CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok https://doi. org/10. 25008/caraka. MUHAMMAD FANSHOBY MOCHAMAD FARHAN NASRUDIN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Indonesia ABSTRACT This study explores the dynamics of culture and self-expression within the context of social media, with a specific focus on the TikTok account @queen_ofp. Utilizing a netnographic approach and employing Hofstede's cultural theory as an analytical lens, this research investigates how cultural values are interpreted and reflected in social media content. The analysis reveals that social media, particularly TikTok, serves as a primary platform for self-expression and the debate of cultural values, notably in the context of hijab-wearing women performing sensual dances. These findings highlight the significance of digital practices in the shaping of cultural perceptions, with a transition from physical rituals to digital ones, and a narrative shift from focusing on specific individuals to collective The study also reveals how the use of symbols in digital content, as seen in FAKE BODY content, can communicate complex cultural messages. The results of this research have significant implications for cultural understanding in the digital era, demonstrating the role of social media in shaping and celebrating cultural identity, as well as the importance of an inclusive and culturally sensitive approach to diversity in social media. This study offers new insights into how social media influences and mediates cultural expression and identity in the modern era. Keywords: Culture. Self-Expression. Digital Identity. Netnography. TikTok. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi dinamika budaya dan ekspresi diri dalam konteks media sosial, dengan fokus khusus pada akun TikTok @queen_ofp. Melalui pendekatan netnografi dan menggunakan teori budaya Hofstede sebagai lensa analitis, penelitian ini menyelidiki bagaimana nilai-nilai budaya diinterpretasikan dan direfleksikan dalam konten media sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa media sosial, khususnya TikTok, berfungsi sebagai platform utama untuk ekspresi diri dan perdebatan nilai budaya, terutama dalam konteks perempuan berhijab yang menampilkan tarian Temuan ini menyoroti pentingnya praktik digital dalam pembentukan persepsi budaya, dengan pergeseran dari ritual fisik ke digital, dan pergeseran naratif dari fokus pada individu tertentu menjadi ekspresi kolektif. Penelitian ini juga mengungkapkan bagaimana penggunaan simbol dalam konten digital, seperti yang terlihat dalam konten Fake Body, dapat mengkomunikasikan pesan budaya yang kompleks. Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting untuk pemahaman budaya dalam era digital, menunjukkan peran media sosial dalam membentuk dan merayakan identitas budaya, serta pentingnya pendekatan inklusif dan sensitif terhadap keberagaman budaya dalam media sosial. Penelitian ini menawarkan wawasan baru tentang bagaimana media sosial mempengaruhi dan memediasi ekspresi budaya dan identitas di era modern. Kata Kunci: Budaya. Ekspresi Diri. Identitas Digital. Netnografi. TikTok Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 AuthorAos email correspondent: fanshoby@uinjkt. The author declares that she/he has no conflict of interest in the research and publication of this manuscript Copyright A 2025: Muhammad Fanshoby Licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 (CC BY-SA 4. Available at http://caraka. Submitted: September 18, 2025. Revised: 22/ September 22, 2025. Accepted: December 1, 2025 PENDAHULUAN Konten sensual yang menampilkan perempuan berhijab di TikTok memunculkan Meski begitu, jumlah penonton konten sensual itu cukup tinggi. Fenomena penggambaran perempuan secara sensual di TikTok, khususnya mereka yang mengenakan hijab sambil menonjolkan kontur tubuh, menimbulkan tantangan yang signifikan. Idealnya, wanita berhijab seharusnya tidak terlibat dalam tindakan semacam itu, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Apalagi ditampilkan di media sosial seperti TikTok. Dalam Islam, kriteria berpakaian bagi para pengikutnya tidak didasarkan pada kemewahan, gaya modis, desain dari perancang ternama, atau kebaruan. Kriteria berpakaian menurut Islam meliputi beberapa aspek penting: pertama, pakaian harus menutupi seluruh tubuh kecuali bagian yang diizinkan terlihat, seperti wajah dan telapak tangan. Kedua, pakaian tidak boleh terbuat dari kain tipis atau ketat yang memperlihatkan lekukan tubuh. Ketiga, pakaian seharusnya longgar, memberikan kenyamanan dan memudahkan aktivitas Keempat, pakaian tidak boleh meniru pakaian wanita non-Muslim. Terakhir, pakaian bukan sarana untuk mencari popularitas. Keseluruhan kriteria ini menekankan pada aspek kesederhanaan, kenyamanan, dan pemenuhan syarat-syarat kepatutan menurut ajaran Islam (Sabiq, 1. Saat ini, terdapat prevalensi yang mencolok dari wanita berhijab di TikTok dalam penggambaran sensual yang mengungkapkan bentuk tubuh mereka. Penggambaran itu memiliki dampak negatif terhadap masyarakat. Tren ini tidak hanya mempengaruhi stigma sosial tetapi juga mendorong imitative culture. Dalam konteks media sosial seperti TikTok, imitative culture dapat terjadi ketika pengguna meniru gaya, perilaku, atau konten yang mereka lihat dalam video yang populer atau viral, terutama di TikTok. TikTok memungkinkan setiap pengguna untuk menghasilkan konten sebagai unit produksi nilai budaya independen (Zuo & Wang, 2. Selain itu, algoritma TikTok merekomendasikan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Pengguna dapat dengan mudah menemukan pembuat konten yang memiliki minat yang sama. Secara alami, jejaring sosial dibuat berdasarkan minat asli mereka (Kang & Lou, 2. Algoritma TikTok yang mempertemukan pengguna dengan konten yang sesuai minatnya membentuk jaringan sosial berdasarkan ketertarikan asli sehingga memperkuat budaya follower. Setiap pengguna menjadi produsen nilai budaya mandiri, mendorong terbentuknya komunitas yang berdasarkan minat bersama, yang mengukuhkan fenomena follower di platform TikTok. Termasuk dalam hal ini adalah minat terhadap konten sensual berhijab. Ditambahkan lagi dengan adanya aplikasi TikTok, masyarakat kini dapat dengan mudah memenuhi berbagai kebutuhannya tanpa terikat waktu. TikTok telah memudahkan akses terhadap hiburan, memungkinkan pengembangan keterampilan seperti menari, menyanyi, dan sulih suara, serta menyediakan sarana hiburan pribadi untuk kepuasan diri sendiri dan orang lain (Rosidah et al. , 2. TikTok, menurut laporan We Are Social per April 2023, telah menjadi media sosial populer dengan 1,09 miliar pengguna global, mengalami pertumbuhan 12,6% year-on-year Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 dan peningkatan 3,9% dari kuartal sebelumnya. Amerika Serikat memimpin dengan 116,49 juta pengguna, diikuti oleh Indonesia dengan 112,97 juta pengguna, yang hanya berbeda 3,52 juta dari AS, sementara Brasil dan Meksiko mengikuti dengan 84,13 juta dan 62,44 juta Laporan tersebut juga menunjukkan dominasi pengguna perempuan di TikTok di semua kelompok usia, terutama di kelompok usia 18-24 tahun (Santika, 2. Aplikasi ini menarik perhatian lintas generasi, mulai dari remaja hingga anak-anak, karena kemudahannya dalam menyediakan hiburan dan informasi. Pengguna dari berbagai usia dan latar belakang dapat dengan mudah membuat atau menikmati video, serta mengakses informasi terkini dari beragam bidang seperti bisnis dan berita. Aplikasi ini khususnya populer di kalangan perempuan, terutama untuk konten tarian (Aprilian et al. Berdasarkan demografi. TikTok populer di kalangan generasi muda, dengan kelompok usia terbesar antara 18 dan 34 tahun. Ini mencakup 37. 3% pengguna berusia 18-24 tahun 9% berusia 25-34 tahun. Secara global, sekitar 49. 2% pengguna TikTok adalah perempuan, dan 50. 8% adalah laki-laki (GilPress, 2. Video di TikTok cenderung sangat singkat, biasanya berdurasi antara 15 hingga 60 Video-video ini sering kali sangat menghibur, informatif, dan menarik secara visual. Karena sifatnya yang singkat dan hiburan yang ditawarkan, pengguna cenderung lebih sering men-scroll video yang tidak langsung menarik perhatian mereka (Drips. ai, 2. TikTok dikenal dengan sistem rekomendasi kontennya yang canggih dan adiktif, termasuk fitur seperti efek khusus dan filter, yang mendorong ekspresi kreatif dan sosialisasi yang menyenangkan (Zeng et al. , 2. Banyak orang di seluruh dunia memakai media sosial untuk berbagai hal, seperti ikut tantangan tarian, membahas politik, atau mengucapkan ulang tahun ke keluarga yang jauh. Tiap postingan di media sosial itu seperti menyatakan sesuatu yang penting, yang disebut penegasan nilai kecil (Gillespie, 2. Termasuk di dalamnya adalah postingan yang berisi konten sensual. Orang lain bisa menilai postingan itu dengan memberi suka, komentar, atau Meskipun nilai dan cara menilai itu penting di dunia digital, belum banyak yang meneliti bagaimana pengguna membuat nilai-nilai ini. Ini karena dunia digital itu besar dan tidak terpusat. Dengan banyaknya konten dan tren baru yang cepat muncul, dunia konten buatan pengguna bisa terlihat kacau. Lagi pula, media sosial yang melintasi negaranegara membuatnya lebih rumit, karena cara orang membuat konten digital di satu tempat bisa beda dengan tempat lain. Tapi, diyakini ada pola komunikasi khusus yang ada di semua tempat ini, yang disebut "ritual media sosial", dan ini ada di balik kekacauan yang terlihat itu (Trilly et al. , 2. , sehingga penelitian tentang budaya dalam setiap postingan di media sosial terutama TikTok menjadi penting dilakukan. Beberapa penelitian terdahulu telah mengeksplorasi berbagai aspek penggunaan TikTok, memberikan konteks yang penting untuk studi ini. Salah satunya adalah karya Indah Kemala Dewi Barus yang berjudul "TikTok Dan Kesenangan Seksual Kaum Perempuan. Menggunakan metode Etnografi, studi itu mengungkap bagaimana perempuan, sebagai subjek aktif dalam perubahan sosial, menggunakan media sosial pada perempuan berhijab (Barus, 2. Selanjutnya, ada penelitian oleh Shariniyati Putri Sultan Abdul Rahman dengan judul "Penggunaan TikTok Sebagai Media Sosial dalam Menunjukkan Eksistensi Diri. " Studi ini, yang berlandaskan pada teori Fenomenologi Alfred Schutz, mengeksplorasi penggunaan Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 TikTok oleh mahasiswa sebagai sarana ekspresi diri dan untuk mengetahui motif di balik penggunaannya (Rahman, 2. Terakhir. Lutfii Mei Damayanti mengangkat topik "Konstruksi Etis Tubuh Bergoyang Pada TikTokers Berhijab Generasi Millenial di Kabupaten Gresik. " Melalui pendekatan kualitatif dan studi kasus, penelitian itu menyimpulkan bahwa tiktokers perempuan berhijab yang menampilkan gerakan sensual pada awalnya hanya sebagai bentuk hiburan pribadi, namun kemudian menjadi bagian dari tren dan gaya yang berkembang di TikTok (Mei Damayanti, 2. Semua penelitian ini secara bersamaan memberikan wawasan luas tentang bagaimana TikTok digunakan oleh berbagai kelompok sosial, termasuk perempuan berhijab, dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Namun penelitian sebelumnya belum memberikan wawasan terhadap konten sensual dengan hijab di TikTok. Adapun penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana budaya yang ada pada akun TikTok @queen_ofp dapat dipahami melalui lensa teori budaya Hofstede. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memahami kesan dan reaksi yang muncul dari para pengikut terhadap konten sensual yang diunggah di akun tersebut. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan menganalisis simbol, ritual, tokoh, dan nilai yang ada dalam konten akun TikTok @queen_ofp, tetapi juga akan memperoleh pengetahuan mendalam tentang bagaimana pengikut merespon konten sensual tersebut. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga mengenai dinamika interaksi dalam komunitas media sosial, khususnya dalam konteks konten joget sensual yang melibatkan wanita berhijab. KERANGKA TEORI Media sosial dewasa ini tidak hanya dipahami sebagai medium komunikasi, tetapi juga sebagai arena budaya tempat berlangsungnya produksi, pertukaran, dan negosiasi makna. Platform seperti TikTok menghadirkan ruang interaktif berbasis video singkat yang memungkinkan pengguna menampilkan identitas, melakukan ekspresi estetis, serta berpartisipasi dalam praktik kultural global maupun lokal. TikTok berfungsi sebagai networked public di mana berbagai simbol, nilai, dan representasi dipertukarkan secara terus-menerus. Dalam konteks ini, isu-isu seperti sensualitas, hijab, dan konstruksi identitas menjadi bagian penting dari dinamika budaya digital yang berkembang. Untuk membaca fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi sebagaimana dirumuskan oleh Kozinets. Netnografi merupakan adaptasi metode etnografi untuk meneliti praktik budaya dalam komunitas daring dengan menekankan pada observasi partisipatif, analisis interaksi, serta interpretasi simbol-simbol yang muncul di ruang digital. Melalui netnografi, peneliti dapat mengkaji bagaimana pengguna TikTok dengan identitas berhijab atau menampilkan sensualitas tubuh menegosiasikan makna budaya, sekaligus bagaimana interaksi antar pengguna membentuk narasi kolektif tentang moralitas, estetika, dan religiusitas. Kerangka analisis utama dalam penelitian ini merujuk pada teori budaya Hofstede yang membagi manifestasi budaya ke dalam empat elemen, yaitu simbol, pahlawan, ritual, dan Simbol dapat berupa busana, hijab, gerakan tubuh, hingga penggunaan filter TikTok yang mewakili identitas tertentu. Pahlawan tercermin pada figur kreator populer, baik seleb hijabers maupun influencer yang menampilkan sensualitas, yang kemudian menjadi rujukan dan panutan komunitas Ritual tampak pada partisipasi dalam tren challenge, tarian, atau narasi religius yang Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 diulang secara kolektif dan menjadi praktik sosial rutin. Nilai merujuk pada orientasi budaya mendasar, misalnya ketegangan antara moralitas agama, kebebasan berekspresi, estetika visual, dan daya tarik populer yang ditampilkan di TikTok. Dengan mengintegrasikan netnografi ala Kozinets dan teori Hofstede, penelitian ini memandang TikTok sebagai arena budaya di mana identitas religius dan sensualitas dinegosiasikan secara simultan. Hijab di media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai simbol kesalehan, tetapi juga sebagai bagian dari estetika dan gaya hidup yang dapat dipadukan dengan performativitas tubuh. yang ditampilkan para kreator menjadi cair, hibrid, dan dinamis, karena terus terbentuk melalui interaksi antara nilai-nilai religius, norma sosial, dan algoritma platform yang mendorong visibilitas konten tertentu. Dengan demikian, kerangka teori ini memungkinkan analisis yang mendalam tentang bagaimana budaya populer dan religiusitas saling bertemu, bertentangan, sekaligus bertransformasi di dalam praktik keseharian digital di TikTok. METODOLOGI Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif, mengadopsi paradigma Paradigma ini berargumen bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi mental dan pengalaman subjektif, menekankan eksplorasi konstruksi subjek terhadap realitas sosial mereka. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menghasilkan data deskriptif dan memahami makna fenomena budaya, dengan fokus pada proses dan keaslian. Subjek penelitian ini adalah konten dari akun @queen_ofp pada platform media sosial TikTok. Studi ini berfokus pada netnografi budaya pengikut akun TikTok @queen_ofp, dengan penekanan khusus pada representasi sensualitas wanita berhijab. Menggunakan metodologi kualitatif dengan netnografi ala Kozinets, penelitian ini bertujuan menganalisis elemen budaya . itual, nilai, simbol, pahlawa. dalam konteks teori Hofstede. Pendekatan ini, yang naturalistik, mengumpulkan data melalui dokumen, catatan lapangan, dan ekspresi responden, baik verbal maupun non-verbal, untuk mengungkap pola interaksi dan memahami realitas kompleks. Durasi penelitian dilakukan selama lima bulan, mulai dari Juli hingga Agustus 2023. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi, observasi, dan wawancara, termasuk penggunaan teknologi komunikasi modern. Dokumentasi dan observasi berdasarkan akun TikTok @queen_ofp dan wawancara terhadap 3 orang informan yang menjadi follower/pengikut berdasarkan akun TikTok @queen_ofp. Analisis data mengikuti kerangka kerja Miles dan Huberman, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Metodologi ini dirancang untuk memahami bagaimana budaya pengikut di TikTok @queen_ofp mengonstruksi realitas sosial, terutama dalam konteks sensualitas dan hijab. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan nuansa tentang fenomena sosial ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya Temuan ini didasarkan pada budaya, sebagaimana dijelaskan oleh Geert Hofstede, budaya direpresentasikan dengan metafora yang dikenal sebagai model bawang. Menurut model ini, budaya terdiri dari empat lapisan. Lapisan terdalam adalah nilai-nilai dari budaya Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Lapisan yang berada di bawahnya adalah ritual. Lapisan ketiga adalah pahlawan, dan lapisan terluar adalah simbol-simbol. Nilai Nilai adalah gagasan yang menggambarkan apa yang dianggap penting dalam hidup, asumsi, panduan mengenai benar dan salah, baik dan buruk. Temuan lapisan ini berdasarkan konten Fake Body pada akun TikTok @queen_ofp. Gambar 1. Judul konten AuFake BodyAy Berdasarkan observasi, peneliti melihat konten tarian sensual di akun TikTok @queen_ofp mencerminkan nilai-nilai penting dalam budaya kontemporer, terutama terkait dengan kebebasan individu, ekspresi diri, dan penerimaan keberagaman budaya. Konten ini menunjukkan bagaimana individu berhak untuk mengekspresikan diri sesuai dengan preferensi pribadi mereka, yang tercermin melalui gerakan bebas dan tanpa tekanan Selanjutnya, aspek ekspresi diri menjadi tema kuat, di mana pembuat konten mengekspresikan perasaan, emosi, dan identitas mereka secara unik dan kreatif melalui Nilai ketiga, penerimaan budaya, terlihat dari integrasi elemen budaya yang beragam, menunjukkan apresiasi terhadap keberagaman budaya. Namun, nilai-nilai ini menghadapi pandangan yang berbeda di antara pengikutnya. Beberapa pengikut melihat konten ini sebagai representasi positif dari kebebasan individual dan ekspresi diri, sementara yang lain menganggapnya sebagai dilema antara nilai-nilai budaya dan agama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konten tarian sensual di akun @queen_ofp adalah manifestasi dari nilai-nilai seperti kebebasan individual, ekspresi diri, dan penerimaan budaya, namun dengan pandangan yang beragam di antara pengikutnya. Hal ini menyoroti kompleksitas dalam penerimaan dan interpretasi konten berdasarkan nilai budaya dan agama individu, khususnya dalam konteks perempuan Penelitian ini memberikan pemahaman lebih dalam mengenai kompleksitas budaya dalam konten tarian sensual dan bagaimana ini mempengaruhi persepsi Berikut hasil wawancara terhadap beberapa pengikut akun TikTok @queen_ofp: Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Informan 1: AuTidak sepatutnya menampilkan gaya yang terlalu memancing daya tarik dari seorang pria menuju pada pemikiran-pemikiran negatif sehingga pada akhirnya tujuan si pembuat video dan penonton menjadi berbeda. Ay Informan 2: AuMenurut saya, konten ini seharusnya tidak untuk di-upload dikarenakan tidak ada unsur positif. Si pembuat konten hanya memikirkan eksistensinya daripada etika yang seharusnya. Ay Informan 3: AuKalau saya berkomentar ke arah agama tentu perilaku ini tidak pantas untuk ditiru, dikarenakan menyalahkan sebagaimana baiknya perempuan dalam berperilaku yaitu tidak memamerkan lekuk tubuh selain kepada suaminya. Ay Ritual Berdasarkan observasi peneliti pada lapisan ritual menunjukkan bahwa tindakan dan praktik yang muncul dalam konten berjoget sensual pada konten Fake Body pada akun TikTok @queen_ofp mencerminkan elemen-elemen yang berpengaruh dalam membentuk kesan dan persepsi para pengikut. Analisis terhadap metode tarian, seleksi kostum, dan komunikasi pesan dalam konten tersebut memberikan pemahaman tentang pengaruh kreator dalam menentukan pengalaman dan pandangan pengikut. Elemen pertama, teknik tarian, merupakan komponen krusial dalam menyampaikan isi konten. Gerakan dan koreografi yang dipilih oleh pembuat konten mengekspresikan sensualitas dan keyakinan diri, sekaligus berfungsi untuk menarik perhatian dan membangkitkan respons emosional Elemen kedua, seleksi kostum dalam tarian sensual memegang peranan vital dalam menciptakan impresi tertentu. Kostum yang menonjol dan sensual berpotensi mempengaruhi persepsi pengikut terkait sensualitas dan ekspresi diri kreator. Pilihan kostum juga mencerminkan upaya pembuat konten dalam mengkomunikasikan identitas dan citra diri melalui aspek visual. Ketiga, komunikasi pesan dalam konten tarian sensual berdampak pada persepsi dan reaksi pengikut. Pesan yang disampaikan melalui gerakan dan ekspresi wajah dapat memiliki interpretasi yang beragam, bergantung pada konteks budaya, agama, dan pandangan individu pengikut. Cara penyampaian pesan ini juga mempengaruhi penilaian pengikut mengenai kesesuaian konten dengan nilai-nilai budaya dan agama Namun, perlu dicatat penerapan teknik tarian, pemilihan kostum, dan komunikasi pesan tidak selalu diterima positif oleh seluruh pengikut. Beberapa pengikut mungkin menganggapnya sebagai bentuk ekspresi kebebasan dan pengaruh yang positif, sementara yang lain memiliki pandangan berbeda terkait kesesuaian praktik dan aksi dalam konten dengan nilai-nilai mereka. Temuan ini menegaskan bahwa studi tentang aspek ritual dalam konten tarian sensual mengungkap bagaimana tindakan dan praktik yang dipresentasikan mempengaruhi persepsi dan pandangan pengikut. Teknik tarian, seleksi kostum, dan komunikasi pesan menjadi aspek penting dalam membentuk impresi dan respons terhadap konten tarian sensual. Penelitian ini memberikan wawasan lebih mendalam tentang cara pembuat konten mempengaruhi pengalaman pengikut melalui elemen-elemen ritual yang disajikan dalam konten tarian sensual mereka di media sosial. Berikut beberapa komentar dari para followers terhadap konten Fake Body pada akun TikTok @queen_ofp: Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Gambar 2. Komentar pada konten AuFAKE BODYAy Pahlawan Berdasarkan observasi peneliti pada lapisan pahlawan menunjukkan bahwa tidak ada pahlawan yang menjadi figur sentral dalam memengaruhi isi dan pesan dari konten Fake Body di akun TikTok @queen_ofp. Pahlawan dalam konteks ini adalah individu yang memainkan peran sentral dan memengaruhi isi dan pesan dari konten tersebut. Pahlawan dalam hal ini merujuk pada individu yang secara aktif terlibat dalam penyajian konten dan menjadi pusat perhatian para pengikut. Pahlawan dipotret bahwa mereka sering kali berperan sebagai figur sentral yang menarik perhatian dalam aksi tarian sensual. Karakteristik fisik dan penampilan menarik mereka berkontribusi signifikan terhadap cara mereka dipersepsi dan direspon oleh Peran pahlawan ini penting dalam membentuk persepsi dan pengaruh mereka terhadap audiens. Cara pahlawan dipresentasikan dan diterima oleh pengikut. Simbol Berdasarkan observasi peneliti pada lapisan simbol menunjukkan terdapat beragam simbol-simbol yang digunakan dalam konten tersebut untuk menyampaikan pesan dan makna budaya tertentu. Simbol-simbol ini meliputi gerakan tubuh, kostum, dan unsur-unsur visual lain yang berperan dalam membentuk persepsi dan interpretasi audiens. Aspek pertama, simbol gerakan tubuh dalam konten tarian sensual, memainkan peran kunci dalam menyampaikan pesan dan nilai-nilai budaya. Gerakan tubuh yang sensual dan ekspresif digunakan untuk mengekspresikan kebebasan individu dan ekspresi diri yang kuat. Gerakan ini mencerminkan cara pembuat konten mengungkapkan diri mereka dengan cara yang bebas dan percaya diri. Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Aspek kedua, simbol dalam pemilihan kostum pada konten tarian sensual juga mengandung makna budaya yang signifikan. Kostum yang dipilih oleh pembuat konten mencerminkan keinginan mereka untuk menampilkan diri dengan citra yang menarik dan Kostum yang sensual dan menarik perhatian diarahkan untuk mengekspresikan sensualitas dan kepercayaan diri. Selanjutnya, simbol-simbol dalam elemen visual lainnya, termasuk latar belakang dan aksesori, juga berkontribusi dalam menyampaikan pesan budaya. Pilihan latar belakang dan aksesori dapat mengindikasikan tema dan pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat Namun, interpretasi simbol-simbol ini bisa berbeda-beda tergantung pada latar belakang budaya, agama, dan pandangan pribadi para pengikut. Beberapa mungkin mengartikan simbol-simbol ini sebagai wujud kebebasan dan ekspresi diri yang positif, sementara yang lain mungkin memandangnya berbeda terkait kesesuaian dengan nilai-nilai budaya dan agama yang mereka pegang. Temuan ini menegaskan bahwa analisis simbolis dalam konten tarian sensual mengungkap penggunaan beragam simbol untuk menyampaikan pesan dan nilai budaya Gerakan tubuh, kostum, dan unsur visual lainnya diaplikasikan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai seperti kebebasan individu, ekspresi diri, dan sensualitas. Namun, perbedaan pandangan dan interpretasi dari pengikut menunjukkan kompleksitas dalam pemahaman dan penerimaan simbol-simbol tersebut sesuai dengan keragaman nilai budaya dan agama. Studi ini memberikan wawasan lebih mendalam tentang bagaimana simbol-simbol dalam konten tarian sensual mempengaruhi persepsi dan pandangan pengikut. Berikut beberapa hasil wawancara dengan followers/pengikut: Informan 1: AuBaju yang dikenakan bagus, tapi amat disayangkan bajunya terlalu ketat sehingga menampilkan lekuk tubuh. Ay Informan 2: AuBaju yang dikenakan tidak menggambarkan kesopanan terlebih yang memakai adalah perempuan berhijab. Ay Informan 3: AuBaju yang dikenakan oleh Oklin tidak seharusnya seperti itu . , karena fungsi baju adalah menutup aurat dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Ay Sensual Sensualitas, yang diwujudkan melalui serangkaian gerakan dan perilaku bertujuan untuk menarik perhatian audiens dan sering kali memicu respons seksual, didefinisikan dalam dua bentuk: verbal dan nonverbal. Sensualitas verbal biasanya dikenali melalui penggunaan suara yang khas, seperti intonasi atau nada yang menekankan seksualitas, contohnya melalui desahan atau suara tinggi. Di sisi lain, sensualitas nonverbal ditandai oleh gestur, sentuhan, atau aspek penampilan. Penelitian terhadap konten Fake Body di akun TikTok @queen_ofp menunjukkan dominasi sensualitas nonverbal dalam kontennya. Analisis terhadap konten ini menemukan bahwa tarian sensual di akun tersebut mengandung unsur nonverbal yang signifikan dalam menyampaikan pesan sensual dan menarik perhatian pengikut. Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 Pertama, ekspresi tubuh yang sensual dan ekspresif menjadi karakteristik utama dalam konten ini. Gerakan tubuh yang menggoda dan penuh ekspresi digunakan untuk menarik perhatian dan membangkitkan emosi pengikut. Konten tarian sensual ini menampilkan ekspresi tubuh yang mengkomunikasikan kebebasan individu dan kepercayaan diri dalam menyampaikan pesan sensualitas. Kedua, pemilihan kostum yang sensual dan mencolok berperan penting dalam tarian Kostum yang menarik perhatian dan sensual dipilih untuk mengintensifkan pesan sensualitas dalam tampilan. Pilihan kostum ini mencerminkan keinginan pembuat konten untuk menampilkan diri dengan citra yang menekankan aspek sensual dan percaya diri. Selanjutnya, penggunaan latar belakang atau setting yang mendukung tema sensual menjadi elemen nonverbal yang mempengaruhi kesan dalam tarian tersebut. Latar belakang yang menarik dan mendukung pesan sensualitas digunakan untuk menciptakan atmosfer yang lebih intens dan menarik perhatian pengikut. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam konten TikTok @queen_ofp, sensualitas nonverbal merupakan elemen dominan yang menyampaikan pesan sensual dan menarik perhatian pengikut. Ekspresi tubuh yang sensual, pemilihan kostum yang seksi, dan penggunaan latar belakang yang mendukung tema sensual, semuanya berkontribusi dalam mengkomunikasikan pesan kebebasan individu dan ekspresi diri yang sensual. Temuan ini memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana unsur-unsur nonverbal mempengaruhi persepsi dan pandangan pengikut terhadap konten tarian sensual di media Berikut hasil dari wawancara bersama followers: Informan 1: AuKonten ini menyebabkan beberapa pasang mata atau penonton menjadi bergairah atas apa yang ditampilkan dalam video ini terutama pada objek si pembuat video. Ay Informan 2: AuKonten ini menggambarkan perilaku yang tidak patut dicontoh, mengapa? Karena dalam konten ini si pembuat konten sengaja untuk memperlihatkan lekuk Dari mulai gestur berjogetnya dan pakaian yang dia kenakan terlalu ketat sehingga menampakkan buah dada. Ay Informan 3: AuKalau dilihat dari segi agama menurut saya konten ini menghilangkan fungsi utama dari pakaian/baju. Karena fungsi pakaian itu menutup aurat dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Dalam video ini terlihat jelas lekuk tubuh yang ditampilkan, sehingga kemungkinan mengundang hasrat laki-laki. Ay Interpretasi Nilai dalam TikTok Temuan di atas mengungkapkan bagaimana media sosial seperti TikTok berperan sebagai platform untuk mengekspresikan dan memperdebatkan nilai budaya. Konten tarian sensual di akun @queen_ofp, yang mencerminkan nilai kebebasan individu, ekspresi diri, dan penerimaan keberagaman, menyoroti bagaimana norma-norma dan nilai-nilai budaya kontemporer diinterpretasikan dan direfleksikan dalam media sosial. Fenomena ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan media sosial sebagai arena interaksi sosial yang kaya, di mana pengguna tidak hanya berpartisipasi dalam budaya populer tetapi juga membentuk dan menegosiasikan identitas dan nilai mereka Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 (Uur Gyndyz et al. , 2. Selain itu, individu yang mengekspresikan diri secara otentik di media sosial melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi tempat di mana individu merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kepribadian mereka, yang secara positif berdampak pada kesejahteraan subjektif mereka (Bailey et al. , 2. Dalam konteks memperdebatkan nilai budaya di media sosial, pengguna media sosial cenderung lebih dipengaruhi oleh postingan yang melanggar nilai budaya daripada postingan yang mendukung nilai-nilai budaya mereka. Ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya platform untuk mencerminkan nilai-nilai budaya kontemporer, tetapi juga tempat di mana interpretasi dan refleksi nilai-nilai ini terjadi (Hsu et al. , 2. Ritual of Sensation dalam Konteks Digital Hasil penelitian mengenai aspek ritual dalam konten Fake Body pada akun TikTok @queen_ofp menyoroti pentingnya praktik digital dalam pembentukan persepsi budaya. Tindakan dan praktik yang muncul dalam konten ini bukan hanya sekedar bentuk hiburan, tetapi juga sebagai cara untuk mengkomunikasikan dan merayakan aspek tertentu dari Hal ini menandai pergeseran dari ritual fisik ke digital, yang sesuai dengan temuan terkini yang menunjukkan bagaimana ritual dalam era digital mengalami transformasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Penelitian lain yang dilakukan oleh Abel et al. dalam artikel "Social media rituals and long-distance family relationship maintenance: A mixed-methods systematic review," terjadi pergeseran signifikan dari ritual fisik ke digital dalam konteks menjaga hubungan keluarga jarak jauh melalui media sosial. Pemeliharaan hubungan keluarga ini meliputi berbagai praktik seperti berbagi cerita dan ritual melalui media sosial, serta menyesuaikan interaksi keluarga dengan format digital. Ini menunjukkan perubahan cara keluarga berkomunikasi dan berinteraksi dalam konteks global dan digital (Abel et al. , 2. Dalam penelitian yang lain mengatakan bahwa ritual dalam konteks penelitian ini disebut dengan Rituals of Sensation. Ritual sensasi berusaha menghasilkan keadaan pikiran atau kesadaran yang berubah melalui stimulasi media (Trilly et al. , 2. Dengan melihat konten sensual berhijab yang ditampikan dalam akun TikTok @queen_ofp, para pengikut mendapatkan kesenangan secara visual. Ritual semacam itu didasarkan pada estetika . rang harus mengolah dan menentukan hal-hal yang menyenangkan indra, terutama penglihata. dan kesenangan . rang harus mencari pengalaman yang menyenangkan dan Peran Pahlawan dalam Narasi Digital Ketiadaan pahlawan sebagai figur sentral dalam konten Fake Body pada akun TikTok @queen_ofp mengindikasikan pergeseran naratif dalam media digital. Ini menunjukkan bahwa dalam era media sosial, pesan dan ekspresi kolektif menjadi lebih penting daripada fokus pada individu tertentu. Fenomena ini mendukung teori bahwa media sosial Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 mengutamakan kreativitas dan partisipasi kolektif daripada narasi yang dipimpin oleh figur Teori itu didukung oleh penelitian yang berjudul "Theorizing Social Media and Activism: Where is Community Development?" yang mengkaji evolusi peran media sosial dalam pengembangan komunitas dan aktivisme. Penelitian ini menyoroti peralihan dari narasi yang dipimpin oleh figur-figur sentral ke pendekatan yang lebih desentralisasi dan kolektif. Penekanannya adalah bagaimana media sosial mendorong bentuk keterlibatan yang lebih demokratis dan partisipatif, di mana suara individu dan aksi dari akar rumput menjadi lebih menonjol daripada struktur hierarki. Perubahan ini menekankan pentingnya kreativitas kolektif dan kekuatan inisiatif yang didorong oleh komunitas dalam membentuk diskusi sosial dan politik di platform digital (McCabe & Harris, 2. Sementara penelitian lain yang berjudul "Authentic self-expression on social media is associated with greater subjective well-being" menunjukkan perubahan signifikan dalam penggunaan media sosial. Penelitian ini menekankan pentingnya ekspresi diri yang autentik dan kreativitas individu daripada narasi yang dikendalikan oleh figur sentral. Hasil penelitian ini menyoroti bagaimana bentuk interaksi yang lebih tulus di platform media sosial berkontribusi positif terhadap kesejahteraan pengguna. Perubahan ini mencerminkan pergeseran dari struktur narasi tradisional yang topdown menjadi pendekatan yang lebih demokratis dan didorong oleh pengguna dalam menciptakan konten dan interaksi di platform media sosial (Bailey et al. , 2. Simbolisme dan Interpretasi Budaya Penggunaan simbol dalam konten Fake Body di TikTok mencerminkan bagaimana elemen visual dan non-verbal dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pesan budaya yang kompleks. Gerakan tubuh, kostum, dan elemen visual lainnya bukan hanya dekoratif, tetapi juga membawa makna dan interpretasi yang mendalam. Hal ini menegaskan pentingnya pemahaman simbolisme dalam studi media digital tentang simbolisme dalam media sosial. Dalam penelitian yang berjudul "Understanding Non-Verbal Communication across Cultures: A Symbolic Interactionism Approach" mengemukakan bagaimana komunikasi nonverbal, seperti isyarat, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, memainkan peran penting dalam menyampaikan pesan budaya yang kompleks. Penelitian ini menyoroti bahwa elemenelemen tersebut dapat efektif dalam mengkomunikasikan norma sosial, emosi, dan niat, yang sering kali spesifik budaya (Adetunji & Sze, 2. Pemahaman ini sangat relevan dalam konteks media sosial, di mana elemen visual dan non-verbal sangat penting untuk berkomunikasi lintas budaya yang beragam. Penelitian lain juga mengungkapkan isyarat non-verbal, seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah, memainkan peran kunci dalam menyampaikan pesan dan emosi yang sering kali tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata (Diaz, 2. Dalam konteks media sosial, elemen visual dan non-verbal memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan pesan budaya yang kompleks. Media sosial, yang sering kali bersifat visual dan interaktif. Media Sosial sebagai Arena Budaya: Sensualitas. Hijab, dan Identitas di TikTok CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 373-386 memungkinkan individu dan kelompok untuk mengekspresikan identitas dan nilai budaya mereka melalui berbagai cara, termasuk melalui penggunaan simbol, warna, gestur, dan ekspresi wajah. KESIMPULAN Penelitian ini telah mengungkapkan bagaimana media sosial, khususnya TikTok, menjadi medium penting dalam ekspresi dan dialog nilai budaya. Dengan menggunakan lensa teori budaya Hofstede, analisis konten dari akun TikTok @queen_ofp menunjukkan bagaimana nilai kebebasan individu, ekspresi diri, dan penerimaan keberagaman dinyatakan dan direfleksikan. Tarian sensual yang ditampilkan mencerminkan adaptasi dan interpretasi nilai-nilai budaya kontemporer dalam konteks media sosial. Ritual digital dalam konten akun tersebut, terutama yang terkait dengan konsep Fake Body, menyoroti transformasi ritual dari fisik menjadi digital. Ini membuktikan pergeseran cara budaya dipraktikkan dan dirayakan, menyesuaikan dengan lingkungan digital yang Tindakan dan praktik dalam konten ini lebih dari sekadar hiburan. mengkomunikasikan dan merayakan aspek tertentu dari budaya. Penelitian ini juga menemukan pergeseran naratif dalam media digital, di mana tidak ada tokoh pahlawan sentral dalam konten Fake Body. Fenomena ini menunjukkan bahwa era media sosial lebih mementingkan ekspresi dan partisipasi kolektif daripada narasi yang dipimpin oleh individu. Ini sesuai dengan teori media sosial yang menekankan kreativitas kolektif dan partisipasi dalam pembentukan narasi. Terakhir, penggunaan simbol dalam konten Fake Body di TikTok menunjukkan bagaimana elemen visual dan non-verbal digunakan untuk mengkomunikasikan pesan budaya yang kompleks. Gerakan tubuh, kostum, dan elemen visual lainnya bukan hanya elemen dekoratif, tetapi pembawa makna dan interpretasi yang mendalam, menegaskan pentingnya pemahaman simbolisme dalam studi media digital. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana budaya direfleksikan dan dibentuk ulang dalam era digital, khususnya melalui platform media sosial seperti TikTok. Ini menyoroti dinamika interaksi antara budaya tradisional dan kontemporer, serta peran media sosial dalam membentuk narasi budaya. REFERENSI