293 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Gambaran Pemberian Obat Masal Pencegahan Kaki Gajah Di Wilayah Kerja Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende Tahun 2011-2015 Overview of Mass Medication for Prevention of Elephant Feet in Welamosa Public Health Center Working Area. Wewaria District. Ende Regency, 2011-2015 Wilhelmus Olin. Mariana Hartini Dhema Deto Analis Kesehatan. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: olinwem@gmail. Email: hartinideto@yahoo. ARTICLE INFO: Keywords: Elephantiasis Overview of taking preventive Wewaria Kata Kunci: Kaki gajah Gambaran Minum Obat Pencegahan Wewaria ABSTARCT/ABSTRAK Elephant Foot Disease (Lymphatic Filariasi. , hereinafter referred to as filariasis, is a chronic infectious disease caused by filarial worms that attack the lymph nodes. Data from the Ende District Health Office shows that up to 2015 there were 233 cases of filariasis with the highest number found in the welamosa Public Health Center in the authority district of 67 The purpose of this study was to determine the description of mass drug prevention of elephantiasis in the working area of Welamosa Health Center in Wewaria District. Ende Regency in 2011-2015. The type of research used is descriptive with a cross sectional design using stratified random sampling technique with a sample of 380 samples. The results showed that people who drank mass medicine to prevent elephantiasis in 2011 amounted to 51%, in 2012 amounted to 52%, in 2013 amounted to 56%, in 2014 and 2015 respectively 62%. People who do not take medication are caused by not getting medication and not taking Residents who get the medicine but do not drink it are more due to no desire to drink than because of the side effects of drugs / allergies while the people who do not get the medicine are more due to the unwillingness / willingness to take the drug. Penyakit Kaki Gajah (Lymphatic Filariasi. yang selanjutnya disebut filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran kelenjar getah bening. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ende menunjukan hingga tahun 2015 tercatat 233 kasus filariasis dengan jumlah tertinggi terdapat di wilayah puskesmas welamosa kecamatan wewaria yaitu sebanyak 67 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemberian obat masal pencegahan kaki gajah di wilayah kerja Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende tahun 2011-2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional menggunakan teknik stratified random sampling dengan jumlah sampel 380 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat yang minum obat masal pencegahan kaki gajah tahun 2011 sebesar 51%, tahun 2012 sebesar 52%, tahun 2013 sebesar 56%, tahun 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 62%. Masyarakat yang tidak minum obat lebih disebabkan karena tidak mendapat obat dan tidak mau minum obat. Warga yang mendapat obat namun tidak meminumnya lebih disebabkan tidak ada niat/kemauan untuk minum dibandingkan karena faktor efek samping obat/alergi sedangkan warga yang tidak mendapat obat lebih disebabkan karena tidak kemauan/keinginan untuk mengambil obat. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Wilhelmus Olin Email: olinwem@gmail. PENDAHULUAN Wewaria Kecamatan Detusoko 38 penderita. Kecamatan Kota Penyakit Kaki Gajah (Lymphatic Baru Kecamatan Filariasi. Maukaro 31 penderita, dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Wewaria. menahun yang disebabkan oleh cacing Kecamatan Wewaria mempunyai filaria yang menyerang saluran kelenjar luas wilayah 157, 95 km 2 getah bening (Anonim, 2. sebagian besar terdiri atas hutan dan Indonesia padang rumput. Batas wilayah Kecamatan endemis berbagai macam penyakit infeksi Wewaria sebelah utara berbatas dengan terutama penyakit yang disebabkan oleh Laut Flores, sebelah selatan berbatas parasit salah satunya penyakit filariasis. Tahun 2010 tercatat sebanyak 11. Kecamatan Ende, sebelah timur berbatas dengan Kecamatan Maukaro (Anonim, mengalami peningkatan sebesar 14. Peraturan daerah Kabupaten Ende kasus (Anonim, 2. Sebaran kasus filariasis hampir merata diseluruh provinsi Wewaria sebagai daerah pengembangan untuk kegiatan pertambangan, perikanan. Indonesia. Kecamatan Detusoko Kecamatan beberapa provinsi terdapat daerah yang mempunyai tingkat endemis cukup tinggi. sehingga menjadi potensi sebagai tempat Provinsi NTT merupakan salah satu perkembangbiakan nyamuk dan sangat provinsi yang memiliki kasus filariasis beresiko bagi penularan filariasis. tinggi dengan jumlah kasus pada tahun Pemerintah 2015 sebesar 3. 175 kasus. Provinsi NTT terdiri dari 22 kabupaten/kota dimana 18 Gajah kabupaten dinyatakan sebagai daerah setahun sekali selama lima tahun berturut- endemis dan salah satunya Kabupaten turut setiap bulan oktober (Anonim, 2. Ende (Anonim, 2. Program Data Dinas kesehatan Kabupaten Bulan Eliminasi Kaki (Belkag. memutuskan rantai penularan dengan Ende tahun 2015 menunjukan bahwa Pemberian terdapat 233 orang yang menderita kaki (POMP) filariasis pada masyarakat yang gajah kronis yang tersebar di beberapa (Anonim, 2. Secara Obat Masal Program eliminasi kaki gajah telah Kabupaten Ende terdapat di sepanjang dilaksanakan di kabupaten Ende. Sejak pantai utara Flores meliputi Kecamatan kabupaten Ende yang masuk dalam Teknik sampel kategori daerah endemis kaki gajah Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stratified . masal pencegahan filariasis yang diminum Defenisi operasional sekali setahun selama lima tahun berturut- turut dan sudah berlangsung selama lima (Anonim,2. pencegahan kaki gajah di Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Untuk Gambaran seberapa persen masyarakat yang minum Ende tahun 2011-2015. Filariasis pencegahan filariasis ?. Apa penyebab masyarakat tidak minum obat pencegahan yang terjadi di wilayah filariasis? . Apa tindak lanjut terhadap efek Puskesmas Welamosa yang ditimbulkan setelah minum obat Kecamatan Wewaria pencegahan filariasis? Kabupaten Ende METODE PENLITIAN diberi obat pencegahan Karakteristik adalah data pasien yang telah Jenis penetian Jenis dan diperoleh dari buku dengan desain cross sectional wilayah kerja puskesmas Populasi Welamosa Kecamatan Kabupaten Wewaria Ende Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende. menbaca dan penduduk Sampel dan teknik sampel yang tinggal >5 tahun di Sampel wilayah kerja Puskesmas Semua Wewaria Welamosa. Prevalensi menggunakan rumus Slovin jumlah sampel sebanyak 391. jumlah masyarakat yang minum obat pencegahan HASIL DAN PEMBAHASAN filariasis di wilayah kerja Puskesmas Welamosa. Penyebab Persentase Minum Obat dan Tidak Minum Obat masyarakat tidak minum Program eliminasi filaria / kaki gajah Puskesmas wilayah Indonesia dimana setiap warga Welamosa umur 2 - 70 tahun yang berada di daerah masyarakat di wilayah minum obat. gajah di seluruh dengan kategori endemis kaki gajah wajib Tindak minum obat masal pencegahan kaki gajah 1 tahun sekali selama 5 tahun berturut- turut kecuali bagi mereka yang sedang sakit, anak dibawah 2 tahun, ibu hamil atau ibu menyusui. Pembagian terhadap masyarakat di wilayah kerja puskesmas Welamosa dengan cara semua warga Welamosa dikumpulkan di Balai Desa kemuadian mengalami efek pasca baru dibagikan obat pencegahan kaki minum obat pencegahan Diethylcarbamazine citrate ( DEC) dan Dalam Puskesmas Analisa Hasil sebagian masyarakat meminum Data yang diperoleh diolah dan namun sebagian tidak meminum obat. disajikan dalam bentuk grafik Data masyarakat yang minum obat dan dan dideskripsikan. yang tidak minum obat sebagaimana tampak pada diagram 1 berikut ini. Minum Obat Tidak Minum Obat Diagram 1. Persentase Minum Obat dan Tidak Minum Obat Tahun 2011-2015 Data pada diagram 1 menunjukan minum obat Alasan Masyarakat Tidak Minum Obat Masal Pencegahan Kaki Gajah masal pencegahan kaki Data pada diagram 1 diatas telah gajah tahun 2011 sebesar 51%, tahun memberikan gambaran bahwa jumlah 2012 sebesar 52%, tahun 2013 sebesar masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 56%, tahun 2014 dan 2015 masing- Welamosa masing sebesar 62%. Data pada diagram pencegahan masal kaki gajah masih 1 memberikan gambaran bahwa warga sangat tinggi . erkisar dari 38% -49%). masyarakat di Kecamatan Wewaria yang Hasil wawancara dengan masyarakat di 8 tidak minum obat pencegahan masal kaki Desa yang ada penderita kaki gajah gajah masih sangat tinggi dan belum memberikan gambaran bahwa secara mencapai target minum obat baik yang umum warga masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah daerah minum obat juga ditemukan pada warga Kabupaten yang mendapat obat dan warga yang Ende nasional yaitu minimal 85%. yang tidak minum obat tidak dapat obat. Data alasan tidak minum obat seperti tertera pada diagram 2 berikut ini. Dapat Tidak Minum Tidak Dapat Diagram 2. Persentase Alasan Masyarakat Tidak Minum Obat Data pada diagram 2 menunjukan masyarakt tidak minum karena tidak dapat Alasan Masyarakat Yang Mendapat Obat Namun Tidak Diminum obat, namun hal menarik adalah warga Warga yang telah mendapatkan obat sebagian Puskesmas Welamosa yang mendapatkan juga tidak meminumnya. Data warga yang obat pencegahan masal kaki gajah namun mendapat obat namun tidak meminumnya dengan jumlah yang berkisar 20% - 28%. Hasil wawancara terhadap masyarakat diberikan obat namun tidak meminum yang mendapat obat pencegahan namun tidak meminumnya secara umun lebih menitipkan obat bagi anggota keluarga disebabkan oleh takut efek samping dan yang berhalangan hadir namun pada akhirnya warga yang mendapat titipan obat dengan kesadaran tidak meminumnya karena alasan tertentu. Takut Efek Samping Tidak Ada Kemauan Untuk Minum Diagram 3. Persentase Alasan Dapat Obat Tetapi Tidak Minum Data memperlihatkan bahwa tahun 2011 dan 2012 warga yang mendapatkan obat namun tidak meminumnya lebih banyak Alasan Masyarakat Tidak Mendapat disebabkan karena takut efek samping Obat Masal Pencegahan Masal Kaki yang timbul yaitu tahun 2011 sebesar 58%. Gajah 2012 65% dibandingkan karena kemauan Warga Puskesmas Welamosa Kecamatan persentase tahun 2011 sebesar 42%, 2012 Wewaria Kabupaten Ende yang tidak sebesar 35%, hal sebaliknya terjadi pada meminum obat karena tidak mendapat tahun 2013 dan 2014 dimana warga yang obat masih sangat tinggi. Banyak faktor penyebab masyarakat tidak meminum meminumnya lebih banyak disebabkan pendidikan di luar wilayah tempat tinggal, persentase tahun 2013 sebesar 64%, 2014 masyarakat yang mobilitasnya sebesar 58%, dibandingkan karena takut efek samping dengan persentase tahun mengharuskan untuk tidak meminum obat 2013 sebesar 36%, 2014 sebesar 42%, pencegahan kaki gajah dan sebagainya. sedangkan data tahun 2015 menunjukan Hasil wawancara terhadap mmasyarakat bahwa warga yang mendapat obat dan tidak meminum karena takut efek samping terpetakan beberapa alasan dominan dan tidak ada kemauan adalah sama diagram 4 berikut ini 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 3 0 0 3 Tidak Ambil Obat Belum Pas Umur Ibu Hamil 1 3 2 3 Ibu Menyusui Sakit Diagram 4. Persentase Alasan Masyarakat yang Tidak Dapat Obat Data upaya mencegah penyakit kaki gajah menunjukan bahwa masyarakat yang tidak masih sangat rendah, begitupun dengan mendapat obat karena dengan kesadaran advokasi dari pemerintahan untuk tidak ingin pergi ke tempat pembagian obat meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mencegah penularan kaki gajah persentasenya yaitu pada tahun 2011 tidak berjalan baik sebesar 92%, 2012 sebesar 93%, 2013 sebesar 92%, 2014 sebesar 93%, 2015 Tindak Lanjut Terhadap Efek Yang sebesar 91%. Faktor lain merupakan Ditimbul pengecualian seperti belum pas umur Obat Masal Kaki Gajah pada tahun 2011 sebesar 3%, 2012 Setelah Masyarakat Minum Warga Wilayah sebesar 2%, 2013 dan 2015 sebesar Puskesmas Welamosa yang meminum 1%,2013 0%, ibu hamil pada tahun 2011 obat pencegahan masal kaki gajah secara dan 2012 sebesar 1%, 2013 sebesar 2%, umum mempunyai efek samping seperti 2014 0%, 2015 sebesar 3% , ibu menyusui mual muntah, demam, sakit kepala, nyeri pada tahun 2011, 2012, 2013 2015 ulu hati, alergi, nafsu makan menurun, sebesar 2%, 2014 sebesar 3%, sedang lemas, mengantuk namun sebagian besar sakit pada tahun 2011, 2012 sebesar 2%, tidak tidak merasakan efek ikutan setelah 2013, 2015 sebesar 3%, 2014 sebesar 4%. minum obat. Hasil wawancara masyarakat Tingginya jumlah warga di wilayah Puskesmas Welamosa, data masyarakat yang tidak megambil obat efek samping sebagaimana tergambar pencegahan kaki gajah menunjukan pada data diagram 4 berikut ini bahwa kesadaran masyarakat dalam Efek Samping Tindak Lanjut Terhadap Efek Samping Sakit Kepala Demam Tidak Ada Efek Mual Muntah Mengantuk Lemas Alergi Nafsu Makan Menurun Nyeri Ulu Hati Grafik 5. Persentase Tindak Lanjut Terhadap Efek yang Timbul Setelah Minum Obat. Data pada diagram 5 diatas menunjukan Persentase masyarakat yang masyarakat yang mengalami efek samping sakit kepala 25%, demam 21%. Tidak ada pencegahan kaki gajah tahun efek 20%, mual muntah 13%, mengantuk 2011 sebesar 51%, tahun 8%, lemas 6%, alergi 5%, nafsu makan 2012 sebesar 52%, tahun menurun 3%, nyeri ulu hati 2%. Efek 2013 sebesar 56%, tahun samping ini secara umum tidak ada tindak lanjut dari petugas penanganan pasca masing sebesar 62%. pengobatan dikarenakan dokter dan tenaga Persentase tertinggi alasan kesehatan setelah selesai pembagian obat masyarakt tidak minum obat langsung kembali ke Puskesmas induk yang lebih besar karena tidak berada di Desa Welamosa. KESIMPULAN DAN SARAN mendapatkan obat namun Kesimpulan tidak meminumnya Jumlah penderita kaki gajah Kecamatan Wewaria sebanyak 67 orang Masyarakat mendapatkan obat Saran timbul/yang dirasakan serta Diharapkan adanya dokumen rendah dari warga Masyarakat Puskesmas Perbaiki mendapat obat lebih dominan karena alasan tidak ingin pergi ke tempat pembagian meminum obat pencegahan obat untuk mengambil obat. masal kaki gajah. REFERENCES