Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Analisis Kompetensi Kepribadian Guru di MI Arrosyad Bergas Afifatul Jannah1. Lilik Sriyanti2 UIN Salatiga. Indonesia Email: fftljnnh@gmail. com1, lilik_s@uinsalatiga. Abstrak Kompetensi kepribadian guru merupakan salah satu aspek penting dalam keberhasilan proses pendidikan, terutama di tingkat sekolah dasar, yang berperan sebagai fondasi pembentukan karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi kepribadian guru sekolah dasar dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran serta perkembangan karakter Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah seluruh guru MI Arrosyad Bergas. Analisis difokuskan pada aspek-aspek kompetensi kepribadian, seperti keteladanan, stabilitas emosional, kedewasaan dan kebijaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang memiliki kompetensi kepribadian yang baik mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, meningkatkan motivasi siswa, serta membantu pembentukan karakter positif. Sebaliknya, kekurangan dalam kompetensi kepribadian dapat memengaruhi interaksi guru-siswa dan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan. Penelitian ini menekankan pentingnya program pengembangan kompetensi kepribadian guru melalui pelatihan, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan. Dengan demikian, pendidikan dasar dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. Kata Kunci: Kompetensi kepribadian, profesionalisme guru PENDAHULUAN Di era abad ke-21, kemajuan teknologi informasi dan globalisasi telah membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan (Pare & Sihotang, 2. Pendidikan era 4. 0 merupakan penyesuaian sistem pendidikan terhadap perkembangan Revolusi Industri Keempat, di mana teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam berbagai aspek kehidupan (Thahir dkk, 2. Dalam konteks ini, sistem pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang menguasai keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran menjadi faktor utama, dengan pemanfaatan platform pembelajaran daring, realitas virtual, serta analisis data untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan adaptif (Nst & Asfiati, 2. Kompetensi abad ke-21 menjadi aspek utama dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman (Rahayu & Muhtar, 2. Kompetensi ini berfungsi sebagai pedoman untuk membentuk individu yang mampu bersaing di dunia kerja. Pembelajaran abad ke-21 menjadi strategi dalam memenuhi kebutuhan kompetensi tersebut guna menyelesaikan berbagai permasalahan (Mashudi, 2. Kompetensi abad ke-21 mencakup keterampilan yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan zaman, antara lain berpikir kreatif . reative thinkin. , berpikir kritis dan pemecahan masalah . ritical thinking and problem solvin. , berkomunikasi . , serta berkolaborasi . , yang dikenal sebagai kompetensi 4C (Wardani & Budiadnya, 2. Seiring perkembangannya, konsep ini Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 berkembang menjadi 6C, yang mencakup karakter . , kewarganegaraan . , berpikir kritis . ritical thinkin. , kreativitas . , kolaborasi . , dan komunikasi . Kompetensi ini mulai diterapkan dalam proses pembelajaran untuk mempersiapkan individu yang siap menghadapi tantangan global (Sausan dkk, 2. Perubahan pendidikan di era 4. 0 juga mencakup pergeseran paradigma dalam peran pendidik dan peserta didik (Erfiati & Lailatus, 2. Guru tidak lagi berperan sebagai satusatunya sumber pengetahuan, melainkan menjadi fasilitator dan motivator dalam proses Adannya pendidikan selalu berkaitan dengan pembinaan manusia, keberhasilan sangat memengaruhi perilaku dan sikap individu dalam kehidupan sosial. Faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan adalah guru (SaAodiyah, 2. Guru adalah elemen vital dalam mencapai kesuksesan pendidikan, terutama di tingkat sekolah dasar, yang menjadi dasar dalam pengembangan karakter dan keterampilan anak (Dinayanti dkk, 2. Sebagai guru yang berkecimpung dalam pendidikan guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding dengan profesi lainnya, terutama dalam pembentukann karakter siswa (Rinto dkk, 2. Upaya membentuk karakter yang mandiri dan bijaksana memerlukan kerja sama serta dukungan dari seluruh elemen bangsa. Dalam hal ini, lembaga pendidikan memiliki peran penting sebagai penggerak utama dengan mengedepankan sosialisasi pendidikan karakter. Dengan demikian, seorang guru hendaknya menguasai kompetensi-kompetensi keguruan yang berhubungan dengan profesinya. Kompetensi merupakan kumpulan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang perlu dimiliki, dipahami, serta dikuasai oleh seorang guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Kompetensi ini mencakup kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial (Diannisa dkk, 2. Dalam hal ini, jelas bahwa tugas guru tidak hanya sekadar mentransfer ilmu kepada peserta didik, tetapi juga menjadi teladan yang dapat dicontoh. Dalam interaksi sehari-hari, hubungan antara guru dan peserta didik menciptakan lingkungan pendidikan yang memungkinkan siswa belajar serta menerapkan nilai-nilai positif (Lumuan & Hamim, 2. Guru juga harus memahami karakter dan permasalahan peserta didik, sekaligus memiliki wibawa agar dihormati dan disegani (Pidria & Qairani, 2. Kompetensi kepribadian guru merujuk pada kemampuan seorang guru dalam menunjukkan sikap dan kepribadian yang baik serta terpuji, sehingga dapat membangun rasa percaya diri dan menjadi teladan bagi orang lain, terutama peserta didik. Kompetensi ini mencakup: . kemampuan mengembangkan kepribadian, . kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, serta . kemampuan memberikan bimbingan dan penyuluhan (Ermansyah & Mantau, 2. Kompetensi guru, khususnya dalam hal kepribadian, memainkan peran yang sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung dan memberikan dampak positif bagi perkembangan siswa (Nengsih, 2. Kepribadian merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai guru yang efektif baik dalam melaksanakan tugas profesionalnya dilingkungan pendidikan atau kehidupan lainnya (Noor, 2. Kompetensi kepribadian seorang guru mencakup kemampuan untuk menjadi contoh yang baik, memiliki kepribadian yang stabil, matang, bijaksana, dan berwibawa, serta mampu beradaptasi dengan dinamika sosial di lingkungan sekolah (Putri & Ain, 2. Hal ini sesuai Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 dengan standar kompetensi yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, yang menegaskan bahwa guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan moral yang luhur, profesionalisme, dan integritas. Di tingkat sekolah dasar, peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai contoh dan pembimbing dalam membentuk karakter anak (Bhughe, 2. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis kompetensi kepribadian guru guna memastikan tercapainya pendidikan yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami seberapa besar pengaruh kompetensi kepribadian guru sekolah dasar terhadap proses pembelajaran dan perkembangan arakter siswa. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh informasi yang berguna untuk merancang strategi peningkatan kompetensi kepribadian guru, sehingga pendidikan dasar di Indonesia dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang kokoh. METODE Penelitian ini mengkaji Analisis Kompetensi Kepribadian Guru di MI Arrosyad Bergas dengan menggunakan metode kualitatif. Metode ini dipilih karena bertujuan untuk memahami dam menganalisis secara mendalam bagaimana kompetensi kepribadian guru diterapkan dalam proses pembelajaran serta pengaruhnya terhadap peserta didik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yang berusaha menggambarkan fenomena secara mendalam berdasarkan data yang dikumpulkan dari informan penelitian, yaitu 38 guru MI Arrosyad Bergas. Lokasi yang digunakan untuk penelitian yaitu di MI Arrosyad Bergas, sebuah madrasah ibtidaiyah dibawah naungan lembaga pendidikan maAoarif yang menjadi tempat kajian mengenai kompetensi kepribadian guru dalam dunia pendidikan. Informan dalam penelitian ini adalah bapak/ibu guru MI Arrosyad Bergas yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter peserta didik melalui kompetensi kepribadian mereka. Pada penelitian ini mengambil informan para guru MI Arrosyad Bergas yang berjumlah 38 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi . engkaji pengalaman subjektif guru dalam konteks pendidika. , pendekatan paedagogik . enganalisis aspek pendidikan dan pengajaran yang diterapka. , pendekatan sosiologis . eninjau peran sosial guru dalam lingkungan pendidika. , pendekatan filosofis empiris . enggunakan analisis berbasis pengalaman nyata dalam dunia pendidika. , pendekatan teologis normative . engaitkan aspek pendidikan dengan nilai-nilai keagamaan dan norma yang berlak. dan pendekatan yuridis . emeriksa kebijakan dan regulasi pendidikan yang Melalui beberapa pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena yang diteliti. Informasi diperoleh dari penelitian ini melalui serangkaian proses yang kemudian menjadi pengumpulan data, yang merupakan langkah utama dalam penelitian, agar memperoleh data yang akurat dan relevan dengan objek yang Teknik pengumpulan data merujuk pada berbagai metode yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam penelitian. Pada penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu. engamatan langsung terhadap situasi atau aktivitas yang terjadi di lokasi penelitian guna memperoleh data secara nyata dan objekti. , wawancara . roses interaksi antara peneliti dan informan untuk menggali informasi secara Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 mendalam melalui pertanyaan yang telah disiapkan atau bersifat eksplorati. dan dokumentasi . engumpulan data dari berbagai dokumen tertulis, seperti arsip, laporan, foto atau catatan yang mendukung hasil penelitia. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, guna menghasilkan temuan yang akurat mengenai kompetensi kepribadian guru di MI Arrosyad Bergas. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas mengenai pentingnya kompetensi kepribadian guru dalam dunia pendidikan serta implikasinya terhadap perkembangan karakter peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Kompetensi guru merujuk pada kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan standar yang berlaku (Alfaiz, 2. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru mencerminkan kualitas pengajaran yang diberikan. Kompetensi ini tercermin dalam penguasaan materi dan kemampuan profesional dalam melaksanakan peranannya sebagai pendidik. Dengan demikian, seorang guru diharapkan memiliki kompetensi pedagogis, personal, profesional, dan sosial. Kepribadian guru dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi minat belajar siswa terhadap materi yang diajarkan (Nasution dkk. , 2. Suasana yang menyenangkan yang dirasakan oleh siswa akan mempermudah jalannya proses pembelajaran dan memberikan kontribusi besar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, minat dan bakat siswa akan berkembang ketika guru yang membimbing mereka memiliki kepribadian yang baik, menyenangkan, dan berwibawa. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 28 ayat . butir b menjelaskan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan untuk memiliki kepribadian yang kokoh, stabil, dewasa, bijaksana, dan berwibawa, serta menjadi contoh yang baik bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi kepribadian ini mencerminkan kualitas pribadi yang menunjukkan kestabilan, kedewasaan, kebijaksanaan, dan kewibawaan, sekaligus berfungsi sebagai teladan bagi siswa dengan mengedepankan nilai-nilai moral yang luhur. Secara lebih rinci, sub-kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa Bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial, merasa bangga sebagai guru, dan konsisten dalam bertindak sesuai dengan norma-norma tersebut. "Mantap" berarti tetap, kokoh, dan kuat. Pribadi yang mantap menunjukkan kepribadian yang tidak mudah tergoyahkan, memungkinkan seseorang untuk menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, dan penuh tanggung jawab. "Stabil" berarti kokoh dan tidak goyah (Lisdiyana, 2. Jadi, pribadi yang stabil memiliki karakter yang kokoh. Sementara itu, "dewasa" berarti mencapai usia yang cukup atau balig, serta memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang dapat dilihat dari kemampuannya untuk bertindak sesuai dengan norma hukum dan sosial. Pribadi yang dewasa ditandai dengan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, serta dapat Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kepribadian yang arif dan berwibawa Menunjukkan tindakan yang berfokus pada manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan sikap terbuka dalam berpikir dan bertindak. Memiliki perilaku yang memberikan pengaruh positif bagi peserta didik dan dihormati oleh orang lain (Efendi , 2. Akhlak mulia yang menjadi teladan memiliki indikator penting, yaitu bertindak sesuai dengan norma religius . man dan taqwa, kejujuran, keikhlasan, dan kebaikan hat. , serta memiliki perilaku yang dapat dicontoh oleh peserta didik. "Arif" dapat diartikan sebagai bijaksana, cerdik, pintar, berilmu, dan mengetahui. Memiliki kepribadian yang bijaksana, yang ditunjukkan dengan tindakan yang memberikan manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan Seorang guru bukan hanya menjadi seorang pembelajar, tetapi juga menjadi pribadi yang bijak, saleh, dan dapat mempengaruhi pemikiran generasi muda. Kepribadian yang dapat dijadikan teladan, berakhlak mulia dan mengembangkan diri Guru merupakan contoh yang diikuti oleh peserta didik dan semua orang yang menganggapnya sebagai pendidik (Jariyah dkk. , 2. Kepribadian guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik, karena manusia cenderung meniru, termasuk meniru karakteristik guru dalam membentuk kepribadiannya. Secara teoritis, menjadi teladan adalah bagian tak terpisahkan dari peran seorang guru, sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi contoh yang baik. Pendidikan nasional ini hanya bisa tercapai jika guru memiliki akhlak yang mulia. Siswa akan berkembang menjadi individu yang berakhlak baik karena pengaruh guru, karena guru adalah cerminan bagi setiap muridnya. Menurut Husain dan Ashraf, "Dalam dunia pendidikan saat ini, perhatian lebih difokuskan pada bangunan, fasilitas, peralatan, dan materi, dibandingkan dengan kepribadian dan karakter guru. " Kritik ini perlu menjadi bahan perbincangan yang serius di kalangan manajemen lembaga pendidikan dan fakultas yang mencetak calon guru. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan sikap, perilaku, dan karakter pribadi guru yang menjadi teladan bagi siswa. Menurut Pak Amar selaku Kepala MI Arrosyad Bergas ada beberap aguru yang memenuhi kriteria tersebut, namun ada juga beberapa guru yang masih kurang kemampuan kompetensi kepribadiannya, khususnya dibeberapa aspek. Meskipun beberapa hal perlu ditingkatkan dan dibenahi. Para guru MI Arrosyad selalu berusaha menjaga kompetensi kepribadiannya dihadapan para siswa. Berikut adalah aspek-aspek utama yang meliputi kompetensi kepribadian guru: Kepribadian yang Mantap dan Stabil Bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika Kemampuan seorang pendidik untuk menjaga integritas dirinya dengan menjalankan tugas dan tanggung jawab profesinya berdasarkan prinsip-prinsip moral, norma sosial, dan kode etik yang berlaku (Budoyo dkk. , 2. Kompetensi ini mencakup perilaku yang stabil, dapat dipercaya, dan menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan profesional maupun Menurut Pak Amar Guru yang memiliki kompetensi ini menunjukkan keselarasan antara perkataan dan perbuatan, berperilaku adil, menghormati hak-hak siswa, dan menjunjung tinggi nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, serta kasih sayang. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Selain itu, guru juga mampu menghadapi tantangan atau konflik dengan pendekatan yang bijaksana dan sesuai dengan standar etika pendidikan. Kompetensi ini sangat penting karena guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter siswa. Dengan bertindak secara konsisten sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika, guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif dan mendukung pengembangan karakter siswa yang berbudi pekerti luhur. Tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Pendidikan Kemampuan seseorang, khususnya seorang guru, untuk tetap berpegang teguh pada prinsip, etika, dan tujuan pendidikan meskipun menghadapi tekanan, godaan, atau pengaruh negatif dari lingkungan eksternal (Afendi & Khojir, 2. Kemampuan ini menunjukkan sikap tegas, konsisten, dan mandiri dalam mengambil keputusan serta bertindak berdasarkan nilainilai kebenaran, kejujuran, dan profesionalisme. Menurut Bu Umi selaku Waka kurikulum, guru yang tidak mudah terpengaruh tekanan dari luar pasti akan selalu mengutamakan kepentingan Pendidikan artinya guru tetap focus pada tujuan Pendidikan yaitu mendidik dan membentuk karakter siswa. Memiliki keseimbangan emosional dan kemampuan mengendalikan diri Kemampuan guru untuk menjaga stabilitas emosi serta bertindak secara bijaksana dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun (Abdi, 2. Ciri-ciri guru yang memiliki keseimbangan emosional dan mampu mengendalikan diri antara lain. memiliki ketenangan dalam menghadapi situasi yang sulit, . kemampuan mengambil keputusan yang bijak, . pengendalian diri dalam perkataan dan tindakan, . memiliki rasa empati yang tinggi, . mampu membangun lingkungan belajar yang kondusif. Menurut Pak Wahyudi selaku Waka Kesiswaan Keseimbangan emosional sangat penting, terutama bagi seorang guru. Harus bisa menjaga emosi agar tidak meledak-ledak, terutama ketika menghadapi siswa yang sulit diatur. Mengendalikan diri juga penting agar tetap profesional dalam segala situasi. Siswa sering kali meniru perilaku guru, jadi kalau seorang guru tidak bisa mengendalikan diri, dampaknya akan negatif untuk siswa. Kepribadian yang Dewasa dan Bijaksana Menunjukkan tanggung jawab penuh terhadap tugas sebagai guru Perilaku seorang pendidik yang secara konsisten melaksanakan kewajiban profesionalnya dengan dedikasi, integritas, dan komitmen tinggi. Guru yang bertanggung jawab tidak hanya menyelesaikan tugas formal, tetapi juga memahami peran pentingnya dalam membimbing, mendidik, dan membentuk karakter siswa. Menurut Bu Silvi selaku guru kelas 1, pentingnya guru menunjukkan tanggung jawab penuh bagi seorang guru. Sangatlah penting, karena guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, membimbing dan membentuk karakter siswa. Tanggung jawab tidak hanya terbatas pada waktu dikelas saja, tapi juga dalam setiap interaksi siswa, orangtua dan masyarakat sekitar. Sebagai guru, harus bisa memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan perhatian yang dibutuhkan, baik itu dalam hal akademik maupun perkembangan pribadi. Memiliki kedewasaan berpikir dalam mengambil keputusan yang adil dan professional Kemampuan seorang guru untuk membuat keputusan yang bijaksana, objektif, dan tidak bias dalam setiap situasi (Wibowo, 2. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti hak dan kepentingan semua pihak yang terlibat. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 serta berlandaskan prinsip keadilan dan profesionalisme. Menurut Bu Sri selaku guru kelas 3, kedewasaan berpikir sangatlah penting bagi seorang guru, karena berdasarkan pengalaman yang sudah terjadi guru sering dihadapkan dengan situasi yang membutuhkan keputusan yang adil dan bijaksana. Contoh, ketika ada siswa yang melanggar aturan, seorang guru harus mampu menilai situasi secara objektif, mendengarkan berbagai pendapat dan membuat keputusan yang tidak hanya adil bagi siswa yang bersangkutan, tetapi juga untuk lingkungan kelas secara keseluruhan. Keputusan yang adil dan professional juga membangun rasa percaya siswa dan orang tua terhadap guru selaku pendidik Kepribadian yang Berwibawa Mampu menjadi panutan bagi siswa dan masyarakat Kemampuan menjadi panutan merujuk pada kualitas dan perilaku seorang guru yang dapat dijadikan contoh positif oleh siswa dan masyarakat. Guru yang mampu menjadi panutan menunjukkan integritas, profesionalisme, dan moralitas yang tinggi, sehingga mereka dihormati, dipercaya, dan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya (Firnando, 2. Menurut Bu Dwi selaku guru kelas, guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi siswa sendiri maupun dilingkungan masyarakat. Karena seorang guru pasti dijadikan figure yang sering kali dilihat dan dinilai. Jadi, seorang guru harus memiliki perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan kepada siswa. Jika seoarng guru meminta siswa untuk disiplin, maka guru harus disiplin juga. Memancarkan sikap yang dihormati tanpa perlu memaksakan diri Guru memiliki kewibawaan dan mendapatkan sebuah penghormatan dari orang lain melalui perilaku, sikap, dan karakter positif yang konsisten tanpa menggunakan tekanan atau paksaan (Prasetiya & Cholily, 2. Menurut Bu Agustin selaku guru kelas 4 mempercayai bahwa penghoormatan itu lahir dari perilaku diri sendiri. Jika seorang guru menunjukkan sikap jujur, sabar, adil dan konsisten maka, orang lain akan menghormatinya tanpa harus diminta atau memaksakannya. Guru harus bisa memberikan contoh, seperti jika ingin dihormati siswa maka guru juga harus menghormati siswa dahulu. Integritas dan Akhlak Mulia Memiliki nilai-nilai moral yang tinggi, seperti jujur, adil, dan menghormati orang lain Memiliki nilai-nilai moral yang tinggi, seperti jujur, adil, dan menghormati orang lain, mengacu pada penerapan prinsip-prinsip etika dan moral yang baik dalam kehidupan seharihari, baik dalam hubungan pribadi maupun professional (Samosir, 2. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membentuk karakter yang positif, terutama dalam konteks seorang guru yang harus menjadi contoh teladan bagi siswa dan masyarakat. Menurut Bu Anggun selaku guru kelas 6. Kejujuran merupakan prinsip utama yang beliau pegang dalam menjalankan tugas sebagai guru. Contohnya, beliau selalu berusaha untuk jujur dalam memberikan penilaian kepada siswa. Misalnya, jika ada tugas yang kurang baik, beliau tidak memberikan nilai yang lebih tinggi hanya untuk menyenangkan siswa. Kejujuran dalam membrikan umpan balik juga penting, sehingga bisa membuat siswa belajar dan berkembang. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma agama dan sosial Bertindak dan berperilaku berdasarkan aturan, nilai, dan pedoman yang diatur oleh agama serta masyarakat (Fraulen, dkk. ,2. Perilaku ini mencerminkan komitmen seseorang untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang dihargai dan diharapkan dalam kedua dimensi Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Menurut Bu Nur selaku guru mata pelajaran agama. Norma agama adalah panduan utama dalam bertindak. Beliau selalu berusaha menjalankan ibadah wajib seperti shalat 5 waktu dengan tepat waktu dan selalu mengajarkan pentingnya bersyukur kepada siswa. Tidak hanya norma agama penerapan norma sosial juga pentin, dalam lingkungan masyarakat, beliau berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangga dan rekan kerja. Misalnya, dengan cara aktif dalam kegiatan sosial seperti gotong royong dan pengajian di lingkungan tempat tinggal. sekolah, beliau memastikan bahwa setiap siswa merasa dihormati dan beliau menghormati keberagaman siswa, baik agama, budaya maupun kebiasaan yang dilakukan. Kemampuan Membangun Hubungan Positif dengan Lingkungan Mampu menciptakan suasana pembelajaran yang positif dan inspiratif Seorang guru atau pendidik dapat membangun lingkungan belajar yang mendukung, nyaman, dan memotivasi peserta didik untuk aktif terlibat dalam proses belajar. Suasana ini memungkinkan siswa merasa dihargai, termotivasi, dan tertantang untuk mencapai potensi maksimal mereka (Gultom & Naibaho, 2. Menurut Bu Anis selaku guru kelas 6, beliau selalu memulai kelas dengan senyum dan sapaan hangat untuk menciptakan suasana yang Beliau memastikan bahwa setiap siswa merasa diterima tanpa memandang latar belakang atau kemampuan mereka. Selain itu, beliau juga menggunakan cerita atau contoh nyata dari kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan materi pelajaran yang akan disampaikan. Misalnya, saat mengajarkan konsep matematika, beliau mengaitkan dengan situasi belanja atau permainan yang disukai para siswa. Beliau juga menggunakan teknologi video pembelajaran atau aplikasi interaktif untuk membuat kelas lebih menarik dan relevan dengan kehidupan Bersikap ramah dan peduli terhadap siswa dan rekan kerja Kemampuan seseorang untuk menunjukkan kehangatan, kesopanan, serta perhatian terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain dalam berbagai interaksi. Menurut Bu Siam selaku guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, beliau berusaha menyapa setiap siswa dengan senyuman ketika masuk kelas. Apabila melihat siswa yang tampak sedih dan murung biasanya beliau mendekatinya dan menyanyakan apa yang terjadi. Beliau terbuka untuk mendengarkan keluhan para siswa, baik tentang pelajaran maupun masalah pribadi, agar para siswa merasa dihargai dan didukung. Di lingkungan kerja beliau juga berusaha menjaga hubungan baik dengan semua rekan Beliau menyapa setiap hari, menawarkan bantuan jika rekan kerja sedang menghadapi tugas yang berat dan aktif berdidkusi untuk mencari solusi bersama dalam berbagai situasi. Jika ada rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan pribadi, beliau mencoba memberikan dukungan, entah melalui kata-kata penyemangat atau menawarkan bantuan seperti menggantikan tugas mengajar ketika guru kelas sedang berhalangan hadir. Menjunjung Nilai-nilai Nasionalisme dan Multikulturalisme Menunjukkan cinta terhadap bangsa dan budaya Menunjukkan cinta terhadap bangsa dan budaya adalah wujud nyata dari nasionalisme dan apresiasi terhadap kekayaan identitas nasional, memiliki rasa bangga, hormat, dan kepedulian terhadap nilai-nilai, tradisi, serta warisan budaya bangsa (Sembiring & Rohimah. Dengan adanya sikap tersebut mencerminkan penghargaan terhadap identitas nasional serta keinginan untuk melestarikan, menghormati dan mempromosikan keunikan budaya Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 ditengah masyarakat. Sikap ini penting untuk menjaga keutuhan bangsa, memperkuat rasa kebersamaan, dan memastikan bahwa warisan budaya tetap dihargai dan dilestarikan di tengah perkembangan zaman. Menurut Pak Eko selaku guru PJOK, cinta terhadap bangsa berarti memiliki rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia, menghormati symbol-simbol negara dan menajaga Sedangkan, cinta terhadap budaya adalah upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya yang kita miliki kepada generasi muda agar tidak terlupakan. Menghargai keragaman dalam masyarakat dan lingkungan Pendidikan Memiliki sikap terbuka, menghormati, dan menghargai perbedaan yang ada di antara individu atau kelompok. Perbedaan ini bisa meliputi agama, budaya, suku, bahasa, pandangan, atau latar belakang sosial-ekonomi (Norvaizi, 2. Sikap ini mencerminkan kesadaran akan nilai persatuan dalam keberagaman serta pentingnya menjaga harmoni di tengah perbedaan. Menurut Bu Yani selaku guru kelas 5, keragaman adalah anugrah yang harus disyukuri. Keragamanmerupakan peluang untuk belajar dari berbagai sudut pandang dan memperkaya Beliau percaya dengan adanya keragaman justru dapat memperkuat persatuan apabila bisa saling menghormati. Cara beliau menunjukkan sikap menghargai keragaman disekolah yaitu dengan berusaha adil terhadap semua siswa tanpa memandang latar belakang baik itu suku, status ekonomi ataupun yang lainnya. Penerapan ketika mengajar dikelas, beliau menggunakan contoh atau materi dari berbagai budaya untuk menunjukkan bahwa setiap budaya memiliki keunikan dan nilai yang berharga. Selain itu, saya mendorong siswa untuk saling menghormati anatar satu sama lain. KESIMPULAN Kompetensi kepribadian guru adalah kemampuan dan sikap seorang guru yang mencerminkan kepribadian mulia, kedewasaan, stabilitas emosional, serta integritas moral yang Kompetensi ini tidak hanya menjadi dasar profesionalisme seorang guru tetapi juga memengaruhi keberhasilan proses pembelajaran dan pembentukan karakter siswa. Berkenaan dengan kompetensi kepribadian, guru di MI Arrosyad Bergas sudah banyak guru yang memenuhi kriteria indicator kompetensi kepribadian, meskipun masih ada juga yang kurang kompetensi kepribadiannya. Pihak sekolah berusaha untuk memfasilitasi para guru untuk mengikuti kegiatan yang berkenaan dengan peningkatan kompetensi seperti mengikuti seminar, workshop maupun MGMP. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi ini harus menjadi fokus utama dalam program pendidikan dan pelatihan guru. DAFTAR PUSTAKA