Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Article History: Submitted : 22/07/2025 Reviewed : 01/09/2025 Accepted : 12/10/2025 Published : 31/10/2025 SPIRITUALITAS KRISTEN DALAM BAYANG-BAYANG VIRTUALITAS: MENAFSIR KEHADIRAN ILAHI DAN TANGGUNG JAWAB ETIS GEREJA DI ERA DIGITAL GLOBAL Altin SihombingA* Sekolah Tinggi Teologi Samuel Elizabeth. Jakarta. *)Email Correspondence: sihombingaltin8@gmail. Abstract: Digital transformation has presented new challenges for the church in maintaining Christian spirituality in line with biblical values in the midst of an instant and fragmented virtual space. In the era of digital globalisation, the divine presence in worship practices and online communities is no longer physical but mediated by technology, which has the potential to obscure the meaning of incarnational spirituality. This study aims to re-narrate the presence of God and formulate the ethical responsibility of the church in building contextual digital The study employs a qualitative method based on literature review, leading to the conclusion that Christian spirituality and divine presence must be re-narrativised as an expression of incarnational theology in the virtual realm, enabling the church to present divine reality in a transformative manner within the digital world. In this context. Christian ethics serve as the primary foundation for the church's responsibility in building a healthy, integrity-driven, and spiritually unmanipulated digital ecology. The virtual disruption that has occurred not only changes the form of ministry but also gives rise to a spiritual crisis that directly impacts the process of faith formation among the faithful in the digital age. Therefore, a contextual church strategy is needed to formulate a digital spirituality that remains incarnational, relevant, and capable of guiding the faithful toward a genuine encounter with God in their daily lives that have been digitised. The church must also be an ethical agent in the digital space, rejecting the manipulation and commercialisation of faith. In this way, digital spirituality can become a vessel for authentic and prophetic growth in faith. Keywords: Christian spirituality, divine presence, church ethics, digital age, global virtuality Abstraksi: Transformasi digital telah menghadirkan tantangan baru bagi gereja dalam mempertahankan spiritualitas Kristen yang sesuai dengan nilai alkitabiah di tengah ruang virtual yang serba instan dan terfragmentasi. Di era globalisasi digital, kehadiran ilahi dalam praktik ibadah dan komunitas daring tidak lagi bersifat fisik, melainkan dimediasi teknologi, yang berpotensi mengaburkan makna spiritualitas inkarnasional. Penelitian ini bertujuan untuk menarasikan ulang kehadiran Tuhan dan merumuskan tanggung jawab etis gereja dalam membangun spiritualitas digital yang kontekstual. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Kristen dan kehadiran ilahi perlu dinarasikan ulang sebagai wujud teologi inkarnasi dalam ruang virtual, sehingga gereja mampu menghadirkan realitas ilahi secara transformatif di tengah dunia digital. Dalam konteks ini, etika Kristen menjadi fondasi utama bagi tanggung jawab gereja dalam membangun ekologi digital yang sehat, berintegritas, dan bebas dari manipulasi spiritual. Disrupsi virtual yang terjadi tidak hanya mengubah bentuk pelayanan, tetapi juga memunculkan krisis spiritualitas yang berdampak langsung pada proses formasi iman umat di era digital. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi gereja yang kontekstual untuk merumuskan spiritualitas digital yang tetap bersifat inkarnasional, relevan, dan mampu membimbing umat kepada perjumpaan sejati dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari yang telah terdigitalisasi. Gereja juga harus menjadi agen etis dalam ruang digital, menolak manipulasi dan komersialisasi iman. Dengan demikian, spiritualitas digital dapat menjadi wadah pertumbuhan iman yang otentik dan profetik. Kata kunci: spiritualitas Kristen, kehadiran ilahi, etika gereja, era digital, virtualitas global . Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 200 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Era mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan manusia, termasuk ekspresi religius dan praktik spiritualitas umat Gereja sebagai lembaga spiritual dan komunitas iman kini menghadapi tantangan yang belum Namun kemajuan teknologi digital telah membuka akses yang lebih luas terhadap ajaran Kristen dan berbagai bentuk berpartisipasi dari berbagai lokasi di seluruh dunia. Namun, kemudahan ini kerap disertai dengan konsekuensi keterlibatan spiritual serta melemahnya relasi interpersonal dalam kehidupan 1 Apalagi kemunculan gerejagereja mengenai hakikat ibadah dan bentuk komunitas dalam ruang digital. Di satu sisi, terdapat pandangan yang melihat platform digital sebagai peluang untuk membangun komunitas iman yang inklusif dan menjangkau lebih luas. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran pengalaman ibadah serta persoalan teologis seputar pelaksanaan sakramen secara virtual. 2 Sehingga memunculkan kehadiran Allah dalam dunia virtual, dan bagaimana mengembangkan spiritualitas Kristen yang otentik di tengah ruang digital yang semu dan sarat manipulasi. Terlebih dewasa ini transformasi digital telah memindahkan banyak aktivitas gerejawi ke ranah daring atau ibadah P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 online, pendalaman Alkitab berbasis internet, pelayanan pastoral digital, konetivitas internet. Namun realitas harus menjadi tanggung jawab etis gereja dalam membentuk spiritualitas jemaat yang tetap berakar pada Kristus di tengah virtualitas. Fenomena ini diperkuat oleh data global tentang pergeseran praktik digitalisasi pelayanan gereja meningkat secara masif, namun tidak selalu diikuti dengan pendalaman spiritual. Banyak umat terhubung secara daring, tetapi merasa kosong secara rohani. Era digital ini telah mendorong peningkatan ketergantungan terhadap teknologi, yang menimbulkan kehampaan batin. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan persoalan eksistensial dan gejala psikologis yang muncul akibat kelelahan digital, serta berkaitan dengan pergeseran manusia dalam tahap-tahap keberadaan yang ditandai oleh dominasi nilai-nilai estetika dan etika yang semakin relatif. Terlebih konsep individualisme spiritual dalam konteks masyarakat digital menunjukkan bahwa meskipun individu memiliki kebebasan untuk mencari dan membangun pengalaman spiritual secara daring, absennya interaksi yang bersifat pemenuhan spiritual yang sejati dan Spiritualitas seremonial, dan berpusat pada visual, bukan pada relasi personal dengan Allah. Di sisi lain, ruang digital yang tampak Shafira Yasmin Nandini. AuEmptiness Through the Perspective of Existentialism and Religion in the Digital Age,Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan 17, no. : 3149, https://doi. org/10. 35931/aq. Swati Chakraborty and Kenu Agarwal. AuSpiritual Individualism in Digital Society,Ay in Investigating the Impact of AI on Ethics and Spirituality (IGI Global, 2. , 137Ae47, https://doi. org/10. 4018/978-1-6684-91966. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 201 Daniel Maniur Nainggolan and Djonny Pabisa. AuExploring New Dimensions of Christian Faith from Traditionto Digital Transmission in Cyberspace,Ay Journal of Social Science and Education Research 1, no. 468Ae81, https://doi. org/10. 59613/z64sqj94. Daekyung Jung. AuChurch in the Digital Age: From Online Church to ChurchOnline,Ay Theology and Science 21, no. (October 2, 2. : 781Ae805, https://doi. org/10. 1080/14746700. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf netral ternyata sering menjadi arena pertarungan ideologis, komersialisasi iman, dan banalitas nilai-nilai moral. Gereja keberadaan teknologis jika tidak memiliki landasan spiritual dan etis yang kuat dalam menavigasi dunia digital. Dunia virtual memunculkan dilema terkait realitas pengalaman iman yang dikonstruksi melalui layar bisa jadi lebih banyak berisi impresi visual Kehadiran ilahi yang seharusnya menggetarkan hati, mengubah hidup, dan membangun komunitas justru bisa menjadi sekadar efek digital yang kehilangan makna. Sebab meskipun banyaknya koneksi online, individu sering mengalami kesepian. Secara teologis, konsep kehadiran sangat terkait dengan dimensi fisik dan komunal dalam praktik keagamaan. Romelus Blegur menyatakan bahwa sistem digital, karena sepenuhnya merepresentasikan esensi kehadiran yang sejati, karena kehadiran tersebut secara inheren menyatu dengan keutuhan tubuh, jiwa, dan roh dalam relasi perjumpaan antar manusia. 5 Tidak dapat disangkal bahwa teknologi digital telah membentuk dan mengondisikan eksistensi manusia menjadi entitas baru dalam lanskap budaya kontemporer. Persoalannya terletak pada kenyataan bahwa, meskipun budaya digital mampu menyerupai interaksi alami, ia tetap tidak mampu menggantikan kehadiran manusia dalam keutuhannya sebagai makhluk yang bertubuh. Akibatnya, selalu ada Auruang antaraAy yang tak terjembatani antara yang artifisial dan yang natural. Ironisnya, kesadaran akan memudar, karena manusia telah begitu terpesona dan terperangkap oleh pesona teknologi digital hingga kehilangan Romelus Blegur. AuPerspektif Teologis Tentang Makna AoKehadiranAo Dalam Kultur Digital,Ay Studia Philosophica et Theologica 22, 2 . : 246Ae61, https://doi. org/10. 35312/spet. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 keberadaannya yang sejati. 6 Fenomena ini mendesak gereja untuk merefleksikan ulang hakikat spiritualitas Kristen dan bagaimana ia harus dihadirkan secara kontekstual dalam ruang digital. Berkaitan spiritualitas Kristen dan kehadiran ilahi dimaknai ulang dalam konteks virtualitas yang semakin mendominasi kehidupan beriman umat di era digital global. Perna diteliti oleh Mick Mordekhai Sopacoly dan Izak Y. Lattu dalam penelitiannya yang membahas bahwa di era digital, manusia hidup dalam dua dunia yaitu fisik dan virtual. Di mana realitas spiritual tak lagi hanya dialami dalam ruang gereja fisik, melainkan juga melalui ruang cyber yang membentuk imajinatif dan personal. Kehadiran ilahi dalam konteks ini dipahami bukan secara atomik atau fisikal, melainkan kepekaan spiritual dimediasi oleh imajinasi, intuisi, dan membentuk identitas serta relasi keimanan manusia. Hal ini menuntut gereja dan teologi untuk merumuskan ulang pemahaman tentang kehadiran Tuhan, ruang sakral, serta spiritualitas umat dalam konteks virtualitas global yang sarat tantangan sekaligus peluang. Penelitian lain juga diteliti oleh Fira Tando Institut dan Heni Kartini Tallu Tondok dalam penelitiannya yang menekankan bahwa digitalisasi telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk dalam bergereja, dengan menciptakan ruang virtual sebagai arena baru perjumpaan Blegur. Mick Mordekhai Sopacoly and Izak Y M Lattu. AuKekristenan Dan Spiritualitas Online: Cybertheology Sebagai Sumbangsih Berteologi Di Indonesia,Ay Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Filsafat Keilahian 5, no. : 137Ae54. Sopacoly and Lattu. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 202 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf 9 Kehadiran Allah yang melampaui ruang dan waktu, seperti ditegaskan dalam Mazmur 139:7-10, menjadi dasar teologis bagi pemaknaan ruang digital sebagai tempat yang sah untuk pengalaman spiritual dan persekutuan orang percaya. Dalam konteks ini, teologi digital menawarkan kerangka konseptual yang menegaskan bahwa ruang virtual bukanlah pengganti yang artifisial, melainkan perlu dipahami sebagai perpanjangan dari relasi manusia dengan Allah yang kudus, yang sekaligus menuntut tanggung jawab etis dari gereja di era digital. Berdasarkan masalah, fenomena dan penelitian terdahulu masih ada celah penelitian yang belum diteliti yaitu spiritualitas kristen dalam bayang-bayang virtualitas: menafsir kehadiran Ilahi dan tanggung jawab etis gereja di era digital global. Penelitian ini mengisi celah penelitian yang selama ini lebih banyak menyoroti digitalisasi gereja dari aspek teknis dan praktis, namun belum banyak mengkaji secara mendalam dimensi teologis tentang spiritualitas dan kehadiran ilahi dalam ruang virtual. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan teologis integratif yang merefleksikan spiritualitas Kristen dalam bayangbayang mempertimbangkan aspek kehadiran ilahi dan tanggung jawab etis gereja di era digital global METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif,11 dengan metode studi pustaka . ibrary researc. yang bertujuan mengkaji dan merefleksikan fenomena spiritualitas Kristen dalam Fira Tando and Heni Kartini Tallu Tondok. AuTinjauan Teologis: Digitalisasi Dan Transformasi Spiritualitas Kristen,Ay HUMANITIS: Jurnal Homaniora. Sosial Dan Bisnis 2, no. : 1227Ae39. Tando and Tondok. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2. , 90. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 ruang virtual. Metode ini dipilih karena kajian ini bersifat konseptual dan reflektif, bertumpu pada sumber-sumber Alkitab dan teologi serta literatur akademik yang relevan dengan topik digital theology, spiritualitas Kristen, kehadiran Allah, dan etika gereja. Langkah analisis dilakukan melalui telaah, yang pertama, menguraikan spiritualitas Kristen dan kehadiran ilahi sebagai teologi inkarnasi dalam ruang virtual sebagai dasar teologis untuk memahami pengalaman iman di dunia kedua, menganalisis Etika Kristen dan tanggung jawab gereja dalam ekologi digital untuk menilai peran etis gereja dalam membentuk budaya digital yang bermoral. mengevaluasi disrupsi virtual dan krisis tantangan formasi iman generasi digital. dan keempat, merumuskan spiritualitas digital yang inkarnasional sebagai strategi gereja kontekstual dalam menjawab kompleksitas zaman digital dengan tetap berpijak pada nilai-nilai teologis yang otentik. Keempat bagian ini disusun secara integratif untuk teologis yang utuh dan kontekstual dalam menghadapi dinamika spiritualitas Kristen di era virtualitas global. HASIL Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spiritualitas Kristen di era digital tidak dapat dipisahkan dari akar teologis inkarnasi, yang menekankan kehadiran Allah secara nyata dalam tubuh, komunitas, dan sejarah manusia. Kehadiran virtual tidak menghilangkan nilai spiritualitas, tetapi menuntut reinterpretasi yang transformatif dalam Penelitian menemukan bahwa gereja memiliki potensi besar untuk menghadirkan spiritualitas digital yang otentik melalui pengembangan ruang virtual yang kudus, etis, dan relasional. Dengan menanamkan prinsip etika Kristen dalam Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 203 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf klasik dengan teknologi kontemporer, gereja mampu menanggapi disrupsi digital tanpa kehilangan kedalaman Selain kepemimpinan digital yang berbasis empati, integritas, dan kompetensi teologis untuk membentuk komunitas daring yang membangun iman secara Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya spiritualitas digital yang inkarnasional sebagai strategi teologis gereja dalam merawat iman dan relasi spiritual umat di tengah dunia virtual yang terus berkembang. PEMBAHASAN Spiritualitas Kristen dan Kehadiran Ilahi sebagai Teologi Inkarnasi dalam Ruang Virtual Dalam tradisi iman Kristen, inkarnasi merupakan fondasi sentral dari seluruh pemahaman mengenai relasi Allah dengan dunia. Allah yang transenden hadir secara imanen dalam rupa manusia melalui Yesus Kristus, 12 dan melalui kehadiran-Nya. Allah memperlihatkan bahwa spiritualitas tidak dapat dilepaskan dari pribadi yaitu dan komunitas. Kehadiran ilahi juga terkait erat dengan pengalaman manusia, 13 Dalam dunia digital yang serba maya, konsep kehadiran Ilahi menjadi isu teologis karena berhadapan dengan disrupsi ruang fisik dan waktu Kehadiran tidak lagi hanya bersifat fisik atau komunal dalam pengertian tradisional, tetapi mengalami pergeseran ke dalam ruang virtual, di mana tubuh menjadi tersubstitusi oleh P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 gambar, suara, dan representasi digital. Peralihan menuju liturgi daring telah memunculkan perdebatan mengenai hakikat teologi sakramental dan makna "kehadiran nyata" dalam konteks virtual. Tantangan utamanya adalah bagaimana sakramen yang selama ini dijalankan secara langsung dan berwujud, sembari penyampaian melalui media digital. Walaupun kehadiran ilahi bersifat supranatural, manusia tetap dapat memahami dan merasakannya, baik melalui pengalaman di alam fisik maupun dalam ruang virtual. Kehadiran tersebut melampaui batas materi dan teknologi, menyatakan bahwa Allah tetap hadir dan bekerja di setiap dimensi kehidupan manusia. 15 Oleh karena itu, dalam penelitian ini, nilai spiritualitas Kristen harus tetap berakar pada makna kehadiran Allah di tengah realitas Spiritualitas tidak boleh terlepas dari dimensi kemanusiaan dan konteks kehidupan nyata, agar tetap mencerminkan wujud iman yang hidup Spiritualitas inkarnasional menolak pemisahan antara yang rohani dan jasmani, antara dunia maya dan dunia nyata, karena Allah dalam Kristus telah menebus seluruh kemungkinankemungkinan baru dalam teknologi Maka kehadiran Allah di ruang virtual bukanlah sesuatu yang mustahil, perubahan, bukan sekadar pengalaman Lizette Larson-Miller. AuReality of Presence in Virtually Mediated Sacramentality: Has Sacramental Theology Sustained Us?,Ay Anglican Theological Review 104, no. 37Ae53, https://doi. org/10. 1177/00033286211060329. Holmes Rolston. Divine Presence Causal. Cybernetic. Caring. Cruciform: From Information to Incarnation. Incarnation: On the Scope and Depth of Christology (Colorado State University. Libraries, 2. , https://mountainscholar. org/handle/10217/16756 Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 204 Yonatan Alex Arifianto. Alfons Renaldo Tampenawas, and Deice Miske Poluan. AuSikap Dan Tanggung Jawab Orang Percaya Dalam Menyikapi Teologi Imanensi,Ay Manna Rafflesia 8, no. : 241Ae64, https://doi. org/10. 38091/man_raf. Simon Rachmadi. AuPenyataan Diri Allah Di Tengah Kerapuhan Dunia: Pesan Teologis Tentang Inkarnasi Allah Dalam Tradisi Teologis Yohanes,Ay Gema Teologika 7, no. : 123, https://doi. org/10. 21460/gema. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf simbolik atau emosional yang dangkal. Ruang digital dapat dimaknai sebagai perpanjangan dari ruang spiritual, tempat umat Kristen bertemu dengan Allah dan sesamanya dalam bentuk-bentuk baru. Akan tetapi, ruang ini harus dikuduskan, yaitu diisi dengan nilai-nilai Injil, pengampunan, dan kebenaran. Di sinilah gereja memiliki tanggung jawab etis untuk tidak membiarkan ruang digital kebencian, hoak dan berbagai muatan rohani yang tidak membangun. Maka itu platform digital seperti media sosial memberikan peluang bagi gereja untuk membangun komunitas yang aktif, sehingga ruang digital dapat berfungsi sebagai pusat koneksi spiritual dan sarana pelayanan yang menjangkau lebih Di tengah kaburnya batas antara dunia fisik dan digital, hal ini menjadi sangat relevan karena memungkinkan pelayanannya ke dalam ranah digital secara efektif. 16 Dengan semangat teologi inkarnasi yang mengharapkan gereja untuk menghadirkan kehadiran yang nyata, bukan semu. kehadiran yang melibatkan, bukan menjauhkan. kehadiran yang membangun relasi, bukan hanya menyampaikan konten. Meskipun digitalisasi membuka peluang besar bagi kebebasan berekspresi dan komunikasi, ia membawa tantangan serius seperti tekanan untuk selalu tampil atau Kondisi ini dapat memengaruhi kedalaman spiritualitas, terutama dalam ruang publik digital yang sarat dengan dinamika eksposur dan pencitraan diri. 17 Maka itu gereja Dieter Becker. AuTugas Dan Tanggung Jawab Misiologis Gereja Di Era Digital,Ay Jurnal Teologi Vocatio Dei 6, no. 1 (November 28, 2. : 16Ae23, https://doi. org/10. 62926/jtvd. Bernhard Grymme. AuSpirituality and Digitality,Ay Teocomunicayyo 53, no. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 mengurangi ibadah menjadi sekadar tontonan virtual atau menggantikan komunitas menjadi followers digital Inkarnasi berarti bahwa Allah bersolidaritas dalam tubuh dan sejarah manusia dan hal ini menjadi model utama dalam membentuk spiritualitas digital yang hakiki. Inkarnasi dipahami sebagai wujud nyata kasih Allah yang manusia melalui keterlibatan-Nya secara imanen dalam dunia. Melalui tindakan menjadi manusia. Allah menjembatani jarak antara realitas ilahi solidaritas-Nya dengan kondisi manusia. Peristiwa ini menjadi dasar penebusan dan membuka jalan bagi relasi yang mendalam antara manusia dan Allah. bahkan inkarnasi mengundang Gereja dan umat manusia untuk menumbuhkan mencerminkan solidaritas Allah dengan 19 Oleh sebab itu dalam dunia virtual, gereja dipanggil untuk tetap menjadi tubuh Kristus bukan sekadar simbol, tetapi komunitas nyata yang pertumbuhan rohani dalam dunia digital. Inkarnasi menghilangkan makna kehadiran, tetapi memperluasnya dengan kesadaran penuh bahwa Allah hadir, bekerja, dan menebus juga dalam jaringan dan layar, selama kehadiran itu mencerminkan e44027, https://doi. org/10. 15448/0103314x. Arifman Gulo. Yusak Tanasyah, and Andreas Bayu Kristiantoro. AuInkarnasi Bukti Kemahakuasaan Tuhan Pada Wujud Kemanusiaan Yesus,Ay Journal of Religious and Socio-Cultural, 2022, https://doi. org/10. 46362/jrsc. Antonius Denny Firmanto and Nanik Wijiyati Aluwesia. AuRelevansi Spiritualitas Inkarnasi Santo Montfort Dalam Menumbuhkan Solidaritas. Mengatasi Individualitas Di Tengah Budaya Hedonis,Ay Jurnal Pendidikan Agama Katolik 23, no. : 113Ae29, https://doi. org/10. 34150/jpak. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 205 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Kristus yang hidup di tengah umat-Nya. Etika Kristen dan Tanggung Jawab Gereja dalam Ekologi Digital Di tengah arus informasi yang cepat, tata cara komputasional yang bersifat manipulatif, serta konten digital yang kerap menonjolkan sensasi dan estetika semu, gereja dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai pembawa pesan Injil, tetapi juga sebagai pembentuk budaya etis yang berakar pada nilai-nilai Kristiani. Sehingga diperlukan integrasi prinsip-prinsip etika Kristen ke dalam pendidikan gereja atau komunitas Kristen dapat membantu mengatasi tantangan moral yang ditimbulkan oleh teknologi digital. Bahkan diharapkan juga bahwa gereja semakin menggunakan platform digital untuk menumbuhkan komunitas, dialog, dan koneksi spiritual. Dengan terlibat dalam diskusi online dan menyediakan konten yang berpusat pada agama, gereja dapat menangkal perilaku online negatif seperti ujaran kebencian dan polarisasi. Maka itu gereja dan orang percaya dapat menjadi teladan dan mengingat bahwa ada pertimbangan moral dalam bermedia sosial yaitu tidak serupa dengan dunia. Kehadiran gereja secara daring tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab moral yang besar, baik terhadap isi pesan yang disampaikan maupun Etika Kristen menuntun gereja untuk memprioritaskan nilai pengajaran alkitabiah, dan penghormatan terhadap Sozanolo Zamasi. Stenly Reinal Paparang, and Rajiman Andrianus Sirait. AuMempertahankan Integritas Moral:Etika Kristen Dalam Pendidikan Agama Di Era Digital,Ay JURNAL LUXNOS 10, no. 1 (June 27, 2. 141Ae57, https://doi. org/10. 47304/h5zmg985. Becker. AuTugas Dan Tanggung Jawab Misiologis Gereja Di Era Digital. Ay Eny Suprihatin. AuKontekstualisasi Roma 12:2 Dalam Keniscayaan Dunia Digital,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 2021, https://doi. org/10. 34081/fidei. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 martabat manusia dalam setiap aktivitas Dan tentunya juga etika kristen dapat menjadi acuan dalam dalam bermedia sosial, sehingga tidak menghasilkan efek negatif, tetapi justru mampu memberikan manfaat yang besar bagi semua yang terlibat dalam Ini menekankan bahwa gereja tidak hanya berkewajiban menyampaikan kontenkonten rohani yang membangun, tetapi juga menjaga integritas komunikasi dengan menolak segala bentuk hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi emosi yang dapat merusak pertumbuhan iman Di era digital ini, tanggung jawab etis gereja juga mencakup perlindungan data pribadi umat, penggunaan media digital yang bijak, serta resistensi terhadap komersialisasi pelayanan yang Dengan demikian, gereja dipanggil menjadi saksi Kristus yang konsisten dan menjadi pribadi yang bijak 24 Dunia digital, meskipun virtual, tetap merupakan ruang spiritual yang perlu diisi dengan kehadiran ilahi yang nyata melalui perilaku etis dan penghormatan kepada Allah dan Oleh karena itu, gereja harus mengembangkan strategi pelayanan digital yang tidak hanya efektif secara teknologi, tetapi juga berakar kuat dalam etika Injil, menjadi terang dan garam di tengah ekologi digital yang sering kali penuh godaan pragmatisme dan nilainilai semu. Suyadi Suyadi et al. AuEtika Kristen Dalam Perspektif Roma 12: 10 Terhadap Peran Komunikasi Bermedia Sosial Di Era Digital,Ay Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 2, no. 1 (July 23, 2. : 58Ae70, https://doi. org/10. 54403/rjtpi. Yakobus Adi Saingo. AuMenggagas Gaya Hidup Digital Umat Kristiani Di Era Society 5. 0,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. (September 13, 2. : 101Ae15, https://doi. org/10. 54592/jct. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 206 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Disrupsi Virtual dan Krisis Spiritualitas Menghadapi Tantangan Formasi Iman di Era Digital Kehadiran teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara individu mengakses, memahami, dan mengalami spiritualitas. Di mana platform digital menyediakan ruang baru untuk ibadah dan pembangunan 25 Era digital dalam kehadiran teknologi juga telah memungkinkan gereja untuk menggunakan media sosial dan alat digital lainnya untuk menumbuhkan hubungan jemaat dan pertumbuhan spiritual. 26 Kemajuan ini memberikan peluang untuk menjangkau lebih banyak orang dengan pesan Injil melalui berbagai platform digital. Namun di sisi lain, virtualisasi pengalaman iman ini juga membawa tantangan besar terhadap kedalaman rohani dan keberlanjutan iman spiritual Virtualitas keagamaan sering kali menciptakan pola spiritualitas yang instan dan dangkal. Meskipun praktik keagamaan virtual potensial, tetap tidak luput dari kritik yang menyoroti sifatnya yang sementara dan cenderung hiper-individualistik. Para pengkritik menilai bahwa bentuk peribadatan digital ini merupakan penyimpangan dari praktik keagamaan tradisional karena tidak mengandung unsur keabadian dan kebersamaan yang secara inheren hadir dalam ritual fisik. Di samping itu, pesatnya perkembangan teknologi digital juga memunculkan kedalaman pengalaman religius dalam P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 ruang virtual. 27 Dan tentunya tetap menjaga gaya hidup berintegritas dalam dunia nyata maupun dunia maya, serta menjadi pribadi yang bijak dalam Walaupun pergeseran ke ruang virtual telah mengubah pola agama Kristen, yang mana memungkinkan pengalaman spiritual terjadi di luar gereja fisik, sehingga menciptakan komunitas iman baru melalui Auclickactivism. 29 Sehingga jemaat dapat dengan mudah mengakses berbagai konten rohani tanpa keterikatan komunitas atau disiplin spiritual yang Namun perlu diwaspadai terkait aktivitas konsumsi konten rohani secara cepat dan sporadis cenderung membentuk pola iman yang bersifat konsumtif, bukan partisipatif. Ibadah daring misalnya, bisa mengaburkan batas antara penyembahan dan hiburan. Bahkan aktivitas sakral perjumpaan dengan Tuhan melalui doa menjadi sekadar tayangan. Terlebih persekutuan beralih menjadi komentar atau emoji. Dalam kondisi ini, iman menjadi sesuatu yang diklik dan ditonton, bukan lagi dijalani secara mendalam dalam komunitas yang hidup. Menghadapi tantangan tersebut, gereja perlu merumuskan ulang strategi formasi iman yang menyadari realitas digital sekaligus tidak mengorbankan kedalaman spiritual. Walaupun di platform digital telah membuka akses yang lebih luas terhadap ajaran Kristen dan berbagai bentuk pelayanan ibadah, sehingga memungkinkan individu yang tidak dapat hadir secara fisik di gereja untuk tetap terlibat dalam aktivitas keagamaan secara daring. Fasilitas ini menjadi sangat berarti bagi mereka yang menghadapi keterbatasan mobilitas. Rachel Wagner. Godwired : Religion. Ritual, and Virtual Reality, 2011, https://w. com/Godwired-ReligionVirtual-Reality-Culture/dp/0415781450. Saingo. AuMenggagas Gaya Hidup Digital Umat Kristiani Di Era Society 5. Ay Sopacoly and Lattu. AuKekristenan Dan Spiritualitas Online: Cybertheology Sebagai Sumbangsih Berteologi Di Indonesia. Ay Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 207 Jung. AuChurch in the Digital Age: From Online Church to Church-Online. Ay Yonatan Alex Arifianto. Jirmia Dofi Suharijono, and Adi Sujaka. AuEksplorasi Rohani Sebagai Pertumbuhan Spiritualitas Dalam Ruang Virtual: Misi Kekristenan Di Era Digital,Ay Teleios 4, no. : 64Ae72, https://doi. org/10. 53674/teleios. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf tantangan gaya hidup modern, atau yang menjauh dari gereja tradisional karena pengalaman ketidakpuasan, namun tetap memiliki kerinduan untuk menjalin hubungan spiritual dan memperoleh pengajaran iman. 30 Bila hal ini benar merindukan kehadiran Tuhan saat keterbatasan fisik terjadi. Untuk itu gereja dengan mengintegrasikan kembali disiplin spiritual seperti doa harian, dan saat teduh menempatkan kedalam prioritas pribadi kepada Tuhan. Yang tujuannya bukan hanya agar jemaat tahu lebih banyak tentang Tuhan, tetapi agar mereka hidup lebih dekat dengan-Nya. Oleh sebab itu, gereja harus mendesain ekosistem digital yang membangun kehidupan spiritual menciptakan ruang untuk relasi sejati, komunitas yang saling menopang, serta pengalaman akan hadirat Allah yang nyata meskipun melalui medium digital. Sebab media digital sebagai sarana untuk mendukung pelayanan pastoral dan memperkuat pembinaan spiritual 31 Pendekatan ini juga menuntut keterlibatan pemimpin rohani yang mampu memandu umat bukan hanya menjadi konsumen konten rohani, tetapi menjadi murid Kristus yang bertumbuh, melayani, dan bersaksi di dunia digital. Menuju Spiritualitas Digital yang Inkarnasional: Strategi Gereja Kontekstual transformasi digital, gereja dihadapkan pada tuntutan untuk tetap setia pada esensi iman Kristen sembari menjawab kebutuhan spiritual umat di era digital. Sebab dalam pergeseran ke platform digital dapat melemahkan kualitas Nainggolan and Pabisa. AuExploring New Dimensions of Christian Faith from Traditionto Digital Transmission in Cyberspace. Ay Stepanus Angga and Antonius Denny Firmanto. AuDigital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal Yang Mendengarkan,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 170Ae83, https://doi. org/10. 30648/dun. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 keterlibatan spiritual dan melemahkan hubungan interpersonal dalam jemaat. Interaksi memiliki kedalaman dan keaslian pertemuan tatap muka, yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa komunitas dan pertumbuhan spiritual yang kuat. 32 Maka itu gereja tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi agen yang mengkontekstualisasikan Injil secara kreatif dan bertanggung jawab di dunia Spiritualitas inkarnasional bukanlah spiritualitas yang terputus dari tubuh dan komunitas, menjembatani antara kedalaman iman dan realitas digital kontemporer. Ini harus diwujudkan dengan baik bahwa alat digital telah menjadi bagian integral dari pengalaman keagamaan. 33 Sebab keagamaan secara digital dan fisik. Ruang-ruang virtual ini menjadi arena untuk merundingkan bentuk-bentuk praktik keagamaan dan membentuk makna spiritual yang baru, sekaligus menantang batas-batas tradisional antara yang sakral dan yang profan. 34 Untuk mewujudkan hal ini, gereja perlu merancang ruang-ruang digital yang memfasilitasi perjumpaan sejati dengan Allah dan sesama, bukan sekadar tempat konsumsi informasi religius atau hiburan spiritual semu. Artinya, ruang digital gerejawi harus dirancang dengan kesadaran teologis, dan etis. Selain pemimpin-pemimpin digital yang memiliki kapasitas teologis. Nainggolan and Pabisa. AuExploring New Dimensions of Christian Faith from Traditionto Digital Transmission in Cyberspace. Ay Heidi A Campbell. AuLooking Backwards and Forwards at the Study of Digital Religion,Ay Religious Studies Review 50, no. : 83Ae87, https://doi. org/10. 1111/rsr. Nabil Echchaibi et al. AuThird Spaces. Religion and Spirituality in the Digital Age,Ay AoIR Selected Papers of Internet Research. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 208 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kompetensi teknologi, dan integritas etis. Terlebih membangun hamba yang bersumber dari prinsipprinsip Alkitab menekankan pentingnya empati, fleksibilitas, dan spiritualitas yang inklusif serta bebas dari sikap Nilai-nilai ini menjadi melayani komunitas jemaat di era digital yang terus berkembang. 35 Sehingga membangun pemimpin digital untuk harus mencakup pemahaman tentang komunikasi digital, serta kesadaran akan etika dan keamanan digital. Gereja juga harus aktif membangun komunitas daring yang bukan hanya sebagai tempat pertemuan virtual, tetapi sebagai ruang relasi yang mendorong pertumbuhan iman, saling penguatan, dan praktik Pemimpin juga dapat Kristen dengan memperhatikan konteks dan kebutuhan zaman. Sehingga gereja dan orang percaya bertumbuh dan berbuah dengan memanfaatkan akses 37 Dengan strategi-strategi ini, gereja dapat menjawab tantangan era digital secara kontekstual dan profetik, menghadirkan spiritualitas Kristen yang relevan, mendalam, dan tetap berakar pada nilai-nilai Injil, meskipun dalam bayang-bayang virtualitas. Joni Manumpak Parulian Gultom. Martina Novalina, and Didimus Sutanto B Prasetya. AuKepemimpinan Pelayan Dalam Membangun Lifestyle Spiritual Generasi Digital,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 2022, https://doi. org/10. 33991/epigraphe. Sugiono Sugiono and Mesirawati Waruwu. AuPeran Pemimpin Gereja Dalam Membangun Evektifitas Pelayanan Dan Pertumbuhan Gereja Di Tengah Fenomena Era Disrupsi,Ay DIDASKO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 111Ae22, https://doi. org/10. 52879/didasko. Jozethian Watta. Yudhy Sanjaya, and Talizaro Tafonao. AuPeran Pemimpin Kristen Dalam Meregenerasi Dan Memperlengkapi Para Pemimpin Muda Di Era Globalisasi,Ay MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen, 2023, https://doi. org/10. 55967/manthano. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 KESIMPULAN Di tengah arus digitalisasi global, gereja dipanggil untuk merespons dengan bijak dan teologis terhadap transformasi budaya dan spiritualitas yang terjadi dalam ruang virtual. Spiritualitas Kristen inkarnasionalnya, sebab iman Kristen berakar pada kehadiran Allah yang nyata dalam tubuh dan komunitas. Dalam konteks dunia maya, gereja harus mampu menafsirkan ulang kehadiran ilahi sebagai realitas yang tetap transformatif, bukan semata simbolik. Inkarnasi menjadi model utama dalam membentuk spiritualitas digital yang tetap menyentuh dimensi tubuh, komunitas, dan sejarah manusia. Oleh karena itu, ruang digital harus dikuduskan dengan nilai-nilai Injil dan menjadi sarana yang mendukung pertumbuhan iman, bukan sekadar wadah konsumsi konten rohani. Gereja juga dituntut untuk menghadirkan etika digital yang berakar pada kasih, keadilan, dan kebenaran Kristus, serta membentuk komunitas daring yang otentik dan mendalam. Tantangan spiritualitas yang instan, terfragmentasi, dan konsumtif di era digital menuntut strategi formasi iman yang bersifat holistik, mengintegrasikan disiplin rohani klasik dengan pendekatan digital yang sehat dan kontekstual. Melalui kepemimpinan hamba yang pengembangan ruang digital yang inklusif dan transformatif, gereja dapat menjadi saksi Kristus di tengah ekosistem digital. Dengan demikian, spiritualitas Kristen di era virtual bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperluas kerajaan Allah secara relevan dan DAFTAR PUSTAKA