PERAN GURU DAN ORANG TUA DALAM PENANGANAN ANAK DENGAN KECENDERUNGAN HIPERAKTIF USIA 4-5 TAHUN DI TKIT NURUL ILMI. NGEMPLAK. BOYOLALI Rusmiyati Siti Kadarsi TKIT Nurul AIlmi rosmiyatisiti123@gmail. How to cite . n APA Styl. : Kadarsi. Rusmiyati Siti. Peran Guru dan Orang Tua dalam Penanganan Anak dengan Kecenderungan Hiperaktif Usia 4-5 Tahun di TKIT Nurul Ilmi. Ngemplak. Boyolali. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 14 . , pp. Abstract: The purpose of the study is to determine the role of teachers and parents in handling hyperactivity child behavior aged 4-5 years. This study is also to know the importance of cooperation between teachers and parents in assisting hyperactive children. Descriptive qualitative methods is used in this The data collecting technique are observation, interviews and The results show that the importance of the role of the teachers in recognizing, understanding the characteristics of hyperactive children and accompanying the learning and socializing process of children in class based on emotional, cognitive, and social aspects. In addition, the role of parents in providing attention, affection, also learning assistance at home. As well as providing opportunities for children with hyperactive tendencies to interact with the environment. The pattern of cooperation between teachers and parents is also realized by always coordinating and providing information about childrenAos Puzzle games are given as a means to train childrenAos focus. Keywords: The role of teachers and parents. Chilren with hyperactive tendencies Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peran guru dan orang tua dalam menangani anak dengan kecenderungan hiperaktif usia 4-5 tahun, serta pentingnya kerjasama yang baik antara guru dan orang tua dalam mendampingi anak dengan kecenderungan perilaku hiperaktif. Metode penelitian ini adalah dreskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya peran guru dalam mengenali, memahami karakteristik anak dengan perilaku hiperaktif, dan mendampingi proses belajar dan bersosialisasi anak dikelas berdasarkan aspek emosional, kognitif dan sosial. Selain itu, peran orang tua dalam memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendampingan belajar anak di rumah, serta memberikan kesempatan anak berperilaku hiperaktif untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan. Pola kerja sama antara guru dan orang tua diwujudkan dengan berkoordinasi dan saling memberikan informasi perkembangan anak. Permainan puzzle diberikan sebagai sarana melatih fokus. Kata kunci: Peran Guru dan orang tua, perilaku hiperaktif Peran Guru dan Orang Tua dalam Penanganan Anak dengan Kecenderungan Hiperaktif Usia 4-5 Tahun di TKIT Nurul Ilmi. Ngemplak. Boyolali PENDAHULUAN Anak usia dini berada pada masa kritis, dimana pada masa ini seorang anak mulai membangun rasa percaya terhadap dunia lain di sekitarnya selain lingkungan keluarga. Anak mulai belajar mandiri, tidak tergantung dengan orang lain dan membangun kontrol diri, serta belajar mengambil inisiatif dan secara aktif ikut serta dalam kegiatan yang dapat diterima secara sosial. Seiring dengan berkembangnya kemampuan belajar anak dalam memahami orang lain dan kemampuannya mengekspresikan ide-ide dengan lebih efektif, maka lingkungan sosialnya juga menjadi bertambah luas. Kemampuan mengemukakan ide-ide dan membina komunikasi dengan orang lain semakin berkembang karena anak sudah mulai dapat menggunakan kata-kata, ungkapan. ungkapan yang komplek. Kemampuan fisik Anak juga semakin kuat, dan koordinasi semakin baik, begitu juga dengan perkembangan sosial emosional dan kepribadian, dan kognitif. Berdasarkan permendiknas 58 tahun 2009 bahwa tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat dicapai anak dengan usia tertentu melalui keterlibatan orang tua dan orang dewasa yang berada disekitar lingkungan anak. Seorang guru PAUD memiliki peran penting dalam proses pembelajaran Guru berperan sebagai model, fasilitator dan motivator. Perilaku anak merupakan hasil adaptasi dari proses mengamati dan meniru orang lain disekitarnya, oleh karena itu guru harus berperan sebagai model perilaku anak. Sebagai fasilitator guru berperan dalam mengarahkan apa sebaiknya dilakukan anak yang merupakan pembelajar aktif. Guru juga harus mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses Guru juga berperan memberikan dorongan dan semangat saat anak mengalami kesulitan atau kegagalan dalam melakukan sesuatu. Juga dapat memberikan penguatan-penguatan terhadap perilaku positif anak sehingga anak menampilkan berperilaku yang diharapkan. Menurut Wicaksono . , guru adalah karakter yang dijadikan figur oleh siswanya. Figur lekatan tidakbisa dibuat-buat atau dipaksa-paksa. Ia hadir atas dasar pengakuan. Jika guru menginginkan dirinya menjadi seorang figur lekatan bagi siswanya maka guru tersebut haruslah mencintai siswanya hingga siswanya itu merasakan cinta yang telah diberikan guru secara tulus. Anak bersifat unik, yang berbeda satu sama lain, maka guru harus mampu mengenali karakteristik masing-masing anak sehingga dapat mengidentifikasi gangguan dan masalah yang mungkin dimiliki anak, sehingga dapat memberikan solusi penanganan yang tepat agar anak berkembang sesuai potensinya. Peran orang tua juga sangat penting dalam proses perkembangan anak, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam proses belajar mereka. Orang tua harus menyadari bahwa pendidikan keluarga yang baik dapat membantu kemajuan anak di sekolah, orang tua sebaiknya bekerja sama dengan guru dalam pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang baik. Komunikasi yang baik Rusmiyati Siti Kadarsi LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 185-192 juga harus terjalin baik antara orang tua dengan guru maupun orang tua dengan Ketika komunikasi terjalin dengan baik, maka segala permasalahan yang terjadi dalam proses perkembangan anak dapat teratasi dengan baik. Gangguan pada anak usia dini dapat terjadi baik secara fisik, intelektual maupun mental. Salah satu karakteristk anak usia dini adalah memiliki daya konsentrasi yang pendek. Anak masih sulit untuk duduk diam dan memperhatikan sesuatu untuk jangka waktu lama. Maka gangguan yang mungkin terjadi pada anak adalah kondisi fisik anak yang ditandai dengan aktivitas motorik yang berlebihan, impulsive, dan kesulitan unruk berkonsentrasi yang dikenal dengan hiperaktif. Dalam pandangan psikologi hiperaktif diartikan sebagai gangguan perilaku seseorang yang sulit beradaptasi dengan orang sekitarnya dan dapat cenderung dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Oleh karena itu, perlu penanganan sehingga perilaku hiperaktif tidak berkelanjutan. Pembelajaran dengan metode modelling mampu menstimulasi tumbuhnya karakter yang positif pada anak usia dini. Untuk mengendalikan perilaku hiperaktif, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu penanganan yang dapat dilakukan adalah pemberian stimulasi yang tepat oleh guru, orang tua, maupun ahli terapis. Kerja sama yang baik antara guru, orang tua dan ahli terapis juga sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam menangani anak dengan kecenderungan perilaku hiperaktif. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman (Darmuki, 2020. Hidayati dkk, 2. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang membutuhkan dorongan atau motivasi untuk menggerakkan ke arah lebih baik, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu (Darmuki dkk. , 2017: 45. Hidayati, 2. Perubahan tingkah laku tersebut bisa berupa dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Darmuki , 2017: . Belajar juga dapat didefinisikan sebuah proses dimana tingkah laku ditimbulkan/berubah melalui latihan dan pengalaman (Hariyadi & Darmuki, 2019: . Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Darmuki & Hidayati, 2019: . Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Darmuki dkk. , 2017. Darmuki dkk. , 2018. Darmuki dkk. , 2. KBM merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang dengan baik(Darmuki & Hidayati, 2019. Darmuki & Hariyadi, 2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hidayati & Darmuki . yang mengemukakan bahwa KBM adalah suatu proses persiapan yang dipersiapkan oleh guru guna menarik dan memberi informasi kepada siswa, sehingga dengan persiapan yang dirancang oleh guru dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Peran Guru dan Orang Tua dalam Penanganan Anak dengan Kecenderungan Hiperaktif Usia 4-5 Tahun di TKIT Nurul Ilmi. Ngemplak. Boyolali Berdasarkan pengamatan dan studi awal terdapat dua anak yang berperilaku hiperaktif di kelompok A TKIT Nurul Ilmi. Perilaku yang ditunjukkan oleh kedua anak tersebut antara lain ketidakmampuan anak dalam berkonsentrasi terhadap satu kegiatan lebih dari 5 menit, tidak dapat duduk diam, sering keluar masuk kelas, suka bermain dan berbicara sendiri, banyak melakukan gerakan yang Oleh karena itu perlu perhatian dalam mendampingi anak dengan kecenderungan ini sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui upaya yang dilakukan guru dan orang tua untuk meningkatkan konsentrasi belajar anak dengan perilaku hiperaktif di kelompok A TKIT Nurul Ilmi sehingga hasil belajar anak meningkat. Serta untuk mengetahui apa bentuk kerja sama yang baik antara yang bisa dilakukan guru dan orang tua agar potensi anak dengan perilaku hiperaktif dapat berkembang secara METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini tindakan kelas yang dilakukan di kelompok A TKIT Nurul Ilmi pada semester genap tahun pelajaran 2020/2021. Penelitian ini menggunakan tehnik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung anak yang berperilaku hiperaktif, sehingga gambaran obyek lebih konkret, konteks data dalam keseluruhan situasi social juga mudah dipahami. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data dari kepala sekolah, orang tua, guru pendamping, atau ahli terapis. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari guru, orang tua/wali murid, dan siswa , sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen-dokumen yang diperoleh dari berbagai pihak seperti kepala sekolah, guru, orang tua, dan ahli terapis. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Obyek penelitian ini adalah tiga anak yang memiliki kecenderungan perilaku hiperaktif di kelompok A TKIT Nurul Ilmi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pra siklus Pada prasiklus ditemukan terdapat dua anak yang memiliki perilaku hiperaktif di kelompok A TKIT Nurul Ilmi. Anak dengan perilaku hiperaktif memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik anak pada umumnya. Terdapat 3 simptom utama dari anak hiperaktif, diantaranya: Gangguan pemusatan perhatian - Kesulitan untuk menjaga perhatian terhadap tugas dan aktivitas bermain. - Tidak menaruh perhatian saat diajak berbicara - Perhatian mudah teralih karena stimulus eksternal Rusmiyati Siti Kadarsi LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 185-192 Hiperaktivitas Sering menggerakkan kaki dan tangan dan tidak bisa duduk tenang Sering meninggalkan tempat duduk dikelas saat kegiatan Sering berlari atau memanjat yang berlebihan ditempat yang tidak Impulsif - Sulit menunggu giliran - Sering menginterupsi pembicaraan orang lain - Sering mengikuti kehendak sendiri Selanjutnya, hal yang paling banyak menyebabkan anak menjadi hiperaktif adalah: ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorde. Anak dengan ADHD memiliki ketidakseimbangan neurotransmitter atau penghantar sinyal saraf pada 3 area otak, yaitu lobus frontal yang berfungsi mengatur tingkah laku sesorang. Ganglia Basal dan Cerebellum yang berperan dalam mengatur koordinasi dan pengendalian gerakan motoric (Wilmshurst, 2. Sementara dari faktor lingkungan didapatkan bahwa anak-anak yang hidup dilingkungan yang tinggi akan paparan bahan-bahan atau racun yang berbahaya memiliki resiko tinggi mengalami ADHD Masalah kesehatan emosional atau mental Seorang anak dengan gangguan kecemasan mungkin kesulitan untuk duduk diam. Atau anak mengalami trauma oleh peristiwa menakutkan menyebabkan anak sulit berkonsentrasi Kondisi medis seperti tiroid yang terlalu aktif Tidak tidur siang atau terlambat tidur malam Ketika anak tidak cukup istirahat, tubuhnya merespon dengan membuat lebih banyak kortisol dan adrenalin, sehingga membuat anak bisa tetap terjaga, sehingga memiliki lebih banyak energy dan menjadi sangat aktif Siklus 1 Anak yang memiliki perilaku hiperaktif membutuhkan rangsangan khusus agar perkembangan social, emosional dan intelektualnya berkembang dengan baik, untuk itu diperlukan pendekatan dari guru dan orang tua untuk membantu anak agar dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasi belajarnya, karena anak hiperaktif juga memiliki banyak potensi yang dapat Pada siklus 1 dilakukan upaya-upaya dalam penanganannya, antara lain: Upaya yang dilakukan guru - Mengambil inisiatif selalu mengajak berbicara dengan menatap matanya, untuk melatih menfokuskan perhatian Peran Guru dan Orang Tua dalam Penanganan Anak dengan Kecenderungan Hiperaktif Usia 4-5 Tahun di TKIT Nurul Ilmi. Ngemplak. Boyolali Memberikan pendampingan personal, yaitu dengan mengenali dan memahami karakteristiknya, memberikan perhatian saat kegiatan belajar dan bersosialisasi dengan teman-teman serta lingkungannya. - Memberikan perhargaan . ketika anak bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik Upaya yang dilakukan orang tua - Memberikan perhatian khusus dan pendampingan secara intensif kepada anak selama di rumah - Memberi contoh yang baik dalam berperilaku sehingga membantu - memperbaiki perilaku hiperaktifnya - Meminta bantuan ahli terapis untuk membantu aspek perkembangannya - Memberikan makanan yang mengandung omega 3 yang tinggi, protein, kalsium seperti ikan, telur, susu dan olahannya, serta buah dan sayur, sedangkan makanan yang harus dihindari, seperti makanan cepat saji, seafood, kafein, dan makanan dan minuman manis. Upaya kerja sama yang dilakukan guru dan orang tua, antara lain: - Saling memberi informasi tentang perkembangan anak baik dari aspek akademik, kepribadian dan cara bersosialisasi anak - Berdialog dan berdiskusi untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang dihadapi anak - Mengadakan kunjungan kerumah siswa . ome visi. Kendala yang terjadi dalam kerjasama antara orang tua dan guru adalah pemikiran dan pendapat yang berbeda antara guru dan orang tua, sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya, orang tua tidak konsekuen dengan kesepakatan dan kurang sabar karena kurangnya pemahaman bahwa perubahan dan perkembangan anak membutuhkan proses Siklus 2 Setelah upaya upaya yang dilakukan guru dan orang tua dalam mendampingi anak selama proses belajarnya terjadi peningkatan pada aspek social, emosional, dan intelektual anak, tetapi peningkatannya belum terlalu Oleh karena itu perlu pendampingan yang semakin intensif yang dilakukan guru dan orang tua terhadap anak hiperaktif. Adapun upaya kerjasama yang dilakukan pada siklus 2 antara lain: Orang tua dan guru selalu terbuka dan menerima anak yang memiliki perilaku hiperaktif Kerjasama, komunikasi, dan saling memberikan informasi secara berkesinambungan antara kepala sekolah, guru, orang tua, serta ahli terapis Orang tua dan guru selalu menumbuhkan dan mengembangkan perhatian, dan membantu anak menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga mampu berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain Rusmiyati Siti Kadarsi LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 185-192 Memberikan permainan yang dapat meningkatkan konsentrasi dan daya ingat anak, seperti permainan puzzle Semakin meningkatkan home visit agar komunikasi guru dan orang tua semakin baik dan semakin terbuka tentang perkembangan atau kemunduran anak sehingga dapat segera dicari jalan keluarnya Membawa anak ke ahli terapis atau psikolog untuk mendapatkan terapi sesuai kondisi dan kebutuhan anak Selalu memberikan pujian dan penghargaan kepada anak setiap tahap perkembangan yang dicapainya. SIMPULAN Dalam penanganan anak yang memiliki perilaku hiperaktif dibutuhkan peran guru dan orang tua yang mendampingi anak dalam proses belajarnya. Kerjasama antara guru dan orang tua sangat penting , agar kedua pihak bisa saling berbagi pemahaman terhadap situasi dan perkembangan anak baik dirumah dan disekolah. Semakin maksimal peran guru dan orang tua dalam pendampingan anak hiperaktif semakin meningkat pula perkembangan anak baik dalam aspek social, emosional, dan intelektualnya. DAFTAR PUSTAKA