Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani. Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X ANALISIS LUKISAN BERJUDUL BLEKOK CAFE DALAM UPAYA MENGUPAS RAHASIA KARYA EKO ALIF VERNANDA Haris Setyawan1. Swastika Dhesti Anggriani2 Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang Jl. Cakrawala No. Kota Malang, 65145. Telp. e-mail: haris. 2102516@students. id1, swastikadhesti. fs@um. Abstraksi Lukisan "Blekok Cafe" karya Eko Alif yang dibuat pada tahun 2024 dipilih sebagai objek penelitian untuk menggali pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya seni Peneliti merasakan emosi yang kompleks dalam lukisan ini, berupa kontradiksi antara kemewahan dan kemarahan yang terkandung dalam sosok burung blekok yang tampak terasing dari habitat aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai serta sintesis yang terkandung dalam karya tersebut, khususnya dalam konteks hubungan antara manusia, alam, dan makhluk hidup lainnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan seniman, observasi terhadap karya seni, serta analisis dokumen yang berkaitan dengan konteks sosial dan lingkungan. Data dikumpulkan dari tiga sumber utama: informasi genetik . ari senima. , informasi objektif . ari karya sen. , dan informasi afektif . ari penghaya. Triangulasi metode digunakan untuk memvalidasi temuantemuan yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan ini menggambarkan kegelisahan Eko Alif terhadap dampak negatif aktivitas manusia terhadap alam, terutama terhadap habitat burung blekok yang terganggu. Nilai sosial yang terkandung dalam lukisan ini adalah pentingnya saling mengingatkan sesama untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan sesama makhluk hidup. Lukisan "Blekok Cafe" menyampaikan pesan yang kuat tentang perlunya kesadaran akan keberadaan alam dan makhluk hidup lain yang sering kali terabaikan dalam dunia manusia yang serba materialistis. Kata Kunci : analisis lukisan, blekok cafy, kritik seni, lukisan Abstract The painting "Blekok Cafe" by Eko Alif, created in 2024, was chosen as the research object to explore the messages and values in the artwork. The researcher felt complex emotions in this painting, in the form of a contradiction between luxury and anger in the figure of the Blekok bird that appears alienated from its natural habitat. This study aims to identify and analyze the values and synthesis contained in the work, especially in the context of the relationship between humans, nature, and other living things. The method used is descriptive qualitative with a holistic critical approach. Data collection was carried out through interviews with the artist, observation of the artwork, and analysis of documents related to the social and environmental context. Data were collected from three main sources: genetic information . rom the artis. , objective information . rom the artwor. , and affective information . rom A triangulation of methods was used to validate the findings obtained. The results of the study show that this painting depicts Eko Alif's anxiety about the negative impact of human activities on nature, especially on the disturbed habitat of the blekok bird. The social value contained in this painting is the importance of reminding each other to maintain harmony between humans, nature, and other living things. The painting "Blekok Cafe" conveys a strong message about the need for awareness of the existence of nature and other living things that are often overlooked in the materialistic human world. Keywords: painting analysis, blekok cafy, art criticism, painting _________________________________________________________________________ . Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X PENDAHULUAN Kesenian merupakan bagian penting dari kebudayaan yang memiliki peran signifikan dalam kehidupan masyarakat (Njatrijani, 2. Seni dapat didefinisikan sebagai kegiatan atau karya yang mengungkapkan pengalaman batin dengan cara unik dan menarik, sehingga mampu memberikan pengalaman batin bagi penghayatnya (Maghpirah, 2. Hasil karya seni sering kali didorong oleh kebutuhan spiritual daripada kebutuhan praktis Bobot sebuah karya seni terletak pada isi atau makna yang terkandung di dalamnya, bukan pada bentuk atau teknik berkarya (Supriyadnyana et al. , 2. Seni mencerminkan penghayatan seniman terhadap kehidupan yang direpresentasikan melalui simbolisme dalam karyanya (Kaisuku, 2. Salah satu cara untuk memahami dan mengevaluasi karya seni adalah melalui kritik seni. Kritik seni berfungsi sebagai alat untuk menganalisis bentuk, isi, dan konteks karya seni, serta meningkatkan apresiasi terhadapnya (Pradotokusumo, 2. Kritik seni berfungsi sebagai evaluasi karya dan apresiasi seniman. Aspeknya mencakup elemen visual tanpa makna, isi sebagai pesan karya, dan konteks yang berkaitan dengan lingkungan seniman serta audiens. Pemahaman ini menjadikan kritik seni alat penting dalam menilai dan mengapresiasi karya, termasuk seni lukis. Lukisan adalah salah satu medium ekspresi seni yang mampu menyampaikan pesan dan emosi melalui visual (Adinda, & Santoso, 2. Dalam seni rupa, karya seni tidak hanya dinikmati dari segi estetika, tetapi juga dari makna dan simbolisme yang terkandung di Melalui berbagai elemen visual, seorang seniman dapat menyampaikan narasi kompleks yang mencerminkan pengalaman pribadi, budaya, hingga isu sosial (Sucitra. Dalam konteks seni rupa Indonesia. Eko Alif Vernanda, seniman muda asal Kota Batu yang telah aktif di dunia seni lukis sejak sebelum menempuh Pendidikan di Universitas Negeri Malang. Ia rutin berpartisipasi dalam berbagai pameran seni di Kota Malang dan Kota Batu, termasuk pameran terbarunya pada tahun 2025 yang bertajuk AoBerlima ProjectAo di Galeri Raos Kota Batu, ia muncul sebagai salah satu seniman kontemporer yang berhasil menggabungkan elemen tradisional dan modern dalam karya-karyanya. Salah satu karya Eko Alif Vernanda yang menonjol adalah lukisan berjudul Blekok Cafe. Eko Alif Vernanda merupakan seniman kontemporer Indonesia yang dikenal karena kemampuannya menggabungkan gaya Pop Art dengan muatan kritik sosial dan isu Kiprahnya dalam dunia seni rupa tercermin dari konsistensinya mengangkat tema-tema yang menyoroti hubungan antara manusia, alam, dan identitas budaya melalui visual yang berani dan penuh simbol. Karya Blekok Cafe tidak hanya menjadi representasi visual sebuah kafe, tetapi juga cerminan dinamika sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Dengan teknik yang cermat dan gaya khas. Eko membangun narasi visual yang kaya akan kemungkinan interpretasi. Lukisan ini menampilkan suasana kafe yang diperkaya dengan elemen tradisional, menciptakan harmoni antara modernitas dan identitas lokal. Di balik konstruksi visualnya, karya ini mengajak penonton untuk merenungkan berlapis-lapis maknaAimulai dari refleksi kehidupan sehari-hari hingga simbolisme yang mengkritisi hubungan manusia dengan 36 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Gambar 1. Lukisan AuBlekok CafyAy (Sumber: Dokumen Pribadi, 2. Dalam upaya memahami karya ini secara lebih mendalam, berbagai teori seni rupa dapat digunakan sebagai pendekatan. Teori ekspresionisme adalah teori dan gerakan seni yang menekankan ekspresi emosi dan pengalaman subjektif, menolak realisme, dan terus berpengaruh dalam berbagai bidang seni hingga saat ini. Hal ini selaras dengan penelitian Fikri et al, . bahwa teori ekspresionisme berfokus pada ekspresi emosional seniman yang tercermin dalam penggunaan warna dan bentuk. Teori semiotika merupakan kerangka penting untuk memahami bagaimana tanda dan makna dibangun dalam berbagai aspek kehidupan, hal ini sesuai dengan Patriansah & Wijaya . , ia menyatakan bahwa teori semiotika memberikan kerangka analisis untuk memahami tanda dan simbol yang hadir dalam karya seni. Pendekatan ini memungkinkan kita mengkaji bagaimana elemen visual dalam "Blekok Cafe" digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada audiens. Selain itu, teori psikologi seni menjelaskan bagaimana seni dan proses psikologis saling memengaruhi, dengan pendekatan yang terus berkembang dari psikoanalisis hingga neuroaesthetics, dengan itu teori ini membantu memahami bagaimana karya seni memengaruhi emosi dan pemikiran penonton berdasarkan latar belakang sosial dan pengalaman pribadi mereka. Jika dianalisis melalui kerangka teori representasi visual dan ekokritik seni rupa, lukisan Blekok Cafe karya Eko Alif . menampilkan transformasi identitas fauna ke dalam citra antropomorfis yang sarat simbol. Figur burung blekok divisualisasikan dengan atribut manusia, termasuk kostum, tato pada leher, serta ekspresi yang ekspresif. Perubahan warna bulu menjadi kuning berbeda dari warna alami spesies tersebut menciptakan penanda visual tentang pergeseran atau distorsi dari kondisi ekologis aslinya. Latar yang berupa arsitektur mewah, yang secara umum merepresentasikan ruang hidup manusia, mempertegas narasi visual tentang intervensi peradaban terhadap lingkungan satwa liar. Berdasarkan prinsip-prinsip ekokritik, konfigurasi ini dapat dibaca sebagai alegori terhadap potensi degradasi habitat burung blekok akibat konversi lahan dan ekspansi kawasan Kehadiran detail seperti tato, sorot mata tajam, dan cakar yang tegas memunculkan makna simbolis mengenai resistensi atau oposisi terhadap hegemoni Dari perspektif kritik holistik, analisis terhadap seniman, artefak visual, dan interpretasi mengindikasikan bahwa karya ini tidak hanya mengedepankan ketelitian teknis dalam aspek proporsi, tekstur, dan warna yang menyerupai realitas, tetapi juga mengonstruksi wacana relasi kuasa antara manusia dan satwa. Dengan demikian. Blekok 37 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Cafe dapat diposisikan sebagai representasi visual yang menggabungkan estetika realisme dengan narasi ekologi kritis, sekaligus membuka ruang diskusi tentang keberlanjutan dan etika interaksi lintas spesies. Penelitian terdahulu menunjukkan beragam penerapan kritik holistik dalam menganalisis karya seni, baik dari medium maupun pendekatan analisisnya. Priyanto . , mengkaji kritik holistik dalam karya batik abstrak Pandono dengan fokus pada tiga sumber data: genetik, objektif, dan afektif. Penelitian ini menekankan pentingnya analisis visual yang dikombinasikan dengan pemahaman konteks sejarah serta latar belakang seniman untuk menggali karakteristik visual dan dampak emosional karya tersebut. (Putri et al. , 2. mengkaji kritik holistik karya Antoe Budiono melalui kritik holistik yang mengeksplorasi latar belakang, nilai objektif, dan nilai afektif dari seniman. Dengan menggunakan observasi dan wawancara, penelitian ini mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam karya tersebut sebagai cerminan kehidupan seniman. Kholik & Moerdisuroso . , mengkaji lukisan Paranoid karya Gatot Pujiarto melalui kritik holistik yang mengeksplorasi latar belakang berkesenian seniman, nilai-nilai sosial, serta interaksi antara seniman, karya seni, dan Hasil penelitian menunjukkan pentingnya memahami konteks emosional dan sosial untuk menginterpretasikan makna karya seni secara menyeluruh. Ketiga penelitian ini memiliki kesamaan dalam pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek seniman, karya seni, dan penghayat, namun berbeda dalam objek kajian dan medium seni. Belum ada penelitian sebelumnya yang secara khusus mengangkat lukisan Eko Alif sebagai objek kritik holistik, sehingga penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menganalisis karya Eko Alif secara mendalam dalam konteks kritik seni holistik. Dipilihnya Eko Alif sebagai objek kritik ini dikarenakan ia merupakan salah satu seniman muda yang memiliki ciri khas dan keunikan dalam membuat sebuah karya, dapat dilihat bahwa kebanyakan karyanya tidak seperti bentuk lukisan pada umumnya dan juga objek yang dilukis selalu memiliki ciri khas Berdasarkan paparan latar belakang dan penelitian terdahulu, kritik holistik terhadap karya Eko Alif yang berjudul "Blekok Cafe" bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek yang melingkupi karya tersebut. Pertama, penelitian ini berupaya untuk mengetahui latar belakang kesenian Eko Alif, termasuk perjalanan kreatif, pengalaman, dan inspirasi yang memengaruhi proses penciptaan karya "Blekok Cafe". Kedua, penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam karya tersebut, baik dari segi pesan, tema, maupun makna simbolik yang ingin disampaikan oleh seniman melalui elemen visualnya. Ketiga, penelitian ini ingin menganalisis bagaimana karya "Blekok Cafe" mampu memunculkan perasaan tertentu pada penghayatnya, dengan menelaah hubungan antara seniman, karya, serta respons emosional yang muncul dari pengalaman estetik pengamat. Pendekatan ini memungkinkan analisis menyeluruh yang tidak hanya berfokus pada visual, tetapi juga pada hubungan kompleks antara seniman, karya seni, dan penghayat. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode kritik holistik sebagai kerangka utama. Kritik holistik yang dikembangkan oleh Sutopo . 8, 1. dipilih karena pendekatan ini mampu memberikan analisis mendalam terhadap karya seni dengan mengintegrasikan tiga jenis kritik: kritik genetik . , kritik objektif . , dan kritik afektif . Metode ini tidak hanya sekadar menggabungkan hasil dari ketiga jenis kritik tersebut, tetapi juga menyatukannya menjadi pendekatan baru yang komprehensif untuk menilai karya seni. Penelitian kualitatif sendiri adalah metode yang dirancang untuk mengkaji fenomena dalam kondisi alamiah, di mana peneliti menjadi instrumen utama (Abdussamad, 2. Hasilnya lebih menitikberatkan pada pemahaman mendalam dibandingkan dengan Dalam penelitian ini, peneliti akan menjadi pengumpul dan penganalisis data 38 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X utama, yang menggunakan wawasan pribadi untuk memahami berbagai dimensi dalam karya Blekok Cafe karya Eko Alif. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap utama: . mengeksplorasi data terkait latar belakang penciptaan karya . aktor geneti. , . menganalisis karya Blekok Cafe secara visual dan formal . aktor objekti. , dan . memahami respons emosional yang muncul dari penghayat karya . aktor afekti. Hasil akhir penelitian berupa sintesis yang memberikan pemahaman menyeluruh tentang nilai-nilai dalam karya Blekok Cafy. Berikut adalah tabel ruang lingkup data yang digunakan dalam tiga tahapan Tabel 2. 1 Ruang lingkup penelitian (Sumber: Peneliti, 2. No Indikator Deskripsi Sub Variabel Informasi Objektif Deskripsi lukisan Blekok Cafe dan analisis formal . nsur prinsip desai. Observasi Observasi . Dokumentasi Karya lukisan Blekok Peneliti Cafe tahun 2021 penghayat karya Informasi Genetik Genetik Genetik kebutuhan sosial, iklim budaya, agama Metode Wawancara Observasi Sumber Informan utama: Eko Alif Data Informan keluarga, teman sesama Lingkungan sekitar galeri/rumah Instrumen Wawancara Wawancara Informasi Afektif Interpretasi nilai-nilai dalam karya Blekok Cafe dan dampaknya terhadap penghayat Wawancara Tabel 2. 1 memaparkan ruang lingkup data yang dibutuhkan. Ketepatan dalam mengidentifikasi sumber data menjadi elemen penting dalam penelitian ini. Data primer diperoleh dari seniman dan lukisan Blekok Cafe, sedangkan data sekunder berasal dari analisis respons peneliti. Berikut adalah tiga jenis informasi yang akan digali sebagai berikut: Informasi Genetik Genetik subjektif dalam penelitian ini mencakup kepribadian, gagasan, imajinasi, dan selera artistik Eko Alif yang akan dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan seniman, observasi, serta analisis dokumen seperti catatan proses kreatif, dengan instrumen berupa panduan wawancara dan lembar observasi. Sementara itu, genetik objektif meliputi lingkungan, pendidikan, pengalaman hidup, pengalaman pameran, serta kemampuan teknis Eko Alif. Informasi ini diperoleh melalui metode wawancara, observasi, dan analisis dokumen, termasuk CV, arsip karya, dan dokumentasi pameran yang mendukung pemahaman terhadap latar belakang seniman. Informasi Objektif Analisis formal terhadap karya Blekok Cafe dilakukan dengan meninjau elemen visual seperti warna, garis, tekstur, dan komposisi. Selain itu, prinsip-prinsip organisasi visual akan dikaji untuk memahami struktur karya secara keseluruhan. Metode ini menggunakan observasi langsung dengan instrumen berupa lembar observasi. Informasi Afektif Analisis afektif bertujuan untuk memahami bagaimana karya Blekok Cafe memengaruhi emosi dan interpretasi penikmatnya. Peneliti akan mengandalkan sensitivitas estetis dan pengalaman pribadi dalam menghayati karya tersebut. Menurut Rondhi . , 39 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X kemampuan untuk menilai dan merasakan nilai estetis karya seni sangat bergantung pada pengalaman serta kepekaan individu terhadap seni. Dari 3 data informasi yang terdiri dari informasi genetik, informasi objektif, dan informasi afektif, dapat ditarik kesimpulan secara menyeluruh dan tepat dari proses analisa yang sudah dilakukan. Proses analisis data akan dilaksanakan sesuai dengan bagan berikut: Gambar 2. 1 Struktur Kritik Holistik Modifikasi dari Sutopo . (Sumber: Dokumen Pribadi, 2. Pada tabel 2. 1 merupakan paparan struktur dari kritik holistik dimana tahap pertama dalam implementasi kritik holistik pada penelitian ini adalah mengidentifikasi sumber-sumber nilai yang menjadi dasar analisis, yakni: . faktor genetik Eko Alif Vernanda, . faktor objektif karya Blekok Cafe, dan . faktor afektif yang melibatkan pengalaman estetis peneliti sebagai penghayat utama. Faktor genetik melibatkan latar belakang pribadi Eko Alif yang mencakup kepribadian, gagasan kreatif, pandangan hidup, serta pengaruh lingkungan sosial, pendidikan seni, pengalaman hidup, dan rekam jejak pameran yang membentuk karakter dan estetika berkarya seniman. Faktor ini memberikan pemahaman mendalam tentang motivasi dan proses kreatif yang melatarbelakangi lahirnya karya Blekok Cafe. Tahap kedua adalah pengumpulan pertimbangan kritik melalui: . informasi genetik yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan Eko Alif, observasi terhadap proses kreatifnya, serta analisis dokumen seperti catatan proses. CV, arsip karya, dan dokumentasi informasi objektif yang diperoleh dari analisis formal karya Blekok Cafe, termasuk deskripsi elemen visual seperti warna, garis, tekstur, ruang, bentuk, dan prinsip 40 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X desain yang membentuk kesatuan visual, serta eksplorasi simbolisme untuk memahami pesan atau makna yang terkandung. informasi afektif yang melibatkan interpretasi mendalam terhadap pengalaman emosional peneliti ketika berinteraksi dengan karya, dengan mempertimbangkan pula respons pengamat lain untuk memperkaya analisis dampak estetis karya tersebut. Tahap ketiga adalah pelaksanaan kritik dengan langkah-langkah sistematis: . mendeskripsikan informasi genetik Eko Alif secara rinci sebagai pijakan historis yang membentuk identitas karya, . menganalisis struktur visual karya Blekok Cafe menggunakan teori formalisme untuk mengurai elemen dan prinsip desain yang membangun harmoni dan narasi visual, serta . menginterpretasikan nilai afektif melalui penghayatan mendalam terhadap emosi, persepsi, dan refleksi yang muncul dari karya tersebut. Tahap akhir adalah menyusun sintesis dari hasil analisis terhadap ketiga faktor tersebut untuk mengungkap hubungan antara latar belakang seniman, struktur visual, dan respons emosional audiens, yang kemudian dilanjutkan dengan evaluasi komprehensif dan penarikan kesimpulan mengenai makna, nilai estetis, dan pesan yang terkandung dalam karya Blekok Cafe oleh Eko Alif Vernanda. Proses ini menghasilkan pemahaman holistik dan mendalam yang mengintegrasikan berbagai perspektif dalam kritik seni, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap kajian seni rupa kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Faktor Genetik Eko Alif Vernanda Faktor genetik dalam kritik holistik karya Blekok Cafe oleh Eko Alif terbagi menjadi genetik subjektif dan genetik objektif. Genetik subjektif mencakup aspek-aspek pribadi seniman seperti kepribadian, ide kreatif, imajinasi, selera artistik, dan keterampilan teknis yang dimiliki Eko Alif. Faktor ini merefleksikan identitas dan ekspresi diri seniman yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan pandangan pribadinya. Sementara itu, genetik objektif meliputi pengaruh lingkungan eksternal, seperti lingkungan sosial, pendidikan, tradisi budaya, serta pengalaman pameran yang membentuk karakter dan gaya berkarya Eko Alif. Kedua aspek ini saling berhubungan dalam memberikan landasan kuat bagi proses kreatif seniman yang kemudian dituangkan dalam karya Blekok Cafe. 1 Faktor Genetik Subjektif Kepribadian Eko Alif Eko Alif adalah seorang individu yang memiliki kepribadian yang penuh semangat dan sangat berdedikasi dalam setiap hal yang ia lakukan. Berdasarkan wawancara dengan teman-temannya. Eko dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, selalu tepat waktu, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Meskipun demikian, ia juga dikenal sebagai pribadi yang ramah, humoris, dan mudah bergaul. Salah satu ciri khasnya adalah kemampuannya untuk membuat orang di sekitarnya merasa nyaman dan diterima, bahkan dalam situasi yang canggung sekalipun. Ia sangat menghargai hubungan antar sesama dan sering kali memberikan bantuan tanpa pamrih. Hal ini terlihat jelas dari pengalamannya ketika harus membantu teman-teman atau koleganya dalam berbagai proyek, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Selera Eko Alif 41 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Eko Alif memiliki selera yang cukup luas dalam hal hiburan dan seni. Dalam wawancara, ia mengungkapkan bahwa ia sangat menyukai musik indie dan sering kali menghabiskan waktu mendengarkan lagu-lagu dari berbagai genre, mulai dari alternatif hingga folk. Selain itu. Eko juga sangat menyukai seni visual, terutama seni lukis dan Ia sering kali mengunjungi galeri seni dan pameran untuk mendapatkan inspirasi Selera Eko mencerminkan seorang yang terbuka terhadap berbagai pengalaman dan pengetahuan baru, serta memiliki rasa ingin tahu yang besar. Keterampilan Eko Alif Eko Alif memiliki keterampilan yang sangat baik dalam bidang desain grafis dan ilustrasi digital. Sejak kecil, ia sudah tertarik dengan dunia seni visual dan mulai mengasah keterampilannya dengan belajar secara otodidak. Dalam wawancara, ia menceritakan bagaimana ia sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk mengerjakan desain-desain yang ia buat. Selain itu. Eko juga mahir dalam membuat animasi dan video editing, yang ia gunakan untuk berbagai proyek kreatifnya. Keterampilan teknis ini sangat mendukung karya-karya kreatif yang ia hasilkan, baik itu untuk klien maupun proyek pribadi. Keterampilan Eko tidak hanya terbatas pada seni visual, tetapi ia juga memiliki kemampuan dalam bidang manajemen proyek kreatif, yang membantunya dalam mengorganisir dan mengarahkan tim kreatif. Latar Belakang Pendidikan Eko Alif Eko Alif menyelesaikan pendidikan formalnya di jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu universitas ternama di kota tempat tinggalnya. Meskipun ia lebih banyak mengembangkan keterampilannya melalui pengalaman langsung dan belajar mandiri, pendidikan formal yang ia jalani memberikan landasan yang kuat dalam memahami teori dan prinsip desain. Selama kuliah. Eko sangat aktif dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk menjadi anggota organisasi seni dan desain, yang memperluas wawasan dan Setelah lulus, ia melanjutkan untuk mengikuti berbagai kursus dan pelatihan untuk memperdalam keterampilannya dalam bidang desain dan multimedia. 2 Faktor Genetik Objektif Pengaruh Keluarga Eko Alif Eko Alif berasal dari keluarga yang mendukung dan menghargai nilai-nilai pendidikan serta seni. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah Dukungan orang tua terhadap minat dan bakatnya di bidang seni sangat kuat, yang membuat Eko merasa termotivasi untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan kemampuan kreatifnya. Keluarganya juga sering memberikan saran dan masukan yang konstruktif terhadap proyek-proyek kreatif yang ia kerjakan. Kondisi Rumah Eko Alif Rumah Eko Alif terletak di kawasan yang cukup tenang dan asri, dengan lingkungan yang mendukung untuk berkarya. Rumah tersebut didesain dengan ruang terbuka yang cukup luas, memberikan Eko ruang yang cukup untuk berkreasi dan bekerja. Di teras rumah, terdapat tempat khusus yang digunakan Eko sebagai tempat berkreasi, lengkap dengan peralatan desain dan seni yang ia butuhkan. Di teras rumah ini juga digunakan Eko Alif untuk memelihara hewan kesayangannya yaitu burung Gagak bernama Alex. Suasana rumah yang nyaman dan damai juga sangat mendukung proses kreatif Eko. sering menghabiskan waktu di rumah untuk merenung, merancang konsep, dan 42 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X mengeksplorasi ide-ide baru. Rumahnya juga sering menjadi tempat berkumpul bagi teman-temannya yang juga berprofesi di bidang seni. Pengaruh Agama Eko Alif Agama memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari Eko Alif. Meskipun tidak terlalu terbuka dalam berdiskusi mengenai agama. Eko memegang teguh nilai-nilai spiritual yang diajarkan dalam agamanya. Ia percaya bahwa kehidupan ini harus dijalani dengan penuh rasa syukur, menghormati orang lain, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Agama juga memberikan Eko panduan dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk dalam proses berkarya, yang ia anggap sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada orang banyak. Hubungan Sosial Lingkungan Eko Alif Eko Alif memiliki hubungan sosial yang baik dengan berbagai kelompok di sekitarnya. Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan terbuka, baik dengan temantemannya yang sesama seniman maupun dengan orang-orang dari latar belakang yang Dalam wawancara, teman-teman Eko menyebutkan bahwa ia sangat ikut andil dalam acara yang di selenggarakan di daerahnya. Eko juga aktif dalam berbagai komunitas seni, yang memungkinkan dirinya untuk terus belajar dan berkembang, serta memperluas jaringan sosialnya dengan para seniman lain di daerahnya. Ia percaya bahwa kolaborasi dan berbagi ide dengan orang lain dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih bermakna. Proses Berkreativitas Eko Alif Proses berkreativitas Eko Alif sangat dipengaruhi oleh suasana hati dan lingkungan Dalam wawancara. Eko menyebutkan bahwa ia sering mendapatkan ide-ide kreatif ketika sedang berada di luar ruangan, mengamati alam, atau bahkan dalam pertemuan santai dengan teman-temannya. Proses kreatifnya melibatkan eksplorasi ideide melalui sketsa dan eksperimen dengan berbagai media. Eko tidak takut gagal, justru menganggapnya sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Baginya, setiap kegagalan memberikan wawasan baru untuk berkembang. Selain itu, ia sangat menekankan pentingnya kolaborasi dalam berkarya. Dengan berbagi ide dan berdiskusi dengan orang lain, ia meyakini bahwa perspektif menjadi lebih luas, memungkinkan eksplorasi konsep yang lebih dalam, serta menghasilkan karya yang lebih inovatif dan 2 Faktor Objektif Karya AuBlekok CafyAy Faktor objektif karya terdiri dari dua bagian, yaitu deskripsi karya dan analisa formal. Deskripsi karya menjabarkan spesifikasi karya, termasuk judul, tahun pembuatan, ukuran, media, teknik, objek, warna, gaya, dan konsep. Analisa formal membahas unsur-unsur dalam lukisan, seperti titik, garis, bidang, dan ruang. Teknik Opaque memberikan kontras yang tajam antara objek dan latar belakang, menciptakan kedalaman dan fokus visual yang jelas pada elemen-elemen utama dalam lukisan. 1 Deskripsi Karya Tahap deskripsi adalah hasil observasi yang memberikan gambaran detail mengenai visual dari lukisan AuBlekok CafeAy. Karya ini diciptakan pada tahun 2024 dengan ukuran 50 cm x 37 cm, menggunakan media Acrylic on Canvas. Teknik Opaque yang diterapkan dalam lukisan ini menghasilkan lapisan cat yang tebal dan solid, sehingga menciptakan kontras yang kuat atau perbedaan warna yang mencolok antara objek utama dan latar belakang. 43 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Lukisan ini merepresentasikan sebuah cafy, elemen-elemen seperti tangga, bangunan, burung blekok, tato, keramik, lampu, hoodie, dan karpet menjadi fokus visual dalam karya Warna pastel pink mendominasi hampir seluruh elemen, termasuk latar belakangnya, menciptakan nuansa lembut tetapi tetap memikat perhatian, sesuai dengan karakteristik Pop Art. Menurut pengamat, melalui penggunaan warna pastel dan penggambaran objek burung menggunakan hoodie membuat pandangan pertama langsung tertuju pada lukisan ini. Dengan ekspresi dari burung, penggunaan hoodie, adanya tato, dan cakar dari burung blekok yang seharusnya tidak seperti ini memberikan asumsi kepada peneliti bahwa burung blekok ini berniat menjajah kembali ke dalam dunia manusia, mengingat populasi saudara mereka telah banyak dihabiskan oleh manusia. Berikut merupakan objek-objek yang di visualisasikan dalam lukisan AuBlekok CafyAy: Blekok Lampu Keramik Aura Hijau Tangga Tangan Hoodie Karpet Gambar 3. 1 Lukisan AuBlekok CafyAy (Sumber: Dokumen Pribadi, 2. Pada gambar 3. 1, gaya Pop Art dalam lukisan ini tampak jelas melalui penggunaan warna-warna cerah yang berpadu dengan penonjolan objek-objek keseharian yang diberi sentuhan artistik unik. Unsur-unsur visual seperti titik, garis, bidang, dan ruang diolah dengan harmoni untuk menciptakan komposisi yang memikat. Titik-titik digunakan untuk menambah aksen visual dan tekstur, menciptakan efek detail pada elemen seperti burung blekok dan keramik. Garis-garis yang tegas membentuk struktur objek seperti tangga dan bangunan, memberikan kejelasan pada elemen-elemen utama dalam karya ini. Bidangbidang warna pastel pink mendominasi, memberikan kesan lembut namun tetap mencolok, sekaligus menyatukan berbagai elemen seperti karpet, lampu, dan hoodie dalam harmoni Karya ini menggabungkan tangga, bangunan, burung blekok, keramik, lampu, hoodie, dan karpet dengan warna pastel pink serta latar pendukung. Kombinasi elemen tersebut menciptakan ilusi ruang dinamis dalam gaya dua dimensi khas Pop Art, menyampaikan narasi transformasi ruang dengan estetika modern. 2 Analisa Formal 44 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Gambar 3. 2 Elemen Gambar Analisa Formal (Sumber: Dokumen Pribadi, 2. Tabel 3. 2 menyajikan elemen-elemen yang dianalisis secara formal oleh peneliti, mencakup berbagai aspek seperti tangga, tato di leher burung blekok, hoodie yang dikenakan burung blekok, karpet, tangan dengan kuku tajam, ekspresi penuh dendam, serta aura hijau. Berikut adalah uraian peneliti terkait masing-masing objek tersebut: Aspek 1 Tangga Tangga dalam lukisan ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga sebagai simbol status. Penggambaran tangga yang mengarah ke atas memberikan kesan bahwa lokasi burung blekok berada di sebuah bangunan dengan hierarki sosial yang lebih Hal ini menunjukkan bahwa burung blekok telah diangkat dari habitat aslinya yang sederhana menjadi bagian dari lingkungan manusia yang sering kali diasosiasikan dengan kemewahan dan kekuasaan. Elemen ini menonjolkan kontras antara kehidupan liar yang alami dengan ruang manusia yang terstruktur dan simbolis. Tangga juga dapat diinterpretasikan sebagai perjalanan atau perubahan status burung blekok dari makhluk liar menjadi entitas yang terpaksa menyesuaikan diri dengan standar manusia. Aspek 2 Tato di Leher Burung Blekok Tato yang terletak di leher burung blekok adalah elemen yang menciptakan nuansa Secara budaya, tato sering diasosiasikan dengan karakter keras, protes, atau identitas yang menantang norma. Dalam konteks ini, tato pada burung blekok bisa dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap kondisi yang memaksanya keluar dari habitat alami. Burung yang seharusnya merepresentasikan keindahan dan kebebasan kini digambarkan dengan elemen yang menunjukkan penolakan terhadap perubahan. Tato ini 45 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X juga memberikan kesan bahwa burung blekok telah menjadi bagian dari dunia manusia, kehilangan sifat alaminya, dan bertransformasi menjadi representasi konflik antara alam dan peradaban. Aspek 3 Hoodie pada Burung Blekok Hoodie, sebuah atribut yang biasa digunakan manusia, menciptakan kesan dualitas dalam penggambaran burung blekok. Di satu sisi, pakaian ini terlihat asing dan menggelitik rasa penasaran karena bertentangan dengan karakter alami burung. Namun, di sisi lain, hoodie ini menjadi simbol adaptasi paksa yang dilakukan oleh burung blekok untuk bertahan hidup di lingkungan manusia. Hal ini mencerminkan bagaimana habitat asli burung telah digusur oleh perkembangan manusia, memaksa mereka untuk berintegrasi dengan cara yang tidak alami. Hoodie juga memberikan kesan keterasingan dan ironi, seolah-olah burung ini menjadi bagian dari komunitas manusia, namun tetap berbeda dan kehilangan identitas aslinya. Aspek 4 Karpet Karpet dalam lukisan ini memperkuat nuansa kemewahan yang bertolak belakang dengan habitat asli burung blekok. Elemen ini mengisyaratkan bahwa burung telah dimasukkan ke dalam ruang yang sepenuhnya buatan manusia, di mana kemewahan dan estetika mendominasi. Karpet, sebagai simbol kenyamanan manusia, menegaskan jarak antara dunia alami burung dan lingkungan baru yang tidak ramah bagi kebebasan dan naluri alaminya. Elemen ini menjadi representasi kuat dari pergeseran tempat burung blekok dari alam liar yang bebas menjadi bagian dari ruang yang terstruktur, dikendalikan, dan jauh dari alam. Aspek 5 Tangan dengan Kuku Tajam Penggambaran tangan dengan kuku tajam pada burung blekok adalah elemen yang penuh simbolisme. Tangan, yang merupakan ciri khas manusia, memberikan burung ini karakter yang lebih antropomorfik. Kuku tajam tersebut tampak seperti alat yang siap digunakan, menciptakan kesan ancaman atau intensi tertentu. Hal ini dapat dimaknai sebagai bentuk perlawanan atau kesiapan untuk bertindak terhadap kondisi yang tidak Dalam konteks ini, tangan dengan kuku tajam menjadi simbol pemberontakan burung blekok terhadap lingkungan manusia yang telah mengusik habitat dan kebebasannya. Aspek 6 Ekspresi Dendam Ekspresi wajah burung blekok dalam Blekok Cafe menampilkan intensitas emosional yang terpusat pada tatapan mata tajam dan penuh amarah. Sorot matanya membentuk titik fokus yang menyiratkan kemarahan mendalam sekaligus rasa perlawanan, menciptakan dimensi psikologis yang kuat pada representasi visual ini. Raut wajah tersebut tidak hanya mengindikasikan kekecewaan akibat kehilangan habitat alaminya, tetapi juga mengartikulasikan ketegangan batin yang bertransformasi menjadi energi Dalam kerangka analisis visual, tatapan mata ini berfungsi sebagai elemen semiotik yang memproyeksikan narasi tentang ketidakpasrahan satwa terhadap dominasi Ia tidak sekadar menjadi objek penderita, melainkan dihadirkan sebagai figur yang menyimpan intensi untuk melawan atau memprotes. Keberadaan ekspresi wajah dan tatapan yang demikian tegas memperkuat lapisan naratif tentang konflik laten antara alam dan peradaban, dengan burung blekok sebagai simbol korban yang juga memikul identitas pemberontak. 46 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Aspek 7 Aura Hijau Aura hijau yang melingkupi burung blekok dalam Blekok Cafe menonjol di antara latar berwarna merah muda, menghadirkan asosiasi kuat dengan alam, kesuburan, dan Dalam konteks naratif, warna ini merepresentasikan keterikatan satwa pada habitat aslinya meskipun terdesak beradaptasi di lingkungan manusia. Hijau di sini juga memuat simbol harapan, menandakan potensi pemulihan ekosistem meski telah mengalami degradasi, sekaligus mempertegas pesan ekologis yang terkandung dalam komposisi visual karya. 3 Informasi Afektif Karya AuBlekok CafyAy Pada bagian ini, dilakukan interpretasi mendalam terhadap karya AuBlekok CafeAy. Secara keseluruhan, karya ini membawa pengamat ke dalam pusaran emosi yang kompleks, memadukan rasa ironis, melankolis, dan kemarahan yang tertahan. Peneliti merasakan adanya kontradiksi yang mencolok antara elemen-elemen kemewahan seperti tangga dan karpet dengan representasi burung blekok yang penuh amarah, seolah-olah dipaksa keluar dari habitat aslinya dan ditempatkan dalam dunia yang tidak sesuai. Warna pastel pink yang mendominasi latar belakang memberikan kesan lembut secara visual, namun di saat yang sama menciptakan rasa keterasingan yang mendalam. Aura hijau yang mengitari burung blekok seperti sebuah isyarat, sebuah pengingat akan tempat yang seharusnya ia tinggali sebuah habitat alami yang kini telah tergantikan oleh kemewahan buatan manusia. Peneliti merasakan adanya protes yang terselubung, seolah burung ini berteriak dalam diam, menyampaikan pesan yang kuat namun sunyi tentang kehilangan dan adaptasi yang Berikut ini adalah penjabaran objek yang digambarkan dalam lukisan tersebut: Tangga dan karpet Visualisasi tangga dan karpet menciptakan kesan megah, namun justru menonjolkan absurditas situasi burung blekok yang terlihat tidak pada tempatnya. Peneliti merasa terganggu oleh ironi ini, kemewahan yang seharusnya mengundang kekaguman malah membuat perasaan canggung, seperti melihat sesuatu yang salah. Anatomi burung bertangan manusia Keanehan struktur anatomi burung ini berpotensi menggeser interpretasi karya secara Posisi tangan yang seharusnya menjadi kaki justru berada di dalam lengan hoodie, memunculkan pertanyaan tentang bagaimana burung tersebut dapat berdiri, duduk, atau menggunakan sayapnya. Ketidakjelasan ini menciptakan disonansi visual yang tampaknya sengaja dihadirkan sebagai strategi artistik untuk membongkar logika Distorsi anatomi ini tidak hanya menambah kesan surealis dan ganjil, tetapi juga menegaskan transformasi identitas subjek yang terlepas dari kodrat aslinya. Tato di leher burung blekok Penggambaran tato memunculkan rasa tidak nyaman, seolah-olah burung ini telah kehilangan kesucian dan kealamiannya. Peneliti merasakan amarah dan pemberontakan yang dipendam dalam simbol tato ini, sebuah protes terhadap kekuatan yang lebih besar yang telah merampas kebebasannya. Hoodie yang dikenakan burung blekok Objek burung blekok menggunakan hoodie memunculkan rasa sedih yang mendalam. Pakaian manusia ini, meski terlihat sederhana, menciptakan perasaan bahwa burung ini 47 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X harus menyesuaikan diri dengan dunia yang bukan miliknya. Peneliti merasakan beban psikologis burung ini, seolah ia berusaha menyatu dengan lingkungan manusia namun kehilangan jati dirinya. Ekspresi dendam pada burung blekok Ekspresi burung blekok ini benar-benar menyita perhatian. Wajah burung ini, dengan tatapan yang tajam dan penuh amarah, membuat peneliti merasa terintimidasi namun sekaligus iba. Ada perasaan bahwa burung ini menuntut keadilan, mengekspresikan rasa sakit yang tak bisa disuarakan dengan kata-kata. Aura hijau di sekitar burung Objek hijau di atas dan samping objek utama memberikan perasaan nostalgia yang Peneliti merasakan kerinduan yang terpendam dalam warna ini, sebuah pengingat akan habitat alami yang kini hanya menjadi bayangan samar di tengah dominasi warna pastel pink yang terasa asing. Tangan dengan kuku tajam Visualisasi tangan berkuku tajam pada burung blekok menimbulkan perasaan gentar. Peneliti merasa seolah burung ini telah berkembang menjadi sesuatu yang mengancam, siap membalas dendam pada siapa saja yang membuatnya kehilangan tempat tinggal. Kombinasi elemen manusia dan burung Kombinasi barang yang di pakai manusia namun pada karya ini dipakai burung menciptakan rasa aneh dan ambigu. Peneliti merasa terganggu oleh dualitas ini, seperti melihat sesuatu yang akrab namun tidak sepenuhnya benar, menimbulkan perasaan bahwa burung ini telah terjebak dalam identitas yang bukan miliknya. Gaya Pop Art Gaya Pop Art yang digunakan memperkuat ironi karya ini. Warna-warna cerah dan bentuk-bentuk yang sederhana tampak menipu, menyamarkan emosi berat yang tersembunyi di baliknya. Jika dirasakan lebih dalam peneliti merasa ditarik masuk ke dalam permainan visual yang membuat karya ini terlihat ringan, namun sebenarnya penuh dengan beban emosional. Secara keseluruhan, karya ini memberikan pengalaman yang menguras emosi. Peneliti merasa tertekan oleh narasi visual yang begitu kuat, seolah-olah burung blekok dalam karya ini sedang memandang langsung ke dalam jiwa, meminta pertanggungjawaban atas hilangnya kebebasan dan tempat tinggalnya. Lukisan ini, meskipun indah secara estetika, meninggalkan perasaan tidak nyaman yang terus menghantui. 4 Analisa Sintesis Karya AuBlekok CafyAy Analisis sintesa adalah tahapan akhir dalam pengkajian karya seni, di mana semua hasil identifikasi dan analisis sebelumnya digabungkan menjadi satu kesimpulan yang Proses ini mencakup pengintegrasian data genetik subjektif dan objektif dari Eko Alif, serta pengamatan terhadap aspek formal dan afektif dari karya seni AuBlekok Cafe. Ay Sintesa ini tidak hanya mencerminkan hasil observasi visual, tetapi juga mengungkapkan makna yang lebih dalam terkait hubungan antara seniman, konsep yang diusung, dan emosi yang tercipta dalam karya. Berikut merupakan tabel sintesis dari analisis karya lukis AuBlekok CafyAy karya Eko Alif: Tabel 2. Analisa Sintesis lukisan AuBlekok CafyAy (Sumber: Peneliti, 2. 48 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda Data Genetik Kehidupan sosial Eko Alif sering dengan berbagai perbedaan antara kehidupan kota dan alam. Hal ini cara pandang terhadap alam dan Data Objektif Karya dibuat pada dengan ukuran 50 cm x 37 cm, media Acrylic on Canvas, teknik Opaque. Fokus visual pada elemen-elemen seperti tangga, karpet, burung blekok, tato, dan Data Afektif Visualisasi tangga dan karpet memberikan kesan megah dan kemewahan yang justru menciptakan ironi karena burung blekok tidak pada Peneliti merasa ada perasaan canggung, seperti melihat sesuatu yang salah. Pemahaman kritis seniman Eko Alif terhadap isu sosial dan lingkungan. Mengambil pengaruh dari pendidikan seni simbolisme dan realitas sosial. Penggunaan teknik Opaque kontras tajam antara objek utama dan latar Warna pastel pink mendominasi latar nuansa lembut namun penuh ketegangan visual karena ada tato pada leher burung. Tato sebagai ketidakadilan dan perubahan paksa yang diterima burung blekok. Peneliti amarah yang dipendam melalui simbol tato ini. Pengaruh lingkungan dimana Eko Alif tumbuh Gaya Pop Art dengan warnawarna cerah. Penggunaan hoodie, yang 49 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Sintesis Kehidupan sosial Eko Alif yang penuh kontras antara dunia alami dan kehidupan manusia tercermin dalam karya ini, khususnya pada tangga dan karpet. Ini dalam penempatan burung blekok dalam dunia manusia yang penuh kemewahan. Kesenangan dalam kemewahan yang digambarkan justru berlawanan dengan alam yang harus diadaptasi oleh burung blekok. Latar belakang pendidikan Eko Alif yang mempengaruhi simbolisme dan tercermin dalam tato burung blekok. Ini bisa diartikan sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang memaksanya keluar dari habitat alami. Pemikiran kritis terhadap perubahan sosial atau ketidakadilan sosial juga bisa dilihat melalui simbol tato Pengaruh keluarga dan lingkungan sosial Eko Alif yang Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda dalam lingkungan yang sering kali dipenuhi dengan dunia alam dan dunia manusia. Diantara hubungan dengan beberapa hewan peliharaannya dan hubungan dengan manusia lainnya. terutama pastel pink, menciptakan ketegangan visual antara keindahan dan makna yang lebih dalam. pakaian manusia, kesan bahwa burung blekok dengan dunia Peneliti kesedihan dan beban psikologis burung ini. Memiliki pandangan kritis perubahan yang dipaksakan pada alam dan Menggunakan seni sebagai bentuk ekspresi terhadap Elemen-elemen visual seperti tangan berkuku tajam, ekspresi wajah, dan aura hijau memberikan pesan visual yang kuat tentang perlawanan dan Wajah burung blekok dengan ekspresi penuh dendam dan perasaan intens dan rasa tidak Peneliti merasa burung ini ingin menuntut keadilan dan menyuarakan rasa Berusaha elemen-elemen alam dengan elemen-elemen manusia untuk pesan yang lebih Penggunaan ruang dan objek yang berbeda dalam lukisan narasi visual yang Latar belakang pink dan elemen hijau ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X mencerminkan dunia manusia yang tidak selalu nyaman atau alami dapat dilihat pada penggunaan hoodie oleh burung Ini adaptasi paksa, di mana burung tersebut berusaha menyatu dengan dunia manusia, namun kehilangan jati Pengaruh agama dan nilai moral dalam Eko Alif, yang mungkin mendorong pemikiran tentang ketidakadilan, tercermin dalam ekspresi dendam burung blekok. Ini menjadi bentuk protes visual terhadap lingkungan manusia yang telah mengusik habitat dan kebebasan alam. Burung blekok perjuangan untuk keadilan yang tidak bisa disuarakan dengan kata-kata. Aura hijau Kreativitas Eko Alif memberikan kesan dalam nostalgia dan elemen-elemen terhadap alam. atribut manusia dan Peneliti alam terlihat dalam merasakan bahwa penggunaan warna aura hijau ini dan ruang. Aura hijau menjadi pengingat yang mengelilingi 50 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda dalam melalui ruang yang akan habitat asli burung blekok yang telah hilang. Menerapkan teknik-teknik visual an ide dan perasaan yang Fokus pada ekspresi visual yang kuat. Penggambaran tangan dengan kuku tajam memberikan kesan kekuatan dan potensi ancaman. Kuku tajam kesiapan untuk Burung blekok hoodie dan elemen manusia perasaan aneh dan ambigu. Peneliti merasa ada dualitas yang terganggu antara burung dan Menghadapi ketegangan antara hubungan sosial yang harmonis dengan alam dan realitas yang lebih keras dari dunia Komposisi visual yang terdiri dari elemen-elemen sehari-hari dengan gaya Pop Art, memberikan kesan ringan namun pesan yang dalam. Warna-warna cerah dan bentuk yang sederhana emosional yang Peneliti merasa tertarik dengan visual yang tampak ringan, namun tersembunyi rasa tidak nyaman yang 51 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X burung blekok memberikan kesan mengingatkan pada habitat alami yang telah digantikan oleh dunia manusia yang Perspektif visual yang kuat dalam karya ini ketegangan antara manusia dan alam, terlihat dalam tangan berkuku tajam. Ini ketegangan dalam identitas burung blekok, yang terjebak dalam elemen menimbulkan rasa terasing dan terjebak dalam identitas yang bukan miliknya. Gaya Pop Art yang digunakan Eko Alif menciptakan ilusi keindahan visual yang menarik, namun di balik itu ada beban emosional yang kuat. Ini berhubungan dengan pengalaman Eko Alif dalam hubungan sosial yang terkadang dipenuhi dengan kepalsuan atau kebohongan, di mana kenyataan yang berat disembunyikan di balik keindahan Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Tabel 2 memaparkan sintesis dari Lukisan "Blekok Cafe" tahun 2024 yang secara keseluruhan merupakan renungan dan kegelisahan Eko Alif terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya tentang dampak negatif dari populasi manusia yang semakin mengusik habitat alami burung, terutama burung blekok. Melalui karya ini. Eko Alif seakan mengajak penontonnya untuk merenungkan bagaimana kehidupan manusia yang terus berkembang, tanpa disertai kesadaran terhadap kelestarian alam, justru mengancam eksistensi berbagai makhluk hidup, termasuk burung blekok yang terperangkap dalam dunia manusia. Pada lukisan ini, terbaca bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari berbagai komponen yang saling mempengaruhi, baik itu alam, hubungan antar sesama manusia, maupun hubungan dengan Tuhan. Sebagai upaya untuk memperindah dunia, perlu adanya sikap menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, lingkungan, dan Tuhan. Dalam konteks ini, hubungan manusia ditunjukkan melalui sikap tolong-menolong tanpa mengharap imbalan, yaitu sikap ikhlas dalam berinteraksi. Sikap ini penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan harmonis, serta menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam. Hubungan antara manusia dan alam dalam lukisan ini tercermin dalam upaya untuk menjaga kelestarian alam tanpa ada unsur merusak. Eko Alif melalui lukisan ini menggambarkan burung blekok yang terpaksa menyesuaikan diri dengan dunia manusia yang jauh dari habitat alami mereka. Hal ini menjadi simbol dari ketidakpedulian manusia terhadap alam dan lingkungan. Alam yang seharusnya menjadi tempat hidup yang damai dan seimbang bagi makhluk hidup, kini tergantikan oleh dunia manusia yang penuh dengan kemewahan dan kepentingan pribadi. Burung blekok yang terperangkap dalam dunia ini menjadi representasi dari hilangnya kelestarian alam. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara manusia dan alam menjadi landasan konseptual yang membentuk cara pandang Eko Alif dalam menciptakan lukisan Blekok Cafe. Pemilihan Eko Alif sebagai objek kajian didasarkan pada relevansi karya-karyanya yang konsisten mengangkat isu lingkungan dan relasi manusiaAe alam dalam bahasa visual yang khas, serta kiprahnya sebagai seniman kontemporer yang mampu menggabungkan gaya Pop Art dengan muatan kritik sosial. Urgensi penelitian terhadap karya ini terletak pada kemampuannya merefleksikan fenomena aktual berupa degradasi habitat satwa akibat ekspansi manusia, yang menjadi isu lintas disiplin antara seni, lingkungan, dan studi budaya visual. Secara visual. Blekok Cafe menampilkan simbolsimbol yang mengartikulasikan dampak intervensi manusia terhadap ekosistem, sekaligus mengangkat problem lunturnya nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Nilai lestari tercermin melalui pesan untuk mengendalikan diri dari perusakan lingkungan dan menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Nilai sosial tampak pada ajakan menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan makhluk hidup lain. Pesan ini memiliki signifikansi ilmiah dalam ranah kajian seni rupa karena memperlihatkan bagaimana representasi visual dapat berfungsi sebagai media edukasi dan refleksi sosial. Dengan demikian, penelitian ini tidak sekadar mendeskripsikan karya, melainkan menempatkannya dalam kerangka analisis yang mampu memberikan kontribusi pada pengembangan kajian seni rupa kontemporer, khususnya pada aspek representasi isu ekologi dalam seni visual. Pendekatan yang digunakan menekankan objektivitas analisis, dengan meminimalkan keterlibatan opini personal peneliti, sehingga pembahasan terfokus pada hubungan antara 52 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Haris Setyawan. Swastika Dhesti Anggriani Analisis Formalistik Lukisan Berjudul Blekok Cafy dalam Mengupas Rahasia Karya Eko Alif Vernanda ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X fenomena sosial yang diangkat, strategi visual yang digunakan, dan implikasinya bagi wacana keilmuan. DAFTAR RUJUKAN Abdussamad. Metode Penelitian Kualitatif. In Sustainability (Switzerlan. (Vol. Issue . http://scioteca. com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng8ene. pdf?sequence=12&isAllowed=yhttp://dx. org/10. 1016/j. 005https://w. net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUN GAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI Adinda, & Santoso. Seni dan kreativitas sebagai medium pemersatu dalam masyarakat multikultural. Jurnal Pendidikan Transformatif, 01. , 29Ae38. https://jupetra. org/index. php/jpt/article/view/489Second edition Fikri. Hatta. Margaretha. Rafy. Ismi. Hanifah. Wahyuningrum. Lutfira. Saif. Fachrizal. Rizqillah. Fuqoha. Pendidikan. Inggris. Negeri. Sastra. Universitas. Semarang. Studi. A Negeri. Jurnal kultur. , 101Ae107. Kaisuku. Kajian Kritis Perspektif Seni Religius terhadap Rekonstruksi Kristologi dalam Lukisan Karya Haryo S. Subagyo. , 91Ae102. Kholik. , & Moerdisuroso. Kritik Seni Holistik Terhadap Lukisan The Family Elephant Karyaericahestuwahyuni. 11, 1Ae23. Maghpirah. Kajian Kreativitas Tari Retna Tamtama Karya Nanuk Rahayu. http://repository. isi-ska. id/662http://repository. isi-ska. id/662/1/FUTRI EKA MAGHPIRAH. Njatrijani. Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Kota Semarang Gema Keadilan Edisi Jurnal Gema Keadilan Edisi Jurnal. Gema Keadilan Edisi Jurnal 17, 5(Septembe. , 16Ae31. Patriansah. , & Wijaya. Analisis Tanda Dalam Karya Seni Grafis Reza Sastra Wijaya Kajian Semiotika Peirce. Jurnal Rupa, 6. , 34. https://doi. org/10. 25124/rupa. Pradotokusumo. Pengkajian Sastra. Priyanto. Kritik Holistik: Ekspresionisme Dalam Karya Batik Abstrak Pandono. Ornamen Jurnal Kriya, 15. , 22Ae32. Putri. Sumarwahyudi. , & Anggriani. Kritik Holistik terhadap Lukisan Berjudul Beautify the Beauty of the World Karya Antoe Budiono Tahun 2021. JoLLA: Journal of Language. Literature, and Arts, 2. , 1756Ae1769. https://doi. org/10. 17977/um064v2i122022p1756-1769 Sucitra. Re-kontekstualisasi Konsepsi Lebur Budaya dalam Seni Hibrida *. Digilib. Isi. Ac. Id, 1Ae8. Supriyadnyana. Mustika. , & Muryana. Pengantar Karya Komposisi Tabuh Kreasi Pepanggulan Amande. Kalangwan: Jurnal Seni Pertunjukan, 6. , 16Ae25. Sutopo. Kritik Seni II - Struktur Kritik Holistik dan Kritik Fenomenologis. Surakarta: Sebelas Maret University Press. 53 | Volume 07. Nomor 01. Maret 2025