Vol. No. 3, 2022, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/021940jpgi0005 Contents lists available at Journal IICET JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesi. ISSN: 2541-3163(Prin. ISSN: 2541-3317 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jpgi Perilaku phubbing pada mahasiswa Yola Eka Putri1*). Marjohan Marjohan1. Ifdil Ifdil1. Rezki Hariko1 Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Padang. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Received July 15 , 2022 Revised Aug 21th, 2022 Accepted Sept 28th, 2022 Keyword: Phubbing Mahasiswa Faktor-faktor phubbing Perilaku phubbing dapat diartikan sebagai tindakan mengabaikan orang lain saat interaksi dengan orang lain sedang berlangsung dan memilih berselancar di smartphone. Perilaku phubbing dapat ditemukan di dalam berbagai setting interaksi individu. Pada mahasiswa perilaku ini dapat ditemukan dalam setting keluarga, saat berkumpul dengan kolega, dan saat belajar di kelas serta pertemuan-pertemuan yang memerlukan interaksi social lainnya. Perilaku phubbing juga sudah berdampak pada interaksi pembelajaran virtual saat ini, khususnya saat mahasiswa melakukan aktivitas perkuliahan di zoom. Metode penelitian yang digunakan adalah metode literature review. Pada penelitian ini ditemukan ada berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku phubbing mahasiswa adalah FoMO, time distortion, poor reasoning, smartphone addication, technology addiction, dan self control. A 2022 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Putri. Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: yolaekaputri09@gmail. Pendahuluan Mahasiswa merupakan individu yang memiliki banyak peran penting di dalam masyarakat dan tatanan Beberapa peran dan fungsi mahasiswa adalah sebagai agent of change, iron stocks, sebagai penjaga nilainilai, sebagai kekuatan moral, dan sebagai pengontrol kehidupan sosial (Istichomaharani & Habibah, 2. Artinya mahasiswa dituntut untuk memperjuangkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain itu mahasiswa juga diharapkan mampu untuk ikut serta dalam mengontrol peraturan, kebijakan, dan kegiatan pemerintahan. Selanjutnya mahasiswa juga dituntut untuk menjadi manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia sebagai generasi penerus bangsa. Berdasarkan peran penting yang diemban tersebut idealnya mahasiswa dapat memanfaatkan smartphone untuk memudahkan mereka dalam menjalani kehidupan atau aktifikas sehari-hari (Deshpande & Iyer, 2. Hadirnya smartphone seharusnya dapat membantu mahasiswa dalam banyak hal. Misalnya dalam proses perkuliahan, smartphone dapat mempermudah mereka dalam mencari referensi perkuliahan lebih banyak dalam waktu yang singkat dan tidak dibatasi oleh tempat (Sumathi. Lakshmi, & Kundhavai, 2. Materimateri perkuliahan bisa di akses secara online dan tidak terbatas kepada buku teks saja yang biasanya menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencarinya. Smartphone merupakan benda kecil yang bisa dibawa kemana-mana dan bisa diakses di manapun asalkan terkoneksi ke internet. Selain itu perangkat ini juga dapat membantu mahasiswa dalam berkomunikasi diantara kolega maupun berkomunikasi dengan dosen dalam berbagai situasi sosial (Puspita & Rohedi, 2. Dapat disimpulkan bahwa idealnya internet dapat digunakan untuk membantu mahasiswa untuk mempergunakan waktu secara efektif dan efisien. Putri. , et al JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesi. Vol. No. 3, 2022, pp. Namun kenyataannya ada beberapa mahasiswa sebagai pengguna smartphone yang tidak bijak dalam menggunakan perangkat ini. Sehingga perangkat ini justru mengganggu tatanan kehidupan mereka seharihari. Ada mahasiswa yang justru menyalahgunakan smartphone untuk kepentingan yang merugikan diri mereka sendiri. Smartphone dapat menyebabkan kecanduan, misalnya kecanduan game dan social media (Panova & Carbonell, 2018. Tunc-Aksan & Akbay, 2. Hal ini disebabkan oleh kondisi intensitas mahasiswa dalam menggunakan smartphone mulai semakin tinggi. Tetapi mereka menggunakan smartphone lebih banyak untuk kebutuhan hiburan misalnya bermain sosial media dan bermain game. Lebih buruknya lagi keadaan ini justru dapat mengganggu proses belajar mahasiswa. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas dan tuntutan kampus, sekarang digunakan untuk berselancar di smartphone dan mengabaikan tugas-tugas pokok mereka sebagai mahasiswa. Lebih lanjut penyalagunaan smartphone ini dapat membuat mahasiswa melakukan perilaku maladaptive di dalam interaksi sosial (Forster et al. , 2. Misalnya kecanduan game online, kecanduan social media (Tunc-Aksan & Akbay, 2. , kecanduan pornografi dan kecanduan-kecanduan lain yang berkaitan erat dengan teknologi. Smartphone dapat mempengaruhi tatanan interaksi sosial mahasiswa. Penguna yang tidak bijak dalam menggunakan smartphone akan sulit melepaskan diri dari perangkat tersebut saat melakukan interaksi dengan orang lain (Lowe-Calverley & Pontes, 2. Bagi beberapa mahasiswa interaksi yang terjalin secara virtual melalui smartphone justru lebih menarik dan penting untuk dilakukan dari pada interaksi langsung (Sutisna et , 2. Hal ini merujuk pada perilaku mengabaikan orang lain saat melakukan interaksi langsung . irect Perilaku ini disebut oleh para ahli sebagai perilaku phubbing . hone-snubbin. Phubbing merupakan perilaku mengabaikan orang lain dalam sebuah situasi sosial dengan lebih memilih memperhatikan smartphone dari pada interaksi yang sedang berlangsung di sekitar (AlAaSaggaf & O'Donnell. Phubbing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu situasi dimana individu fokus pada smartphone mereka dan mengabaikan interaksi dengan orang-orang di sekeliling mereka (AlAaSaggaf & O'Donnell, 2019. Karada et al. , 2. Perilaku phubbing juga dapat diartikan sebagai tindakan mengabaikan orang lain saat interaksi dengan orang lain sedang berlangsung dan memilih berselancar di smartphone. Perilaku phubbing dapat ditemukan di dalam berbagai setting interaksi individu. Pada mahasiswa perilaku ini dapat ditemukan dalam setting keluarga, saat berkumpul dengan kolega, dan saat belajar di kelas serta pertemuan-pertemuan yang memerlukan interaksi social lainnya. Perilaku phubbing juga sudah berdampak pada interaksi pembelajaran virtual saat ini, khususnya saat mahasiswa melakukan aktivitas perkuliahan di Hasil survey menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung berselancar di dalam smartphone mereka dari pada melakukan interaksi dengan orang lain (Yam & Kumcaz, 2. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menganalisis mengenai perilaku perilaku phubbing pada mahasiswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode Metode penelitian yang digunakan adalah metode literatur review (Hart, 2018. Snyder, 2. Tinjauan literatur adalah cara yang sistematis, eksplisit, dan dapat direproduksi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis artikel penelitian penelitian dan ide-ide yang dihasilkan oleh peneliti dan praktisi yang sudah diterbitkan secara online. Pada artikel ini dikaji beberapa artikel inti yang berkaitan dengan perilaku phubbing pada mahasiswa. Pembahasan Phubbing merupakan gabungan kata dari phone dan snubbing. Kata phubbing sendiri di rumuskan oleh para ahli dan dimasukkan ke dalam kamus (Butler, 2. Perilaku ini memiliki 2 aspek yaitu phubber dan phubbee. Phubber adalah individu yang melaukan perilaku phubbing. Sedangkan phubbee adalah individu yang menjadi korban dalam phubbing. Lebih lanjut secara bahasa Phubbing adalah perilaku mengabaikan orang lain dalam lingkungan sosial dengan mengalihkan perhatian kepada smartphone (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016, 2018a, 2018b. Mumtaz, 2. Phubbing dapat digambarkan sebagai individu yang memilih smartphone saat berbicara dengan orang lain, berurusan dengan telepon seluler dan melarikan diri dari komunikasi interpersonal. Phubbing juga dapat didefenisikan sebagai perilaku pengabaian orang lain pada kegiatan format sosial . ndividu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompo. dengan berfokus kepada smartphone Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jpgi Perilaku phubbing pada mahasiswa (Ang. Teo. Ong, & Siak, 2019. Ergyn. Gyksu, & Sakz, 2. Artinya perilaku ini dapat terjadi dalam hubungan pertemanan, pasangan, dan keluarga. Aspek-aspek Phubbing Menurut Kwon. Kim. Cho, dan Yang . dimensi perilaku phubbing ada 3 yaitu: Gangguan pada kehidupan sehari-hari Adapun contoh hal-hal yang termasuk pada gangguan kehidupan sehari-hari pada perilaku phubbing adalah kehilangan pekerjaan yang direncanakan, mengalami kesulitan berkonsentrasi di kelas atau saat bekerja, mengalami sakit kepala atau penglihatan yang kabur, sakit pada pergelangan tangan atau di bagian leher, dan gangguan tidur. Penarikan diri Hal ini dapat dideskripsikan sebagai kondisi dimana individu menjadi mudah marah, gelisah dan tidak bisa menahan diri jika tidak menggunakan smartphone, terus menerus bersama smartphone dan tidak bisa lepas dari smartphone serta menjadi kesal dan marah ketika terganggu saat menggunakan Toleransi Aspek ini didefenisikan sebagai seseorang yang selalu gagal dalam mengontrol penggunaan Selanjutnya Chotpitayasunondh dan Douglas . menemukan aspek dari perilaku phubbing sebagai Nomophobia. Aspek ini dapat diartikan sebagai perasaan takut terpisahkan dari handphone sendiri. Konflik interpersonal. Aspek ini merujuk pada konflik yang dirasakan antara diri sendiri dan orang Isolasi diri. Adapun maksud dari aspek ini adalah menggunakan ponsel untuk melepaskan diri dari aktivitas sosial dan mengisolasi diri dari orang lain. Problem acknowledgement. Aspek yang ke empat adalah pengakuan akan adanya permasalahan Faktor yang mempengaruhi perilaku phubbing AlAaSaggaf dan O'Donnell . menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi phubbing yaitu: Technology addiction Kecanduan teknologi dapat berupa kecanduan internet, smartphone, sosial media, dan game. FoMO Perasaan selalu ingin terhubung dengan orang lain di dunia maya dapat membuat individu melakukan Lack of self-control Rendahnya kontrol diri dapat menimbulkan beragam perilaku maladaptives pada individu, termasuk perilaku phubbing. Individu dengan kontrol diri yang rendah lebih mudah melakukan phubbing dari pada individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi. Kemudian lebih lanjut ditambakan oleh David dan Roberts . yang mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi phubbing yaitu: . Self-control, . Poor reasoning, . Time distortion. Selain itu Yam dan Kumcaz . juga berpendapat bahwa ada beberapa prediktor perilaku phubbing diantaranya sebagai berikut: . Kecanduan smartphone, . FoMO, dan . Kebosanan . Dampak perilaku phubbing pada mahasiswa Perilaku phubbing dapat berdampak pada kualitas interaksi sosial mahasiswa (Chotpitayasunondh & Douglas. Hal ini dapat terjadi karena dalam interaksi format sosial, biasanya phubber akan mengabaikan phubbee yang menjadi lawan bicaranya dalam interaksi tersebut. Akibatnya phubbee merasa diasingkan atau bahkan lebih lanjut dapat menimbulkan perasaan kesepian pada korbannya (Ivanova et al. , 2. Mahasiswa memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Mahasiswa berperan untuk menjadi agen perubahan di dalam tatanan Mahasiswa juga diharapkan dapat menjadi contoh dikalangannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa phubbing juga berdampak pada kondisi psikologis phubbee-nya (Ivanova et al. , 2. Perilaku phubbing dapat menimbulkan depresi dan kesepian pada korbannya (Davey et al. , 2. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jrti Putri. , et al JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesi. Vol. No. 3, 2022, pp. Simpulan Simpulan pada penelitian ini adalah ada berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku phubbing mahasiswa adalah FoMO, time distortion, poor reasoning, smartphone addication, technology addiction, dan self control. Lebih lanjut perilaku phubbing sangat berdampak pada kualitas interaksi sosial yang dijalani mahasiswa. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai berbagai aspek dan upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi perilaku phubbing pada mahasiswa Referensi