JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 Perhitungan Konsumsi Obat Untuk Logistik Medik di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Calculation of Drugs Consumption for Medical Logistics in Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Nur Azizah Fairuz1. Tito Yustiawan2 1,2Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: ifa. azizah@gmail. ABSTRACT Inaccurate drugs planning may cause excessive budget, stagnant, and stockout. This research aims to analyze drugs planning in medical logistics of Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. This research is a descriptive study using cross sectional design. Primary data were obtained through observations and interviews. Secondary data were obtained through drugs planning and drugs consumption data from November to December Afterward, data were processed and found that 40% drugs item on November 2016 have greater amount of consumption than their planning and 65% drugs item on December 2016 have greater amount of consumption than their planning. The method of drugs planning that used in medical logistics of Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya was consumption method, but it was not calculate the average of drugs consumption. After the calculation based on Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121 Tahun 2008, there is only 20% drugs item on November 2016 which have greater amount of consumption than their planning and 20% drugs item on December 2016 which have greater amount of consumption than their planning. This research showed that the calculation of drugs consumption for medical logistics in Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya need Keywords: consumption method, drugs planning, hospital ABSTRAK Perencanaan yang tidak tepat akan mengakibatkan pemborosan dalam penganggaran, stagnant, dan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan obat di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan studi cross sectional. Data primer diperoleh dari observasi dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari data perencanaan obat dan data konsumsi obat dari bulan November hingga Desember 2016. Setelah itu, data diolah dan ditemukan bahwa terdapat 40% item obat pada bulan November 2016 memiliki jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah perencanaannya dan 65% item obat pada bulan Desember 2016 memiliki jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah perencanaannya. Metode perencanaan obat yang digunakan di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah metode konsumsi, tetapi belum mengaplikasikan rata-rata konsumsi obat. Setelah perhitungan perencanaan obat dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, terdapat 20% item obat pada bulan November 2016 memiliki jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah perencanaannya dan 20% item obat pada bulan Desember 2016 memiliki jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah perencanaannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan konsumsi obat untuk logistik medik di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya perlu diperbaiki. Kata kunci: metode konsumsi, perencanaan obat, rumah saki PENDAHULUAN dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dasar-dasar telah ditentukan, berdasarkan metode konsumsi, epidemiologi, atau kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia (Kementerian Kesehatan RI, 2. Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya merupakan rumah sakit umum tipe B di bawah Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya yang mulai beroperasi pada tanggal 25 Mei 2002. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Manajemen logistik terdiri dari delapan fungsi, yaitu fungsi perencanaan dan penentuan penyimpanan dan penyaluran, fungsi pemeliharaan, fungsi penghapusan, dan fungsi pengawasan (Seto, et al. , 2. Perencanaan perbekalan farmasi merupakan kegiatan untuk memilih jenis, jumlah, dan periode pengadaan perbekalan farmasi agar tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, dan efisien untuk menghindari kekosongan obat. Perencanaan Perhitungan Konsumsi Obat. Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi dan kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi. Kegiatan pelayanan farmasi dilakukan oleh depo farmasi yang berjumlah lima depo dan kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi dilakukan oleh bagian logistik Berdasarkan data rekam medis Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada bulan November 2016, lima penyakit terbanyak di unit rawat jalan Rumah Sakit Islam Jemursari adalah non insulin dependent diabetes mellitus . 6 kasu. , hypertensive heart disease . 3 kasu. , coronary artery aneurysm . , essential . , dan low back pain . Berdasarkan data rekam medis Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada bulan Desember 2016, lima penyakit terbanyak di unit rawat jalan Rumah Sakit Islam Jemursari adalah non insulin dependent diabetes mellitus . 1 kasu. , hypertensive heart disease . 3 kasu. , coronary artery aneurysm . , essential . , dan low back pain . Berdasarkan perencanaan pengadaan obat di rumah sakit yang tidak akurat dapat menyebabkan kejadian stockout sebesar 54% dan stagnant sebesar 39% (Mellen & Pudjirahardjo, 2. Rata-rata ketersediaan obat generik hanya 54,91% karena perencanaan obat di gudang farmasi yang kurang optimal (Triana, et al. Masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah perencanaan obat di bagian logistik medik untuk lima penyakit terbanyak di unit rawat jalan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Tujuan perencanaan obat di bagian logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan usulan perbaikan perencanaan obat untuk menghindari kekosongan Surabaya dan dokumen lain yang berkaitan dengan perencanaan obat di bagian logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif, yaitu menghitung total jumlah obat dalam perencanaan kemudian melakukan uji stastik untuk menentukan signifikansi dengan data konsumsi obat, lalu hasil analisis data ditarik kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahapan perbekalan farmasi ada tiga, yaitu pemilihan, kompilasi penggunaan, dan perhitungan kebutuhan (Direktorat Jenderal Binakefarmasian dan Alat Kesehatan, 2. Berdasarkan hasil telaah dokumen Pedoman Pelayanan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Tahun 2016, tahapan dalam perencanaan obat di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah pemilihan/seleksi dan Pemilihan/seleksi obat merupakan kegiatan pemilihan perbekalan farmasi yang masuk dalam formularium obat Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Pihak yang terlibat dalam pemilihan/seleksi obat ada empat, yaitu Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), kelompok staf medis, sekretaris PFT, dan ketua PFT. Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi yang sesuai menghindari kekosongan obat. Beberapa acuan dalam proses perencanaan pengadaan perbekalan farmasi adalah formularium rumah sakit, siklus penyakit, anggaran, penetapan prioritas, sisa (Rakhmawati. Tahapan perencanaan obat di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya perencanaan obat menurut Direktorat Jenderal Binakefarmasian dan Alat Kesehatan . Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi, perencanaan di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya dilakukan oleh Kepala Unit Farmasi Rawat Jalan. Kepala Unit Farmasi Rawat Inap, dan Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi. Kepala Unit Farmasi Rawat Jalan dan Kepala Unit Farmasi Rawat Inap bertugas melakukan perencanaan obat untuk melakukan permintaan ke logistik medik. Data yang dipakai oleh Kepala Unit Farmasi Rawat Jalan adalah data pemakaian obat Depo 1, 4, dan 5 periode sebelumnya. Data yang dipakai oleh Kepala Unit Farmasi Rawat Inap adalah data pemakaian obat Depo 2 dan 3 periode sebelumnya. Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi bertugas melakukan perencanaan obat untuk seluruh kebutuhan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Data yang dipakai adalah data pemakaian obat seluruh unit farmasi di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode sebelumnya. Data pemakaian obat didapatkan dari SIM RS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Saki. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Unit Perlengkapan Sterilisasi, pelaksanaan perencanaan obat logistik medik ke distributor terdiri dari dua macam, yaitu perencanaan terjadwal dan perencanaan tidak METODE Penelitian merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain studi cross sectional. Sumber informasi dalam penelitian adalah Kepala Instalasi Farmasi. Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi, data perencanaan bulan November dan Desember 2016, dan data konsumsi obat bulan November dan Desember 2016. Penelitian dilakukan di bagian logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada bulan Februari hingga Maret 2017. Variabel yang diteliti adalah perencanaan obat dan konsumsi obat. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan lembar panduan wawancara yang berjumlah masing-masing lima pertanyaan kepada Kepala Instalasi Farmasi dan Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi sebagai pimpinan unit yang membawahi urusan logistik medik di RSI Jemursari Surabaya, serta melakukan observasi pada kegiatan perencanaan obat di logistik medik. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi dokumen data perencanaan obat dan data konsumsi obat di Rumah Sakit Islam Jemursari Perhitungan Konsumsi Obat. Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 Perencanaan terjadwal terdiri dari dua macam, yaitu perencanaan mingguan yang dilakukan setiap Hari Selasa dan Kamis serta perencanaan bulanan yang dilakukan setiap 15 hari Perencanaan tidak terjadwal disebut perencanaan CITO, yaitu perencanaan yang dilakukan pagi hari setiap ada permintaan yang bersifat segera. Perbekalan farmasi di luar formularium juga termasuk perencanaan CITO. Pengadaan obat dapat dilakukan secara annual, scheduled, dan perpetual (Merson, et al. Pengadaan obat secara annual dilakukan setiap setahun sekali, pengadaan obat secara scheduled dilakukan secara terjadwal dengan selang waktu tertentu, sedangkan pengadaan obat secara perpetual dilakukan setiap waktu sesuai Perencanaan dan pengadaan obat di logistik medik RSI Jemursari Surabaya dilakukan secara scheduled, yaitu setiap hari Selasa, hari Kamis, dan setiap 15 hari sekali, serta secara perpetual, yaitu disebut CITO yang dilakukan pada pagi hari ketika ada permintaan yang bersifat Berikut adalah hasil pengolahan data . erencanaan mingguan dan bulana. dan data konsumsi obat untuk lima penyakit terbanyak di unit rawat jalan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya, yaitu non insulin dependent diabetes mellitus, hypertensive heart disease, coronary artery aneurysm, essential . hypertension, dan low back pain pada November Desember Tabel 1 Data Perencanaan Obat dan Konsumsi Obat untuk Lima Penyakit Terbanyak di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada Bulan November dan Desember 2016 No. Nama Obat Metformin 500 mg JKN Concor 2. 5 mg tab Ask Valsartan 80 mg JKN Nitrocaf Retard 2. 5 mg Amlodipine 10 mg tab JKN Adalat Oros 30 mg Lansoprazole 30 mg Glimepiride 4 mg JKN Herbesser CD 100 Ranitidin 150 mg tab Omeprazol 20 mg tab Ask Valsartan 160 mg Glimepiride 2 mg tab Irbesartan 150 mg tab Meloxicam 7. 5 mg tab Gliquidon 30 mg tab Irbesartan 300 mg tab Glimepiride 1 mg Sanmol 500 mg tab Glibenclamid 5 mg November Perencanaan Konsumsi RSI Desember Perencanaan Konsumsi RSI Sumber: Data Perencanaan dan Konsumsi Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Bulan November dan Desember 2016 Metode perencanaan obat ada empat, yaitu metode konsumsi, metode morbiditas, metode penyesuaian konsumsi, dan metode proyeksi tingkat pelayanan dari keperluan anggaran (Oscar & Jauhar, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi dan Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi, metode yang digunakan dalam perencanaan di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah metode konsumsi, yaitu menggunakan data real konsumsi perbekalan farmasi periode sebelumnya sebagai dasar perhitungan perencanaan obat. Data yang digunakan sebagai dasar perencanaan didapatkan dari SIM RS yang kemudian diolah sesuai rumus (((Total Jual-Total Retu. buffer stock . %))-Total Stok yang tersedia di Instalasi Farmas. yang telah dioptimalisasi dengan kondisi pelayanan di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Jumlah perencanaan dan konsumsi obat pada Tabel 1 dilakukan uji statistik untuk mengecek signifikansi antara jumlah perencanaan dengan Perhitungan Konsumsi Obat. jumlah konsumsi (= 0,. Hasil dari uji statistik didapatkan bahwa jumlah perencanaan dan jumlah konsumsi pada bulan November maupun Desember 2016 tidak signifikan. Jumlah perencanaan yang menunjukkan bahwa ada perbedaan antara jumlah perencanaan dengan jumlah konsumsi obat. Berdasarkan Tabel 1, terdapat delapan item obat . %) pada bulan November 2016 yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan dan terdapat 13 item obat . %) yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan Desember 2016. Pelaksanaan perencanaan obat di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya belum mengaplikasikan perhitungan rata-rata pemakaian obat yang berarti belum melakukan perhitungan perencanaan obat sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008. Rumus Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 perhitungan perencanaan obat adalah sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2. yang tersedia (Irmawati, 2. Perencanaan yang tidak tepat akan mengakibatkan pemborosan dalam penganggaran, membengkaknya biaya pengadaan dan penyimpanan, dan tidak tersalurkannya obat sehingga dapat menyebabkan obat rusak atau kadaluarsa (Seto, et al. , 2. Berikut adalah hasil perhitungan perencanaan kebutuhan untuk bulan November dan Desember 2016 berdasarkan rumus Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008. Rencana Pengadaan= ((Pemakaian rata-rata x 12 bula. safety stock . ead time x jumlah rata-rata Cara perhitunganpemakaia. ) perencanaan- obat metode konsumsi untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati akurat adalah dengan melakukan perhitungan pemakaian ratarata obat, safety stock, lead time, dan sisa stok obat Tabel 2 Hasil Perhitungan Perencanaan Obat untuk Bulan November 2016 di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya No. Nama Obat Metformin 500 mg JKN Concor 2. 5 mg Ask Valsartan 80 mg JKN Nitrocaf Retard 5 mg Amlodipine 10 mg tab JKN Adalat Oros 30 Lansoprazole 30 mg Glimepiride 4 mg JKN Herbesser CD Ranitidin 150 mg tab/ Omeprazol 20 mg tab Ask Valsartan 160 mg Glimepiride 2 mg tab Irbesartan 150 mg tab Meloxicam 7. 5 mg tab Gliquidon 30 mg tab Irbesartan 300 mg tab Glimepiride 1 mg Sanmol 500 mg tab Glibenclamid 5 mg Konsumsi Bulan Oktober Pemakaian Rata-rata 1185,87 916,53 Sisa Stok Bulan Oktober Safety Stock Lead Time x Pemakaian Rata-rata 39,53 30,55 Rencana Pengadaan Bulan November 539,03 293,17 17,97 9,77 255,07 8,83 176,43 160,63 5,52 5,88 5,35 143,33 155,73 157,33 38,07 109,03 102,27 85,57 68,17 4,78 5,19 5,24 3,18 1,27 3,63 3,41 2,66 2,85 2,27 Sumber: Hasil Pengolahan Data Perencanaan dan Konsumsi Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Bulan Oktober dan November 2016 Berdasarkan Tabel 2, jumlah safety stock adalah 50% sesuai dengan kebijakan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Lead time distributor yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah selama satu hari. Data yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan menggunakan metode konsumsi adalah data konsumsi bulan Oktober, sisa stok bulan Oktober, safety stock, lead time, dan jumlah rata-rata Perhitungan Konsumsi Obat. Obat yang memiliki rencana pengadaan paling besar untuk Bulan November adalah Metformin 500 mg, yaitu sebesar 44195 tablet serta memiliki jumlah konsumsi pada bulan Oktober yang paling besar, yaitu 35576 tablet. Obat yang memiliki rencana pengadaan paling sedikit untuk Bulan November adalah Meloxicam 7. 5 mg tab, yaitu sebesar 1339 tablet serta memiliki jumlah konsumsi pada bulan Oktober yang paling sedikit, yaitu 1142 Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 Tabel 3 Hasil Perhitungan Perencanaan Obat untuk Bulan Desember 2016 di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya No. Nama Obat Metformin 500 mg JKN Concor 2. 5 mg tab Ask Valsartan 80 mg JKN Nitrocaf Retard 2. Amlodipine 10 mg tab JKN Adalat Oros 30 mg Lansoprazole 30 mg Glimepiride 4 mg JKN Herbesser CD 100 Ranitidin 150 mg tab/ Omeprazol 20 mg tab Ask Valsartan 160 mg Glimepiride 2 mg tab Irbesartan 150 mg tab Meloxicam 7. 5 mg tab Gliquidon 30 mg tab Irbesartan 300 mg tab Glimepiride 1 mg Sanmol 500 mg tab Glibenclamid 5 mg Konsumsi Bulan November Pemakaian Rata-rata Sisa Stok Safety Stock Lead Time x Pemakaian Rata-Rata 1328,87 993,27 33,11 17,82 10,74 Rencana Pengadaan Bulan Desember 301,17 211,37 181,43 161,53 159,27 156,13 153,47 133,73 108,37 111,63 77,83 100,13 95,27 77,83 73,17 10,04 8,17 7,05 6,05 5,38 5,31 5,12 4,46 3,61 3,72 2,59 3,34 3,18 2,59 2,44 Sumber: Hasil Pengolahan Data Perencanaan dan Konsumsi Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Bulan November dan Desember 2016 Berdasarkan Tabel 3, jumlah safety stock yang digunakan dalam perhitungan adalah 50% sesuai dengan kebijakan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Lead time distributor obat yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah selama satu hari. Data yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan menggunakan metode konsumsi adalah data konsumsi bulan November, sisa stok bulan November, safety stock, lead time, dan jumlah ratarata pemakaian. Obat yang memiliki rencana pengadaan paling besar untuk bulan Desember adalah Metformin 500 mg, yaitu sebesar 47914 tablet serta memiliki jumlah konsumsi pada bulan Oktober yang paling besar, yaitu 39866 tablet. Obat yang memiliki rencana pengadaan paling sedikit untuk bulan November adalah Gliquidon 30 mg tab, yaitu sebesar 2251 tablet. Tabel 4 Hasil Perhitungan Perencanaan Obat dan Data Konsumsi Obat untuk Lima Penyakit Terbanyak di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada Bulan November dan Desember 2016 Nama Obat Metformin 500 mg JKN Concor 2. 5 mg tab Ask Valsartan 80 mg JKN Nitrocaf Retard 2. 5 mg Amlodipine 10 mg tab JKN Adalat Oros 30 mg Lansoprazole 30 mg Glimepiride 4 mg JKN Herbesser CD 100 Ranitidin 150 mg tab Omeprazol 20 mg tab Ask Valsartan 160 mg Glimepiride 2 mg tab Irbesartan 150 mg tab Perhitungan Konsumsi Obat. November Perencanaan RSI Normatif Konsumsi Desember Perencanaan Konsumsi RSI Normatif Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 Nama Obat Meloxicam 7. 5 mg tab Gliquidon 30 mg tab Irbesartan 300 mg tab Glimepiride 1 mg Sanmol 500 mg tab Glibenclamid 5 mg November Perencanaan RSI Normatif Konsumsi Desember Perencanaan Konsumsi RSI Normatif Sumber: Hasil Pengolahan Data Perencanaan dan Konsumsi Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya Bulan November dan Desember 2016 penelitian yang berjudul AuEffects on Patient Care Caused by Drug Shortages: A SurveyAy, yang sebagian besar responden penelitiannya adalah kepala farmasi atau apoteker yang menyatakan bahwa kekosongan obat dapat mengakibatkan 70,8% perawatan tertunda (McLaughlin, et al. Jumlah perencanaan di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya yang tidak sesuai dengan konsumsi sehingga menyebabkan terjadinya stockout dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Unit Perlengkapan dan Sterilisasi, jumlah perencanaan yang tidak sesuai dengan konsumsi disebabkan oleh adanya lonjakan pasien, lead time yang tidak sesuai dengan prediksi, dan penarikan produk oleh BPOM, penutupan distributor karena kendala administratif oleh institusi yang berwenang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala IFRS, jumlah perencanaan yang tidak sesuai dengan konsumsi disebabkan oleh jumlah buffer stock yang belum ideal, jumlah SDM kurang, belum ada perhitungan stok minimum dan stok maksimum, kosong distributor dan tidak ada penggantinya, lead time distributor yang tidak pasti. Safety stock berguna untuk menghindari kejadian stock out karena lead time yang tidak sesuai perkiraan, peramalan yang tidak akurat, dan distributor yang tidak dapat mengirimkan obat sesuai dengan permintaan atau kondisi obat yang rusak (Radasanu, 2. Lead time merupakan waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan hingga obat diterima (Ranie, 2. Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya telah melakukan perhitungan safety stock dalam perencanaan obat, yaitu sebesar 50% yang berlaku untuk seluruh item Jumlah safety stock sebaiknya tidak disamakan antara obat dengan kategori fast moving dan obat dengan kategori slow moving karena obat yang termasuk kategori fast moving dan slow moving memiliki pergerakan obat yang berbeda. Faktor penentu untuk mencapai keseimbangan antara pemintaan dan persediaan salah satunya ditentukan oleh pergerakan obat, obat dengan kategori fast moving sebaiknya tersedia lebih banyak, sedangkan obat dengan kategori slow moving sebaiknya disediakan dalam jumlah yang lebih sedikit (Anief, 2. Berdasarkan Tabel 4, pada perhitungan perencanaan obat sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008 terdapat empat item obat . %) pada bulan November 2016 yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan dan terdapat empat item obat . %) yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan Desember perencanaan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya memiliki delapan item obat . %) yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan November 2016 dan 13 item obat . %) yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan Desember 2016. Berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008, faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan perencanaan pengadaan obat adalah konsumsi bulan sebelumnya, pemakaian rata-rata, sisa stok, safety stock, dan lead time. Tingkat konsumsi obat di Rumah Sakit Islam Jemursari yang lebih besar daripada jumlah perencanaan dapat disebabkan karena permintaan obat dari depo farmasi yang tidak dapat terlayani karena stok yang tidak cukup tersedia di logistik medik. Permintaan obat yang tidak terpenuhi di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya sejalan dengan penelitian yang berjudul AuCara Pengendalian Persediaan Obat Paten dengan Metode Analisis ABC. Metode Economic Order Quantity (EOQ). Buffer Stock dan Reorder Point (ROP) di Unit Gudang Farmasi RS Zahirah Tahun 2014Ay yang menyatakan bahwa terdapat 164 jenis obat yang jumlahnya tidak dapat disediakan sesuai permintaan pada waktu dibutuhkan, sehingga harus membeli secara CITO di apotek luar yang memiliki harga lebih mahal daripada membeli di distributor (Utari, 2. Ketidaksesuaian dengan konsumsi dapat menyebabkan kejadian stockout dan stagnant. Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa terjadi kejadian stockout sebesar 40% pada bulan November 2016 dan 65% pada bulan Desember 2016. Stockout adalah keadaan stok obat yang kosong pada waktu melakukan permintaan obat (Setyowati & Purnomo, 2. Akibat dari tidak tersedianya obat ketika dibutuhkan adalah terhambatnya perawatan yang diberikan kepada pasien karena pihak medis maupun pihak farmasi harus mencari alternatif obat lain yang Terhambatnya perawatan yang diberikan kepada pasien di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya sejalan dengan Perhitungan Konsumsi Obat. SIMPULAN Metode yang digunakan untuk perencanaan obat di logistik medik Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya adalah metode konsumsi. Pelaksanaan perhitungan perencanaan obat di logistik medik Fairuz. Yustiawan JAKI Volume 5 Nomor 2 Juli-Desember 2017 Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya masih kurang sesuai karena masih terdapat kekosongan obat akibat jumlah konsumsi yang lebih besar Perhitungan perencanaan obat di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya pada bulan November 2016 menunjukkan bahwa terdapat 40% item obat yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan dan pada bulan Desember terdapat 65% item obat yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan. Perhitungan perencanaan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121 Tahun 2008 menunjukkan bahwa terdapat 20% item obat yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan November 2016 dan 20% item obat yang memiliki jumlah konsumsi lebih besar daripada jumlah perencanaan pada bulan Desember 2016. Perhitungan perencanaan obat berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1121 Tahun 2008 menunjukkan jumlah item obat yang mengalami kekosongan obat yang lebih Saran yang dapat diberikan untuk Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya yaitu melakukan perhitungan rata-rata pemakaian kebutuhan obat agar perencanaan obat lebih tepat sehingga dapat meminimalkan kekosongan obat serta membedakan jumlah safety stock untuk obat dengan kategori fast moving dan obat dengan kategori slow moving. McLaughlin. Thomson. & Postelnick. Effects on Patient Care Caused by Drug Shortages: A Survey. Journal of Managed Care Pharmacy. Volume 19. Mellen. & Pudjirahardjo. , 2013. Faktor Penyebab dan Kerugian Akibat Stockout dan Stagnant Obat di Unit Logistik RSU Haji Surabaya. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia. Volume 1, pp. Merson. Black. & Mills. , 2012. Global Health: Diseases. Programs. Sysrems, and Policies. 3rd penyunt. Canada: Jones and Bartlett Learning. Oscar. & Jauhar. , 2016. Dasar-Dasar Manajemen Farmasi. Jakarta: Prestasi Pustakaraya. Radasanu. , 2016. Inventory Management. Service Level and Safety Stock. Journal of Public Administration. Finance and Law. Issue 9, pp. Rakhmawati. , 2016. Pedoman Pelayanan Instalasi Farmasi RSI Jemursari Surabaya. Surabaya: Rumah Sakit Islam Jemursari. Ranie. , 2014. Penentuan Sistem Persediaan Obat pada Apotik Pahlawan Binjai. Jurnal Informasi dan Teknologi Ilmiah. Volume i. Seto. Nita. & Triana. , 2012. Manajemen Farmasi. Lingkup: Apotek. Farmasi Rumah Sakit. Pedagang Besar Farmasi. Industri Farmasi. Surabaya: Airlangga University Press. Setyowati. & Purnomo. , 2004. Analisis Kebutuhan Obat dengan Metode Konsumsi dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Obat di Kota Kediri. Jurnal Administrasi Kebijakan Kesehatan. Volume 2, pp. Triana. Suryawati. & Sriyatmi. , 2014. Evaluasi Perencanaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di Gudang Farmasi Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia. Volume 02, pp. Utari. , 2014. Cara Pengendalian Persediaan Obat Paten dengan Metode Analisis ABC. Metode Economic Order Quantity (EOQ). Buffer Stock dan Reorder Point (ROP) di Unit Gudang Farmasi RS Zahirah Tahun 2014. Dalam: Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. DAFTAR PUSTAKA