BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 Implementasi Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Seni Tari Di SMPN 1 Sukadana Dwi Oktariani1. Imam Ghozali2. Christianly Y. Silaban3* 1Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan. Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Universitas Tanjungpura. Kota Pontianak. Indonesia Email: 1dwi. oktariani@fkip. Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan implementasi kearifan lokal dalam pembelajaran Seni Budaya di SMPN 1 Sukadana serta menggambarkan bagaiman bentuk kearifan lokal yang diterapkan guru Seni Budaya di SMPN 1 Sukadana. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, yang memaparkan data-data hasil penelitian dengan kata-kata. Sumber data terdiri atas informan yaitu guru seni budaya di SMPN 1 Sukadana yang diwawancara, observasi dan dilakukan teknik dokumentasi untuk mengetahui kedalaman kebutuhan data. Uji validitas menggunakan triangulasi dengan analisis data berbentuk reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengimplementasian nilai kearifan lokal dalam pembelajaran seni tari di SMPN 1 Sukadana yaitu mengangkat tentang tari Jepin Senggayong kedalam proses pembelajaran, siswa mempelajari tari bersama guru dan informan yang mereka dapatkan di luar lingkungan sekolah. Guru mengembangkan sendiri pembelajaran yang dikaitkan dengan tradisi dan hasil budaya masyarakat melayu di Kabupaten Kayong Utara melalui metode pembelajaran Tugas Proyek dimana siswa mencari informasi yang berkaitan dengan tari Jepin Senggayong berasal dari daerahnya untuk dipraktikan didepan kelas secara berkelompok, guru juga memberikan PPT dan video tentang bentuk-bentuk kearifan lokal Kayong Utara. Apresiasi yang ditunjukan oleh siswa adalah dapat memaknai dan dapat menghargai tari Jepin Senggayong yang berasal dari daerahnya yaitu Kabupaten Kayong Utara serta dapat meminimalisir kebosanan siswa dengan sistem pembelajaran yang monoton. Kata Kunci: Implementasi. Kearifan Lokal. SMP Abstract Oe This research aims to describe the activities of implementing local wisdom in Arts and Culture learning at SMPN 1 Sukadana and to describe how local wisdom is applied by Arts and Culture teachers at SMPN 1 Sukadana. The method used is descriptive qualitative, which describes research data in words. The data source consists of informants, namely arts and culture teachers at SMPN 1 Sukadana who were interviewed, observed and carried out documentation techniques to determine the depth of data needs. Validity testing uses triangulation with data analysis in the form of data reduction, data presentation and drawing The results of the research show that the implementation of local wisdom values in dance learning at SMPN 1 Sukadana is highlighting the Jepin Senggayong dance into the learning process, students learn dance with teachers and informants they get outside the school environment. The teacher develops his own learning that is linked to the traditions and cultural results of the Malay community in North Kayong Regency through the Project Assignment learning method where students look for information related to the Jepin Senggayong dance from their area to be practiced in front of the class in groups. The teacher also provides PPTs and videos about the form. -a form of local wisdom in North Kayong. The appreciation shown by students is that they can interpret and appreciate the Jepin Senggayong dance which originates from their area, namely North Kayong Regency and can minimize students' boredom with a monotonous learning system. Keywords: Implementation. Local Wisdom. Junior High School PENDAHULUAN Kearifan lokal merupakan bagian dari sebuah kebudayaan yang menjadi pandangan hidup suatu masyarakat mengenai lingkungan alam tempat mereka menetap. Kearifan lokal akan terus teregenerasi jika masyarakat terus meneruskannya secara turun menurun kepada generasi penerus sehingga tidak hilang dengan kedatangan pandangan budaya baru yang datang dari daerah lain. Berbagai macam nilai moral baik yang berpola pada masyarakat menjadikan kearifan lokal tetap kekal dikehidupan. Salah satunya adalah nilai karakter sebagai pola baik pikiran, sikap, moral, perilaku, watak, dan tindaka yang ada dan melekat pada seseorag yang sulit dihilangkan (Ahmadi et al. , 2. (Nugraha, 2. pendidikan kearian lokal dikenal dengan pendekatan kooperatif yang menjabarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Maka dari itu manusia tidak akan pernag terlepas dari budaya yang telah dihasilkan oleh masyarakat sebelumnya. Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 99 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 Pendidikan berbasis kearifan lokal sangat mendukung kemajuan perkembangan jaman di Indonesia, karena Indonesia memiliki beragam kearifa lokal yang berbasis pada kebudayaan. Pendidikan yang akan membantu siswa dari tidak paham menjadi paham akan materi yang harus (Assidiq & Atmaja, 2. Pendidikan yang mengajarkan siswa untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi, dengan dihadapkan pada masalah dan situasi konkret yang dihadapi, siswa akan semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis dan melatih keaktifan dan kemandirian siswa. (Ahmad et al. , 2. kearifan lokal dapat dimasukan kedalam Pendidikan sebagai salah satu usaha untuk melestarikan budaya lokal yang terdapat pada suatu Pendidikan di Sekolah menjadi tonggak penyebaran kearifan lokal tersebar kepada siswa dalam lingkup teoritis tidak hanya secara lisan dari mulut ke mulut. (Nauri & Fatmawati, 2. dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa santri kualitas santri mengalami peningkatan karena mempraktikan kehidupan bersosial sehari-hari berlandaskan kearifan lokal dilingkungan pesantren yang selalu mengaji sehingga membuat pembiasaan didalam diri para santri. Pelestarian kearifan lokal melalui Pendidikan di Sekolah telah didukung oleh pemerintah salah satunya dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberikan wewenang kepada setiap sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing Salah satu contoh yang berlaku pada mata pelajaran seni budaya dengan materi yaitu tari daerah setempat pada kurikulum Sekolah Menengah Pertama kelas 7. Pembelajaran tersebut membahas tentang tari-tari yang ada didaerah setempat, dengan tujuan memperkaya siswa akan pengetahuan kesenian tari tradisional yang berada di daerahnya, serta meminimalisir materi-materi pembelajaran yang cenderung bersifat javasentris. (Susanti et al. , 2. menerapkan penggunaan bahan alam yang ada di sekitar anak menjadi inspirasi dan sumber belajar anak usia dini dalam mencipta suatu karya seni. hal tersebut membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya berlaku pada kegiatan, namun juga bahan-bahan mentah yang dapat digunakan sebagai identitas dari suatu Sebagai contoh anak-anak yang tumbuh dikalangan perkebunan sawit, tentu saja lebih mengenal tentang sawit dibandingkan anak yang berada di perkotaan. (Adinugraha et al. , 2. kearifan lokal memanfaatkan tumbuhan dan hewan pada upacara perkawinan dan kuliner. Kebudayaan dalam bentuk produk seni dapat dipelajari oleh anak, melalui mata pelajaran seni budaya baik di tingkat Sekolah Dasar. Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas. Pelajaran seni budaya memiliki 3 ranah yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Ketiganya memberikan pengalaman bagi 3 siswa dalam berapresiasi, berkspresi, dan berkreasi seni. Hal tersebut menuntut guru mempunyai kompetensi untuk dapat melakukan penyusunan dan pengembangan materi pembelajaran, terutama dalam kaitannya dengan budaya daerah setempat. Kecamatan Sukadana sebagai salah satu daerah maju di Kabupaten Kayong Utara, sebagaimana daerah-daerah lain di wilayah Kalimantan Barat mempunyai kekayaan budaya dalam bentuk seni yang layak untuk dijaga dan dikembangkan. (Sarinah, 2. kearifan lokal harus diimplementasikan dalam setiap pembelajaran di Sejolah agar membentuk generasi yang berkarakter. (Ahmadi et al. Karakter adalah suatu pola, baik itu pikiran, sikap, moral, perilaku, watak, dan tindakan yang ada dan melekat pada seseorang yang sulit dihilangkan. Kearifan lokal menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran seni budaya untuk menghasilkan materi-materi pembelajara yang berpijak dari daerah setempat. SMPN 1 Sukadana merupakan satu diantara beberapa sekolah yang berada di Kabupaten Kayong Utara yang menerapkan pengimplementasian kearifan lokal dalam system pembelajaran seni dan budaya. Pembelajaran yang dilakukan menggunakan berbagai model-model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa akan pembelajaran seni budaya. Adapun macammacam model pembelajaran intaraktif antara lain: . picture and ficture, . numbered headtogether, . student teams-achhievement divisions (STAD), . jigsaw/ model tim ahli, . mencari pasangan, . think pair and share, . debat, . role playing, . group investigation, . talking stick, . bertukar pasangan, . snowball throwing, . Komara Endang . Berbagai macam model pembelajaran yang ada harus dikelola oleh pendidik dengan tujuan untuk membuat suasana yang membangun peserta didik semakin lebih aktif dan tidak merasa bosan. (Hasni & Said, 2. Setiap model membimbing kita ketika kita merancang pembelajaran untuk membantu para pserta didik dalam mencapai tujuan. Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 100 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 Penelitian AuImplementasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Seni Budaya di SMPN 1 SukadanaAy dapat menjadi penelitian yang dapat menjawab untuk menjaga dan mengembangkan budaya lokal di Sukadana, melalui pembelajaran seni budaya baik apresiasi maupun ekspresi seni. Kurikulum 2013 maupun kurikulum mendatang dengan konsep Kurikulum Merdeka, sangat memungkinkan untuk proses pembelajaran seni budaya di sekolah dengan penerapan budaya setempat sebagai materi ajar. Keragaman budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Kayong Utara dapat menjadi sebuah materi bahan ajar yang bisa diimplementasikan dalam pembelajaran seni budaya di SMPN 1 Sukadana. Implementasi kearifan lokal dalam pembelajaran seni budaya juga dapat menanamkan nilai-nilai luhur yang ada kepada siswa sehingga siswa semakin mencintai kebudayaan lokal yang mereka miliki. Selain itu, kemampuan guru dalam mengolah sumber kearifan lokal yang ada sebagai materi pembelajaran juga dapat menambah prestasi bagi guru seni budaya. Dengan demikian rencana penelitian ini dirasa perlu dan penting untuk dilaksanakan. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berupa deskripsi tertulis atau lisa berdasarkan perilaku yang diamati. Penggunaa metode ini karena beberapa pertimbangan, antara lain penelitia bersifat deskriptif menggambarkan sesuatu apa adanya, artinya data dikumpulkan dalam bentuk verbal atau teoritid argument, hal ini disebabkan penerapan metode kualitatif, penyajian data berlangsung secara langsung khususnta hubungan antara peneliti dan Penelitian ini adalah bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya di SMPN 1 Sukadana yang dilakukan oleh guru seni budaya dalam mengimplementasikan kearifan lokal dan bagaimana proses yang terjadi didalam pembelajaran yang melibatkan siswa didalam kelas. Sumber data terdiri atas informan yaitu guru seni Budaya Bapak Raimin yang merupakan lulusan Prodi Seni Tari dan Musik FKIP Universitas Tanjungpura. Aspek lain yang dijadikan subjek penelitian yaitu siswa, tempat dan peristiwa dalam hal ini kelas sebagai tempat pengamatan, arsip pengumpulan tugas. RPP pembelajaran, buku paket seni budaya yang digunakan di SMPN 1 Sukadana. Teknik pengolahan data yaitu observasi langsung, wawancara mendalam, dan studi Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber yaitu untuk membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah model analisisinteraktif dengan komponen reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Kearifan lokal yang diterapkan di SMPN 1 Sukadana Kearifan lokal salah satunya dapat berupa sebuah karya budaya kesenian yang dimiliki oleh suatu daerah yang ditempati oleh masyarakat. Kabupaten Kayong Utara memiliki 6 kecamatan yaitu Kecamatan Sukadana. Kecamatan Simpang Hilir. Kecamatan Teluk Batang. Kecamatan Seponti. Kecamatan Pulau Maya dan Kecamatan Karimata. Mayoritas masyarakat yang mendiami Kecamatan Sukadana adalah masyarakat Melayu karena dipercaya sejarah perkembangan Islam di Kalimantan Barat melalui perairan hingga membawa kehidupan budaya baru di Kecamatan Sukadana. Suku ini memiliki kebudayaan yang erat dengan kehidupan air dan laut, baik dari sisi pekerjaan sebagai nelayan, petani serta pedagang. Seiring dengan perkembangan jaman kearifan lokal yang ada di Kecamatan Sukadana dapat memudar jika tidak mendapatkan perhatian oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat Melayu memiliki kegiatan sehari-hari dalam bertahan hidup, untuk kaum wanita kerap kali mereka membuat berbagai bentuk kerajinan, memasak, membuat alat rumah tanga seperti tikar, penangkap ikan . , ambung, bakul dan lain-lain. Pembuatan tikar biasa dilakukan dengan bahan dasar pandan atau bahan-bahan daun yang bertekstur keras yang tumbuh disekitaran tepian Rotan-rotan juga kerap kali digunakan untuk membuat keranjang dan wadah-wadah lainnya. Selain berbentuk barang, kearifan lokal yang terkenal di daerah Kabupaten Kayong Utara salah Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 101 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 satunya yaitu Mandi Safar. Setyabudi . mandi safar merupakan tradisi budaya mandi di sungai yang dilaksanakan pada rabu terakhir di bulan safar. Bentuk kearifan lokal dalam seni tari salah satunya yaitu jepin pesisir, yang telah berkembang di kalangan masyarakat. Jepin Senggayong merupakan satu dari tari tradisi suu melayu yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang. Sika mengutarakan . bahwa banyak tari-tari yang ada di Kayong Utara namun belum terekspose oleh masyarakat, jadi masih sangat minim penggunaan gerak-gerak tari tradisional sebagai materi di pembelajaran Salah satu tarian yang ada di Kabupaten Kayong Utara yaitu tari Zapin Pintal yang berasal dari masyarakat melayu. 2 Kegiatan Sosialisasi Kegunaan Implementasi Kearifan Lokal kepada guru-guru Seni Budaya di Sukadana Kegiatan sosialisasi mengenai kegunaan implementasi kearifan lokal dalam pembelajaran seni bagi guru-guru seni budaya di Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini berlangsung di SMPN 1 Sukadana pada tanggal 19 Agustus 2023. Terdapat 40 guru seni budaya yang hadir pada kegiatan ini mendapatkan informasi mengenai kegunaan pengimplementasian kearifan lokal dalam pembelajaran seni. adapun materi besar yang disampaikan adalah : Teori Kearifan Lokal Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah Tujuan dan Manfaat guru mengimplementasikan bentuk kearifan lokal dalam pembelajaran seni budaya di Sekolah Cara menerapkan bentuk kearifan lokal kedalam pembelajaran seni Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi Kegunaan Implementasi Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Seni Bagi Guru-Guru Seni Budaya Di Kabupaten Kayong Utara. (Ghozali 2. 3 Penerapan Bentuk Karya Seni Berbasis Kearifan Lokal yang diterapkan di SMPN 1 Sukadana SMPN 1 Sukadana merupakan sebuah sekolah menengah pertama yang terletak di Jl. Tengku Abdul Hamid. Pangkalan Buton Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat. Sekolah ini memiliki sarana dan prasarana yang sangat baik, ditunjukan dengan aula yang dapat menampung lebih dari 60 orang dewasa serta bidang tanah yang luas untuk lapangan dan daerah praktik berbagai kegiatan siswa. Menurut sumber Badan Akreditasi Nasional. SMPN 1 Sukadana telah menyandang akreditasi A sejak tahun 2019. Jumlah siswa kurang lebih ada 535 orang yang berdomisili di sekitaran lokasi sekolah. Terdapat satu guru senibudaya yang merupakan lulusan Pendidikan seni pertunjukan FKIP Universitas Tanjungpura yaitu bapak Raimin, beliau mengajar di kelas 7 alasan penelitian ini Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 102 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 dilakukan di SMPN 1 Sukadana salah satunya karena latar belakang Pendidikan guru seni budayanya linier dengan mata pelajaran yang diampuhnya, sehingga menjadi nilai tembah tersendiri dalam kebutuhan data penelitian. Secara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi kepada subjek penelitian yang salah satunya yaitu bapak Raimin, ditemukan bahwa beliau merupakan guru yang terampil dan kerap kali membawa murid-muridnya dalam perlombaan kesenian hingga unggul ditingkat kecamatan. Beliau juga sangat komunikatif dan memiliki jiwa mendidik dan mengayomi, hal tersebut ditunjukan dari sikap yang di tunjukan para siswanya merasa beliau dapat menjelaskan materi dengan baik karena beliau juga merupakan seniman aktif sehingga tidak hanya dapat menyampaikan teori seni dengan lugas, namun juga ranah psikomotorik dengan tuntas. Kepala sekolah juga mengemukakan bahwa Bapak Raimin merupakan guru yang terampil, dapat menjadi teladan untuk para siswa. Kedisiplinannya dapat terlihat dari sedikitnya absen yang ia berikan untuk sekolah selama proses pembelajaran. Loyalitas ia tunjukan saat memberikan pengayaan pada siswa yang akan mengikuti lomba music dan tari, beliau sangat telaten dalam mendidik siswa hingga siswa beberapa kali mendapatkan peringkat. Sehingga dapat diakui bahwasanya guru Seni Budaya SMPN 1 Sukadana yaitu Bapak Raimin merupakan guru yang berprestasi dengan jiwa mendidik yang dapat menjadi teladan baik bagi rekan dan peserta didik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Setelah mendapatkan materi dari kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh tim peneliti pada tanggal 19 Agustus 2023. Bapak Raimin segera mengeksekusi pada kedua kelasnya yaitu kelas 7. Pada penelitian ini hanya mengambil sampel pada pembelajaran seni tari dan musik, karena pembelajaran seni rupa dilakukan tidak sesuai dengan jadwal penelitian yang dilakukan. Pada mata pelajaran seni tari, guru memberikan materi mengenai tari Jepin Senggayong dan tari Zapin Pintal yang merupakan karya tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini berlangsung selama 6 minggu sejak awal hingga tahap evaluasi, pada satu materi yaitu mengapresiasi karya seni tari yang berasal dari daerah setempat. Adapun penjelasan materi seni tari yang disampaikan dikelas berbasis kearifan lokal yaitu : Tari Jepin Senggayong Tari Jepin Senggayong merupakan tarian kreasi yang tumbuh dan berkembang dari daerah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara khususnya di Desa Medan Jaya Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Menurut Pak Jamahari bahwa Tarian Jepin Senggayong ialah tarian yang sifatnya kreasi yang berlandaskan serta pada pola nilail-nilai tradisi dan tarian ini diciptakan untuk turut serta dalam menghidupkan kembali atau merevitalisasi sebuah kesenian dan Tari ini terinspirasi dari sebuah iringan alat music tradisi kabupaten kayong utara yaitu Menurut Muhammad Reza Pratama . emimpin Sanggar Simpang Betuah /SSB). Tarian Jepin Senggayong merupakan tarian kreasi baru yang dikembangkan dalam beberapa ragam gerak taru. Senggayong ialah alat musik Tradisional di Kayong Utara dan durian menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Kayong Utara, sedangkan jepin adalah sebuah karya seni Melayu yang salah satunya masih hidup dan mulai bangkit kembali di Kabupaten Kayong Utara. Tujuan dari penciptaan tari Senggayong ini adalah untuk mengkreasikan ide dan wawasan mengenai tari yang terinspirasi dari warna bunyi sebuah alat musik senggayong. Para pencipta sangat menginginkan tarian ini dapat diperkenalkan kepada dunia luar khususnya untuk generasi penerus, bahwa tarian Jepin Senggayong ini salah satu produk terbaik yang harus dijaga dan Diciptakanlah sebuah ragam gerak tari menajdi satu kesatuan supaya pesan dalam nama dan gerak yanng terkandung dalam tarian jepin senggayong ini menunjukan keunikannya sebagai identitas dalam sebuah bentuk karya tari yangberasal dari Kabupate Kayong Utara. Tarian Jepin Senggayong ini dapat ditarikan oleh 7 orang penari ,5 orang perempuan dan 2 orang pria. Tari Jepin Senggayong ini dipentaskan dalam acara penyambutan seperti menyambut kedatangan seseorang yang dianggap sebagai panutan contoh dalam acara penyambutan para petinggi negara, dan biasanya juga ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, syukuran instansi dan lainnya sesuai kebutuhan hiburan penyelenggara acara. Instrument musik yang digunakan pada musik iringan Tari Jepin senggayong ini terdiri dari beberapa alat music khusus yaitu alat musik senggayong sebagai alat musik pegiring utama yang harus dimainkan dalam musik iringan tari Jepin senggayong. Tarian Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 103 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 Jepin Senggayong ini dapat diiringi oleh pemusik yang berjumlah 6 orang terdiri dari 2 orang pemain beruas,1 orang pemain beduk,1orang pemain gendang melayu/ Rebana, gambus, accordeon dan vocalis secara solois. Tari Jepin Senggayong berkembang di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, karena bahwasanya kedua kabupaten tersebut dikenal sangat dekat dari letak geografis. Maka dari itu, beberapa bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang disana memiliki berbagai kemiripan Tarian ini pernah dibawakan di Singapura pada tahun 2017 pada acara Festival Muara. Tari ini telah mendapatkan hati dikalangan masyarakat, karena keberadaannya yang kerap kali digunakan sebagai hiburan masyarakat di acara khitanan, pesta pernikahan, acara instansi pemerintahan maupun berbagai panggung lainnya. Sehingga tari Jepin Senggayong merupakan satu diantara bentuk kearifan lokal yang dimiliki oleh Kabupaten Kayong Utara. 4 Proses Implementasi Pembelajaran Seni Budaya berbasis kearifan lokal di SMPN 1 Sukadana. Kegiatan ini berlangsung selama 6 pertemuan, baik dari pembelajaran seni tari maupun seni music di kelas 7 SMPN 1 Sukadana dengan dibimbing oleh bapak Raimin selaku guru mata pelajaran seni budaya. Tahapan-tahapan yang dilakukan oleh guru sudah seusai dengan kurikulum yang berlaku di sekolah tersebut. pada tahap penelitian berlangsung kegiatan pembelajaran berpusat pada tahap apresiasi dan ekspresi. AuPeranan dan kedudukan guru yang tepat dalam proses interaksi belajarmengajar, akan menjamin tercapainya tujuan interaksi belajar mengajar. Adapun peranan guru dalam interkasi belajar mengajar ialah: . sebagai fasilitator, ialah menyediakan situasikondisi yang dibutuhkan oleh individu yang belajar. sebagai pembimbing, ialah memberikan Indonesian Journal of History Education, 7 . , 2019: p. 79-92 87 bimbingan siswa dalam interaksi belajar, agar siswa mampu belajar, sebagai pembimbing ialah memberikan bimbingan siswa dalam interaksi belajar, agar siswa mampu belajar secara efektif dan efesien. sebagai motivator, ialah pemberi dorongan semangat agar siswa mau dan giat belajar. sebagai organisator, ialah mengorganisasikan kegiatan belajar mengajar siswa maupun guru. sebagai manusia sumber, dimana guru dapat memberikan informasi apa yang dibutuhkan siswa, baik pengetahuan ketrampilan maupun sikap. Sedangkan kedudukan guru dalam interaksi belajar mengajar anatara lain sebagai pengajar, pemimpin dan pengganti orang tua. Sebagai seorang pengajar guru diharapkan menyediakan situasi dan kondisi belajar untuk siswa dalam belajar, berupa: pengetahuan, sikap, ketrampilan, sarana prasarana, maupun fasilitas material. Sebagai pemipin yaitu pemimpin yang demokrtais dan sebagai pengganti orang tua yang mau bekerja sama, saling mengerti dan toleransiAy (Slameto, 2. Anak-anak juga melibatkan masyarakat sebagai teman belajarnya. Penjelasan lebih lanjut akan dipaparkan pada data berikut Pembelajaran seni tari Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori belajar Indonesian behavioristik koneksionisme dari Thorndike. Teori ini mengatakan bahwa adanya suatu asosiasi antara kejadian pengindraan siswa dengan perilaku siswa. Pada proses pembelajaran seni tari yang terjadi dalam kurang lebih 6 minggu atau 6 kali pertemuan di setiap hari selasa pukul 07. 00 hingga 09. 00 WIB . pada pertemuan pertama guru memberikan penjelasan mengenai materi yang akan dipelajari bersama dalam waktu enam minggu kedepan, dimana guru bertujuan agar para siswa dapat memahami bentuk karya tari bersasis kearifan lokal di Kabupaten Kayong Utara. Guru dan siswa memilih tari Jepin Senggayong karena sudah menjadi pengetahuan umum jika tarian tersebut milik masyarakat melayu Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang. Dari hasil pretest pertama yang dilakukan secara lisan menghasilkan 50% siswa menjawab bahwa tari Jepin Senggayong merupakan satu dianatar tari yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara. Sedangkan 50% siswa lainnya tidak mengetahui bentuk kesenian yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara, salah satu siswa menerangkan bahwasanya ia tidak tumbuh dari lingkungan seniman maka dari itu ia tidak memahami tentang bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Adapula siswa yang menjawab bahwasanya ia sukar untuk menemukan referensi dari internet dan buku mengenai bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Guru juga Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 104 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 mengiyakan kejadian yang terjadi dalam buku pembelajaran yang digunakan para siswa masih memiliki materi tari yang bersifat javasentris, dimana materi berpusat pada tari-tari yang berasal dari Pada pertemuan ini guru memberikan umpan balik setelah berdiskusi dengan memberikan tugas secara berkelompok, siswa dibagi kedalam 5 kelompok. Setiap kelompok ditugaskan untuk mewawancarai orang-orang sekitar atau mengenai tari Jepin Senggayong dan mempresentasikannya pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan kedua guru menanyakan kembali hasil dari penugasan yang diberikan pada minggu lalu. Sebanyak 80% siswa mendapatkan nilai diatas 80 karena dapat menjabarkan ranah tekstual dan kontekstual tari Jepin Senggayong dengan benar. Siswa sebanyak 20% menjabarkan masih bingung untuk mencari sosok yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dari lingkungan Ada pula siswa yang menceritakan bahwa mereka mendapatkan informasi tersebut dari seniman yang memiliki sanggar tari di Kabupaten Kayong Utara. Setelah presentasi jawaban, guru menampilkan video tari Jepin Senggayong kepada siswa menggunakan proyektor, soundsistem, dan laptop sebagai medianya. Siswa diajak untuk mengapresiasi ranah tekstual dan kontekstual tari jepin Senggayong, setelah itu guru menugaskan kembali dan harus dijawab secara individu pada minggu berikutnya dalam bentuk tes tertulis. Berikut bentuk soal yang diberikan oleh guru . Jelaskan bentuk gerak yang ditampilkan oleh penari jepin senggayong dari video yang diputarkan di kelas! Jelaskan tata rias da busana yang digunakan penari! Jelaskan pola lantai yang digunakan penari dalam video! Jelaskan panggung yang digunakan dalam penampilan penari di video tersebut! Jelaskan properti yang digunakan penari jepin senggayong dari video yang diputarkan di kelas! Jelaskan penerangan yang digunakan penari jepin senggayong dari video yang diputarkan di Jelaskan music irigan yang terdengar dari tampilan jepin senggayong dari video yang diputarkan di kelas! Pada pertemuan ketiga, diawal pertemuan guru mengambil hasil pekerjaan rumah yang telah dikerjakan oleh siswa. Guru mendapatkan 85% siswa mendapatkan hasil diatas nilai 80, 15% sisanya dibawah KKM. Para siswa mendapatkan nilai yang cukup rendah pada poin music iringan tari dikarenakan video yang ditayangkan hanya video tari tanpa ada pemain music dalam bentuk gambar disana. Kemampuan siswa untuk mendengar dan menebak instrument apa saja yang digunakan masih sangat Selanjutnya siswa diajak untuk membuat kelompok dan mencoba salah satu ragam gerak yang ada didalam tari Jepin Senggayong. Guru tidak menuntut para siswa untuk dapat menuntaskan 1 bentuk tarian tersebut ditiru dan dipraktekan secara utuh, karena keterbatasan waktu yang dimiliki. Guru membagi siswa dalam 3 kelompok, setelah itu guru memberikan beberapa ragam gerak dasar yang menjadi gaya pakem dari tari tersebut. hal ini membuktikan, video saja tidak dapat membuat siswa dapat melakukan gerakan dengan baik dan benar, maka dari itu peranan guru sangat penting dalam proses pengawasan materi yang didapati oleh siswa. Pertemuan 4 dan 5 guru masih menugaskan siswa untuk mempraktikan tari Jepin Senggayong. Terdapat hampir 70% siswa dapat melakukan ragam 1 dengan sempurna, sedang yang lainnya sudah tepat namun butuh latihan kembali untuk membenarkan teknik tari yang diharapkan. Proses pembelajaran terjadi secara menyenangkan karena guru memberikan materi yang berdekatan dengan kehidupan para siswa. Siswa juga semakin merasa mencintai budaya yang ada disekitarnya, siswa merasa lebih percaya diri dan berani menampilkannya didepan kelas. Guru menanamkan nilai kebersamaan yang ada dalam tarian tersebut dalam bentuk mengarahkan siswa untuk menyempurnakan penampilannya secara berkelompok agar nilai kelompoknya semakin baik diakhir Dwi Oktariani | https://journal. id/index. php/bullet | Page 105 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 99-107 Pertemuan ke 6 guru mengambil nilai dari hasil mempelajari ragam 1 tari Jepin Senggayong, guru mendapatkan 60% siswa sudah dapat melakukan tari tersebut dengan sangat baik dari segi psikomotorik, dari ranah kognitif mereka dapat mempresentasikan aspek-aspek dari ranah konstekstual tari tersebut berasal. Sisi afektifnya siswa lebih mencintai, lebih disiplin akan melakukan teknik gerak dan pakem gerak tari Jepin Senggayong. 40% siswa mendapatkan nilai 7080 karena sudah hapal namun teknik geraknya masih butuh proses yang mendalam. Hasil wawancara secara lsian kepada siswa didapatkan bahwasanya, 90% siswa merasa tertarik dan antusias dalam mempelajari tari Jepin Senggayong sebagai materi pembelajaran. siswa merasa pengimplementasian kearifan lokal dalam pembelajaran seni budaya semakin dapat meningkatkan pengetahuan mereka akan budaya yang berasal dari daerahnya. Siswa juga merasa semakin penasaran akan kesenian lainnya yang dimiliki oleh Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat. Guru juga menyatakan bahwa, pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat menjadi tonggak dalam menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini. KESIMPULAN Pengimplementasian pembelajaran seni tari berbasis kearifan lokal yang terjadi di SMPN 1 Sukadana menggunakan tari Jepin Senggayong yang dipelajari sebagai materi tari dan musik. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kualitatif, dimana penulis menjabarkan data dalam bentuk kata-kata. Penelitian ini berlangsung di SMPN 1 Sukadana, latar belakang Pendidikan guru seni budaya disana semakin memudahkan penelitian ini berlangsung. Penelitian ini dipercaya dapat memudahkan proses pembelajaran bagi guru dalam memilih materi yang akan diajarkan berbasis kearifan lokal daerahnya. Guru sebagai asilitatir untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak-anak dalam berlatih tari tradisional dan musk melayu secara invidual/ mandiri. Hasil wawancara secara lsian kepada siswa didapatkan bahwasanya, 85% siswa merasa tertarik dan antusias dalam mempelajari music iringan tari Jepin Senggayong sebagai materi 15% siswa merasa pengimplementasian kearifan lokal dalam pembelajaran seni budaya semakin dapat meningkatkan pengetahuan mereka akan budaya yang berasal dari daerahnya. Siswa juga merasa semakin penasaran akan kesenian lainnya yang dimiliki oleh Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat. Guru juga menyatakan bahwa, pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat menjadi tonggak dalam menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini. Namun guru juga menyebutkan bahwasanya keberadaan sarana dan prasana mengenai alat music tradisi juga menjadikan pembelajaran kurang hidup dan mencapai hasil yang maksimal karena siswa masih berandai-andai. REFERENCES