Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 1 April 2025. Hal. BPPMSTAKTerpaduPesat Peran Penggunaan Media Sosial Bagi Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini Nita Paulina Benu1*. Yesa Cinta 2 STT Berita Hidup. nitabenu23@gmail. Article History Submitted: 07 April 2025 Accepted: 07 April 2025 Published: 30 April 2025 Keywords: Social Media. Christian Youth Interactions. Today Kata-kata kunci: Media Sosial. Remaja Kristen. Masa Kini Abstract Social media has become an integral part of everyday life, especially among teenagers, including Christian teenagers. This platform provides various benefits in terms of communication, dissemination of information, and building communities, but it also brings its own challenges and risks. This research aims to analyze the influence of social media use on the relationships of today's Christian teenagers, by considering the positive and negative aspects that arise from its use. This research uses a literature study method that reviews theory and data related to the influence of social media on the social and spiritual behavior of Christian teenagers. Findings show that social media can expand social networks, strengthen faith, and promote involvement in church activities, but it can also increase the risk of exposure to negative content, cyberbullying, and disruption in direct social interactions. Therefore, it is important for Christian teenagers to use social media wisely, with guidance from their family and church community. This research uses an approach that emphasizes the balance between social and spiritual dimensions in the lives of Christian teenagers, as well as its relevance to today's digital challenges that have not been studied in depth in the context of Christian faith. Abstrak Media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja, termasuk remaja Kristen. Platform ini menyediakan berbagai manfaat dalam hal komunikasi, penyebaran informasi, serta membangun komunitas, namun juga membawa tantangan dan risiko tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial terhadap pergaulan remaja Kristen masa kini, dengan mempertimbangkan aspek-aspek positif dan negatif yang timbul dari penggunaannya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang meninjau teori dan data terkait pengaruh media sosial pada perilaku sosial dan spiritual remaja Kristen. Temuan menunjukkan bahwa media sosial dapat memperluas jaringan sosial, memperkuat iman, serta mempromosikan keterlibatan dalam kegiatan gereja, namun juga dapat meningkatkan risiko terpapar konten negatif, cyberbullying, dan gangguan dalam interaksi sosial langsung. Oleh karena itu, penting bagi remaja Kristen untuk memanfaatkan media sosial secara bijak, dengan bimbingan dari keluarga dan komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan yang menekankan keseimbangan antara dimensi sosial dan spiritual dalam kehidupan remaja Kristen, serta relevansinya terhadap tantangan digital masa kini yang belum banyak dikaji secara mendalam dalam konteks iman Kristen Copyright: @2025. Authors. 65 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya media sosial, telah mengubah cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Remaja, sebagai kelompok usia yang sangat terhubung dengan teknologi, menjadi pengguna utama berbagai platform media sosial seperti Instagram. TikTok. WhatsApp, dan Facebook (Kristiyono. Media sosial memberikan peluang besar bagi remaja untuk saling berinteraksi, berbagi pengalaman, membentuk identitas diri, dan menjalin pergaulan di dunia maya. Perkembangan ini membawa banyak manfaat, namun juga menimbulkan tantangan baru, terutama bagi remaja yang memiliki latar belakang keagamaan seperti remaja Kristen. Remaja Kristen masa kini menghadapi tantangan unik dalam menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan nilai-nilai keagamaan yang mereka anut. Media sosial, dengan segala kelebihannya, dapat memberikan dampak positif, seperti menyediakan akses terhadap informasi rohani, khotbah daring, dan komunitas keagamaan yang mendukung pertumbuhan iman (Miftakhudin, 2. Namun, di sisi lain, media sosial juga memuat konten-konten yang seringkali bertentangan dengan ajaran Kristiani, seperti budaya materialisme, individualisme, dan perilakuperilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral yang mereka pelajari. Paparan terhadap halhal ini dapat memengaruhi cara pandang remaja terhadap identitas diri, pergaulan, serta kehidupan spiritual mereka. Mengingat betapa besar peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari remaja, penting untuk memahami bagaimana platform ini memengaruhi hubungan sosial mereka, baik secara positif maupun negatif. Selain itu, tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana remaja Kristen dapat tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan mereka dalam menghadapi tekanan sosial yang seringkali muncul dari penggunaan media sosial (Lestari et al. , 2. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan antara media sosial dan pergaulan remaja Kristen, serta memberikan saran bagi orang tua, pendidik, dan komunitas gereja dalam membimbing remaja dalam menggunakan media sosial secara bijaksana dan sesuai dengan ajaran Kristiani. Menurut Rizki Aprilia, remaja usia menengah sering menggunakan media sosial untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka tentang berbagai hal yang tersedia di platform tersebut, serta karena media sosial menjadi tren di kalangan mereka. Meskipun media sosial membawa banyak manfaat bagi remaja, ada juga dampak negatif yang muncul, terutama karena kurangnya kemampuan mereka untuk mengendalikan penggunaan media sosial. Jika tidak dikelola dengan baik, waktu yang dihabiskan di media sosial akan meningkat dan bisa mengarah pada kecanduan (Aprilia et al. , 2. Sejalan dengan pendapat tersebut. Inggit Annisa Nurfethia Gunawan mengemukakan bahwa penggunaan media sosial berdampak pada gangguan psikososial remaja, dengan menunjukkan bahwa media sosial dapat memicu berbagai efek negatif terhadap perkembangan psikososial mereka, seperti gangguan pola makan, kecemasan, dan depresi. Beberapa faktor yang berperan dalam munculnya dampak tersebut antara lain intensitas penggunaan media sosial yang tinggi (Gunawan et al. , 2. Menurut Alcinno G. Gani, dikemukakan bahwa sebagian besar pengguna media sosial adalah anak-anak dan remaja yang 66 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga masih memerlukan pengawasan orang tua. Meski media sosial memberikan manfaat, seperti memudahkan komunikasi dan akses informasi, serta memperluas relasi, dampak negatifnya juga Remaja yang kecanduan media sosial sering menunjukkan perubahan sikap, seperti menjadi malas dan melupakan tanggung jawab mereka sebagai pelajar (Gani, 2. Pendapat lain dari Tita Langi, ia mengemukakan bahwa media sosial memberikan dampak positif dan negatif pada remaja Kristen. Dampak positifnya adalah kemudahan akses informasi, sementara dampak negatifnya adalah kecanduan, pengabaian tanggung jawab, dan potensi kerusakan citra diri akibat unggahan masalah pribadi. Peran orang tua sangat penting dalam memfilter konten negatif dan membimbing penggunaan media sosial yang bijak (Langi, 2. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada dampak media sosial terhadap remaja secara umum, tanpa menyoroti secara khusus dinamika yang dialami oleh remaja Kristen yang hidup di tengah arus digital modern. Padahal, remaja Kristen menghadapi tantangan ganda, yakni pengaruh umum media sosial terhadap aspek psikologis dan sosial, serta tekanan untuk tetap memegang nilai-nilai kekristenan dalam lingkungan virtual yang seringkali bertentangan dengan prinsip iman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara khusus pengaruh penggunaan media sosial terhadap pergaulan dan kehidupan spiritual remaja Kristen masa kini. Keunikan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang mengintegrasikan perspektif sosial dan spiritual secara seimbang, serta menekankan pentingnya penggunaan media sosial yang bijak dan berlandaskan iman Kristen, yang belum banyak dikaji dalam penelitian sejenis. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif deskriptif (Umrati and Hengky Wijaya, 2. , peneliti juga menguraikan secara teoritis dan praktis mengenai pengaruh penggunaan media sosial kemudian dihubungkan dengan pergaulan remaja Kristen masa kini dalam memahami pengaruh yang akan diakibatkan penggunaan media sosial dengan pendekatan studi literatur dan dengan cara mengumpulkan data-data yang ada serta faktafakta yang terjadi di lapangan terkait informasi dalam membahas tema, dengan bersumber dari referensi-referensi bacaan yang tepat untuk menjelaskan pengaruh penggunaan media sosial bagi pergaulan remaja Kristen masa kini. Pendahuluan dimulai dengan menarasikan mengenai media sosial, selanjutnya penulis, mendeskripsikan tentang pergaulan remaja Kristen yang dihubungkan dengan penggunaan media sosial, dan yang terakhir peneliti mengungkapkan pengaruh penggunaan media sosial bagi pergaulan remaja Kristen masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan hakikat Media Sosial Pengertian Media Sosial Media sosial adalah komunitas daring yang memungkinkan penggunanya berinteraksi, berpartisipasi, dan berbagi informasi tanpa batasan tempat dan waktu. Istilah "media" berasal dari bahasa Latin "Medium," yang berarti perantara. Menurut Van Dijk, media sosial adalah sebuah 67 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga platform yang berfokus pada keberadaan pengguna, serta memfasilitasi mereka dalam melakukan berbagai aktivitas dan berkolaborasi. Pendapat lain mengenai media sosial menurut Dailey dikemukakan bahwa media sosial adalah jenis konten yang dibuat melalui teknologi penerbitan, yang memungkinkan akses mudah dan terukur oleh pengguna (Suryaningsih, 2. Jadi, media sosial merupakan jaringan internet yang memungkinkan pengguna untuk mengekspresikan diri, bersosialisasi, berkolaborasi, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, serta membangun hubungan sosial. Ini juga berfungsi sebagai alat perantara untuk berinteraksi dan berkomunikasi antara individu, memberikan banyak kontribusi atau manfaat bagi masyarakat. Fungsi Media Sosial Media sosial, dalam perannya saat ini, telah menjadi kekuatan besar dalam membentuk perilaku dan berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini membuat fungsi media sosial sangat Beberapa fungsi media sosial antara lain: media sosial dirancang untuk memperluas interaksi sosial manusia melalui penggunaan internet dan teknologi web, media sosial telah mengubah praktik komunikasi satu arah dari institusi media kepada banyak audiens . ne to man. menjadi komunikasi dialogis antara banyak audiens . any to man. , dan media sosial mendukung demokratisasi pengetahuan dan informasi, serta mengubah peran manusia dari sekadar penerima pesan menjadi pembuat pesan (Purbohastuti, 2. Media sosial memiliki berbagai fungsi penting yang secara signifikan telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan mengakses informasi dalam kehidupan modern. Salah satu fungsi utama media sosial adalah sebagai alat untuk memperluas interaksi sosial manusia melalui dukungan teknologi internet dan web. Dengan hadirnya media sosial, jarak dan waktu tidak lagi menjadi batasan dalam menjalin komunikasi. Seseorang dapat berinteraksi dengan individu lain dari berbagai belahan dunia secara real time, baik dalam bentuk teks, suara, maupun video. Selain itu, media sosial juga telah mengubah pola komunikasi tradisional yang sebelumnya bersifat satu arah . ne to man. , seperti yang umum dilakukan oleh institusi media konvensional misalnya televisi, radio, atau surat kabar menjadi bentuk komunikasi yang lebih dialogis dan partisipatif . any to man. (Heychael & Sarwono, 2. Dalam konteks ini, setiap pengguna media sosial memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penyampai pesan, menanggapi pesan, serta membentuk diskusi bersama dalam ruang publik digital. Perubahan ini menjadikan komunikasi lebih terbuka, responsif, dan interaktif, memungkinkan pertukaran ide dan pendapat yang lebih dinamis antar individu maupun komunitas. Selanjutnya, media sosial juga memiliki fungsi dalam mendukung proses demokratisasi pengetahuan dan informasi (Setiadi, 2. Artinya, akses terhadap informasi kini tidak lagi terpusat pada institusi tertentu, tetapi tersebar secara luas dan dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki koneksi internet. Setiap individu berpotensi menjadi sumber informasi, dan tidak hanya menjadi konsumen informasi. Dengan demikian, media sosial telah mengubah peran manusia dari sekadar penerima pesan menjadi pembuat pesan . ontent creato. Perubahan peran ini memberi ruang bagi ekspresi diri, kreativitas, serta keterlibatan aktif dalam berbagai isu sosial, politik, budaya, dan keagamaan. 68 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Jenis-jenis Media Sosial Media sosial dibagi menjadi 6 jenis, antara lain: Pertama. Social Networking. Social networking adalah platform yang digunakan untuk berinteraksi, termasuk dampak yang ditimbulkan dari interaksi tersebut di dunia maya. Ciri utama dari situs jejaring sosial adalah pengguna dapat membentuk jaringan pertemanan baru. Dalam banyak kasus, jaringan pertemanan ini terbentuk berdasarkan minat yang sama, seperti kesamaan hobi. Contoh jejaring sosial tersebut adalah Facebook dan Instagram. Kedua. Blog. Blog adalah media sosial yang memungkinkan pengguna untuk mengunggah aktivitas harian, memberikan komentar, serta berbagi dengan pengguna lain, seperti berbagi tautan web, informasi, dan lain-lain. Ketiga. Microblogging. Microblogging adalah jenis media sosial yang memungkinkan pengguna untuk menulis dan mengunggah aktivitas serta pendapat mereka. Secara historis, media sosial ini berkembang seiring dengan munculnya Twitter, yang awalnya membatasi pengguna dengan maksimal 140 karakter. Keempat. Media Sharing. Media sosial ini memungkinkan pengguna untuk berbagi dan menyimpan berbagai jenis media secara online, seperti dokumen, video, audio, dan gambar. Contoh media sosial jenis ini adalah YouTube. Flickr. Photobucket, dan Snapfish. Kelima. Social Bookmarking. Penanda sosial adalah jenis media sosial yang berfungsi untuk mengorganisasi, menyimpan, mengelola, dan mencari informasi atau berita secara online. Beberapa situs social bookmarking yang populer antara lain Delicious. StumbleUpon. Digg. Reddit. dan di Indonesia, ada LintasMe. Keenam. Wiki. Wiki, atau media konten bersama, adalah situs yang memungkinkan kontennya dibuat melalui kolaborasi antar pengguna. Setiap pengguna dapat mengubah atau menyunting konten yang telah dipublikasikan (Puspitarini & Nuraeni, 2. Dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki berbagai jenis dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda-beda. Setiap jenis media sosial menawarkan fitur yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan berkolaborasi sesuai dengan kebutuhan serta minat masing-masing. Pemahaman terhadap jenis-jenis media sosial ini penting untuk mendukung penggunaan yang lebih tepat, efektif, dan bertanggung jawab di era digital, terutama dalam konteks membangun relasi sosial dan pengembangan diri secara positif. Pengaruh Media Sosial Pengaruh penggunaan media sosial terdapat 2 dampak yaitu dampak positif dan dampak negatif, sebagai berikut. Satu. Dampak Positif. Dampak positif penggunaan media sosial, antara lain: menjaga silaturahmi dengan keluarga atau saudara yang berada jauh dan sudah lama tidak bertemu kini bisa dilakukan melalui media sosial. Selain itu, media sosial juga berperan sebagai sumber belajar dan mengajar yang memiliki dampak sangat besar. Dengan browsing di internet, pengguna dapat mempelajari ilmu pengetahuan baru karena tersedia banyak topik dan sumber Mencari topik di internet membuat kita lebih maju dalam memulai pembelajaran di kelas. Media sosial juga menjadi sarana penyebaran informasi yang sangat cepat. hanya dalam beberapa menit setelah suatu kejadian, bisa mendapatkan informasi tersebut. 69 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Tidak hanya itu, media sosial memperluas jaringan pertemanan, memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang belum dikenal. Selain itu, media sosial juga merupakan sarana untuk mengembangkan keterampilan sosial, di mana pengguna bisa belajar beradaptasi dan bersosialisasi dengan publik. Sebagai media komunikasi, pengguna media sosial dapat terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia. Bahkan, media sosial juga digunakan sebagai platform promosi dalam bisnis, memungkinkan para pengusaha kecil mempromosikan produk mereka tanpa harus mengeluarkan biaya besar (Fronika, 2. Dapat disimpulkan bahwa media sosial memberikan banyak dampak positif, terutama dalam hal memperluas komunikasi, akses informasi, pembelajaran, dan pengembangan keterampilan sosial serta peluang bisnis. Kedua. Dampak Negatif. Dampak negatif penggunaan media sosial, antara lain: orang yang aktif di media sosial seringkali kesulitan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya karena mereka cenderung malas berkomunikasi secara langsung. Ketika bertemu secara nyata, mereka justru menjadi pendiam dan kurang bergaul. Media sosial juga dapat membuat seseorang menjadi lebih egois, hanya mementingkan diri sendiri, dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar karena terlalu banyak menghabiskan waktu di internet. Penggunaan media sosial saat bekerja atau belajar juga mengurangi produktivitas, baik di kalangan karyawan, pelajar, maupun mahasiswa, karena waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja atau belajar habis untuk bermain media sosial. Selain itu, dunia maya tidak lepas dari kejahatan yang dikenal sebagai cyber crime, seperti hacking, cracking, spamming, dan lain-lain. Pornografi pun marak berkat kemampuan internet dalam menyebarkan informasi. Seringkali seseorang memposting foto yang seharusnya bersifat pribadi di media sosial, yang kemudian bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga menimbulkan bahaya (Fronika, 2. Jadi, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya kemampuan bersosialisasi secara langsung, menurunnya produktivitas, serta meningkatnya risiko terhadap kejahatan digital dan penyalahgunaan informasi pribadi. Remaja Kristen Masa Kini Pengertian Remaja Istilah remaja sering dianggap sebagai masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, dimulai ketika anak mencapai kematangan seksual dan berakhir saat ia mencapai usia dewasa menurut hukum. Menurut World Health Organization (WHO), rentang usia remaja adalah antara 10 hingga 19 tahun (Firdaus & Marsudi, 2. Menurut Diane Papalia dan Sally Olds, masa remaja adalah periode transisi perkembangan yang terjadi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Fase ini biasanya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada akhir masa remaja, sekitar akhir belasan tahun atau awal dua puluhan (Saputro, 2. Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan fase transisi penting dari kanak-kanak menuju kedewasaan, yang umumnya dimulai sekitar usia 10Ae13 tahun dan berakhir pada akhir usia belasan atau awal dua puluhan, ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan. Jean Piaget menyatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah tahap dimana individu mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Pada usia ini, anak tidak lagi merasa 70 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga berada di bawah orang-orang yang lebih tua, melainkan merasa sejajar dengan mereka, terutama dalam hal hak-hak yang dimiliki (Nasution, 2. Franz J. Monks berpendapat bahwa secara umum, masa remaja berlangsung antara usia 12 hingga 21 tahun. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap: remaja awal pada usia 12-15 tahun, remaja pertengahan pada usia 15-18 tahun, dan remaja akhir pada usia 18-21 tahun (Kaparang, 2. Berdasarkan berbagai definisi tentang remaja di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja adalah fase perkembangan yang menandai transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, yang ditandai oleh perubahan pada aspek biologis, kognitif, dan Karakteristik Remaja Masa mencari identitas Pencarian identitas merupakan proses alami dalam perkembangan remaja, yang ditandai dengan upaya untuk memahami diri sendiri, peran dalam masyarakat, dan tujuan masa depan. Selama fase ini, remaja mulai melepaskan ketergantungan pada orang tua dan berusaha hidup lebih mandiri, meskipun terkadang hal ini menyebabkan konflik. Pada saat yang sama, remaja cenderung memiliki gambaran ideal yang mereka proyeksikan pada tokoh idola, serta sering menarik perhatian orang lain untuk menegaskan eksistensi mereka sebagai individu (Fatmawaty. Pencarian identitas merupakan bagian penting dan alami dalam perkembangan remaja, yang melibatkan proses memahami diri, membangun kemandirian, serta mencari pengakuan sosial. Sehingga proses ini membutuhkan bimbingan yang tepat agar remaja dapat menemukan jati diri yang sehat, positif, dan selaras dengan nilai-nilai moral dan spiritual yang mereka anut. Masa perubahan Seiring dengan perubahan fisik yang cepat, sikap dan perilaku remaja juga mengalami Seksualitas mereka menjadi matang, emosi lebih intens, kemampuan intelektual berkembang, dan aspek moralitas, nilai-nilai, minat, serta peran sosial pun ikut berubah (Fhadila. Selain perubahan fisik, remaja juga mengalami perkembangan emosional, intelektual, dan Emosi mereka cenderung lebih intens dan mudah berubah, sementara kemampuan berpikir mulai berkembang secara abstrak dan kritis. Mereka juga mulai membentuk nilai-nilai moral pribadi serta mengeksplorasi minat dan peran sosialnya. Semua perubahan ini merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan, sehingga bimbingan dari keluarga dan lingkungan sangat penting untuk membantu mereka menjalani masa transisi ini dengan sehat dan positif. Masa pertentangan Remaja sering mengalami konflik emosional yang menyebabkan kebingungan, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain, seperti orang tua dan orang dewasa lainnya. Di satu sisi, mereka ingin melepaskan diri dari orang tua, namun di sisi lain mereka merasa belum mampu mandiri dan masih mencari rasa aman di rumah. Ini menunjukkan bahwa remaja memiliki keinginan untuk tetap dekat dengan orang tua, tetapi pada saat yang sama juga ingin menghabiskan waktu bersama teman sebaya di luar rumah (Diananda, 2. Dapat disimpulkan bahwa remaja 71 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga mengalami konflik emosional yang wajar sebagai bagian dari proses pencarian jati diri, dimana mereka berusaha menyeimbangkan kebutuhan akan kemandirian dengan rasa aman dan kedekatan emosional dari keluarga. Aktivitas kelompok Remaja cenderung lebih sering bergaul dengan teman sebaya dan membentuk kelompokkelompok. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya waktu yang dihabiskan bersama orang tua dan keluarga, seiring dengan usaha mereka untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua. Remaja sangat ingin diterima dalam kelompok sebayanya dan takut ditolak, sehingga mereka berusaha menyesuaikan perilaku dengan norma kelompok (Joan Rais, 2. Biasanya, mereka bergabung dengan kelompok yang memiliki sifat dan nilai yang mirip dengan diri mereka sendiri. Remaja juga mulai menunjukkan minat terhadap pergaulan dengan lawan jenis, dan banyak dari mereka mulai mencoba berpacaran (Kogoya et al. , 2. Oleh karena itu, masa remaja merupakan tahap perkembangan dimana individu mulai mencari kemandirian dari orang tua dan lebih mengutamakan interaksi dengan teman sebaya, sehingga mereka cenderung menyesuaikan diri dengan norma kelompok untuk mendapatkan penerimaan sosial, termasuk dalam menjalin relasi dengan lawan jenis. Masa remaja merupakan periode transisi penting dari anak-anak menuju dewasa, ditandai oleh perubahan biologis, kognitif, dan emosional. Dalam konteks remaja Kristen masa kini, mereka tidak hanya menghadapi tantangan umum yang dialami remaja, tetapi juga berusaha memahami identitas diri dalam kerangka iman Kristen. Dalam pencarian identitas, remaja Kristen seringkali mencari makna dan tujuan hidup dalam iman, menjadikan tokoh-tokoh Kristen sebagai Mereka berupaya mengekspresikan eksistensi sebagai individu yang beriman, sambil menjalin hubungan positif dengan teman-teman yang seiman (Koehuan et al. , 2. Remaja Kristen menjalani masa transisi menuju kedewasaan dengan tantangan ganda, yaitu memahami perubahan diri sekaligus membentuk identitas dalam terang iman Kristen, sehingga mereka membutuhkan dukungan rohani dan lingkungan yang membangun untuk bertumbuh sebagai pribadi yang kuat dalam iman dan relasi sosial. Selama masa perubahan, remaja mengalami kematangan dalam aspek fisik, emosional, dan intelektual, dan berusaha mengintegrasikan perubahan tersebut dengan nilai-nilai Kristen. Ini termasuk pengembangan moralitas yang sesuai dengan ajaran agama di tengah pengaruh budaya yang beragam (Dupe, 2. Konflik antara keinginan untuk mandiri dan kebutuhan akan rasa aman seringkali terjadi, terutama dalam konteks keluarga. Remaja Kristen mungkin merasa terjebak antara harapan orang tua dan pencarian jati diri mereka, namun hal ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat iman dan menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang tua (Iwanggin et al. , 2. Remaja cenderung lebih banyak bergaul dengan teman sebaya dan terlibat dalam kelompok, baik sosial maupun spiritual. Keterlibatan dalam kegiatan gereja dan komunitas memberikan dukungan dan rasa keterhubungan yang penting dalam menghadapi tantangan kehidupan bagi remaja Kristen (Malelak, 2. Dapat disimpulkan bahwa masa remaja bagi remaja Kristen adalah waktu yang penuh tantangan sekaligus peluang, dimana mereka berupaya 72 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga mengintegrasikan perkembangan diri dengan nilai-nilai iman, menghadapi dinamika relasi keluarga, serta menemukan dukungan melalui keterlibatan dalam komunitas rohani untuk memperkuat identitas dan kedewasaan spiritual mereka. Secara keseluruhan, remaja Kristen masa kini harus menghadapi berbagai perubahan dan tantangan dalam hidup mereka. Namun, dengan dukungan dari keluarga, gereja, dan teman sebaya, mereka memiliki peluang untuk tumbuh menjadi individu yang kuat dalam iman dan berkontribusi positif kepada masyarakat. Fase ini sangat penting untuk membentuk karakter dan nilai-nilai mereka sebagai orang dewasa Kristen di masa depan. Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini Suparna menyatakan bahwa generasi remaja di era milenial saat ini cenderung memiliki sikap ragu terhadap hal-hal yang kebenarannya belum jelas, serta merasa curiga dan khawatir, sambil sangat menghargai privasi. Kehidupan remaja di zaman globalisasi semakin berani dalam menyampaikan pendapat dan berargumen. Di dunia informasi yang tak terbendung saat ini, jika tidak dikelola dengan bijak, hal ini dapat berdampak negatif bagi generasi remaja masa kini. Selanjutnya. Esti Regina Boiliu mengungkapkan bahwa perkembangan globalisasi yang berlangsung dalam kehidupan remaja saat ini memberikan banyak dampak, baik positif maupun Salah satu dampak negatif yang terlihat dari perkembangan globalisasi adalah berkurangnya pertumbuhan iman di kalangan remaja, termasuk remaja Kristen. Pergaulan remaja Kristen saat ini dihadapkan pada teknologi canggih yang memungkinkan mereka mengakses berbagai informasi dengan cepat (Waruwu et al. , 2. Mereka terbiasa melakukan berbagai aktivitas secara bersamaan, seperti makan sambil menonton YouTube, serta berusaha mencari tahu banyak hal sesuai kebutuhan dan keinginan mereka. Namun, tindakan negatif yang muncul dari pergaulan generasi masa kini meliputi bullying terhadap individu yang lebih lemah, suka berkelahi dan tawuran, penyalahgunaan narkoba, bermain game online tanpa batasan waktu, serta kecenderungan untuk tidak berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga lebih memilih solusi instan untuk menyelesaikan masalah dan menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, cenderung bersikap individualis (Penta Astari & Joseph, 2. Oleh karena itu, remaja Kristen di era milenial menghadapi tantangan besar akibat pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi, yang memengaruhi cara mereka berpikir, bergaul, dan membentuk iman. Jika tidak dibimbing dengan bijak, hal ini dapat menyebabkan penurunan nilai spiritual, sikap individualis, dan perilaku negatif lainnya dalam kehidupan sosial mereka. Pengaruh Penggunaan Media Sosial Bagi Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini Penggunaan media sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap pergaulan remaja Kristen masa kini. Berikut adalah beberapa pengaruh positif dan negatif dari penggunaan media sosial bagi pergaulan remaja Kristen masa kini. Pengaruh Positif Penggunaan Media Sosial bagi Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini Memperluas jaringan sosial 73 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Media sosial memungkinkan remaja Kristen untuk terhubung dengan teman-teman sebaya dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki keyakinan yang sama. Ini menciptakan peluang untuk berbagi pengalaman, belajar, dan bertumbuh dalam iman secara kolektif (Jakaria, 2. Media sosial memungkinkan remaja Kristen untuk memperluas jaringan sosial dan memperkuat iman melalui berbagai cara, seperti bergabung dalam grup diskusi Alkitab online, membagikan kesaksian di platform seperti Instagram atau TikTok, mengikuti influencer rohani, dan menginisiasi kampanye amal berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Mereka juga dapat mengadakan sesi doa virtual di Zoom atau Google Meet, serta membuat konten edukasi Kristen di YouTube. Dengan ini, remaja dapat saling mendukung, berbagi pengalaman, dan belajar bersama dalam komunitas yang lebih luas, melampaui batasan geografis, sambil tetap memperdalam kehidupan rohani mereka. Mengakses ke sumber daya spiritualitas Melalui media sosial, remaja dapat mengakses berbagai konten religius, termasuk video khotbah, artikel, dan grup diskusi tentang iman Kristen. Ini dapat memperdalam pemahaman mereka tentang ajaran agama dan memperkuat iman mereka (Saragih et al. , 2. Melalui media sosial, remaja Kristen dapat mengakses berbagai sumber daya spiritual, seperti menonton video khotbah di YouTube yang dibagikan oleh pendeta atau gereja, membaca artikel rohani tentang topik-topik iman di blog atau situs Kristen, dan mengikuti akun-akun yang membagikan renungan harian di Instagram. Mereka juga dapat bergabung dalam grup diskusi di Facebook atau WhatsApp untuk membahas ayat-ayat Alkitab dan berbagi pengalaman spiritual, serta mendownload aplikasi Alkitab yang menyediakan tafsiran dan panduan doa. Akses ke berbagai konten ini membantu mereka memperdalam pemahaman akan ajaran Kristen dan memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan. Membangun komunitas Media sosial memungkinkan terbentuknya komunitas online di kalangan remaja Kristen. Mereka dapat berbagi doa, dukungan, dan motivasi, yang sangat penting dalam membantu satu sama lain menghadapi tantangan hidup (Febri et al. , 2. Remaja Kristen dapat membangun komunitas online melalui media sosial dengan bergabung dalam grup-grup khusus di platform seperti Facebook atau WhatsApp, dimana mereka saling berbagi doa, memberikan dukungan emosional, dan menyemangati satu sama lain. Misalnya, mereka bisa membuat grup doa harian atau mingguan dimana setiap anggota saling mendoakan kebutuhan pribadi, atau mengikuti akun di Instagram yang mengadakan tantangan rohani seperti membaca Alkitab bersama selama 30 hari. Mereka juga bisa berbagi cerita tentang bagaimana mereka menghadapi tantangan hidup berdasarkan iman mereka, sehingga komunitas ini menjadi tempat saling mendukung dan bertumbuh bersama secara rohani. Mempromosikan kegiatan gereja 74 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Remaja dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kegiatan gereja atau komunitas Kristen lainnya, seperti kelompok pemuda, acara penggalangan dana, atau kegiatan Ini dapat meningkatkan partisipasi dan keterlibatan dalam komunitas gereja (Gulo et , 2. Remaja Kristen dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan berbagai kegiatan gereja, seperti membuat poster digital acara kelompok pemuda atau kebaktian khusus dan membagikannya di Instagram. Facebook, atau WhatsApp. Mereka juga bisa membuat video pendek di TikTok yang mengajak teman-teman untuk berpartisipasi dalam acara penggalangan dana atau pelayanan sosial, seperti membantu panti asuhan atau mengunjungi lansia. Selain itu, remaja dapat membuat event online di Facebook untuk mengundang lebih banyak peserta ke acara gereja atau membagikan cerita dan foto dari kegiatan pelayanan sebelumnya, sehingga menginspirasi orang lain untuk lebih terlibat dalam kegiatan komunitas gereja. Pengaruh Negatif Penggunaan Media Sosial bagi Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini Terpapar dengan konten negatif Media sosial seringkali memaparkan remaja pada konten yang tidak sesuai dengan nilainilai Kristen, seperti kekerasan, pornografi, atau perilaku negatif lainnya. Hal ini dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka (Perwirawati, 2. Remaja Kristen yang aktif di media sosial dapat terpapar pada berbagai konten negatif, seperti video atau gambar yang mengandung unsur kekerasan atau pornografi di platform seperti TikTok. Instagram, atau Twitter. Mereka juga mungkin melihat unggahan yang mempromosikan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristen, seperti pesta liar, penggunaan narkoba, atau perundungan daring . Selain itu, mereka bisa menemukan konten yang merendahkan agama atau mendorong gaya hidup yang materialistis dan individualistis, yang bertentangan dengan ajaran cinta kasih dan pelayanan dalam iman Kristen. Paparan konten-konten ini, jika tidak disaring, bisa mempengaruhi sikap, moral, dan perilaku remaja secara negatif. Adanya perbandingan sosial Penggunaan media sosial dapat menyebabkan remaja merasa tertekan untuk memenuhi standar yang ditampilkan oleh orang lain. Ini dapat memicu perasaan tidak percaya diri dan kecemasan, yang dapat mengganggu kesejahteraan emosional mereka (Swari & Tobing, 2. Remaja Kristen yang menggunakan media sosial seringkali melihat unggahan teman atau influencer yang menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, seperti tubuh ideal, prestasi akademik, popularitas, atau gaya hidup mewah di Instagram atau TikTok. Melihat hal ini secara terus-menerus bisa membuat mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain, sehingga merasa tidak cukup baik, kurang sukses, atau tidak seberuntung teman-teman mereka. Misalnya, seorang remaja mungkin merasa minder karena tidak memiliki barang-barang mewah seperti yang dipamerkan di media sosial, atau merasa tertekan karena tidak sepopuler teman-temannya di Akibatnya, perasaan tidak percaya diri dan kecemasan dapat muncul, yang berdampak negatif pada kesejahteraan emosional dan kesehatan mental mereka. 75 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Adanya gangguan komunikasi secara langsung Ketergantungan pada media sosial dapat mengurangi interaksi tatap muka di antara remaja. Hal ini dapat mempengaruhi keterampilan sosial dan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang sehat dan berarti (Al Yasin et al. , 2. Ketergantungan pada media sosial dapat mengurangi interaksi tatap muka di antara remaja Kristen, yang seharusnya dapat memperkuat ikatan komunitas dan iman mereka. Misalnya, sekelompok remaja Kristen mungkin lebih memilih untuk berdiskusi tentang kegiatan gereja atau berbagi renungan melalui grup chat di WhatsApp daripada bertemu secara langsung di gereja atau dalam kelompok pemuda. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang penting, seperti membaca bahasa tubuh, mendengarkan dengan empati, dan membangun hubungan yang lebih dalam dengan teman-teman seiman. Akibatnya, remaja Kristen dapat merasa terasing meskipun terhubung secara online, yang dapat menghambat pertumbuhan spiritual dan membatasi dukungan sosial yang mereka perlukan dalam menjalani tantangan hidup sehari-hari. Adanya Cyberbullying Remaja Kristen juga tidak kebal terhadap perilaku bullying di dunia maya. Cyberbullying dapat menyebabkan stres emosional yang signifikan dan merusak harga diri, serta menimbulkan rasa ketidakamanan dalam pergaulan (Dwipayana et al. , 2. Remaja Kristen tidak kebal terhadap cyberbullying, yang dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti komentar negatif, penghinaan, atau penyebaran rumor di media sosial seperti Instagram. TikTok, atau Facebook. Misalnya, seorang remaja Kristen yang membagikan pendapat tentang iman atau nilai-nilai Kristen di media sosial mungkin menjadi sasaran komentar pedas atau ejekan dari teman-temannya yang tidak sependapat, yang bisa merusak harga dirinya. Hal ini dapat menyebabkan stres emosional yang signifikan, membuatnya merasa terasing dan tidak aman dalam pergaulan, bahkan mungkin mengurangi keinginannya untuk terlibat dalam kegiatan gereja atau komunitas. Cyberbullying juga dapat memicu perasaan kesepian dan depresi, yang mengganggu kesehatan mental dan spiritual remaja tersebut. Penggunaan media sosial membawa pengaruh yang kompleks bagi pergaulan remaja Kristen masa kini. Di satu sisi, media sosial dapat memperluas jaringan, memperdalam iman, dan membangun komunitas yang kuat. Di sisi lain, ada risiko paparan terhadap konten negatif, perbandingan sosial, gangguan komunikasi langsung, dan cyberbullying. KESIMPULAN Penggunaan media sosial membawa dampak yang signifikan bagi pergaulan remaja Kristen masa kini, dengan pengaruh yang kompleks. Di sisi positif, media sosial memungkinkan remaja untuk memperluas jaringan sosial, memperdalam iman, serta membangun komunitas yang Melalui platform ini, mereka dapat mengakses berbagai sumber daya spiritual, terhubung dengan teman-teman seiman, dan mempromosikan kegiatan gereja. Dengan dukungan media sosial, remaja Kristen dapat terus tumbuh dalam kehidupan rohani mereka serta mendapatkan dukungan dari komunitas yang lebih luas, tanpa terbatas oleh jarak geografis. 76 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Namun, di sisi negatif, media sosial juga berisiko menimbulkan dampak buruk, seperti terpapar pada konten negatif, munculnya perbandingan sosial yang memicu kecemasan, serta menurunnya interaksi tatap muka yang penting untuk keterampilan sosial. Selain itu, cyberbullying menjadi ancaman yang nyata bagi remaja Kristen, yang dapat merusak harga diri dan kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, meskipun media sosial memberikan manfaat, penggunaannya perlu bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir, sehingga remaja Kristen dapat tetap bergaul dengan baik dan tumbuh dalam iman serta nilai-nilai Kristen. DAFTAR PUSTAKA