GG I ILM SY E AT A N S EKO L D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN RESILIENSI PERAWAT PASCA COVID-19 DI RSUD PADANG THE RELATIONSHIP OF SELF-EFFICACY WITH POST COVID-19 NURSES' RESILIENCE IN PADANG HOSPITAL Chairunnisa Az Zahra1. Zifriyanthi Minanda Putri*2. Dewi Murni3 1,2,3 Fakultas Keperawatan. Universitas Andalas Email: yanthiminanda@gmail. ABSTRAK Pandemi Covid-19 memberikan tekanan luar biasa pada sistem kesehatan dan tenaga medis, termasuk Pengalaman ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan resiliensi mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang berubah dapat memperkuat resiliensi perawat. Resiliensi sendiri dipengaruhi oleh faktor lain, salah satunya selfefficacy. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan self-efficacy dengan resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah perawat di RSUD Padang sebanyak 115 perawat, menggunakan metode proportional random sampling. Instrumen resiliensi menggunakan Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan instrumen self-efficacy menggunakan General Self-Efficacy Scale (GSES). Hasil penelitian didapatkan 86 . 8%) perawat memiliki resiliensi yang tinggi dan 105 . 3%) perawat memiliki self-efficacy yang tinggi. Hasil analisis bivariat, terdapat hubungan yang bermakna antara selfefficacy dengan resiliensi perawat di RSUD Padang . -value <0. Diharapkan kepada manager keperawatan dan pihak rumah sakit menfasilitasi perawat berupa konseling bagi perawat dan lebih memperhatikan kesehatan mental perawat untuk dapat lebih meningkatkan resiliensi dan self-efficacy Kata Kunci: Perawat. Resiliensi. Self-efficacy ABSTRACT The Covid-19 pandemic puts tremendous pressure on the health system and medical personnel, including nurses. This experience can increase their confidence and resilience to face future challenges. The ability to adapt quickly to changing situations can strengthen the resilience of nurses. Resilience itself is influenced by another factor, one of which is self-efficacy. The aim of the research is to find out the relationship between self-efficacy and resilience in nurses at RSUD Padang. This type of research is quantitative research with a cross sectional approach. The sample of this research is a nurse at RSUD Padang of 115 nurses, using the method of proportional random sampling. Resiliency instruments using the Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) and self-efficacy instruments with the General SelfEfficacy Scale (GSES). The study found that 86 . 8%) of nurses had high resilience and 105 . had high self-efficacy. As a result of bivariate analysis, there is a meaningful relationship between selfefficacy and resilience of nurses at RSUD Padang . -value <0,. It is hoped that nursing managers and hospital authorities will facilitate nurses as counseling for nursers and pay more attention to the mental health of nurse to be able to improve the resilience and self-efficacy of nurser. Keywords: Nurse. Resilience. Self-efficacy JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. PENDAHULUAN Perawat seringkali menghadapi situasi yang penuh tekanan dan potensial berdampak traumatis, baik secara langsung maupun tidak Perawat sering dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk intimidasi, pelecehan, kekerasan, perubahan organisasi, masalah kesehatan dan keselamatan di tempat Perawat juga sering merasakan beban kerja yang berat, konflik peran, serta konflik kerja dengan rekan seprofesi maupun atasan (Asih et al. , 2. World Health Organization (WHO) penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-. sebagai Global Pandemic sejak tanggal 11 Maret 2020 dan COVID-19 juga ditetapkan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat serta bencana nonalam di Indonesia (JDIH Kemaritiman & Investasi, 2. Perawat menjadi salah satu garda terdepan dalam penanganan, pencegahan, dan perawatan pasien COVID-19 (Zaini, 2. Tahun 2023 WHO sudah menyatakan bahwa COVID-19 tidak lagi menjadi kondisi darurat kesehatan global (Arif, 2. Namun. COVID-19 menimbulkan dampak bagi berbagai profesi, salah satunya perawat. Dampak yang ditimbulkan dapat dirasakan baik secara fisik maupun emosional yang dapat berpengaruh terhadap kinerjanya (Gustina et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 463 penyintas COVID-19 di Indonesia, ditemukan bahwa sebanyak 294 partisipan . ,5%) mengalami gejala lanjutan pasca penyakit ini. Gejala tersebut mencakup gangguan fisik dan psikologis seperti batuk, nyeri otot, gangguan kardiovaskular, kelelahan kronis, anosmia, diare, gangguan tidur, kecemasan, dan gangguan konsentrasi. Selain itu, penyintas juga mengalami masalah di tempat kerja dan lingkungan sosial sebagai dampak dari long COVID. Kondisi fisik dan mental yang belum pulih sepenuhnya sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan untuk bekerja, sehingga beberapa penyintas mengalami pemutusan hubungan kerja (Kurniawan & Susilo, 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Setelah hampir 2 tahun menghadapi COVID-19, perawat di Rumah Sakit sering melaporkan bahwa terjadi peningkatan masalah yang dihadapi seperti peningkatan kelelahan, gejala tekanan psikologis, gejala stres pascatrauma karena sering terpapar situasi traumatis secara langsung dan/atau tidak langsung saat memberikan perawatan pasien, dan dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19 lainnya (Sagherian et al. Salah satu aspek yang dapat membantu perawat menghadapi tuntutan lingkungan kerja adalah resiliensi. Dalam konteks keperawatan, resiliensi dapat dipahami sebagai suatu proses kompleks dan dinamis yang memungkinkan perawat untuk beradaptasi secara positif terhadap stres di tempat kerja, menghindari risiko psikologis, dan tetap memberikan pelayanan pasien yang aman dan berkualitas tinggi. Menurut definisi ini, ketahanan menjadi aspek penting dalam menjaga kesehatan mental perawat demi memberikan pelayanan yang berkualitas. Secara khusus, ketahanan memiliki hubungan negatif dengan kelelahan dan stres traumatis sekunder, serta memiliki hubungan positif dengan kepuasan terhadap pekerjaan dan perasaan cinta kasih. Selain itu, ketahanan juga berperan sebagai pelindung dalam mencegah perkembangan depresi (Moisoglou et al. Saat Covid-19, masih ditemukan perawat yang memiliki tingkat resiliensi pada kategori rendah. Penelitian yang dilakukan (Yuyun, 2. masih terdapat 35. 3% perawat yang memiliki tingkat resiliensi yang rendah. Penelitian yang dilakukan (Rahayu et al. juga menunjukkan bahwa masih terdapat 11% perawat yang memiliki tingkat resiliensi yang rendah. Pasca pandemi Covid-19, resiliensi perawat tetap menjadi topik yang penting dan Pandemi memberikan tekanan luar biasa pada sistem kesehatan dan tenaga medis, termasuk perawat. Penelitian mengenai bagaimana tingkat resiliensi pada perawat pasca COVID-19 tidak banyak ditemukan. Penelitian yang dilakukan Moisoglou et al. pada 963 perawat pasca COVID-19 di IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Yunani ditemukan bahwa perawat memiliki resiliensi pada tingkat sedang pada perawat yang pernah merawat pasien pasca COVID19. Perawat yang bekerja selama pandemi sering kali harus mempelajari keterampilan baru dan beradaptasi dengan cepat terhadap protokol yang berubah. Pengalaman ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan resiliensi mereka untuk menghadapi tantangan di masa Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang berubah dapat memperkuat resiliensi perawat (Paendong et , 2. Realisasi resiliensi pada kenyataannya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktorfaktor yang mempengaruhi resiliensi terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang timbul dari dalam individu, seperti selfefficacy, spritualitas, optimisme, dan selfesteem. Sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu, seperti dukungan sosial (Missasi & Izzati. Setiap individu pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menjadi tangguh . secara alami dan dalam diri individu sebenarnya terdapat benih resiliensi (Missasi & Izzati, 2. Ren et al. , . menjelaskan bahwa resiliensi berfokus pada efikasi diri individu . elf-efficac. , yaitu motivasi internal untuk mengatasi dan kemampuan merespons situasi yang menantang dengan percaya diri. Menurut Lau et al. , . self-efficacy merupakan seperangkat keyakinan yang dianut mengenai diri sendiri, mempengaruhi pengambilan keputusan dan pilihan serta mendorong upaya dan resiliensi seseorang. Wang et al. , . mengatakan bahwa self-efficacy yang rendah sering dikaitkan dengan perasaan negatif yang muncul dalam diri seperti kecemasan, depresi, atau ketidakberdayaan serta penurunan kinerja atau motivasi diri yang rendah. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa self-efficacy berbanding lurus dengan tingkat resilensi seseorang, seseorang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 yang tinggi dan lebih mampu menangani situasi sulit yang dihadapinya. Berdasarkan hal tersebut, dibuktikan langsung pada penelitiannya terhadap 900 perawat, dengan 747 perawat yang menyelesaikan surveinya, dan tingkat respons mencapai 83%. Penelitian ini dilakukan di enam rumah sakit yang berlokasi di Shanghai. Cina, dan hasilnya menunjukkan bahwa selfefficacy mempunyai pengaruh langsung positif yang signifikan terhadap resiliensi (Wang et , 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Peyacoba et al. , . terhadap 308 perawat yang memberikan layanan di unit perawatan kritis bedah dan umum Spanyol pada masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menunjukkan bahwa perawat memiliki self-efficacy dan resiliensi yang tinggi, dan menunjukkan relevansi selfefficacy sebagai sumber kognitif utama untuk penerapan resiliensi. Penelitian Indonesia oleh Auralita et al. , . pada 77 perawat di ruang ICU dan IGD di RSUP Fatmawati Jakarta menunjukkan hal yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan . ,92%) memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi, dan sebagian besar partisipan . ,12%) memiliki tingkat resiliensi yang sedang. Berdasarkan hasil uji, ditemukan pengaruh langsung yang signifikan antara self-efficacy dan resiliensi pada perawat yang merawat pasien beresiko tinggi sebesar 44,9%. Hal ini menunjukkan bahwa selfefficacy diperlukan sebagai sumber daya untuk mengembangkan resiliensi dalam diri perawat. Penelitian (Ghasempour et al. , 2. pada 280 perawat di semua departemen klinis Iran pasca Covid-19 menunjukkan hal yang berbeda, didapatkan bahwa 54,3% perawat mengalami tingkat resiliensi yang rendah, sementara 74,6% melaporkan tingkat efikasi diri yang tinggi. Berdasarkan dilakukan oleh (Burhani & Yahya, 2. menyatakan bahwa self-efficacy berpengaruh cukup signifikan terhadap resiliensi individu yaitu 11,4%. I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Berdasarkan masalah dan fenomena yang telah dijelaskan diatas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai AuHubungan Self-efficacy dengan Resiliensi pada Perawat di RSUD PadangAy. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perawat di RSUD Padang yang berjumlah 161 Jenis teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dengan total sampel 115 orang Instrumen pengukuran resiliensi adalah kuesioner resiliensi dari (Connor & Davidson, 2. yang telah diadaptasi oleh (Wahyudi, 2. Kuesioner resiliensi terdiri 5 dimensi yaitu: kompetensi personal, keyakinan terhadap insting, penerimaan positif, kontrol diri, dan spiritualitas. Instrumen ini terdiri atas 25 pertanyaan, pengukuran menggunakan skala likert dengan 5 kriteria penilaian sebagai berikut, nilai 0 = tidak benar sama sekali, 1 = jarang, 2 = kadang-kadang, 3 = sering, 4 = Hasil ukur kuesioner resiliensi dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Untuk pengukuran self-efficacy, digunakan kuesioner GSES (General SelfEfficacy Scal. dari Bandura yang telah diadaptasi oleh (Scholz et al. , 2. GSES telah dialih bahasa dalam 25 bahasa termasuk bahasa Indonesia. Kuesioner GSES memiliki 10 item pertanyaan, pengukuran menggunakan skala linkert dengan kriteria penilaian sebagai berikut, nilai 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, dan 4 = sangat setuju. Hasil ukur kuesioner self-efficacy dengan kategori tinggi, sedang, rendah. Analisis univariat ditampilkan dengan tabel distribusi frekuensi dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . Variabel Umur 15-24 (Remaj. 25-44 (Dewasa Mud. 45-64 (DewasaTenga. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Masa Kerja O 3 Tahun >3 Tahun Pendidikan Terakhir D3 Keperawatan Ners S2 Keperawatan Status Pernikahan Menikah Tidak Menikah Jabatan Karu Katim Perawat Pelaksana Status Pekerjaan PNS JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Frekuensi . Persentase (%) IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Variabel Non PNS Total Berdasarkan tabel 1 didapatkan hasil bahwa karakteristik responden berdasarkan umur, hampir seluruhnya responden berada dalam kelompok umur antara 25-44 tahun yaitu sebesar 82. Berdasarkan jenis kelamin, hampir seluruhnya responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar Karakteristik responden berdasarkan masa kerja, hampir seluruh masa kerjanya > 3 tahun yaitu sebesar 77. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir. Frekuensi . Persentase (%) sebagian besar responden dengan pendidikan terakhir yaitu S1 Keperawatan sebesar 53. Berdasarkan status pernikahan, hampir seluruh responden dengan status menikah yaitu Untuk karakteristik responden berdasarkan jabatan, sebagian besar perawat sebagai perawat pelaksana sebesar 68. Untuk karakteristik responden berdasarkan status pekerjaan, sebagian besar responden berstatus PNS yaitu sebesar 60. Tabel 2. Gambaran Self-efficacy dan Resiliensi pada perawat di RSUD Padang . Variabel Kategori Frekuensi . Persentase (%) Resiliensi Sedang Tinggi Self-efficacy Sedang Tinggi Total Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil, sebagian besar perawat memiliki tingkat Resiliensi pada kategori tinggi . 8%) dan hampir seluruh perawat memiliki tingkat selfefficacy pada kategori tinggi . Tabel 3. Hubungan Karakteristik Responden dengan Resiliensi pada perawat di RSUD Padang . Karakteristik Responden Resiliensi p-value Sedang Tinggi Total Umur 25-44 (Dewasa Mud. 45-64 (Dewasa Tenga. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Masa Kerja O 3 Tahun >3 Tahun Pendidikan Terakhir D3 Keperawatan Ners Status Pernikahan Menikah Tidak menikah Jabatan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Karakteristik Responden Karu Katim Perawat Pelaksana Status Pekerjaan PNS Non PNS e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Sedang Resiliensi Tinggi p-value Total Berdasarkan tabel 5. 3 dari 95 perawat yang berada pada kategori umur dewasa muda, sebagian besar . 9%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 74 perawat sedangkan sebagian kecil . perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 21 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan jenis kelamin, dari 95 perawat yang berjenis kelamin perempuan, sebagian besar . 7%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 71 perawat sedangkan sebagian kecil . perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 24 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 1. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Menurut kategori masa kerja, dari 89 perawat yang masa kerjanya >3 tahun, sebagian besar . 0%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 65 perawat sedangkan sebagian kecil . perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 24 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan pendidikan terakhir, dari 61 perawat yang berpendidikan terakhir S1 Keperawatan, sebagian besar . 3%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 49 perawat sedangkan sebagian kecil . 7%) perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 12 perawat. Hasil JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 215, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan terakhir dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan status pernikahan, dari 98 perawat yang berstatus menikah, sebagian besar . 4%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 71 perawat sedangkan sebagian kecil . perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 27 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status pernikahan dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Menurut kategori jabatannya, dari 79 perawat pelaksana sebagian besar . perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 61 perawat sedangkan sebagian kecil . 8%) perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 18 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value 221, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jabatan dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan status pekerjaan, dari 70 perawat yang berstatus PNS, sebagian besar . 3%) perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 52 perawat sedangkan sebagian kecil . 7%) perawat memiliki tingkat resiliensi sedang yaitu sebanyak 18 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 1. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Padang. I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Tabel 4. Hubungan Karakteristik Responden dengan Self-efficacy pada perawat di RSUD Padang . Karakteristik Responden Umur 25-44 (Dewasa Mud. 45-64 (Dewasa Tenga. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Masa Kerja O 3 Tahun >3 Tahun Pendidikan Terakhir D3 Keperawatan Ners Status Pernikahan Menikah Tidak menikah Jabatan Karu Katim Perawat Pelaksana Status Pekerjaan PNS Non PNS Self-efficacy Tinggi p-value Sedang Total Berdasarkan tabel 4 dari 95 perawat yang berada pada kategori umur dewasa muda, hampir seluruh . 6%) perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi yaitu sebanyak 88 perawat sedangkan hanya sedikit . perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 7 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan tingkat selfefficacy pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan jenis kelamin, dari 95 perawat yang berjenis kelamin perempuan, hampir seluruh . 0%) perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi yaitu sebanyak 85 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . 5%) perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 10 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 206, artinya tidak terdapat hubungan yang JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 bermakna antara jenis kelamin dengan tingkat self-efficacy pada perawat di RSUD Padang. Menurut kategori masa kerja, dari 89 perawat yang masa kerjanya >3 tahun, hampir seluruh . 9%) perawat memiliki tingkat selfefficacy yang tinggi yaitu sebanyak 80 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 9 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan tingkat self-efficacy pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan pendidikan terakhir, dari 61 perawat yang berpendidikan terakhir S1 Keperawatan, hampir seluruh . 8%) perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi yaitu sebanyak 56 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . 2%) perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 5 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Hasil penelitian menunjukkan nilai pvalue sebesar 1. 000, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan terakhir dengan tingkat self-efficacy pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan status pernikahan, dari 98 perawat yang berstatus menikah, hampir seluruh . 8%) perawat memiliki tingkat selfefficacy yang tinggi yaitu sebanyak 89 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 9 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 1. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status pernikahan dengan tingkat self-efficacy pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan jabatannya, dari 79 perawat pelaksana, hampir seluruh . perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi yaitu sebanyak 72 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . 9%) perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 7 Hasil penelitian menunjukkan nilai pvalue sebesar 0. 818, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jabatan dengan tingkat self-efficacy pada perawat di RSUD Padang. Berdasarkan status pekerjaan, dari 70 perawat yang berstatus PNS, hampir seluruh . 9%) perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi yaitu sebanyak 65 perawat sedangkan hanya sebagian kecil . perawat memiliki tingkat self-efficacy sedang yaitu sebanyak 5 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0. artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan tingkat self- efficacy pada perawat di RSUD Padang. Tabel 5. Hubungan Self-efficacy dengan Resiliensi pada perawat di RSUD Padang . SelfResiliensi p-value Sedang Tinggi Total Sedang Tinggi Berdasarkan tabel 5 dari 105 perawat yang memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi, sebagian besar . 0%) perawat memiliki tingkat Resiliensi yang tinggi yaitu sebanyak 85 perawat sedangkan sebagian kecil . 0%) perawat memiliki tingkat Resiliensi sedang yaitu sebanyak 20 perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 000, artinya terdapat hubungan yang bermakna antara Self-efficacy dengan Resiliensi pada perawat di RSUD Padang. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 115 responden di RSUD Padang, berdasarkan karakteristik responden menurut umur, didapatkan hasil hampir seluruh responden berusia 25-44 tahun . 6%). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian (Hasanah et al. , 2. , didapatkan hasil bahwa 95% perawat berada pada rentang umur 20-40 JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 tahun, rentang ini merupakan usia produktif untuk bisa menunjukkan etos kerja yang optimal, pada rentang usia ini perawat cenderung memiliki fisik yang kuat, dinamis dan kreatif sehingga lebih mudah untuk mencapai kinerja secara maksimal. Berdasarkan didapatkan hasil hampir seluruh responden berjenis kelamin perempuan . 6%). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian (Wihardja et al. , 2. , didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari perawat berjenis kelamin perempuan . 90%). Penelitian ini menjelaskan bahwa perawat identik dengan pekerjaan yang dilakukan perempuan karena membutuhkan naluri keibuan yang mampu merawat dengan kasih sayang dan kesabaran. Berdasarkan didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki masa kerja >3 tahun . 4%). Hal ini didukung oleh penelitian (Santosa & Gayatri, 2. yang menemukan IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. bahwa sebagian besar dari perawat memiliki masa kerja >3 tahun . 2%). Masa kerja perawat berpengaruh terhadap kualitas dari pekerjaan perawat yang ada di Rumah Sakit. Masa kerja yang lama akan mempengaruhi keterampilan perawat saat bekerja. Masa kerja perawat yang lebih lama memiliki banyak pengalaman yang lebih dibandingkan dengan teman kerja lainnya. Berdasarkan didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari Keperawatan . 0%). Hal ini didukung oleh penelitian (Habibi et al. , 2. yang menemukan bahwa sebanyak 80. 30% perawat berpendidikan terakhir S1/ners Keperawatan. Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi pula jika dibandingkan dengan seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih rendah, seseorang dapat meningkatkan kematangan intelektualnya melalui pendidikan sehingga dapat membuat keputusan yang baik dalam Berdasarkan didapatkan hasil bahwa hampir seluruh responden berstatus menikah . 2%). Hal ini didukung oleh penelitian (Maranden et al. yang menemukan bahwa 77. 6% perawat berstatus menikah. Penelitian ini menyebutkan bahwa seseorang yang sudah menikah akan mendapat dukungan dari pasangannya, seseorang yang menikah akan mendukung kehidupan keluarganya, dan pasangan tentunya menjadi tempat untuk berbagi dan berbicara tentang pekerjaannya. Berdasarkan didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari responden sebagai perawat pelaksana . 7%). Hal ini didukung oleh penelitian (Maranden et , 2. , didapatkan hasil bahwa 80,9% didapatkan perawat pelaksana lebih dominan di ruangan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Berdasarkan didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari responden berstatus sebagai PNS . 9%). Hal ini didukung oleh penelitian (Ayudia et al. , didapatkan hasil bahwa 59. 6% perawat JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 berstatus sebagai PNS. Status pekerjaan akan berkaitan erat dengan kompensasi diberikan, seorang dengan status PNS tentunya akan memiliki penghasilan yang lebih besar dibanding Non PNS, akan tetapi dari faktor tersebut tidak menjadi suatu hal pasti dapat berpengaruh terhadap kinerja (Welembuntu et al. , 2. Resiliensi Hasil analisis univariat pada variabel resiliensi menunjukkan sebagian besar dari perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi . 8%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Pujiyanto et al. , 2. pada perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit, didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi . %). Penelian yang dilakukan (Ardilla et al, 2. menunjukkan hasil yang sedikit berbeda, didapatkan bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat resiliensi yang sedang . 8%). Hasil penelitian resiliensi perawat . ompetensi individ. , didapatkan hasil bahwa sebagian besar perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi . 4%) dan tingkat resiliensi sedang sebesar 29. 6% pada dimensi Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi personal competence, responden yang menjawab selalu benar paling rendah pada item pernyataan nomor 17, yaitu dengan 22. 6% perawat menganggap dirinya kuat ketika menghadapi tantangan hidup. Kemudian responden yang menjawab selalu benar paling tinggi pada item pertanyaan nomor 12, yaitu dengan 32. perawat tidak pantang menyerah walaupun segala sesuatu tampak tidak ada harapan. Personal competence . ompetensi individ. merupakan kompetensi personal individu dimana individu merasa mampu untuk mencapai tujuannya (Octaryani & Baidun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawat memiliki kompetensi personal yang baik dan merasa mampu untuk mencapai IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Hasil penelitian resiliensi perawat pada dimensi trust in oneAos instincts . ercaya pada instin. , didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari perawat memiliki tingkat resiliensi sedang . 0%) dan tingkat resiliensi yang tinggi sebesar 47% pada dimensi ini. Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi trust in oneAos instincts, responden yang menjawab selalu benar paling rendah pada item pernyataan nomor 20, yaitu dengan 15. 7% perawat firasat/naluri. Kemudian responden yang menjawab selalu benar paling tinggi pada item pertanyaan nomor 25, yaitu dengan 35. 7% perawat bangga atas pencapaiannya dalam pekerjaan. Putri . menyebutkan bahwa dimensi ini berkaitan dengan keadaan ketenangan dalam Individu yang tenang biasanya berhati-hati dalam merespons masalah yang Mereka juga dapat secara efektif mengatasi stres dan tetap fokus pada tujuan, bahkan saat menghadapi tekanan atau Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perawat yang tidak pecaya terhadap insting Pada dimensi ini didapatkan jumlah perawat yang memiliki resiliensi tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan dimensi Untuk meningkatkan resiliensi pada dimensi ini, manager keperawatan dapat menyediakan perawat berupa konseling bagi perawat serta memperhatikan kesehatan mental perawat. Hasil penelitian resiliensi perawat pada dimensi positive acceptance . enerimaan positi. , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat resiliensi tinggi . 5%), resiliensi sedang sebesar 6% perawat, dan resiliensi yang rendah 9% perawat pada dimensi ini. Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi positive acceptance, responden yang menjawab selalu benar paling rendah pada item pernyataan nomor 14, yaitu dengan 24. 3% perawat tetap dapat fokus dan berfikir jernih meskipun dibawah tekanan. Kemudian responden yang menjawab selalu benar paling tinggi pada item pertanyaan nomor 1, yaitu dengan 34. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 perawat mampu beradaptasi ketika terjadi perubahan di tempat kerja. Dimensi ini mencakup kemampuan menerima perubahan dengan sikap positif dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain agar dapat mencapai tujuan. Hal ini didukung oleh penelitian (Athifahsari et al. , 2. yang menunjukkan bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat resiliensi yang tinggi . %) pada dimensi positive acceptance . enerimaan positi. Hal ini menunjukkan bahwa perawat dapat beradaptasi dengan perubahan, namun masih ada perawat yang belum mampu menerima perubahan dengan sikap positif. Hasil penelitian resiliensi perawat pada dimensi control and factor . ontrol dan penyeba. , didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari perawat memiliki resiliensi tinggi . 1%) dan resiliensi sedang sebesar 33. Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi control and factor, responden yang menjawab selalu benar paling rendah pada item pernyataan nomor 23, yaitu dengan 23. 5% perawat suka tantangan dalam bekerja. Kemudian responden yang menjawab selalu benar paling tinggi pada item pertanyaan nomor 4, yaitu dengan 33. perawat dapat menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup. Dimensi ini mencakup kemampuan mengendalikan diri dan mampu mengatur diri sendiri (Connor & Davidson. Hal ini menunjukkan bahwa perawat dapat mengendalikan dirinya saat menghadapi Hasil penelitian resiliensi perawat pada dimensi spiritual influences . , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki resiliensi yang tinggi . 5%) dan hanya sebagian kecil . perawat yang memiliki resiliensi sedang. Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi spiritual influences, responden yang menjawab selalu benar paling rendah pada item pernyataan nomor 7, yaitu dengan 27. 0% perawat menyatakan bahwa pengalaman menangani stress dapat membuatnya semakin kuat. Kemudian responden yang menjawab selalu benar paling tinggi pada item pertanyaan IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. nomor 3, yaitu dengan 53. 9% perawat peracaya tuhan membatu setiap permasalahan. Spritualitas menjadikan seseorang merasa lebih tenang dalam menghadapi masalah, dan memunculkan pemikiran yang positif dan perasaan bahagia serta memiliki daya juang yang tinggi (Valentien & Huwae, 2. Individu yang memiliki kepercayaan pada Tuhan akan melihat masalah sebagai bagian dari takdir yang harus dihadapi dengan sikap positif, mendorong mereka untuk terus berjuang demi mencapai tujuan. Pada dimensi ini didapatkan jumlah perawat yang memiliki resiliensi tinggi lebih banyak dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan perawat memiliki kepercayaan pada Tuhan akan masalah yang dihadapi dan takdir yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian resiliensi terhadap perawat yang bertugas saat Covid-19, sebagian besar perawat memiliki resiliensi yang tinggi . 0%). Berdasarkan hasil penelitian resiliensi terhadap perawat yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19 saat bertugas, sebagian besar perawat memiliki . 7%). Ini menunjukkan bahwa pengalaman kesulitan seorang perawat dapat mengakibatkan resiliensinya semakin tinggi pula. Ketika sudah terbiasa dengan situasi yang sulit, saat situasi sulit itu telah berlalu maka resiliensi perawat akan membaik dengan sendirinya. Self-efficacy Hasil analisis univariat pada variabel self-efficacy menunjukkan hampir seluruh perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi . 3%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Rudiyanto et al. , 2. , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki self-efficacy yang tinggi . 2%). Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian (Nuriyanti et al. , 2. pada perawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping bahwa sebagian besar dari perawat memiliki selfefficacy yang tinggi . 7%). Berdasarkan hasil penelitian selfefficacy perawat pada dimensi magnitude . , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat self-efficacy JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 yang tinggi . 1%) dan hanya 13. 9% perawat yang memiliki tingkat self-efficacy yang sedang pada dimensi ini. Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi magnitude, responden yang menjawab sangat setuju paling rendah pada item pernyataan nomor 4, yaitu 6% perawat tahu bagaimana harus bertindak dalam situasi tidak terduga. Kemudian responden yang menjawab sangat setuju paling tinggi pada item pertanyaan nomor 1, yaitu dengan 37. 4% perawat dapat menyelesaikan masalah sulit jika bersungguhsungguh. Dimensi ini mengacu pada taraf kesulitan tugas yang diyakini individu untuk dapat mengatasinya (Aprilia et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perawat yang tidak tahu bagaimana harus bertindak saat tidak terduga. Pada dimensi ini didapatkan jumlah perawat yang memiliki self-efficacy tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan dimensi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian selfefficacy perawat pada dimensi strenght . , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi . 4%) dan hanya 9. 6% perawat yang memiliki tingkat self-efficacy yang Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi strenght, responden yang menjawab sangat setuju paling rendah pada item pernyataan nomor 3, yaitu 7% perawat mudah menetapkan dan mencapai tujuan. Kemudian responden yang menjawab sangat setuju paling tinggi pada item pertanyaan nomor 6, yaitu dengan 0% perawat dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi jika bersungguh-sungguh. Dimensi strength . berkaitan dengan keyakinan atau pengharapan individu terhadap Pengharapan yang lemah mudah digoyahkan dengan pengalamanpengalaman Sebaliknya, pengharapan yang kuat akan mendorong individu untuk tetap bertahan (Harfika et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa perawat yakin bias menyelesaikan masalah jika bersungguh-sungguh. Pada dimensi ini didapatkan jumlah perawat yang IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. memiliki self-efficacy tinggi lebih banyak dibandingkan dengan dimensi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian selfefficacy perawat pada dimensi generality . , didapatkan hasil bahwa hampir seluruh perawat memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi . 8%) dan hanya 12. 2% perawat yang memiliki tingkat self-efficacy yang Berdasarkan didapatkan hasil untuk dimensi generality, responden yang menjawab sangat setuju paling rendah pada item pernyataan nomor 5, yaitu 8% perawat bias menangani situasi terduga berkat Kemudian responden yang menjawab sangat setuju paling tinggi pada item pertanyaan nomor 10, yaitu dengan 28. 7% perawat dapat menangani masalah dengan caranya. Dimensi ini berkaitan dengan individu merasa mampu melakukannya, individu dapat merasa yakin terhadap kemampuannya (Adinda, 2. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perawat yang tidak yakin terhadap pengetahuannya. Berdasarkan hasil penelitian selfefficacy terhadap perawat yang bertugas saat Covid-19, hampir seluruh perawat memiliki self-efficacy yang tinggi . 8%). Berdasarkan hasil penelitian self-efficacy terhadap perawat yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19 saat bertugas, hampir seluruh perawat memiliki self-efficacy yang tinggi . 5%). Ini menunjukkan bahwa pengalaman kesulitan seorang perawat dapat mengakibatkan selfefficacy semakin tinggi pula. Sama halnya dengan resiliensi perawat, self-efficacy perawat yang sudah terbiasa menghadapi situasi sulit, saat telah berhasil melaluinya maka self-efficacy perawat itu akan semakin bagus dengan sendirinya. Hubungan Karakteristik Responden dengan Resiliensi dan Self-efficacy Berdasarkan hasil uji chi-square tidak ada satupun karakteristik responden yang berhubungan dengan resiliensi perawat. Hal ini disebabkan karena karakteristik responden mungkin tidak selalu mempengaruhi resiliensi perawat karena beberapa alasan kompleks. Terdapat beberapa faktor yang dapat JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 menjelaskan mengapa karakteristik tertentu mungkin tidak selalu berhubungan langsung dengan resiliensi perawat, diantaranya seperti variabilitas individu, kompleksitas faktor kontekstual, pengaruh kepribadian emosi, keterampilan koping dan sumber daya internal, intervensi dan dukungan eksternal, serta perubahan dan adaptasi (Ulina Mariani, 2. Berdasarkan hasil uji chi-square tidak ada satupun karakteristik responden yang berhubungan dengan self-efficacy perawat. Terdapat karakteristik responden tidak memiliki hubungan dengan self-efficacy perawat, diantaranya seperti homogenitas populasi, faktor lain yang lebih dominan, instrumen pengukuran self-efficacy mungkin tidak sensitif terhadap variasi dalam karakteristik demografis, ukuran sampel yang kecil, control variabel, dll (Salendu et al. , 2. Hubungan Self-efficacy dengan Resiliensi Berdasarkan hasil analisis bivariat pada penelitian ini didapatkan bahwa hasil pvalue 0. 000 yang dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara selfefficacy dengan resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Martini, et al. , 2. yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan resiliensi pada perawat dengan nilai p-value 0. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian (Asih, 2. yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan positif antara variabel self-efficacy terhadap resiliensi perawat pelaksana dengan p-value sebesar 0. Tingginya dipengaruhi oleh positifnya self-efficacy, hal tersebut menunjukkan bahwa perawat yang memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi tugas-tugas yang ia hadapi, maka ia akan mampu menghadapi kesulitan ataupun tantangan dalam pekerjaan (Rode et , 2. Sumber daya pribadi seperti selfefficacy merupakan faktor kunci dalam peningkatan resiliensi perawat. Self-efficacy positif dikaitkan dengan motivasi, energi, dan harapan sukses yang positif yang diarahkan IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. pada diri sendiri, berdasarkan keyakinan pada kompetensi dan kemampuan seseorang, resiliensi diartikan sebagai kemampuan individu untuk pulih dengan cepat dan mudah dari kemunduran yang terjadi dalam hidupnya (Cabrera-Aguilar et al. , 2. Self-efficacy terhadap kempuan dirinya mampu meregulasi fungsi diri sebagai manusia dan kesejahteraan emosional mereka melalui pemrosesan kognitif, motivasional, afektif dan prosesproses selektif. Individu yang memiliki keyakinan diri akan dapat menghadapi kesulitan dan mempertahankan keyakinan bahwa mereka mampu melakukan kontrol atas pikiran untuk berusaha lebih dan bertahan dalam usaha-usaha mereka. Mereka lebih mungkin untuk menolak pikiran negatif tentang diri mereka sendiri (Utami, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sebagian besar dari perawat memiliki resiliensi yang tinggi. Hampir seluruh perawat memiliki self-efficacy yang tinggi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakateristik responden dengan resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakateristik responden dengan self-efficacy pada perawat di RSUD Padang Terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan resiliensi pada perawat di RSUD Padang. Saran Diharapkan kepada manager keperawatan untuk dapat lebih memperhatikan lagi mengenai resiliensi dan self-efficacy perawat agar perawat memiliki tingkat resiliensi dan self-efficacy yang tinggi dalam seluruh aspek dimensi, terkhusus untuk dimensi yang masih rendah, seperti dimensi trust in oneAos instincts dimana perawat dapat tenang dalam bertindak, berhati-hati dalam menangani masalah, dan efektif menangani stres, manager keperawatan menfasilitasi perawat berupa konseling bagi perawat dan lebih memperhatikan kesehatan mental perawat. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 DAFTAR PUSTAKA