Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1219Ai1232 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1597 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di kabupaten Klaten Ecological wisdom in folktales about water sources in Klaten regency Asri Kamila Ramadhani1*. Sumarwati2, & Budhi Setiawan3 1,2,3 Universitas Sebelas Maret Jalan Ir. Sutami 36 Kentingan. Jebres. Surakarta. Indonesia 1*Email: asrikamilar@student. Orcid: https://orcid. org/0009-0007-6719-6916 2Email: sumarwati@staff. Orcid: https://orcid. org/0000-0001-7543-4717 3Email: buset. 74@gmail. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-5369-2157 Article History Received 21 November 2025 Revised 23 December 2025 Accepted 28 December 2025 Published 8 January 2026 Keywords Klaten ecological wisdom. Kata Kunci cerita rakyat. Kabupaten Klaten. sumber air. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract Folktales about water sources in Klaten have not been widely accessed, causing values related to environmental conservation and water sustainability to be insufficiently conveyed. The purpose of this research is to inquire into the ecological knowledge contained in Klaten folktales about water sources and how they might be used to teach Indonesian language skills to junior high school students. This study takes an ethnographic approach to its qualitative descriptive methodology. Water sources and associated folktales were the focus of the research in six subdistricts of Klaten. Using purposive and snowball sampling approaches, data was collected from a variety of sources, including village leaders, cultural figures, local citizens, and relevant authorities. Triangulation of methods and sources was used to verify the data collected from in-depth interviews. An interactive model was used for data analysis. A number of ecological wisdom principles, including cosmic solidarity, concern for nature, environmental preservation, justice, and moral integrity, are included in the folktales, according to the research. The dominant ecological wisdom value is the principle of living simply and in harmony with nature, as manifested in the story of Roro Amis, who sailed on a banana trunk, and Prince Sidotopo, who played the traditional game nglarak blarak. Abstrak Cerita rakyat tentang sumber air di Klaten belum terakses luas sehingga nilai keberlanjutan sumber air dan kelestarian lingkungan tidak tersampaikan. Tujuan riset ini adalah untuk menyelidiki pengetahuan ekologis yang terkandung dalam cerita rakyat Klaten tentang sumber air dan cara cerita rakyat tersebut dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Studi ini menggunakan pendekatan etnografi dalam metodologi deskriptif kualitatifnya. Sumber air dan cerita rakyat terkait menjadi fokus penelitian di enam kecamatan Klaten. Dengan menggunakan pendekatan pengambilan sampel purposif dan snowball, data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kepala desa, tokoh budaya, warga setempat, dan pihak berwenang terkait. Triangulasi metode dan sumber digunakan untuk memverifikasi data yang dikumpulkan dari wawancara mendalam. Model interaktif digunakan untuk analisis data. Sejumlah prinsip kearifan ekologis, termasuk solidaritas kosmik, kepedulian terhadap alam, pelestarian lingkungan, keadilan, dan integritas moral, terkandung dalam cerita rakyat tersebut. Nilai kearifan ekologis yang dominan adalah prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam yang termanifestasi dalam kisah Roro Amis yang berlayar di atas batang pisang dan Pangeran Sidotopo yang memainkan permainan tradisional nglarak blarak. A 2026 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Ramadhani. Sumarwati. , & Setiawan. Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 1219Ae1232. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Asri Kamila Ramadhani. Sumarwati, & Budhi Setiawan Pendahuluan Kajian mengenai isu lingkungan mulai disadari oleh banyak peneliti saat ini. Bahkan, kajian mengenai lingkungan alam sedang menjadi sorotan dalam dunia ilmiah, baik tingkat nasional maupun internasional (Wijaya et al. , 2. Sektor lingkungan sebagai suatu sektor yang harus dikaji dalam menghadapi tantangan dan perubahan global yang terus berkembang (Firdaus, 2. Sastra dalam hal ini dapat berkontribusi menyampaikan pendapat masyarakat terhadap lingkungan yang diungkapkan melalui nilai-nilai kearifan lingkungan atau nilai-nilai ekologis (Pamungkas, 2. Sastra lisan di Indonesia mengandung beberapa nilai yang dijadikan pedoman dalam kehidupan, salah satunya adalah nilai ekologis atau kearifan lingkungan (Maulana et al. , 2. Pemahaman tersebut merujuk pada etika lingkungan menurut Keraf . yang menekankan prinsip-prinsip, seperti sikap hormat kepada alam, tanggung jawab moral terhadap lingkungan, solidaritas kosmis, hidup sederhana serta menyelaraskan alam, prinsip keadilan, serta integritas Dalam konteks sastra lisan, nilai-nilai tersebut tidak hadir sebagai konsep abstrak, tetapi terinternalisasi dalam narasi, praktik budaya, dan perilaku masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, sastra lisan dipandang valid sebagai media kultural yang merepresentasikan sekaligus mentransmisikan etika lingkungan sehingga berfungsi sebagai instrumen konservasi lingkungan tradisional (Diana, 2. Sastra lisan yang tumbuh di tiap daerah merupakan cerminan kebudayaan atau realitas kehidupan masyarakat setempat (Armiza, 2. Salah satu wujud sastra lisan yang punya relasi erat dengan masyarakat adalah cerita rakyat. Masyarakat hidup berdampingan dengan cerita rakyat sejak zaman dahulu. Cerita rakyat tidak diposisikan semata-mata sebagai produk naratif atau warisan budaya yang didokumentasikan, tetapi sebagai sistem pengetahuan lokal yang memuat cara pandang, nilai, dan praktik masyarakat dalam mengelola relasi dengan alam. Cerita rakyat tentang sumber air merekam pengalaman ekologis masyarakat yang terbentuk melalui interaksi panjang dengan lingkungan sekitarnya sehingga di dalamnya tersimpan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam (Efendi et al. , 2. Cerita-cerita yang mengandung pesan bijak dari nenek moyang, termasuk nilai-nilai rasa hormat kepada alam tersebut disampaikan melalui mulut ke mulut (Ahmadi et al. , 2. Pesan-pesan yang terkandung dalam cerita rakyat sering kali lebih mudah dipahami dan dihayati. Cerita rakyat mengajarkan tiap generasi untuk memahami cara manusia dan alam berhubungan sebagai satu kesatuan harmonis. Melalui beragam narasi, cerita rakyat mengajarkan nilai-nilai, norma, serta cara hidup yang dilaksanakan oleh leluhur dalam berinteraksi dengan alam sekitar (Situmorang et al. , 2. Kabupaten Klaten merupakan daerah yang kaya akan cerita rakyat dan dikenal dengan julukan Kabupaten Seribu Satu Umbul. Julukan tersebut disematkan karena Kabupaten Klaten memiliki banyak umbul ataupun sumber air (Nirmala, 2. Tiap sumber air tersebut diyakini mengandung cerita rakyat yang berbeda-beda. Nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut bermuatan kearifan ekologis yang digunakan sebagai pengingat masyarakat setempat untuk senantiasa menjaga sumber mata air dan lingkungan sekitar (Sarkowi & Sustianingsih, 2. Kondisi sumber air di Kabupaten Klaten saat ini memperlihatkan tantangan lingkungan yang nyata dan mendesak. Meskipun dikenal sebagai Kabupaten Seribu Satu Umbul, sejumlah wilayah di Klaten mengalami krisis air bersih saat musim kemarau tahun 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten . mencatat bahwa pada periode AgustusAe Oktober 2025, distribusi ratusan tangki air bersih dilaksanakan ke beberapa desa di Kecamatan Kemalang, seperti Tlogowatu. Tegalmulyo. Kendalsari, dan Sidorejo, serta Desa Gemampir di Kecamatan Karangnongko. Bantuan tersebut menjangkau sekitar 2. 524 kepala keluarga atau 8. jiwa yang masih bergantung pada pasokan air darurat. Selaras terhadap itu, laporan BNPB memperlihatkan pada awal Oktober 2025 sebanyak 2. 527 kepala keluarga atau 8. 851 jiwa terdampak kekeringan sehingga status siaga darurat kekeringan tetap diberlakukan di Kabupaten Klaten. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan ketersediaan dan keberlanjutan sumber air menjadi persoalan ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Oleh karena Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten itu, melemahnya pemahaman tersebut berpotensi mengurangi kesadaran masyarakat dalam menjaga sumber air dan lingkungan sekitarnya. Sebagian masyarakat tidak mengetahui cerita rakyat tentang mata air, terlebih generasi muda (Sarmadan et al. , 2. Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan tergerusnya cerita rakyat apabila masyarakat pendukungnya tidak lagi mengenalnya. Oleh karena itu, diperlukan pendokumentasian cerita rakyat agar semakin mudah diakses oleh banyak orang (Mahsa et al. Salah satu cara yang mudah untuk memperkenalkan cerita rakyat adalah melalui peserta didik (Ain et al. , 2. Sekolah memegang peranan penting dalam menanamkan pemahaman akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Lingkungan pendidikan dinilai menjadi wadah efektif bagi individu untuk menyerap informasi baru secara sistematis dan terstruktur. Untuk mengajarkan literasi lingkungan secara efektif, pendekatan dapat dilaksanakan dengan mengintegrasikan cerita rakyat yang memuat nilai-nilai kearifan ekologis ke dalam kurikulum peserta didik (Sugihartono, 2. Mata pelajaran yang bisa dipergunakan sebagai sarana untuk mengajarkan cerita rakyat berbasis nilai-nilai kearifan ekologis adalah Bahasa Indonesia. Pemanfaatan cerita rakyat yang mengandung kearifan ekologis di lingkungan sekolah tidak hanya menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap kearifan lokal yang dimiliki (Sarkowi & Sustianingsih, 2. Ketika peserta didik memahami bahwa nilai-nilai pelestarian alam sudah jadi bagian dari identitas budaya dan diwariskan oleh para leluhur, tindakan menjaga lingkungan tidak hanya sekadar kewajiban formal, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan budaya tersebut (Lestari et al. , 2. Maka begitu, mengintegrasikan nilai-nilai kearifan ekologis berbasis cerita rakyat dapat menciptakan pemahaman antara peserta didik dengan alam dan budayanya. Penelitian mengenai nilai-nilai ekologi telah dilaksanakan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Pertama, penelitian dilaksanakan oleh Rohman et al. yang memperlihatkan keberadaan ruh Dewi Sri mencerminkan nilai ekologis dan terimplementasi dalam keseharian masyarakat Jawa Timur. Kedua, penelitian dilaksanakan oleh Efendi et al. membahas betapa pentingnya cerita rakyat dalam konservasi alam. Selain itu, penelitian tersebut juga menjelaskan mengenai hubungan antara manusia, alam, dan tuhan melalui sudut pandang ekologi. Ketiga, penelitian dilaksanakan oleh Suryanto et al. bahwasanya cerita rakyat di Kabupaten Karanganyar memuat nilai edukatif kearifan lokal untuk pembelajaran siswa sekolah dasar. Keempat, penelitian dilaksanakan oleh Rizal et al. memperlihatkan cerita rakyat Legenda Batu Bagaung dan Dohong dan Tingang ada pengaruh terhadap daerah di Kalimantan Tengah sebagai pengingat warga agar selalu menjaga alamnya. Namun, penelitian-penelitian tersebut umumnya berhenti pada kajian makna simbolik, nilai edukatif, atau fungsi normatif cerita rakyat. Berbeda dengan kajiankajian itu, riset ini secara khusus menempatkan cerita rakyat sumber air di Klaten sebagai praktik kearifan ekologis yang tercermin dalam perilaku masyarakat serta pemanfaatannya secara sistematis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Ada beberapa kajian tentang sumber air di Kabupaten Klaten, antara lain sebagai berikut. Pertama. Anggraheny et al. kajian persepsi masyarakat terhadap cerita rakyat Umbul Kemanten. Kedua, studi ini menitikberatkan pada pemetaan distribusi dan penggambaran potensi objek wisata mata air di Klaten (Arfah, 2. Ketiga, riset ini menganalisis strategi digital branding melalui akun media sosial Instagram @Umbulbrondong Klaten (Dewi, 2. Keempat, studi ini membahas peluang pengembangan Umbul Pluneng sebagai salah satu destinasi wisata di Klaten (Yulianto & Kumalaningrum, 2. Maka begitu, belum dilaksanakan kajian yang difokuskan pada cerita rakyat dan nilai kearifan ekologis tentang sumber air di Kabupaten Klaten. Penelitianpenelitian tersebut lebih menitikberatkan pada aspek pariwisata, persepsi, dan pengelolaan, serta belum menempatkan cerita rakyat sebagai sumber nilai kearifan ekologis yang dianalisis secara Oleh karena itu kebaruan riset ini terletak pada . objek kajiannya, yaitu akan mengeksplorasi seluruh cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten yang mengandung nilai kearifan ekologis, dan . fokus permasalahannya, yaitu menganalisis nilai kearifan ekologis serta pemanfaatannya sebagai pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Berdasarkan hal tersebut tujuan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Asri Kamila Ramadhani. Sumarwati, & Budhi Setiawan riset ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten serta pemanfaatannya sebagai pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Metode Riset ini ialah riset kualitatif dengan pendekatan etnografi. Menurut Creswell . etnografi adalah suatu pendekatan yang mendeskripsikan, menganalisis, dan menafsirkan pola kelompok budaya secara keseluruhan. Kajian etnografi berfokus pada telaah bahasa, ritual, struktur sosial, tahapan kehidupan, pola interaksi, dan praktik komunikasi Creswell . Adapun fokus kajian etnografi ini meliputi nilai-nilai kearifan ekologis dalam cerita rakyat mata air di Kabupaten Klaten. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Klaten, tepatnya di enam kecamatan, yaitu Pertama. Umbul Ponggok. Umbul Sigedang Kapilaler. Umbul Besuki. Umbul Manten, dan Umbul Siblarak di Kecamatan Polanharjo. Kedua. Umbul Jolotundo di Kecamatan Karanganom. Ketiga. Umbul Gedaren. Umbul Kroman, dan Sendang Gotan di Kecamatan Jatinom. Keempat. Umbul Pluneng Tirta Mulyono dan Umbul Pluneng Tirta Mulyani di Kecamatan Kebonarum. Kelima. Sendang Sinongko di Kecamatan Ceper. dan Keenam. Sendang Bulus Jimbung di Kecamatan Kalikotes. Riset ini menggunakan snowball sampling untuk menentukan informan yang memahami cerita rakyat tentang sumber air. Adapun informan penelitian meliputi pimpinan desa, budayawan lokal, warga lokal, serta pejabat terkait. Pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara mendalam. Uji validitas data dilaksanakan melalui triangulasi metode dan sumber. Analisis data dilaksanakan dari tahap menghimpun data, kondensasi data, menyajikan data, dan menetapkan simpulan. Pembahasan Dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten, tersimpan nilai-nilai kearifan ekologis yang memperlihatkan interaksi antara manusia dengan alam, mulai dari bentuk kepedulian, rasa tanggung jawab, menghormati, sampai prinsip-prinsip yang ditekankan dalam Berikut hasil serta pembahasan mengenai nilai kearifan ekologis 13 cerita rakyat tentang sumber air di Klaten. Nilai Kearifan Ekologis Cerita Rakyat di Sumber Air Klaten Nilai kearifan ekologis yang terdapat dalam cerita Legenda Sendang Sinongko. Legenda Umbul Ponggok. Legenda Umbul Sigedang Kapilaler. Legenda Umbul Jolotundo. Legenda Umbul Manten. Legenda Umbul Pluneng Tirtomulyono. Legenda Umbul Pluneng Tirtomulyani. Legenda Umbul Besuki. Legenda Umbul Gedaren. Legenda Umbul Kroman. Legenda Umbul Siblarak. Legenda Sendang Gotan, dan Legenda Sendang Bulus Jimbung meliputi solidaritas kosmis, hidup sederhana dan selaras dengan alam, sikap hormat terhadap alam, prinsip integritas moral, kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, prinsip keadilan, sikap tanggung jawab terhadap alam, tidak merugikan alam. Berikut muatan nilai kearifan ekologis tersebut akan dibahas secara rinci. Sikap Hormat Terhadap Alam Sikap hormat kepada alam ialah dasar utama etika lingkungan. Sikap tersebut menyatakan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, yaitu alam berharga karena keberadaannya, bukan sekadar karena manfaatnya bagi manusia. Pandangan tersebut menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai sosok yang berkuasa atau dapat mengeksploitasi sesuka hati (Keraf, 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten Dalam cerita-cerita rakyat sumber air di Klaten, praktik menghormati alam ditunjukkan dengan cara tersendiri, misalnya dengan melihat sumber air bukan sekadar sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sesuatu yang sakral. Berdasarkan 13 cerita rakyat yang ditemukan, terdapat lima bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki sikap hormat kepada alam. Contoh dua peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan sikap hormat kepada alam, antara lain terdapat pada cerita Legenda Sendang Sinongko dan Legenda Umbul Kemanten. Pada cerita rakyat Legenda Sendang Sinongko. Raja Pakubuwono IV menyempatkan diri untuk singgah di sendang yang terletak di Desa Tegalduwur di tengah perjalanannya. Saat beristirahat, beliau memakan buah nangka dan membuang isi nangka di sekitar sendang tersebut. Kemudian, beliau memberi nama sendang tersebut dengan sebutan Sendang Sinongko. Tindakan yang dilaksanakan raja dalam memberi nama pada sendang yang sebelumnya belum bernama tersebut memperlihatkan raja mengakui kebermanfaatan alam dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif ekokritik modern, praktik simbolis seperti pemberian nama terhadap unsur alam dapat dipahami sebagai bentuk pengakuan atas nilai intrinsik alam, yaitu nilai yang melekat pada alam itu sendiri. Pemberian nama pada sendang berfungsi sebagai proses simbolik yang menempatkan alam sebagai entitas bermakna dalam kesadaran masyarakat sehingga keberadaannya diakui, diingat, dan dihormati secara sosial-kultural (Ramadhani et al. , 2. Dengan diberi nama, sendang diposisikan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang punya makna dan identitas (Kusyani & Kartika, 2. Praktik simbolisasi ini memperlihatkan alam diperlakukan sebagai subjek kultural yang punya kedudukan etis dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, tindakan Raja Pakubuwono IV dalam memberi nama Sendang Sinongko dapat dikategorikan sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai intrinsik alam karena melalui simbolisasi tersebut alam ditempatkan dalam relasi etis yang menuntut sikap hormat dan tanggung jawab Selain itu, sikap hormat terhadap alam juga terdapat dalam cerita Legenda Umbul Kemanten. Potret penghormatan terhadap alam ditunjukkan oleh pesan dari masyarakat setempat dan orang tua bahwa manusia sebaiknya tidak meremehkan keberadaan sumber air karena masih membutuhkannya untuk keseharian. Masyarakat setempat bukan hanya menganggap mata air sebagai sumber kehidupan, melainkan juga mempunyai aspek kesakralan yang harus dijaga. Sikap Tanggung Jawab terhadap Alam Sikap tanggung jawab terhadap alam mencerminkan kewajiban manusia untuk menjaga serta melestarikan lingkungan. Tanggung jawab tersebut mencakup tindakan pencegahan kerusakan dan perbaikan terhadap kerusakan yang telah terjadi. Prinsip tersebut juga meliputi tanggung jawab terhadap generasi mendatang agar mereka dapat menikmati lingkungan yang sehat dan sumber daya yang memadai (Keraf, 2. Berdasarkan 13 cerita rakyat yang ditemukan, terdapat enam bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki sikap tanggung jawab terhadap alam. Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan sikap tanggung jawab terhadap alam meliputi cerita Legenda Umbul Ponggok. Legenda Umbul Pluneng Tirta Mulyani, dan Legenda Umbul Kroman. Pada cerita Legenda Umbul Ponggok, sikap tersebut ditunjukkan melalui tradisi padusan menjelang bulan puasa. Dalam cerita rakyat itu, dikisahkan bahwa keputusan masyarakat melakukan tradisi ini bermula dari kejadian misterius hilangnya para penabuh gamelan menjelang pertunjukan ledhek dan ditemukannya batu gong dekat sumber air untuk menjaga keseimbangan Secara sosiologis, mitos hilangnya penabuh gamelan berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial informal dalam menjaga kelestarian sumber air. Cerita tersebut menciptakan kesadaran bahwa tindakan yang mengganggu keseimbangan alam dapat berdampak negatif terhadap kehidupan bersama sehingga norma-norma ekologis dipatuhi tanpa perlu aturan tertulis atau hukum formal. Pola komunikasi lingkungan berbasis kearifan lokal memperlihatkan tradisi, mitos, dan larangan yang diwariskan dengan turun-temurun efektif membentuk norma dan perilaku konservasi di masyarakat sehingga anggota komunitas cenderung mematuhi aturan adat untuk Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Asri Kamila Ramadhani. Sumarwati, & Budhi Setiawan menjaga sumber daya (Yasir et al. , 2. Pada praktiknya, upacara padusan diselenggarakan secara rutin bukan sekadar untuk menjaga keseimbangan alam, melainkan juga memohon diberikan keberkahan sekaligus membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Selain itu, tradisi padusan yang dilaksanakan secara rutin juga mereproduksi norma-norma ekologis lokal yang menegaskan komitmen bersama masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan air (Kusyani et al. , 2. Praktik ritual adat sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam juga ditunjukkan dalam cerita Legenda Umbul Pluneng Tirta Mulyani. Dalam kisah itu, dijelaskan bahwa upacara tahunan dengan membawa sesajen di umbul tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab atas kelestarian mata air dan menjaga keberlanjutannya. Cerita tersebut juga menjelaskan jika masyarakat akan membawa sesajen dan berdoa di sekitar lingga yoni dan arca Buddha dekat umbul. Bentuk tanggung jawab terhadap alam bukan hanya berupa pelaksanaan tradisi, melainkan juga menjaga kebersihan lingkungannya. Hal tersebut diungkapkan dalam cerita Legenda Umbul Pluneng Tirta Mulyani bahwa menjaga kebersihan sekitar umbul termasuk tanggung jawab kolektif masyarakat daerah setempat, seperti menjaga lingkungan sekitar dari berbagai kotoran dan membuangnya pada tempat yang telah disediakan, membersihkan lumut, serta menjaga aliran air agar tetap lancar. Di samping menjaga umbul dari kotoran, pada cerita Legenda Umbul Kroman juga diungkapkan bahwa umbul juga perlu dibersihkan dari sikap masyarakat yang sombong, serakah, serta meremehkan aturan. Hal ini termasuk bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga kebersihan alam. Solidaritas Kosmis Prinsip solidaritas kosmis menegaskan bahwa seluruh alam semesta adalah kesatuan yang saling terhubung. Kerusakan pada satu bagian alam akan memengaruhi bagian lain. Solidaritas kosmis juga merujuk pada kesadaran bahwa manusia dan alam memiliki nasib yang sama sehingga penderitaan alam juga ialah penderitaan manusia (Keraf, 2. Manusia bukan makhluk yang berdiri sendiri, tetapi juga berdampingan dengan kehidupan lainnya, mulai dari tumbuhan, hewan, air, tanah, dan lainnya. Perilaku yang memperlihatkan solidaritas kosmis ditunjukkan dalam sejumlah cerita rakyat mata air, antara lain sebagai berikut. Berdasarkan 13 cerita rakyat yang ditemukan, terdapat enam bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki solidaritas Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan solidaritas kosmis, antara lain terdapat pada cerita Legenda Umbul Kroman. Legenda Sendang Sinongko, dan Legenda Umbul Manten. Pada cerita Legenda Umbul Kroman, legenda Nyi Mardani bukan sekadar mitos untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan ajaran tentang cara manusia untuk dapat hidup selaras dengan alam. Melalui tersebarnya legenda Nyi Mardani, maka akan mendorong manusia untuk tersadar agar tidak merusak dan mampu menyelamatkan alam. Hal tersebut memperlihatkan adanya hubungan ataupun solidaritas antara manusia, leluhur . , alam, dan makhluk Dalam cerita Legenda Sendang Sinongko misalnya, masyarakat mengenang Adipati Singodrono dan Ki Irokopo sebagai sosok pelindung sekaligus penjaga sendang. Kondisi serupa juga diceritakan dalam kisah Umbul Manten bahwa terdapat hubungan antara kematian sepasang pengantin di umbul, kepercayaan masyarakat terhadap leluhur, serta kondisi alam itu sendiri. Masyarakat meyakini ketiga aspek yang saling terjalin tersebut sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan alam. Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam Etika lingkungan menuntut adanya rasa kasih sayang dan kepedulian yang tulus terhadap Dengan adanya sikap itu, tindakan untuk melindungi dan merawat alam akan muncul secara alami dari dorongan batin, bukan sekadar karena kewajiban (Keraf, 2. Nilai kasih sayang dan kepedulian terhadap alam juga ditunjukkan dalam penggalan cerita rakyat berikut ini. Berdasarkan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten 13 cerita rakyat yang ditemukan, ada empat bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki sikap kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Contoh peristiwa cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan sikap itu, antara lain terdapat pada cerita Legenda Umbul Ponggok dan Legenda Umbul Gedaren. Pada cerita Legenda Umbul Ponggok. Ki Jatmiko mengisyaratkan kepada masyarakat agar tidak merusak alam dan senantiasa menjaga keseimbangannya. Perilaku tersebut ditunjukkan dalam penggalan cerita Legenda Umbul Gedaren. Menyuguhkan sesaji selama pelaksanaan upacara adat adalah wujud penghormatan sekaligus kepedulian terhadap alam. Temuan tersebut selaras dengan hasil penelitian Rohman et al. yang melihat alam bukan sebagai objek yang dikuasai manusia, namun sebagai entitas yang punya kehendak dan perlu dihormati. Dalam penelitian Rohman et al. , penghormatan terhadap alam diwujudkan melalui ritual yang ditujukan kepada Dewi Sri sebagai roh penunggu padi, bumi, dan tanah. Kesamaan pandangan tersebut tampak dalam cerita rakyat sumber air di Kabupaten Klaten, khususnya pada praktik pemberian sesaji dalam Legenda Umbul Gedaren, yang tidak dimaknai sebagai pemujaan, tetapi sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Maka begitu, temuan riset ini menegaskan bahwa ritual dalam cerita rakyat berperan sebagai sarana pembentuk hubungan yang selaras antara manusia dan alam. Tidak Merugikan Alam Sikap tidak merugikan alam ialah larangan mendasar untuk tidak melakukan tindakan yang dapat merusak alam. Aturan ini mencakup tindakan yang disengaja maupun tidak. Prinsip tersebut juga berkaitan dengan prinsip kehati-hatian, yaitu menahan diri dari tindakan yang berpotensi merusak lingkungan meskipun dampaknya belum sepenuhnya pasti (Keraf, 2. Berdasarkan 13 cerita rakyat yang ditemukan, ada tiga bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki sikap tidak merugikan alam. Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan sikap tidak merugikan alam, antara lain terdapat pada cerita Legenda Sendang Sinongko. Legenda Umbul Jolotundo, dan Legenda Sendang Bulus Jimbung. Pada cerita Legenda Sendang Sinongko menceritakan tentang petani yang menerima pesan melalui mimpi untuk menyuguhkan mengadakan tradisi tahunan setiap musim panen, berupa menyuguhkan sesajen. Praktik tradisi ini merupakan bentuk menghormati dan berterima kasih kepada alam karena telah memberikan hasil panen yang melimpah sebagai sumber kehidupan. Sementara itu, masyarakat yang melanggar perintah itu, berarti telah mengabaikan alam ataupun sendang sebagai sumber air. Hal tersebut bisa mendapatkan sanksi yang merugikan dan berakibat buruk pada kehidupan. Bentuk larangan lainnya juga terdapat dalam cerita Legenda Umbul Jolotundo. Dalam cerita disebutkan bahwa terdapat larangan untuk menanam pohon pisang di sekitar umbul. Apabila larangan tersebut dilanggar akan berisiko terjadi bencana yang menimpa para penduduk. Adanya larangan tersebut bukan sekadar untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan umbul. Selain itu, dalam cerita Legenda Sendang Bulus Jimbung, diungkapkan bahwa keputusan Prabu Djimbun untuk menghindari peperangan memperlihatkan sikap tidak merugikan sesama makhluk hidup dan alam dari kehancuran akibat perang. Hal tersebut juga memperlihatkan kebijaksanaan Prabu Djimbun. Orang yang bijaksana akan selalu mengambil keputusan secara sadar (Wibowo & Abdullah, 2. Peperangan biasanya melibatkan pengerahan pasukan, penggunaan senjata, dan perusakan wilayah strategis. Perang juga dapat menyebabkan perusakan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat serta menyebabkan polusi udara dan suara. Hal tersebut memperlihatkan apabila perang tetap berlangsung akan berisiko mengganggu ketenteraman makhluk hidup serta merusak keseimbangan alam. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Asri Kamila Ramadhani. Sumarwati, & Budhi Setiawan Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam Manusia menjalani keseharian terikat dengan alam sehingga menuntut adanya kerja sama dengan alam dan menjalani kehidupan yang selaras. Selain itu, manusia juga diajarkan untuk hidup sederhana dan memanfaatkan alam secukupnya. Hal ini bisa diterapkan dengan mengurangi kebutuhan material, maka dampak negatif terhadap lingkungan juga akan berkurang (Keraf, 2. Kesederhanaan hidup dan perilaku yang selaras dengan alam juga tampak dalam cerita-cerita rakyat mata air di Klaten berikut ini. Berdasarkan 13 cerita rakyat, ditemukan ada delapan bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki prinsip hidup sederhana dan selaras dengan Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air merepresentasikan sikap kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, antara lain terdapat pada cerita Legenda Umbul Jolotundo dan Legenda Umbul Siblarak. Pada cerita Legenda Umbul Jolotundo, dikisahkan bahwa Roro Amis hampir setiap hari menghabiskan waktunya di tepi Umbul Jolotundo. Salah satu hal yang Roro Amis lakukan adalah membuat perahu kecil dari batang pisang yang tumbang, lalu menaikinya dan membiarkan dirinya hanyut pelan di tengah umbul. Praktik kesederhanaan tersebut membuktikan bahwa kesederhanaan hidup dan memanfaatkan alam secukupnya tetap bisa mendatangkan kebahagiaan. Kisah serupa juga terdapat pada cerita Legenda Umbul Siblarak yang menggambarkan alam sebagai ruang hidup sekaligus sumber pembelajaran bagi anak-anak. Dalam cerita itu, daun kelapa kering . dimanfaatkan sebagai media permainan sederhana. Di padang rumput sekitar umbul, selain menggembalakan kuda. Pangeran Sidotopo kerap bermain bersama temantemannya menggunakan blarak sebagai sarana permainan. Temuan ini memperlihatkan alam dimanfaatkan secara kreatif tanpa merusaknya sehingga mencerminkan nilai hidup sederhana dan selaras dengan alam. Praktik permainan tradisional tersebut tidak hanya hidup dalam narasi cerita rakyat, tetapi juga masih dilestarikan oleh masyarakat hingga kini. Hal ini ditegaskan oleh informan dalam kutipan wawancara berikut. AuPermainan nglarak blarak sebagai suatu agenda dalam Festival Sidowayah tiap tahunnya. Tujuan kami memasukkan permainan nglarak blarak di rangkaian kegiatan adalah agar masyarakat mengenal sejarah Umbul Siblarak dan Desa Sidowayah. Ay (Wawancara dengan H, 02 September 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan permainan nglarak blarak sebagai sarana edukasi budaya dan sejarah lokal. Melalui festival, permainan ini direkonstruksi sebagai media pewarisan cerita rakyat dan nilai kearifan ekologis kepada generasi muda. Secara teknis, permainan nglarak blarak dilaksanakan dengan cara satu anak duduk di atas blarak, sementara anak lain menariknya sambil Kesederhanaan permainan ini mengajarkan pemanfaatan unsur alam secara bijak, tanpa eksploitasi, serta menumbuhkan kesadaran bahwa alam bisa jadi sumber kegembiraan sekaligus Prinsip Keadilan Prinsip keadilan memastikan bahwa keadilan berlaku dalam isu-isu lingkungan. Hal tersebut mencakup keadilan antara generasi sekarang dengan generasi mendatang serta keadilan di antara sesama manusia yang hidup pada masa kini, terutama terkait pembagian beban dan manfaat lingkungan (Keraf, 2. Berdasarkan 13 cerita rakyat, ditemukan ada lima bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki prinsip keadilan. Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan prinsip keadilan, antara lain terdapat pada cerita Legenda Sendang Sinongko dan Legenda Sendang Bulus Jimbung. Pada cerita Legenda Sendang Sinongko. Adipati Singodrono tidak ingin melihat rakyatnya sengsara dan dijadikan persembahan sehingga dirinya ingin menyelamatkan rakyat dan membebaskan mereka dari beban persembahan tersebut. Keputusan Asipati Singodrono untuk Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten tidak mengorbankan rakyatnya memperlihatkan prinsip keadilan karena ia menempatkan keselamatan dan martabat rakyat sebagai hal utama. Ia menolah praktik persembahan yang tidak manusiawi bagi rakyat kecil. Dengan membebaskan rakyat dari kewajiban merugikan itu. Adipati Singodrono memperlihatkan tiap orang berhak mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang Prinsip keadilan juga ditunjukkan dalam penggalan cerita Legenda Sendang Bulus Jimbung. Penggalan cerita tersebut memperlihatkan prinsip keadilan karena Prabu Worosingo menegaskan bahwa seseorang tidak boleh mengambil barang yang bukan miliknya. Sikap ini menekankan pentingnya menghormati hak setiap individu atas apa yang mereka miliki. Selain itu, prinsip tersebut memperlihatkan Prabu Worosingo adalah pemimpin yang berhati nurani karena tidak menuruti hawa nafsu (Alfien et al. , 2. Prinsip ini juga dapat dikaitkan dengan keadilan Makhluk hidup lain memiliki hak kepemilikan seperti manusia untuk hidup dan mempertahankan lingkungan. Dengan menekankan pentingnya tidak mengambil sesuatu secara sewenang-wenang, kutipan tersebut mengajarkan bahwa manusia harus menghormati hak alam dan makhluk lain agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga. Prinsip Integritas Moral Prinsip integritas moral menegaskan bahwa etika lingkungan harus diwujudkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Setiap prinsip ekologis ini harus diinternalisasi, sehingga terdapat keselarasan antara keyakinan dan tindakan. Integritas moral memastikan bahwa etika lingkungan bukan hanya menjadi teori, melainkan komitmen yang dijalankan secara konsisten (Keraf, 2. Berdasarkan 13 cerita rakyat, ditemukan ada tiga bagian cerita yang merepresentasikan tokohnya memiliki prinsip integritas moral. Contoh peristiwa dalam cerita rakyat tentang sumber air yang merepresentasikan prinsip integritas moral, antara lain terdapat pada cerita Legenda Sendang Sinongko dan Legenda Sendang Gotan. Dalam petikan cerita Legenda Sendang Sinongko, ditunjukkan bahwa masyarakat sekitar Sendang Sinongko berkomitmen untuk menjadikan Upacara Bersih Sendang sebagai tradisi Komitmen tersebut tercermin dalam praktik sosial masyarakat saat ini. Hal tersebut dibantu oleh pernyataan informan berikut. AuUpacara bersih sendang Sinongko menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Desa Pokak. Bahkan, banyak warga yang pulang dari merantau demi menghadiri bersih sendang ini. Ay (Wawancara dengan S, 01 Agustus 2. Pernyataan informan memperlihatkan keterlibatan masyarakat bersifat sukarela dan didorong oleh kesadaran moral, bukan paksaan. Kesediaan warga untuk kembali dari perantauan mencerminkan kesetiaan terhadap nilai-nilai leluhur dan tanggung jawab bersama dalam menjaga sendang sebagai sumber kehidupan. Tradisi bersih sendang dilaksanakan sebagai wujud konsistensi masyarakat dalam mempraktikkan nilai rasa syukur, berbagi, dan menjaga keseimbangan alam. Konsistensi antara ajaran leluhur dan tindakan nyata masyarakat tersebut memperlihatkan prinsip integritas moral, yaitu keselarasan antara nilai yang diyakini dan perilaku yang dijalankan demi kelestarian alam. Prinsip integritas moral juga tampak dalam cerita Legenda Sendang Gotan. Dalam kutipan itu. Sendang Gotan bukan hanya dipandang masyarakat sebagai sumber air secara fisik saja, tetapi juga berperan dalam dimensi spiritual sebagai sumber penyemangat. Maka begitu, praktik menjaga sendang berarti juga menjaga alam fisik dan nilai spiritual di dalamnya. Hal tersebut bahwa sumber air merupakan warisan dari para leluhur serta pemberian alam yang sudah sepatutnya dijaga. Integritas moral tampak pada kesadaran bahwa manusia memiliki kewajiban dalam menjaga amanah alam dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Asri Kamila Ramadhani. Sumarwati, & Budhi Setiawan Pemaknaan sumber air dalam cerita Legenda Sendang Gotan selaras terhadap riset Efendi et al. yang menempatkan sumber air sebagai elemen yang punya makna simbolis, spiritual, dan Dalam penelitian Efendi et al. , air dipahami sebagai elemen yang harus dijaga melalui berbagai cara agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan. Keselarasan tersebut memperlihatkan praktik menjaga sumber air dalam cerita rakyat berdasarkan pada integritas moral masyarakat dalam menghormati alam sebagai amanah yang diwariskan dengan turun-temurun. Maka begitu, temuan riset ini memperkuat pandangan bahwa nilai integritas moral dalam cerita rakyat berfungsi sebagai landasan etis dalam pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana. Pemanfaatan Cerita Rakyat tentang Sumber Air dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pemanfaatan cerita rakyat. Menurut Merdiyatna . bahwasanya cerita rakyat termasuk jenis sastra lisan yang memanfaatkan bahasa sebagai alat yang memuat berbagai sistem dalam kehidupan untuk dipelajari, termasuk aspek lingkungan. Cerita rakyat dengan tema sumber air bisa dipergunakan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif. Pasalnya, sumber air sebagai sumber kehidupan merupakan wadah pengetahuan tradisional yang diwariskan dengan turun- temurun (Efendi et al. , 2. Narasinarasi yang mengaitkan sumber air dengan kekuatan spiritual atau mitos secara tidak langsung menanamkan sikap hormat dan bijaksana terhadap alam. Maka begitu, cerita rakyat berfungsi menjadi media yang menghubungkan budaya dan ekologi yang mendorong peserta didik untuk memahami dan menerapkan praktik konservasi secara berkelanjutan (Rizal et al. , 2. Pemanfaatan cerita rakyat sumber air sebagai materi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP memperluas kajian Suryanto et al. yang berfokus pada pembelajaran di tingkat sekolah dasar dengan menekankan dimensi literasi ekologis sebagai bagian dari kompetensi kebahasaan. Pemanfaatan cerita rakyat ini dapat diintegrasikan dalam berbagai capaian pembelajaran, misalnya saat peserta didik belajar menelaah struktur dan unsur intrinsik cerita, guru dapat menggunakan cerita rakyat sumber air sebagai teks utama. Peserta didik akan diminta menganalisis tokoh-tokoh mitologis dalam cerita yang berfungsi menjadi penjaga alam. Menurut Renaldi et al. bahwa mitos tentang sumber air lebih efektif dalam membentuk perilaku konservasi daripada aturan tertulis. Peserta didik juga dapat menelaah cara narasi tersebut menumbuhkan rasa hormat sehingga dapat termanifestasi dalam tindakan menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air. Hal tersebut mengajarkan peserta didik bahwa bahasa menjadi media yang membentuk moral (S. Efendi & Witarsa, 2. Selain menganalisis teks, pembelajaran ini juga dapat menumbuhkan keterampilan dan nilainilai penting. Peserta didik dapat ditugaskan untuk menceritakan kembali cerita rakyat dengan gaya mereka sendiri, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka juga dapat membuat teks tanggapan, esai, atau puisi yang merefleksikan pesan-pesan kearifan ekologis dari cerita tersebut. Sebagai contoh konkret, guru dapat menyajikan ringkasan cerita Legenda Umbul Jolotundo yang menekankan larangan merusak sumber air dan pentingnya menjaga kesucian sendang. Selanjutnya, peserta didik diminta menulis teks tanggapan yang berisi pendapat mereka mengenai sikap tokoh dalam menjaga sumber air serta relevansinya dengan kondisi lingkungan saat ini. Alternatif lain, peserta didik dapat menulis puisi lingkungan yang merefleksikan makna sumber air sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga. Melalui kegiatan itu, peserta didik dapat mengasah kemampuan menulis serta memahami dan menghayati nilai kepedulian lingkungan dalam cerita rakyat secara kontekstual (Suryanto et al. , 2. Kegiatan ini melatih kemampuan berbicara, menyimak, dan menulis kreatif. Selain itu, menurut Ferando et al. cerita rakyat menjadi media edukasi informal yang efektif dalam mengajarkan pentingnya pembagian air yang adil dan kerja sama sehingga bisa jadi inspirasi. Peserta didik dapat diarahkan untuk melakukan wawancara dengan orang tua atau tokoh adat Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1219Ai1232 Kearifan ekologis dalam cerita rakyat tentang sumber air di Kabupaten Klaten setempat untuk menggali cerita rakyat sejenis yang secara langsung melatih kemampuan berbahasa mereka sekaligus menguatkan pemahaman mereka tentang kearifan lokal. Adapun contoh teks cerita rakyat yang dapat digunakan untuk media pembelajaran Bahasa Indonesia dan menanamkan kearifan ekologis pada diri peserta didik, yakni cerita rakyat sumber air di Klaten. Cerita-cerita tersebut meliputi Legenda Sendang Sinongko. Legenda Umbul Ponggok. Legenda Umbul Sigedang Kapilaler. Legenda Umbul Jolotundo. Legenda Umbul Manten. Legenda Umbul Pluneng Tirtomulyono. Legenda Umbul Pluneng Tirtomulyani. Legenda Umbul Besuki. Legenda Umbul Gedaren. Legenda Umbul Kroman. Legenda Umbul Siblarak. Legenda Sendang Gotan, dan Legenda Sendang Bulus Jimbung. Dalam setiap ceritanya, terdapat nilai kearifan ekologis yang dapat ditanamkan kepada peserta didik, seperti belajar untuk menghormati alam, bertanggung jawab terhadap alam, memberikan kesadaran bahwa manusia dan alam hidup berdampingan, mengajarkan pemanfaatan alam secukupnya untuk hidup sederhana, tidak merusak alam, bersikap adil, serta menggaungkan integritas moral. Cerita-cerita tersebut bukan sekadar memberikan informasi bagi peserta didik, melainkan juga mendorong peserta didik untuk menerapkan nilainilai positif yang diambil dari cerita rakyatnya. Secara keseluruhan, pemanfaatan cerita rakyat bertema sumber air dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP bermanfaat untuk mendukung pencapaian kebahasaan dan menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan. Penutup Riset ini menemukan bahwasanya cerita rakyat sumber air yang terdapat di Legenda Sendang Sinongko. Legenda Sendang Bulus Jimbung. Legenda Umbul Pluneng Tirta Mulyono. Legenda Umbul Pluneng Tirta Mulyani. Legenda Umbul Kroman. Legenda Sendang Gotan. Legenda Umbul Gedaren. Legenda Umbul Jolotundo. Legenda Umbul Ponggok. Legenda Umbul Sigedhang Kapilaler. Legenda Umbul Besuki. Legenda Umbul Manten, dan Legenda Umbul Siblarak merupakan cerita rakyat yang dapat dijadikan sebagai media dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut didasarkan pada muatan nilai kearifan ekologis yang terdapat di dalamnya, seperti solidaritas kosmis, hidup sederhana dan selaras dengan alam, sikap hormat terhadap alam, prinsip integritas moral, kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, prinsip keadilan, sikap tanggung jawab terhadap alam, tidak merugikan alam. Hasil riset ini memiliki implikasi praktis bagi pendidik dalam menyusun materi maupun media pembelajaran yang berkaitan dengan cerita rakyat. Selain itu, hasil riset ini bisa jadi referensi bagi penelitian selanjutnya serta memiliki manfaat bagi kelestarian tradisi lisan di Kabupaten Klaten. Ucapan Terima Kasih Riset ini dibantu oleh Kemendiktisaintek dengan skema Penelitian Tesis Magister dengan Surat Kontrak Nomor 1186. 1/UN27. 22/PT. 03/2025. Kami mengucapkan terima kasih untuk support yang telah diberikan alhasil riset ini dapat diselesaikan secara lancar. Daftar Pustaka