POLA PERJALANAN WISATA GASTRONOMI: MENELUSURI KULINER JEJAK KERAJAAN MATARAM ISLAM DI YOGYAKARTA Fitria Noviati. Kiki Rizki Makiya*. Eko Haryanto Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta E-mail: kikirizkimakiya@stipram. ABSTRACT Culinary tourism has become a common concept, which has now developed into gastronomic The meaning of gastronomy itself is not limited to food alone, but also includes cultural and historical elements of the place where the food originated. This study identifies gastronomic tourism by exploring the culinary heritage of the Islamic Mataram Kingdom in Yogyakarta. Through qualitative methodology, including interviews, field observations, and focus group discussions, this study identifies and maps gastronomic sites related to the Kingdom's heritage. The findings of this study highlight the cultural and historical significance of the identified culinary practices and their potential to enrich the tourism experience. By proposing a structured travel pattern for gastronomic tourism, this study contributes to preserving culinary heritage and advancing sustainable tourism development in Yogyakarta. This study also produces a gastronomic travel pattern of the Islamic Mataram Kingdom in Yogyakarta which is displayed through a travel map. Keywords: Gastronomic Tourism. Travel Pattern. Islamic Mataram Kingdom ABSTRAK Istilah wisata kuliner akhirnya menjadi sebuah konsep yang umum, yang kini berkembang menjadi wisata gastronomi. Makna dari gastronomi sendiri tidak terbatas pada makanan semata, namun juga mencakup unsur budaya dan sejarah tempat makanan tersebut berasal. Penelitian ini mengidentifikasi wisata gastronomi dengan mengeksplorasi warisan kuliner jejak Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Melalui metodologi kualitatif, termasuk wawancara, observasi lapangan, dan diskusi kelompok terfokus, penelitian ini mengidentifikasi dan memetakan situs gastronomi yang terkait dengan warisan Kerajaan tersebut. Temuan penelitian ini menyoroti signifikansi budaya dan sejarah dari praktik kuliner yang diidentifikasi dan potensinya untuk memperkaya pengalaman wisata. Dengan mengusulkan pola perjalanan terstruktur untuk wisata gastronomi, penelitian ini berkontribusi untuk melestarikan warisan kuliner dan memajukan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta. Penelitian ini juga menghasilkan sebuah pola perjalanan gastronomi jejak mataram Islam di Yogyakarta yang ditampilkan melalui peta Kata Kunci: Gastronomi. Pola Perjalanan. Kerajaan Mataram Islam Kepariwisataan : Jurnal Ilmiah Volume 19 Nomor 1 Januari 2025 : 141 - 151 PENDAHULUAN Integrasi pariwisata telah menjadi tren penting dalam wisata budaya, yang menawarkan pengalaman unik yang menggabungkan narasi sejarah dan budaya dalam kuliner khas daerah tertentu. Yogyakarta, yang dikenal dengan warisan budayanya yang kaya, merupakan tujuan utama untuk usaha semacam itu. Tradisi kuliner yang berakar pada Kerajaan Mataram Islam menawarkan hubungan yang mendalam antara sejarah, budaya, dan identitas. Dalam pariwisata, makanan itu sendiri Gastronomi, bukan hanya terkait apa memakannya, dan mengapa itu dimakan, menjadi aspek yang memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi wisatawan saat berkunjung ke suatu destinasi (Kokkranikal and Carabelli Vrasida et. al, 2. , hubungan pengalaman makan dan minum juga penting dipertimbangkan (Devi et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan warisan kuliner Kerajaan Mataram Islam dan mengusulkan pola perjalanan yang meningkatkan potensi wisata gastronomi di wilayah tersebut. Studi ini juga sejalan dengan tujuan pariwisata berkelanjutan yang lebih luas dengan memastikan pelestarian budaya dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Kerangka kerja yang diusulkan di sini tidak hanya bertujuan untuk mendidik wisatawan tetapi juga mendukung keberlangsungan tradisi lokal. Pariwisata gastronomi menawarkan pendekatan pariwisata dengan menghubungkan pengetahuan sejarah dengan seni kuliner, sehingga melibatkan beragam demografi Gastronomi telah menjadi tren penting dalam pariwisata budaya, menawarkan pengalaman unik yang menggabungkan narasi sejarah dan kenikmatan kuliner. Meningkatnya mendorong destinasi di seluruh dunia untuk memanfaatkan tradisi kuliner unik mereka guna menarik wisatawan. Seperti yang dicatat oleh Richards . , makanan semakin diakui tidak hanya sebagai sumber makanan tetapi juga sebagai media ekspresi budaya yang mendorong keterlibatan dan pemahaman (Nugroho, et al. Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal dengan warisan budayanya yang kaya dan tradisi yang dinamis, menonjol sebagai tujuan utama wisata gastronomi. Inti dari daya tarik ini adalah tradisi kuliner yang berakar pada Kerajaan Mataram Islam, yang merupakan sintesis sejarah, budaya, dan identitas. Studi ini bertujuan untuk menggali warisan kuliner ini untuk menciptakan pola perjalanan pengalaman wisata sambil melestarikan keaslian sejarah. Wisata kuliner telah diidentifikasi sebagai alat yang ampuh memperkuat pelestarian budaya dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi Fitria Noviati, dkk: Pola Perjalanan Wisata Gastronomi: Menelusuri Kuliner Jejak Kerajaan Mataram Islam masyarakat lokal (Makiya dan Irawati. Warisan gastronomi Kerajaan Mataram Islam menawarkan jendela bagi evolusi sosial budaya kawasan tersebut. Hidangan khas seperti gudeg manggar dan lemper bukan sekadar resep, tetapi perwujudan narasi sejarah dan nilai-nilai Seperti yang disorot oleh Polat Akta-Polat mengintegrasikan gastronomi lokal ke dalam strategi pariwisata memungkinkan destinasi untuk membedakan diri dengan ciri yang mereka punya, sekaligus membina hubungan yang lebih dalam antara wisatawan dan masyarakat tuan rumah (Pramezwary, et. Selain memiliki makna budaya, wisata gastronomi juga memenuhi permintaan yang terus meningkat akan pengalaman wisata yang autentik dan Wisatawan saat ini semakin termotivasi oleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam tradisi lokal, baik melalui lokakarya memasak, wisata Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman sensorik, tetapi juga wawasan edukatif, yang memperdalam pemahaman wisatawan tentang konteks budaya kuliner (Harsana. Sunjata, 2. Studi ini sejalan dengan tujuan pariwisata berkelanjutan yang lebih luas dengan menekankan pelestarian warisan budaya takbenda. Menurut UNESCO, menjaga praktik kuliner tradisional sangat penting untuk menjaga integritas budaya destinasi wisata sekaligus mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh globalisasi (FAO, 2. Dengan meneliti warisan gastronomi jejak peninggalan Kerajaan Mataram Islam, penelitian ini berkontribusi pada wacana yang sedang berlangsung tentang menyeimbangkan pelestarian budaya dengan pembangunan ekonomi. Selain itu, penelitian ini menyoroti peran kebanggaan dan identitas masyarakat, yang merupakan komponen penting dari pariwisata berkelanjutan (UNESCO. TINJAUAN PUSTAKA Gastronomi dan Wisata Budaya Wisata gastronomi menekankan peran makanan sebagai artefak budaya, yang mencerminkan tradisi dan sejarah Wisata ini memadukan pengalaman kuliner dengan narasi budaya dan sejarah yang lebih luas, wisatawan dengan destinasi wisata. Studi terkini menunjukkan bahwa wisata yang berhubungan dengan makanan secara wisatawan, dengan destinasi wisata yang menawarkan pengalaman kuliner unik pengunjung yang signifikan (Nugroho, et Pramezwary, et. FAO, Munculnya wisata gastronomi diiringi dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya takbenda. UNESCO mengakui praktik kuliner tradisional sebagai komponen penting identitas budaya. Misalnya, diet Mediterania dan hidangan gastronomi Prancis dimasukkan dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, yang menekankan relevansi Kepariwisataan : Jurnal Ilmiah Volume 19 Nomor 1 Januari 2025 : 141 - 151 global warisan kuliner (FAO, 2019. Polat dan Akta-Polat, 2. Warisan Kuliner Jejak Kerajaan Mataram Islam Kerajaam Mataram Islam memiliki perkembangan kuliner Yogyakarta saat Hidangan tradisional seperti nasi merah dan berbagai masakan kerajaan melambangkan kekayaan budaya dan sejarah Kerajaan. Masakan-masakan ini tidak hanya menjadi sumber makanan tetapi juga mencerminkan hierarki sosialpolitik, kepercayaan agama, dan kelimpahan pertanian di wilayah tersebut. Warisan kuliner berfungsi sebagai media untuk memahami nilai-nilai sosial, ritual, dan identitas pada masa itu. Masakanmasakan ini, yang sering kali diresapi dengan makna simbolis, memberikan jendela ke dalam dinamika sosial-politik dan budaya pada masa itu (Harsana, et. Sunjata, 2014. Harsana, et. Wisata Gastronomi Berkelanjutan Pariwisata berkelanjutan mengutamakan pelestarian warisan budaya dan alam sambil meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Wisata gastronomi sejalan dengan tujuan ini dengan mempromosikan sistem pangan Mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam pariwisata gastronomi tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi destinasi dengan menarik perhatian pada seni kuliner lokal. Studi menunjukkan bahwa pariwisata gastronomi dapat membantu mendukung ekonomi lokal dengan menciptakan permintaan untuk produk makanan daerah, meningkatkan kesempatan kerja, dan mendorong pertukaran lintas budaya (Makiya dan Irawati, 2021. Pramezwary, et. UNESCO, 2012. Vu, et. al, 2. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) gastronomi dapat menjadi pendorong pembangunan berkelanjutan dengan mendorong pertanian organik dan pelestarian teknik pertanian tradisional (FAO, 2. Lebih jauh lagi, wisata mempromosikan penggunaan bahanbahan utuh dan produk musiman. METODE Desain Penelitian Penelitian menggunakan pendekatan eksploratif untuk memahami warisan kuliner dan integrasinya ke dalam pola perjalanan wisata gastronomi. Dengan berfokus pada jejak kuliner Kerajaan Mataram Islam, penelitian ini menjembatani narasi sejarah dengan perkembangan pariwisata Desain sebelumnya tentang wisata warisan budaya, yang menekankan pentingnya investigasi berbasis lapangan dan metode partisipati (Smith dan Costello. Hjalager, 2. Lokasi Penelitian dan Pengambilan Sampel Situs-situs penting yang memiliki signifikansi historis, seperti Kota Gede. Kerto. Pleret. Imogiri. Fitria Noviati, dkk: Pola Perjalanan Wisata Gastronomi: Menelusuri Kuliner Jejak Kerajaan Mataram Islam Ambarketawang, dipilih karena menjadi lokasi jejak perjalanan Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik snow ball sampling . ola salj. untuk menggali informasi dari informan yang relevan dan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang sejarah dan gastronomi jejak Mataram Islam, termasuk sejarawan lokal, pemilik restoran, dan pakar budaya. Situs-situs ini dipilih berdasarkan hubungan yang terdokumentasi dengan praktik kuliner dan budaya Kerajaan, memastikan bahwa penelitian ini menangkap keragaman geografis dan historis (Harsana, 2. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan dengan para pemangku kepentingan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pemilik restoran yang menjual hidangan khas Mataram, pakar budaya, dan pejabat Wawancara wawasan tentang konteks sejarah dan teknik kuliner hidangan yang terkait dengan Kerajaan. Para informan diminta untuk menjelaskan asal-usul hidangan tertentu, metode persiapannya, dan signifikansinya dalam kerangka budaya yang lebih luas. Selain itu, observasi lapangan dilakukan dengan mengunjungi lokasi kuliner untuk mendokumentasikan sajian gastronomi dan konteks budayanya. Observasi meliputi interaksi dengan pengunjung restoran dan anggota masyarakat setempat. Selama kerja lapangan, foto dan catatan terperinci diambil untuk memastikan dokumentasi yang komprehensif dari lokasi dan sajian yang disajikan. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan dengan melibatkan 25 peserta guna mengkonfirmasi dan memvalidasi hasil temuan penelitian. Diskusi difokuskan pada pembuatan strategi yang mempromosikan wisata gastronomi. Peserta meliputi perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan (Kundho Kabudaya. Daerah Istimewa Yogyakarta, lembaga pelestarian budaya, dan asosiasi kuliner. Teknik Analisis Data Analisis tematik digunakan untuk mengkategorikan data ke dalam tematema utama, seperti kuliner era Kerajaan Mataram Islam, signifikansi historis, dan pola perjalanan yang diusulkan. Teknik visualisasi data, termasuk peta dan tabel, digunakan untuk menyajikan temuan. Proses analisis melibatkan pengkodean transkrip wawancara dan catatan lapangan, mengidentifikasi pola dan tema yang berulang, dan melakukan triangulasi data dari berbagai sumber untuk memastikan keandalan (Richards. Balogh dan Halasi, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Menelusuri Kuliner Mataram Islam Identifikasi dan pemetaan kuliner Mataram Islam dilakukan mengikuti periode perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Islam, meliputi: Periode Kota Gede . Periode ini merupakan awal cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Kepariwisataan : Jurnal Ilmiah Volume 19 Nomor 1 Januari 2025 : 141 - 151 Senopati hingga masa pemerintahan Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati. Meskipun tidak ada catatan pasti tentang kuliner di era itu, dapat dipastikan bahwa hidangan yang disajikan pada masa itu adalah olahan dari dari hasil bumi seperti pala pendem berupa umbi-umbian, pala gumantung berupa buah-buahan, dan pala kasimpar yaitu hasil tanaman yang terletak diatas tanah yang merambat atau Nasi merah, sayur lodeh, dan gereh pethek dipercaya merupakan hidangan kesukaan dari Panembahan Senopati. Periode Kerto . Merupakan era puncak kejayaan Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung. Catatan kuliner pada masa itu tertuang dalam Serat Centhini, tercatat berbagai jenis olahan makanan, minuman, dan kudapan disajikan untuk berbagai keperluan, baik untuk hidangan keseharian maupun untuk keperluan ritual berbagai kegiatan. Sebagian besar hidangan makanan, minuman, dan kudapat tersebut masih dapat dijumpai hingga saat ini, seperti ayam panggang, tumpeng, sego wuduk, sego lulut, jajan pasar, dhawet, rujak jenang abang, jenang putih, inthil, dan lain sebagainya. Namun demikian ada juga beberapa oalahan kuliner yang sudah sangat sulit untuk dijumoai saat ini seperti asinan kidang. Kekayaan kuliner pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam di Kerto pada masa pemerintahan Sultan ini, menunjukkan bahwa kuliner memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan Masyarakat, selain untuk hidangan keseharian juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan makna filosofis yang sangat mendalam. Selain di Kerto, jejak kuliner Mataram Islam masa itu juga dapat ditelusuri di Kawasan pemakaman RajaRaja Mataram di Giriloyo Imogiri. Pecel mbang turi dan wedhang uwuh, dipercaya merupakan makanan dan minuman yang umum menjadi sajian warga Masyarakat dan abdi dalem yang bertugas di Giriloyo Imogiri sejak zaman Sultan Agung. Periode Pleret . Pada masa Mataram Islam di Pleret ini, tidak banyak diketahui tentang kuliner khas pada masa itu. Hal ini disebabkan minimnya sumber informasi dan leterasi yang ada. Beberapa sumber informasi menyampaikan lemper . etan diisi dengan isian abon daging maupun srunden. merupakan makanan khas Pleret, meskipun klaim ini masih cukup sulit untuk dibuktikan, tokoh masyarakat dan budaya setempat menyampaikan bahwa saat ini lemper diangkat menjadi sebuah event tahunan yang menjadi bagian dalam rangkaian acara haul Sultan Agung. Selain itu ada juga pendapat, makanan khas yang mengiring perjalanan sejarah kejayaan Mataram Islam periode Pleret Ae Segoroyoso adalah sate kuda, namun demikian hal ini juga masih menjadi perdebatan karena Kuda, pada saat itu dianggap sebagai sebuah symbol ksatria yang tidak mungkin untuk disembelih dan dijadikan sebagai suatu . Periode Ambarketawang . Periode ini merupakan masa transisi, pasca terbaginya Kerajaan Fitria Noviati, dkk: Pola Perjalanan Wisata Gastronomi: Menelusuri Kuliner Jejak Kerajaan Mataram Islam Mataram Islam menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Periode ini sangat singkat hanya sekitar 1 tahun, karena pada masa ini sesungguhnya adalah masa dimana Kasultanan Ngayogyakarta sedang membangun Keraton Kasultanan Ngayogyakarta saat ini. Adapun jejak kuliner yang mengiringi perjalanan Mataram Islam (Kasultanan Ngayogyakart. adalah bekakak, yang merupakan symbol perwujudan pasangan keselamatan pasca terjadinya kecelakaan besar saat penambangan batu gamping pembangunan Keraton Ngayogyakarta saat ini. Ritual bekekak Gamping ini dilaksanakan rutin setiap tahunnya pada bulan Sapar . alender Jaw. , yang . Periode Ngayogyakarta Hadiningrat . 6-sekaran. Periode ini merupakan periode Mataram Islam (Kasultanan Ngayogyakart. yang masih berdiri hingga saat ini. Beberapa olahan kuliner selama periode ini sebagaian dapat dijumpai pada menu hidangan yang tersedia di restoran Bale Raos dan Gadri Resto. Kedua menyajikan hidangan khas Keraton Ngayogyakarta dan merupakan hidangan kesukaan Sultan dari masa ke masa. Jenis hidangan di era ini sudah banyak dipengaruhi oleh asing atau merupakan makanan hasil akulturasi: Gambar 1. : Peta Pola Perjalanan Wisata Gastronomi Jejak Peninggalan Mataram Islam di Yogyakarta (Sumber: Data Primer Diolah, 2. Kepariwisataan : Jurnal Ilmiah Volume 19 Nomor 1 Januari 2025 : 141 - 151 Pola Perjalanan Wisata Gastronomi dan yang diusulkan Berdasarkan penelusuran jejak kuliner Mataram Islam diatas, maka pola perjalanan wisata gastronomi yang dapat diusulkan adalah sebagai berikut: Pola Perjalanan Pola Perjalanan Wisata Gastronomi Historis: Mengunjungi situs-situs yang secara kronologis selaras dengan periode Wisata ini menawarkan evolusi historis lanskap kuliner Yogyakarta. Wisatawan menjelajahi pasar tradisional, dapur kerajaan, dan festival masyarakat. Pola Perjalanan Wisata Gastronomi Tematik: Pengelompokan destinasi berdasarkan tema kuliner tertentu, seperti makanan dalam keraton, dikomsumsi oleh Masyarakat umum, makanan-makanan keperluan ritual yang secara simbolis memiliki makna yang mendalam secara filosofis. Rute ini ditujukan untuk minat khusus, seperti wisatawan vegetarian atau penikmat hidangan Misalnya, rute tematik dapat mencakup pemberhentian di tempat makan lokal yang khusus menyajikan lemper, gudeg, dan penganan manis tradisional . ajan pasa. Pola Perjalanan Wisata Gastronomi Interaktif: Menggabungkan kelas memasak dan kunjungan pasar untuk meningkatkan keterlibatan wisatawan. Aktivitas seperti belajar menyiapkan bahan-bahan tradisional memberikan wawasan budaya secara langsung, tentang makna-makna terkandung pada masing-masing hidangan yang ada. Sesi interaktif dengan tukang masak lokal juga dapat membantu wisatawan menghargai keterampilan dan seni yang terlibat dalam memasak tradisional. Gastronomi sebagai Identitas Budaya Wisata diidentifikasi mencerminkan dinamika sosial budaya Kerajaan Mataram Islam, yang melambangkan kekuasaan, kelas, dan kebanggaan daerah. Makanan melestarikan identitas budaya. Elemen gastronomi yang diidentifikasi dalam penelitian in, mulai dari hidangan simbolis seperti lemper hingga pesta kerajaan yang megah, menonjolkan integrasi makanan ke dalam ritual dan praktik budaya. Tradisi ini telah bertahan berabad-abad. Yogyakarta yang tak ternilai. Makna filosofis di balik hidangan tertentu, seperti hubungan antara lemper dan kerendahan hati, menggambarkan mengomunikasikan nilai-nilai moral dan Perpaduan unik antara gastronomi dan budaya ini memberi wisatawan hubungan yang lebih dalam dan lebih bermakna dengan sejarah Kerajaan Mataram Islam. Hal ini juga menjadi bukti ketahanan tradisi kuliner ini dalam beradaptasi dengan selera modern sambil mempertahankan esensi simbolisnya. Fitria Noviati, dkk: Pola Perjalanan Wisata Gastronomi: Menelusuri Kuliner Jejak Kerajaan Mataram Islam Tantangan Pariwisata Gastronomi Kendati pengembangan wisata gastronomi yang cukup baik, namun demikian Yogyakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut antara lain pelestarian resep tradisional, ketersediaan bahan baku asli, serta ancaman komersialisasi yang mengikis keaslian budaya. Selain itu hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelola usaha atau pengelola wisata masih masih minim yang mengankat konsep wisata gastronomi, kebanyakan masih berfokus pada konsep wisata kuliner, atau hanya menyediakan dan menyajikan hidangan tradisional jejak Kerajaan Mataram Islam. Industri pariwisata modern juga menekan tempat-tempat usaha lokal untuk memprioritaskan keuntungan daripada keaslian budaya. Beberapa restoran mungkin menyederhanakan atau memodifikasi resep tradisional untuk melayani khalayak yang lebih luas dan kurang informasi, sehingga kehilangan esensi asli dari praktik kuliner ini. Selain memastikan aksesibilitas ke situs-situs bersejarah utama, tetap menjadi rintangan dalam menciptakan pola perjalanan yang Implikasi bagi Pemangku Kepentingan Temuan menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, organisasi budaya. Untuk gastronomi, para pemangku kepentingan warisan kuliner melalui program pendidikan, dukungan dana bagi produsen lokal, dan pendirian museum kuliner atau pameran interaktif. Lebih jauh lagi, penggunaan mempromosikan tradisi-tradisi ini dapat memperluas jangkauannya. Misalnya, membuat tur virtual atau arsip resep digital akan membuat warisan kuliner Kerajaan Mataram Islam dapat diakses menumbuhkan apresiasi dan pemahaman yang lebih besar. KESIMPULAN Studi ini menyoroti potensi besar pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi di Yogyakarta. Dengan mengidentifikasi dan memetakan warisan kuliner Kerajaan Mataram Islam, penelitian ini memberikan landasan bagi pengembangan pola perjalanan wisata memberikan kenikmatan rasa dari sajian kuliner, namun juga memberikan dan sekaligus menjaga tradisi lokal. Inisiatif di masa mendatang harus difokuskan pada pengintegrasian solusi teknologi, mengatasi tantangan ketersediaan bahan, dan memastikan keberlanjutan praktik kuliner untuk generasi mendatang. PERNYATAAN PENGHARGAAN Ucapan terima kasih kami persembahkan kepada Direktorat Riset. Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat KEMDIKBUDRISTEK atas pendanaan yang telah diberikan sehingga Kepariwisataan : Jurnal Ilmiah Volume 19 Nomor 1 Januari 2025 : 141 - 151 memungkinkan terlaksananya penelitian Apresiasi mendalam juga kami sampaikan kepada Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, tim mahasiswa, para Narasumber, serta pihak-pihak terlibat yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas segala bentuk dukungan dan bantuannya dalam mewujudkan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA