki pada masyarakat Bali pada umumnya merupakan suatu kebahagiaan dan rasa syukur kepada Tuhan. Dilihat dari inti bentuk pengungkapan untuk bayi laki-laki, terdapat pilihan kata jagoan untuk mengekspresikan kebahagiaan. Kata jagoan membentuk frase jagoan ganteng, jagoan top, sang jagoan. Kata jagoan secara semantik mengandung kekuatan, kejantanan, dan memiliki asosiasi positif. Dalam konteks budaya Indonesia pada umumnya seorang laki-laki adalah seorang jagoan karena dianggap memiliki kekuatan. Oleh sebab itu kelahiran seorang bayi laki-laki selalu diungkapan dengan kata jagoan seperti pada data di atas. Kemudian inti ungkapan yang juga memiliki frekuensi penggunaan yang tinggi adalah kata suputra. Secara etimologi kata suputra berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna ‘putra yang baik’. Kelahiran anak yang suputra merupakan tujuan dari setiap keluarga. Dengan kata ini diharapkan bayi laki-laki yang dilahirkan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Kata suputra ini tidak hanya ditujukan pada kelahiran bayi laki-laki, namun juga ditujukan untuk kelahiran bayi perempuan. Pada umumnya kelahiran bayi baik laki-laki maupun perempuan diharapkan menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua. 406 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... Inti bentuk pengungkapan yang lainnya, yaitu pewaris keluarga, penerus keluarga, penerus keturunan, kebanggaan keluarga, dan tiang penjaga orang tua. Inti ungkapan tersebut berkait erat dengan kekerabatan masyarakat Bali yang menganut sistem patrilineal dan menempatkan laki-laki sebagai penerus keturunan. Dari inti ekspresi verbal atau bentuk pengungkapan yang ditujukan terhadap kelahiran anak lakilaki tampak jelas bahwa laki-laki dalam masyarakat Bali merupakan yang utama karena sebagai pewaris keluarga dan penerus keturunan. Oleh karena itu, kelahiran bayi laki-laki merupakan keturunan yang benarbenar diharapkan seperti pada ungkapan “Inilah yang saya inginkan baby laki-laki penerus keturunan di sini”. Dari penelusuran terhadap ekspresi verbal terhadap kelahiran bayi, frase pewaris keluarga dan penerus keluarga cenderung ditujukan kepada bayi laki-laki dan jarang ditujukan kepada bayi perempuan walaupun pada kenyataannya pada daerah-daerah tertentu ada sistem perkawinan nyentana yang mana perempuan bisa berkedudukan sebagai purusa yang sekaligus dapat sebagai penerus keturunan dan pewaris keluarga. Pengutamaan terhadap anak laki-laki berkaitan erat dengan sistem kekerabatan di Bali yang menganut sistem patrilineal, yaitu keturunan berdasarkan garis keturunan laki-laki (purusa). Di samping itu, berkait erat juga dengan kewajiban anak laki-laki, antara lain kewajiban (1) terhadap desa adat; (2) kewajiban menjaga kelangsungan ibadah pura, pemerajan yang bersifat dewa yadnya; (3) kewajiban melakukan manusia yadnya dan pitra yadnya terhadap anggota keluarga, orang tua maupun saudari perempuannya yang janda atau gadis; (4) kewajiban melanjutkan keturunan dengan memili­ki anak kandung atau anak angkat; (5) mewarisi harta kekayaan keluar­ga sebaliknya juga semua hutang piutang ; (6) memelihara hidup anggo­ta keluarga termasuk saudari-saudari yang menjadi tanggung jawabnya (Astiti, 1994). Di samping anak laki-laki sebagai penerus keturunan, ekspresi verbal yang ditujukan kepada anak laki-laki berbentuk frase, yaitu kebanggan keluarga. Frase ini pada umumnya juga ditujukan kepada bayi perempuan sehingga ekspresi verbal ini bermakna positif dan bersifat umum. Di samping menjadi kebanggaan keluarga, kelahiran bayi laki-laki mendatangkan rasa bahagia yang amat dalam seperti terkandung dalam ekspresi verbal “seperti mendapat undian 1 M” serta JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 407 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 rasa syukur kepada Tuhan yang tercermin dalam ungkapan “Sangat bersyukur atas nikmat dan anugerah ini”, “Bentuk kasih sayang Tuhan yang sangat besar”. Pandangan pentingnya anak laki-laki dalam keluarga Bali tidak saja kental dalam masyarakat Bali yang hidup dalam alam tradisi yang kuat, tetapi juga keluarga Bali modern yang hidup di metropolitan atau luar negeri. 3.2 Ekspresi Verbal untuk Kelahiran Bayi Perempuan Kelahiran seorang bayi perempuan direspon dengan berbagai ekspresi verbal dalam bentuk ungkapan dan ucapan oleh masyarakat Bali di media sosial. Seperti halnya ucapan untuk laki-laki, ucapan untuk bayi perempuan juga akan difokuskan pada inti bentuk pengungkapan tersebut. Variasi bentuk pengungkapan untuk kelahiran bayi perempuan dapat dilihat pada data berikut ini. Bentuk pengungkapan untuk bayi perempuan. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Selamat atas kelahiran putri cantiknya. Babynya cewek? Wah ngelah tukang canang. Selamat ya. Luh buin puk. Nah idepang sing ngelah. Kanggoang luh, nyanan tambah lagi. Selamat ya, putri cantiknya nanti bisa bantu ibunya. Selamat, untuk putri yang diharapkan. Yaaahh cewek lagi..yang penting sehat. Selamat ya. Selamat ya, sudah dapat putri cantik semoga dapat menjaga adikadiknya nanti. 9) Congrat untuk kelahiran baby cantiknya...Wah, ini nanti calon diplomat. 10) Selamat atas kelahiran untuk bidadari cantiknya ya Mb.. 11) Om suastiastu Selamat Pak Putu dan klg atas kelahiran putrinya. Semoga ibu dan bayinya dalam keadaan sehat walafiat, sang bayi tumbuh menjadi anak yang suputra. 12) Selamat mas Putu dan Mbak Ayu atas kehadiran Ananda tercinta.. smoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua..sehat selalu. 13) Slamat pak Putu kelahiran putrinya. Mangde sehat. Swaha. 14) Selamat atas kelahiran putrinya semoga kehadiran putri tercinta menambah kebahagiaan perjalanan hidup berkeluarga..svaha. Bentuk pengungkapan atau ucapan sebagai bentuk ekspresi verbal akan difokuskan pada inti ungkapan tersebut baik berupa kata, frasa maupun kalimat yang dapat mewakili keseluruhan ungkapan. Inti bentuk ungkapan tersebut akan ditabelkan seperti pada Tabel 2 408 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... berikut ini. Tabel 2. Inti pengungkapan untuk bayi perempuan No. Inti bentuk pengungkapan 1. Putri cantiknya 2. Putri yang diharapkan 3. Bidadari cantik 4. Anak yang berbakti pada orang tuanya 5. Anak yang sehat 6. Suputra 7. Menambah kebahagiaan 8. Dapat menjaga adik-adiknya 9. Bisa bantu ibunya 10. Tukang canang 11. Kanggoang luh 12. Idepang sing ngelah 13. Yahh..cewek lagi 14. Calon diplomat Seperti halnya pada kelahiran bayi laki-laki, ekspresi verbal kelahiran bayi perempuan akan diklasifikasikan juga menjadi dua bagian yaitu makna positif dan negatif untuk melihat bias gender yang nampak pada bentuk pengungkapan tersebut. Bentuk pengungkapan dengan makna positif terlihat dari unsur-unsur sebagai berikut: (1) fisik; (Putri cantiknya, Bidadari cantik); (2) sifat penurut; (berbakti kepada orang tua) (3) penyangga keluarga; (tukang canang, menjaga adik-adiknya, membantu ibunya); (4) harapan; (suputra, calon diplomat, menambah kebahagiaan, anak yang sehat); (5) penerus keluarga (--) (6) rasa syukur (--). Sedangkan untuk makna negatif terlihat adanya (1) kurang bersyukur; (Kanggoang luh, idepang sing ngelah); (2) penyesalan (Yah.. cewek lagi). Inti bentuk pengungkapan yang bermakna positif lainnya secara fisik perempuan diasosiasikan sebagai puteri. Kata ini membentuk frase puteri cantiknya, puteri tersayang, bidadari cantik. Hal ini sesuai dengan makna asosiasi bahwa seorang perempuan diibaratkan seorang puteri dan bidadari. Untuk ekspresi verbal atau bentuk pengungkapan positif yang berupa doa dan harapan dimarkahi dengan kata selamat dan semoga seperti; Selamat atas kelahiran bidadari cantiknya, Semoga menjadi JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 409 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 anak yang sehat; Semoga menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya Makna positif lainnya yang juga banyak digunakan untuk pengungkapan kelahiran bayi perempuan adalah kata suputra yang artinya secara umum adalah anak yang baik, berbakti, sopan, tahu etika dan hal-hal yang positif. Ucapan untuk suputra ini juga diberikan kepada bayi laki-laki karena kata ini memiliki makna yang umum. Ekspresi verbal terhadap kelahiran bayi perempuan mengandung muatan budaya yang berkaitan dengan posisi perempuan dalam konteks sosial budaya masyarakat Bali seperti pada data berikut ini. 1) Selamat ya, putri cantiknya nanti bisa bantu ibunya. 2) Selamat ya, sudah dapat putri cantik semoga dapat menjaga adikadiknya nanti. 3) Babynya cewek? Wah ngelah tukang canang. Selamat ya. Dalam data di atas (1-3) terlihat bahwa kelahiran seorang anak perempuan diharapkan membantu ibunya dalam hal pekerjaan perempuan karena seorang perempuan akan dapat membantu dan mengerjakan tugas-tugas domestik yang berkaitan dengan tugas seorang ibu seperti menjaga adik-adiknya. Ada sesuatu yang menarik dalam hal ini karena harapan ini ditujukan terhadap kelahiran seorang bayi perempuan. Hal ini sebenarnya juga bias gender karena tugastugas seperti itu dapat juga dilakukan oleh laki-laki. Dari aspek pengungkapan tersebut, ekspresi verbal atau bentuk pengungkapan terhadap kelahiran bayi perempuan lebih ditekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan domestik penyangga rumah tangga seperti tukang canang ( orang yang membuat perlengkapan keagamaan umat Hindu di Bali untuk ritual atau persembahan), membantu ibunya, menjaga adik-adiknya. Bentuk linguistik tersebut mengandung muatan-muatan budaya bahwa perempuan diharapkan dapat melakukan aktivitas domestik tersebut walaupun sebenarnya tugas-tugas itu juga dapat dilakukan oleh laki-laki. Seperti contoh frase tukang canang yang ditujukan untuk bayi perempuan. Merespon kelahiran bayi perempuan dengan ekspresi verbal seperti pada data (3) Ngelah tukang canang ‘punya anak yang akan membantu membuat dan menghaturkan persembahan atau sesajen’ menunjukkan bahwa tukang canang identik dengan perempuan. Dalam konstruksi budaya masyarakat Hindu Bali perempuanlah yang bertanggung jawab atas 410 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... keberlangsungan ritual-ritual yang diadakan. Oleh sebab itu, secara umum kelahiran seorang anak perempuan cenderung dikaitkan dengan tukang canang. Ini menunjukkan adanya bias gender karena tugas ini bukanlah kodrat melainkan aktivitas yang bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Akan tetapi itulah label yang telah melekat pada perempuan khususnya perempuan Bali. Bentuk ekspresi verbal yang mengandung makna negatif atas kelahiran bayi perempuan meliputi (1) kurang bersyukur dan (2) kekecewaan atau penyesalan. Data ini menunjukkan bahwa kelahiran bayi perempuan bagi sebagian masyarakat Bali tidak dianggap sebagai anugerah seperti halnya bayi laki-laki. Bahkan ada penyesalan dengan hadirnya bayi perempuan lagi seperti yang terlihat pada data berikut ini. 1) Kanggoang luh, nyanan tambah lagi. (‘Diterima saja anak perempuan, nanti tambah lagi’) 2) Luh buin puk. Nah idepang sing ngelah. (‘Perempuan lagi. Ya daripada tidak punya’). 3) Yahh...cewek lagi. Data (1-3) mengandung rasa kecewa terhadap kelahiran bayi perempuan. Dalam data (1) Kanggoang luh, nyanan tambah lagi artinya secara umum ‘diterima saja anak perempuan, nanti tambah lagi’ (untuk mendapatkan bayi laki-laki)’. Makna yang dapat dipahami dari ekspresi verbal tersebut bahwa tetap ada tujuan dan keinginan untuk memiliki keturunan anak laki-laki. Anak laki-laki adalah segalanya sehingga segala upaya dilakukan agar dapat melahirkan bayi laki. Kemudian dalam data (2) Luh buin puk. Nah idepang sing ngelah artinya ‘perempuan lagi, ya... daripada tidak punya (anak)’ menunjukkan bahwa secara tersirat anak perempuan tidak bergitu diharapkan. Data (3) menyiratkan kekecewaan atas kelahiran ayi perempuan untuk anak keduanya. Bukti linguistik dalam bentuk ekspresi verbal tersebut me­ ngandung suatu pemahaman bahwa memiliki keturunan anak perempuan tidaklah cukup karena dalam sistem kekerabatan masyarakat Bali menempatkan laki-laki sebagai pewaris dan penerus keturunan. Dari perbandingan ekspresi verbal yang diberikan terhadap kelahiran bayi laki-laki dan perempuan terlihat adanya bias gender dimana ekspresi verbal untuk kelahiran bayi laki-laki cenderung JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 411 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 bermakna positif sedangkan untuk bayi perempuan ditemukan ekspresi verbal bermakna negatif dengan adanya penyesalan dan sikap kurang bersyukur. Di samping itu ketimpangan gender juga terlihat dalam harapan yang diberikan kepada bayi perempuan cenderung mengarah pada aktivitas penyangga keluarga dan aktivitas domestik. Padahal, aktivitas-aktivitas tersebut dapat dilakukan oleh laki-laki karena aktivitas tersebut bukanlah kodrat yang hanya dapat dilakukan oleh perempuan. Dengan demikian dapat dikatakan, bukti linguistik dalam bentuk ekspresi verbal tersebut mengandung muatan-muatan budaya yang merefleksikan sistem sosial, ideologi, pandangan hidup, tradisi dan budaya masyarakat Bali. Mengingat bahasa adalah salah satu elemen dalam sistem sosial maka ekspresi verbal yang cenderung mengutamakan bayi laki-laki itu berkaitan dengan teori patriarki yang juga dikendalikan oleh kaum laki-laki (Simpson, 1993:161). Konsep lain yang dekat dengan patriarki adalah androsentrisme yang digagas oleh Coates yang memandang laki-laki menjadi pusat dalam memandang dunia sehingga apa yang dilakukan laki-laki dipandang positif sedangkan yang dilakukan perempuan dinilai negatif. Pada umumnya, hubungan bahasa dan gender dilihat dengan menggunakan kacamata teori patriarki yang menggambarkan satu sistem sosial bahwa laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan. Dalam hal bahasa, pandangan ini menganggap bahwa ungkapan yang dikenakan pada laki-laki bernilai lebih baik daripada ungkapan untuk perempuan. Demikian juga dalam hal pewarisan, hanya anak-lakilaki yang berhak mewarisi, sedangkan perempuan hanya sebagai penikmat tanpa punya hak atas warisan. Hal yang sama juga terhadap status kepemilikan anak semuanya jatuh pada pihak laki-laki. Hal ini tentunya sangat berlawanan dengan prinsip kesamaan yang dianut oleh kesetaraan gender. Eksistensi perbedaan ekspresi verbal untuk bayi laki-laki dan perempuan didasarkan pada aturan sosial pada laki-laki dan perempuan dan tingkat ketidaksamaan posisi mereka dalam masyarakat. Menurut Bonvillain (2003:239) dalam masyarakat dimana laki-laki lebih prestisius dan dihormati dari perempuan, bahasa dan gaya yang digunakan lebih rendah daripada laki-laki. Pada masyarakat 412 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... di mana ada kesetaraan gender perilaku komunikatif memberikan nilai dan makna bagi kedua gender. Bahasa dengan demikian sebagai alat dalam mengungkapkan model budaya laki-laki dan perempuan. Model itu berisi gambaran yang tepat dan perilaku yang baik dengan merefleksikan bentuk dan memperkuat melalui penggunaan simbolsimbol gender budaya yang tertanam. Mengingat bahasa adalah salah satu elemen dalam sistem sosial maka teori patriarki juga dikendalikan oleh kaum laki-laki (Simpson, 1993:161). Konsep lain yang dekat dengan patriarki adalah androsentrisme yang digagas oleh Coates yang memandang laki-laki menjadi pusat dalam memandang dunia sehingga apa yang dilakukan laki-laki dipandang positif sedangkan yang dilakukan perempuan dinilai negatif. Dalam hal bahasa, pandangan ini menganggap bahwa ungkapan yang dikenakan pada laki-laki bernilai lebih baik daripada ungkapan untuk perempuan. Hubungan bahasa dan gender secara umum dapat dieksplorasi lewat perilaku bahasa dalam konteks sosial di mana laki-laki dan perempuan saling berinteraksi. Coates dalam Graddol dan Swan (1989:13) memandang perbedaan linguistik merupakan suatu cerminan perbedaan sosial. Sepanjang masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda dan tidak setara, maka perbedaan dalam ekspresi verbal untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan akan terus ada. Dengan kata lain penggunaan bahasa bersifat sensitif terhadap polapola hidup dan pola-pola interaksi. Perbedaan jenis kelamin tertentu dalam perilaku bahasa merupakan efek samping dari pengalaman sosial laki-laki dan perempuan yang secara sistematis berbeda. Menurut Smith (1985) kata-kata yang berhubungan dengan laki-laki mempunyai banyak perbedaan makna dengan bahasa perempuan. Kata-kata untuk laki-laki cenderung berkonotasi pada kekuatan, kewibawaan atau kewenangan, atau status dan pencitraan yang bernilai positif, sedangkan untuk perempuan berkonotasi seksual. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempun mengakibatkan perempuan dinomorduakan dan perbedaan itu tidak hanya pada kriteria sosial budaya (Suaka, 2018 ). Lebih lanjut dikatakanya, dalam kultur Budaya Bali, kuasa laki-laki yang relatif lebih dominan dari pada perempuan JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 413 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 masih jelas nampak. Figur laki-laki terus menjadi simbol dan the authority sehingga mengasumsikan bahwa wanita adalah impian dan warga kelas dua. Hal itu tampak pada ekspresi verbal yang diberikan terhadap kelahiran seorang bayi dan simbol-simbol kultur itu melekat pada fakta-fakta bahasa atau linguistik. Fakta ini sesuai dengan kajian dalam linguistik kebudayaan (cultural lingustics) yang menggali secara eksplisit konseptualisasi yang memiliki basis budaya yang dikodekan dan dikomunikasikan lewat fitur-fitur bahasa manusia. 4. Simpulan Dari perbandingan ekspresi verbal yang diberikan terhadap kelahiran bayi laki-laki dan perempuan terlihat adanya bias gender dimana ekspresi verbal untuk kelahiran bayi laki-laki cenderung bermakna positif sedangkan untuk bayi perempuan ditemukan ekspresi verbal bermakna negatif dalam bentuk penyesalan dan kurangnya rasa syukur. Di samping itu ketimpangan gender juga terlihat dalam harapan yang diberikan kepada bayi perempuan cenderung mengarah pada aktivitas penyangga keluarga dan aktivitas domestik. Dengan demikian dapat dikatakan, bukti linguistik dalam bentuk ekspresi verbal tersebut mengandung muatan-muatan budaya yang merefleksikan sistem sosial, ideologi, pandangan hidup, tradisi dan budaya masyarakat Bali. Mengingat bahasa adalah salah satu elemen dalam sistem sosial maka ekspresi verbal yang cenderung mengutamakan bayi laki-laki itu berkaitan dengan teori patriarki yang juga dikendalikan oleh kaum laki-laki. Dalam kultur budaya Bali, kuasa laki-laki yang relatif lebih dominan dari pada perempuan masih jelas tampak. Figur lakilaki terus menjadi simbol dan the authority sehingga mengasumsikan bahwa wanita adalah impian dan warga kelas dua. Seluruh teks dalam bentuk ekspresi verbal tersebut mengandung makna yang dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan, prasangka atau pengetahuan tertentu atas suatu kondisi dan peristiwa. Ekspresi verbal sebagai teks mikro merupakan cerminan dari struktur makro yaitu cerminan dari konstruksi budaya masyarakat Bali yang masih mengutamakan jenis kelamin laki-laki. 414 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 385–416 Ekspresi Verbal Masyarakat Bali terhadap Kelahiran Bayi... Daftar Pustaka Ahimsa-Putra, Heddy Shri. (1985). “Etnosains dan Etnometodologi: Sebuah Perbandingan”. Masyarakat Indonesia. Tahun XII (2), pp. 1333. Astiti, Tjok Istri Putra. (1999). “Nilai anak dalam kehidupan keluarga orang Bali”, dalam Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. T.O. Ihromi (ed), pp. 226-238. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Astiti, Tjok Istri Putra. (1994). “Pengaruh hukum adat dan program keluarga berencana terhadap nilai anak laki-laki dan perempuan pada masyarakat Bali yang sedang berubah”. Disertasi, Institut Pertanian Bogor. Bonvillain, Nancy.(2003). Language, Culture, and Communication. The Meaning of Messages. New Jersey: Prentice Hall Budiana, I Nyoman. (2009). Perkawinan Beda Wangsa dalam Masyarakat Bali. Yogyakarta: Graha Ilmu. Coates, Jennifer. (1986). Women, Men and Language. London: Longman. van Dijk, Teun A. (1997). “Discourse as Interaction in Society”. Dalam Teun A van Dijk (ed.), Discoure as Social Interaction: Discourse Studies A Multidisiplinary Introduction, Vol.2. London: Sage Publication. Dyatmikawati, Putu. (2015). Kewajiban pada Perkawinan “Pada Gelahang” dalam Perspektif Hukum Adat Bali. dalam Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), [S.l.], Vol.5. No.2, Nov.2015. pp. 461- 479. Graddol, D. Dan J. Swann. (2003). Gender Voices : Telaah Kritis Relasi Bahasa dan Gender. Diterjemahkan oleh M. Muhith. Pasusuruan: Pedati. Foley, W.A. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. University of Sydney: Blackwell. Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Liliweri, A. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yograkarta: Lkis. Mbete, A. M. (2004). “Linguistik Kebudayaan: Rintisan Konsep dan Beberapa Aspek Kajiannya” dalam I W. Bawa dan I W. Cika (ed.). Bahasa dalam Perspektif Kebudayaan. Denpasar: Penerbit Universitas Udayana. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 415 Ni Wayan Sartini Hlm. 395–416 Oktavianus, (2006). “Nilai Budaya dalam Ungkapan Minangkabau: Sebuah Kajian dari Aspek Antropologi Linguistik “ dalam Linguistik Indonesia. No. 1, pp.115-127. Palmer, G.B. (1996). Toward a Theory of Cultural Linguistics. Austin: University of Texas Press. Rais, H. Wakit A. (2017). Kearifan Lokal dalam Bahasa dan Budaya Jawa : Studi Kasus Masyarakat Nelayan di Pesisir Selatan Kebumen Jawa Tengah (Kajian Etnolinguistik). Surakarta: UNS Press. Richards, Jack, Platt, Weber. (1990). Longman Dictionary of Applied Linguistics. Great Britain: Ricards Clay Ltd. Sharifian, Farzad. (2015). The Routledge Handbook of Language and Culture. London and New York: Routledge. Smith, P. M. (1979). “Sex markers in speech”, dalam Social Markers in Speech. Scherer Klaus R. dan Howard Giles. (ed) pp. 109-139. Cambridge: Cambridge University Press. Suaka, I Nyoman. “Refleksi Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam Cerita Rakyat Bali Tuwung Kuning. Analisis Feminisme.” Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), Vol. 8, No. 2, pp. 63-84. Suhandano, (2004). “Klasifikasi Tumbuh-tumbuhan dalam Bahasa Jawa: Sebuah Kajian Linguistik Antropologi”. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Susanta, Yohanes Krismantyo. (2018). “Sentana Rajeg dan Nilai Anak Lakilaki Bagi Komunitas Bali Diaspora di Kabupaten Konawe” dalam Jurnal Multikultural & Multireligius, Vol 17, No. 2, pp. 505-517. 416 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020