JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 06 NOMOR 02 DESEMBER 2023 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN GAMBARAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA LANSIA DESCRIPTION OF INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE IN THE ELDERLY Selly Anjely . Ari Rahmat Aziz . Widia Lestari Fakultas Keperawatan. Universitas Riau. Riau. Indonesia Abstrak Article history Received date: 10 Oktober 2023 Revised date: 21 Desember 2023 Accepted date: 28 Desember 2023 *Corresponding author: Selly Anjely. Fakultas Keperawatan. Universitas Riau. Riau. Indonesia, anjely2741@student. Peningkatan jumlah pendudukan usia lanjut memerlukan perhatian agar mereka dapat menikmati kehidupan yang sejahtera di masa tua. Penggunaan sosial media dapat memberikan dampak positif pada lansia dalam berkomunikasi dan memberikan dukungan sosial pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan intensitas penggunaan media sosial pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif di Kelurahan Labuh Baru Timur. Kota Pekanbaru pada bulan Juli 2023. Sampel penelitian terdiri dari 100 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lansia berada dalam rentang usia 60-69 tahun . %), dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan . %). Media sosial yang paling sering digunakan oleh lansia adalah WhatsApp . %), diikuti oleh Youtube . %). Dari segi aspek penggunaan media sosial, mayoritas lansia menunjukkan perhatian rendah terhadap penggunaan sosial media . %), penghayatan rendah terhadap penggunaan sosial media . %), durasi penggunaan sosial media yang rendah . %), dan frekuensi penggunaan sosial media yang rendah . %). Secara keseluruhan, intensitas penggunaan media sosial pada lansia cenderung rendah . %). Diharapkan para lansia dapat lebih bijaksana dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial dengan mengatur waktu penggunaannya, sehingga dapat menghindari risiko terkait masalah Kata Kunci: Intensitas penggunaan media sosial, lansia. Pekanbaru Abstract The increasing number of elderly people requires attention so they can enjoy a prosperous life in their later years. The use of social media can have a positive impact on the elderly in terms of communication and providing social support. This study aims to describe the intensity of social media usage among the elderly. It employs a quantitative descriptive design in Labuh Baru Timur . Pekanbaru City, in July 2023. The sample consists of 100 respondents selected through accidental sampling. Data collection was conducted using a questionnaire, and data analysis was performed using descriptive analysis methods. The results show that the majority of elderly respondents are aged 60-69 years . %), with a majority being female . %). The most frequently used social media among the elderly is WhatsApp . %), followed by YouTube . %). terms of social media usage aspects, the majority of the elderly show low attention to social media usage . %), low appreciation of social media usage . %), low duration of social media usage . %), and low frequency of social media usage . %). Overall, the intensity of social media use among the elderly tends to be low . %). It is hoped that the elderly can be more prudent in using and utilizing social media by managing their usage time, thereby avoiding health-related risks. Selly Anjely. Ari Rahmat Aziz. Widia Lestari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 56-61 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Keywords: Intensity of using social media, elderly. Pekanbaru PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia menjadi indikator kesehatan masyarakat yang meningkat, sehingga perlunya meningkatkan perhatian terhadap kelompok lanjut usia agar mereka dapat menikmati kehidupan yang sejahtera di masa tua (Maulida, 2. Kebutuhan akan komunikasi pada lansia sebanding dengan yang dimiliki oleh penduduk usia muda, di mana komunikasi efektif penting bagi mereka untuk menjaga hubungan sosial. Salah satu cara efektif yang digunakan lansia untuk memudahkan dan meningkatkan komunikasi adalah melalui penggunaan internet (Madanih & Purnamasari, 2. Aktivitas yang sering dilakukan oleh lansia pengguna internet melibatkan akses ke media sosial, dengan Youtube dan WhatsApp menjadi jenis media sosial yang paling sering diakses oleh mereka, mencapai persentase hampir 88% (Maulida, 2. Penelitian di Amerika Serikat dengan partisipan lansia berusia 67 tahun ke atas, melibatkan 1. 833 orang, menunjukkan bahwa 54% dari mereka menggunakan media sosial (CNN Indonesia, 2. Survei yang dilakukan oleh Kominfo pada tahun 2017 terhadap penggunaan TIK pada masyarakat Indonesia di 34 Provinsi, didapatkan hasil bahwa persentase penggunaan media sosial berdasarkan usia 50-65 tahun adalah sebanyak 80,32% (Kominfo, 2. Data Badan Pusat Statistik . menyatakan bahwa penggunaan internet di Provinsi Riau yaitu dari persentase rumah tangga yang menggunakan internet dengan tujuan untuk mengakses media sosial pada kelompok umur 60 tahun ke atas adalah sebanyak 8,26% pada tahun 2020 dan pada tahun 2021 mengalami peningkatan menjadi 8,75%. Kota Pekanbaru merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang juga mengalami pertumbuhan secara pesat dalam penggunaan media sosial yaitu mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia, dengan kata lain media sosial telah digunakan oleh semua kalangan usia (Sartika & Mulyana, 2. Menurut Wuriyanti . , lansia menggunakan media sosial dipengaruhi oleh faktor sosial dan faktor individual. Faktor sosial mencakup dukungan yang diberikan oleh lingkungan sosial sekitar lansia, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk mempelajari penggunaan media sosial. Sementara itu, faktor individual berfokus pada pandangan lansia yang memandang media sosial sebagai kebutuhan, sehingga dorongan ini mendorong lansia untuk secara sukarela mempelajari penggunaan media sosial, bahkan melalui pembelajaran otodidak. Seseorang menggunakan media sosial dengan intensitas yang berbeda, dimana intensitas penggunaan media sosial merupakan gambaran seberapa lama dan seringnya seseorang menggunakan media sosial yang dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap kehidupannya (Mubarok, 2. Penelitian menurut Georgiev . , menyatakan bahwa rata-rata durasi penggunaan sosial media pada kelompok lansia yaitu 4 jam perhari, sesuai dengan penelitian Loipha . , yang menyatakan bahwa rata-rata durasi penggunaan sosial media pada lansia di Thailand adalah 4 jam perhari. Penelitian Warwas . , menyatakan bahwa rata-rata frekuensi penggunaan sosial media pada kelompok lansia adalah minimal 5 kali perhari. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jia . , yang menyatakan bahwa setiap lansia pengguna sosial media di China membuka sosial media rata-rata 5 kali perhari. Menurut Kementerian Kominfo . dalam laporan survei status literasi digital di Indonesia pada tahun 2022, perilaku digital masyarakat lanjut usia yaitu dari durasi penggunaan sosial media pada lansia menunjukkan bahwa 19% lansia menggunakan sosial media lebih dari 6 jam perhari. Para lansia biasanya sudah tidak memiliki peran di ruang lingkup dunia pekerjaan sehingga menghabiskan waktu yang banyak dalam penggunaan sosial media (Veby, 2. Beberapa penelitian menyatakan bahwa penggunaan sosial media dapat berdampak positif terhadap kehidupan para lansia (Arsita, 2. Penggunaan sosial media dapat memberikan dampak positif pada lansia dalam berkomunikasi dan memberikan dukungan sosial pada lansia (Sanecka, 2. Penelitian Maulida. Lestari & Wardhiana . , menyatakan bahwa tujuan lansia menggunakan sosial media adalah untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman, untuk mencari informasi kesehatan, agama dan kuliner, serta untuk memenuhi gaya hidup dan eksistensi diri. Beragamnya fitur sosial media membuat sosial media menjadi semakin menarik sehingga penggunanya akan betah berlama-lama dalam mengakses sosial media (Hepilita & Gantas, 2. Walaupun sosial media dapat dijadikan sebagai alat penghilang rasa bosan dan kesepian pada lansia, tetapi jika digunakan secara berlebihan akan mengganggu kesehatan lansia (Veby, 2. Menurut Afifah . , dampak negatif lainnya dari penggunaan sosial media dengan intensitas yang berlebihan yaitu dapat merusak kesehatan mata, pola dan jadwal istirahat berkurang sehingga akan berdampak pada kesehatan penggunanya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Veby . mengenai perilaku lansia pensiunan di Kota Padang dalam menggunakan media sosial, ditemukan bahwa durasi penggunaan media sosialnya adalah 2 sampai 3 jam dalam jangka waktu terus menerus tanpa jeda, yang mana hal tersebut akan menyebabkan para lansia kekurangan waktu istirahat dan pada akhirnya akan mengalami penurunan kesehatan. Fungsi fisik lansia yang dalam keadaan menurun dan penggunaan sosial media yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan fisik dan mental yang lebih besar dari pada kelompok umur lainnya, seperti dapat menyebabkan masalah mata dan insomnia pada lansia (Jia, 2. Studi pendahuluan melalui wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap 10 lansia pada tanggal 31 Mei 2023 di Kelurahan Labuh Baru timur, didapatkan hasil bahwa 10 lansia dengan umur C60 tahun mempunyai media sosial seperti WhatsApp. Youtube. Facebook. Instagram dan TikTok. Media sosial yang paling banyak digunakan oleh 10 lansia tersebut adalah WhatsApp dan Youtube. 7 dari 10 lansia mengatakan rata-rata durasi penggunaan media sosialnya adalah 3-4 jam perhari dengan frekuensi membuka media sosialnya sering atau lebih dari 4 kali perhari, para lansia tersebut mengetahui cara menggunakan media sosial terutama WhatsApp dan Youtube yang sering digunakan Selly Anjely. Ari Rahmat Aziz. Widia Lestari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 56-61 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. untuk menonton konten yang disukai. Sedangkan 3 dari 10 lansia mengatakan tidak sering menggunakan media sosial, rata-rata durasi penggunaan media sosialnya adalah kurang dari 1 jam perhari dengan frekuensi membuka media sosialnya kurang dari 4 kali perhari, para lansia tersebut mengatakan hanya menggunakan media sosial untuk menghubungi anak atau keluarganya dan tidak terlalu paham dalam menggunakan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran intensitas penggunaan media sosial pada lansia. METODE Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain deskriptif yang dilakukan di Kelurahan Labuh Baru Timur. Pekanbaru, pada Juli 2023. Populasi penelitian terdiri dari lansia pengguna media sosial, dengan sampel sebanyak 100 orang yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Kriteria inklusi melibatkan lansia berusia 60 tahun ke atas, aktif menggunakan media sosial, dan bersedia menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mencakup karakteristik responden, jenis media sosial yang digunakan, dan intensitas penggunaan. Kuesioner diadaptasi dari Oktavia . dan mencakup indikator perhatian, penghayatan, durasi, dan frekuensi dengan menggunakan Skala Likert. Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti memastikan etika penelitian dan memperoleh izin penelitian dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Riau. Proses penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara offline selama posyandu lansia dan melalui kunjungan langsung ke rumah responden. Analisis data menggunakan pendekatan analisis univariat dan uji deskriptif untuk menjelaskan karakteristik responden, jenis media sosial yang digunakan, serta pola dan intensitas penggunaan media sosial pada lansia. HASIL Tabel 1. Karakteristik responden No. Karakteristik Umur . Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tabel 1 menunjukkan bahwa rentang umur lansia yang menggunakan sosial media pada penelitian ini sebagian besar berumur 60-69 tahun . %) dan mayoritas merupakan lansia perempuan . %). Tabel 2. Sosial media yang digunakan oleh lansia No. Sosial media yang digunakan oleh lansia Youtube Tidak menggunakan Youtube Menggunakan Youtube WhatsApp Tidak menggunakan WhatsApp Menggunakan WhatsApp Facebook Tidak menggunakan Facebook Menggunakan Facebook Instagram Tidak menggunakan Instagram Menggunakan Instagram TikTok Tidak menggunakan TikTok Menggunakan TikTok Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa sosial media yang digunakan oleh mayoritas lansia adalah WhatsApp . %), kemudian diikuti oleh Youtube . %). Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa mayoritas lansia memiliki perhatian yang rendah terhadap penggunaan media sosial . %), sebanyak 74% memiliki penghayatan yang rendah terhadap penggunaan media sosial. Sebanyak 55% lansia memiliki durasi penggunaan sosial media yang rendah dan 71% lansia memiliki frekuensi penggunaan sosial media yang rendah. Mayoritas responden menggunakan sosial media dengan intensitas rendah . %). Selly Anjely. Ari Rahmat Aziz. Widia Lestari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 56-61 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tabel 3. Penggunaan sosial media pada lansia No. Penggunaan sosial media pada lansia Aspek perhatian Rendah Tinggi Penghayatan Rendah Tinggi Durasi Rendah Tinggi Frekuensi Rendah Tinggi Intensitas penggunaan media sosial Rendah Tinggi PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden lansia yang aktif menggunakan sosial media berusia antara 60 hingga 69 tahun. Lansia yang lebih muda cenderung mengalami sedikit kendala fungsional dalam memanfaatkan sosial media dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih senior (Ashari, 2. Temuan serupa juga diungkapkan dalam penelitian Sun et al. , di mana mayoritas dari 258 responden lansia yang menggunakan sosial media berada dalam kelompok usia 60-69 tahun, yaitu sebanyak 193 orang. Penelitian ini juga mencatat bahwa sebagian besar responden adalah perempuan. Sosial media dianggap sebagai saluran yang tepat untuk self-presentation, sesuai dengan kecenderungan perempuan yang lebih banyak membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan diri dan memiliki ketergantungan pada relasi sebaya. Penelitian lain oleh Pantu . mendukung hal ini, menyatakan bahwa perempuan lebih sering menggunakan sosial media dibandingkan dengan laki-laki. Sun et al. juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden lansia perempuan yang menggunakan media sosial, yaitu sekitar 65,3%. Penelitian lainnya oleh Wang et al. menyimpulkan bahwa lansia perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menggunakan sosial media dibandingkan dengan lansia laki-laki. Aktivitas sosial media dijalani dengan lebih aktif oleh lansia wanita, karena mereka lebih sering berada di rumah dan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal baru, termasuk penggunaan sosial media (Veby, 2. Penelitian ini mencatat bahwa mayoritas lansia menggunakan WhatsApp dan Youtube sebagai platform sosial media utama. Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Maulida . di Kelurahan Kober Banyumas, yang menyimpulkan bahwa 100% dari 50 responden lansia aktif menggunakan WhatsApp. Penggunaan WhatsApp oleh lansia mencakup kegiatan seperti chatting, panggilan suara, video call, mengupdate status, dan mengomentari status teman. Mayoritas responden juga memiliki 4-8 grup WhatsApp. WhatsApp dianggap sangat bermanfaat sebagai alat komunikasi dua arah bagi lansia, memudahkan mereka berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman, serta memberikan hiburan saat mereka sendiri. Youtube juga menjadi platform populer karena memberikan akses mudah kepada lansia untuk mendapatkan berbagai informasi melalui video. Responden menggunakan Youtube untuk mendengarkan ceramah bimbingan rohani dari tokoh ulama yang mereka kagumi tanpa harus meninggalkan rumah, serta untuk mendengarkan lagu-lagu nostalgia yang dapat mengaktifkan daya ingat lansia (Maulida, 2. Penelitian ini juga mengkaji 4 aspek penggunaan media sosial pada lansia, yakni perhatian, penghayatan, durasi, dan frekuensi. Aspek perhatian dalam konteks ini didefinisikan sebagai ketertarikan individu terhadap aktivitas yang sesuai dengan minatnya, yang dapat menjadi lebih kuat dan intensif dibandingkan dengan aktivitas lain yang tidak menimbulkan minat khusus (Oktavia, 2. Lansia cenderung sulit mengadopsi cara baru berkomunikasi melalui media sosial, sehingga mengurangi perhatian mereka terhadap penggunaan platform ini. Kendala lain mencakup kurangnya penjelasan teks pada fasilitas atau fitur media sosial, yang dapat mengurangi minat dan motivasi lansia dalam menggunakan sosial media (Wuriyanti, 2. Dalam penelitian ini, mayoritas lansia menunjukkan tingkat perhatian yang rendah terhadap penggunaan media sosial, sesuai dengan penelitian oleh Wuriyanti . yang mencatat bahwa lansia melihat urgensi yang kurang kuat untuk menggunakan media sosial, kecuali untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman-teman mereka. Aspek penghayatan dalam konteks ini merujuk pada pemahaman dan penyerapan informasi oleh individu, serta pengalaman sebagai bagian dari pengetahuan personal (Oktavia, 2. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya pemahaman dan kemampuan lansia dalam menggunakan sosial media adalah kondisi kesehatan, khususnya terkait dengan daya ingat lansia. Mayoritas lansia mengakui kesulitan mengingat kode-kode Selly Anjely. Ari Rahmat Aziz. Widia Lestari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 56-61 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. yang kompleks (Nisa, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki tingkat penghayatan yang rendah terhadap penggunaan media sosial. Penelitian ini juga mengungkap bahwa mayoritas lansia menggunakan sosial media kurang dari 3 jam Durasi penggunaan sosial media dianggap rendah jika penggunaannya berada dalam rentang 1-3 jam per hari, sesuai dengan pandangan dari Judith . Temuan ini sesuai dengan penelitian Maulida . di Kelurahan Kober Banyumas, yang menyatakan bahwa sebagian besar lansia menghabiskan waktu 1-3 jam per hari untuk mengakses media sosial. Survei Kominfo . juga mencatat bahwa 15% lansia menggunakan sosial media kurang dari 1 jam per hari, sementara 28% menggunakan sosial media1-2 jam per hari. Dalam konteks kelompok lansia, hubungannya erat dengan menurunnya kondisi kesehatan, yang dapat menciptakan kendala bagi lansia dalam menggunakan media sosial. Beberapa masalah yang muncul termasuk pandangan mata yang buram, serta tangan yang mudah terasa pegal apabila lama dalam menggunakan sosial media (Ashari, 2. Hal ini menunjukkan bahwa aspek durasi penggunaan sosial media pada lansia dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan Frekuensi dalam konteks ini diartikan sebagai perilaku penggunaan sosial media yang terjadi secara berulang-ulang, baik secara sengaja maupun tidak sengaja (Oktavia, 2. Frekuensi penggunaan sosial media dianggap rendah jika terjadi dalam rentang 1-4 kali per hari, sesuai dengan konsep dari Judith . Penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi dalam menggunakan sosial media pada lansia rendah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kendala intrapersonal seperti perasaan kurang percaya diri dan ketakutan terhadap kesalahan dalam menggunakan media sosial. Selain itu, kendala struktural juga muncul, seperti mahalnya biaya paket data internet yang membuat lansia terbatas dalam mengakses sosial media dan cenderung mengurangi frekuensi penggunaannya agar paket internet bisa digunakan untuk waktu yang lama (Ashari, 2. Penelitian ini juga mencatat bahwa mayoritas lansia memiliki intensitas penggunaan sosial media yang Wuriyanti . menyatakan bahwa penggunaan sosial media oleh lansia dalam kegiatan sehari-hari terbatas hanya untuk berkomunikasi. Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Ashari . , yang menyatakan bahwa intensitas penggunaan sosial media oleh lansia cenderung rendah. Kendala yang menyebabkan rendahnya intensitas penggunaan melibatkan aspek intrapersonal, seperti perasaan kurang percaya diri dan ketakutan akan Kendala struktural, seperti biaya paket data internet yang tinggi, juga menjadi faktor pembatas dalam mengakses media sosial. Selain itu, kendala fungsional muncul akibat penurunan kondisi kesehatan lansia, seperti pandangan mata yang berair dan panas, serta kelelahan dan pegal pada tangan ketika menggunakan sosial media secara berlebihan (Ashari, 2. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan terkait aktivitas penggunaan sosial media pada lansia dan dampaknya, sehingga dapat meningkatkan keilmuan khususnya dalam bidang keperawatan dan meningkatkan pelayanan kesehatan dalam upaya preventif mengurangi faktor risiko terjadinya masalah kesehatan pada lansia. Hasil penelitan ini diharapkan menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti menemukan beberapa keterbatasan, seperti diharuskan membaca pernyataan kuesioner berulang kali untuk membantu lansia, sehingga membutuhkan waktu yang lama serta dapat menyebabkan adanya perbedaan persepsi antara peneliti dan responden. Selain itu, pada penelitian ini peneliti juga tidak mencantumkan variabel pendidikan dan pekerjaan untuk melihat karakteristik responden, dimana pendidikan dan pekerjaan juga mempunyai peran terhadap perilaku atau sikap seseorang. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas lansia di Kelurahan Labuh BaruTimur menggunakan sosial media dengan intensitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena beberapa kendala dalam penggunaan sosial mediapada lansia yaitu berupa kendala intrapersonal, struktural dan fungsional. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan agar menambah variabel baru atau membuat menjadi bivariat yaitu menghubungkan karakteristik responden, karakteristik penggunaan sosial media dengan intensitas penggunaan sosial media serta dampaknya terhadap kesehatan lansia. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengungkapkan rasa terima kasih bagi Fakultas Keperawatan Universitas Riau. Penghargaan juga disampaikan kepada para lansia di Kelurahan Labuh Baru Timur yang dengan sukarela membantu dalam penelitian ini. Keberhasilan penelitian ini tidak terlepas dari kerjasama dan partisipasi aktif mereka, yang telah memberikan kontribusi berharga dalam penyelenggaraan penelitian. REFERENSI