Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies Volume 1. Nomor 1. April . Hal: 21-38 http://jebmes. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan Single Index Model dan Z-Score pada Emiten IDX BUMN 2O Jihan Avianti* Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia jihanavianti@gmail. Martdian Ratnasari Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia martdianratnasari@gmail. *Corresponding Author Diterima: 15-4-2021 Disetujui: 19-4-2021 Dipublikasi: 30-4-2021 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membentuk portofolio optimal dan membandingkan kinerja portofolio dengan menggunakan single index model dan z-score. Metode z-score dibagi menjadi 2 . sesuai dengan strategi investasi, yaitu growth dan value sebagai preferensi investor dalam memilih portofolio. Populasi penelitian menggunakan emiten IDX BUMN 20 periode Mei 2018 Ae Desember 2020. Hasil analisis dari metode indeks tunggal memiliki return portofolio sebesar 0,001339 dengan risiko yang harus dihadapi sebesar 0,0037724. Metode z-score growth investing mendapatkan nilai imbal hasil portofolio sebesar 0,000989 dan memiliki risiko sebesar 0,023369. Sedangkan metode z-score value investing memiliki imbal hasil portofolio sebesar 0,001614 dengan risiko sebesar 0,027416. Kemudian metode z-score value investing memiliki nilai evaluasi kinerja yang paling tinggi berdasarkan sharpe ratio, treynor measure, dan jensenAos alpha apabila dibandingkan dengan 2 . metode lainnya. Kata Kunci: Metode Indeks Tunggal. Z-Score. Return dan Risk Portofolio. Evaluasi Kinerja Portofolio. ABSTRACT This study aims to form an optimal portfolio and compare portfolio performance using a single index model and z-score. The z-score method is divided into 2 . according to the investment strategy, namely growth and value as investors' preferences in choosing a portfolio. The study population uses the IDX BUMN 20 for the period May 2018 - December 2020. The analysis results from the single index method have a portfolio return of 0. with a risk to be faced of 0. The z-score growth investing method obtains a portfolio return value of 000989 and has a risk of 0. Meanwhile, the z-score value investing method has a portfolio return of 001614 with a risk of 0. Then the z-score value investing method has the highest performance evaluation value based on the sharpe ratio, treynor measure, and gen's alpha when compared to the other 2 . Keywords: Single Index Model. Z-Score. Return and Risk Portofolio. Performance Evaluation Portofolio. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 PENDAHULUAN Salah satu bentuk investasi adalah dengan melakukan investasi pada financial assets yang terdiri dari saham, obligasi, reksa dana, dan instrumen investasi pasar modal lainnya. Keputusan investasi bisa sangat penting dan berpengaruh besar bagi sebagian orang. Investasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan menanamkan sejumlah dana yang dimiliki untuk disimpan dalam beberapa waktu yang tujuannya memperoleh sejumlah keuntungan. Saat kondisi pandemi Covid-19 ini ternyata tidak menyurutkan langkah perkembangan pasar modal. Pertumbuhan SID (Single Index Identificatio. baru saham yang mengalami kenaikan sangat signifikan dandominasi kepemilikan investor domestik juga berada pada posisi tertinggi . ,44%) sepanjang sejarah Pasar Modal di Indonesia. Investor dalam melakukan investasi saham tentunya berharap akan memperoleh return atau imbal hasil yang diharapkan. Maka dari itu, penting bagi investor mengetahui pengukuran return untuk dapat memprediksi imbal hasil dan mempertimbangkan risiko yang dapat diperoleh dari investasi. Sebelumnya, data jumlah investor saham di Indonesia mengalami kenaikan hingga 93,4% dari tahun 2019 ke 2020. Hal tersebut menjadi pencapaian terbesar sepanjang sejarah Pasar Modal di Indonesia, tetapi ternyata kondisi di lapangan masih ada segelintir investor yang belum paham makna sepenuhnya mengenai investasi saham. Pada akhir tahun 2020, ada sebuah fenomena yang viral melalui media sosial, yaitu nasabah yang mengalami kerugian saat berinvestasi saham dimana dana yang digunakan adalah hasil pinjaman dari pihak lain. Menanggapi hal tersebut. BEI menghimbau pada masyarakat dan investor bahwa berinvestasi selain berpotensi memberikan keuntungan juga mengandung risiko kerugian. Maka perlu diingat kembali bahwa investor tidak hanya berorientasi untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi, tetapi menghitung dan mengelola risiko dalam berinvestasi juga terus meningkatkan pemahamannya dalam berinvestasi saham. Adanya kemungkinan risiko tersebut, investor dapat membentuk portofolio Pembentukan portofolio saham dengan diversifikasi berguna untuk mengurangi tingkat risiko. Maka dari itu, investor perlu memilih saham mana yang dapat masuk dalam portofolio optimal untuk menekan tingkat risiko. Pada penelitian ini, terdapat 2 . cara untuk membentuk portofolio optimal adalah dengan metode indeks tunggal dan z-score. Metode indeks tunggal ini merupakan penyederhanaan dari perhitungan Markowitz sebagai model optimasi portofolio lainnya. Single index model juga dinilai sebagai metode yang optimal karena dapat memberikan return ekspetasi terbesar dengan risiko tertentu atau risiko terkecil dengan return ekspetasi tertentu (Chirstina 2. Selanjutnya adalah metode z-score, metode ini banyak dikenal sebagai alat pendeteksi kebangkrutan yang digunakan oleh Edward Altman pada tahun 1968. Namun, setelah krisis ekonomi pada tahun 2008 model portofolio klasik seperti Markowitz mulai terlihat kekurangannya karena tidak mempertimbangkan aspek fundamental. Maka dari itu, banyak peneliti yang mulai menggunakan metode z-score untuk membentuk portofolio optimal (Cesarone. Mango, dan Sabato 2. Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. Kemudian pada tahun 2018. Bursa Efek Indonesia meluncurkan tiga indeks baru, salah satunya adalah IDX BUMN 20 (Indonesia Stock Exchange Badan Usaha Milik Negara . Menurut Direktur Utama BEI. Tito Sulistio Aupeluncurkan indeks baru ini berguna untuk mempermudah investor dalam memilih saham yang akan diinvestasikan. Ay. Dapat dilihat bahwa pembelian saham saat awal pandemi sempat mengalami penurunan, hal tersebut juga terjadi pada indeks saham lainnya. Namun, pada bulan berikutnya tingkat pembelian IDX BUMN 20 terus mengalami peningkatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa IDX BUMN 20 sebagai pasar yang banyak diminati oleh banyak investor karena nilai kapitalisasi pasar ini banyak mempengaruhi investor untuk memilih saham. Menurut Erick Thohir selaku Menteri BUMN. Auperusahaan BUMN semakin diminati oleh masyarakat, bahkan berhasil menyaingi saham di indeks LQ45 yang memiliki kapitalisasi tertinggi di pasar modal Tanah Air. Ay Perusahaan BUMN semakin diminati masyarakat karena publik semakin percaya dengan kebijakan GCG (Good Corporate Governanc. dan rencananya dalam pembangunan pabrik baterai listrik terbesar di Indonesia. Maka dari itu, peneitian ini bertujuan untuk membentuk portofolio yang optimal dengan 2 . metode, yaitu metode indeks tunggal dan z-score. Sehingga investor mengetahui tingkat risiko dan imbal hasil portofolio dari metode indeks tunggal dan z-score. Selain itu untuk mengetahui kinerja mana yang lebih optimal antara metode indeks tunggal dan z-score pada emiten IDX BUMN 20. Investasi Investasi adalah komitmen atas sumber dana atau sumber daya lain yang dilakukan saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan (Bodie. Kane, and Marcus, 2. Investasi dapat dibedakan menjadi 2 . , yaitu investasi real assets dan investasi financial assets. Investasi pada real assets berupa aset nyata yang dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa seperti: emas, tanah, bangunan, dan mesin. Sedangkan investasi financial assets adalah sarana yang digunakan untuk mengklaim atas pendapatan yang dihasilkan oleh real asset berupa saham, reksa dana, dan Investor dalam mengelola investasi memiliki karakteristik profil risiko yang terbagi menjadi 3 . untuk menentukan besaran risiko, yaitu konservatif . ipe investor yang tidak ingin menanggung risik. , moderat . ipe investor yang berada pada kondisi antara takut dan berani untuk menanggung risiko yang besa. , dan agresif . ipe investor yang berani untuk menanggung risiko karena berharap mendapatkan imbal hasil yang tingg. Pasar Modal Pasar modal yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1995 memiliki definisi yaitu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik dan lembaga yang berhubungan dengan efek. Selain itu, pasar modal dapat diartikan sebagai tempat untuk berbagai instrumen keuangan seperti saham, surat utang, reksa dana, obligasi dan surat berharga lainnya yang dapat diperjual-belikan, diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan swasta (Herlianto 2. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 Salah satu instrumen keuangan yang dapat diperjual-belikan adalah saham. Saham adalah surat atas kepemilikan dalam suatu bisnis atau perusahaan terhadap aset dan pendapatannya, hal tersebut dapat menjadi tanda penyertaan modal seseorang pada suatu perusahan (Musthofa, 2. Harga saham berkaitan dengan kinerja perusahaan, aksi korporasi perusahaan, pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, fluktuasi kurs rupiah, bahkan informasi atau berita manipulatif. Return dan Risiko Return adalah nilai pengembalian yang dihasilkan dari investasi saham. Tujuan seorang investor melakukan investasi adalah untuk memaksimalkan return. Sedangkan risiko adalah kemungkinan yang bisa terjadi saat melakukan investasi atas return yang diharapkan. Walaupun banyak teori yang mengungkapkan hubungan antara return dan risiko bahwa imbal hasil yang tinggi akan memberikan risiko yang tinggi juga, tetapi setidaknya investor dapat memperkirakan dari catatan historis yang kemungkinan besar akan dihadapi oleh investor. Hal tersebut karena nilai investasi yang terus berfluktuasi sebagai respons dari berita korporasi atau makroekonomi (Bodie. Kane, and Marcus. Metode Indeks Tunggal Metode indeks tunggal dikembangkan oleh Willian Sharpe pada tahun 1963 hasil menyederhanakan perhitungan model Markowitz. Selain itu, model ini juga meningkatkan analisis risikonya dengan menguraikan menjadi komponen yang sistematis dan spesifik. Model ini menjelaskan batas diversifikasi yang disebut dengan cut off point sehingga investor dapat mengukur komponen risiko untuk portofolio tertentu. Apabila saham memiliki nilai ERB (Excess Return to Bet. > Cut off Point maka saham tersebut masuk dalam kelompok portofolio optimal. Metode Z-Score Metode z-score index pertama kali dikembangkan oleh Altman pada tahun 1968 untuk memprediksi probability of default dari suatu perusahaan. Pada penelitian Cesarone. Mango, dan Sabato . menyebutkan bahwa tahun 2008 saat terjadi krisis ekonomi global, muncul kelemahan saat membentuk portofolio klasik seperti model Markowitz. Hal tersebut didasari oleh pembentukan portofolio yang tidak mempertimbangkan aspek fundamental dari suatu emiten. Kemudian model yang bisa disebut juga dengan metode standardisasi z-score terus berkembang dan dinilai efektif untuk membentuk portofolio karena menghasilkan kinerja yang baik. Penilaian z-score dengan membandingkan nilai suatu perusahaan dan rata Ae rata sektornya sehingga dapat menggambarkan kriteria keseluruhan dalam pemeringkatan saham. Pada penelitian ini akan menggunakan 2 . strategi investasi untuk membentuk portofolio optimal dengan menggunakan metode z-score, yaitu growth dan value. Growth stock adalah saham yang memiliki harga saham relatif tinggi terhadap pendapatan perusahaan. Nilai growth ini dapat digunakan dalam menilai prospek pertumbuhan yang cukup besar dari pendapatannya di masa yang akan datang. Sedangkan value merupakan saham yang diperjual-belikan pada harga yang rendah dibandingkan Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. dengan harga wajarnya industri sejenis. Pembentukan portofolio ini dibantu oleh fungsi solver dari microsoft excel untuk menentukan proporsi dana. Evaluasi Kinerja Portofolio Evaluasi kinerja portofolio dilakukan oleh investor untuk mengetahui komposisi portofolio yang dibentuk sudah memberikan kinerja yang baik sesuai dengan tujuan investor, yaitu memberikan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil portofolio lainnya (Herlianto. Evaluasi kinerja portofolio dinilai dengan 3 . rasio, yaitu sharpe ratio . Sharpe ratio menilai kinerja portofolio karena telah terdiversifikasi dengan baik dan akurat memperhitungkan risiko total dari portofolio. Kemudian treynor measure asumsi bahwa portofolio yang telah terdiversifikasi dengan baik adalah menggunakan risiko sistematis. Sedangkan jensenAos alpha menunjukkan perbedaan antara imbal hasil portofolio dengan imbal hasil yang diharapkan. Indeks yang bernilai positif berarti portofolio memberikan return lebih besar dari return harapannya, sehingga menjadi hal yang bagus karena portofolio mempunyai return yang relatif tinggi untuk tingkat risiko sistimatisnya. METODE RISET Jenis dan Sumber Data Jenis penelitian ini yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif ini untuk menggambarkan data sesuai dengan keadaan untuk membentuk portofolio optimal. Sedangkan sumber data untuk penelitian ini menggunakan data Data sekunder adalah informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber dengan melakukan dokumentasi dan studi pustaka Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini merupakan saham yang masuk ke dalam indeks IDX BUMN 20 periode Mei 2018 Ae Desember 2020. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu sampel dengan kriteria tertentu (Sugiono, 2. Metode Pengumpulan Data Metode dokumentasi dari website Bank Indonesia . , website Bursa Efek Indonesia . dan yahoo finance berupa data risk free rate, harga saham dan market periode Mei 2018 Ae Desember 2020. Sedangkan metode studi pustaka untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan penelitian dari dari naskah akademik seperti buku dan penelitian terdahulu. Metode Analisis Data Indeks Tunggal Menghitung actual return dan expected return dari saham dan market Actual return adalah imbal hasil yang telah telah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis dalam periode tertentu. ycI= ycEyc Oe ycEyc Oe 1 ycEyc Oe 1 Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 Keterangan: = Actual return = Harga saham i. IHSG, suku bunga SBI periode t Pt-1 = Harga saham i. IHSG, suku bunga SBI periode t-1 Expected return sebagai nilai imbal hasil yang diharapkan oleh investor di masa yang akan ya . cIyc. = Oc ycIycn ycu Keterangan: E(R) = Expected return saham i atau IHSG Oc ycIycn = Jumlah actual return saham i atau IHSG = Jumlah periode Menghitung variance, beta, variance error residual, alpha, excess return, expected excess Standard Deviasi sebagai nilai yang digunakan untuk mengukur tingkat risiko yang akan diperoleh saat berinvestasi. yua=Oo . cIycn Oe ya. cIyc. ]2 ycu Keterangan: yua = Standard deviasi = Actual return saham i atau IHSG E(R. = Expected return saham i atau IHSG = Jumlah periode Beta digunakan untuk menggambarkan sensitivitas tingkat harga saham terhadap perubahan harga market. Nilai beta sebagai alat mengukur risiko sistematis yang dipengaruhi oleh faktor makro, artinya tidak dapat diminimalisir dengan melakukan diversifikasi. yuycn = yuaycnyco yuayco 2 Keterangan: yuycn = Beta saham i yuaycnyco = Kovarian antara return saham i dan return market yuayco2 = Standard deviasi return market Variance Error Residual untuk mengukur risiko tidak sistematis, maksudnya risiko yang dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi karena dipengaruhi oleh faktor yang tidak mempengaruhi pasar secara keseluruhan yuayceycn = yuycn 2 ycu yuayco yuaycn Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. Keterangan: yuayceycn = Variance error residual saham i yuayco = Variance market atau unsystematic risk yuaycn = Variance saham i yuycn2 = Beta saham i Alpha digunakan untuk mengetahui tingkat imbal hasil saham yang tidak terpengaruh oleh perubahan market. yuycn = ya. cIyc. Oe yuycn ya. cIyc. Keterangan: yuycn = Alpha saham i ya. cIyc. = Expected return saham i yuycn = Beta saham i ya. cIyc. = Expected return market Excess Return adalah selisih dari investasi beresiko dengan investasi bebas risiko yaycI = ycIycn Oe ycIyce Keterangan: ycIycn = Actual return saham i ycIyce = Risk free Expected Excess Return dapat disebut juga sebagai rata-rata dari excess return. aycI)ycn = Oc yceycuycayceycyc ycyceycycycycu ycu Keterangan: aycI)ycn = Expected excess return saham i Oc yceycuycayceycyc ycyceycycycycu = Rata-rata excess return = Jumlah periode Menghitung excess return to beta (ERB) dan cut off point (Ai. Bi. untuk menentukan saham mana yang optimal dengan syarat ERB > Cut Off Point Excess Return to Beta, digunakan untuk menujukkan kelebihan pengembalian atas tingkat keuntungan bebas risiko pada aset lain yaycuycayceycyc ycIyceycycycycu ycycu yaAyceycyca . aycIyaA) = yceycuycyyceycaycyceycc yceycuycayceycyc ycyceycycycycu yu ycnycuyccycnycycnyccycycayco Cut off Point (C*) merupakan titik pembatas yang digunakan untuk menentukan suatu saham layak atau tidak masuk ke komposisi portofolio optimal. Nilai C* adalah nilai maksimum dari Ci. Saham yang memiliki ERB > C* merupakan saham yang masuk ke dalam portofolio optimal. yaycn = ya. aycI)ycn ycu yuycn yuayceycn yaAycn = yuycn 2 yuayceycn yaycn = yua 2 yco ycu yaycn 1 yua 2 yco ycu yaAycn Keterangan: aycI)ycn = Expected excess return saham i yua2yco = Variance marke yuycn = Beta saham i yaAycn = Nilai Bi yuayceycn = Variance error residual saham i yaycn = Nilai Ai Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 Menghitung proporsi dana dari portofolio yang optimal ycsycn = yuycn ycu . aycIyaAycn Oe ya O) yuayceycn ycOycn = ycsycn ycIycyco ycsycn Keterangan: ycsycn = Nilai Z saham i yaO = Cut off point yuycn = Beta saham i ycOycn = Proporsi dana yuayceycn = Variance error ycIycyco ycsycn = Jumlah nilai Zi dari residual saham i yaycIyaAycn semua emiten = Excess return to beta saham i Menghitung return dan risiko portofolio yuycy = ycOycn ycu yuycn yceycy = ycOycn ycu yceycn yuycy = ycOycn ycu yuycn Keterangan: yuycyycn = Alpha saham i dalam portofolio optimal ycOycn = Bobot emiten i dalam portofolio optimal yuycyycn = Beta saham i dalam portofolio optimal yuayceycyycn = unsystematic risk saham i dalam portofolio optimal Expected Return Portofolio Standard Deviasi Portofolio yuycy yuycy ycu ya. cIyco ) yuycy2 ycu yuayco yceycy Keterangan: yuycy yuycy = Alpha Portofolio ya. cIyco ) = Expected return market yceycy = Beta Portofolio yuayco = Variance market = Unsystematic risk portofolio Metode Analisis Z-Score Mencari data variabel kriteria, yaitu PER (Price to Earning Rati. PBV (Price to Book Valu. OPM (Operating Profit Margi. ROE (Return on Equit. , dan DER (Debt to Equity Rati. berdasarkan IDX annually statistic yang bersumber dari website Bursa Efek Indonesia Menghitung rata Ae rata dan standard deviasi variabel kriteria dari setiap sektor Menghitung z-score dari emiten IDX BUMN 20 ycsyca = ycUycn Oe yuNyc yuayc Keterangan: ycsyca = Z-Score yuNyc = Nilai rata Ae rata industri kriteria a ycUyca = Nilai perusahaan yuayc = Standard deviasi industri kriteria a Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. Menghitung nilai agregat Z score dari emiten IDX BUMN 20 Penelitian ini akan membagi z-score pada 2 . strategi investasi, yaitu growth dan Menurut penelitian Wijaya dan Kristian . , nilai PER dan PBV mendapatkan tanda positif karena sesuai dengan karakteristik growth investing yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi dengan harga saham > nilai intrinsik perusahaan. Kemudian, nilai ROE dan OPM memiliki tanda positif karena dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Sedangkan nilai DER memiliki tanda negatif, hal tersebut karena memiliki hubungan yang negatif dengan return saham. ycs Oe ycIycaycuycyce yaycycuycycEa = ycs ycEyaycI ycs ycEyaAycO ycs ycCycEycA ycs ycIycCya Oe ycs yayaycI Berdasarkan penelitian Wijaya dan Kristian . , sesuai dengan konsep strategi value investing, nilai PER dan PBV memiliki tanda negatif karena apabila memiliki nilai yang semakin rendah, artinya emiten yang terpilih adalah undervalued atau harga saham lebih rendah dibandingkan nilai intrinsik perusahaan. ycs Oe ycIycaycuycyce ycOycaycoycyce = Oe ycs ycEyaycI Oe ycs ycEyaAycO ycs ycCycEycA ycs ycIycCya Oe ycs yayaycI Keterangan: Z PER = Z-Score Price to Earning Ratio Z PBV = Z-Score Price to Book Value Z OPM = Z-Score Operating Profit Margin Z ROE = Z-Score Return on Equity Z DER = Z-Score Debt to Earning Ratio Membentuk portfolio dari saham dengan nilai Z Score agregat bernilai positif dan menghitung proporsi dana dari portofolio yang optimal dengan CAL (Capital Allocation Lin. Konsep ini digunakan untuk menentukan alokasi dana yang tepat dalam membentuk portofolio yang optimal dengan bantuan solver microsoft excel. Menghitung nilai return dan risiko portofolio. Metode Analisis Evaluasi Kinerja Portofolio Sharpe Ratio, model ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja portofolio berdasarkan tingkat imbal hasil terhadap risiko total. Maka dari itu, sharpe ratio ini tepat untuk menilai kinerja portofolio karena telah terdiversifikasi dengan baik dan akurat memperhitungkan risiko total dari portofolio. Apabila nilai sharpe ratio suatu portofolio lebih tinggi dibandingkan portofolio lainnya, artinya semakin baik kinerja portofolio tersebut. ycIEaycaycycyyce ycIycaycycnycu = Keterangan: i ycIycy = Return Portofolio i Oe i . cIycy ycIyc. yuaycy Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 ycIyce = Risk Free Asset yuaycy = Standard Deviasi Portofolio Treynor Measure, peniliaian evaluasi kinerja ini memiliki asumsi bahwa portofolio yang telah terdiversifikasi dengan baik adalah menggunakan risiko sistematis. ycNycyceycycuycuyc ycAyceycaycycycyce = . i Oe ycIyce . cIycy yuycy Keterangan: i ycIycy = Return Portofolio ycIyce = Risk Free Asset yuycy = Beta Portofolio JensenAos Alpha, menunjukkan perbedaan antara imbal hasil portofolio dengan imbal hasil yang i yuycy . cIyco . ] i Oe ycIyce yayceycuycyceycuA yc yaycoycyEayca = i ycIycy Oe . cIyce Keterangan: i ycIycy = Return Portofolio ycIyce = Risk Free Asset yuycy = Beta Portofolio i ycIyco = Return Market HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Pembentukan Portofolio dengan Metode Indeks Tunggal Metode indeks tunggal sebagai salah satu cara untuk membentuk komposisi portofolio optimal. Membentuk portofolio optimal dapat digunakan investor dalam memilih saham yang berkualitas. Membentuk portofolio dengan menggunakan model indeks tunggal diawali dengan menghitung imbal hasil dan risiko. Penelitian ini menggunakan data saham harian yang terdaftar konsisten dari Mei 2018Desember 2020 pada emiten IDX BUMN 20. Sebelum dapat mencari nilai expected return dan standard deviasi, dibutuhkan nilai actual return yang digunakan untuk melihat tingkat pengembalian dari saham yang telah terjadi berdasarkan data historis. Selanjutnya adalah mencari nilai expected return sebagai cara untuk melihat tingkat pengembalian yang diharapkan investor di masa yang akan datang. Lalu nilai standard deviasi digunakan sebagai pengukuran tingkat risiko yang akan diperoleh investor dalam berinvestasi saham. Berikut rangkuman expected return dan standard deviasi periode Mei 2018 Ae Desember 2020 dapat dilihat pada tabel 1. Selanjutnya dibutuhkan nilai return market yang diperoleh dari data harian IHSG (Indeks Harga Saham Gabunga. sebagai nilai yang digunakan untuk menunjukkan fluktuasi harga saham yang tercatat di BEI. Sama dengan actual return pada saham, actual return market digunakan untuk menggambarkan kondisi market yang sudah terjadi, baik sedang aktif maupun melemah. Kemudian Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. nilai expected return market sebagai gambaran dari tingkat pengembalian yang dapat diberikan pasar pada investor. Emiten ANTM BBNI BBRI BBTN BJBR BMRI ELSA JSMR PGAS Tabel 1. Expected Return dan Standard Deviasi Emiten IDX BUMN 20 Expected Standard Expected No Emiten Return Deviasi Return 0,00191 0,03411 PTBA 0,00044 0,00002 0,02557 PTPP 0,00041 0,00087 0,02461 SMGR 0,00104 -0,00024 0,03140 TINS 0,00136 0,00016 0,02677 TLKM 0,00024 0,00031 0,02497 WSBP 0,00007 0,00031 0,03063 WSKT 0,00011 0,00058 0,02716 WIKA 0,00109 0,00052 0,03363 Sumber: Diolah Penulis Standard Deviasi 0,02896 0,03472 0,03074 0,03599 0,02101 0,02871 0,03345 0,03301 Tabel 2. Expected Return dan Standard Deviasi Market Market Expected Return Standard Deviasi 0,00011 0,012138309 IHSG Sumber: Diolah Penulis Nilai alpha digunakan untuk melihat tingkat imbal hasil saham yang tidak terpengaruh oleh perubahan return market. Nilai beta ini menggambarkan pengaruh pengembalian market terhadap tingkat pengembalian saham. Beta dikelompokkan sebagai alat untuk mengukur risiko sistematis atau nilai yang tidak dapat diminimalisir dengan melakukan diversifikasi. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan program Microsoft Excel, seluruh nilai beta pada emiten IDX BUMN 20 memiliki nilai lebih besar dari 1 . , artinya tingkat pengembalian saham sangat dipengaruhi oleh perubahan return Sedangkan nilai variance error residual merupakan alat untuk mengukur risiko tidak sistematis atau risiko yang dapat diminimalisir dengan melakukan diversifikasi. Emiten Alpha ANTM TINS BBRI SMGR WIKA JSMR PGAS PTBA PTPP 0,00173 0,00119 0,00070 0,00087 0,00089 0,00043 0,00034 0,00031 0,00021 Tabel 3. Alpha. Beta, dan Variance Error Residual Variance Beta Error No Emiten Alpha Residual 1,60580 0,00154 BMRI 0,00014 1,59673 0,00167 ELSA 0,00017 1,60489 0,00099 TLKM 0,00011 1,55163 0,00130 BJBR 0,00003 1,76383 0,00155 WSKT -0,00008 1,36792 0,00101 WSBP -0,00009 1,72080 0,00157 BBNI -0,00017 1,25508 0,00107 BBTN -0,00043 1,79397 0,00168 Sumber: Diolah Penulis Beta 1,61162 1,33790 1,21867 1,17294 1,74316 1,49323 1,66853 1,72043 Variance Error Residual 0,00101 0,00120 0,00066 0,000092 0,00157 0,00115 0,00106 0,00142 Excess Return to Beta merupakan nilai yang digunakan untuk menunjukkan performa dari setiap saham pada periode tertentu. Nilai excess return to beta ini sebagai salah satu indikator untuk membentuk portofolio optimal. Indikator lainnya untuk membentuk portofolio optimal adalah nilai C* atau cut-off point. Cut-off point atau nilai maksimum dari Ci merupakan titik pembatas yang digunakan untuk menentukan suatu saham layak atau tidak untuk masuk ke kategori portofolio optimal. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 Apabila nilai ERB > Cut-Off Point, maka saham akan masuk ke komposisi portofolio yang optimal sesuai dengan perhitungan model indeks tunggal. Berdasarkan hasil perhitungan, terdapat 8 . saham yang dapat dikelompokkan menjadi 1 . komposisi portofolio optimal. Komposisi portofolio optimal terdiri dari. ANTM. TINS. BBRI. SMGR. WIKA. JSMR. PGAS, dan PTBA. Tabel 4. Excess Return to Beta (ERB) dan Cut off Point ERB 0,00110 1,84029 1670,67084 0,00022 0,00022 0,00077 1,16866 1525,84025 0,00014 0,00022 0,00046 1,18990 2614,55834 0,00013 0,00022 0,00058 1,06847 1852,77730 0,00012 0,00022 0,00054 1,07646 2009,75259 0,00012 0,00022 0,00032 0,59170 1846,27658 0,00007 0,00022 0,00022 0,42098 1889,73593 0,00005 0,00022 0,00024 0,35385 1471,01151 0,00004 0,00022 0,00015 0,28629 1915,83629 0,00003 0,00022 0,00011 0,27590 2581,16026 0,00003 0,00022 0,00013 0,18993 1489,33602 0,00002 0,00022 0,00008 0,18123 2249,74655 0,00002 0,00022 0,00002 0,02785 1496,70850 0,00000 0,00022 -0,00002 -0,03372 1939,61982 0,00000 0,00022 -0,00005 -0,09475 1934,03869 -0,00001 0,00022 -0,00008 -0,19639 2617,09304 -0,00002 0,00022 -0,00022 -0,46160 2081,70875 -0,00005 0,00022 Sumber: Diolah Penulis Emiten ANTM TINS BBRI SMGR WIKA JSMR PGAS PTBA PTPP BMRI ELSA TLKM BJBR WSKT WSBP BBNI BBTN Keputusan Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Proporsi saham ini dapat digunakan oleh investor untuk mengetahui alokasi dana yang tepat pada setiap saham yang masuk pada komposisi portofolio optimal. Cara untuk mendapatkan nilai proporsi saham adalah dengan menghitung nilai Zi. Kemudian nilai Wi . atau proporsi dana dari masing-masing saham adalah sebagai berikut: Emiten ANTM TINS BBRI SMGR WIKA JSMR PGAS PTBA Total Tabel 5. Proporsi Dana 0,91965 0,32924 32,92% 0,52398 0,18759 18,76% 0,38695 0,13853 13,85% 0,42880 0,15351 15,35% 0,36237 0,12973 12,97% 0,13888 0,04972 4,97% 0,00569 0,00204 0,20% 0,02691 0,00964 0,96% 2,79324 1,00000 100,00% Sumber: Diolah Penulis Proporsi Dana Rp 24. Rp 14. Rp 10. Rp 11. Rp 9. Rp 3. Rp 75. Nilai expected return portofolio berfungsi untuk mengetahui tingkat pengembalian yang diharapkan dari dibentuknya portofolio optimal. Nilai expected return portofolio yang diperoleh di masa mendatang adalah sebesar 0,13%, artinya kombinasi ini akan memberikan prospek tingkat pengembalian yang baik. Sedangkan nilai standard portofolio adalah sebesar 3,77%, artinya nilai tersebut merupakan risiko maksimal yang akan ditanggung oleh investor. Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. Tabel 6. Return dan Risiko Portofolio Return Portofolio Risiko Portofolio 0,037714 0,00134 Sumber: Diolah Penulis Analisis Pembentukan Portofolio dengan Z-Score Selain model indeks tunggal, metode standardisasi z-score juga dapat membentuk portofolio optimal dengan membandingkan nilai variabel kriteria dengan rata Ae rata sektornya sesuai dengan preferensi investor untuk menggambarkan kriteria keseluruhan dalam pemeringkatan saham. Pembentukan portofolio optimal dengan menggunakan metode standardisasi z-score ini menggunakan beberapa variabel yang memperhitungkan faktor fundamental, yaitu PER (Price to Earning Rati. PBV (Price to Book Valu. OPM (Operating Profit Margi. ROE (Return on Equit. , dan DER (Debitebt to Equity Rati. Industri Coal Mining Crude & Natural Gas Metal & Mineral Mining Cement Building Construction Energy Toll Road Telecommunication Bank Tabel 7. Data Variabel Kriteria Emiten PER PBV PTBA 10,29 2,35 ELSA 8,52 0,71 ANTM 30,28 1,48 TINS -14,17 1,38 SMGR 33,84 2,13 WSBP 5,22 34,86 PTPP 117,53 0,71 WIKA 96,28 1,01 WSKT 4,01 0,78 PGAS 23,95 1,00 JSMR 64,83 1,58 TLKM 17,51 3,22 BBNI 13,27 1,27 BBRI 19,09 2,64 BBTN 13,98 1,04 BJBR 9,42 1,39 BMRI 14,37 1,76 Sumber: Diolah Penulis OPM 0,27 0,06 0,05 0,01 0,09 -0,16 0,06 0,05 0,20 0,10 0,08 0,27 0,21 0,24 0,09 0,15 0,25 ROE 24,50 8,34 4,68 -0,18 6,59 -0,62 4,80 6,47 4,21 5,42 7,24 20,92 10,99 14,72 8,58 14,56 12,47 DER 0,48 0,88 1,89 3,41 3,81 6,10 2,43 2,64 3,78 1,18 3,18 0,92 6,14 5,85 13,17 9,99 5,40 Nilai Z-Score ini digunakan sebagai standardisasi dari nilai variabel kriteria saham individual yang dibandingkan dengan industrinya untuk menunjukkan posisi emiten berada di atas atau di bawah nilai rata Ae rata. Kemudian setelah mendapatkan nilai z-score, nilai agregat z-score digunakan untuk menghitung nilai total Z dengan menggabungkan variabel kriteria sesuai dengan strategi investasi dan preferensi investor. Apabila nilai agregat menghasilkan angka positif artinya telah sesuai berada di atas rata Ae rata industrinya dan dapat digunakan untuk membentuk kandidat portofolio. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 Tabel 8. Z-Score dan Agregat Z-Score Z-Score Agregat Growth Investing Agregat Value Investing 2,66 2,26 -0,73 1,00 Industri Emiten Coal Mining PTBA PER 0,26 PBV -0,06 OPM 1,21 ROE 0,78 DER -0,47 Crude & Natural Gas ELSA -0,49 -0,37 -0,55 -0,29 -0,97 ANTM -0,35 -0,49 -0,31 -0,30 -0,51 -0,94 0,73 Metal & Mineral Mining TINS -0,38 -0,52 -0,56 -0,67 -0,45 -1,68 0,11 Cement SMGR -0,22 -0,41 0,71 0,80 -0,39 1,27 2,54 WSBP -0,85 2,04 -1,87 -0,88 -0,30 -1,26 -3,64 PTPP 1,55 -0,48 0,45 0,26 0,22 1,55 -0,59 WIKA 1,18 -0,33 0,39 0,33 0,35 1,22 -0,48 Building Construction WSKT -0,41 -0,44 1,35 0,23 1,03 -0,31 1,39 Energy PGAS -0,26 -0,53 0,52 0,24 1,13 -1,16 0,41 Toll Road JSMR 1,61 0,84 -1,42 -0,66 1,66 -1,29 -6,19 Telecommunication TLKM 1,34 1,41 1,04 1,47 -1,16 6,42 0,93 Bank BBNI -0,26 -0,27 0,66 0,75 0,81 0,07 1,14 BBRI -0,25 0,08 0,80 1,16 0,70 1,08 1,42 BBTN -0,26 -0,33 0,04 0,49 3,44 -3,49 -2,32 BJBR -0,27 -0,24 0,35 1,14 2,25 -1,26 -0,25 BMRI -0,26 -0,15 0,84 0,91 0,53 0,82 1,63 Sumber: Diolah Penulis Berdasarkan hasil perhitungan agregat z-score growth investing terdapat 8 . emiten yang memiliki nilai positif yang terdiri dari TLKM . PTBA . PTPP . SMGR . WIKA . BBRI . BMRI . , dan BBNI . Sedangkan agregat z-score value investing terdapat 11 . emiten yang memiliki nilai positif yang terdiri dari SMGR . PTBA . BMRI . BBRI . WSKT . BBNI . ELSA . TLKM . ANTM . PGAS . , dan TINS . Namun, dengan bantuan fungsi solver dari software microsoft excel untuk membentuk portofolio optimal hanya terbentuk dari 3 . saham baik dari z-score growth dan z-score value. Hal tersebut karena portofolio tersebut yang menghasilkan nilai evaluasi kinerja terbaik. Adapun proporsi dana dari z-score growth dan z-score value adalah sebagai berikut: Emiten SMGR WIKA BBRI Return Risk Tangency Tabel 9. Z-Score dan Agregat Z-Score Proporsi Dana Emiten SMGR BBRI ANTM 0,00099 Return 0,02337 Risk 0,03631 Tangency Sumber: Diolah Penulis Proporsi Dana 0,00161 0,02742 0,05374 Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. Evaluasi Kinerja Portofolio Evaluasi kinerja digunakan untuk mengetahui seberapa baik portofolio yang dibentuk menggunakan 3 . metode berbeda, yaitu metode indeks tunggal, z-score growth investing dan zscore value investing. Berikut adalah hasil perhitungan dari evaluasi kinerja portofolio yang dihitung, sehingga investor dapat menyesuaikan dengan profil risiko yang dimiliki. Metode Return Indeks Tungal Z-Score Growth Z-Score Value 0,001339 0,000989 0,001614 Tabel 10. Evaluasi Kinerja Portofolio Standard Beta Sharpe Ratio Deviasi 0,037724 1,601185 0,031776 0,023369 1,630624 0,036308 0,027416 1,595363 0,053738 Sumber: Diolah Penulis Treynor Measure 0,000748 0,000520 0,000923 JensenAos Alpha 0,001249 0,000900 0,001524 Rekomendasi untuk investor untuk memilih portofolio optimal yang dibedakan dalam beberapa bentuk profil risiko. Pertama konservatif, tipe investor yang tidak ingin menanggung risiko sehingga cenderung menjauhi saham yang memiliki risiko tinggi. Metode z-score growth investing cocok untuk investor yang menghindari kelompok portofolio dengan risiko tinggi. Risiko yang dimiliki pada portofolio dengan metode z-score growth investing adalah 0,023369 dengan proporsi dana yang harus dialokasikan setiap emiten sebesar SMGR . %). WIKA . %), dan BBRI . %). Kemudian moderat, merupakan tipe investor yang berada pada kondisi antara takut dan berani untuk menanggung risiko yang besar. Maka dari itu, metode z-score value investing cocok untuk tipe investor yang memilih imbal hasil menjadi pertimbangan utama, namun cenderung memilih risiko yang tidak terlalu tinggi. Portofolio ini terdiri dari 3 . emiten dengan proporsi dana yang harus dialokasikan, yaitu SMGR . %). BBRI . %), dan ANTM . %). Terakhir agresif, adalah tipe investor yang berani untuk menanggung risiko karena berharap mendapatkan imbal hasil yang tinggi. Metode indeks model cocok untuk tipe investor yang berani menanggung risiko yang tinggi, yaitu sebesar 0,037724 dengan nilai imbal hasil yang akan diperoleh oleh investor sebesar 0,001339. Portofolio ini terdiri dari 8 . saham dengan proporsi dana yang harus dialokasikan sebesar ANTM . ,9%). TINS . ,7%). BBRI . ,8%). SMGR . ,3%). WIKA . ,9%). JSMR . ,9%). PGAS . ,2%), dan PTBA . ,96%). Selain itu, walaupun nilai return dan risk yang tinggi namun nilai kinerja portofolio dari Treynor dan Jensen ratio memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan portofolio z-score growth investing. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode indeks tunggal, terdapat 8 . saham yang paling efektif dari periode Mei 2018 Ae Desember 2020 untuk membentuk portofolio optimal, yang terdiri dari ANTM . ,9%). TINS . ,7%). BBRI . ,8%). SMGR . ,3%). WIKA . ,9%). JSMR . ,9%). PGAS . ,2%), dan PTBA . ,96%). Kemudian metode Z-Score growth investing, terdapat 3 . saham yang Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 21-38 paling efektif dari periode Mei 2018 Ae Desember 2020 untuk membentuk portofolio optimal, yaitu SMGR . %). WIKA . %), dan BBRI . %). Dan selanjutnya metode Z-Score value investing, terdapat 3 . saham yang paling efektif dari periode Mei 2018 Ae Desember 2020 untuk membentuk portofolio optimal yang terdiri dari SMGR . %). BBRI . %), dan ANTM . %). Metode indeks tunggal memiliki imbal hasil portofolio sebesar 0,001339 dengan risiko yang harus dihadapi sebesar 0,0037724. Sedangkan metode Z-Score growth investing mendapatkan nilai imbal hasil portofolio sebesar 0,000989 dan memiliki risiko sebesar 0,023369. Dan metode Z-Score value investing memiliki imbal hasil portofolio sebesar 0,001614 dengan risiko sebesar 0,027416. Metode Z-Score value investing memiliki nilai evaluasi kinerja yang paling baik dengan nilai sharpe ratio . ,053. , treynor measure . ,000. , dan jensenAos alpa . ,001. tertinggi apabila dibandingkan dengan 2 . metode lainnya, yaitu motode indeks tunggal dan Z-Score growth investing. Saran Penelitian selanjutnya dapat menambah variabel kriteria z-score yang disesuaikan dengan strategi investasi growth dan value lainnya sehingga dapat menggambarkan kinerja perusahaan lebih menyeluruh. Jangka waktu yang digunakan penelitian dapat lebih panjang dengan menggunakan jenis indeks Investor dapat menggunakan penelitian ini sebagai acuan dalam melakukan investasi dengan metode indeks model dan Z-Score untuk membentuk portofolio optimal. Avianti. & Ratnasari. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan A. DAFTAR PUSTAKA