EDUCATE : Journal of Education and Culture Optimalisasi Pembelajaran PAI Dengan Metode Discovery Inquiry Di SD Negeri 12 Kayu Agung SYAMSUDDIN Guru SDN 12 Kayu Agung Ogan Komering Ilir syamsuddin@gmail. EEDUCATE : Journal of Education and Culture Vol. 03 Nomor 02 ISSN-e: 2985-7988 Naskah diterima: 18-04-2025 Naskah disetujui: 11-05-2025 Terbit: 15-05-2025 Abstract : Islamic Religious Education (PAI) plays a crucial role in shaping students' character and understanding of Islamic values. However, in practice. PAI learning is often still conventional, making it less effective in increasing students' active participation and deep comprehension. This study aims to optimize PAI learning by implementing the Discovery Inquiry method at SD Negeri 12 Kayu Agung. The research method used is classroom action research (CAR) with a qualitative and quantitative approach. The study was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. Data were collected through observations, interviews, learning outcome tests, and questionnaires to measure students' understanding and engagement in the learning process. The results show that applying the Discovery Inquiry method can improve students' understanding of PAI concepts, increase their activeness, and enhance their learning motivation. Before the implementation of this method, most students struggled to grasp the material. however, after its application, there was a significant improvement in students' learning Furthermore, this method encourages students to think critically, work independently, and actively participate in the learning Thus, the Discovery Inquiry method has proven effective in optimizing PAI learning at SD Negeri 12 Kayu Agung. Implementing this method can serve as an alternative for teachers to improve the quality of PAI learning, making it more interactive and meaningful for students. Keywords: PAI Learning. Discovery Inquiry. Optimization. Elementary School Abstrak : Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pemahaman nilai-nilai keislaman bagi peserta didik. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran PAI sering kali masih bersifat konvensional, sehingga kurang mampu meningkatkan partisipasi aktif dan pemahaman mendalam siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pembelajaran PAI dengan menerapkan metode discovery inquiry di SD Negeri 12 Kayu Agung. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes hasil belajar, serta angket untuk mengukur tingkat pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode discovery inquiry dapat meningkatkan pemahaman konsep PAI, keaktifan siswa, serta motivasi belajar mereka. Sebelum penerapan metode ini, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi, namun setelah diimplementasikan, terjadi peningkatan signifikan dalam hasil belajar Selain itu, metode ini juga mendorong siswa untuk lebih berpikir kritis, mandiri, serta aktif dalam proses pembelajaran. Kata kunci: Pembelajaran PAI. Discovery Inquiry. Optimalisasi. Sekolah Dasar PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter serta moral peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Sebagai mata pelajaran yang tidak EDUCATE : Journal of Education and Culture hanya berfokus pada aspek kognitif. PAI bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama yang baik akan membantu siswa dalam membangun kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta sikap toleran dan menghargai perbedaan. Di tingkat sekolah dasar, pembelajaran PAI memiliki peranan yang lebih fundamental karena pada usia ini anak berada dalam tahap perkembangan moral dan karakter. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang diterapkan harus mampu menarik perhatian siswa dan membentuk pemahaman mereka dengan cara yang efektif dan menyenangkan. PAI bukan hanya tentang menyampaikan teori, tetapi juga menanamkan kebiasaan baik seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, menghormati guru dan orang tua, serta menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam praktik pembelajaran di kelas, metode yang digunakan masih cenderung bersifat konvensional. Sebagian besar proses pembelajaran masih berpusat pada guru . eacher-centered learnin. , di mana guru lebih banyak menyampaikan materi secara langsung melalui ceramah, sementara siswa hanya mendengar dan mencatat tanpa keterlibatan Hal ini menyebabkan rendahnya interaksi antara siswa dan guru, serta kurangnya kesempatan bagi siswa untuk menggali sendiri konsep-konsep yang diajarkan. Pendekatan yang bersifat satu arah ini sering kali membuat siswa merasa kurang tertarik dan mudah bosan dalam mengikuti pelajaran PAI. Akibatnya, kesulitan dalam memahami konsep-konsep penting dalam Islam, seperti makna ibadah, nilainilai akhlak, dan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya pemahaman ini juga dapat berdampak pada kurangnya internalisasi nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku mereka. Berbagai pengajaran dalam dunia pendidikan dapat implementasiakan pada kegiatan pembelajaran disekolah, hal ini digunakan untuk mencpai tujuan bagi para perancang pembelajaran (Hamruni, 2. Pembelajaran yang baik harus mampu menghubungkan antara kegiatan belajar yang dilakukan siswa dengan mengajar yang dilakukan oleh guru. Dalam konteks ini, guru pembelajaran yang ditandai adanya interaksi dan koloborasi antara kegiatan siswa dan guru. Pola interaksi dan kolaborasi antara siswa pendekatan, model dan metode pembelajaran pembelajaran, seperti aksplorasi alam, inkuri dan tugas-tugas proyek berbasis masalah. Kegiatankegiatan pembelajaran yang hidup dan memberikan kontribusi terhadap pembentukan kepribadian anak secara utuh (Iskandar, 2. , proses tranmisi berbagai ilmu pengetahuan pada setiap individu (Asmuni, 2. Al-Quran menerangkan dalam Surat AlBaqarah ayat 31. AuDan Dia mengajarkan kepada adam nama-nama . enda-bend. seluruhnya, paramalaikat lalu berfirman sebutkan lah kepadaKu nama-nama benda itu jika memang orangorang yang benarAy (Al-Quran 2:. Abd Al-Fatah jalal dalam perspektifnya, menjelskan taAolim pada ayat diatas menekankan tingginya kedudukan ilmu pengetahuan dalam Ia menegaskan bahwa taAolim adalah lebih luas dari pada tarbiyah, karena ketika rasulullah SAW mengajarkan bacaan Al QurAoan kepada kaum muslimin, beliau tidak sebatas pada upaya tetapi agar mereka dapat membaca, dan memahami makna ayat tersebut. Lebih dari itu, membaca harus disertai penghayatan dan perenungan yang berisi pemahaman, tanggung jawab,dan menerima al-hikmah (M. Solichin, 2. Desain pembelajaran sangat ditentukan dari ketepatan dalam memilih metode (Andriani et al. Huda et al. , 2. Langkah yang harus diperhatikan oleh desainer yaitu menetapkan tujuan, karakteristik peserta didik, dan hasil Sedangkan pengorganisasiannya pada tingkat makro, yaitu strategi yang berkaitan dengan isi kurikulum dan tujuan pendidikan islam. Salah satu model pembelajaran yang pembelajaran discovery inquiry. Pembelajaran ini menitikberatkan pada mental intelektual peserta didik dalam menentukan persoalan yang dihadapi, sehingga generalisasi atau konsep yang (Hamalik, 2. Pengunaan pembelajaran discovery inquiry selain relevan dengan langkahlangkah metodenya, juga relevan dengan teoriteori Piaget, kondisioning dan konstruktif (Nirwana 2. Selain itu, dalam pembelajaran ini salah satu fokusnya adalah menekankan pada pemecahan masalah, serta model ini kemampuan peserta didik diasah seluruhnya untuk belajar dalam situasi proses berfikir, agar peserta didik dapat meyelesaikan masalah yang dituntut secara mandiri dan percaya diri dan pemecahan masalah dapat teratasi. Sehingga keterlibatan dalam kegiatan logis dan sistematis akan dapat berkembang sesuai dengan arah dan tujuan pembelajaran (Trianto, 2. Berbagai penelitian terdahulu telah banyak dilakukan, bahwa metode discovery dapat meningkatkan percaya diri siswa (Muhamad, 2. , dapat meningkatkan hasil belajar (Husain. EDUCATE : Journal of Education and Culture 2. , menjadikan siswa dapat memecahkan masalah (Handoyono & Arifin, 2. , selain itu dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar dalam ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Lastriningsih, 2. Selain pembelajaran dengan inquiry (Pujilestari, 2. Terdapat perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini, bahwa penelitian ini memiliki kebaruan yaitu memadukan 2 buah metode yaitu discovery dan inquiry. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pembelajaran pendidikan agama islam melalui discovery inquiry. METODE PENELITIAN Metode Classroom Action Research (PTK), yaitu penelitian yang dilaksanakan oleh guru di dalam Men Men Eval Tind Kerja Refl kelas dengan penekanan pada penyempurnaan praktik dan proses pembelajaran (Susilo et al. Karakteristik Classroom Action Reseach Obs Dalam melaksanakan observasi peneliti dan kolobolator bekerja sama pada saat kegiatan belajar mengajar dikelas. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengamati proses jalannya kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Dari pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa kendala yang tentang tinggkat pemahaman dalam pembelajaran agama islam dapat diketahui oleh guru sehingga permasalahan mudah dipecahkan. Selain itu kinerja guru dapat dilakukan dengan pengamatan melalui lembar supervisi yang penampilan guru ketika sedang mengajar dikelas dapat terekam secara optimal. Penggunaan penelitian ini memiliki langkah-langkah sebagai berikut (Hanafiah & Suhana, 2. Ref evaluasi yang bertujuan untuk mengadakan perbaikan atau peningkatan mutu praktik pembelajaran dikelas dan siklus tersebut Gambar 1. Siklus Classroom Action Reseach Adapun siklus tersebut dilakukan minggu yaitu: Observasi Pada tahap ini peneliti dan koloborator meriview kegiatan pembelajaran siswa yang telah dilakukan. Dari hasil observasi tersebut kegiatan yang dilakukan dapat menyelesai-kan masalah melalui discoveri inquiry berjalan secara optimal. Hal ini merupakan dasar dalam perbaikan kegiatankegiatan yang akan dilaksanakan pada siklus Proses penelitian ini terdiri beberapa siklus, setiap siklus dimulai dari perencanaan. Tin Ditahap ini peneliti melakukan rencana mengajar dengan menerapkan metode discovery inquiry, seperti yang telah pelaksanan pembelajaran. Tindakan ini bersipat terbuka sesuai dengan kejadian dalam proses kegiatan belajar mengajar. Refleksi Gambar 1. Karakteristik Classroom Action Reseach Pere Melaksanakan Tindakan Perencanaan Pada tahap perencanaan peneliti melakukan kemudian merencanakan tindakan yang akan dilakukan dalam menangani kendalakendala permasalahan dikelas V Sekolah Dasar Negeri 12 Kayu Agung dalam kegiatan menggunakan pendekatan discovery inquiry. Mengid Seleksi Seleksi Mene Peny Memp Memp Mengec Dialog Interak Peng General Gambar 1. Langkah-Langkah DiscoveryInquiry Data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu berupa data yang diambil dari pemantauan tindakan dan hasil belajar agama islam dengan mengunakan tes tertulis berbentuk essai. Sedangkan data kualitatif diperoleh dari pengamatan selama EDUCATE : Journal of Education and Culture proses pembelajaran berlangsung. Sumber data dalam pelaksanan penelitian ini yaitu siswa kelas Va SDN 12 Kayu Agung Ogan Komering Ilir sebagai objek penelitian yang berjumlah 27 siswa yang akan dijadikan penelitian tentang belajar PAI dalam proses pembelajaran dikelas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas ini bertujuan berfikir siswa PAI metode bimbingan belajar melalui tiga siklus dan data akan Analisis ini menggunakan metode kualitatif deskriftif. Pra Siklus Sebelum pra siklus dilakukan peneliti melakukan observasi secara mendalam dan merefleksi kegiatan pembelajaran. Diketahui hasil ujian siswa kelas Va SDN 12 Kayu Agung dengan materi AuPerilaku terpujiAy, sangat rendah sebabnya antara lain: kurangnya aktif siswa dalam proses pemebelajaran PAI Kurangnya penggunaan metode dalam pembelajaran PAI Belum terpenuhi sarana prasarana disekolah sehingga siswa terhambat dalam memehami pembelajaran PAI. ketika mendapat tugas dari guru siswa tidak menjalankannya dengan baik dan menganggap remeh pelajaran PAI. Tabel 1. Data nilai ujian PAI siswa kelas V No Banyaknya Nilai Prosentase Jumlah Dapat menunjukan dari 30 siswa kelas Va SDN 12 Kayu Agung pada tahun 2023/2025, 54% atau sebanyak 16 siswa belum mencapai batas ketuntasan dengan nilai 65 kebawah, sehingga kompetensi dasar belum tercapai sedangkan, yang mendapat nilai 65 ke atas sebanyak 12 siswa atau 46%. Dalam identivikasi masalah melalui wawancara kepada 13 siswa diperoleh sebagai berikut: Hampir semua siswa mengatakan bahwa mereka jarang belajar dirumah. Ada 4 anak yang jarang belajar dirumah, yaitu widya astari, siti zainab, laila maharani, dan farhan syakur Ada lima siswa memberikan alasan pembelajaran PAI kurang menarik dan mengungkapkan setiap pelajaran PAI metodenya ceramah dan tanya jawab. ke enam siswa tersebut syfa azkia, anista rahma, darmawan, rahmat hidayat, zainal arkan dan rudi irawan. Selanjutnya yang menyatakan bahwa pelajaran PAI sangat membosankan adalah tidak digunakannya media yang ada seperti, audio visual serta perpustakaan sekolah. Maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelajaran PAI adalah bagaiman guru mendesain pembelajaran menjadi efektif sehingga kesan pelajaran agama islam menarik, mengasyikan dan membangkitkan pembelajaran di dalam kelas. Menurut (Utami, 2. Langkah-langkah dalam melaksanakan Model pembelajaran Discovery inquiry biasanya menggunakan metode pemberian tugas dan diskusi solvingnya, berikut bentuk pelaksanaan pendekatan discovery inquiry. Perumusan masalahnya dipecahkan oleh Siswa dibagi kedalam kelompokkelompok kemudian guru memberikan pertanyaan yang merangsang berfikir pemecahan masalah. Menentukan jawaban sementara atau hipotesis yaitu siswa menetapkan jawaban untuk dikaji lebih lanjut . lternatif jawaba. Siswa kemudian mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab Setiap mencari, menemukan data dari bukubuku pendidikan agama islam yang relevan, seperti buku LKS dari perpustakaan dan secara spontan siswa menjelajahi informasi untuk menguji data baik secara individu ataupun secara kelompok. Hasil yang diperoleh dari kegiatan dan EDUCATE : Journal of Education and Culture jawabannya oleh siswa. Selanjutnya mengaplikasikan jawaban yang diperoleh setiap kelompok dan dipraktekan didepan kelas. Deskripsi data siklus I Hasil dari siklus pertama menunjukan beberapa kelemahan dalam bimbingan belajar agama islam bahwa sebanyak 16 siswa atau 53,34% belum mengalami peningkatan penguasaan, sedangkan 14 atau 46,67% mengalami peningkatan. Selanjutnya peneliti mengadakan perbaikan menggunakan pendekatan discovery inquiry serta dengan langkah-langkahnya, langkah yang ditempuh memberikan bimbingan terhadap enam belas siswa yang bermasalah dengan penambahan bimbingan belajar setelah jam pulang sekolah, dengan penambahan ini diharapkan siswa akan lebih memahami pelajaran agama islam dan pembelajaran di dalam kelas. Dari kegiatan tambahan bimbingan belajar diperoleh data sebagai berikut: Tabel 1. Data Tindakan Siklus I Frekuensi Prosentase Tingkat 53,34% Baik Kurang Baik Dari tambahan dapat diperoleh informasi bahwa discovery inquiry dapat meningkatkan berkurangnya siswa dari 16 atau 53,34% siswa bermasalah berkurang menjadi 7 atau 23,34% siswa. Hasil tindakan siklus 1 ini akan dijadikan evaluasi karena, siklus 1 ini belum mencapai tingkat signifikan maka akan digunakan tindakan siklus Deskripsi data siklus II Pelaksanaan tindakan siklus II ini terdapat kelemahan yang harus diperbaiki dalam bimbingan belajar. Dari hasil wawancara siklus II masih terdapat 7 atau 23,34% siswa yang masih memerlukan bimbingan. Oleh karena keberhasilan bimbingan belajar pada siklus II, peneliti mengadakan wawancara kepada mendapatkan jawaban sebagai berikut: Raihan dan Naufal masih butuh bimbingan, karena belum sepenuhnya memahami langkah-langkah discovery menganggap sulit. dua dari empat belas yang bermasalah selanjutnya akan diberikan metode discovery inquiry dalam bimbingan belajar tambahan. Aditia. Habibi. Darmawan. Laila Maharani. Anistia Rahma. Siti zainab Widya Astari Dari data tambahan bimbingan belajar diketahui ada peningkatan pembelajaran PAI yaitu 9 atau 53,34% siswa sudah mengalami peningkatan. Sedangkan 7 atau 46,67% siswa belum ada peningkatan. Sedangkan Bagus Jayadi. Rudi Irawan, dan Raihan Anggara mulai ada kemajuan dan masih butuh bimbingan, meskipun bimbingan belajar sudah banyak diikuti. Data sebelum siklus I dan sesudah dilaksanakan tambahan bimbingan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Secara keseluruhan, lima dari enam belas siswa yang bermasalah akan diberikan tindakan siklus berikutnya. Pada tindakan siklus II dapat diketahui yang agama islam melalui pendekatan discovery Tabel 1. Data Sesudah Bimbingan Siklus I Tindakan Tingkat Kriteria Sebelum Tinggi 53,34% Rendah 46,67% Tinggi 76,67% Rendah 23,34% Jumlah Setelah Jumlah EDUCATE : Journal of Education and Culture Dapat disimpulkan bahwa pasca tindakan siklus II jumlah siswa yang bermasalah berkurang 3 siswa atau 16,67%. Maka dalam hal ini masih terdapat 2 siswa atau 6,67% perubahan, dari 2 siswa tersebut maka bimbingan belajar masih akan dilakukan dalam tahap perbaikan pada tindakan siklus ke tiga, sehingga dari 13 siswa yang bermasalah dalam upaya meningkatkan pembelajaran PAI melalui pendekatan discovery inquiry akan dapat teratasi semua setelah tindakan bimbingan belajar yang diberikan. Deskripsi siklus i Pada tindakan siklus II setelah melakukan evaluasi serta perbaikan-perbaikan maka, dalam siklus i ini dapat dikatankan berhasil dalam mengatasi permasalahan. Dari siklus i ini diperoleh data sebagai islam disekolah. Hasil bimbingan belajar dari siklus I. II dan i dapat disimpulkan bahwa pembelajaran agama islam melalui pendekatan discoveri inquiry di SDN 12 Kayu Agung behasil 100%. Dari 13 siswa yang bermasalah mulai beradaptasi dengan siswa lainnya. Mereka menganggap penggunaan pendekatan discovery inquiry pada mata pelajaran PAI memberikan solusi, sehingga siswa cenderung aktif dalam proses pembelajaran yang berlangsung baik di dalam maupun di luar kelas. Hasil dari analisis ini dapat diketahui pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Data Bimbingan Siklus i Tindakan Tingkat Frekwen Prosentase Siklus I Tinggi Tabel 1. Jumlah Data Tindakan Siklus i Siklus II Tingkat Frekuensi Prosentase Baik Kurang Baik dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa: Berdasarkan pengulangan materi pada siklus i, 2 siswa atau 6,67% siswa bermasalah dapat teratasi, hal ini dapat dilihat kedua anak tersebut dengan langkah-langkah yang telah Dalam pembelajaran PAI kedua siswa yang bermasalah sudah memhami materi tentang prilaku terpuji. Secara keseluruhan, dari enam belas pembelajaran serta langkah-langkah discovery inquiry. Jumlah Siklus i belajar PAI yang berkelanjutan, maka pembelajaran melalui pendakatan discovery inquiry tercapai tuntas. peningkatan pembelajaran agama Tinggi Jumlah 76,67% 93,34% Dari tabel diatas dapat simpulkan siswa yang mengikuti bimbingan belajar siklus I. II dan i dengan adanya tindakan tersebut siswa lebih aktif serta tugas yang diberikan oleh guru dikerjakan dan dilaksanakan penuh tanggung Secara keseluruhan siklus tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut: Pra Tindakan siklus I Jumlah siswa sebanyak 27 yang akan dijadikan subjek penelitian terdapat 16 siswa yang bermasalah. Tindakan Siklus I Setelah melaksanakan tindakan siklus pertama, 7 siswa mengalami peningkatan, tetapi 6 siswa lainya belum mengalami peningkatan yang signifikan. Maka akan diberikan tambahan bimbingan belajar Kemudian siklus i ini peneliti melakukan wawancara dan hasil tersebut adalah: Dengan adanya tambahan bimbingan Tinggi Tindakan Siklus II Setelah mengikuti tambahan bimbingan belajar pada siklus kedua, 6 siswa yang mengikuti bimbingan diantarannya 5 siswa mengalami kemajuan dan masih ada 2 siswa lainya perlu mendapat bimbingan khusus pada siklus i. Bimbingan Tindakan Siklus i EDUCATE : Journal of Education and Culture Setelah dilaksanakan bimbingan belajar siklus yang kedua mereka yang belum mengalami kemajuan dan peningkatan akan dilanjutkan kesiklus yang ketiga. Pada awalnya masih terdapat 2 siswa yang masih perlu mendapatkan bimbingan belajar sekarang semua sudah teratasi setelah mendapatkan bimbingan belajar pada siklus ketiga. Dari tindakan siklus I. II, dan i dapat disimpulkan dengan tambahan bimbingan belajar melalui pendekatan discovery inquiri pembelajaran PAI teratasi dengan baik. Hal ini dapat di buktikan dari 16 siswa yang mengalami kesulitan belajar sudah dapat beradaptasi dengan teman dikelasnya. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Discovery Inquiry dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri kelas Va 12 Kayu Agung dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar dan meningkatkan pemahaman serta keterlibatan siswa. Beberapa kesimpulan utama dari penelitian ini adalah: Penerapan Metode Discovery Inquiry: Metode ini terbukti efektif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, di mana siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi lebih aktif dalam menemukan dan memahami konsep-konsep agama yang Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa melalui proses eksplorasi dan pemecahan masalah. Peningkatan Pemahaman Siswa: Siswa menggunakan metode Discovery Inquiry menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan terhadap materi PAI. Dengan berpikir kritis dan melakukan eksplorasi secara mandiri, siswa dapat menghubungkan konsep agama dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga memperdalam pemahaman Keaktifan dan Kemandirian Siswa: Metode ini berhasil meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih berani untuk mengajukan pertanyaan, sederhana untuk menemukan jawaban atas masalah yang diajukan. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan kemandirian mereka dalam belajar. Peningkatan Keterampilan Sosial: Selain peningkatan pemahaman materi, metode Discovery Inquiry juga mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, berdiskusi, dan mempresentasikan temuan Keterampilan komunikasi, kerja sama, dan presentasi siswa mengalami penerapan metode ini. Tantangan dan Solusi: Meskipun penerapan metode ini memberikan banyak manfaat, beberapa tantangan seperti keterbatasan waktu dan sumber daya belajar juga dihadapi. Namun, dengan perencanaan yang matang dan pemanfaatan teknologi serta bahan ajar yang relevan, tantangan ini dapat diatasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Discovery Inquiry dapat mengoptimalkan pembelajaran PAI di SD Negeri 12 Kayu Agung. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman agama siswa tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemandirian, dan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat peningkatan setiap siklus, siklus pertama mengalami peningkatan sedang dengan hasil belajar siswa rata-rata 53,34% atau 16 Pada siklus kedua jumlah siswa yang bermasalah sebanyak 16,67% atau berkurang 5 siswa. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan melalui model discovery inquiry pada pembelajaran Agama Islam di kelas V SDN 12 Kayu Agung Ogan Komering Ilirtercapai dengan baik sehingga hasil proses belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Pembelajaran PAI pada tingkat SD khususnya di SDN 12 Kayu Agung Ogan Komering Ilir belum sepenuhnya mengacu pada pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent center lear. , faktornya adalah: kurang aktif siswa dalam proses pembelajaran, metode yang dugunakan hanya ceramah dan tanya jawab, terbatasnya sarana dan prasarana di sekolah yang mengakibatkan kemampuan yang diperoleh para peserta didik tidak tuntas secara komprehensif. Selanjutnya Langkah yang digunakan untuk PAI memperjelas tujuan belajar agar guru selalu menekankan murid menggunakan pendekatan discoveri inquiri walaupun setiap pendekatan pasti ada kekurangan dan kelebihannya, memberikan menjelaskan langkah-langkah discovery inquiri dalam materi pembelajaran. EDUCATE : Journal of Education and Culture DAFTAR PUSTAKA