CELSO COSTANTINI DAN MISI DI TIONGKOK: Sebuah Pergulatan Menjalankan Misi Yang Kontekstual Hermanto Pascasarjana STFT Widya Sasana Malang. Email: manto184@gmail. Abstrak Celso Costantini1 had a Catholic Mission in China from 1922 to 1933. In the beginning, he felt something wrong with the method of the Mission in China. Catholic Church had been existing in China for centuries, but Celso found no local bishop nor clerics who led a Mission region. All Mission regions were led by foreign missionaries. Besides. Celso also saw antipathy against the Catholic Church. Catholic Church was considered as a foreign religion that wanted to conquer China. This could not be separated from political domination on the Catholic Mission. The Protectorate system had mixed Catholic Mission with the political interests of European countries. Catholic Mission was controlled by governments, not by the Church itself. A lot of strategic decisions of the Mission were made by the government. The local church just followed the governmentAos instructions. The Holy See was not involved in the process of making decisions concerning the Mission in China. As a result. Catholic Mission was almost identical to the colonial politics of European countries. Celso Costantini carried out the guidance of Maximum Illud in his Mission in China. He realized that there was some tension between the ChurchAos Mission and the political interest of European countries. He understood that he was not a representative of a country, but one of the Church as a religious institution. Therefore. Celso distanced himself from political interest whenever possible. He was close to the government, but he refused to be intervened. Celso tried to make the Catholic Church mingle with local society so that the Church could be established and bring GodAos kingdom among the Chinese community. Key Words: Mission. Local. Missionaries. Catholic Church. Cleric. Foreign. PENDAHULUAN Ketika Republik Tiongkok memproklamasikan diri pada 1 Januari 1912, mereka didukung oleh beberapa negara Eropa. Wilayah-wilayah di Tiongkok berada dalam kontrol negara tertentu. Situasi negara menjadi kacau oleh pemberontakan-pemberontakan kecil atas kekuatan asing dan menyebabkan kekerasan berkembang secara Dalam konteks demikian, pada Juli 1918, terjalin hubungan diplomatik antara pemerintah Tiongkok dan Tahta Suci. Inisiatif datang dari Tiongkok yang berkomunikasi dengan Vatikan pada tahun 1917 dan Vatikan menerima tawaran Tiongkok tahun 1918. Keputusan Tahta Suci ini sempat ditentang oleh partai oposisi Prancis. (Claude Soetens: 1999, . Mereka kemudian menyatakan diri sebagai pemegang kontrol penuh atas misi di Tiongkok tanpa seizin Tahta Suci. Misi Katolik yang semula tidak diskriminatif lalu dijalankan dengan perjanjian yang tidak seimbang, sehingga mematikan kepentingan masyarakat lokal. Akibatnya, misi lebih dipengaruhi dengan paham kolonialisme ekstrim. AuProtektorat PrancisAy bukan hanya melingkupi semua orang Eropa yang berada di Tiongkok yang Kristiani, tetapi juga termasuk imam-imam dan biarawan Tionghoa. Mereka semua secara yuridis berada di bawah perlindungan pemerintahan Prancis. (Bruno Fabio Pighin: 2010, . Kebijakankebijakan Prancis dalam misi kerap bertentangan dengan Tahta Suci, khususnya mengenai pengembangan klerus Kenyataan ini ditambah sulitnya orang Tionghoa waktu itu menjadi Katolik, karena menjadi Katolik sama dengan mengkhianati budaya dan negara mereka. (Pighin: 2015, . Celso Costantini lahir di Udine pada 3 April 1876. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 23 Desember 1899. Kemudian Paus Pius XI menunjuknya menjadi Delegatus Apostolik untuk Tiongkok pada tahun 1922. Ia bermisi di Tiongkok selama sebelas tahun dan berhasil membuat terobosan di sana. Ia berhasil mengadakan Sinode pertama di Tiongkok dan mempromosikan budaya lokal sebagai metode AubaruAy dalam bermisi. Ia beupaya Gereja kembali melihat budaya lokal secara positif terutama dalam liturgy Gereja dan katekese. Celso kemudian wafat pada tanggal 17 Oktober 1958. Untuk menyikapi realita ini di atas Tahta Suci kemudian mengutus Celso Costantini untuk membenahi konsep dan metode misi di Tiongkok. Celso diharapkan menjadi jembatan antara Gereja, para misionaris dan masyarakat lokal termasuk pemerintah setempat. Misi Celso adalah membuat Gereja berakar dan berkembang dalam konteks lokal sehingga Gereja di Tiongkok bisa mandiri. Penunjukan Celso Costantini sebagai Delegatus Apostolik merupakan keputusan strategis. Tahta Suci tidak menunjuk Duta Besar yang merupakan perwakilan negara, melainkan seorang Delegatus Apostolik yang merupakan wakil paus secara pribadi dan tidak ada hubungannya dengan negara. Sebelum Celso berangkat ke Tiongkok. Kardinal van Rossum menyampaikan pesan Paus Pius XI pada Celso, yakni agar melaksanakan amanat Gereja yang tertuang dalam Maximum Illud serta sesegera mungkin melaksanakan sinode. (Celso Costantini. CMC Vol. I, . Paus merasa sudah selayaknya misi Gereja kembali pada hakikatnya semula. Selama ini misi diserahkan sepenuhnya kepada negara-negara Eropa lewat sistem Protektorat. Paus melihat cara ini tidak efektif. Para misionaris hanya mementingkan negaranya sendiri dan lebih dekat pada kepentingan politik daripada kepentingan Gereja. Banyak misionaris Eropa membawa misi pemerintah dan 2 Akibatnya Gereja tidak tertanam dan menjadi asing. Hal inilah yang sangat dirasakan oleh Celso Costantini ketika bermisi di Tiongkok. Tujuannya hanya satu, yaitu terwujudnya Gereja Katolik Tiongkok bukan Gereja Katolik di Tiongkok. Masalah penelitian yang diangkat dalam artikel ini adalah bagaimana Celco Constantini melakukan terobosan misi yang kontekstual di Tiongkok? II. KAJIAN TEORI Surat Apostolik Maximum Illud yang dipromulgasikan oleh Paus Benediktus XV pada tanggal 30 November 1919, menegaskan kembali bahwa tugas misi Gereja merupakan perintah Yesus sendiri: AyPergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhlukAy (Mrk. Gereja tidak pernah melupakan tugas misi sebagai salah satu hakikatnya yang bertujuan untuk membawa keselamatan kepada semua manusia. Sejalan dengan penemuan-penemuan benua baru, daerah misi juga mengalami perkembangan. Kekristenan meluas ke Amerika. India. Jepang dan kekaisaran Tiongkok. Tidak terhitung banyaknya darah martir yang tertumpah karena Semua itu dilakukan demi keselamatan manusia dan kemuliaan Allah (MI 3-. Dalam Maximum Illud. Paus juga sangat mengharapkan pelatihan klerus lokal sebagai jalan pembuka untuk menanamkan Gereja, karena ia berpendapat bahwa orang-orang lokal paling mengerti segala persoalan dan pergulatan iman masyarakatnya, sehingga dapat membuka kemungkinan Gereja ambil bagian di dalamnya. Dalam melatih klerus lokal, para misionaris perlu pendidikan yang setara dengan imam-imam Eropa (MI . Mereka bukan sekedar rekan kerja misionaris. Mereka adalah pelaku utama dalam menanamkan Gereja. Jikalau klerus lokal sudah mencukupi baik dari segi kuantitas maupun kualitas . Gereja dinyatakan telah berdiri dan mandiri dan dengan demikian karya misi dianggap selesai. (Edmund Woga: 2002, . Berbeda dari misionaris Eropa yang membawa kesan asing dan bahkan bernuansa politik, kehadiran klerus lokal menjadi jalan untuk menyatukan Gereja dengan masyarakat terutama dengan memberikan pendidikan yang baik sehingga Gereja lokal bisa mandiri secara spiritual (MI . Iman akan lebih mudah diterima bila orang-orang lokal sendiri yang mewartakannya. Pada bagian yang kedua . Paus Benediktus XV secara khusus menyapa para misionaris. Mereka bertanggung jawab atas penyebaran iman. Paus mengingatkan mereka akan tujuan sejati dari misi, yakni perluasan kerajaan Allah. Para misionaris dipanggil untuk membawa terang pada orang lain yang tinggal dalam kegelapan iman dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Dengan demikian, para misionaris seharusnya lebih menaruh perhatian pada urusan-urusan rohani dan menghasilkan buah-buah spiritual daripada urusan duniawi seperti, politik, ekonomi dan kepentingan lainnya yang tidak berkaitan dengan Gereja. AuTujuan Gereja adalah membangun hirarki putra daerah. A Kongregasi bukannya tidak tahu akan tujuan Gereja itu. akan tetapi kongregasi menganggap tujuan itu hanya sebagai masa lalu. Sebaliknya kongregasi merasa tujuan terdekat adalah mendirikan tempat itu perkembangan dari karyakarya kongregasi itu sendiri. Dan perlahan-lahan di sana mereka mengatur karya-karya misi itu sebagai milik kongregasi itu sendiri, sesuatu yang ada bagi dirinya sendiri sebagai sebuah kemuliaan dari Ay Celso Costantini. CMC Vol. I, 224. Sebagai panduan praktis. Paus Benediktus XV mengajak para misionaris mengembangkan berbagi potensi Misalnya, para misionaris harus dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup, baik pengetahuan rohani maupun profan. Semua itu sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul, secara khusus dari kaum terpelajar. Maka penting sekali mempelajari bahasa setempat. Pokok-pokok iman kristiani akan lebih mudah diterima bila disampaikan dalam bahasa setempat. Penguasaan bahasa lokal akan membuka kesempatan misi yang sangat besar terutama untuk membangun komunikasi dengan pejabat setempat (MI 23-. Oleh karena itu. Paus menyiapkan rumah studi di Roma bagi calon misionaris yang akan bermisi di Asia. Di sana, para calon akan dibekali dengan berbagai kemampuan akademis untuk menunjang perwartaan di wilayah Timur (MI . Ensiklik Rerum Ecclesiae dipromulgasikan oleh Paus Pius XI pada tanggal 28 Februari 1926. Dokumen ini dikeluarkan untuk menarik perhatian dan kepedulian umat terhadap misi Gereja yang mengalami kehancuran akibat Perang Dunia I. Di awal seruannya. Pius XI menyadarkan kaum beriman akan hakikat misi Gereja. Sejak awal mula, keberadaan Gereja adalah mewartakan Injil agar seluruh umat manusia bisa ambil bagian dalam karya penebusan Kristus (RE . Paus melihat ada dua hal yang seharusnya bisa diterapkan pada seluruh karya misi. Pertama, pelatihan misionaris pada aneka bidang pengetahuan dan perutusan ke wilayah yang luas. Kedua, adanya usaha menyadarkan umat beriman agar mendukung karya misi dengan doa dan segala bantuan materi lainnya. Untuk itu Tahta Suci membuka pameran misi dan mendirikan museum misi di Lateran (RE . Harapannya adalah semakin banyak orang baik di tingkat klerus maupun awam, membantu karya misi Gereja secara spiritual dan material. Rerum Ecclesiae menegaskan kembali tema-tema misi yang sudah diutarakan dalam Maximum Illud. Semangatnya adalah pengembangan dan pendidikan klerus lokal. (Edmund Woga: 2002, . Jika para misionaris mengabaikan klerus lokal. Tahta Suci menilai bukan hanya ada ketimpangan dalam karya misi melainkan adanya batu sandungan dalam menanamkan Gereja. Misi tentu tidak akan menghasilkan buah melimpah. (RE . Salah satu caranya adalah dengan mendirikan seminari-seminari setempat. Tujuannya adalah untuk mendidik kaum muda setempat dan mempersiapkan mereka menerima martabat imamat. Paus menyadari usahausaha tersebut masih jauh dari tujuan. Kemudian paus merujuk pada Maximum Illud 16 yang memperlihatkan keprihatinan Benediktus XV akan minimnya imam dan uskup lokal (RE . Oleh karena itu. Paus Pius XI menekankan kembali pentingnya mempromosikan klerus lokal. Dengan semakin banyaknya klerus lokal, akan terbuka kesempatan untuk mendidikan hierarki lokal. Kurangnya imamimam lokal, khususnya uskup, menjadi tanda Gereja belum tetanam kuat. Klerus lokal memiliki peran yang lebih besar dalam mengembangkan bangsanya. Hal ini menandakan Gereja yang mandiri seperti semangat Gereja Perdana. Setiap komunitas dipimpin oleh orang-orang setempat (RE . Untuk memperjelas maksudnya, paus mengambil contoh bila terjadi perang atau perubahan situasi politik di tanah misi. Misionaris asing bisa saja diusir atau mengalami penganiayaan akibat kondisi yang tidak menentu itu. Jika klerus lokal sudah menyebar dan membangun jaringan tersendiri. Gereja bisa tetap bertahan dan berkembang (RE . METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah motode library research. Metode ini adalah metode pengumpulan data pustaka dengan membaca, mencatat dan mengolah bahan penelitian dengan empat ciri-ciri sebagai berikut: . peneliti berhadapan langsung dengan teks, bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan. data pustaka bersifat Ausiap pakaiAy artinya peniliti tidak terjun langsung ke lapangan karena peneliti berhadapan langsung dengan sumber data yang ada di perpustakaan. data pustaka umumnya adalah sumber sekunder, dalam arti bahwa peneliti memperoleh bahan atau data dari tangan kedua dan bukan data data pertama di lapangan. kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan dengan hal tersebut di atas, maka pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan menelaah dan/atau mengekplorasi beberapa jurnal, buku, dan dokumen-dokumen lainnya yang dianggap relevan dengan penelitian atau kajian. IV. PEMBAHASAN: TEROBOSAN MISI CELSO COSTANTINI Sebelum Celso berangkat ke Tiongkok. Kardinal van Rossum menyampaikan pesan Paus Pius XI pada Celso, yakni agar melaksanakan amanat Gereja yang tertuang dalam Maximum Illud serta sesegera mungkin melaksanakan sinode. (Celso Costantini. CMC Vol. I, . Paus merasa sudah selayaknya misi Gereja kembali pada hakikatnya semula. Gerejalah yang berwenang mengatur misi serta pelaksanaanya. Negara hanya menfasilitasi Gereja sehingga aktivitas misi dapat menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas. Oleh karena itu, kepentingan politik harus dipisahkan dari misi. Banyak misionaris melupakan hal ini sehingga mereka cenderung mementingkan negaranya sendiri dan lebih dekat pada kepentingan politik daripada kepentingan Gereja. 1 Dekolonisasi Agama Sejak abad XV hingga abad XVI, misi Gereja Katolik berada di bawah perlindungan negara Spanyol dan Portugal karena mereka sering mengadakan perjalanan menjelajahi dunia. Para paus menyerahkan previlese misi dan politik kepada kedua negara tersebut. Sebagai imbalannya, mereka wajib menjamin pelaksanaan evangelisasi di negara-negara yang mereka temukan atau mereka datangi. Kedua negara tersebut memiliki kekuasaan atas koloni-koloni mereka baik secara politik maupun gerejawi. Saat itu, misi dan kolonialisme saling terkait. Hak menguasai koloni mengandung pula kewajiban menyebarkan Injil dan membaptis bangsa-bangsa jajahan. (Davic Bosch, 1997, . Selain itu, misi Gereja ikut berkembang berkat penemuan-penemuan benua baru. Para misionaris ikut dalam ekspedisi-ekspedisi dan mereka mewartakan Injil di berbagai tempat baru. Ekspansi Portugal dan Spanyol ternyata membawa efek tersendiri, yaitu masuknya semangat kolonialisme dalam metode misi. Spanyol dan Portugal memberi perlindungan dan keistimewaan khusus kepada para misionaris . alam bahasa Spanyol= patronato real, dalam bahasa Portugal= padroad. yang juga berlaku untuk mereka. Dalam beberapa hal, perlindungan ini memberikan banyak kemudahan, misalnya para misionaris bebas beraktivitas ke seluruh wilayah jajahan, orang-orang setempat harus memperlakukan para misionaris dengan hormat dan sebagainya. Akan tetapi, hal ini menimbulkan kesulitan sendiri, yakni kesulitan untuk membedakan kebijakan kolonial dengan pewartaan iman. Sebagaimana dikutid dari David J. Bosch: Diosis-diosis yang didirikan di koloni-koloni itu mendapatkan uskup-uskup yang disetujui oleh Para uskup ini tidak diizinkan berkomunikasi secara langsung dengan paus. itu, keputusan-keputusan paus harus disetujui oleh rasa sebelum dapat diumumkan dan dilaksanakan di koloni-koloni. Para penguasa Spanyol dan Portugal segera mengangap diri bukan semata-mata sebagai wakil paus, melainkan sebagai wakil-wakil langsung Allah. (Davic Bosch, 1997, . Hal ini masih sangat terasa ketika Celso tiba di Tiongkok. Misi Gereja menjadi kabur dan tercampur dengan semangat kolonialisme serta urusan politik negara. Misi bukan lagi sepenuhnya milik Gereja melainkan di bawah perlindungan . Spanyol dan Portugal. Gereja tidak berhak mencampuri dan mengatur para misonaris dan sistem misi. Hal ini kemudian berdampak negatif pada misi Gereja. Gereja identik dengan penjajah. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat oleh Celso adalah dengan menghilangkan semangat dan kesan kolonialisme dalam misi Gereja. Dengan berbekal Surat Apostolik Maximum Illud. Celso segera memulai misinya. Ia pun merangkum arahan paus ke dalam lima poin penting: Misi Delegatus Apostolik punya karakter khas keagamaan misioner: sama sekali tidak memerlukan ikatan maupun aspek-aspek politik. Saya harus selalu bersikap hormat kepada semua orang, kepada pemerintahan Tiongkok dan pemerintahan asing. Tahta Suci tidak terlibat dalam politik. Terkadang memang politik masuk dalam wilayah keagamaan, maka, terpaksa, kita juga harus berpolitik. Tahta Suci sama sekali tidak berpikir untuk berkuasa di Tiongkok. Politik kekuasaan asing bukanlah pekerjaannya. Bapa Suci mencintai Tiongkok dan menginginkan dengan tulus kebaikan-kebaikan bagi Tiongkok. Tiongkok untuk orang-orang China. AuTujuan Gereja adalah membangun hirarki putra daerah. A Kongregasi bukannya tidak tahu akan tujuan Gereja itu. akan tetapi kongregasi menganggap tujuan itu hanya sebagai masa lalu. Sebaliknya kongregasi merasa tujuan terdekat adalah mendirikan tempat itu perkembangan dari karyakarya kongregasi itu sendiri. Dan perlahan-lahan di sana mereka mengatur karya-karya misi itu sebagai milik kongregasi itu sendiri, sesuatu yang ada bagi dirinya sendiri sebagai sebuah kemuliaan dari Ay Celso Costantini. CMC Vol. I, 224. Karya-karya misi adalah layanan Gereja. Gereja itu bersifat katolik, juga bagi para uskup yang biasanya diangkat dari bangsanya sendiri. Misi-misi asing memang sangat diperlukan untuk membawakan berita Injil bagi orang-orang pagan: akan tetapi bila tiba waktunya untuk membangun Gereja di beberapa wilayah di Tiongkok dengan hirarki putra dareah, maka itu artinya para misionaris asing boleh memetik hasil kerj kerasnya, dan lalu pergi ke tempat lain untuk menyiapkan pembangunan Gereja lokal lainnya. (Francis Chong, 2008, . Langkah pertama yang dilakukan Celso untuk mewujudkan misinya adalah membuat batasan yang jelas tentang misi keagamaannya. Hal ini dilakukan Celso karena misi Gereja sudah terlalu banyak dicampuri kepentingan politik. Kehidupan manusia memang tidak bisa dilepaskan dari politik. Perwujudan iman selalu berada dalam konteks politik, hidup bersama. Yang terjadi pada misi di Tiongkok adalah sebaliknya. Tujuan politik menjadi tujuan Gereja sehingga tujuan Gereja dipengaruhi oleh kebutuhan manusia yang berubah-ubah. Tujuan misi tidak lagi bersumber pada Allah melainkan pada manusia . Celso datang sebagai utusan resmi kepausan mewakili Gereja. Tujuannya adalah tujuan Gereja pula. Oleh karena itu, tujuan Gereja tidak boleh disamakan begitu saja dengan tujuan politik negara. Celso datang sebagai seorang misionaris atas nama Gereja bukan atas nama negara. Celso sampai di Hong Kong pada tanggal 8 November 1922. Ia langsung membuka identitasnya sebagai utusan Tahta Suci dan segera melakukan kunjungan perkenalan ke seluruh unsur Gereja Katolik Tiongkok. Selama perjalanan kunjungannya, duta besar asing menawarkan jasa akses untuk bertemu dengan pemerintahan Tiongkok. Akan tetapi Celso dengan hormat menolak semuanya itu. Celso mengatakan kepada mereka dengan Evangelisasi adalah murni urusan rohani. Yesus mendirikan Gereja universal. Di Prancis. Gereja menjadi milik Prancis. Di Amerika. Gereja menjadi milik Amerika. Di Tiongkok. Gereja harus menjadi milik orang-orang Tionghoa. Saya tidak mencari perlindungan khusus dari orang-orang Tionghoa. Hanya cukup bahwa kita memiliki kebebasan untuk memberitakan Injil dan untuk membuka sekolah, dan perlindungan untuk properti gereja. (Francis Chong: 2008, . Gereja sudah seharusnya menjadi milik masyarakat lokal. Para misionaris hanyalah perintis. Keistimewaan yang diberikan bagi para misionaris seharusnya digunakan untuk pewartaan Injil dan kesejahteraan masyarakat yang dilayaninya. Pada waktu itu. Perancis memegang hak protektorat atas Tiongkok. Seluruh kegiatan misi katolik juga diatur oleh pemerintah Perancis. Perancis memberikan keistimewaan pada misi Katolik tetapi juga tercampur dengan kepentingan politik Perancis. (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Kebijakan-kebijakan Perancis kerap bertentangan dengan kebijakan misi Tahta Suci, secara khusus mengenai imam lokal. Hal ini menimbulkan kesan yang sangat negatif kepada Gereja Katolik sehingga pada waktu itu ada kesan bahwa menjadi katolik berarti mengkhianati budaya dan negara sendiri. Celso berusaha agar kedatangannya tidak bermuatan politis. Ketika Celso tiba di Beijing, ia menolak tawaran pemerintah Perancis untuk memberikan protokol kenegaraan saat akan bertemu pemerintah Tiongkok. Celso mengatakan: Saya tidak ingin membingungkan orang lain mengenai tugas-tugas keagamaan yang saya emban, karena itu saya tidak dapat menerima undangan makan siang, dan juga tidak menerima tawaran mobil dari pihak kedutaan-kedutaan asing. Saya akan mengunjungi para mentri . erwakilan negara-negara asin. untuk memberikan rasa hormat saya pada mereka, dan saya berharap dapat memberikan semua yang seharusnya mereka terima A hanya saja saya mohon supaya saya diberi kebebasan seluas-luasnya di bidang pastoral yang saya (Celso Costantini, 2010, . Celso menyadari bahwa selama ini misi Gereja selalu dibayang-bayangi oleh pemerintah asing. Banyak kegiatan Gereja diatur oleh pemerintah sehingga mengakibatkan adanya kesan identik antara Gereja dan Orang-orang Tionghoa yang sudah antipati terhadap penjajah kini antipati pula terhadap Gereja. Oleh karena itu. Celso sedikit demi sedikit ingin menghilangkan kesan tersebut dengan menjaga jarak dengan pemerintah asing . MI . Celso menunjuk imam diosesan Tionghoa untuk menjadi sekretarisnya, yaitu Pastor Filipus Zhao oN (U U. Ia merupakan sahabat Pastor Vincent Lebbe, seorang misionaris Tiongkok berpengalaman dari Kongregrasi Misi (CM). (Celso Costantini, 2010, . Penunjukan Pastor Filipus Zhao 5 merupakan langkah strategis Celso dalam menjalankan misinya di Tiongkok. Pastor Filipus Zhao sangat dekat dengan Pastor Vincent Lebbe dan mereka terlibat dalam perubahan metode misi di Tiongkok. Pastor Vincent Lebbe sendiri merupakan pakar besar perubahan gaya misionaris di Tiongkok. Ia bahkan disebut sebagai gembala yang sangat dicintai oleh para imam Tionghoa. Pastor Vincent Lebbe sudah mulai mengawali ide mempromosikan imam-imam Tionghoa untuk mendapat peran yang lebih luas. Gagasan ini kemudian diteruskan oleh Celso karena Pastor Vincent Lebbe sudah tidak bertugas di Tiongkok. Segala usaha Celso terkesan menjauhkan misi Katolik dari politik. Ia ingin membangun wajah Gereja yang menyatu dengan masyarakat setempat. Misi Katolik telah sekian lama dipengaruhi politik kolonial sehingga Gereja menjadi asing. Paus Benediktus XV menyerukan hal yang sama dalam Surat Apostolik Maximum Illud. ingin mengembalikan lagi identitas sejati misionaris. Ia mengatakan: Di tangan Anda terletak tanggung jawab langsung untuk menyebarkan hikmat Kristus, dan keselamatan yang tak terhitung banyaknya. Ingatlah bahwa tugas Anda bukanlah perpanjangan dari ranah manusiawi, tetapi dari Kristus. dan ingat juga bahwa tujuan Anda adalah memperoleh kewarganegaraan tanah air surgawi, dan bukan untuk duniawi. (MI . Paus mengingatkan kembali tugas utama para misionaris yakni membawa orang-orang pada Allah Bapa dan keselamatan jiwa-jiwa. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Banyak misionaris bertindak menurut kepentingan negara atau kelompoknya. Paus melihat hal ini dan menyatakan. AySungguh tragis jika salah satu misionaris kita melupakan martabat tugas mereka sedemikian rupa sehingga menyibukkan diri dengan kepentingan duniawi tanah air mereka dan bukannya dengan Autanah airAy mereka di surgaAy (MI . Misi akan menjadi sebuah tragedi apabila para misionaris melupakan martabat utamanya, yakni sibuk dengan urusan tanah airnya tanpa memedulikan tanah air surgawi. Para misionaris diutus keluar dari tanah airnya untuk menjadi pewarta sabda Allah. Dengan semangat inilah. Celso berusaha memisahkan secara ketat mana kepentingan Gereja dan mana kepentingan negara. Identitasnya sebagai delegatus apostolik dimengerti secara luas dan rohani, yakni misionaris sebagai duta Kristus bukan duta negara. Hal ini ditunjukkan Celso ketika di Hongkong. Seorang imam Belgia menyapa Celso dengan sebutan Auuskup agungAy. Akan tetapi Celso mengatakan. AuSaya datang ke Tiongkok bukan sebagai uskup agung tetapi sebagai misionaris. Ay Celso ingin menekankan identitasnya. Yang utama bukanlah soal jabatan. Celso datang sebagai seorang misionaris, duta Kristus. (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Celso tidak anti dengan politik. Baginya, politik adalah sarana penerapan nilai-nilai iman. Beberapa kali Celso memakai hak politiknya untuk membangun komunikasi dengan pemerintah setempat dan perwakilan Barat supaya penyebaran iman bisa berjalan dengan Salah satunya adalah soal pampasan. Pampasan adalah kompensasi-kompensasi finansial yang harus dibayar oleh pemerintah Tiongkok apabila terjadi sesuatu yang merugikan para misionaris ataupun warga negara asing lainnya. Pampasan ini memicu rasa antipati terhadap misi Katolik. Para misionaris yang berkarya di daerah tertentu mengalami resiko yang lebih besar karena mereka bisa dirampok kapan pun. Oleh sebab itu, kematian para misionaris bukan hanya disebabkan oleh pemerintah Tiongkok. Akan tetapi, pihak asing tetap meminta ganti rugi dari pemerintah Tiongkok karena lalai menjaga keselamatan para misionaris. Filipus Zhao oN (U U. lahir pada tanggal 4 Oktober 1880 di Zhengfushi . , sebuah kampung yang terletak 7,5 km sebelah barat Beijing. Ia masuk seminari 7 November 1983 dan ditahbiskan menjadi imam pada 27 Februari 1904. Ketika Pastor Zhao menjadi sekretarisnya. kemudian menjadi salah satu dari enam imam yang menerima tahbisan episkopat di Roma dari Paus Pius XI pada 26 Oktober 1926. Bdk. Celso Costantini. CMC Vol. I, 197. Celso menyarankan: AuAkan tetapi dapat saja menuntut ganti rugi atas kerusakan-kerusakan yang diderita oleh seorang misionaris, akan tetapi tuntutan itu harus: . dilakukan sendiri oleh misionaris yang dirugikan, dengan persetujuan ordinaris, . ditujukan kepada pihak yang memang bertanggung jawab untuk itu. sehingga bila mana kerugian Celso menilai uang rampasan sebagai penodaan darah para martir. Ia melihat adanya praktik yang lazim tapi sebenarnya tidak benar. Celso mengatakan: Atas inisiatif saya sendiri, saya menentang suatu kebiasaan yang lazim, di mana para menteri asing melihat kesempatan besar untuk meneguhkan kembali prestise mereka dan untuk memberikan suatu hukuman bagi otoritas-otoritas Tiongkok, hukuman yang kelak harus diatasi juga sebagai yang lebih baik guna menghalangi kejahatan-kejahatan di kemudian Para misionaris yang senantiasa bergulat dengan penderitaan, melihat secara wajar uang pampasan itu sebagai sarana untuk mengerakkan karya-karya demi kebaikan orang-orang Tionghoa. Akan tetapi saya terpikir bahwa kehormatan Tiongkok terikat erat dalam urusan Saya merasakan gelombang penghinaan dari orang-orang Tionghoa atas apa ang mereka anggap sebagai pretium sanguinis. Saya kira akan lebih banyak untungnya bahwa para penguasa Tiongkok melakukan beberapa aksi perbaikan moral sehingga bisa menyelamatkan wajah Gereja dan Tiongkok sendiri dan mengutuk keras kejahatankejahatan. (Celso Costantini: 2010, . Misionaris berjuang hingga mengurbankan nyawanya demi Kristus dan Gereja. Gereja tidak pernah menginginkan uang pengganti bagi para martir. (Celso Costantini: 2010, . Iman di Tiongkok disuburkan dengan darah para martir. Uang pampasan sungguh menodai perjuangan dan pengurbanan para misionaris. Uang pampasan itu telah Aumemicu kebencian khusus dan dalam beberapa kasus tertentu, penolakan keras terhadap misimisi itu sendiri. Ay (Celso Costantini: 2010, . Celso sangat menentang kebijakan uang pampasan itu. Celso menilai kebijakan tersebut sangat arogan dan mencemari misi Katolik dan darah martir dengan uang dan kepentingan politik. Maka ia berusaha memperbaiki situasi ini pada saat kematian seorang imam bernama Melotto tahun 1923. (Celso Costantini: 2010, . Ia meninggal karena perampokan. Celso memberikan argumentasi kepada Sekretaris Negara Vatikan. Kardinal Gasparri untuk tidak meminta uang ganti rugi atas meninggalnya Pater Melotto, yakni uang pampasan ini membuat orang tak bersalah menderita kerugian dan menghalangi orang untuk bertobat menjadi Kristen. Akan lebih baik jika umat Katolik bersama warga setempat bekerja sama mendirikan rumah sakit untuk mengenang jasa Pastor Melotto. (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Celso melihat adanya urgensi untuk mengedepankan nilai-nilai kasih daripada kepentingan politik dengan menagih ganti rugi atas kematian misionaris Katolik. Diplomasi Celso pada Vatikan dan negara-negara Barat memunculkan adanya perubahan dalam menghadapi situasi misi di Tiongkok. Saran Celso untuk tidak menagih pampasan dan membangun rumah sakit, tersebut diterima oleh Kardinal Gasparri dan dijadikan instruksi resmi dan usulan Celso menjadi role model bagi persoalan misi lainnya. (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Selain melaksanakan program missioner Maximum Illud, misi Celso adalah melaksanakan sinode Gereja Tiongkok. (Celso Costantini: 2010, . Sinode ini bukanlah gagasan yang baru. Utusan-utusan Tahta Suci Ae sebelum Celso Ae sudah memiliki gagasan untuk melaksanakan sinode ini. Mereka mengalami kendala dari dalam, yakni adanya pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari situasi politik di Tiongkok. Karena itu Celso diberi tanggung jawab untuk melaksanakan sinode tersebut. Celso menyadari bahwa ini adalah tugas yang berat karena ia harus meruntuhkan konsep inferior terhadap imam-imam lokal. 7 Akan tetapi. Celso yakin bahwa Aukarya misi adalah karya AllahAy sehingga betapapun sulitnya, ia tetap setia pada tujuan awal Gereja mengutusnya. (Celso Costantini: 2010, . Dalam pengamatannya. Celso menduga ada kekeliruan dalam aktivitas misonaris sebelumnya. Celso merasakan adanya desakan untuk melakukan perubahan untuk memenuhi kebutuhan umat katolik dan misi di Tiongkok. Ia mengatakan: disebabkan oleh para penyamun, maka tidak boleh menuntut ganti rugi kepada otoritas Tiongkok, setidaknya bahwa tidak ada dalam bentuk apapun mereka ikut merugikan, . memperhatikan ukutan yang adil atas kerugian langsung. Celso mengatakan. AuOrang-orang kristen Chinese tidaklah inferior di hadapan orang-orang Eropa, sebaliknya kadang mereka justru superior. Orang-orang kristen Chinese, dalam arti tertentu, sama seperti yang sering terjadi juga di dunia Barat, berani menumpakan darah mereka dengan semangat iman dan cinta yang sana dengan menjiwawi orang-orang kristiani Barat dari Gereja PerdanaAy (Celso Costantini: 2010, . Kita berada di depan dua revolusi: revolusi eksternal di Tiongkok, yang berjuang untuk membebaskan diri dari perbudakan ke kekuasaan asing, dan revolusi internal dan damai, tetapi penting, adalah reformasi misionaris. Yang harus jelas adalah posisi Uskup, ketika dia mewakili Gereja, dan seorang pemimpin agama yang mewakili Ordo dan Kongregasi misionaris. Gereja . adalah yang pertama dari semuanya dan di atas segalanya. Kami telah bekerja di sini selama tiga abad dan kami belum dapat menanam benih-benih Gereja. (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Pada waktu itu, gerakan nasionalisme mulai bermunculan. (Kenneth Pletcher, ed. : 2011, . Tiongkok ingin lepas dari pengaruh asing. Kondisi ini juga memicu reformasi dalam misi Katolik. Celso melihat reformasi yang diadakan oleh masyarakat Tiongkok adalah revolusi frontal yang mungkin bisa mengakibatkan korban. Sedangkan revolusi misi adalah revolusi damai. Mengapa? Karena revolusi misi ini mengedepankan kepentingan Gereja, bukan negara ataupun kongregasi religius lainnya. Kepentingan Gereja harus menjadi dasar dan tujuan Gereja sudah ada di Tiongkok selama tiga abad lebih tetapi Gereja masih juga belum tertanam kuat. Celso tidak puas dengan kondisi dan hasil misi katolik di Tiongkok. Ia merasa ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Bruno A. Pighin (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Costantini dipaksa untuk bertempur dalam tiga pertempuran: . Melawan protektorat imperialis yang mengendalikan misi, dan membiarkannya tetap tunduk - terutama dipaksakan oleh Prancis. Melawan "feodalisme teritorial" yaitu, kontrol absolut dari lembaga-lembaga religius Eropa di wilayah di mana mereka ditugaskan, dan umat beriman lokal dalam kondisi inferior. Melawan unsur Barat yang diberikan kepada agama Kristen di Tiongkok, yang menyebabkan Gereja kehilangan wajahnya sebagai "Katolik" dan menjadi sesuatu yang "asingAy (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Ada tiga hal yang dilawan oleh Celso, yakni imperialisme dari protektorat Prancis, feodalisme territorial, dan aplikasi budaya Barat pada masyarakat Tiongkok. Ketiga AumusuhAy ini berada dalam wilayah politik. Akibatnya. Gereja dan misi Katolik tidak mendapat tempat di hati masyarakat. Gereja tetap menjadi mahluk asing dan dikaitkan dengan negara Barat. Dalam sinode inilah Celso berusaha merevolusi metode bermisi di Tiongkok. Sinode diadakan di Shanghai. Celso mengumpulkan semua Vikaris dan Prefek Apostolik di Tiongkok untuk bergabung dalam sinode. Misa pembuka diadakan pada tanggal 15 Mei 1924 di Gereja St. Ignatius. Xujiahui. Shanghai, salah satu gereja terbesar di Tiongkok. Ada sekitar 115 peserta sinode dari beberapa negara dan tarekat religius. Peserta tidak hanya dari kalangan klerus melainkan juga pimpinan tarekat suster dan bruder serta pimpinan biara kontemplatif. (Jeremy Clarke: 2013, . Mereka bertugas di seluruh daratan Tiongkok dan berkumpul di bawah Sinode Shanghai untuk pertama kalinya sejak Injil diwartakan di Tiongkok beberapa abad yang lalu. Pelaksanaan Sinode Shanghai merupakan AupembuktianAy universalitas Gereja Katolik. Baik orang Katolik maupun non-Katolik dapat melihat dan mengerti bahwa Gereja Katolik melampaui suku bangsa, ras dan negara. Gereja juga tidak terikat pada aneka kepentingan rasial dan politik. (Anthony Lam: 2008, . Hal ini sangat terlihat dari partisipasi imam Tionghoa dalam sinode. Celso berusaha agar sinode ini sungguh-sungguh melibatkan imam lokal dan tidak dicampuri oleh pihak asing. Karena itu Celso menambah jumlah partisipan dari imam Tionghoa dan tidak mengijinkan pihak kedutaan asing ikut campur. Secara umum, orang hanya mengenal dua imam Tionghoa yang berpartisipasi, yakni Prefek Apostolik Puxi. Odoric Cheng dan Prefek Apostolik Lixian. Melchior Sun. Padahal ada sembilan imam Tionghoa lainnya yang menjadi staf dalam sinode. Mereka adalah Petrus Cheng. Vicar Forane. OaaOC . Aloysius Chen. OFM ou . Jacobus Zhang AuIaE . OO uA. Philippus Zhao oN (U U. Josephus Hu. CM EUu (Ao . Simon Ni A . N O A). Lucas Yang. uOoC . N OA). Firminus Shen. OUo . N OA), dan Josephus Zhou c n (U y. (Anthony Lam: 2008, . Dalam katalog resmi AuPrimum Concilium Sinense Anno 1924Ay, nama mereka tidak termasuk dalam panitia sinode. Keikutsertaan mereka ternyata lebih dari sekedar sebagai panitia Mereka masuk dalam staf komisi-komisi sinode. Tugas dari komisi-komisi ini adalah membahas kehidupan rohani umat Katolik Tiongkok, promosi dan pelatihan bagi imam lokal, media massa Katolik, dan katekismus untuk seluruh umat Katolik di Tiongkok. (Anthony Lam: 2008, . Celso memang menambah jumlah partisipasi imam lokal yang terdiri dari pemimpin religius, teolog dan beberapa konsultan. Celso juga meminta mereka mengirimkan beberapa wakil yang mereka pilih sendiri. Celso menempatkan imam-imam Tionghoa tersebut supaya mereka bisa berperan dalam diskusi-diskusi yang menyangkut penyebaran iman di Tiongkok. Peran imam-imam lokal sangat dibutuhkan mengingat merekalah yang mengenal masyarakatnya dan bisa diterima di kalangan bangsanya. (Bdk. MI . Selama ini, kebijakan misi Katolik diputuskan oleh superior misi. Imam-imam lokal tidak diberi peran yang cukup berarti padahal superior-superior misi sebagian besar berada di luar Tiongkok. Kebijakan mereka kerap bertentangan dengan arahan Tahta Suci dan tidak sesuai dengan kondisi setempat. Dengan masuknya imam-imam lokal dalam komisi-komisi tersebut. Celso berharap Gereja Tiongkok sungguh-sungguh untuk Tiongkok. Pada saat pembukaan sinode tanggal 15 Mei 1924. Celso memberikan kata sambutan yang menunjukkan visinya untuk Gereja Tiongkok. Di hadapan Bapa-bapa Sinode. Celso mengatakan: Di antara kalian ada dua Prelatus Tionghoa, yang baru-baru ini diangkat menjadi Prefek Apostolik. peristiwa ini. Yang Mulia, adalah buah dari kerja keras Anda di masa lalu, benih sesawi yang akan tumbuh menjadi pohon besar, dan menghasilkan buah berlimpah di masa Kita semua memiliki kesatuan iman dan disiplin yang sama, dan mematuhi Pemimpin yang kelihatan yang sama di Bumi. Bapa Suci kita Paus. (Anthony Lam: 2008, . Celso tidak menyinggung soal pihak asing ataupun lokal. Ia tidak mengkonfrontasikan keduanya. Ia hanya menjelaskan bahwa kedua Prefek Apostolik yang hadir merupakan buah dari kerja keras evangelisasi selama ini. Semua itu berkat usaha semua komponen misi yang bersatu dalam Gereja Katolik dalam ketaatan pada paus. (Anthony Lam: 2008, . Menurut Jeremy Clarke. Sinode Shanghai menandai keinginan Gereja untuk merevitalisasi dan mereorganisasi struktur administratifnya. Sinode Shanghai menjadi spesial karena dekat dengan momen lainnya yang sangat berpengaruh pada kondisi politik Tiongkok seperti, runtuhnya Dinasti Qing . , pendirian Republik Tiongkok . , dan reformasi Mei keempat . Selain itu, dunia internasional juga baru pulih dari Perang Dunia Pertama, organisasi PBB juga masih sangat muda serta implementasi ide-ide Maximum Illud juga masih sangat minim. Ia menjelaskan. Sangat penting untuk melihat bagaimana Gereja menanggapi peristiwa lokal dan internasional ini. Jika tidak ada imam-diplomat dengan kualitas seperti Costantini, kemungkinan besar para pemimpin Gereja Tiongkok tidak akan datang bersama-sama. Dengan mengadakan sinode. Gereja Katolik diwarnai hasratnya untuk bergerak seiring berjalannya waktu dan tidak menjadi irelevan dan asing bagi orang-orang Tiongkok seperti yang dahulu. (Jeremy Clarke: 2013, . Salah satu keputusan radikal Sinode Shanghai adalah penghapusan penghormatan berlebihan kepada misionaris Barat. Ia mengatakan. AuSaya gembira bahwa Sinode telah memutuskan penghapusan penghormatan yang berlebihan kepada para misionaris. Ay (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Sebelum sinode, orang-orang Tionghoa harus memberi hormat kepada misionaris Barat. Orang Tionghoa sangat menghormati orang tua. Maka dengan kebijakan ini, orang tua pun harus memberi hormat . ampai berlutu. kepada misionaris Barat . ang lebih mud. Kebiasaan ini sangat bertentangan dengan budaya Tiongkok yang sangat menghormati orang tua. Oleh karena itu, orang-orang Tionghoa menganggap orang Tionghoa yang menjadi Katolik berarti mengkhianati budaya dan adat istiadat nenek moyang. Hasil Sinode Shanghai yang paling penting adalah mengenai evangelisasi. Para bapa sinode mendiskusikan penyatuan arah misi di Tiongkok menurut bangsa dan masyarakat Tiongkok. Mereka juga memberi perhatian pada pendidikan imam lokal dan penahbisan uskup Tionghoa (Francis Chong, 2008, . 2 Plantatio Ecclesiae AuPlantatio Ecclesiae sudah sejak tiga abad lalu dilaksanakan, tetapi tidak berhasil Aomenanamkan GerejaAo, yaitu mendirikan Aohierarki Gereja Tionghoa. A hal itu saya kira merupakan sebuah kegagalan karya misioner. Ay (Bruno Fabio Pighin: 2015, . Begitulah ungkapan Celso ketika melihat situasi Gereja Tiongkok. Ia menemukan bahwa Gereja Tiongkok masih dipimpin oleh misionaris asing. Imam lokal tidak diberi peran dalam jabatan Semua superior misi di Tiongkok dipimpin oleh para misionaris. Peranan imam lokal hanya sebatas fungsional belaka. Bagi Celso ini adalah suatu kegagalan misioner. Celso melihat bahwa Gereja Tiongkok tidak akan berkembang jika pemimpinnya bukan orang lokal sendiri. Oleh karena itu. Celso berusaha agar klerus lokal mendapatkan tempat pada hierarki Gereja sehingga bisa lebih leluasa mengatur proses evangelisasi di tanah Celso mengawali plantatio Ecclesia dengan memasukkan klerus lokal dalam hirarki dan mengembangkan panggilan imam lokal dengan mendirikan kongregasi religius. Hirarki lokal merupakan fokus perhatian Celso. Istilah AulokalAy mengacu pada struktur dasar dan institusi yang dikelola orang-orang lokal sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, baik katolik maupun nonkatolik. Kondisi misi di Tiongkok pada waktu itu adalah hampir semua superior misi dipegang oleh misionaris Hal ini menjadi keprihatinan utama Paus Benediktus XV. Dalam Surat Apostolik Maximum Illud. Paus menyatakan era baru misi Gereja, yakni lokalisasi seluruh aspek Gereja, khususnya imam-imam lokal. Paus Namun adalah fakta yang menyedihkan bahwa, bahkan setelah Paus bersikeras, masih ada bagian dunia yang telah mendengar pewartaan iman selama beberapa abad, dan masih memiliki seorang imam lokal yang kualitasnya lebih rendah. Juga benar bahwa ada negara-negara yang pada akhirnya diterangi oleh cahaya iman, dan, di samping itu, telah mencapai tingkat peradaban sedemikian rupa sehingga mereka menghasilkan orang-orang terkemuka di semua bidang kehidupan sekuler - namun, meskipun mereka telah hidup di bawah pengaruh Gereja dan Injil selama ratusan tahun, mereka masih tidak dapat menghasilkan Uskup untuk kebutuhan rohani mereka atau para imam untuk bimbingan rohani mereka. Dari fakta-fakta ini jelas bahwa di beberapa tempat sistem yang biasanya digunakan dalam pelatihan para misionaris di masa depan hingga kini lemah dan salah. (MI . Paus melihat adanya keperluan mendesak untuk mendidik imam-imam lokal untuk mewartakan Injil kepada orang-orang sebangsanya. Pada waktu itu, tidak ada uskup putra daerah. Imam-imam lokal juga sangat Oleh karena itu, paus mengajak para superior misi untuk mengevaluasi kembali metode evangelisasi dan meningkatkannya dengan tujuan pengembangan imam-imam putra daerah. (Sergio Ticcozzi: 2008, . Beberapa tahun sebelum kedatangan Celso. Pater Vincent Lebbe dan Antoni Cotta sudah mengangkat masalah ini dunia misi katolik di Tiongkok. Mereka mengemukakan beberapa evaluasi mengenai metode misi di Tiongkok, yakni mengapa klerus Tionghoa tidak mendapatkan previlese yang sama dengan misionaris-misionaris asing, mengapa para uskup tidak dipilih dari klerus lokal dan diberi tanggung jawab teritori misi, mengapa orang katolik tionghoa tidak bisa mengekspresikan rasa nasionalismenya dan berjuang untuk kemerdekaan negaranya, dan lain-lain. Semua pertanyaan-pertanyaan ini dirasakan sebagai tanda-tanda kegagalan misi di Tiongkok. Kelak Celso akan menyebutnya sebagai kegagalan misioner. Evaluasi kritis dari Pater Vincent Lebbe dan Antoni Cotta ternyata mendapat reaksi keras di Tiongkok maupun di Eropa. Banyak pemimpin Gereja Tiongkok tidak setuju dengan kritik Lebbe. Karena perbedaan pandangan ini. Lebbe merasa terisolasi dari komunitas para misionaris. Tahta Suci sebenarnya sudah sadar akan permasalah misi di Tiongkok berdasarkan laporan dari Lebbe dan rekan-rekannya. (Anthony E. Clark, . Maka pada tahun 1919. Tahta Suci menunjuk Vikaris Apostolik Guangzhou, yakni Mgr. John Baptist De Guebriant sebagai Visitator Apostolik untuk semua daerah misi di Tiongkok. Tugas Mgr. De Guebriant adalah mengumpulkan data-data obyektif mengenai perkembangan Gereja Katolik di Tiongkok. ia mengunjungi keuskupan-keuskupan yang besar dan mewawancarai berbagai pihak yang berperan besar dalam misi Katolik di Tiongkok. Ia mengambil data mulai dari September 1919 sampai dengan bulan Maret 1920. (Anthony E. Clark. Laporan Mgr. Guebriant meneguhkan hasil pengamatan Pater Lebbe. (Anthony E. Clark, . Ia melaporkan resistensi tarekat misi yang ada di Tiongkok yang mencari keuntungan kelompoknya sendiri, kebutuhan akan formasi klerus Tionghoa, dan pemilihan uskup putra daerah secara bertahap. Mgr. Guebriant juga menyarankan tahta suci untuk bersikap fleksibel terhadap protektorat Prancis dan budaya Barat. Ketika Celso sampai di Tiongkok, ia sangat sadar akan situasi misi di Tiongkok. Berdasarkan laporan pendahulunya ia mengatakan. Saya bisa membayangkan di depan mata saya, dalam pandangan yang luas, sekitar lima puluh uskup tersebar di seluruh Cina. Semuanya orang asing, semuanya anggota kongregasi Apakah ini Gereja yang diinginkan oleh Kristus? Jika agama Katolik menampakkan diri kepada Tiongkok sebagai sesuatu impor yang asing, terkait dengan kepentingan politik asing, apakah itu benar-benar kesalahan orang Tionghoa? (Celso Costantini: 2010, . Celso melihat bahwa ada lima puluh uskup. Semuanya orang asing. Semuanya anggota tarekat hidup bakti. Ia tidak melihat imam lokal diberi peran dalam struktur hirarki Gereja. Misi Katolik telah menanamkan iman di tanah Tiongkok selama berabad-abad tetapi Gereja tidak tumbuh. Tidak ada hirarki yang tumbuh dari imam lokal. Celso melihat realita ini sebagai kesalahan dalam bermisi. Dengan melihat kerihatinan Paus Benediktus XV tentang hirarki lokal dan keprihatinan Celso mengenai situasi nyata di Tiongkok, maka Celso segera memulai karyanya dengan memperkuat unsur lokal. Karena Tiongkok saat itu sangat didominasi oleh AuunsurAy asing. Salah satu tugasnya sebagai Delegatus Apostolik adalah segera melaksanakan sinode untuk Gereja Tiongkok sebagaimana diamanatkan oleh Kardinal Von Rossum. Sebelum memasuki tahap sinode. Celso sadar bahwa di Tiongkok belum ada imam lokal yang masuk dalam hirarki Gereja. Bila diadakan sinode, mereka tidak bisa ambil bagian. Maka Celso mengusulkan kepada Tahta Suci untuk membentuk Prefektur Apostolik yang baru. Usul ini diterima dan dibentuklah dua prefektur baru yakni. Prefektur Puqi dan Prefektur Lixian yang dipimpin oleh imam lokal yakni Odoricus Cheng dan Melchior Sun. Sebelum tahun 1924, semua teritori misi di Tiongkok di bawah pengawasan vikaris dan prefek asing. (Francis Chong, 2008, . Tidak ada satupun vikaris atau prefek Tionghoa. Maka, pembentukan kedua prefektur ini menjadi langkah awal Celso untuk menanamkan Gereja. Sebelumnya, semua keuskupan di Tiongkok dipimpin oleh klerus asing sehingga klerus lokal tidak terlihat peranannya. Dua tahun setelah sinode. Kardinal Von Rossum memberitahu Celso bahwa Sri Paus menyetujui usulannya untuk memberikan jabatan uskup kepada kedua prefek apostolik Puqi dan Lixian. Ia menulis surat kepada Celso Saya sudah memikirkan hal ini sejak laa. Jika kita mendirikan Vikariat Apostolik di Xuanhua, dan membawa vikaris ke Roma untuk ditahbiskan, itu akan sangat bermanfaat bagi saran kepada Kuria, dan Gereja di Tiongkok. Saya akan menyampaikan saran ini kepada Kuria, dan ketika saya telah mendapatkan persetujuan penuh mereka, saya pikir Bapa Suci akan ingin melakukan upacara penahbisan. Jika Bapa Suci menahbiskan seorang uskup Tionghoa di Roma, ini akan menjadi peristiwa besar bagi Gereja di Tiongok. Kita mungkin juga memilih beberapa uskup lagi, dan sementara kita berada di sana, kita dapat menjadikan dua prefektur Puqi dan Lixian menjadi vikariat dan mengangkat dua prefektur ke jabatan (Francis Chong, 2008, . Sri Paus bahkan menghendaki agar Celso menunjuk imam putra daerah lainnya untuk jabatan uskup. Celso menerima berita itu dengan sukacita dan segera mempersiapkan calon uskup. Akhirnya Celso memilih enam imam putra daerah untuk menjadi uskup. Tanggal 10 September 1926. Celso bersama enam calon uskup berangkat ke Roma. Tanggal 28 Oktober 1926. Paus Pius XI menahbiskan mereka menjadi uskup. Dengan demikian dimulailah lembaran baru Gereja Tiongkok untuk memimpin Gerejanya sendiri. Celso adalah orang yang visioner. Ia melihat bahwa nantinya orang-orang lokal yang memimpin bangsanya Maka ia merasa perlu menyiapkan calon-calon pemimpin yang berkualitas untuk menjalankan tugas ini. Pada Sinode Shanghai telah diputuskan bahwa akan dibangun empat belas seminari tinggi di beberapa tempat sehingga bisa menyelenggarakan pendidikan filsafat dan teologi. Tanggal 11 April 1946, hirarki Gereja Tiongkok resmi berdiri. Gereja Tiongkok telah memiliki seratus tiga puluh tujuh daerah misi. Sembilan puluh sembilan di antaranya telah meningkat menjadi keuskupan. Imam lokal memimpin dua puluh delapan daerah misi. Tanggal 28 di bulan dan tahun yang sama, dua puluh satu imam ditahbiskan menjadi uskup. Lebih lanjut lagi. Paus Pius XI menunjuk Vikaris Apostolik Qingdao. Tian Gengxin. SVD menjadi kardinal Tionghoa pertama dan juga orang Asia pertama. (Francis Chong: 2008, . Celso sebenarnya sudah memikirkan untuk mendirikan kongregasi lokal. Celso mengungkapkannya dalam buku hariannya tanggal 20 September 1923. Hal ini didasarkan keyakinannya bahwa misi akan lebih efektif jika bisa memberi pengaruh pada kaum intelektual Tionghoa. Francis Chong, 2008, 54-. Oleh karena itu. Gereja membutuhkan klerus yang terpelajar dalam sastra dan budaya Tiongkok. Celso juga melihat bahwa semua kongregasi dan tarekat religius berasal dari luar Tiongkok. Semua metode misi yang diterapkan tergantung dari pimpinan pusat yang berada di Eropa. Mereka menyamakan konteks misi di Tiongkok dengan Eropa sehingga terjadi ketidakcocokan metode misi. Orang Tionghoa banyak yang terpanggil untuk menjadi imam dan biarawan dalam kongregasi-kongregasi Akan tetapi mereka tidak bisa mendapat pendidikan yang memadai seperti para misionaris Eropa karena misi terkena dampak kolonialisme dan sino-fobia. Mereka lebih banyak dibekali dengan bahasa Latin. Setelah menjadi imam, mereka lebih banyak berkarya di bidang pastoral. Dengan kata lain, mereka tidak punya waktu khusus untuk mendalami ilmu-ilmu humaniora dan sastra. Paus Benediktus XV telah melihat masalah ini. Beliau sungguh menaruh perhatian dan menginstruksikan para misionaris untuk mengadakan pendidikan bagi mereka. Paus mengatakan. AuPendidikan mereka harus lengkap dan sempurna pada semua fase, pendidikan yang sama untuk imamat yang orang Eropa terimaAy (MI . Paus Pius XI juga mempunyai keprihatinan yang sama. Ia menilai bahwa masih ada yang memandang masyarakat lokal sebagai manusia rendah. Tentang hal ini paus menjelaskan: Siapa pun yang memandang penduduk lokal ini sebagai anggota ras yang lebih rendah atau sebagai manusia dengan mental rendah membuat kesalahan besar. Pengalaman selama periode waktu yang lama telah membuktikan bahwa penduduk di daerah-daerah terpencil di Timur seperti di Selatan sering kali tidak kalah dengan kita, sama sekali, dan mampu bertahan dengan kita, bahkan dalam kemampuan mental. Jika seseorang menemukan sangat kurangnya kemampuan untuk memahami di antara mereka yang hidup dalam kondisi di mana mereka ada, karena karena kebutuhan sehari-hari mereka sangat terbatas, mereka tidak sering terpanggil untuk mengasah intelek mereka (RE . Padahal orang-orang lokallah yang nantinya akan memelihara iman bangsanya. Dengan kata lain, kedua paus ini menginginkan agar calon klerus lokal mendapatkan pendidikan yang layak tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan misi, seperti bahasa, budaya, metode dan lain-lain. Dalam pendidikan calon imam tidak seharusnya terjadi diskriminasi terhadap calon lokal. Sebab merekalah yang suatu hari melanjutkan karya Gereja dan komunitas Katolik yang didirikan oleh para misionaris. Keinginan Celso mendirikan kongregasi lokal semakin kuat dengan dipromulgasikannya Ensiklik Rerum Ecclesiae tanggal 28 Februari 1926 oleh Paus Pius XI. Dalam ensikliknya Paus Pius XI kembali menekankan pentingnya mendidik masyarakat lokal. Pada saat mengantar enam imam putra daerah ke Roma untuk menerima tahbisan episkopat. Celso menyerahkan rancangan kongregasi baru pada Kardinal Von Rossum. Pada tanggal 4 Januari 1927 Celso mendapatkan surat pengesahan dan ijin mendirikan kongregasi. Nama kongregasi ini adalah Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuha. PENUTUP Kesimpulan Celso Costantini menjadi salah satu bagian dari usaha Gereja mewartakan Injil kepada orang-orang Tiongkok. Ia ditunjuk menjadi Delegatus Apostolik untuk Tiongkok. Ia bermisi ke Tiongkok bukan sebagai duta negara Vatikan melainkan wakil paus di sana. Maka, misi yang dilakukan Celso adalah murni misi rohani. Celso tidak berfokus pada hubungan diplomatik ataupun urusan politik dengan negara Tiongkok atau negara Eropa Celso hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan Gereja dan bagaimana menanamkan iman Katolik di antara masyarakat setempat. Celso melihat masyarakat setempat menganggap Gereja sebagai agama asing karena karya misi berkaitan erat dengan urusan politik. Muncul sikap antipati terhadap Gereja Katolik. Akibatnya. Gereja tidak tertanam. Melihat situasi demikian. Celso melakukan pembaruan metode misi di Tiongkok. Beberapa hal yang patut direnungkan berkaitan dengan misi Celso di Tiongkok adalah: Apa relevansi pembaruan metode misi di Tiongkok bagi karya misi Gereja universal? Apa yang menjadi fokus perhatian Gereja dewasa ini? Masih relevankah gaya misi konvensional, seperti kolonialisme dan proselitisme di tengah-tengah dunia modern ini? Misi Celso di tanah Tiongkok memang berakhir pada tahun 1933 dengan alasan kesehatan. 8 Selama sebelas tahun berkarya di sana. Celso melakukan banyak perubahan radikal tentang metode misi di Tiongkok, seperti Tanggal 26 Oktober 1930. Celso meninggalkan kantor Delegatus Apostolik dan kembali ke Roma. Dalam perjalanannya ia berdoa: Tuhanku, aku berterima kasih atas bantuan yang telah Engkau berikan kepadaku dalam delapan tahun yang kuhabiskan di Tiongkok. Alat yang melayani-Mu ini penuh dengan ketidaksempurnaan dan kekurangan. Aku mohon kepada-Mu agar mengampuni ketidaksetiaan saya, penderitaan batin saya. Engkau benar-benar ingin menunjukkan kepadaku bahwa jika aku pembentukan hirarki lokal, pembinaan klerus lokal hingga pengembangan budaya lokal sebagai sarana Gereja mewartakan iman. Pemikiran dan karyanya diteruskan oleh penggantinya hingga pada tahun 1949 Tiongkok memiliki hirarki yang mandiri. Tanpa hirarki. Gereja belum dikatakan tertanam. Di sinilah letak peran penting Celso dalam sejarah misi di Tiongkok. Gereja tetap bertahan sekalipun mengalami pendertiaan dan penyiksaan. Iman yang telah ditanam tidak menguap begitu saja ketika terjadi perubahan radikal daerah misi. Buktinya, sampai sekarang masih banyak umat beriman yang setia kepada Gereja dan Paus walaupun hidup beriman mereka dalam bayang-bayang maut. Sudah seharusnya Gereja tertanam di setiap tempat dan karya Allah diwartakan di manamana. Rekomendasi Beberapa hal penting dari gagasan misi Celso di Tiongkok yang masih relevan untuk perkembangan misi dewasa ini adalah: pertama, omnia pro Ecclesia, semua demi Gereja. Para misionaris diutus oleh Gereja untuk mewartakan Injil. Celso pun diutus oleh Gereja dalam hal ini Paus Pius XI Ia awalnya menolak karena merasa dirinya tidak kompeten dalam bidang ini. Akan tetapi Paus berkehendak lain. Paus ingin Celso melaksanakan tugas dari Gereja untuk mengembangkan Gereja di Tiongkok menjadi Gereja Tiongkok. Celso menerima tugas ini dengan besar hati, dalam ketaatan. Celso menyadari ia bukan saja taat kepada paus melainkan taat pada Gereja, taat pada Kristus. Ia melihat tugas perutusan ini sebagai kehendak Kristus lewat Gereja. Konsekuensi dari ketaatan Celso adalah seluruh tindakan dan perubahan yang ia lakukan harus sesuai dengan arahan Gereja. Celso tidak boleh memihak pada kepentingannya sendiri atau negaranya ataupun negara Eropa lainnya. Ia merupakan utusan paus bukan utusan negara sehingga yang menjadi perhatiannya adalah urusan rohani bukan politik. Bagi Celso. Gereja tidak pernah terbagi menurut negaranya. Sekalipun Gereja ada di mana-mana. Gereja tetaplah satu, yakni Gereja Kristus. Sampai saat ini. Gereja masih terus mengirim misionaris ke tempat-tempat di mana Injil belum dikenal. Para misionaris ini berasal dari berbagai tarekat religius dan negara. Konsep Celso tentang omnia pro Ecclesia10 sangat relevan untuk diterapkan sebagai model dalam bermisi. Para misionaris mungkin saja memiliki panduan misi dari ordo, tarekat maupun keuskupannya. Akan tetapi, para misionaris tidak boleh mengabaikan ajaran Gereja mengenai misi. Panduan-panduan misi yang ada harus bersumber dari magisterium Gereja supaya misi Gereja bisa terarah pada satu tujuan yang sama. Kesatuan tujuan ini akan berdampak positif dan efektif pada karya misi. Para misionaris akan terhindar dari godaan untuk mementingkan kepentingan tarekat atau dirinya sendiri. Sebab yang menjadi tujuan adalah tercapainya kepentingan Gereja. Para misionaris yang berasal dari berbagai tarekat dan kelompok tidak perlu bersaing siapa yang lebih berhasil. Apapaun yang mereka lakukan dalam karya misi adalah untuk kebaikan Gereja Kristus bukan kebesaran tarekat atau ordo. Kedua, gagasan Celso tentang AuinkulturasiAy. Celso tidak menyebut secara langsung konsep inkulturasi. Konsep ini baru muncul dan populer setelah Konsili Vatikan II. Akan tetapi. Celso sudah menjalankan konsep ini sewaktu ia bermisi ke Tiongkok. Ia berpendapat bahwa Gereja sebenarnya bisa menggunakan masuk ke dalam budaya setempat. Ia membandingkannya dengan para Bapa Gereja. Para Bapa Gereja seperti St. Yustinus. St. Klementius dari Roma. St. Anselmus dan lain-lain bisa menggunakan pemikiran Yunani dan Latin untuk menjelaskan ajaran Gereja dan mereka berhasil. Tentu hal yang sama juga bisa dilakukan di Tiongkok dan tanah misi lainnya. Gereja bisa menggunakan budaya lokal untuk menjelaskan ajaran Gereja dan mengenalkan Kristus pada mereka yang belum mengenal Allah. Allah menciptakan manusia dengan segala kebijaksanaanya. Manusia kemudian menciptakan budaya sebagai ekspresi akal budi dan perasaannya. Tentu lewat budaya, manusia bisa mengenal Allah dan berbakti kepadanya. Menurut Celso, adalah sangat tepat jika para misionaris mempelajari budaya dan bahasa setempat agar bisa menyelami masyarakat lokal dan mempromosikan klerus lokal sehingga Allah semakin dikenal dan diimani oleh masyarakat setempat. melakukan sesuatu untuk misi, aku melakukannya untuk-Mu. Sekarang, karena berbagai alasan, aku tidak tahu apakah pekerjaan saya di Tiongkok dianggap selesai atau jika sekali lagi, aku akan diutus kembali untuk melanjutkan pekerjaanku. Aku sepenuhnya berada dalam tangan-Mu. CMC Vol. II, 279. Bdk. konsep St. Paulus tentang Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus dalam 1 Kor. 12:12-31. Celso Costantini. IVAD, 121. DAFTAR PUSTAKA