Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 OPTIMALISASI MEDIA PERTUMBUHAN TRICHODERMA DARI LIMBAH TANGKOS DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN MENGENDALIKAN GANODERMA BONINENSE PADA BIBIT KELAPA SAWIT Muhamad Fathul Nurullah. Rizky Randal Cameron. Feriadi. Leni Sabrina. Rifaldo. Jurusan Rekayasa Teknologi dan Bisnis Pertanian. Program Studi Teknologi Produksi Tanaman perkebunan. Jl. Srijaya Negara bukit Besar. Palembang 30139. Sumatera Selatan. Indonesia *corresponding author : rizky. randal@polsri. * Received for review January 10, 2026 Accepted for publication February 13, 2026 Abstract This study evaluated the effectiveness of palm oil empty fruit bunch (EFB)-based growth media inoculated with Trichoderma spp. in enhancing vegetative growth of oil palm seedlings and suppressing Ganoderma A randomized block design was applied with five treatments: four doses of Trichoderma spp. g, 4 g, 6 g, 8 . and one untreated control, each repeated eight times. Observed parameters included plant height, stem diameter, leaf number, symptoms of Ganoderma attack, and disease intensity. Results showed that during the first and second months, no symptoms of Ganoderma were detected, consistent with the pathogenAos long latent period. In the third month, initial indications appeared, such as chlorosis of older leaves and necrosis of leaf tips, although no mycelium or necrosis was observed on roots. Vegetative growth analysis revealed variation among treatments. The 4 g and 6 g Trichoderma treatments produced the tallest seedlings, while the 8 g treatment yielded the highest leaf number. Stem diameter remained relatively uniform across treatments and showed no significant differences. ANOVA confirmed that differences among treatments were not statistically significant at the 5% level, though a trend of improved vegetative growth was evident in Trichoderma-treated seedlings. These findings suggest that combining PKEB with Trichoderma spp. has potential as an organic medium and environmentally friendly biocontrol agent against However, effectiveness could not be statistically validated within the three-month observation Longer-term studies with more replicates and physiological or molecular assessments are recommended to confirm efficacy and support field application. Keywords: oil palm. Trichoderma spp. EFB. Ganoderma boninense, vegetative growth. Abstrak Penelitian ini mengevaluasi efektivitas media pertumbuhan berbasis limbah buah kelapa sawit (EFB) yang diinokulasi dengan Trichoderma spp. dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit dan menekan pertumbuhan Ganoderma boninense. Desain blok acak diterapkan dengan lima perlakuan: empat dosis Trichoderma spp. g, 4 g, 6 g, 8 . dan satu kontrol tanpa perlakuan, masing-masing diulang delapan Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, gejala serangan Ganoderma, dan intensitas penyakit. Hasil menunjukkan bahwa pada bulan pertama dan kedua, tidak terdeteksi gejala Ganoderma, sesuai dengan periode laten patogen yang panjang. Pada bulan ketiga, gejala awal muncul, seperti klorosis pada daun tua dan nekrosis pada ujung daun, meskipun tidak teramati miselium atau nekrosis pada akar. Analisis pertumbuhan vegetatif menunjukkan variasi antar perlakuan. Perlakuan Trichoderma 4 g dan 6 g Tanaman yang dihasilkan memiliki batang tertinggi, sementara perlakuan 8 g menghasilkan jumlah daun terbanyak. Diameter batang tetap relatif seragam di antara perlakuan dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Analisis ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan di antara perlakuan tidak signifikan secara statistik pada tingkat 5%, meskipun terdapat tren peningkatan pertumbuhan vegetatif pada tanaman yang diperlakukan dengan Trichoderma. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi PKEB dengan Trichoderma spp. berpotensi sebagai media organik dan Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 agen biokontrol ramah lingkungan terhadap G. Namun, efektivitasnya tidak dapat diverifikasi secara statistik dalam periode pengamatan tiga bulan. Studi jangka panjang dengan lebih banyak replikasi dan penilaian fisiologis atau molekuler direkomendasikan untuk mengonfirmasi efektivitas dan mendukung penerapan di lapangan. Kata kunci: kelapa sawit. Trichoderma spp. EFB. Ganoderma boninense, pertumbuhan vegetatif Copyright A 2026 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. ) merupakan komoditas strategis di Indonesia yang menyumbang 54% dari total ekspor minyak nabati global (Baldwin et al. , 2. Komoditas ini tidak hanya menjadi kontributor utama devisa negara melalui ekspor, tetapi juga menyediakan lapangan kerja bagi jutaan warga Indonesia, sekitar 16,2 juta orang (Soedomo et al. , 2. Selain itu, kelapa sawit juga berkontribusi terhadap keamanan energi melalui pengembangan biodiesel, serta menjadi bahan baku untuk berbagai produk makanan dan non-makanan. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 16. 985 ha, dengan kepemilikan perkebunan kecil sebesar 6. 516 ha, perkebunan swasta 8. 259 ha, perkebunan negara 577. 937 ha, dan area yang perlu diverifikasi 273 ha (BPS, 2. Kelapa sawit dapat menghasilkan CPO (Crude Palm Oi. , yang merupakan produk utama kelapa sawit. CPO digunakan sebagai bahan baku untuk minyak goreng, margarin, dan produk pangan lainnya (Hasibuan et al. , 2. Selain itu, kelapa sawit juga diprediksi menjadi sumber energi alternatif di masa depan. Saat ini, pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai biodiesel di Indonesia telah dimulai. Pada tahun 2015, pencampuran biodiesel mencapai 15 persen dan pada tahun 2023 akan mencapai 35 persen (BPDPKS, 2. Selain itu, produk turunan lainnya seperti asam lemak, gliserin, dan ester metil digunakan dalam pembuatan kosmetik, obat-obatan, dan Dalam produk makanan dan non-makanan, minyak kelapa sawit juga digunakan dalam pembuatan cokelat, es krim, sabun, dan lilin (Rosmegawati, 2. Meskipun memiliki potensi yang menjanjikan, pengelolaan perkebunan kelapa sawit menghadapi banyak tantangan. Tantangan-tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, biaya pupuk yang tinggi, pengetahuan petani, isu keberlanjutan, efisiensi produksi, hama dan penyakit tanaman serta kehadiran kumbang penyerbuk (Huri & Efendi, 2. Kelapa sawit seringkali menghadapi hama dan penyakit yang sangat mengganggu produktivitas. Hama yang sering mengganggu tanaman kelapa sawit meliputi kumbang tanduk dan ulat. Adapun penyakit pada tanaman, penyakit paling berbahaya di perkebunan kelapa sawit adalah busuk pupus dan busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense (Wiyono, 2. boninense adalah jamur yang ditularkan melalui tanah dan merupakan penyebab utama penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit. Penyakit ini merupakan ancaman serius bagi produktivitas kelapa sawit dan dapat mengurangi kemandirian pangan yang dihasilkan dari kelapa sawit, terutama di Indonesia dan Malaysia. boninense menginfeksi sistem pangkal dan akar kelapa sawit. boninense memproduksi enzim yang dapat mendegradasi lignin dan selulosa. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 sehingga pangkal batang kelapa sawit akan menunjukkan gejala perubahan warna daun menjadi kuning dan layu, tubuh buah muncul di pangkal batang, kemudian pangkal batang mengalami busuk kering (Asyari & Mutawally, 2. Serangan ini akan menyebabkan tanaman tidak berbuah, dan serangan lebih lanjut dapat menyebabkan batang jatuh. Patogen ini menyebar melalui tanah, sisa tanaman yang terinfeksi, dan kontak antara akar yang terinfeksi, sehingga sangat sulit untuk Infestasi G. boninense dapat menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 43% dalam waktu 6 bulan di perkebunan yang terinfeksi. Jika penyakit tidak dikendalikan, infestasi akan menjadi lebih massal dan menyebabkan biaya penanaman ulang yang lebih tinggi (Khoo & Chong, 2. Pengendalian busuk batang basal tetap tidak efektif, terutama dalam kondisi lapangan. Meskipun fungisida sintetis menunjukkan efektivitas in vitro, mereka menimbulkan risiko lingkungan seperti kontaminasi tanah dan air, toksisitas terhadap organisme non-target, dan resistensi patogen. Oleh karena itu, alternatif ramah lingkungan yang menggunakan sumber organik diperlukan. Trichoderma spp. telah menunjukkan potensi sebagai agen biokontrol, menghambat pertumbuhan boninense hingga 82,05%, meskipun sebagian besar studi masih berbasis laboratorium(Nurzannah et al, 2. Kombinasi bahan organik dengan agen biokontrol jarang dieksplorasi, meskipun berpotensi meningkatkan kesehatan tanah dan ketahanan tanaman. Bonggol buah kelapa sawit (EFB), yang kaya akan nutrisi (N 1,5%. P 0,5%. K 7,3%. Mg 0,9%)(Nazratul, 2. EFB seringkali tidak dimanfaatkan secara optimal dan menjadi masalah lingkungan jika dibiarkan tanpa pengelolaan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi media berbasis EFB yang dikombinasikan dengan pupuk kandang sebagai substrat pertumbuhan untuk Trichoderma spp. dalam mengendalikan busuk batang basal yang disebabkan oleh G. BAHAN DAN METODE 1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di kampus Politeknik Negeri Sriwijaya, kampus Banyuasin. Penelitian dimulai pada bulan Juli hingga Desember 2025. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biakan murni jamur Trichoderma spp. Tandan kosong kelapa sawit, beras, top soil, bibit kelapa sawit PPKS Yangambi, tubuh buah G. Boninense, dan media PDA. Sedangkan alat yang digunakan alat inkubator, meteran, gembor, paranet 70%, pupuk NPK, timbangan analitik, mikroskop, laminar air flow, autoclave, cawan petri, erlenmeyer, botol selai, polibag ukuran 15 x 20 cm, dan alumunium foil. 2 Metode Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuannya adalah campuran media tumbuh Trichoderma yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TTKS) dan Trichoderma spp adapun taraf ujinya adalah sebagai berikut: Media TTKS Trichoderma spp. Media TTKS Trichoderma spp. Media TTKS Trichoderma spp. Media TTKS Trichioderma spp. Kontrol . idak ada perlakuan TTKS dan Trichoderma spp. Perlakuan diulang sebanyak 8 kali sehingga terdapat 40 sampel penelitian. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 Penelitian dimulai dengan pengisian media tanah A500gr pada polibag ukuran 15 x 20 cm untuk media pertumbuhan kecambah kelapa sawit dan diletakan pada naungan dengan menggunakan paranet 70%. Media pertumbuhan kelapa sawit tersebut dicampur dengan media TKKS . Trichoderma sesuai dengan taraf perlakuan. Biakan Trichoderma diperbanyak pada media beras dan diinkubasikan hingga 2 minggu. Setelah Trichoderma tumbuh pada media beras, media tersebut ditimbang sesuai dengan taraf perlakuan. Adapun media TKKS ditimbang seberat 5 g lalu ditabur di atas media tumbuh kecambah. setelah itu, perlakuan diacak sesuai dengan prinsip rancangan acak kelompok faktorial. Bibit dipupuk dengan pupuk NPK setiap 2 minggu dengan dosis 10 gr/100 tanaman. inokulasi Ganoderma dilakukan pada polibag sesuai dengan masing-masing perlakuan. Tubuh buah Ganoderma yang didapat dari lapangan, dipotong dengan ukuran 1 x 1cm. Tubuh buah Ganoderma tersebut yang ditanam disekitar pokok kecambah kelapa sawit. 3 Peubah yang Diamati Pengamatan diamati setiap bulan dengan peubah yang diamati sebagai berikut: Tinggi kelapa sawit diukur dengan meteran. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur pangkal batang kelapa sawit hingga ujung daun tertinggi bibit kelapa sawit. Diameter diukur pada 2 sisi pangkal batang kelapa sawit agar mendapatkan diameter bibit kelapa sawit yang presisi. Pengukuran dilakukan pada A 1 cm dari permukaan tanah. Jumlah daun kelapa sawit dihitung mulai dari daun pertama hingga daun terakhir yang terakhir terbuka. Gejala serangan ganoderma diamati pada perubahan warna daun akibat serangan penyakit busuk pangkal batang. Jika terdapat gejala serangan Ganoderma, maka data akan ditampilkan secara deskriptif dan jika data dianggap layak akan diuji dengan menggunakan uji anova atau chi Square 4 Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan analysis of variance . untuk melihat adanya perbedaan antar perlakuan. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan maka digunakan uji Post Hoc Test BNT untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Adapun gejala serangan ditampilkan dalam bentuk deskriptif. Analisis ANOVA menggunakan program R Studio. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada pengamatan bulan pertama (Gambar . , perlakuan Trichoderma yang digabungkan dengan Tangkos belum menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap tinggi tanaman maupun diameter batang bibit sawit. Hal ini dapat dilihat dari notasi BNT yang serupa . pada semua perlakuan, baik dosis rendah, sedang, tinggi, maupun kontrol. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada fase awal pertumbuhan, parameter tinggi dan diameter belum menunjukkan sensitivitas terhadap perlakuan Trichoderma. Pada pengamatan jumlah daun, terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Bibit sawit yang mendapatkan perlakuan Trichoderma 4 gram Tangkos menunjukkan rerata jumlah daun tertinggi . ,875 hela. dan termasuk dalam kelompok AuaAy, sehingga berbeda secara signifikan dari perlakuan lainnya. Perlakuan Trichoderma 2 gram Tangkos . ,5 hela. dan kontrol . ,625 hela. berada dalam kelompok AuabAy, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dengan perlakuan 4 gram maupun dengan perlakuan dosis rendah lainnya. Sementara itu, perlakuan Trichoderma 6 gram Tangkos . ,375 hela. dan Trichoderma 8 gram Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 Tangkos . ,25 hela. berada dalam kelompok AubAy, yang menunjukkan jumlah daun paling sedikit dan berbeda secara signifikan dari perlakuan 4 gram. Gambar 1. Pengamatan bulan pertama pada parameter tinggi tanaman . Diameter batang . , dan Jumlah daun . Uji beda antar perlakuan dengan menggunakan uji BNT 5%. Pada pengamatan bulan kedua (Gambar . , terdapat perbedaan yang signifikan pada parameter tinggi tanaman. Perlakuan P4 menghasilkan rerata tinggi bibit tertinggi . ,45 c. dan dikategorikan dengan notasi a, yang berbeda nyata dari kontrol serta perlakuan dosis rendah . Ae4 gra. yang berada pada notasi b. Perlakuan P3 . ,53 c. termasuk dalam kelompok ab, menunjukkan hasil sedang yang tidak berbeda nyata dengan dosis 8 gram maupun dengan kelompok dosis rendah. Hal ini menegaskan bahwa dosis tinggi . lebih efektif dalam meningkatkan tinggi bibit pada fase pertumbuhan kedua. Untuk parameter diameter batang, rerata berkisar antara 3,125Ae3,625 cm dan semua perlakuan berada pada notasi a, sehingga tidak ada perbedaan signifikan antar perlakuan. Diameter batang pada fase ini relatif seragam, baik dengan maupun tanpa perlakuan Trichoderma. Sementara itu, pada parameter jumlah daun terdapat variasi respons antar perlakuan. Perlakuan Trichoderma 6 gram Tangkos menghasilkan jumlah daun terendah . ,5 hela. dan berada pada notasi a, berbeda nyata dari perlakuan dosis rendah . Ae4 gra. yang berada pada notasi b. Perlakuan P4 . ,54375 hela. dan kontrol . ,5625 hela. termasuk dalam kelompok ab, sehingga tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain. Dengan demikian, pada bulan kedua, jumlah daun tertinggi justru dihasilkan oleh perlakuan 4 gram . ,6125 hela. , sedangkan dosis tinggi dan kontrol memberikan hasil menengah. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 Gambar 2. Pengamatan bulan kedua pada parameter tinggi tanaman . Diameter batang . , dan Jumlah daun . Uji beda antar perlakuan dengan menggunakan uji BNT 5%. Pada bulan ketiga, parameter tinggi tanaman menunjukkan perbedaan yang signifikan antar Bibit yang mendapatkan perlakuan P3 . ,38 c. dan P4 . ,63 c. memiliki rerata tinggi tertinggi dan termasuk dalam kelompok a, yang berbeda nyata dari kontrol . ,75 c. serta perlakuan dosis rendah . gram, 29,88 c. yang berada dalam kelompok bc dan c. Perlakuan Trichoderma 8 gram Tangkos . ,00 c. termasuk dalam kelompok ab, sehingga tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan perlakuan dosis menengah maupun kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa dosis menengah . Ae6 gra. lebih efektif dalam meningkatkan tinggi bibit pada fase pertumbuhan ketiga. Untuk parameter diameter batang, rerata berkisar antara 6,5Ae6,875 cm dan semua perlakuan berada dalam notasi a, sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antar Diameter batang pada fase ini relatif seragam, baik dengan maupun tanpa perlakuan Trichoderma. Sementara itu, pada parameter jumlah daun terlihat adanya variasi. Perlakuan Trichoderma 8 gram Tangkos menghasilkan jumlah daun tertinggi . ,3 hela. dan termasuk dalam kelompok a, berbeda nyata dari perlakuan dosis rendah . gram, 1,125 hela. yang berada dalam kelompok b. Perlakuan Trichoderma 4 gram . ,2375 hela. , 6 gram . ,275 hela. , dan kontrol . ,1625 hela. berada dalam kelompok ab, sehingga tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, pada bulan ketiga, jumlah daun tertinggi dihasilkan oleh dosis 8 gram, sedangkan dosis rendah . menghasilkan jumlah paling sedikit. Aplikasi Trichoderma dapat meningkatkan pertumbuhan bibit sawit pada fase Pre-Nursery dengan meningkatkan ketersediaan hara dan stimulasi hormon pertumbuhan (Sofian et al. , 2. Mekanisme biologisnya. Trichoderma menghasilkan enzim selulase dan metabolit sekunder yang dapat mempercepat dekomposisi bahan organik, sehingga unsur hara lebih cepat tersedia bagi Sehingga kombinasi tangkos dan Trichoderma merupakan kombinasi yang baik untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman. Pada 3 bulan pengamatan, aplikasi trichoderma lebih berpengaruh ke tinggi bibit daripada diameter batang. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nurvitasari et al. , 2. Tangkos berfungsi sebagai medua organik yang kaya akan unsur N. Mg, dan Ca yang juga memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan nutrisi pada tanaman. Penelitian (Hatta et al. , 2. menunjukkan bahwa kompos tangkos dapat digunakan sebagai pupuk organik karena kandungan makronutriennya yang cukup tinggi. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 Gambar 3. Pengamatan bulan ketiga pada parameter tinggi tanaman . Diameter batang . , dan Jumlah daun . Uji beda antar perlakuan dengan menggunakan uji BNT 5% Pada parameter gejala serangan Ganoderma, gejala serangan Ganoderma hingga pengamatan ketiga . dianggap belum menunjukkan gejala serangan Ganoderma. Walaupun demikian, ada indikasi nampak seperti gejala serangan Ganoderma namun pada akar tanaman belum menunjukkan adanya miselium atau nekrotik pada akar. Menurut (Fadli et al. , 2. , gejala serangan Ganoderma setelah 3 bulan inokulasi menunjukkan daun tertua klorosis, ujung daun menjadi nekrosis dan mengering sepenuhnya. Pada 2 hingga 3 bulan setelahnya, gejala menyebar ke daun kedua akhirnya semua daun dan bibit mati. Pada akar, akar utama membusuk dan dipenuhi oleh miselium jamur yang padat. Gejala lanjut badan buah akan muncul di pangkal batang. Bibit akan mengalami hambatan pada pertumbuhan dan luas daun mengurang. Gambar 4. Bibit kelapa sawit tanpa perlakuan tangkos dan trichoderma. Gambar . kenampakan atas pada Gambar . adanya daun muda yang mati dari ujung ke pangkal. Gejala diawali dengan daun yang Gambar . daun kedua sebelum daun muda menunjukkan indikasi nekrotik dari ujung daun. Gambar . kenampakan akar bibit sawit yang belum menunjukkan gejala serangan Ganoderma Pada penelitian ini, belum ditemukan gejala serangan Ganoderma pada setiap perlakuan yang diuji. Penyakit yang timbul pada gambar merupakan penyakit bercak daun yang banyak menyerang perlakuan kontrol. Sehingga dapat disumpulkan 3 bulan setelah inokulasi tubuh buah Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nurullah et al. , 2026 ganoderma belum ditemukan serangan penyakit busuk pangkal batang baik pada perlakuan kontrol . anpa aplikasi Trichoderm. maupun perlakuan yang diaplikasi Trichoderma. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang diperkaya dengan Trichoderma spp. berpotensi mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit sekaligus membantu menekan serangan Ganoderma boninense. Selama tiga bulan pengamatan, gejala serangan belum tampak jelas, meskipun pada bulan ketiga mulai terlihat tanda awal seperti klorosis dan nekrosis daun. Pertumbuhan vegetatif bibit sawit menunjukkan variasi antar perlakuan. Dosis Trichoderma 4 g dan 6 g cenderung menghasilkan tinggi bibit lebih baik, sedangkan dosis 8 g memberikan jumlah daun terbanyak. Diameter batang relatif sama pada semua perlakuan. Hasil analisis statistik belum menunjukkan perbedaan nyata, tetapi ada kecenderungan bahwa perlakuan Trichoderma memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan bibit. Secara keseluruhan, kombinasi TKKS dan Trichoderma dapat menjadi media organik yang ramah lingkungan dan berpotensi sebagai agen biokontrol terhadap Ganoderma. Namun, efektivitasnya belum dapat dipastikan dalam waktu pengamatan yang singkat, sehingga penelitian lanjutan dengan periode lebih panjang dan metode lebih mendalam masih diperlukan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami ucapkan atas dibiayainya penelitian ini oleh dana DIPA Politeknik Negeri Sriwijaya dengan nomor kontrak 08152PL6. 1/LT/2025. DAFTAR PUSTAKA