n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN NAHWU DI MA PERSIS BANGIL Fawwaz Syailendra1*. Imam Fauji2 Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sidoarjo, 61251. Indonesia. *Email korespondensi : imamuna. 114@gmail. Diterima April 2025. Disetujui Juli 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: One of the sciences used to learn Arabic is nahwu. Through this, one can understand the function and grammatical rules of a word within a sentence. The purpose of nahwu is to prevent errors in pronunciation or writing, particularly in diacritical marks or letters within a sentence, which can lead to a change in meaning. The aim of this study is to identify the factors that cause students at Madrasah Aliyah (MA) PERSIS Bangil to experience difficulties in learning nahwu. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The data was collected through classroom and dormitory observations, interviews with relevant students, and The findings reveal two main factors contributing to the difficulties. The first is internal factors, such as weak memory related to your lessons and a lack of interest or motivation to study. The second is external factors, including teachers who are less interactive and a learning environment that is not supportive of nahwu instruction. Keywords: Nahwu. Learning Difficulties. Internal Factors. External Factors Abstrak: Salah satu ilmu untuk mempelajari bahasa Arab adalah ilmu nahwu, dengan ilmu nahwu kita dapat mengetahui fungsi dan hukum satu kata pada sebuah kalimat. yujuan adanya ilmu nahwu agar tidak terjadi kesalahan dalam pelafalan atau penulisan pada tanda baca atau huruf dalam satu kalimat yang berakibat perubahan makna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang membuat santri Madrasah Aliyah (MA) PERSIS Bangil mengalami kesulitan mempelajari ilmu nahwu. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, peneliti mengumpulkan data dengan cara melakukan observasi di kelas dan lingkungan asrama, mewawancarai santri yang terkait dan dokumentasi. Terdapat dua faktor yang membuat santri MA PERSIS Bangil mengalami kesulitan, yang pertama faktor internal yaitu daya ingat santri yang lemah terhadap pelajaran nahwu dan kurangnya minat atau motivasi untuk mempelajari ilmu nahwu, kedua faktor eksternal yaitu guru yang kurang interaktif dengan santri dan lingkungan pesantren yang kurang mendukung untuk pembelajaran nahwu. Kata kunci: Ilmu Nahwu. Kesulitan Belajar. Faktor Internal. Faktor Eksternal PENDAHULUAN Pembelajaran bahasa Arab telah menjadi bagian penting dalam pendidikan di Indonesia, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Bahasa Arab dipelajari untuk beragam kebutuhan, mulai dari memahami Al-Qur'an, hadits nabi, hingga kitab-kitab klasik. Dalam proses pembelajarannya, terdapat unsur-unsur bahasa yang harus dikuasai, yaitu ashwat . , mufradat . , dan tarkib . (Fahmi, 2. Ketiga unsur tersebut mendukung untuk menguasai empat keterampilan berbahasa atau maharah, ada empat Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi keterampilan yaitu maharah istimaAo . eterampilan mendenga. , maharah kalam . eterampilan berbicar. , maharah qiraah . eterampilan membac. , dan maharah kitabah . eterampilan menuli. (Ahmadi & Ilmiani. Diantara ketiga unsur bahasa Arab, terdapat tarkib atau tata bahasa yang memiliki peran penting untuk memahami struktur kalimat secara benar. Disinilah urgensi mempelajari ilmu nahwu agar memahami fungsi kata dalam sebuah kalimat dan menghindari kesalahan dalam berbahasa Arab. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan belajar ilmu nahwu. Permasalahan ini tidak hanya terjadi secara umum, tetapi juga ditemukan di MA PERSIS Bangil. mana mereka sudah pernah mempelajari Nahwu dasar di tsanawiyyah, sehingga ketika masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Madrasah Aliyyah mereka kesulitan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Berdasarkan data yang dimiliki guru nahwu, sebanyak 7 dari 18 santri kelas 10, 6 dari 25 santri kelas 11, dan 7 dari 35 santri kelas 12 mengalami kesulitan dalam mempelajari nahwu dan sisanya kesulitan karena lupa pelajaran sebelumnya sehingga tetap perlu mengulang dan bimbingan guru, ada sekitar 2 sampai 5 santri dari setiap kelas 10 sampai kelas 12 yang paham dan telah mempelajari materi lanjutan nahwu. Kesulitan belajar nahwu mengakibatkan pengulangan pada pembahasan dasar nahwu dan menghambat pelajaran-pelajaran yang memakai bahasa Arab sehingga perlu menjelaskan dua kali. Terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang menganalisa kesulitan belajar nahwu, pertama oleh Ngadil Rizki dengan judul "Kesulitan Belajar Nahwu Bagi Santri Pemula di Pondok Pesantren Asaasunnajah Desa Salakan Kecamatan Kesugihan Cilacap", hasil penelitiannya ialah kurangnya kematangan, kecerdasan, tidak ada motivasi dan minat, lingkungan yang tidak mendukung dan metode mengajar yang monoton(Rizki. Kedua dari Muhammad Ihsan dengan judul "Analisis Faktor Kesulitan Belajar Ilmu Nahwu dan Sharaf" menghasilkan simpulan bahwa kesulitan belajar karena latar belakang pendidikan sebelumnya, tidak memiliki kebiasaan belajar, kurangnya motivasi juga minat pada nahwu sharaf, dosen yang menakutkan sehingga mahasiswa takut bertanya, ada paksaan dari orang tua dan fasilitas yang kurang memadai(Syarifaturrahmatullah et al. , 2. Ketiga penelitian dari Nur Salamah yang berjudul "Analisis Faktor Kesulitan Dalam Memahami Kaidah Bahasa Arab Siswa Kelas VI B SDIKT Robbi Rodhiya" menghasilkan kesimpulan bahwa kesulitan belajar nahwu karena kurangnya minat siswa untuk belajar nahwu, lingkungan yang tidak kondusif, waktu belajar yang singkat dan media mengajar yang tidak bervariasi(Salamah et al. , 2. Setelah mengamati penelitian sebelumnya yang telah mengungkapkan analisis kesulitan belajar nahwu, maka terdapat perbedaan fokus dalam penelitiannya, penelitian pertama fokus meneliti santri baru Pondok Pesantren Asaasunnajah pada jenjang tsanawiyah Pondok Pesantren Asaasunnajah yang baru mengenal nahwu, penelitian kedua fokus meneliti mahasiswa PBA UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda dengan latar pendidikan yang berbeda sebelumnya, ada yang sudah pernah belajar dan ada yang baru mendapat pengajaran nahwu, penelitian ketiga fokus meneliti siswa kelas lima B SDIKT Robbi Rodhiya yang belum pernah belajar nahwu, sedangkan penelitian ini meneliti santri Madrasah Aliyah PERSIS yang memiliki latar belakang pernah mendapatkan pelajaran nahwu di jenjang sebelumnya yaitu di kelas tsanawiyyah, namun ketika berada di jenjang ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 MA santri mengalami kesulitan. Maka yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah meneliti pelajar yang bukan pemula atau sudah pernah mempelajari nahwu, tapi mengalami kesulitan dalam proses belajarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari tahu : . faktor apa saja yang membuat santri kesulitan belajar nahwu, . Solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi kesulitan. Oleh karena itu peneliti mengambil judul "Analisis Kesulitan Siswa Dalam Pembelajaran Nahwu di MA PERSIS Bangil" karena terdapat fenomena adanya kesulitan di pesantren PERSIS Bangil. wawancara, dengan guru nahwu, apabila guru menyuruh siswa meng-I'rab atau membaca teks berbahasa arab tanpa harakat kebanyakan tidak bisa. Apabila siswa tidak bisa meng-I'rab akan berimbas pada pelajaran pelajaran yang buku ajarnya berbahasa Arab sehingga dapat mengganggu rencana pembelajaran, salah satu contohnya, seharusnya dihari itu fokus membahas materi di buku bahasa Arab namun beralih membahas nahwu dari dasar karena ada beberapa siswa yang belum paham nahwu lantaran disuruh meng-I'rab. KAJIAN PUSTAKA Pengertian Ilmu Nahwu Ilmu nahwu adalah salah satu cabang ilmu bahasa arab yang banyak diajarkan di Indonesia terkhusus di Ilmu nahwu terdiri dari 2 kata ilmu dan nahwu, ilmu artinya tahu lawan kata dari jahl artinya tidak tahu, nahwu memiliki arti "maksud dan jalan" dan "I'rab kalam arabi"(Manzr, 2. Secara istilah adalah Ilmu yang mempelajari prinsip Ae prinsip untuk mengenali kalimat Ae kalimat bahasa Arab dari sisi IAorab dan binaAo nyaAy(Al-Ghulayaini, 1. Sejarah Ilmu Nahwu Terdapat 2 faktor perusak bahasa Arab yaitu aktifitas dagang yang mengharuskan pedangan keluar masuk jazirah Arab dan pembebasan wilayah islam sehingga bahasa Arab bercampur dengan bahasa a'jam(Al-afghani. Apabila terjadi kesalahan pelafalan atau penulisan pada harakat atau huruf, maka akan merubah makna dari kata atau kalimat, kesalahan itu dinamakan lahn, jadi lahn itu adalah kesalahan pada bunyi, syiakh, tarkib kalimat, harakat dan I'rab(Harawi, n. Ada beberapa kejadian lahn yang terjadi dan yang paling fatal terjadi di zaman Umar yaitu di surat bara'ah ayat 3, karena lahn maknanya berubah menjadi Ausesungguhnya Allah berlepas dari orang musyrik dan rasulnya", sampailah cerita lahn ini ke Umar Bin Khattab dan ia meluruskan maknanya, lalu Umar memerintahkan agar tidak membacakan Al - Quran kecuali . yang memiliki ilmu tentang bahasa Arab(Al-AnbAr, n. Pada masa kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib ilmu nahwu dirumuskan, karena banyak terjadi lahn di negaranya sehingga ia merasa resah, maka ia menyuruh Abu Aswad meneruskan tulisannya tentang dasar - dasar bahasa Arab(Al-kitani, n. Penamaan ilmu nahwu dari perintah Khalifah Ali kepada Abu Aswad yaitu "unhu 'ala hadzan nahwi" yang artinya , buatlah yang semisal dengan ini(Sam et al. Metode dan Strategi Belajar Nahwu Untuk mempelajari ilmu nahwu terdapat dua metode, yaitu deduktif dan induktif. Deduktif atau al qiyasiyah adalah metode yang mendahulukan kaidah - kaidah lalu contohnya untuk memperjelas kaidah yang Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi dipelajari, dan metode deduktif adalah metode tertua yang diterapkan di Arab bahkan sampai di Indonesia, khususnya pesantren(Ritonga et al. , 2. Metode induktif atau al - istiqroiyah adalah metode yang mendahulukan contoh - contoh yang aplikatif, dan kaidah dijelaskan di akhir sebagai afirmasi(Supardi et al. Dalam ilmu nahwu terdapat beberapa strategi pengajaran, pertama ada sorogan yang peserta didiknya dibimbing satu persatu oleh gurunya secara bergiliran untuk mengkaji suatu kitab(Faridatul Mukhafidhoh1. Jaenullah2, 2. , kedua bandongan, yaitu disampaikan seperti ceramah, guru harus mengeraskan saranya agar terdengar oleh seluruh peserta didiknya(Rahmatullah, 2. , ketiga musyawarah, guru memberikan topik atau pemasalahan untuk peserta didik bahasa bersama, peran guru hanya menjadi moderator, tapi diakhir guru akan memberikan konklusi dari topik musyawarah (Wafa et al. , 2. Tujuan Belajar Nahwu Setelah mengetahui metode dan strategi belajar ilmu nahwu, perlu diketahui tujuan non - Arab belajar ilmu Dijelaskan ada beberapa tujuan yaitu untuk membekali peserta didik dengan kaidah bahasa Arab agar terhindar dari kesalahan, mengembangkan intelektual peserta didik agar berpikir logis untuk dapat membedakan antara tarakib, ibarat, kata dan kalimat, membiasakan peserta didik agar cermat dan teliti dalam mengamati contoh sehingga dapat membandingkan lalu menyimpulkan . dan mengembangkan dzauq lughawi, melatih peserta didik untuk menirukan contoh kalimat, uslub atau gaya bahasa baik lisan maupun tulisan dengan benar sesuai dengan kaidah bahasa, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami apa yang di dengar dan tertulis, dan intinya adalah menghindari kesalahan tatabahasa yang berpengaruh pada makna(Riska & Fauji, 2. Kesulitan alam Belajar Nahwu Dalam belajar ilmu nahwu pasti menemui adanya kesulitan belajar. Jadi kesulitan belajar diartikan adanya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki dan hasil atau target belajar yang dicapai. Indikasi bahwa peserta didik mengalami kesulitan belajar adalah, hasil belajar rendah jika dibandingkan dengan sekelompoknya, pencapaian tidak seimbang antara usaha dan hasil yang didapat, selalu tertinggal dengan teman sekelompoknya dalam mengerjakan tugas. Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi peserta didik dalam belajar yaitu dari internal dan eksternal(Zamzami et al. , 2. Faktor internal adalah kesulitan yang berasal dari diri peserta didik, faktor internal meliputi dua faktor : . Pertama faktor fisiologis adalah kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam mempelajari sesuatu karena keterbatasan pada fisiknya disebabkan kondisi kesehatannya karena kelelahan, gizi yang buruk dan penyakit kronis, ada juga karena gangguan pada neurologis yang mempengaruhi aspek kognitif salah satunya kesulitan menerima dan memproses informasi yang masuk dan terakhir adanya keterbatasan pada fisiknya, misalnya mata minus dapat membuat peserta didik kesulitan melihat materi yang disampaikan, . Kedua faktor psikologis adalah kesulitan yang dialami oleh peserta didik yang berkaitan dengan kondisi mental, emosi dan cara berpikir peserta didik, misalnya tidak ada motivasi belajar dan tidak berminat untuk mempelajari suatu pelajaran(Sinta et al. , 2. Faktor eksternal adalah kesulitan yang berasal dari luar individu peserta didik, keluarga merupakan faktor terkecil dan terdekat dari peserta didik sehingga dapat mempengaruhi peserta didik ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 dalam belajar, misal ada masalah ekonomi atau keharmonisan yang nanti akan berdampak pada proses belajar peserta didik, lalu lingkungan sekolah, peserta didik dapat kesulitan belajar apabila guru yang mengajar tidak bisa menumbuhkan minat belajar siswa, ditambah fasilitas yang tidak memadai, dan terakhir lingkungan sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya, di dunia nyata bertemu dengan teman sebaya yang tidak mendukung belajar dan berpeluang mengajak peserta didik ke arah negative, dan di dunia maya yang dengan mudah memberikan informasi yang semestinya tidak peserta didik konsumsi, sehingga peserta didik tidak konsentrasi pada pembelajaran . unisa, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Michael Quinn Patton, penelitian ini bertujuan untuk memahami lingkungan, aktivitas sosial dan pengalaman partisipan, kemudian menganalisisnya dan menyampaikan hasil penelitian itu kepada orang lain agar mendapatkan pemahaman yang utuh (Waruwu, 2. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang membuat santri MA Pesantren PERSIS Bangil mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu nahwu. Dalam penelitian ini data didapat dari observasi langsung dengan cara mengikuti pembelajaran nahwu di kelas dan kegiatan di luar kelas, mewawancarai 20 orang santri Madrsah Aliyah dari kelas 10 hingga kelas 12 yang mengalami kesulitan memahami ilmu nahwu berdasarkan data dari guru nahwu dan mewawancarai guru nahwu untuk menggali metode pengajaran serta kendala apa saja yang didapat ketika proses pembelajaran dan data terakhir dari dokumentasi berupa profil sekolah, absensi kelas, hasil observasi yang dicatat, dan transkrip wawancara dengan santri yang mengalami kesulitan dan guru nahwu. Setelah data terkumpul kemudian divalidasi menggunakan teknik triangulasi yaitu menyilangkan data observasi, wawancara dan dokumentasi lalu digabung menjadi satu hingga mendapat sebuah kesimpulan(Alfansyur & Mariyani, 2. Metode analisa data untuk penelitian ini menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman, ada tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan Setelah data terkumpul, mulai melakukan analisa dengan cara mereduksi data yaitu memilih, menyederhanakan dan memfokuskan data yang mengarah kepada simpulan yang dapat dipertanggung jawabkan, dilanjutkan penyajian data yaitu menyajikan data dalam bentuk bagan, uraian singkat dan lainnya yang dapat memudahkan peneliti untuk memahami masalah, dan yang terakhir penarikan kesimpulan dari data yang telah dianalisis dan verifikasi dengan data yang telah dikumpulkan(Zulfirman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Problem Pembelajaran Nahwu Dalam proses belajar terdapat hambatan yang membuat seseorang kesulitan untuk memahami Karena memahami tantangan dan kesulitan dalam pembelajaran dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung dan memotivasi peserta didik, menyesuaikan materi yang sesuai dengan daya serap dan kebutuhan peserta didik dan mengatasi masalah yang ada(Sulaiman, 2. Penelitian ini berfokus untuk meneliti kesulitan yang dialami oleh santri Aliyah pesantren PERSI Bangil dalam mempelajari nahwu. Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Kesulitan belajar nahwu yang dialami oleh santri tak terlepas dari faktor - faktor yang mempengaruhinya, berdasarkan hasil penelitian yang diambil di lapangan bahwasanya kesulitan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu internal dan eksternal. Problem Internal Daya Ingat Lemah Pembelajaran di pesantren PERSIS Bangil pada kelas Aliyyah selalu mengulang materi pelajaran minggu kemarin setelah itu dilanjutkan materi baru, sisa waktu pelajaran digunakan untuk praktek meng-I'rab. Setelah keluar kelas tidak ada kegiatan atau program untuk mengulang pelajaran yang telah dipelajari di kelas. Hasil wawancara dengan beberapa santri kelas aliyyah mengatakan bahwa mereka paham pembelajaran di kelas, tapi ketika telah selesai pembelajaran di kelas mereka lupa dan butuh untuk dipancing agar materi pelajarannya kembali teringat, setelah selesai wawancara diujilah beberapa santri dengan materi yang telah diajar di pagi hari, ketika ditanya materi apa yang dipelajari di kelas merakapun menjawab lupa, ketika disebutkan syibhul jumlah mereka langsung menjelaskan dengan baik. Di kelas 1 aliyah, salah satu santri ditanya tentang kedudukan kata pada suatu kalimat, ia hanya diam tetapi ustadz memberikan pertanyaan "isim diawal jumlah disebut apa?" akhirnya ia bisa menjawab. Jadi setiap peserta didik memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda, salah satu kemampuan kognitif adalah mengingat(Qorimah & Sutama, 2. Kemampuan mengingat atau daya ingat adalah komponen penting untuk belajar, didalamnya terdapat kemampuan untuk menangkap, kemudian menyimpan dan bisa mengeluarkan kembali informasi yang didapat. Daya ingat yang baik dapat meningkatkan prestasi peserta didik begitu juga sebaliknya daya ingat yang buruk mempengaruhi efektifitas belajar(Siti Anisah & Maulidah, 2. Penyebab lupa berdasarkan dua teori klasik : pertama teori Decay oleh Edward Thorndike, teori ini menyatakan bahwa informasi yang tersimpan seiring berjalannya waktu akan semakin melemah apabila informasi itu tidak digunakan(Azhari & Basthomi, 2. Kedua teori interfensi yaitu ketika seseorang lupa karena informasi baru atau lama saling menggangu(Saputri, 2. Kurang Motivasi dan Minat Berdasarkan observasi di kelas 1 aliyyah santri-santri yang sungguh-sungguh mengikuti pelajaran duduk di bagian depan kiri, dan disisi kanan adalah santri yang bercanda dengan teman semejanya atau tidur disaat ustadz menjelaskan pelajaran, mereka yang kurang paham akan mendapatkan banyak pertanyaan dari ustadz. Di kelas 2 aliyyah ketika ustadz menjelaskan semua santri memperhatikan kecuali 2 santri yang masih sibuk dengan urusannya, setelah ustadz selesai menjelaskan pelajaran, diberilah santri soal yang telah ditulis di papan tulis, ketika diberi waktu untuk mengerjakan hampir setengah kelas mulai tertidur, diakhir pelajaran hanya beberapa yang bangun dan mereka telah mengerjakan soal. Di kelas 3 aliyyah santri yang memiliki kesungguhan belajar duduk di meja paling depan sebelah kiri karena lebih dekat dengan meja guru, di awal pelajaran sudah ada beberapa santri yang tidur, mereka bangun atau dibangunkan ketika ustadz mengabsen setelah itu tidur kembali, ada tiga santri yang kurang memahami ilmu nahwu berdasarkan data dari ustadz, santri pertama ketika ustadz ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 menjelaskan ia bangun dan mendengarkan penjelasan ustadz namun fokusnya gampang teralihkan oleh temannya atau hal-hal lainya, dan dua santri lainnya tidur sepanjang pelajaran. Wawancara yang dilakukan kepada santri-santri kelas 1 aliyyah yang kesulitan mendapatkan beberapa alasan, pertama mereka yang memiliki minat untuk belajar nahwu tapi kurang mendapatkan latihan soal dari ustadz di kelas, alasan kedua dari salah satu santri kelas 1 aliyyah yang berusaha untuk fokus mengikuti atau mendengarkan pelajaran dari ustadz tetapi ia terganggu dengan teman disampingnya sehingga ia ikut bercanda bersama, alasan ketiga dari beberapa santri mengatakan bahwa kesulitan belajar nahwu yang dialami mereka karena kurang tertarik dengan nahwu. Wawancara dengan 3 santri kelas 2 aliyyah yang mengalami kesulitan berdasarkan data dari ustadz, alasan mereka kesulitan belajar karena kurang tertarik belajar nahwu, sesuai dengan observasi bahwa 2 santri yang kesulitan tidak mengerjakan soal yang diberikan ustadz dan mengerjakan kegiatan lain, satu santri lagi mengerjakan tetapi jawabannya meniru temannya yang paham karena ustadz menanyakan kepadanya alasan I'rab satu kata di sebuah kalimat dan ia tidak bisa menjawab, ada satu santri lagi yang sebetulnya ia paham tapi memilih untuk tidur daripada mengerjakan soal, ketika itu penulis menyuruhnya untuk mengerjakan, dengan sedikit bimbingan hanya 5 menit ia telah menyelesaikan tugasnya. Di kelas 3 aliyyah ada 3 santri yang kesulitan berdasarkan data dari ustadz, alasan mereka kesulitan belajar nahwu yang pertama karena tidak tertarik untuk belajar nahwu karena tidak berhubungan dengan cita-citanya atau program studi perkuliahanya setelah lulus, alasan kedua ketiduran di kelas karena malamnya mereka bergadang, sesuai dengan buku Handoyo yang berjudul Aplikasi Olah Nafas yaitu ketika begadang tubuh menguras tenaga yang membuat tubuh lemah, ketika tubuh melemah manusia akan sulit untuk konsentrasi dan memaksa tubuh untuk beristirahat(Fahturosi, 2. , itulah sebabnya di kelas 3 aliyah banyak santri yang tertidur. Melihat kejadian yang telah disebutkan bahwasannya santri yang kesulitan tidak ada minat dan motivasi untuk mempelajari ilmu nahwu, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa itu minat dan motivasi, motivasi adalah suatu dorongan dari luar atau dalam diri yang dapat mempengaruhi intensitas dan arah seseorang untuk mencapai tujuannya. Motivasi merupakan proses psikologis seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan, intelegensi, pengalaman masa lalu, dan harapan masa depan(Andeka et al. , 2. Lalu minat adalah suatu rasa suka atau ketertarikan pada sesuatu tanpa adanya paksaan sehingga seseorang yang menjalaninya akan mendapatkan kepuasan dan kesenangan(Setiawan et al. Jadi motivasi dan minat sama-sama mendorong seseorang mencapai tujuannya, perbedaan mendasar pada keduanya adalah sesuatu yang dilakukan karena minat akan mendapatkan kesenangan ketika mengerjakannya(Nawahdani et al. , 2. Problem Eksternal Guru Di kelas 1 sampai 3 aliyyah terdapat 2 ustadz yang mengajar, pengajar pertama hanya mengajar di kelas 1 aliyyah, dengan latar belakang pendidikan Lc atau setara dengan strata 1 di Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, sebelum ke Universitas Islam Madinah beliau menimba ilmu di kelas I'dad Lughowi LIPIA Jakarta. Untuk kelas 2 dan 3 aliyyah diajar oleh seorang ustadz dengan latar belakang pendidikan Lc dari Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah dan Magister Manajemen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Memilih Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi metode pengajaran yang tepat dapat mencapai keberhasilan pembelajaran(Ali & Fauji, 2. , dan kedua ustadz pengajar nahwu memiliki metode pengajaran yang sama yaitu menggunakan metode deduktif atau Qiyasiyah yaitu dengan mendahulukan penjelasan kaidah - kaidah kemudian memberikan contoh-contohnya(Riska & Fauji, 2. , maka metode pengajaran deduktif cara yang tepat untuk mengajarkan nahwu menggunakan buku Nahwu Wadhih karena ustadz memulai dengan menjelaskan kaidah nahwu lalu mendatangkan contohnya. Hasil wawancara dengan santri kelas 1 aliyyah yang mengalami kesulitan belajar nahwu, bahwasannya tidak mempermasalahkan cara mengajar ustadz, menurut mereka ustadz menjelaskan pelajaran dengan cukup baik dan mudah dipahami, tetapi karena kurangnya motivasi dan pengaruh lingkungan membuat mereka terdistraksi dari pelajaran, salah satu santri di kelas 1 aliyyah menjelaskan bahwa cara ustadz mengajar di semester 2 berbeda dari semester 1, di semester 2 ustadz memakai metode tanya jawab yaitu pembelajaran yang diselingi memberikan pertanyaan dan jawaban(Muti & Nuraeni, 2. , dengan cara seperti ini ustadz dapat mengetahui tingkat pemahaman santri dan bisa berfokus kepada santri yang kurang paham, cara di semester 2 lebih disukai santri kelas 1 aliyyah daripada pembelajaran di semester 1 dengan metode ceramah yaitu pembelajaran satu arah dari pendidik dan santri mengikuti pembelajaran dengan pasif (Dafid Fajar Hidayat. Di kelas 2 dan 3 aliyyah ustadz memakai metode konvensional yaitu diawali metode ceramah dan dilanjutkan metode drill atau latihan adalah metode untuk membiasakan peserta didik terhadap pelajaran yang telah dipelajari dengan soal-soal yang disiapkan guru(Artiasih, 2. Di masing-masing kelas terdapat 3 santri yang kesulitan berdasarkan data yang dimiliki ustadz pengajar nahwu di kedua kelas tersebut, ketika diwawancarai mereka menginginkan ustadz lebih interaktif, ada salah satu santri di kelas 2 aliyyah mengeluhkan cara mengajar ustadz yang terlalu cepat dan materi yang disampaikan banyak. Berdasarkan observasi di kelas 1 aliyah bahwa ustadz menguji pemahaman santri dengan banyak bertanya kepada seluruh santri dan lebih banyak mencecar pertanyaan kepada santri yang kurang paham, ketika santri diberi pertanyaan dia tidak bisa menjawab sehingga ustadz menjelaskan ulang kepada santri yang tidak bisa menjawab. Di kelas 2 dan 3 aliyah ketika ustadz menjelaskan materi pelajaran mereka yang kesulitan belajar nahwu tertidur atau bercanda dengan teman sebangkunya sehingga tugas yang diberikan oleh ustadz tidak dikerjakan karena belum paham. Jadi guru memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar, beberapa peran guru adalah memantau berbagai hal yang dilakukan peserta didik, menanamkan pemahaman pelajaran dengan baik, mengarahkan peserta didik agar displin dan mendorong atau memotivasi agar peserta didik berkembang(Ananda & Wandini, 2. Ada beberapa langkah yang perlu guru lakukan agar dapat meningkatkan hasil belajar, . Menggunakan strategi pembelajaran yang dapat menarik perhatian peserta didik, i. menggunakan metode dan strategi yang sesuai dengan prestasi akademik dan kemampuan kognitif peserta didik, . memaksimalkan waktu pembelajaran, i. menciptakan Susana kelas yang kondusif untuk pembelajaran, . mengoptimalkan teknologi yang ada sebagai alat pembelajaran(Lubis & Widya, 2. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 Lingkungan Hasil observasi yang telah dilakukan bahwasannya pesantren PERSIS Bangil memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk kegiatan belajar mengajar. Ada satu kelompok belajar yang diajar oleh salah satu pengasuh asrama, beliau mengajar nahwu dari dasar untuk beberapa kelas yaitu kelas 2, 3 tsanawiyah, takhassus, dan 1 aliyyah, mereka memiliki hambatan yaitu lampu kelas yang mati di malam hari, sehingga belajar dialihkan ke masjid, lalu di kelas aliyyah terdapat jendela untuk sirkulasi udara, tapi suara-suara kendaraan dari jalan raya masuk sehingga ketika ustadz menjelaskan pelajaran suaranya kalah dengan suara kendaraan dan juga suara dari luar membuat beberapa santri fokusnya teralihkan, kedua budaya sekolah yaitu nilai atau norma yang diterapkan dan diikuti oleh seluruh warga di suatu sekolah untuk mencapai target yang dinginkan, misalnya disiplin, murid menyapa guru dan lain sebagainya(Ndruru, 2. , di pesantren PERSIS Bangil budaya belajar terbilang sedikit, salah satu faktor yang membuat santri kesulitan adalah lupa, maka santri perlu lebih banyak mengingat pelajaran dengan banyak praktek belajar karena salah satu teori koneksionisme dari Thorndike adalah Law of exercise yaitu belajar akan berhasil apabila sering latihan dan ulangan(Damiati et al. , 2. , maka dari pesantren perlu membuat program belajar yang membantu santri belajar nahwu. Ketiga lingkungan sosial di pesantren mendukung untuk belajar nahwu, misalnya salah satu pengurus melihat kondisi santri yang masih bingung membedakan isim, fi'il, dan huruf, maka beliau berinisiatif untuk menawarkan santri yang berminat belajar nahwu bersamanya, dalam pembelajarannya beliau biasanya langsung menyuruh santri praktek membaca kalimat bahasa Arab tanpa harakat dan meng-I'rabnya, cara beliau sesuai dengan teori Edgar Dale yaitu belajar langsung praktek lebih efektif daripada sekedar belajar teori(Agustiani, 2. , dan di semester 1 ada program yang digagas oleh guru sharaf dan pengasuh asrama tentang belajar nahwu dan sharaf setelah shubuh, sayangnya program ini tidak berlanjut di semester 2 karena diganti program yang lain yaitu kajian tematik yang diisi oleh beberapa ustadz. Hasil wawancara dengan santri yang kesulitan bahwa ada salah satu santri di kelas 1 aliyyah yang kesulitan belajar nahwu karena tidak fokus kepada penjelasan materi dari ustadz tetapi teralihkan pada teman disampingnya yang bercanda, ketika diberi soal ia tidak bisa menjawab dan akhirnya ustadz menjelaskan materi lagi kepadanya. Lingkungan memiliki peran penting untuk mendukung keberhasilan belajar, menurut Nur lingkungan terdiri dari 3 bagian yaitu pertama lingkungan fisik atau sarana dan prasarana yang mendukung, kedua budaya sekolah yang berguna untuk membentuk karakter peserta didik, dan ketiga lingkungan sosial yang meliputi banyak pihak tetapi pengaruh yang paling dominan adalah teman-teman sekelasnya(Gampu et al. , maka lingkungan dinilai sebagai faktor penting agar tercapainya suatu proses pembelajaran(Martina & Fauji, 2. Usaha Solusi ang Dilakukan Usaha Guru Kedua ustadz pengajar nahwu di kelas 1,2 dan 3 aliyyah memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi masalah yang dialami santri yaitu kesulitan mempelajari nahwu. Tugas yang diberikan kepada guru nahwu kelas 1 aliyyah adalah menuntaskan buku Nahwu Wadhih jilid 1 untuk 2 semester, pada semester 1 ustadz mengajar dengan rencana pembelajaran, namun ketika evaluasi banyak santri yang belum paham, akhirnya ustadz Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi merubah cara mengajarnya dengan lebih interaktif yaitu dengan mengulang-ulang pelajaran dan banyak bertanya kepada santri sehingga santri tetap fokus pada pelajaran. Cara beliau menilai santri paham pelajaran nahwu dengan cara memberi soal kepada santri yang ditunjuk, apabila bisa menjawab maka santri itu dinilai telah Ketika wawancara beliau mengatakan bahwa beliau tidak mengejar target kurikulum, tetapi fokus kepada pemahaman santri, tidak mengapa mendapatkan materi pelajaran sedikit yang penting santri paham. Untuk kelas 2 dan 3 diajar oleh satu ustadz yang sama, di kelas 2 aliyyah ustadz diberi tugas untuk menyelesaikan buku Nahwu Wadhih jilid 2 dan di kelas 3 aliyyah buku Nahwu Wadhih jilid 3, salah satu kesulitan yang dialami santri adalah lupa maka ustadz berusaha untuk membuat santri paham dengan cara menjelaskan kembali materi-materi sebelumnya bahkan menjelaskan dari dasar lagi. Ustadz juga memberikan solusi untuk santri yang kurang motivasi belajar yaitu dengan cara menyelenggarakan seminar psikologi pendidikan untuk memotivasi santri agar lebih semangat dalam belajar. Kedua ustadz pengajar nahwu mengharapkan santri yang naik ke jenjang aliyyah haruslah memahami dasar-dasar nahwu. Rencana yang diinginkan ustadz adalah di kelas 1 dan 2 tsanawiyyah fokus untuk melatih keterampilan bahasa, memperbanyak uslub bahasa Arab dan kosakata bahasa Arab, dan di kelas 3 tsanawiyah mulai mempelajari dasar-dasar nahwu, karena hambatan dan tantangan bagi penutur non-Arab adalah memahami struktur bahasa, sistem penulisan, memperbanyak kosakata dan keterampilan berbahasa(Silmy et al. Usaha Pemimpin dan Manajemen Pesantren Beberapa stakeholder yang memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran nahwu di pesantren PERSIS Bangil, mereka memiliki program atau rencana kegiatan untuk pembiasaan bahasa Arab di pesantren dan harapannya memudahkan santri untuk menerima pelajaran khususnya nahwu. Berikut adalah penanggung Wakil Mudir Bagian Pendidikan Ada tiga sebab santri mengalami kesulitan belajar menurut wakil mudir bagian pendidikan : pertama adalah kemampuan kognitif santri yang rendah, sebab kedua adalah cara mengajar guru yang kurang sesuai dengan santrinya, dan sebab yang terakhir adalah kurangnya jam belajar santri atau praktek. Untuk sebab pertama dan kedua beliau menjelaskan bahwa gurulah yang harus bertanggung jawab atas pahamnya santri, maka langkah yang harus diambil adalah guru mengevaluasi cara mengajarnya, memahami karakter santrinya dan melakukan inovasi mengajar yang disesuaikan dengan karakter santri-santrinya. Untuk sebab yang ketiga beliau menjelaskan bahwa untuk mengatasi penyebab kesulitan belajar di pesantren diperlukan kerjasama dengan banyak pihak seperti para guru, wali kelas, dan P3P yaitu organisasi santri intra pesantren. Ketika ditanya terkait "apakah ada program yang telah berjalan atau rencana program kedepannya terkait pembelajaran nahwu ?" beliau menjawab bahwa tidak spesifik untuk pembelajaran nahwu tapi lebih umum yaitu bahasa Arab dan nantinya akan memudahkan santri mempelajari nahwu, jadi terdapat program yang telah berjalan untuk membiasakan santri berbahasa Arab yaitu Usbu' Arabiy, program ini mengharuskan santri berbahasa Arab sehari ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 dalam sepekan biasanya di hari jum'at atau ahad, dan untuk program yang akan dilaksanakan adalah menempelkan kosakata dan muhadatsah dalam bahasa Arab di tempat yang sesuai dengan temanya. Wakil Mudir Bagian Kesiswaan Menurut wakil mudir bagian kesiswaan santri kesulitan belajar nahwu karena kurangnya latihan. Ada program yang telah dikerjakan oleh pesantren untuk membiasakan santri berbahasa Arab yang berguna untuk pembelajaran nahwu, programnya adalah seminar bahasa Arab dan daurah bahasa Arab bekerja sama dengan UMSIDA, gunanya untuk membiasakan santri berbahasa Arab. Beliau juga menyampaikan 3 rencana untuk membiasakan santri berbahasa Arab yaitu pertama memasang tv kabel berbahasa arab gunanya agar santri lebih terlatih keterampilan mendengarnya, kedua membuat papan iklan berbahasa Arab dan menempelkan kosakata yang sesuai dengan tempatnya, program ini berguna untuk melatih pemahaman santri dalam membaca sebuah teks bahasa Arab dan memperkaya kosakata secara tidak sadar, dan rencana ketiga adalah membuat kelompok belajar dari santri-santri pilihan, program ini bertujuan untuk memotivasi santri yang lain agar lebih giat belajar. Ketua Pendidikan Bagian Bahasa Arab Saat diwawancarai beliau menyebutkan bahwa bahasa Arab, nahwu dan sharaf adalah kunci untuk mempelajari ilmu tafsir, ilmu fiqh, ushul fiqh, hadits dan lain-lain, beliau mengatakan bahwa penyebab santri kesulitan belajar nahwu karena santri kurang semangat untuk tafaqqahu fiddin artinya mendalami agama islam. Sejauh ini fokus untuk pembelajaran di kelas saja, kedepannya beliau ingin bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait seperti ketua asrama, organisasi intra santri, dan seksi pendidikan untuk merancang suatu program yang membantu santri belajar di luar jam sekolah. Ketua Asrama Putra Program "SALAM" singkatan dari Selasa Malam, di program ini terdapat pembelajaran nahwu hanya untuk kelas 1 aliyyah saja, sedangkan kelas 2 aliyyah fokus untuk persiapan program da'wah bulan Ramadhan dan kelas 3 aliyyah fokus untuk ujian majlis dan Tugas Akhir. Program SALAM hanya berjalan di semester 1 karena di semester 2 kurangnya tenaga pengajar sehingga pembelajaran tidak efektif. Ada satu rencana dari pengurus asrama dan pesantren agar santri terbiasa berbahasa Arab yaitu memasang TV kabel dengan saluran dari Arab dan audionya dihubungkan ke asrama agar santri terlatih mendengar bahasa Arab. satu rencana program dari kepala asrama yaitu Tadbiq, program ini dilaksanakan setelah shalat isya 3 kali dalam seminggu, teknis dari program ini santri diberikan soal-soal kemudian ustadz berkeliling memastikan santri bisa mengerjakan, apabila ada yang kesulitan maka ustadz akan menjelaskannya, program ini belum berjalan karena kurangnya tenaga pengajar. Ketua asrama juga melakukan tindakan pencegahan agar santri tidak tidur di kelas, menurut beliau santri yang tidur dikelas karena begadang saat malam hari, maka dibuatlah jadwal pengurus asrama untuk berkeliling di asrama memastikan santri tidur. Walaupun program ini berjalan tetap saja ada yang tidur saat pelajaran, kata beliau ada tipe santri yang begitu pelajaran dimulai langsung mengantuk, disini peran guru untuk menjaga kekondusifan kelas. Ketua Sie. Pendidikan salah satu program yang sempat berjalan di semester 1 yaitu belajar pagi sehabis shalat shubuh, yang Analisis Kesulitan Siswa Dalam . (Syailendra& Fauji, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 887-902 http://jurnal. id/index. php/dedikasi diajarkan di program ini adalah sharaf, nahwu, dan memperbanyak kosakata bahasa Arab, seksi pendidikan mengutus 3 santri kelas 3 aliyyah mengajar kelas 1 aliyyah dan untuk kelas 2 dan 3 aliyyah diajar oleh ustadz pengajar sharaf. Program ini tidak berjalan di semester 2 karena diganti oleh program lain. Usaha Siswa Berikut adalah usaha yang telah dilakukan santri agar tidak mengalami kesulitan belajar nahwu dan harapan Pembelajaran nahwu dengan membentuk kelompok belajar yang dilakukan oleh santri mulai dari tsanawiyah hingga aliyyah. Belajar kelompok ini ada disetiap waktu ujian, jadi santri yang telah paham pelajaran akan didatangi oleh teman-temannya dan diminta untuk menjelaskan pelajaran yang telah disampaikan di kelas. Salah satu santri kelas 2 aliyyah mengajar nahwu untuk santri kelas 1 aliyyah, pembelajaran ini dimulai setelah shalat isya' tiga kali dalam seminggu namun hanya berjalan di semester 1 dan di semester 2 tidak dilanjutkan karena bertabrakan dengan agenda lainnya. Menciptakan suasana kelas yang bersih dengan cara saling mengingatkan untuk piket membersihkan kelas. Tidak tidur ketika ustadz menjelaskan pelajaran dan mengerjakan soal-soal yang diberikan. Harapannya ustadz lebih interaktif ketika mengajar agar santri selalu fokus kepada pelajaran. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Setelah penulis melakukan penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa : . masalah kesulitan pembelajaran yang terjadi di pesantren PERSIS Bangil disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor internal . Faktor internal meliputi : . daya ingat yang lemah karena kurangnya praktek sehingga santri mudah lupa, i. Kurangnya motivasi dan minat sehingga mereka tidak tertarik dengan pelajaran nahwu dan mereka mengganggap bahwa nahwu tidak berhubungan dengan cita-citanya di masa depan, . Faktor eksternal meliputi : . guru yang memiliki cara mengajar yang teknis yaitu berfokus pada penyampaian materi saja dan kurang interaktif dengan santrinya, i. Lingkungan yang kurang mendukung untuk pembelajaran nahwu seperti kurangnya fasilitas yang memadai, tidak ada program belajar nahwu untuk seluruh santri, dan teman sebangku yang bercanda saat pelajaran . Solusi yang telah diterapkan dan akan dilakukan untuk mengatasi masalah kesulitan pembelajaran nahwu: . Guru telah mengubah cara mengajarnya, awalnya memakai metode ceramah menjadi metode tanya jawab yang lebih interaktif, . Usaha dari pemimpin dan manajemen pesantren tidak ada yang berfokus untuk pembelajaran nahwu saja, tetapi lebih umum yaitu ada 3 hal: . membiasakan santri untuk berbahasa Arab dengan cara memperbanyak kosakata, i. melatih maharah sima'i santri dengan cara mendengarkan tv kabel bahasa Arab, . belajar malam bernama Tadbiq yaitu santri diberi soal pelajaran bahasa Arab termasuk di dalamnya soal nahwu, . Usaha dari santri sendiri ada 4 hal: . Belajar kelompok ketika akan ujian, i. Usaha dari kakak kelas untuk mengajarkan adik kelasnya agar paham dan tidak lupa pembelajaran nahwu di kelas, . Menciptakan suasana kelas yang nyaman dan bersih, i. Tidak tidur ketika ustadz ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 887-902 menjelaskan pelajaran nahwu dan mengerjakan soal-soal yang diberikan. Saran Penelitian ini hanya berfokus pada identifikasi kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran nahwu. Maka pada penelitian selanjutnya dapat mengkaji mengenai bagaimana strategi atau solusi yang efektif untuk mengatasi masalah kesulitan pembelajaran nahwu, harapannya dapat memeberikan kontribusi yang aplikatif dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran nahwu di berbagai lembaga pendidikan. DAFTAR PUSTAKA