Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika RELIGIUSITAS DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING: PERAN MEDIASI PERILAKU PROSOSIAL PADA MAHASISWA AKTIVIS ORGANISASI IMM Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Program Studi Psikologi. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: July 2023 Approved: Sept 2023 Published: Dec 2023 This research aims to examine the role of prosocial behavior as a mediator between religiosity and psychological well-being relationship of student The population of this study were undergraduate students who actively engage in the Muhammadiyah Student Association (IMM) at Muhammadiyah University of Sidoarjo involving 202 respondents. The sample size refers to the Isaac and Michael table who were selected through simple random sampling. The research instruments used the Ryff . psychological well-being scale (=. , the prosocial scale adopted from Vina . that is Prosocial Tendencies Measure-Revised (=0,. , and the Glock & Stark . religiosity scale (=. Data analysis used a mediation path analysis model using JASP 0. 0 software. The results show that there is a positive relationship between religiosity and psychological well-being . =0. 045<0. and prosocial behavior can partially mediate the relationship between religiosity and psychological well-being among the IMM activists . =<0. Other factors either internal or external are possible to mediate the relationship between religiosity and psychological well-being. Keywords : psychological wellbeing. prosocial behavior. Alamat Korespondensi: Jl. Raya Gelam no 250. Pagerwaja. Gelam. Kec. Candi. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur. Indonesia 61271 E-mail: Rahmanilfirdaus10@gmail. Hazim@umsida. Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima : Juli 2023 Disetujui: September 2023 Dipublikasikan: Desember 2023 Kata Kunci: psychological wellbeing. perilaku prososial. Hal 96-110 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menguji peran perilaku prososial sebagai mediator antara hubungan religiusitas dengan psychological well-being pada mahasiswa aktivis organisasi. Populasi penelitian ini merupakan mahasiswa tingkat sarjana yang mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan sampel sebanyak 202 mahasiswa. Penentuan jumlah sampel mengacu pada tabel Isaac dan Michael dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala psychological well-being Ryff . (=. , prososial mengadopsi skalanya Vina . yaitu Prosocial Tendencies Measure-Revised (=0,. , dan skala religiusitas Glock & Stark . (=. Analisis data menggunakan model analisis jalur mediasi . ediated path mode. menggunakan software JASP 0. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif antara religiusitas dengan psychological well-being . =0. 045<0. , serta perilaku prososial dapat memediasi secara parsial hubungan religiusitas dengan psychological well-being pada mahasiswa aktivis organisasi IMM . =<0. Faktor yang lain, baik internal maupun eksterl memungkinkan memediasi hubungan antara religiusitas dan psychological well-being. PENDAHULUAN Psychological well-being merupakan tujuan akhir setiap manusia. Keadaan psikologis yang positif akan berdampak pada kesehatan fisik, serta dapat menjadi penyembuh dari banyak gejala suatu penyakit atau permasalahan fisik. Selain itu, psikologis yang sejahtera akan berdampak baik pada fungsi sosial, relasi interpersonal, karakteristik dan kemampuan adaptasi, serta kemampuan kognitif (Astuti & Indrawati, 2. Namun, nyatanya pencapaian kesejahteraan psikologis ini tidak mudah untuk diaktualisasi dalam kehidupan. Termasuk mahasiswa yang memiliki tuntutan peran, baik dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Banyaknya tuntutan ini membuat mahasiswa kurang sejahtera secara psikologis. Mahasiswa yang diharapkan dapat hidup bermasyarakat dan menjadi sumber daya intelektual dan komperatif (Candra. , & Nastasia, 2. Mahasiswa dituntut oleh lingkungan untuk terus berkembang dan melakukan banyak pencapaian, baik dari segi akademis maupun non-akademis. Tuntutan-tuntutan dan harapan yang diemban mahasiswa ini tentunya mendorong mereka untuk terus berkembang dan tumbuh melalui lingkungan kampus. Selain dalam aspek akademik, mahasiswa juga dituntut dalam aspek non-akademik. Hal ini dapat dicapai melalui banyak hal, salah satunya adalah mengikuti Organisasi mahasiswa memiliki manfaat untuk menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan, alat melatih diri dalam mempraktikkan keilmuwan formal yang dipelajari, dan dapat membantu mengembangkan kemampuan sosial secara individu unutk bekal sebelum terjun dalam kehidupan bermasyarakat (Hendra, 2. Mahasiswa aktivis organisasi memiliki peran ganda yaitu sebagai mahasiswa dan anggota organisasi. Maka mahasiswa diharuskan mampu untuk menyeimbangkan dan mengembangkan kemampuannya, serta juga dapat menyeimbangkan perannya, baik sebagai anggota organisasi dan sebagai mahasiswa. Hal ini berarti bahwa tuntutan dan kewajiban yang harus dijalankan sebagai mahasiswa dan aktivis organisasi seharusnya bisa berjalan dengan baik, namun tidak semua mahasiswa mampu untuk melakukan hal demikian. Setiap peran yang dimiliki oleh mahasiswa mempunyai tugas serta tanggung jawab masing-masing yang menjadi kewajiban untuk diselesaikan. Salah satu organisasi pada mahasiswa yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau disebut IMM merupakan organisasi otonom . Muhammadiyah sebagai gerakan mahasiswa Islam dengan ranah pergerakan di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Berdirinya organisasi ini adalah untuk membentuk akademisi Islam yang berakhlaq mulia untuk mencapai tujuan persyarikatan Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 Muhammadiyah (Branch-board & Bima, 2. Dasar gerakan adalah tri kompetensi dasar yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas (Zai, 2. Tuntutan peran pada mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi seringkali berpengaruh pada kondisi fisik dan psikologisnya. Keadaan ini menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan yang datang kapanpun, seperti permasalahan komunikasi dalam organisasi, baik lingkup eksternal dan internal organisasi. Selain itu, banyaknya tugas perkuliahan yang menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan tepat waktu membuat tekanan pribadi lebih tinggi. Hal ini dapat berdampak pada tingkat kesejahteraan yang dimilikinya. Kesejahteraan ini tidak hanya merujuk pada materi, namun juga secara psikologis (Dana et al. Kesejahteraan psikologis menjelaskan bahwa kesehatan psikologi individu didasarkan pada pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif (Panjaitan et al. , 2. Kesejahteraan psikologis ini dapat termanifestasi dalam bentuk kebahagiaan dan kepuasan individu terhadap Salah satu contoh ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan individu terhadap hidupnya adalah bunuh diri. Indonesia termasuk negara dengan kasus bunuh diri yang tinggi. Merujuk data SRS (Sample Registry Syste. di Kementerian Kesehatan tahun 2018, dengan estimasi kelengkapan survei 55% menunjukkan angka kematian karena bunuh diri di Indonesia sebesar 992 orang yang melakukan bunuh diri dengan rentang usia 15 sampai 29 tahun (Anugerah. Dilansir dari laman Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, faktor utama bunuh diri adalah adanya konflik keluarga, agama, dan akses ke perawatan psikologis yang minim (Indonesia, 2. Contoh lainnya yaitu kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan salah satu gambaran bahwa seseorang merasa hidupnya sejahtera. Menurut laporan World Happiness Report 2023 yang mengukur tingkat kebahagiaan berdasarkan enam faktor, yaitu dukungan sosial, kesehatan, kebebasan, pendapatan, kemurahan hati, dan tanpa ada tindakan korupsi di suatu negara. Indonesia berada di peringkat 84 dari 109 negara dengan skor 5,277 atau peringkat 6 dari 9 negara di tingkat ASEAN (Perkasa, 2. Rendahnya tingkat kebahagiaan individu berpengaruh pada tingkat kesejahteraan pada dirinya. Ryff . mengatakan psychological well-being merupakan tingkat kecakapan seseorang dalam mendapati dirinya secara positif, menjalin hubungan interpersonal, mandiri terhadap tuntutan sosial, mengontrol lingkungan sekitar, dan mewujudkan kapasitas dirinya secara terarah dan terukur (Panjaitan et al. , 2022. Simanjuntak et al. , 2. Dukungan sosial, relasi sosial, status sosial ekonomi, religiusitas, kepribadian, serta dilihat berdasarkan aspek usia, jenis kelamin, dan budaya merupakan faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat psychological well-being (Pedhu, 2. Selaras konsep teori tersebut, mahasiswa yang sejahtera secara psikologis mampu untuk berkembang meskipun dengan banyaknya permasalahan dan tekanan-tekanan yang Selain itu, individu selalu mengambil hikmah sehingga mampu mempersepsikan diri bahwa individu menerima banyak faedah dari Tuhan maupun orang sekitar, motivasi untuk berperilaku baik dan membalas kebaikan meningkat, sehingga mampu untuk membangun hubungan baik dengan lingkungan eksternal, diri sendiri, dan mampu berfungsi maksimal dalam lingkungan masyarakat (Prabowo, 2. Sedangkan seseorang dengan psychological well-being kurang baik akan mengalami ketidakpuasan akan banyak hal, merasa terasing dari lingkungan masyarakat, bergantung yang berlebihan dengan orang lain, tidak peka terhadap lingkungan, tidak adanya progress, serta merasa hidup tidak berarti (Putri & Rustika, 2. Prevalensi tingkat psychological well-being pada mahasiswa telah ditemukan oleh Ainiyah . bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi cenderung mengalami peningkatan psychological well-being. Hal ini ditunjukkan dengan inidividu yang menerima dirinya dengan positif, berhubungan baik dan harmonis dengan orang lain, mandiri dalam menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa aktivis organisasi, memaksimalkan kesempatan yang ada, tujuan hidup yang terarah, serta merasakan adanya progress atau kemajuan diri yang lebih baik, serta memiliki kepercayaan kuat pada agama dan mampu untuk Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan perintah agama (Syaputra. Salah satu faktor dapat berdampak pada tingkat psychological well-being adalah Seseorang yang religius cenderung lebih mudah untuk merasakan psikologis yang sejahtera daripada individu yang kurang religius (Ardiansyah, 2. Menurut Glock & Stark . , religiusitas merupakan bentuk komitmen dalam beragama yang dilaksanakan oleh individu sebagai bagian dari kepercayaan seperti emosi dan wawasan yang disadari sebagai salah satu dalam agama, serta bagaimana individu hidup sesuai dengan agama yang dianut (Setianingsih, 2. Religiusitas dapat menjadi simbol sebagai keyakinan dan tindakan yang sesuai serta fokus pada hal-hal yang bermakna dan dihayati . ltimate meanin. Individu yang sering terlibat dengan pertemuan keagamaan, bertemu dengan lebih banyak orang, untuk membahas masalah dan seringkali mendapatkan bantuan, teman, serta dukungan dapat mempengaruhi dampak kesepian dan isolasi. Selain itu, dapat mengurangi kesulitan dalam Hal ini dapat meningkatkan orientasi religius seseorang dan akan berdampak langsung pada meningkatnya kesejahteraan psikologisnya (Furqani, 2. Apabila seseorang memiliki religiusitas yang optimal, maka akan semakin mudah dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Salah satu bentuk pemaknaan seperti menerima dirinya dengan baik dengan meyakini bahwa semua kejadian telah diatur oleh Tuhan dan merupakan ketentuan-Nya. Setiap kejadian akan memberikan makna kebaikan untuk kehidupan individu Selain itu, individu dengan religiusitas yang tinggi memberikan dampak pada penguasaan lingkungan yang baik, cita-cita hidup yang terarah, serta pribadi yang jauh lebih baik (Atikasari, 2. Berdasarkan studi pendahuluan menunjukkan religiusitas dan psychological well-being memiliki hubungan positif. Rio . menunjukkan bahwa religiusitas memberikan kontribusi sebesar 21% pada psychological well-being pada mahasiswa anggota BEM Universitas Islam Riau Pekanbaru. Nusaibah . menunjukkan bahwa religiusitas secara signifikan berpengaruh secara langsung . irect effec. terhadap kesejahteraan psikologis. Religiusitas memberikan pengaruh sebesar 25,4% pada kesejahteraan psikologis. Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa religiusitas termasuk salah satu faktor yang berpengaruh pada psychological well-being (Batubara, 2. Pentingnya individu yang religius akan berpengaruh juga pada bagaimana individu tersebut akan berperilaku. Carlo dan Hardy mengemukakan bahwa religiusitas berpotensi tinggi untuk meningkatkan perilaku yang cenderung mengarah pada kebaikan atau kesejahteraan bagi orang lain (Agnita & Selviana, 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa religiusitas memiliki andil dalam peningkatan perilaku positif seseorang, sehingga individu mampu melakukan kebaikan dalam kehidupannya. Bentuk perilaku kebaikan ini adalah bersikap membantu atau menolong orang lain yang disebut perilaku prososial. Perilaku prososial adalah suatu perilaku membantu orang lain yang membutuhkan tanpa perlu adanya motif-motif tertentu sebagai hal yang menguntungkan bagi penolong. Menurut Carlo & Randall . , perilaku prososial merupakan suatu tindakan bermanfaat bagi orang lain (Zai, 2. Individu dengan perilaku prososial akan memiliki rasa empati dan membantu secara sukarela, tanpa berharap imbalan apapun. Perilaku prososial dapat membantu dalam hubungan, komunitas, dan masyarakat. Menurut Staub, yang menjadi pondasi dasar individu berperilaku prososial adalah dengan adanya value . dan aturan dalam masyarakat, value dan aturan tersebut didapatkan melalui nilai keagamaan dan lingkungan masyarakat (Arvianna et al. , 2. Menurut Carlo dan Randall . aspek-aspek perilaku prososial meliputi altruism, compliant, emotional, anonymous, dire, dan public. Perilaku prososial dipengaruhi oleh faktor internal seperti personality traits, values and goals, dan religious. Pada faktor eksternal yaitu faktor luar individu berupa suasana hati, modelling, dan lingkungan (Andari Nur Rahmawati & Fithri, 2. Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 Perlunya keseimbangan antara religiusitas dengan perilaku prososial ini sesuai dengan tiga kompetensi dasar organisasi IMM yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa aktivis IMM kurang dapat melakukan sesuai dengan tri kompetensi dasar yang ada. Ketika diadakannya penggalangan dana untuk membantu korban bencana, mahasiswa aktivis IMM yang terlibat sangat sedikit. Ini dilakukan dengan alasan adanya jam perkuliahan. Selain itu, tidak melakukan aksi sosial ini dikarenakan tidak ada teman yang dikenal, sehingga individu ini masih malu atau kurang percaya diri tanpa kehadiran temannya. Selain itu dalam aspek religiusitas, masih belum konsistensinya mengerjakan ibadah sholat tepat waktu dan belum lancar membaca Al-Quran. Beberapa hal inilah yang menggerakkan peneliti ingin mengetahui terkait religiusitas dan perilaku prososial Beberapa studi penelitian yang meneliti religiusitas dan psychological well-being, menunjukkan hubungan positif pada kedua variabel tersebut (Fitriani, 2016. Panjaitan et al. Selain itu, beberapa penelitian juga membuktikan adanya saling keterkaitan antara perilaku prososial dan kesejahteraan psikologis (Angellina et al. , 2020. Sari & Rinaldi, 2. Begitu pula dengan religiusitas yang memiliki hubungan signifikan dengan perilaku prososial (Agnita & Selviana, 2019. Andari Nur Rahmawati & Fithri, 2020. Arvianna et al. , 2. Banyak penelitian yang meneliti hubungan antara ketiga variabel tersebut. Namun peneliti masih belum menemukan penelitian yang menggabungkan ketiga variabel tersebut dalam satu Oleh karena itu, peneliti memilih variabel perilaku prososial sebagai variabel intervening atau variabel mediator dan melihat bagaimana dinamika yang terjadi diantara ketiga variabel tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti memasukkan perilaku prososial sebagai variabel intervening atau mediator pada hubungan religiusitas dengan psychological well-being. Peneliti juga mengidentifikasi dinamika dalam hubungan ketiga variabel yaitu perilaku prososial memiliki hubungan positif dengan psychological well-being. Semakin tinggi perilaku prososial, maka semakin meningkat psychological well-being individu, begitu pula sebaliknya. Perilaku prososial yang dipengaruhi oleh religiusitas berdampak pada perilaku positif individu. Fungsi perilaku prososial sebagai mediator adalah untuk mengetahui seberapa baik fungsi perilaku prososial dalam mempengaruhi religiusitas dan psychological well-being menjadi hubungan yang tidak langsung. Perilaku prososial sebagai perantara penyebab meningkat atau menurunnya religiusitas pada psychological well-being. Berdasarkan uraian mengenai latar belakang penelitian, studi pada penelitianpenelitian terdahulu, dan teori, peneliti menyusun hipotesis sebagai berikut: H1: Terdapat hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being mahasiswa aktivis organisasi IMM. H2: Terdapat hubungan antara religiusitas dan perilaku prososial pada mahasiswa aktivis organisasi IMM. H3: Terdapat hubungan antara perilaku prososial dengan psychological well-being pada mahasiswa aktivis organisasi IMM. H4: Terdapat peran perilaku prososial dalam memediasi hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being pada mahasiswa aktivis organisasi IMM. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa tingkat sarjana di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sampel penelitian berjumlah 202 mahasiswa. Penentuan sampel menggunakan simple random sampling yaitu memilih secara acak anggota keseluruhan populasi. Pemilihan simple random sampling digunakan agar keseluruhan anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih dalam penelitian. Skala disebarkan menggunakan google form yang terdiri dari tiga skala berbentuk likert yang berisi empat pilihan jawaban yaitu Sangat Tidak Setuju. Tidak Setuju. Setuju, dan Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 Sangat Setuju. Variabel psychological well-being diukur berdasarkan skala milik Carol D. Ryff . yang disusun sesuai dengan dimensi-dimensi psychological well-being. Indeks koefisien item-total sebesar 0,282-0,491. Indeks korelasi reliabilitas alpha CronbachAos sebesar 0,741. Penyusunan skala pada variabel religiusitas mengadaptasi dari skala yang dikembangkan oleh El-Menouar . yang mengacu pada dimensi-dimensi religiusitas milik Stark & Glock . Skala ini berisi 38 aitem dan merupakan hasil modifikasi peneliti untuk menyesuaikan dengan budaya responden penelitian serta pengerucutan aitem untuk konteks religiusitas dalam agama Islam. Indeks koefisien item-total sebesar 0,274-0,714. Indeks korelasi reliabilitas alpha CronbachAos sebesar 0,907. Variabel prososial mengadopsi skala yang dikembangkan oleh Vina . berdasarkan alat ukur prosocial Tendencies Measure-Revised milik Carlo dan Randall . Skala ini berjumlah 30 item yang dan peneliti melakukan tryout skala ini pada 30 responden. Berdasarkan tryout yang dilakukan, terdapat 14 item gugur sehingga tersisa 16 item. Peneliti juga melakukan penyesuaian item terdapat bahasa dan budaya responden penelitian. Indeks koefisien item-total sebesar 0,330-0,669. Indeks korelasi reliabilitas alpha CronbachAos dengan nilai 0,792. Analisis data awal melakukan uji asumsi normalitas dan linearitas data. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai 0. >0. yang berarti data terdistribusi normal. Pada hasil uji linearitas pada variabel religiusitas dan psychological well-being menunjukkan hasil 0. >0. yang berarti data linear. Begitu pula uji linearitas pada variabel perilaku prososial dan psychological well-being memiliki nilai 0. >0. yang menunjukkan data linear. Kedua uji asumsi ini menggunakan software SPSS. Selanjutnya dilakukan model uji analisis jalur mediasi . ediated path mode. menggunakan software JASP 0. 0 untuk mengetahui pengaruh langsung . irect effec. yaitu pengaruh religiusitas terhadap psychological well-being, pengaruh tidak langsung . ndirect effec. yaitu peran mediasi perilaku prososial pada hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being. Dalam prosedur ini, psychological wellbeing ditetapkan sebagai variabel dependen (Y), religiusitas sebagai variabel independen (X), dan perilaku prososial sebagai mediator (M). Uji asumsi normalitas menggunakan software SPSS. HASIL DAN PEMBAHASAN Data demografis responden tercantum pada tabel 1. Total responden pada penelitian ini sebanyak 202 responden mahasiswa aktivis organisasi IMM, terdiri dari 130 . ,36%) partisipan perempuan, dan 72 . ,64%) partisipan laki-laki (Lihat tabel . Tabel 1. Data Demografis Kriteria Demografi Responden Presentase Jenis Kelamin LAKI-LAKI 35,64% PEREMPUAN 64,36% Usia 0,99% 6,44% 27,72% 27,23% 25,74% 8,42% 2,48% 0,50% 0,50% Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Hal 96-110 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Berdasarkan hasil uji empirik dan hipotetik, menyatakan bahwa mean empirik variabel religiusitas lebih kecil daripada mean hipotetik . 83 < . yang berarti religiusitas yang dimiliki mahasiswa aktivis organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berada pada kategori rendah. Pada variabel perilaku prososial memiliki mean empirik lebih rendah daripada mean hipotetik . 95 < . menunjukkan bahwa mahasiswa aktivis organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berada pada kategori rendah. Begitu pula pada variabel psychological well-being memiliki mean empirik lebih rendah daripada mean hipotetik . < . yang artinya tingkat psychological well-being mahasiswa aktivis organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berada pada kategori rendah (Lihat tabel . Tabel 1. Uji Mean Empirik dan Hipotetik Mean Variabel Data Empirik Data Hipotetik Xmin Xmax Mean SD Xmin Xmax Mean SD Religiusitas Prososial PWB Keterangan Rendah Rendah Rendah Berdasarkan analisis kategori religiusitas, diperoleh hasil sebagai berikut: Variabel Religiusitas Tabel 2. Kategorisasi Religiusitas Kategori Frekuensi Rendah Sedang Tinggi Total Presentase Dari tabel 3 dapat dilihat tingkat religiusitas mahasiswa aktivis IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berada pada kategori sedang pada variabel religiusitas dengan presentase 68%, kategori tinggi dengan presentase 22%, dan kategori rendah dengan presentase 10%. Tabel 3. Kategorisasi Perilaku Prososial Variabel Kategori Frekuensi Presentasi Rendah Perilaku Sedang Prososial Tinggi Total Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa tingkat perilaku prososial pada mahasiswa aktivis organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berada pada kategori rendah dengan presentase 9%, kategori sedang dengan presentase 77%, dan kategori tinggi sebesar 14%. Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Hal 96-110 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Variabel Psychological Well-Being Table 4. Kategorisasi Psychological Well-Being Kategori Frekuensi Rendah Sedang Tinggi Total Presentase Data pada tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat psychological well-being mahasiswa aktivis organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah berada pada kategori sedang dengan presentase 75%, kategori tinggi 14%, dan kategori rendah sebesar 14%. Selanjutnya uji hipotesis penelitian menggunakan path analysis . nalisis jalu. dan perilaku prososial sebagai mediator dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini: Tabel 5. Hasil Analisis Mediasi Direct Effects Direct effects 95% Confidence Interval Estimate Religiusitas Ie Psychological WellBeing Std. Error Lower Upper 166y10-4 Note. Delta method standard errors, normal theory confidence intervals. ML estimator. Table 6. Hasil Analisis Mediasi Indirect Effects Indirect effects Confidence Interval Estimate Std. zError value Lower Upper Psychological 708 < . Well-Being Note. Delta method standard errors, normal theory confidence intervals. ML estimator. Religiusitas Ie Prososial Ie Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Hal 96-110 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Tabel 7. Hasil Analisis Jalur Total effects 95% Confidence Interval Estimate Std. zError value Lower Upper Psychological 583 < . Well-Being Note. Delta method standard errors, normal theory confidence intervals. ML estimator. Religiusitas Ie Tabel 8. Hasil Analisis Mediasi Total Effects Path coefficients 95% Confidence Interval Estimate Std. Error Lower Psychological 413 < . Well-Being Psychological 166y10Religiusitas Ie Well-Being Religiusitas Ie Prososial 524 < . Note. Delta method standard errors, normal theory confidence intervals. ML estimator. Prososial Ie Upper Analisis jalur menguji apakah terdapat pengaruh antar variabel. Pada Tabel 5 analisis jalur menunjukkan nilai sig. <0. yang membuktikan bahwa variabel religiusitas berfungsi hubungan signifikan terhadap variabel psychological well-being yang mengartikan bahwa hipotesis 1 diterima. Pada uji hipotesis 2 terlihat bahwa direct effects memiliki nilai signifikansi p<0. dengan Confidence Interval 95% (Tabel . Hasil ini memperlihatkan hubungan yang positif antara religiusitas dengan perilaku prososial. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 diterima. Selanjutnya, pengujian hipotesis 3 untuk mengetahui adanya hubungan antara perilaku prososial dengan psychological well-being. Hasil uji analisis jalur ditemukan nilai signifikansi p<0. 001, yang berarti hubungan antara perilaku prososial dengan psychological well-being signifikan. Hipotesis 3 diterima. Terlihat tabel 3 hasil analisis pengaruh tidak langsung . ndirect effect. dikarenakan adanya peran variabel lain sebagai mediator ditemukan bahwa nilai signifikansi dari indirect effects sebesar p<0. 001 dengan Confidence Interval 95% pada indirect effects tidak mencakup 0 . Dari hasil tersebut disimpulkan adanya hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being yang dimediasi oleh perilaku prososial. Hasil dari perhitungan ini menunjukkan terjadi mediasi secara parsial atau mediasi sebagian. Artinya terdapat variabel lain yang dapat menjadi mediator dari hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being. Sesuai dengan nilai estimasi pengaruhnya, nilai pengaruh tidak langsung . ndirect effect. 134 lebih besar daripada pengaruh langsung . irect effect. yaitu sebesar 0. ercantum pada tabel 2 dan tabel . Hasil uji analisis koefisien jalur . ath coefficient. untuk mengetahui peran perilaku prososial sebagai mediator hubungan religiusitas dengan psychological well-being tercantum dalam Gambar 1. Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 Gambar 1. Path Plot Pada hasil uji hipotesis 1 yaitu terdapat hubungan antara perilaku religiusitas dengan psychological well-being diterima. Hal ini berarti tingkat religiusitas pada mahasiswa aktivis organisasi IMM berpengaruh pada meningkatnya psychological well-being yang dimiliki. Hipotesis dibuktikan dengan hasil analisis jalur yang menghasilkan nilai signifikansi 0. <0. Hasil ini sepadan dengan penelitian terdahulu bahwa religiusitas dengan psychological well-being saling berhubungan satu sama lain (Fitriani, 2016. Panjaitan et al. Pada studi yang dilakukan oleh Rio . menunjukkan variabel religiusitas berhubungan secara signifikan terhadap variabel kesejahteraan psikologis dengan memberikan kontribusi sebesar 21%. Penelitian lain yang dilakukan Nusaibah . menunjukkan bahwa religiusitas dengan psychological well-being dapat berpengaruh secara langsung tanpa adanya mediator. Artinya individu yang memiliki religiusitas tinggi mampu meningkatkan psychological well-being. Selain dipengaruhi oleh religiusitas, psychological well-being juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kepribadian, dan stress. Adapun pada pengaruh eksternal yaitu budaya dan dukungan sosial (Syaputra, 2. Pada hasil uji hipotesis 2 menunjukkan adanya hubungan positif religiusitas dengan perilaku prososial. Temuan ini selaras dengan penelitian oleh Agnita dan Selviana . bahwa religiusitas memiliki hubungan yang positif dengan perilaku prososial. Peran religiusitas sangat penting dalam melandasi perilaku prososial individu. Interaksi dan relasi yang dekat antara manusia dengan Penciptanya dapat memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, sesuai ajaran agama yang diyakini (Agnita & Selviana, 2. Hasil penelitian yang dilakukan Andari dan Rizma . menunjukkan bahwa religious attitude berhubungan secara signifikan dengan perilaku prososial. Semakin tinggi religiusitas individu, semakin meningkat intensitas perilaku prososialnya. Individu yang memiliki religiusitas tinggi tidak hanya baik dalam interaksi dengan Tuhannya, melainkan juga menjalin hubungan baik dengan sesama manusia seperti membantu orang lain tanpa pamrih, menolong, dapat bekerja sama dengan baik serta menyumbang (Andari Nur Rahmawati & Fithri, 2. Lebih lanjut lagi, pada hasil uji hipotesis 3 menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku prososial dengan psychological well-being pada hasil penelitian. Artinya, semakin positif tingkat perilaku prososial individu, maka psychological well-being yang dimiliki juga meningkat. Relation positive with others . elasi positif dengan orang lai. merupakan ikatan yang intim, memedulikan, penuh kasih yang dimiliki oleh seseorang (Simanjuntak et al. , 2. Relasi positif dengan orang lain dapat menjadi aspek pengaruh tinggi dan rendahnya psychological well-being. Ketika individu dalam keadaan tertekan dan kurang dapat mengontrol emosinya akan Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 cenderung untuk abai terhadap keadaan sekitar (Supratikno et al. , 2. Perilaku prososial mahasiswa dapat diprediksi melalui konsep diri yang dimiliki, daya sepakat, empati, kedemokratisan pola asuh orang tua, dan ekstraversi. Daya sepakat dan ekstraversi termasuk dalam big five personality (Mahmudah, 2. Mahasiswa yang dapat memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan mengatakan bahwa ia merasa lebih lega dan tenang dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak ada peluang untuk membantu (Supratikno et al. Penelitian ini selaras dengan penelitian oleh Fitri dan Rinaldi . yaitu seseorang dapat mencapai kesejahteraan psikologis jika dapat mengembangkan potensi dirinya secara maksimal dan mengaplikasikan perilaku prososial di kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hal ini, disimpulkan seseorang merasa dirinya lebih baik, dapat menerima dirinya seutuhnya, serta mampu memberi bantuan untuk orang lain yang membutuhkan (Sari & Rinaldi, 2. Aspek menolong dalam perilaku prososial . ompliant prosocial behavio. merujuk pada pemberian dukungan kepada orang lain, baik secara verbal maupun non-verbal (Nasihah & Alfian, 2. Individu akan secara cepat dan tanggap dalam memberikan bantuan kepada orang lain, tanpa mengharapkan apapun. Menurut Carlo dan Randall . , jika mobilitas sosial mampu meningkatkan usia dewasa awal untuk membantu orang lain tanpa memperlihatkan siapa diri mereka (Nasihah & Alfian, 2. Hal ini terimplementasikan pada gerakan humanitas oleh mahasiswa aktivis organisasi IMM, seperti penggalangan dana saat ada bencana, berbagi makanan dan pakaian. Pada hasil uji hipotesis 4 yaitu perilaku prososial memiliki pengaruh sebagian pada hubungan antara religiusitas dengan psychological well-being. Hal ini berarti bahwa perilaku prososial hanya dapat memediasi sebagian religiusitas terhadap psychological well-being. Jadi, secara langsung religiusitas memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap psychological well-being. Individu yang memiliki religiusitas tinggi akan berdampak mana meningkatnya perilaku prososial. Namun, perilaku prososial ini tidak dapat menjadi sebab meningkatnya atau menurunnya psychological well-being berdasarkan religiusitas yang dimiliki. Selain perilaku prososial, adanya hubungan religiusitas terhadap psychological wellbeing dapat dimediasi oleh variabel lain. Kebahagiaan dapat menjadi mediator antara religiusitas dan kesejahteraan psikologis. Artinya individu tesebut merasa bahagia saat religiusitas yang dimiliki tinggi, sehingga dengan merasakan kebahagiaan, individu dapat lebih mudah menggapai kesejahteraan psikologis (Atikasari, 2. Individu yang memiliki religiusitas tinggi dapat menerima terhadap takdir yang telah Penerimaan diri ini sesuai pada dimensi dalam psychological well-being yang dapat menentukan kematangan individu, dan mampu untuk mengakui serta menerima, baik hal yang positif maupun negatif aspek dirinya (Furqani, 2. Jika religiusitas dan perilaku prososial individu tinggi, maka semakin meningkat psychological well-being yang dimiliki. Sebaliknya, jika religiusitas dan perilaku prososial rendah, maka rendah pula psychological well-being yang dimiliki. Terdapat beberapa batasan penelitian yang perlu diketahui. Pertama, sampel penelitian hanya mencakup mahasiswa aktif yang mengikuti organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Maka, hasil penelitian ini tidak dapat disamaratakan pada mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan atau Unit Kegiatan Mahasiswa Setiap organisasi memiliki dasar, value, dan budaya masing-masing dalam menyikapi berbagai hal, meskipun jika dihadapkan pada satu keadaan yang serupa. Kedua, penelitian ini menggunakan simple random sampling, yang artinya dapat memilih sampel secara acak dalam suatu populasi. Hal ini menyebabkan tidak meratanya penyebaran jumlah responden dari tiap komisariat/fakultas. Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 SIMPULAN Penelitian ini membuktikan adanya hubungan positif antara religiusitas dan psychological well-being. Jika religiusitas mahasiswa tinggi, maka semakin meningkat psychological well-being yang dimiliki. Religiusitas juga memiliki hubungan signifikan pada perilaku prososial pada mahasiswa. Artinya, ketika mahasiswa memiliki religiusitas tinggi, akan tercermin pada tingginya perilaku prososial. Selain itu, perilaku prososial memiliki hubungan yang positif yang signifikan dengan psychological well-being. Semakin baik perilaku prososial, maka psychological well-being yang dimiliki semakin baik. Perilaku prososial sebagai variabel mediasi dapat menjadi perantara secara parsial terhadap psychological well-being mahasiswa. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat variabel lain yang dapat memediasi hubungan kedua variabel pada individu. Selain itu, memungkinkan terdapat faktor internal maupun faktor eksternal yang dapat memediasi kedua variabel Saran kepada mahasiswa aktivis IMM untuk meningkatkan religiusitas dengan menambah wawasan keagamaan agar bisa meningkatkan perilaku prososial di masyarakat. Untuk penelitian selanjutnya, sangat direkomendasikan untuk memperluas cakupan responden, serta menambahkan variabel lain yang dapat memediasi hubungan kedua Rahmanil Firdaus 1*. Hazim 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 96-110 DAFTAR PUSTAKA