SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga Syamsuddin 1* BBPPKS Makassar. Sekretariat Jenderal. Kementerian Sosoial. Sulawesi Selatan. Indonesia 90241 * Korespondensi: syamsuddingido@yahoo. Tel: ( . 85242682979 Diterima: 22 Oktober 2022. Disetujui: 12 Desember 2022. Diterbitkan: 31 Desember 2022 Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terkait pengaturan hidup lansia serta peran yang dijalankan dalam keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif guna menghasilkan tema-tema yang sesuai tujuan penelitian. Hasilnya menunjukkan lansia mengatur kehidupannya dengan tinggal bersama keluarga baik keluarga inti maupun dengan keluarga besar, ada juga lansia yang hanya tinggal dengan pasangan atau bersama asisten rumah tangga tapi masih rutin dikunjungi oleh anak dan cucunya. Para lansia juga tetap rutin melaksanakan olahraga ringan serta aktif dalam kegiatan/organisasi sosial, keagaaman, kewirausahaan, bahkan politik. Peran lansia dalam keluarga meliputi peran kerumahtanggan, peran pendidikan keluarga dan peran pengambilan keputusan keluarga. Kata kunci: Kesejahteraan, rumahtangga, penduduk, masyarakat Abstract: This study aims to describe about elder personAos living arrangement, and role within family. Research methodology in study is qualitatif study. Data was collected using indepth interview, observation and documentation study. Then data was analized qualitatively to produce themes base on the purpose of study. The result shows older people arrange their living by living together with family both extended family or neucler family. There is also elrderly just living with their spouse or with their maid but they still are visited by their child dan grandchild routinly. They also routinly do lihgt exercise, and active within organization/activities of social, religion, enterpreneur, even politic. The role of elderly within family is homemaking role, family education role, and family decesion making role. Keywords: Welfare, household, population, community https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3090 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 - 412 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia mengatur bahwa yang dimaksud dengan lansia, adalah mereka yang berusia 60 tahun atau lebih. Peningkatan populasi lansia di semua negara semakin pesat. Di Indonesia berdasarkan SusenasBPS tahun 2021, penduduk lansia mengalami peningkatan dua kali lipat dalam waktu 50 tahun terakhir. Pada tahun 2021, proporsi lansia mencapai 10,82 persen atau sekitar 29,3 juta (BPS, 2. Hal ini menjadi pertanda bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara berwajah tua . ging populatio. , dengan proporsi penduduk lansia lebih dari 10% dari total penduduk (Kementerian Kesehatan, 2. Peningkatan populasi lansia ini disinyalir dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, pendidikan atau sosial ekonomi yang semakin baik. Keberadaan kondisi lansia tersebut menunjukkan salah satu keberhasilan pembangunan bidang kesehatan maupun sosial. Peningkatan usia harapan hidup lansia didukung oleh kehidupan keluarga dan lingkungan sosial yang Lansia merupakan fase akhir perkembangan manusia, artinya lansia telah menjalani semua tahapan kehidupan (Santrock, 2. Sehingga sering dimaknai sebagai fase kemunduran, baik secara fisik, mental, ekonomi dan status sosial. Pemaknaan bahwa lansia sebagai fase kemunduran, memberikan konsekuensi tersendiri kepada paradigma kebijakan dan gerontologi sosial. Lansia diposisikan sebagai AubebanAy usia produktif atau sekedar penerima . layanan (Ramadhani et al. Namun dalam beberapa penelitian terbaru digambarkan bahwa lansia mampu membuktikan kapasitasnya bukan sekedar penerima tetapi mampu menjadi sumber, penyedia, dan kontributor dalam kehidupan sosial bahkan pembangunan (VidoviNovy, 2. Karena itu diperlukan perubahan paradigma dimana lansia dapat dipahami sebagai fase kematangan dan bukan semata kemunduran. Perspektif ini memandang lansia sebagai figur yang membawa kekuatan, potensi, dan kekayaan pengalaman serta kebijaksanaan hidup baik dalam pemikiran maupun dalam pengambilan keputusan. Pribadi yang matang pada diri lansia pula dapat dipahami sebagai sosok yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, lansia menyiapkan diri menuju kepada fase kehidupan yang lebih transendental bahkan spiritual, sehingga lansia akan lebih banyak fokus pada kebermanfaatan dirinya bagi orang-orang di sekitarnya. Sumbangan lansia kepada komunitas dapat dilihat pada beberapa tingkatan mulai dari tingkatan makro, mezzo dan mikro. Hal ini sebagai mana studi dari VidoviNovy . Pada tingkatan makro, lansia berperan sebagai pekerja dan memberikan sumbangan kepada pendapatan nasional, pada tingkatan mezzo lansia mengambil peran aktif sebagai anggota dari komunitas tertentu, dan di tingkatan mikro lansia memainkan peran sebagai perekat harmoni sosial lintas generasi, terutama sebagai penyedia perawatan dalam keluarga. Lansia yang tinggal di panti pun masih dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat dengan menjalankan fungsi pelestarian budaya, membagikan pengetahuan dan nilai-nilai kebajikan kepada generasi muda, termasuk peran dalam kegiatan-kegiatan spiritual/agama (Syamsuddin. Santi, & Alimuddin, 2. Peran lansia dapat dibedakan berdasarkan intensitasnya, artinya saat memasuki usia lanjut terjadi perubahan peran, mulai dari peran yang menurun, peran baru atau peran yang meningkat Adapun contoh peran lansia yang dikatakan meningkat intensitasnya adalah seperti peran sebagai pengurus rumah tangga, sedangkan peran yang yang dipandang berkurang atau menurun intenstiasnya adalah seperti peran sebagai pekerja/karyawan, peran sebagai orangtua, dan peran sebagai pasangan atau suami/istri. Sementara itu, peran yang dipandang meningkat intensitasnya, tetapi hal ini membutuhkan usaha-usaha tertentu adalah seperti peran sebagai warga negara yang tetap aktif dalam kegiatan sosial maupun kegiatan produktif lainnya. Sementara untuk contoh peran yang dianggap baru atau muncul untuk pertama kalinya adalah seperti peran menjadi pengasuh atau perawat cucu dan atau sesamanya lansia (VidoviNovy, 2. Hasil-hasil penelitian di atas menggambarkan peran lansia yang umum dan tidak secara khusus menjelaskan tentang peran lansia dalam keluarga. Penelitian mengenai peran lansia dalam keluarga belum banyak pakar yang melakukannya. Dari 100 artikel di 10 halaman awal mesin pencarian google. Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 hanya ada satu artikel tentang peran lansia di dalam keluarga. Kebanyakan adalah membahas topik tentang peran keluarga terhadap lansia. Mulai dari perawatan, dukungan sosial, pemenuhan gizi, aktivitas fisik, kognitif dan seterusnya (Azma Aulia, 2021. Baroroh & Irafayani, 2017. Dehe. Rumayar, & Kolibu, 2016. Fadhlia & Sari, 2022. Husada, 2021. Maita, 2017. Pujian & Muhlisin, 2. Kondisi ini tentu sangat mengecilkan peran lansia terutama dalam keluarga. Padahal, tren perubahan demografi ke depan, dimana lansia menempati kelompok usia mayoritas pada negara dengan status aging population, salah satunya Indonesia. Tren penuaan ini, mestinya dapat menempatkan lansia sebagai kelompok penyumbang dalam kehidupan bernegara. Karenanya perlu terus diberikan ruang untuk tetap produktif dan kontributif terutama dalam kehidupan keluarga sebagai tempat yang paling aman dan nyaman bagi lansia. Lansia hari ini jauh dari kata AutuaAy. Lebih dua abad usia harapan hidup lansia terus membaik. Peningkatan ini dapat diterjemahkan bahwa para lansia memiliki status kesehatan yang baik (Christensen, 2. Lansia saat ini merupakan kelompok yang beragam terkait kondisi kesehatan dan tingkat kemandirian. lansia yang lebih muda . -75 tahu. umumnya masih mandiri dan sehat secara fisik, sedangkan lansia yang lebih tua . -85 tahu. berisiko kehilangan kemandirian yang lebih tinggi namun tetap dapat menjalankan perannya. Lansia yang lebih muda dan sehat, potensial sebagai penyedia perawatan dapat menangani tugas-tugas rumah tangga, layanan perawatan, dan perawatan cucu atau anggota keluarga yang lain (Gottlieb, 2008. Haberkern. Schmid. Neuberger, & Grignon, 2011. Jegermal & Grassman, 2. Jika lansia dimulai dari 60 tahun dan masih sangat sehat sampai usia 75 tahun artinya lansia masih bisa terus aktif dan berkontribusi minimal 15 tahun, ini adalah fase yang cukup memadai untuk membentuk satu generasi penerus yang mandiri, tangguh. Karena itu, lansia harus terus diberikan tempat dalam keluarga. Hal ini akan mewujudkan hubungan yang saling menguntungkan antara keluarga dan lansia. Pola hubungan ini menciptakan kesejahteraan pada lansia pada satu sisi, serta kebahagiaan pada keluarga di sisi yang lain. Dukungan sosial yang terpenting pada lansia adalah dukungan yang berasal dari keluarga(Kaplan. Sadock. Grebb, 2. Dukungan dari keluarga utama akan sangat berarti dibandingkan dengan dukungan dari orang lain. Secara psikologis, adanya dukungan dan bantuan dapat menurunkan risiko sakit dan kematian pada lansia (BPS, 2. Sementara kelompok usia muda akan menjadi lebih produktif, fokus dan lebih tenang dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan karena sebagian tugas-tugas penjagaan dan perawatan dalam keluarga dapat diambil alih oleh anggota keluarga yang lebih senior yakni lansia (Rosidah et al. , 2016. Ramadhani et al. , 2. Pola ini pula menciptakan hubungan antar generasi yang harmonis tanpa kesenjangan berarti. Sehingga lansia dapat memberikan sumbangsih yang lebih optimal dalam Usia yang panjang, memungkinkan lansia untuk memainkan peranan yang penting, baik dalam keluarga maupun masyarakat (Haberkern et al. , 2. Oleh karena itu tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang pengaturan hidup dan peran lansia dalam keluarga. Metode Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan melibatkan lima orang informan, yang kesemuanya adalah lansia dengan rentan usia 60-73 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis data kualitatif sehingga ditemukan tema-tema yang sesuai dengan tujuan penelitian, terkait pengaturan hidup dan peran lansia dalam keluarga. Hasil Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan orang lansia terkait dengan pengaturan hidup dan peran lansia di dalam keluarga disajikan dalam dua pembahasan yakni terkait karakteristik informan, pengaturan hidup serta peran lansia di dalam keluarga. Data disajikan pada setiap informan dimana terdapat lima orang informan. Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 - 412 Informan 1 Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1 ditemukan data bahwa informan adalah lansia berusia 63 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dan merupakan seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, sejak 5 tahun lalu. Informan sehari-hari tinggal bersama dengan istrinya di rumah yang merupakan miliknya sendiri. Semua anaknya telah menikah dan punya rumah sendiri. Anak dan cucunya secara rutin mengunjunginya setiap hari libur. Informan sangat aktif dalam kegiatan sosial, organisasi sosial, dan keagamaan. Informan bahkan menduduki beberapa jabatan dalam perkumpulan dan organisasi seperti, ketua RT, ketua paguyuban pensiunan, bahkan dipercaya sebagai sekretaris dalam lembaga lanjut usia tingkat provinsi. Informan juga masih aktif menjaga fisik dan stamina dengan rutin olahraga setiap hari minggu bersama dengan paguyuban yang informan ikuti. Sebagai lansia, informan sangat aktif memainkan perannya di dalam keluarga. Adapun peranperan yang dimainkan yakni secara rutin menjalankan peran dalam mengurus atau merawat rumahtangga, seperti menyapu, mengepel, dan membersihkan halaman. Informan juga meluangkan waktunya tiga kali seminggu untuk mengajar cucunya mengaji di rumahnya. Selain itu, jika terdapat anggota keluarga yang mengalami kendala atau masalah, informan selalu berperan untuk membantu dalam mengambil keputusan, apalagi posisinya sebagai kakak tertua dalam keluarganya, informan mendapatkan posisi sebagai orang yang dituakan. Ketika keluarga melaksanakan hajatan seperti pernikahan, arisan, atau acara keluarga lainnya, informan selalu terlibat dan berperan untuk mengorganisir kegiatan tersebut agar bisa berjalan dengan Kemampuan yang dimiliki informan dalam mengorganisir kegiatan telah terasah, karena informan pernah menjadi pucuk pimpinan ketika aktif sebagai PNS. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan Informan 1: anak-anak saya sudah berkeluarga, mereka punya rumah sendiri, tapi mereka rutin mengunjungi kami setiap hari libur, saya rutin olahraga, guna menjaga fisik agar tetap bugar, saya juga aktif di organisasi sosial dan keagamaan. Di dalam keluarga saya termasuk yang dituakan, sehingga setiap kali ada anggota keluarga yang mengalami masalah, saya selalu berperan untuk terlibat memberikan masukan memecahkan masalah tersebut. Jika ada acara keluarga saya yang turun langsung mengatur dan mengorganisir acara tersebut agar semua berjalan lancar. Di rumah juga saya terlibat langsung dalam melaksanakan tugas tugas kerumahtanggaan, seperti menyapu, membersihkan halaman, dll. Saya juga menyempatkan diri untuk mengajar cucu saya mengaji, tiga kali seminggu mereka datang ke rumah untuk belajar mengaji Informan 1 juga merasa sangat bahagia menjalankan peran-peran di dalam keluarga, karena hal tersebut diyakini sebagai ladang pahala dan dapat meningkatkan motivasi dan kebahagiaannya. Informan menjalankan peran tersebut dengan perasaan ikhlas. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan informan: Saya merasa bahagia menjalankan peran-peran tersebut, karena saya melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah SWT, dan berharap apa yang saya lakukan dapat bernilai pahala. Informan 2 Informan 2 berprofesi sebagai konsultan dan kontraktor, berjenis kelamin laki-laki dan usianya saat ini adalah 71 tahun. Informan tinggal di rumahnya sendiri bersama dengan pasangannya dan 3 orang anaknya. Setiap hari informan aktif melaksanakan olahraga ringan seperti jalan kaki dan Informan juga menjadi ketua RT di lingkungannya. Aktivitasnya sebagai seorang kontraktor dan konsultan . , masih aktif dijalankan selain kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial. Hal ini sebagaimana kutipan wawancara dengan informan 2: Aktivitas keseharian, saya rutin berolahraga, berupa joging dan berjemur setiap hari, di lingkungan saya, juga aktif sebagai ketua RT, tugas sebagai kontraktor dan konsultan memang profesi saya dari dulu, karena kita bukan PNS jadi tidak ada istilah pensiun, saya juga sering Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 berkumpul bersama teman-teman baik dengan cara saling mengunjungi rumah, atau kumpul di kafe sambil nyanyi bareng, saya menikmati semua itu. Terkait dengan peran informan dalam keluarga hampir sama dengan informan sebelumnya, yakni aktif untuk bekerjasama dengan pasangannya untuk mengurus rumah seperti menyapu, membersihkan halaman, menata perabot, termasuk aktif berperan dalam memberikan masukan bagi anggota keluarga yang meminta saran atau pendapat untuk mengambil satu keputusan penting, termasuk membantu keluarga dalam mengorganisir acara-acara keluarga. Namun yang unik dari peran informan 2 ini adalah bahwa informan juga aktif berperan untuk mengajar anaknya terkait dengan pengetahuan dan keahliannya dalam bidang kontraktor, teknik dan konsultan. Hal ini sebagai mana hasil wawancara dengan informan 2: peran yang saya lakukan di rumah adalah saya aktif membantu istri untuk mengerjakan tugastugas kerumahtanggan, terutama membersihkan rumah, setiap hari saya menyapu, mengepel, membersihkan taman dan halaman rumah, menata dan membersihkan perabot. Kalau ada anak, saudara atau anggota keluarga yang meminta saran atau pendapat dalam mengambil keputusan saya juga sering dilibatkan dan mengambil peran dalam urusan tersebut termasuk membantu mengorganisir acara-acara keluarga, seperti acara pernikahan, arisan, aqiqah, sunatan dan lain Sebagai orangtua saya juga sering menularkan ilmu saya dalam bidang konsultan dan kontraktor kepada anak saya yang kebetulan juga mengambil jurusan arsitek, jadi saya sering membimbing dia, mengajari dia dan berdiskusi terkait hal-hal yang bersifat teknik. Informan mengaku bahwa informan sangat menikmati dan bahagia menjalankan perannya dalam keluarga saat ini. Informan 3 Informan 3 adalah seorang perempuan, usia 60 tahun, seorang pensiunan PNS dua tahun lalu. Informan tinggal bersama dengan anak, menantu dan 3 orang cucunya di rumah yang merupakan miliknya sendiri. Informan rutin melakukan olahraga sekali seminggu, bersama dengan perkumpulan pensiunan yang diikutinya. Selain aktif di kegiatan sosial, informan juga memiliki kegiatan kewirausahaan, yakni jualan kue seperti pempek, dan kue-kue tradisional yang telah menggunakan media sosial untuk pemasarannya. Informan juga aktif dalam kegiatan keagamaan, sekali seminggu informan ikut pengajian dalam sebuah majelis taklim. saya aktif dalam kegiatan sosial dan juga olah raga, sekali seminggu, yakni hari sabtu saya ikut senam bersama dengan teman teman pensiunan dari kantor saya, saya juga aktif ikut pengajian di majelis taklim. Selain itu saya juga ada kegiatan wirausaha, jualan mpek-mpek dan kue tradisional lainnya, yang sebagian saya pasarkan lewat media sosial Terkait dengan peran yang dijalan di dalam keluarga, informan mengaku selalu terlibat dalam membantu mengurus atau merawat rumah, mengajarkan anak-anak tentang agama dan di sela-sela waktu juga menyempatkan diri untuk mengajar cucunya membaca. Informan juga senantiasa berperan dalam membantu anaknya untuk memutuskan sesuatu, seperti jika anaknya akan membeli sesuatu, informan selalu memberikan masukan dan saran terbaik, jika hal tersebut dianggap belum begitu prioritas, informan kadang menyarankan agar hal tersebut dapat ditunda dulu. Dalam acara keluarga, informan selalu aktif membantu, karena keahliannya adalah memasak, maka peran yang ditampilkan dalam hajatan keluarga adalah membantu dalam memasak dan menyiapkan konsumsi. Dan yang paling penting adalah dalam hal keuangan keluarga, informan juga masih berperan penting dengan memberikan bantuan keuangan untuk biaya pendidikan cucunya. Informan 4 Informan 4, adalah seorang perempuan yang juga seorang pensiunan, umur 69 tahun dengan status janda. Suaminya meninggal setahun lalu karena covid. Keseharian di rumahnya tinggal bersama dengan seorang asisten rumah tangga, karena semua anaknya sudah bekerja dan berkeluarga. Secara rutin anak-anaknya tetap mengunjunginya di setiap hari libur. Sehari-hari informan aktif dalam Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 - 412 organisasi sosial seperti Ikatan Wanita Indonesia. Pimpinan daerah Muhammadiyah, dan pengurus organisasi lansia bahkan menjadi pengurus salah satu partai politik. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan informan: saya tinggal sendiri dirumah, hanya ditemani seorang asisten RT, anak-anak saya sudah berkeluarga, ada yang jadi dokter. PNS dan dosen. Mereka sudah punya rumah tangga sendiri, namun disetiap hari libur mereka pasti mengunjungi saya. Kumpul bersama, acara keluarga, masak-masak saya masih aktif olah raga, saya juga pengurus Ikatan Wanita Indonesia. Pengurus Muhammadiyah, juga aktif di Politik. Adapun peran yang dilakukan dalam keluarga adalah menjalankan peran-peran kerumahtanggaan, seperti menyapu, memasak dan menata halaman. Walaupun informan memiliki asisten rumah tangga tapi peran-peran kerumahtanggaan ditinggalkan karena sudah menjadi rutinitas. Selain itu, informan juga memainkan peran untuk menjadi model dan contoh teladan kepada anakanaknya. Informan merasa bahwa sebagai orangtua harus selalu memberikan motivasi kepada anakanak untuk terus berkarya dan sukses dalam kehidupan dan karir. Hal ini sebagaimana hasil saya punya asisten rumah tangga, tapi karena sudah jadi kebiasaan saya tetap jalankan peran saya dalam tugas kerumahtanggan, menyapu, memasak, membersihkan halaman. Dalam keluarga juga saya harus menjadi model dan teladan bagi anak anak saya, saya ajarkan mereka motivasi untuk terus berkarya untuk sukses. Informan 5 Informan 5 adalah seorang laki-laki berusia 73 tahun. Informan adalah seorang pensiunan PNS dengan jabatan terakhir sebagai kepala dinas provinsi. Di rumah informan tinggal bersama dengan istri, anak, mertua, cucu, dan keponakan. Informan rutin melakukan senam dan joging setiap minggunya bersama komunitasnya. Selain aktif dalam kegiatan sosial dan keagaman, informan juga menekuni bisnis pakaian. Informan memiliki butik di rumahnya. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan saya seorang pensiunan PNS, karir terakhir saya sebagai kepala dinas provinsi. Di rumah saya tinggal bersama istri, anak, mertua dan ada ponakan. Saya aktif di majelis taklim, di paguyuban pensiunan, bersama mereka saya rutin senam sehat dan joging, selain itu saya ada butik pakaian di Terkait peran informan dalam keluarga, informan masih aktif dalam kegiatan kerumahtanggaan seperti membersihkan rumah, menata halaman dan kebun termasuk membantu istri dalam memasak dan menyiapkan makanan. Selain itu Informan juga mengambil peran untuk berbagi pengetahuan dengan tujuh orang cucu dan keponakannya seperti mengajar berhitung dan membaca serta mengenal anggota-anggota tubuh sebagai persiapan masuk sekolah dasar. Sebagai orang Padang. Informan memegang prinsip AuAnak dipangku keponakan dibimbingAy. Falsafah hidup tersebut juga ditularkan kepada seluruh anggota keluarganya baik kepada anak maupun cucunya. Informan mengaku sangat peduli kepada semua anggota keluarganya. Ketika diminta pendapat tentang sesuatu hal, seperti membeli satu barang kebutuhan biasanya informan senantiasa memberikan saran dan pendapat, agar kebutuhan yang dibeli betul-betul hal yang prioritas. Informan termasuk sosok yang dituakan dalam keluarga sehingga setiap ada musyawarah keluarga senantiasa dilibatkan, dan selalu membantu untuk memecahkan masalah yang dialami oleh anggota keluarga, termasuk jika ada anggota keluarga yang mengalami kendala pembiayaan, informan selalu ikut membantu. Berdasarkan hasil wawancara dengan kelima informan dapat disimpulkan bahwa lansia di dalam keluarga memainkan beberapa peran seperti peran kerumahtanggaan, peran memberikan saran atau pendapat terkait masalah yang dihadapi oleh keluarga dan membantu dalam proses pengambilan keputusan. Lansia juga mengambil peran untuk menjadikan dirinya sebagai panutan atau teladan dalam keluarganya serta mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anggota keluarga lainnya. Peran lain adalah membantu keluarga dalam mengorganisir berbagai acara-acara keluarga seperti acara Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 pernikahan, arisan ataupun hajatan lainnya. Serta mengambil peran untuk memberikan bantuan keuangan kepada anggota keluarga terutama untuk biaya pendidikan, dan peran yang tidak kalah pentingnya adalah peran untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anggota keluarga terutama kepada anak, cucu dan keponakan. Pembahasan dalam artikel ini secara garis besar, sesuai dengan tujuan penelitian, terdiri dari pembahasan tentang pengaturan hidup lansia serta pembahasan tentang peran lansia di dalam Pembahasan Berdasarkan hasil wawancara dengan kelima informan dapat disimpulkan bahwa lansia di dalam keluarga memainkan beberapa peran seperti peran kerumahtanggaan, peran memberikan saran atau pendapat terkait masalah yang dihadapi oleh keluarga dan membantu dalam proses pengambilan keputusan. Lansia juga mengambil peran untuk menjadikan dirinya sebagai panutan atau teladan dalam keluarganya serta mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anggota keluarga lainnya. Peran lain adalah membantu keluarga dalam mengorganisir berbagai acara-acara keluarga seperti acara pernikahan, arisan ataupun hajatan lainnya. Serta mengambil peran untuk memberikan bantuan keuangan kepada anggota keluarga terutama untuk biaya pendidikan, dan peran yang tidak kalah pentingnya adalah peran untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anggota keluarga terutama kepada anak, cucu dan keponakan. Pembahasan dalam artikel ini secara garis besar, sesuai dengan tujuan penelitian, terdiri dari pembahasan tentang pengaturan hidup lansia serta pembahasan tentang peran lansia di dalam keluarga. Pengaturan Hidup Lansia Pengaturan hidup pada lansia atau lebih dikenal dengan konsep living arrangement, lebih dimaknai dengan seseorang di masa tuanya tinggal atau hidup bersama dengan AusiapaAy dan AubagaimanaAy lansia menghabiskan waktunya. Data menunjukkan bahwa lansia umumnya tinggal bersama keluarga, baik keluarga inti, bahkan dengan keluarga besar. Ada juga yang hanya tinggal bersama pasangan bahkan hanya dengan asisten rumah tangga, tapi masih rutin dikunjungi oleh anak dan cucu, terutama di hari Hal ini menunjukkan bahwa lansia masih terikat dalam kehidupan keluarga, dimana lansia dapat menjalankan peran-perannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan terkait dengan cara lansia memanfaatkan waktunya sehari-hari pascapensiun, berdasarkan data yang tersaji di atas, ditemukan bahwa para lansia aktif melakukan aktivitas untuk menjaga stamina seperti berjemur dan olah raga secara rutin, terutama akhir pekan. Adapun jenis olah raga yang paling diminati adalah jalan kaki, joging dan senam. Para lansia umumnya memilih kegiatan olah raga bersama dengan komunitas atau paguyuban yang mereka ikuti. Selain olah raga para lansia juga mengisi hari-harinya dengan kegiatan positif yang menjadi minatnya, seperti terlibat aktif dalam kegiatan dan organisasi sosial, keagamaan . engikuti kegiatan pengajian dan majelis takli. , menekuni bisnis . onsultan, pakaian dan kuline. , bahkan ada yang aktif dalam kepengurusan partai politik atau menjadi pemimpin lokal di lingkungannya dengan menjadi Ketua RT/RW. Kegiatankegiatan ini tentu saja sangat berguna dan positif bagi lansia untuk mengisi waktu luang. Beberapa kajian telah menemukan bahwa umumnya lansia tinggal bersama dalam tiga generasi atau minimal bersama pasangan. Kajian yang dilakukan oleh Ayoob . menemukan bahwa 39 persen lansia hidup bersama dengan anak perempuan dan menantu laki-lakinya dalam satu rumahtangga, 20 persen hidup bersama dengan anak laki-laki dan menantu perempuannya, 20 persen hidup bersama dengan cucunya, 10 persen hidup terpisah dengan pasangan namun tetap tinggal berdekatan dan mendapatkan dukungan dan bantuan dari anaknya, 6 persen hidup bersama dengan keluarga yang lain seperti kerabat, dan hanya 5 persen lansia yang hidup terpisah dan tidak mendapatkan dukungan dan perawatan dari keluarga. Sementara itu data SUSENAS BPS tahun 2021, menunjukkan data bahwa lansia lebih banyak yang tinggal bersama tiga generasi dalam rumahtangga, yaitu sebesar 34,71 persen. Tinggal bersama tiga generasi, artinya seorang lansia tinggal bersama anak dan cucunya dalam satu rumah, atau tinggal bersama anak dan orangtuanya. Selanjutnya, terdapat 29,66 persen yang tinggal bersama keluarga inti Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 - 412 dan 22,78 persen lansia tinggal bersama pasangannya. 9,99 persen tinggal sendiri, 2,85 persen tinggal bersama dalam kategori lainnya. Sementara data terkait aktivitas atau keterlibatan lansia dalam kegiatan olahraga, organisasi sosial, agama, bisnis dan politik, dapat dianalisis sebagai bentuk mekanisme lansia untuk mengurangi kecemasan sebagai akibat dari peralihan dari dunia kerja menuju Para lansia, sebelum memasuki usia pensiun,sudah mulai menyiapkan diri untuk menekuni aktivitas baru seperti merintis usaha, mengikuti kegiatan bersama sesama lanjut usia, maupun mengambil berbagai peran dalam kemasyarakatan (Hendrawanto, 2016. Patria & Mutmainah, 2018. Ramadhani et al. , 2. Lansia juga memilih aktivitas tersebut sebagai bentuk penyesuaian diri pada status maupun lingkungan baru agar tetap diterima dan dihargai dalam kehidupan masyarakat (Poloma, 1987. Ramadhani et al. , 2. Berdasarkan dua rujukan di atas dapat disimpulkan bahwa umumnya lansia tinggal bersama dengan keluarga baik dengan keluarga besar maupun keluarga inti, minimal tinggal bersama pasangan. Hal tersebut memungkinkan lansia mzzemainkan peran-peran dalam keluarga, terutama lansia yang masih tergolong sehat, produktif dan mandiri. Peran Lansia Dalam Keluarga Adapun peran-peran yang dijalankan oleh lansia dalam keluarga meliputi peran terkait tugastugas kerumahtanggaan, peran pendidikan keluarga, peran dalam mengorganisasi acara keluarga, dan peran pengambilan keputusan keluarga. Peran kerumahtanggaan Lansia di dalam keluarga masih aktif menjalankan peran-peran dalam mengurus rumahtangga seperti menyapu, mengepel, menata perabot, memasak, menyiapkan makanan dan membersihkan halaman atau kebun. Peran peran ini biasanya dilaksanakan oleh lansia dengan bahagia karena memang sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang dilakoni sejak muda. Terkait dengan peran kerumahtanggaan, lansia juga aktif dalam kegiatan hajatan seperti pernikahan, arisan, atau acara keluarga lainnya. Informan selalu terlibat dan berperan untuk mengorganisir kegiatan, seperti memobilisasi anggota keluarga dan kerabat agar bisa hadir dalam acara tersebut atau membantu memasak dan menyiapkan konsumsi acara. Peran kerumahtanggaan lansia dalam kajian ini, sejalan dengan beberapa kajian sebelumnya. Ayoob . , menemukan bahwa lansia dalam keluarga menjalankan peran untuk membantu dalam pelaksanaan tugas-tugas kerumahtanggaan. Peran tugas kerumahtanggaan dominan dilaksanakan oleh lansia perempuan dari pada lansia laki laki, yakni 75% berbanding 25%. Kajian ini juga menemukan bahwa peran lansia perempuan di tingkat rumahtangga dirasakan manfaatnya oleh anggota keluarga serta dirasakan lebih berharga dan sangat diperlukan dibandingkan dengan lansia laki-laki. Lansia lakilaki lebih sering ditemukan berada jauh dari aktivitas kerumahtanggaan. Keterlibatan penuh lansia perempuan dalam kegiatan kuliner juga sangat disukai oleh anggota keluarga terutama cucunya. Peran kerumahtanggaan yang juga masih sering dilaksanakan oleh lansia adalah memastikan atau menjamin kebutuhan operasional dan organisasi rumahtangga tetap berjalan. Para lansia mengambil peran pergi keluar rumah, mendatangi kantor-kantor dan/atau layanan publik untuk membayar tagihan listrik, air, telepon, berbelanja kebutuhan harian, bahkan bertindak sebagai panitia untuk penyelenggaraan acara-acara keluarga . ernikahan, hajatan, arisan, upacara kematian, khitanan, dan lain-lai. dengan menghubungi dan mendatangi keluarga dan kerabat lainnya. Peran ini dominan dimainkan oleh lansia laki-laki daripada lansia perempuan, dengan perbandingan 79 persen dengan 21 persen (Ayoob, 2. Tugas kerumahtanggaan terkait dengan pengasuhan dan perawatan juga dijalankan oleh lansia di dalam keluarga. Sebuah kajian yang dilakukan oleh Desiningrum . menemukan bahwa lansia memainkan peranan penting dalam merawat anak autis. Peran lansia menjaga dan merawat anak autis dilakukan ketika kedua orangtua anak tidak berada dirumah seperti ketika bekerja, berbelanja, atau urusan lain yang sifatnya mendadak. Lansia juga menjalankan peran untuk membantu biaya terapi bagi anak autis, dan merawat mereka ketika sakit. Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 Lansia juga menjalankan peran sebagai pengasuh pengganti . oster car. kepada anak yang kehilangan pengasuhan dari salah satu atau kedua orangtuanya. Kondisi ini dapat terjadi karena orangtua anak meninggal dunia sehingga anak menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu, orangtua mengalami masalah psikososial seperti gangguan mental, penyalahgunaan NAPZA, pengangguran, dipenjara, kehamilan di luar nikah, atau karena perubahan kebijakan terkait pola pengasuhan pengganti dimana pengasuhan berbasis keluarga lebih diprioritaskan ketimbang pengasuhan berbasis lembaga atau berbasis panti (Fuller-Thomson & Minkler, 2. Peran lansia dalam urusan kerumahtanggaan membuat lansia manjadi lebih aktif dalam mengorganisasi kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan, dan membangun komunikasi dengan pihakpihak lain sehingga keluarga tentu akan sangat terbantu dengan kehadiran lansia dalam keluarga. Peran pendidikan keluarga Berdasarkan data di atas, lansia secara rutin aktif mengambil peran dalam membantu proses pendidikan dan mencerdaskan anggota keluarga baik itu anak kandung, keponakan, atau cucu. Pendidikan yang diberikan lansia kepada anggota keluarga seperti mengajar mengaji, mengajarkan nilai-nilai agama, mengajar membaca, berhitung dan mengenal bagian-bagian tubuh termasuk mengajar pengetahuan dan keterampilan teknis kepada anaknya yang mengambil profesi yang sama dengan lansia tersebut. Lansia juga berperan untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada anggota keluarga, seperti cucu. Selain mengajarkan dan memberikan bantuan pendidikan, lansia juga memainkan peran untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada keluarga. Lansia menjadikan dirinya sebagai role model dan contoh teladan kepada anak-anaknya serta senantiasa memberikan motivasi kepada anggota keluarga terutama anak-anaknya untuk terus berkarya dalam kehidupan, termasuk mengajarkan falsafah kehidupan dianut dalam keluarga. Peran ini sejalan dengan beberapa kajian sebelumya bahwa para lansia memainkan peran yang krusial dalam proses sosialisasi dan sebagai guru kepada anggota keluarga. Hal ini karena lansia dipandang sebagai role model yang dapat diteladani. Para lansia mengajarkan kepada generasi muda bagaimana menjalani kehidupan dan bertahan hidup dari segala ancaman seperti bencana alam (Ayoob, 2. Para lansia juga mengajarkan tentang berbagai filosofi kehidupan seperti bagaimana berperilaku santun, berbudi luhur, memegang kredibilitas dan integritas, menanamkan nilai-nilai kebaikan, kehormatan, harga diri dan tanggung jawab (Obioha & TAosoeunyane, 2. Para lansia meneruskan kekayaan pengetahuan dan pengalaman mereka kepada anggota keluarga yang lebih muda dengan menggunakan media seperti cerita rakyat ataupun dongeng (Ayoob, 2020. Obioha & TAosoeunyane, 2. Lansia juga adalah sumber pengetahuan bagi generasi muda yang harus dibangkitkan kembali. Lansia memainkan peran utama dalam meneruskan kekayaan pengalaman dan pengetahuan lansia kepada anggota keluarga yang lebih muda (Bardhan. Bandyopadhyay. Mandal. Lansia juga memainkan peran untuk menjembatani anggota keluarga terkoneksi dengan dunia sosial serta jaringan sosial yang dimiliki oleh lansia seperti anggota keluarga lain, kerabat, dan teman kerja atau organisasi sosial. Lansia selalu memperkenalkan anggota keluarga/kerabat, teman kerja, tokoh-tokoh masyarakat, dan tetangga, serta mengajarkan tentang tatakrama, sopan santun, cara bicara, adat ketika makan dan lain-lain. Lansia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan sering bertindak atau mengambil peran sebagai caregiver atau perawat kepada anggota keluarga yang sakit. Temuan yang lain mencatat bahwa terdapat lansia yang memiliki pengetahuan tentang kebidanan menyumbangkan keterampilan mereka kepada anggota keluarga yang dalam proses persalinan, aktif memberikan nasehat berupa anjuran ataupun larangan terkait proses persalinan, termasuk dalam menyiapkan peralatan yang dibutuhkan selama proses persalinan. Sehingga peran lansia sangat dirasakan oleh anggota keluarga yang sedang hamil dan menunggu persalinan (Obioha & TAosoeunyane, 2. Peran dalam pengambilan keputusan Lansia aktif berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam keluarga. Lansia selalu memberikan masukan atau saran bagi anggota keluarga. Permintaan saran tersebut dilakukan oleh Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 - 412 anggota keluarga, jika menghadapi satu masalah, dimana lansia diminta pandangannya untuk mencari solusi terbaik. Anggota keluarga juga sering meminta pandangan lansia ketika bermaksud membeli barang-barang kebutuhan tertentu. Lansia diminta pertimbangannya terkait penentuan prioritas kebutuhan, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat. Kepercayaan anggota keluarga untuk meminta pandangan lansia terkait pengambilan keputusan salah satunya didasarkan atas pertimbangan senioritas. Lansia dipandang sebagai orang yang dituakan atau paling dihormati dalam keluarga sehingga dinilai bijak dalam memberikan pertimbangan. Sebagai warga senior, yang telah melewati hampir semua fase kehidupan, sosok lansia kaya akan pengalaman hidup dibandingkan anggota keluarga yang lebih junior. Sehingga peran lansia sebagai penasehat, tentu sangat memungkinkan dan akan sangat membantu. Kebijaksanaan hidup sebagai pengetahuan informal dipersembahkan oleh lansia kepada anggota keluarga yang lain. Hal ini tentu saja karena lansia telah melewati semua fase kehidupan, mulai dari fase anak, remaja, dewasa, bahkan fase lansia itu sendiri (Bardhan. Bandyopadhyay, & Mandal, n. Fase perkembangan tersebut memberikan pembelajaran dan pengalaman hidup bagi lansia, berupa kisah-kisah hidup yang dapat menginspirasi dan menjadi rujukan kepada generasi muda. Pengalaman ini membuat lansia menjadi jauh lebih bijaksana dalam melihat dan menyikapi satu persoalan dibandingkan dengan golongan usia muda. Karena itulah, lansia selalu menjadi tempat untuk bertanya dan mendapatkan nasehat dan rujukan terhadap persoalan hidup yang dihadapi oleh anggota keluarga lainnya. Meskipun lansia mungkin lemah secara fisik, kekuatan pengalaman mereka dapat bertindak sebagai mercusuar bagi anggota keluarga lain yang kurang pengalaman. Mengajarkan nilai-nilai kehidupan, menyampaikan nasihat, mengajarkan nilai-nilai moral, membantu anggota keluarga mengambil keputusan terkait masalah dan kebutuhan dalam keluarga. Nasehat tersebut bisa saja karena memang diminta langsung oleh pihak anggota keluarga, atau karena dilakukan sendiri secara sukarela oleh lansia. Nasihat diberikan untuk membantu anggota keluarga memecahkan masalah dan mengambil keputusan penting, seperti terkait pendidikan, pernikahan, kehidupan keluarga, merawat dan mengasuh anak, pekerjaan atau usaha dan lain-lain. Lansia membimbing anggota keluarga yang lebih muda, untuk memilih jalan hidup yang benar dan juga mencoba untuk menanamkan nilai-nilai, kebiasaan, budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat (Bardhan et al. , n. Lansia memegang peran yang krusial dalam proses sosialisasi, sebagai panutan yang dapat diikuti oleh semua anggota keluarga (Ayoob, 2. Berdasarkan gender, peran sebagai penasihat dominan dilaksanakan oleh lansia laki-laki dari pada lansia perempuan, yakni 60% berbanding 40%. Masyarakat menganggap bahwa laki-laki lebih memiliki kemampuan dan pengalaman dalam membimbing anggota keluarga dibandingkan dengan perempuan (Ayoob, 2. Sebagai warga senior, lansia tentu kaya dengan pengalaman terkait pemecahan masalah kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, anggota keluarga yang mengalami masalah tertentu sering datang meminta bantuan kepada lansia dalam memecahkan masalahnya. Masalah-masalah yang sering timbul dalam keluarga seperti konflik, disharmoni, pertengkaran dalam keluarga. Lansia dalam hal ini membantu anggota keluarga memecahkan masalahnya dengan memainkan peran sebagai mediator, pembimbing atau konselor. Sebagai mediator, lansia dipercaya dapat bertindak sebagai penengah yang netral dan tidak berpihak dalam menyelesaikan konflik atau sengketa keluarga. Pengalaman hidup, menjadikan lansia memiliki naluri yang jauh lebih peka sehingga mampu mendeteksi kebenaran atau fakta yang terjadi. Anggota keluarga kesulitan untuk merekayasa situasi karena lansia selalu memiliki argumen dan alasan yang dapat diterima oleh semua anggota keluarga demi menciptakan kehidupan yang harmonis (Ayoob, 2. Para lansia juga dianggap sebagai orang yang cocok dalam proses pengambilan keputusan penting terkait disorganisasi keluarga. Anak-anak muda memberikan prioritas kepada warga senior saat mengambil keputusan penting. Saran dan bimbingan dari lansia dapat diterima oleh anggota keluarga Peran dalam membantu memecahkan masalah keluarga, dimana lansia bertindak sebagai mediator lebih banyak diperankan oleh lansia laki-laki yakni 68% jika dibandingkan dengan peran lansia perempuan yang hanya 32% (Ayoob, 2. Selain sebagai mediator konflik, lansia juga memainkan peran membantu memecahkan masalah anggota keluarga dengan bertindak sebagai konselor, dimana lansia mempersembahkan dirinya untuk Syamsuddin Pengaturan Hidup dan Peran Lansia dalam Keluarga SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 401 Ae 412 memberikan atau menyediakan dukungan emosional. Lansia menyediakan dirinya sebagai tempat untuk mencurahkan atau mengkomunikasi kondisi perasaan atau kondisi emosional anggota keluarga yang sedang bermasalah. Lansia menjadi tempat mengadu, meminta arahan, nasihat untuk pengambilan keputusan dan meminta pertimbangan. Peran konselor meskipun hampir berimbang antara lansia laki laki dan lansia perempuan, namun peran lansia laki-laki masih lebih dominan yakni 55% dari lansia perempuan yang hanya 45% (Ayoob, 2. Peran lansia sebagai pemecah masalah dalam keluarga tentu sangat membantu anggota keluarga dalam menemukan solusi atas persoalannya serta akan sangat membantu dalam menyelamatkan keluarga dari ancaman disharmoni. Dengan demikian para lansia, kehadirannya dalam keluarga amat sangat bermanfaat, sebab lansia menjadi jembatan penyambung antarwaktu yakni masa lalu dan masa kini serta hubungannya dalam melihat masa depan. Lansia juga merawat tradisi, menjaga identitas keluarga dan menjadikan angota keluarga memiliki jati diri. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menjalani pengaturan hidupnya, umumnya lansia tinggal bersama keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar. Meskipun terdapat lansia yang tinggal hanya bersama pasangan atau asisten rumah tangga namun anak dan cucunya masih rutin mengunjungi. Lansia menjalani kehidupannya dengan tetap rutin melaksanakan olahraga ringan serta aktif dalam kegiatan/organisasi sosial, keagaaman, kewirausahaan, bahkan politik. Sementara di dalam keluarga, lansia menjalankan berbagai peran, mulai dari peran kerumahtanggaan, peran pendidikan keluarga, serta peran pengambilan keputusan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa lansia tetap memainkan peran yang memberikan kontribusi yang signifikan terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga. Kelemahan dari kajian ini adalah tidak mengkaji terkait tingkat kepuasan lansia terhadap pilihan pengatur hidup dan maupun peran yang dijalankan oleh lansia, sehingga disarankan untuk kajian berikutnya dapat dilakukan kajian terkait tingkat kepuasan lansia terhadap peran-peran yang mereka jalan di dalam keluarga. Namun demikian, kajian ini telah memberikan kontribusi terkait kajian gerontologi terkait gambaran peran lansia di dalam keluarga yang selama ini masih kurang terkaji. Ucapan terimakasih: Kami sampaikan kepada Ketua dan pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah mendukung pelaksanan penelitian ini. Daftar Pustaka