CEMERLANG :Jurnal Manajemen dan Ekonomi Bisnis Vol. No. 3 Agustus 2023 e-ISSN: 2962-4797. p-ISSN: 2962-3596. Hal 313-322 DOI: https://doi. org/10. 55606/cemerlang. Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya Sunia Apriyono1. Naafika Rachma Rozani2. Dyah Putri Agustin3. Maria Yovita R Pandin4 Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya1,2,3,4 Abstrak Green accounting merupakan suatu pendekatan akuntansi yang berfokus pada pengukuran, pelaporan, dan pengendalian aktivitas ekonomi yang memperhitungkan dampak Tujuan penelitian Wisata Hutan Mangrove di Surabaya ini adalah untuk mengetahui potensi dan daya tarik wisata. Strategi pengembangan dan partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam pengembangan objek dan daya tarik Wisata Hutan Mangrove di Surabaya. Wisata ini memberikan pemandangan yang indah sekaligus mengasyikkan dan Hasil dari penelitian ini yaitu implementasi pengelolaan Hutan Mangrove sebagai tempat wisata di Surabaya yang sudah cukup baik dan terbukti mampu menarik minat pengunjung dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dikawasan tersebut. Kata Kunci : Wisata Hutan Mangrove. Partisipasi Masyarakat Abstract Green accounting is an accounting approach that focuses on measuring, reporting and controlling economic activity that takes into account environmental impacts. The research objective of Mangrove Forest Tourism in Surabaya is to determine tourism potential and attractiveness, development strategy and community and government participation in the development of objects and attractions for Mangrove Forest Tourism in Surabaya. This tour provides beautiful scenery as well as exciting and educational. The results of this study are the implementation of Mangrove Forest management as a tourist spot in Surabaya which is quite good and has proven to be able to attract visitors and improve the economy of the local community in the area. Keywords: Mangrove Forest Tourism. Community Participatio PENDAHULUAN Latar Belakang Penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya dapat dilakukan dengan cara mengukur nilai ekonomi dari berbagai aspek lingkungan yang terkait dengan hutan mangrove, seperti nilai ekosistem, nilai jasa lingkungan, dan dampak lingkungan dari kegiatan wisata. Selain itu, pengelola dapat mengidentifikasi biaya-biaya yang terkait dengan pengelolaan hutan mangrove dan kegiatan wisata, seperti biaya pemeliharaan dan biaya rehabilitasi ekosistem yang rusak. Dengan melakukan penilaian tersebut, pengelola dapat menentukan strategi pengelolaan yang lebih berkelanjutan dan mempertimbangkan nilai lingkungan dan sosial dalam pengambilan keputusan ekonomi. Received April 30, 2023. Revised Mei 20, 2023. Juni 19, 2023 * Sunia Apriyono Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya Misalnya, pengelola dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi penggunaan energi dan air, serta Hutan mangrove di Surabaya memiliki potensi untuk mencegah dampak perubahan iklim dengan menyerap karbondioksida dari udara untuk menghadapi cuaca ekstrem. Selain itu, pengelola juga dapat memberdayakan masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan mangrove di Surabaya, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pengelola hutan mangrove di Surabaya dapat melakukan penilaian nilai lingkungan dan sosial yang terkait dengan aktivitas manusia yang dilakukan di sekitar hutan mangrove di Surabaya. Objek wisata ini menyajikan keindahan alam yang sangat indah dan udara yang Sebelumnya objek wisata ini hanya sekedar hutan biasa yang tidak terawat dan perlu diadakan rehabilitasi dan perbaikan. Maka dari itu Hutan Mangrove ini diambil oleh dan diperhatikan oleh salah satu instansi pemerintahan kota yaitu. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian meningkatkan lahan konversi yang terbatas untuk melihat kesadaran masyarakat disekitar Hutan Mangrove sadar dalam melestarikan lingkungan di Kota Surabaya. Rumusan Masalah Bagaimana Green Accounting keberlanjutan pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya? Apa saja aspek-aspek lingkungan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tempat wisata mangrove di Surabaya? Apakah penerapan Green Accounting di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya efektif dalam meminimalkan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh aktivitas Tujuan Penelitian Mengidentifikasi kontribusi penerapan Green Accounting dalam meningkatkan keberlanjutan pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya Mengetahui aspek-aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan Green Accounting pada pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya Menganalisis efektivitas penerapan Green Accounting dalam meminimalkan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh aktivitas wisatawan di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya. 314 CEMERLANG - Vol. No. 3 Agustus 2023 TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka mengenai penerapan Green Accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya dapat memberikan dasar teoritis dan konsep yang relevan dalam pengelolaan keberlanjutan tempat wisata. Beberapa literatur yang relevan dalam topik ini. Artikel ini membahas tentang penerapan Green Accounting sebagai instrumen untuk mengukur kinerja lingkungan dalam pengelolaan lingkungan. Konsep Green Accounting yang digunakan dalam artikel ini berkaitan dengan pengukuran biaya lingkungan dan manfaat yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi. Dalam konteks pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya,Green Accounting dapat digunakan untuk mengukur biaya lingkungan yang terkait dengan kegiatan pariwisata seperti peningkatan limbah, kerusakan lingkungan, dan kerusakan Selain itu, konsep ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh kegiatan pariwisata yang dilakukan di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya. Implementasi Green Accounting dalam pengelolaan lingkungan hidup pada industri Konsep Green Accounting yang digunakan dalam artikel ini adalah bagaimana pengelolaan lingkungan dapat dikelola secara efektif melalui pengukuran biaya lingkungan dan manfaat yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata. konsep Green Accounting dapat membantu dalam meminimalkan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh aktivitas pariwisata seperti peningkatan limbah, kerusakan lingkungan, dan kerusakan ekosistem. Selain itu, konsep ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh kegiatan pariwisata yang dilakukan di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah suatu metode yang digunakan dalam penelitian untuk memahami fenomena sosial dengan cara yang deskriptif dan naratif. Dalam metode penelitian kualitatif, peneliti berusaha memahami fenomena yang diteliti dari sudut pandang partisipan atau subjek penelitian dengan mengumpulkan data yang bersifat deskriptif dan mendalam. Metode penelitian kualitatif umumnya digunakan untuk meneliti fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dijelaskan secara kuantitatif, seperti sikap, persepsi, keyakinan, dan perilaku manusia. Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena penelitian ini di dapatkan dari 2 informan yaitu petugas dan pengunjung dengan memberikan informasi secara mendalam tentang bagaimana penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan magrove di Surabaya. Pengumpulan data akan di lakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumen. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan seminggu sebelum Evaluasi Tengah Semeter genap tahun ajaran 2023/ 2024. Pengambilan data dilakukan di Hutan Mangrove Surabaya. Jenis Data Dalam penelitian penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya, beberapa jenis data yang dapat digunakan antara lain: Data sekunder: Data sekunder dapat diperoleh dari dokumen dan laporan terkait pengelolaan hutan mangrove di Surabaya, seperti peraturan pemerintah, laporan keuangan, laporan keberlanjutan, dan dokumen-dokumen lain yang relevan. Data sekunder ini dapat digunakan untuk memahami kondisi pengelolaan hutan mangrove di Surabaya dan melihat bagaimana pengelolaan tersebut dapat dikembangkan dengan menerapkan green accounting. Data kualitatif: Data kualitatif dapat diperoleh melalui wawancara dengan pihak terkait pengelolaan hutan mangrove di Surabaya, seperti pengelola hutan mangrove, pemerintah daerah, dan komunitas setempat. Wawancara ini dapat digunakan untuk memahami pandangan mereka tentang pengelolaan hutan mangrove, tantangan yang dihadapi, dan potensi penerapan green accounting. Sumber Data Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya antara lain: Dokumen pemerintah terkait pengelolaan hutan mangrove di Surabaya, seperti rencana pengelolaan hutan mangrove, peraturan pemerintah terkait lingkungan hidup, dan laporan Wawancara dengan pihak terkait, seperti pengelola hutan mangrove, pemerintah daerah, dan komunitas setempat, untuk memahami pandangan mereka tentang pengelolaan hutan mangrove dan penerapan green accounting. Pengamatan langsung dan pengukuran kualitas lingkungan di sekitar hutan mangrove, keberadaan jenis-jenis flora dan fauna tertentu. 316 CEMERLANG - Vol. No. 3 Agustus 2023 Data partisipatif dari masyarakat setempat dalam proses pengelolaan hutan mangrove, seperti diskusi kelompok, focus group discussion (FGD), atau survei partisipatif. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya dengan melakukan Wawancara. Observasi, dan Studi dokumen. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara, observasi, dan analisis dokumen, ditemukan bahwa penerapan green accounting di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya belum optimal. Sebagian pengunjung menyatakan bahwa terdapat limbah dan sampah di sekitar tempat wisata yang belum dikelola secara optimal, sehingga diperlukan penerapan green accounting untuk mengatasi masalah tersebut untuk menunjukan bahwa pengelolaan ekowisata dianggap belum sepenuhnya melibatkan masyarakat lokal dan mengakibatkan masyarakat belum memenuhi prinsip konversian lingkungan. Permasalahan disebabkan adanya degradasi penurunan luasan akibat dari erosi, sedimentasi dan konversi lahan pemukiman. Petugas mengatakan telah terjadinya pembelakan kayu hutan bakau oleh masyarakat pada thn 2015, sehingga mengakibatkan pengembangan kawasan ekowisata ini juga menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, kerusakan tanaman, spises burung Salah satu kendala dalam penerapan green accounting adalah kurangnya pemahaman tentang konsep tersebut, dan kurangnya kemampuan dalam melaksanakan penerapan green Kendala dalam penerapan green accounting di tempat wisata hutan mangrove di Surabaya dapat diatasi dengan meningkatkan pemahaman dan kemampuan pengelola tempat wisata dalam melaksanakan green accounting. Pendidikan dan pelatihan tentang konsep green accounting perlu diberikan kepada pengelola tempat wisata dan stakeholder terkait untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan lingkungan yang Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya Hutan Wisata Mangrove Surabaya merupakan wisata yang menggabungkan wisata rekreasi dan edukasi. Di area dengan luas kurang lebih 200 hektar ini ditanami berbagai tanaman bakau. Lokasi wisata ini dikelola dengan baik oleh pemerintah Kota Surabaya. Hutan Mangrove Surabaya ini memiliki daya tarik dari keasrian alamnya. Pada awalnya, kawasan konservasi alam ini dibuat untuk mencegah abrasi di wilayah Timur Kota Surabaya. Pengelolaan yang baik membuat pemerintah Kota Surabaya membuka lokasi ini untuk umum dan untuk masuk ke kawasan ini tidak perlu membeli tiket alias gratis dan dikenakan tarif tiket jika ingin menaiki Ekowisata Mangrove Surabaya ini merupakan kawasan konservasi alam untuk mencegah abrasi di wilayah timur Kota Surabaya. Sesuai dengan konsep ekowisata, destinasi ini menggabungkan wisata rekreasi dan edukasi. Humas Ekowisata Mangrove Surabaya David NR menjelaskan, wilayah ini terdiri dari dua kawasan utama, yakni lintasan jogging . ogging trac. dan hutan mangrove. 318 CEMERLANG - Vol. No. 3 Agustus 2023 Taman Wisata Mangrove adalah salah satu tempat wisata yang paling terkenal di hutan mangrove Surabaya. Di sini, pengunjung dapat menikmati pemandangan yang indah dari atas jembatan kayu yang terbentang di atas air. Selain itu, pengunjung juga dapat melakukan aktivitas seperti berjalan-jalan, bersepeda, dan naik perahu keliling hutan mangrove. Rawa Indah juga merupakan area yang menarik untuk dikunjungi di hutan mangrove Surabaya. Di sini, pengunjung dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar seperti burungburung dan hewan-hewan air lainnya. Ada juga jembatan kayu yang terbentang di atas air yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati pemandangan yang indah. Delta Wulan adalah area yang lebih terpencil dan jauh dari keramaian. Di sini, pengunjung dapat merasakan keheningan dan ketenangan yang sulit ditemukan di kota. Delta Wulan juga merupakan tempat yang ideal untuk melakukan aktivitas seperti bersepeda dan berjalan-jalan di sekitar hutan mangrove. Selain itu, hutan mangrove Surabaya juga memiliki banyak kegiatan edukatif yang menarik seperti pengamatan burung, pengenalan tumbuhan mangrove, dan penanaman Dengan kegiatan ini, pengunjung dapat memperoleh pengetahuan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove dan pentingnya menjaga lingkungan alam. Sistem keuangan hutan mangrove di surabaya Sebagai kawasan konservasi alam. Hutan Mangrove di Surabaya dikelola oleh pemerintah setempat melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Sistem keuangan untuk Hutan Mangrove Surabaya didanai oleh anggaran pemerintah dan juga melalui kerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat setempat. Beberapa sumber pendapatan dari Hutan Mangrove Surabaya antara lain adalah: Pendapatan dari tiket masuk Untuk mengunjungi Hutan Mangrove Surabaya, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk. Pendapatan dari tiket masuk ini akan digunakan untuk pengelolaan dan pemeliharaan Hutan Mangrove Surabaya. Sponsor dan donatur Pihak swasta dan masyarakat setempat dapat memberikan dukungan finansial berupa donasi atau sponsorship untuk pengelolaan Hutan Mangrove Surabaya. Penjualan souvenir dan makanan/minuman Di dalam kawasan Hutan Mangrove Surabaya, terdapat warung dan toko souvenir yang menjual berbagai macam produk seperti t-shirt, mug, atau gantungan kunci dengan motif Hutan Mangrove Surabaya. Pendapatan dari penjualan produk-produk tersebut akan digunakan untuk mendukung pengelolaan Hutan Mangrove Surabaya. Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya Kegiatan ekowisata Dinas Kehutanan dan Perkebunan juga menyelenggarakan kegiatan ekowisata seperti tour dan aktivitas edukatif yang dapat menghasilkan pendapatan. Pendapatan dari sumber-sumber di atas akan digunakan untuk mendukung pengelolaan Hutan Mangrove Surabaya, seperti untuk pemeliharaan jalan setapak, jembatan kayu, dan fasilitas pendukung lainnya, serta untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan ekowisata yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi lingkungan alam sekitar. Berikut adalah tabel yang menunjukkan biaya lingkungan yang timbul dari pengelolaan dan pengunjung tempat wisata hutan mangrove di Surabaya: Jenis Biaya Jumlah Biaya Pemeliharaan mangrove Pengumpulan sampah Pembersihan area Pemakaian energi Pengelolaan air Pengadaan alat Kerusakan lingkungan Kerugian finansial Potensi lingkungan Tiket Masuk Gratis Sewa Perahu Dewasa Sewa Perahu Anak-Anak Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa biaya lingkungan terbesar yang timbul dari pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya adalah biaya pemeliharaan mangrove dan biaya pengelolaan air. Sedangkan biaya kerusakan lingkungan dan kerugian finansial juga cukup signifikan. Peluang yang diidentifikasi untuk mengurangi dampak lingkungan negatif dan meningkatkan manfaat lingkungan yang positif antara lain: Memperbaiki sistem pengolahan air limbah untuk mengurangi biaya pengelolaan air dan mengurangi dampak lingkungan negatif. 320 CEMERLANG - Vol. No. 3 Agustus 2023 Mengurangi penggunaan energi untuk mengurangi biaya pemakaian energi dan mengurangi dampak lingkungan negatif. Meningkatkan edukasi pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan: Dari hasil penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya, dapat disimpulkan bahwa penggunaan green accounting dapat membantu mengidentifikasi biaya lingkungan yang timbul dari pengelolaan dan pengunjung tempat wisata. Hal ini memungkinkan untuk mengidentifikasi peluang untuk mengurangi dampak lingkungan negatif dan meningkatkan manfaat lingkungan yang positif. Biaya pemeliharaan mangrove dan pengelolaan air menjadi biaya lingkungan terbesar yang timbul dari pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya. Saran: Berdasarkan hasil penerapan green accounting dalam pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya, berikut adalah beberapa saran yang dapat diberikan: Pengelola tempat wisata harus terus memperbaiki sistem pengolahan air limbah untuk mengurangi biaya pengelolaan air dan mengurangi dampak lingkungan negatif. Pengelola tempat wisata harus mempertimbangkan penggunaan energi alternatif untuk mengurangi biaya pemakaian energi dan mengurangi dampak lingkungan negatif. Pengelola tempat wisata harus meningkatkan edukasi pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan serta mengurangi penggunaan plastik di dalam kawasan wisata. Pengelola tempat wisata harus mengoptimalkan penggunaan alat yang ramah lingkungan seperti kendaraan listrik atau alat pemotong rumput bertenaga solar, dan mengurangi penggunaan alat-alat yang berbahaya bagi lingkungan seperti bahan kimia yang digunakan untuk pembersihan area. Dengan menerapkan saran-saran tersebut, diharapkan pengelolaan tempat wisata hutan mangrove di Surabaya dapat menjadi lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Penerapan Green Accounting Dalam Pengelolaan Tempat Wisata Hutan Mangrove Di Surabaya IV. DAFTAR PUSTAKA