Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 https://pusdikra-publishing. com/index. php/jies E-ISSN : 2808-831X Peran Guru dalam Mencengah Kenakalan Siswa SMA Fadhilah Paramitha1. Mhd. Fuad Zaini Siregar 2 1Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia 2Universitas Dharmawangsa. Indonesia Corresponding Author: fadhilaparamitha@gmail. Kata Kunci ABSTRACT Education plays a strategic role as a long-term investment in nation building, preparing the younger generation with the necessary knowledge, skills and values. The National Education System Law emphasizes the importance of education in the holistic development of However, the education system is faced with various challenges, including equitable access to education, varying education quality, and the relevance of the curriculum to the needs of the world of This research uses descriptive qualitative methods to explore efforts to prevent juvenile delinquency in high schools. Through interviews with teachers and observations at school, this research found that communication between schools and parents as well as interpersonal communication between teachers and students have a crucial role in preventing juvenile delinquency. Prevention efforts are carried out by building good communication with parents, visiting the homes of students with problems, providing advice, guidance and direction to students, as well as developing students' social and emotional skills. The research results show that effective communication between schools and parents can produce positive changes in student behavior, reducing rates of truancy and withdrawal from school. Interpersonal communication between teachers and students plays an important role in helping students overcome personal and social problems, as well as building a harmonious relationship between teachers and students. Education has a crucial role in shaping individual character, knowledge and skills. Effective communication between schools and parents as well as between teachers and students is the key to preventing juvenile delinquency and improving the quality of education in schools. The Role of Teachers. Communication With Parents. Preventing Student Delinquency. PENDAHULUAN Sekolah sebagai tempat penyelanggara pendidikan dalam membantu siswa di sekolah dan memiliki banyak hambatan. Misalnya terjadi masalah atau konflik yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa melakukan hal-hal yang terkadang bertentangan dengan aturan. Kenyataan ini dialami oleh siswa-siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA), hal ini perlu disikapi dengan bijaksana oleh para penyelenggara pendidikan, dalam membimbing siswa yang berada di sekolah. Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 Guru sebagai pelaku utama dalam penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai tujuan Peran guru yaitu sebagai pendidik, pembimbing, melatih, menasehati, melakukan pembaruan, menjadi contoh dan teladan, memiliki kepribadian yang baik, peneliti, mendorong kreatifitas, membangkitkan pandangan, melakukan pekerja rutin, membawa cerita, menjadi aktor, emansipator, mengawetkan dan melakukan evaluasi. Peran guru dalam perkembangan pendidikan meliputi: penanaman nilai, membangun karakter, sentral pembalajaran, memberi bantuan dan dorongan, melakukan pengawasan dan pembinaan, mendisiplinkan anak dan panutan bagi lingkungan. Kini tuntutan pendidikan semakin meningkat. Untuk itu ada pendidikan dan pembinaan moral terhadap remaja sebagai penerus Bangsa agar memiliki akhlak yang baik dan bertanggungjawab. Namun pada kenyataannya, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat remaja lebih sensitif dalam menanggapi hal itu. Pada akhirnya tak sedikit remaja yang terjerumus ke hal-hal yang bertentangan dengan nilainilai moral, norma agama, norma sosial serta norma hidup dimasyarakat oleh karena itu remaja akan cenderung mempunyai tingkah laku yang tidak wajar dalam arti melakukan tindakkan yang tidak pantas. Kenakalan remaja inilah yang menjadikan diri kita semakin terbelakang dan tertinggal jauh untuk dapat membangun Indonesia menjadi negara yang baik dan maju. Penyebab terjadinya kenakalan siswa adalah berawal dari perilaku AunakalAy yang ada pada siswa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor internal adalah kenakalan yang datang dari dalam diri siswa itu sendiri, dikarenakan tidak adanya rasa ingin dari diri siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan sehingga menimbulkan perilaku yang menyimpang. Kemudian juga terjadi karna faktor eksternal atau dari luar diri siswa tersebut seperti lingkungan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Faktor tersebutlah yang menimbulkan pengaruh sangat besar dalam membentuk kepribadian dan sikap Lingkungan yang baik akan membentuk perilaku menjadi baik, begitupun sebaliknya. Pendidikan agama, terutama Pendidikan Islam, memiliki peran sangat penting dalam membina karakter serta moralitas siswa. Pada situasi mencegah kenakalan remaja, pendidikan agama dapat menjadi landasan yang kuat dalam membentuk kesadaran beragama pada siswa. Metode pembinaan kelompok melalui model interaksi teman sebaya dapat menjadi salah satu pendekatan efektif dalam mengarahkan perilaku siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hartanto. Pengajaran agama melalui mentoring kelompok sebaya telah terbukti efektif dalam meningkatkan Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 kesadaran beragama siswa. Dengan melibatkan teman sebaya dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman agama formal, namun memiliki kesempatan untuk mempraktikkan Prinsip-prinsip agama dalam kehidupan sehari-hari. membantu siswa untuk menghindari perilaku kenakalan remaja yang bertentangan dengan ajaran agama (Hasikin & Wiza. Salah satu tantangan utama dihadapi oleh siswa adalah ketidakdisiplinan Keterlambatan datang ke sekolah atau tidak mematuhi jadwal pelajaran dapat menjadi indikasi ketidakdisiplinan yang perlu ditangani dengan serius. Dalam hal iniPeran guru bidang studi bimbingan dan konseling (BK) sangat vital dalam memberikan panduan dan dukungan kepada siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniarahman, guru BK memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa dalam mengatasi ketidakdisiplinan Melalui layanan bimbingan individual, guru BK dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang penyebab ketidakdisiplinan waktu pada siswa dan membantu mereka mengembangkan strategi untuk meningkatkan kedisiplinan mereka (Sudiansyah et al. , 2. Peran orang tua sangat signifikan dalam mencegah perilaku kenakalan Orang tua memiliki pengaruh besar dalam membina perilaku anakanak mereka. , dan mereka perlu terlibat secara aktif dalam kehidupan pendidikan dan sosial anak-anak mereka. Membangun Komunikasi yang Terbuka: Orang tua perlu membuka saluran berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak mereka sehingga anak-anak merasa nyaman untuk berbicara mengenai masalah yang mereka hadapi. Memberikan Dukungan Emosional dan Moral: Orang tua perlu memberikan dukungan emosional dan moral kepada anak-anak mereka untuk membantu mereka mengatasi tekanan serta rintangan yang dihadapi dalam kehidupan sosial. Memantau Aktivitas Anak: Orang tua perlu memantau aktivitas anak-anak mereka secara aktif, di sekolah ataupun di luar sekolah, guna memastikan bahwa anak-anak mereka tidak terlibat dalam perilaku yang tidak pantas. Dengan memberikan perhatian yang cukup terhadap faktor-faktor penyebab kenakalan remaja dan mengembangkan strategi yang tepat untuk mencegahnya, kita bisa membuat masa depan yang lebih baik bagi generasi muda selanjutnya (Asmara et al. , 2. Salah satu pendekatan yang penting guna mengatasi kenakalan remaja adalah pendekatan psikologis. Psikologi remaja menyoroti bagaimana remaja berkembang secara emosional, sosial, dan kognitif, serta bagaimana faktorfaktor psikologis mempengaruhi perilaku mereka. Dengan pemahaman yang mendalam tentang dinamika psikologis remaja, para profesional kesehatan Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 mental dapat memberikan intervensi yang efektif untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja. Identitas Diri: Remaja sedang dalam proses pencarian identitas diri, di mana mereka mencoba untuk memahami siapa mereka serta bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar Konflik identitas atau kebingungan identitas dapat menyebabkan ketidakstabilan emosional dan perilaku yang menyimpang. Kemandirian: Remaja yang merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dalam mengembangkan kemandirian mereka mungkin cenderung mencari kebebasan secara berlebihan, yang dapat mengarah pada perilaku kenakalan. Resiliensi: kapasitas guna pulih dari tekanan atau rintangan merupakan aspek penting dalam mengatasi kenakalan remaja. Remaja yang memiliki tingkat resiliensi yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi masalah dan kesulitan tanpa terlibat dalam perilaku yang merugikan (Hasdiana, 2. Meskipun ada banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam menangani masalah secara efektif. Beberapa tantangan tersebut meliputi. Keterbatasan Sumber Daya: Sekolah dan lembaga lain mungkin mengalami keterbatasan sumber daya, termasuk dalam hal tenaga kerja, anggaran, atau dukungan Hal ini dapat membatasi kemampuan mereka untuk memberikan intervensi yang efektif kepada remaja yang mengalami masalah perilaku. Stigma dan Diskriminasi: Remaja yang mengalami kenakalan sering kali menghadapi stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Hal ini dapat menghambat mereka dalam mencari dukungan dan bantuan yang mereka perlukan guna menyelesaikan masalah. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi: Kesenjangan sosial dan ekonomi mungkin menjadi faktor risiko yang signifikan dalam perkembangan kenakalan remaja. Remaja dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu terhadap tekanan dan tantangan yang dapat menyebabkan perilaku kenakalan (Bobyanti, 2. Berbicara masalah pembentukan atau pembinaan moral pada diri remaja adalah identik dengan masalah tujuan pembinaan yang diinginkan dalam Islam. Karena ada beberapa para ahli pembinaan yang mengatakan bahwa tujuan pembinaan adalah pembentukan moral, yang dilakukan melalui berbagai proses pembinaan secara bertahap. Dalam hal ini pembinaan budi pekerti dan moral adalah jiwa dan tujuan pembinaan Islam. Atau tujuan utama pembinaan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya. Meskipun pembentukan dan pembinaan moral adalah sama dengan tujuan pembinaan dan tujuan hidup setiap muslim, ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa moral tidak perlu dibentuk atau dibina, karena merupakan Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 AugharizahAy yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Sementara pandangan yang lain mengatakan bahwa moral adalah hasil dari pembinaan, latihan, pembinaan dan perjuangan yang sungguh-sungguh, sehingga harus dibentuk. Pembinaan moral merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan remaja dewasa ini. Sebelum remaja dapat berfikir secara logis dan memahami halhal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, contoh-contoh latihan dan pmbiasaan dalam pribadi remaja. Al. Ghazali mengatakan remaja yang dibiasakan untuk mengamalkan segala sesuatu yang baik di berikan pembinaan kearah itu pasti ia akan tumbuh diatas kebaikan dan akibat positif ia akan selamat dunia dan akhirat (Mannan, 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai ialah pendekatan kualitatif melalui metode deskriptif. Pendekatan ini dipakai karena kesesuaian dengan fokus penelitian dianggap sangat penting. Peran subyek penelitian juga dianggap krusial karena data yang diamati oleh peneliti berasal dari mereka. Subyek penelitian terdiri dari tiga murid SMA dan sumber data utama adalah guru atau wali kelas. Beberapa teknik pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini,yakni: pertama, observasi dilakukan untuk mengumpulkan data dengan mengamati dan melihat langsung kenakalan remaja pada siswa SMA, kedua, wawancara mendalam bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai peran guru terhadap pencegahan kenakalan pada siswa SMA. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebelum melakukan wawancara, saya mengajukan permintaan izin kepada Guru dan berusaha menentukan jadwal, lokasi, serta tanggal yang Setelah menentukan jadwal, tanggal, serta lokasi yang cocok, saya menjalankan wawancara. Dari hasil wawancara tersebut, saya memperoleh informasi sebagai berikut dari Guru: Pertama-tama, guru bertindak sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditentukan madrasah, yang mengatur aktivitas guru dengan tingkat kenakalan dan disiplin siswa. Contohnya, salah satu tindakan adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan orang tua. Metode penelitian yang dipakai yakni pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini dipakai karena kesesuaian dengan fokus penelitian dianggap sangat penting. Peran subyek penelitian juga dianggap krusial karena data yang diamati oleh peneliti berasal dari mereka. Subyek penelitian terdiri dari tiga murid SMA dan sumber Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 data utama adalah guru atau wali kelas. Beberapa teknik pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini,yakni: pertama, observasi dilakukan untuk mengumpulkan data dengan mengamati dan melihat langsung kenakalan remaja pada siswa SMA, kedua, wawancara mendalam bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai peran guru terhadap pencegahan kenakalan pada siswa SMA. Seorang guru dan orang tua di sekolah penting untuk membangun komunikasi yang efektif. Ketika terjadi pelanggaran terhadap peraturan sekolah, seperti ketidakhadiran, keterlambatan, atau ketidakpatuhan terhadap pelajaran, langkah-langkah pencegahan perlu diambil. Salah satu cara pencegahan adalah dengan mengunjungi rumah siswa dan berkomunikasi dengan orang tua. Respon terhadap perilaku kenakalan atau ketidakdisiplinan siswa ketika mereka kembali ke sekolah harus bersifat responsif. Respon yang baik berarti ada perubahan perilaku yang terjadi ketika siswa diberi teguran oleh guru dan komunikasi yang baik dijalin dengan orang tua. Tanda positif dari respon yang baik adalah adanya perubahan perilaku, seperti ketika siswa tidak lagi bolos atau meninggalkan sekolah tanpa izin selama periode waktu tertentu setelah mendapat bimbingan dari guru, wali kelas, dan orang tua. Kerjasama antara sekolah serta orang tua sangat efektif dalam menangani masalah disiplin di sekolah. Sekolah tidak bisa mencapai kesuksesan dalam mendidik siswa tanpa support orang tua. Waktu yang dihabiskan siswa di sekolah terbatas, 8 -10 jam, tetapi kegiatan ekstrakurikuler dan lainnya dapat memperpanjang waktu tersebut. Karenanya, penting bagi orang tua memahami aktivitas ekstrakurikuler yang diikuti oleh anak mereka agar mereka bisa memberikan dukungan yang tepat. Komunikasi antara sekolah dan orang tua juga penting guna mengetahui respon orang tua terhadap keterlambatan ataupun ketidakpatuhan siswa. Perlakuan orang tua terhadap anak di rumah juga memengaruhi perilaku siswa di sekolah. Konsistensi dalam pendekatan pendidikan antara guru di sekolah dan orang tua di rumah sangatlah penting guna menegakkan norma dan aturan yang sama bagi siswa. Salah satu contohnya adalah apakah orang tua memarahi atau memberikan perhatian terhadap keterlambatan pulang anak Sekolah atau guru perlu mengetahui bagaimana orang tua merespons situasi ini agar dapat memberikan dukungan yang konsisten bagi siswa. Dalam mendukung pendidikan siswa, penting untuk mencapai kesepakatan dengan orang tua. Komunikasi yang baik dengan orang tua akan membantu dalam menentukan respon yang sesuai terhadap perilaku siswa. Respon dan tanggapan orang tua bisa bervariasi tergantung pada situasi dan Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 kebutuhan individu siswa. Beberapa orang tua mungkin terlibat secara aktif, sementara yang lain mungkin memiliki keterbatasan waktu atau sumber Kerja sama antara sekolah dan orang tua harus memperhatikan keberagaman situasi keluarga, seperti orang tua yang sibuk bekerja, memiliki jadwal yang tidak teratur, atau tinggal jauh dari sekolah. Dengan memahami situasi individual siswa dan keluarganya, sekolah dapat memberikan dukungan yang lebih efektif dalam membentuk perilaku siswa. Pendidikan memang merupakan investasi jangka panjang bagi suatu Dengan pendidikan, bangsa dapat mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menghadapi rintangan masa depan. Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk individu Indonesia yang religius, bermoral tinggi, dan memiliki kecakapan hidup yang komprehensif. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang di sebutkan menggariskan misi dan visi pendidikan nasional Indonesia. Pasal-pasal dalam undang-undang tersebut menekankan pentingnya pendidikan dalam mengembangkan manusia Indonesia secara holistik, baik dari segi spiritual, intelektual, maupun keterampilan praktis. Namun, untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, diperlukan sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, guru, orang tua, serta masyarakat. Selain itu, perlu juga adanya inovasi dalam pendidikan, baik dalam metode pengajaran, kurikulum, maupun infrastruktur pendidikan. Pendidikan tidak hanya berpusat pada penyampaian pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada pengembangan karakter serta nilai-nilai moral. Oleh karena itu, pendidikan harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi, mempersiapkan generasi muda untuk menjadi individu yang berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Dalam konteks globalisasi dan dinamika budaya yang terus berubah, pendidikan juga harus adaptif dan responsif terhadap perubahan-perubahan Pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan adaptasi, kreativitas, dan inovasi bagi siswa, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin dan inovator di masa depan. Dengan demikian, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan bangsa, dan setiap pihak harus berkomitmen untuk mendukung dan mengoptimalkan sistem pendidikan nasional demi mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik untuk Indonesia. Pendidikan memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan individu, serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan diharapkan mampu menjadi solusi untuk menyelesaikan berbagai problematika sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak tantangan dan Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 hambatan yang dihadapi oleh sistem pendidikan. Beberapa tantangan tersebut antara lain adalah kurangnya akses pendidikan yang merata bagi semua lapisan masyarakat, kualitas pendidikan yang bervariasi, kurangnya fasilitas dan sumber daya, serta kurangnya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Selain itu, pendidikan sering kali tidak mampu mengintegrasikan nilainilai sosial, budaya, dan moral dalam proses pembelajaran, sehingga terkadang siswa kurang mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan realitas sosial Oleh karena itu, diperlukan reformasi dalam pendidikan yang melibatkan berbagai stakeholder, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, dan masyarakat. Reformasi pendidikan harus mengedepankan pendekatan yang lebih inklusif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan era globalisasi saat ini. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang kritis, kreatif, dan mandiri, serta memiliki integritas moral dan etika yang Pendidikan juga harus mampu mengajarkan siswa untuk berempati, menghargai keragaman, dan bekerja sama dalam tim. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi instrumen yang efektif dalam membangun karakter dan mental generasi muda, serta membantu masyarakat dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Pembahasan Untuk mendukung pemahaman terhadap topic yang dibahas, penulis berupaya mengumpulkan berbagai literature dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan focus penelitian. Pertama (Hasikin & Wiza, 2. didalam penelitiannya membahas tentang bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja. Guru PAI memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan akhlak siswa serta menanggulangi kenakalan melalui berbagai program dan pendekatan. Meskipun terdapat faktor penghambat, dukungan dari seluruh pihak terkait dapat membantu mengatasi masalah kenakalan siswa. Kedua (Famela Ayuni & Febrina Dafit, 2. Menjelaskan bahwa guru berperan penting dalam mengatasi kenakalan dengan mendidik, membimbing, dan melatih siswa, serta memberikan nasihat, arahan, dan hukuman yang mendidik. Pencegahan kenakalan siswa memerlukan evaluasi program sekolah dan kerjasama antara sekolah dan Ketiga (Giska Dewi. Imran, 2. analisis peran guru dalam mengatasi kenakalan siswa pada pembelajaran sosiologi kelas X di ma matlaAoul anwar Pontianak, menjelaskan mengenai peran guru sebagai pengelola. Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 pembimbing, dan motivator dalam mengatasi kenakalan siswa di kelas X IPS I MA MatlaAoul Anwar Pontianak telah terlaksana dengan baik. Guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memberikan bimbingan yang efektif, dan memotivasi siswa untuk berperilaku positif. Keempat (Fitri, 2. Penelitian ini menekankan pentingnya peran guru PAI dalam pembinaan karakter siswa dan penanganan kenakalan secara preventif dan edukatif. Dan yang kelima (Merdekawaty, 2. menjelaskan bahwa dengan kerjasama antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan, diharapkan kenakalan remaja dapat diminimalisir dan remaja dapat berkembang menjadi individu yang berkarakter baik dan berguna bagi masyarakat. Komunikasi dengan Orang Tua Langkah pertama yang diambil adalah membangun hubungan komunikasi yang baik dengan orang tua siswa. Ini termasuk memberikan informasi mengenai perilaku siswa dan mengundang orang tua untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Tindakan Pencegahan Guru dan sekolah harus proaktif dalam mencegah perilaku kenakalan siswa dengan membangun sistem yang memperhatikan ketidakhadiran, keterlambatan, dan ketidakpatuhan terhadap peraturan Langkah-langkah pencegahan mencakup kunjungan ke rumah siswa dan komunikasi terbuka dengan orang tua. Respon terhadap Kenakalan Penting bagi sekolah untuk memberikan respon yang sesuai terhadap perilaku kenakalan siswa. Ini bisa termasuk memberikan teguran, bimbingan, atau dukungan tambahan kepada siswa yang menunjukkan perubahan perilaku Selanjutnya dalam memberikan arahan bimbingan kepada siswa yang dilakukan oleh guru berupa memberikan berbagai informsi yang diperlukan siswanya agar tidak melakukan kenakalan lagi. Selain itu, guru juga memberikan nasihat kepada siswanya yang melakukan kenakalan pada saat jam pembelajaran berlangsung dan dapat mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok. Selain itu juga paham untuk memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan kenakalan dari kecil besarnya kenakalan yang siswa perbuat, misalnya siswa yang berkelahi maka guru akan menangani siswa tersebut dan mendamaikan siswa yang berkelahi tetapi apa bila kedua siswa tersebut tidak masih melakukan perubahan maka guru akan meminta bantuan ke guru BK untuk menangani siswa yang melakukan kenakalan. Peran Orang Tua Pentingnya peran orang tua dalam mendukung upaya sekolah tidak boleh diabaikan. Kerja sama antara sekolah dan orang tua dibutuhkan untuk mencapai hasil yang optimal dalam menangani masalah kenakalan siswa. Kesepakatan dengan Orang Tua Langkah-langkah yang Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 diambil harus didasarkan pada kesepakatan antara sekolah dan orang tua Hal ini memastikan bahwa pendekatan yang diambil konsisten dan dapat mendukung perkembangan siswa. Fleksibilitas dalam Respons Setiap situasi mungkin membutuhkan respons yang berbeda tergantung pada kebutuhan dan kondisi individual siswa serta keluarganya. Oleh karena itu, fleksibilitas dalam respons sangat penting. Sekolah dapat memaksimalkan efektivitas dalam menangani masalah kenakalan siswa dan mendukung perkembangan mereka secara holistik. Perilaku tidak terpuji remaja saat ini mengalami pergeseran yang Dulu, kenakalan remaja terbatas pada tindakan-tindakan kecil seperti kabur dari rumah atau menipu orang tua. Namun, saat ini, kenakalan remaja mencakup tindakan kriminal yang lebih serius seperti pencurian dan penyalahgunaan narkotika. Peran guru sebagai pendidik . merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan . , tugastugas pengawasan dan pembinaan . serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan. untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anakanak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang KESIMPULAN Pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk bangsa. Dengan pendidikan, generasi muda dipersiapkan dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai guna menghadapi rintangan dimasa mendatang. UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pentingnya pendidikan dalam mengembangkan individu secara holistik. Sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan visi Dalam era globalisasi, pendidikan harus adaptif dan responsif pada perubahan budaya serta teknologi. Meski memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, pendidikan dihadapkan pada tantangan seperti akses Journal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 4 Nomor 3 Agustus 2024 Halaman 1-12 pendidikan yang merata, kualitas pendidikan yang bervariasi, dan kurangnya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci dalam mencegah kenakalan siswa. Pencegahan kenakalan melalui komunikasi yang efektif dapat menghasilkan perubahan positif dalam perilaku siswa. Komunikasi antarpribadi antara guru dan siswa juga penting dalam mencegah kenakalan remaja dengan memberikan nasihat, bimbingan, dan dukungan. Kenakalan remaja didefinisikan sebagai tindakan yang melanggar hukum oleh individu yang belum dewasa. Faktorfaktor seperti dinamika keluarga, pengaruh teman sebaya, dan kontrol diri mempengaruhi kenakalan remaja. Guru memiliki peran penting dalam mengatasi kenakalan remaja dengan memberikan nasihat, bimbingan, dan pengembangan keterampilan kepada siswa. Secara keseluruhan, pendidikan memegang peran krusial dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan individu. Melalui pendekatan yang inklusif, inovatif, dan relevan, pendidikan dapat membantu masyarakat mencapai kemajuan dan kesejahteraan yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA