PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 Pelatihan Literasi Politik dalam Peningkatan Partisipasi Pemilih Pemula pada Pelajar di Kota Batam Ageng Rara Cindoswari1*. Lubna Salsabila1. Riswandi1. Rahma Alia1. Elisa1. Ayu Wulandari1. Ras Gustini Gea1 Universitas Putera Batam Jln. Soeprapto. Muka Kuning. Batam 29452 - Indonesia Email korespondensi: cindoswari@puterabatam. Submitted: December 17, 2025. Revised: December 20, 2025. Accepted: December 24, 2025 Accredited by Kemristekdikti No. 204/E/KPT/2022 Abstract - This community service activity aims to improve the political literacy of first-time voters among students in Batam City, with a focus on developing political attitudes, political behavior, and understanding the influence of education and the media. The training materials covered Analysis and Evaluation of Political Social Media Content in the Digital Age. Media Literacy & Anticipating Hoax News, and Youth Political Literacy in the Digital Age. The implementation methods involved lectures, discussions, and simulations, which were attended by 12th grade students at SMAS Plus Al-Ustmaniyah Queen Al Falah. The pretest evaluation results showed that most students . %) demonstrated a good basic understanding of the importance of participating in elections, while the post-test results showed a significant increase, with 80% of students demonstrating a deeper understanding of political attitudes and the influence of the media on voters. In addition, an analysis of political behavior showed that 60% of students intended to exercise their right to vote in the upcoming elections. The discussion shows that despite an increase in political attitudes and behavior, there are still doubts regarding the credibility of information from social media, which indicates the need to strengthen media literacy. The sustainability of this activity is expected to be achieved through the implementation of ongoing training and integration into the formal education Keywords: Political Education. Media Literacy Training. Elections. First-Time Voters. Participation Abstrak - Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi politik pemilih pemula di kalangan pelajar di Kota Batam, dengan fokus pada pengembangan sikap politik, perilaku politik, dan pemahaman pengaruh pendidikan serta media. Materi pelatihan mencakup Analisis dan Evaluasi Konten Media Sosial Politik di Era Digital. Literasi Media & Antisipasi Berita Hoax, dan Literasi Politik Pemuda di Era Digital. Metode pelaksanaan melibatkan ceramah, diskusi, dan simulasi, yang diikuti oleh siswa kelas 12 di SMAS Plus Al-Ustmaniyah Queen Al Falah. Hasil evaluasi pretest menunjukkan bahwa sebagian besar siswa . %) menunjukkan pemahaman dasar yang baik mengenai pentingnya partisipasi dalam pemilu, sedangkan hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan, dengan 80% siswa menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai sikap politik dan pengaruh media terhadap pemilih. Selain itu, analisis terhadap perilaku politik menunjukkan bahwa 60% siswa memiliki niat untuk menggunakan hak pilih mereka pada pemilu mendatang. Pembahasan menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan dalam sikap dan perilaku politik, masih terdapat keraguan terkait kredibilitas informasi dari media sosial, yang menunjukkan perlunya penguatan literasi media. Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pelatihan berkelanjutan dan integrasi dalam kurikulum PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 pendidikan formal. Kata Kunci: Pendidikan Politik. Pelatihan Literasi Media. Pemilu. Pemilih Pemula. Partisipasi Pemilih PENDAHULUAN Partisipasi pemilih pemula menjadi suatu hal yang sangat penting dalam menentukan arah masa depan demokrasi. Menurut data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkad. tahun 2020, partisipasi pemilih mencapai 77,5%, meskipun terdapat perbandingan dengan Pemilu Serentak yang menunjukkan angka berbeda, di mana partisipasi pemilih dilaporkan mengalami penurunan (Arif, 2. Data ini menjadi alarm bagi stabilitas demokrasi, terutama pada Pemilu 2024, di mana suara pemilih muda berperan krusial dalam menentukan hasil pemilihan. Tren penggunaan media sosial juga memainkan peranan penting dalam meningkatkan kesadaran politik di kalangan pemilih muda. Riset menunjukkan, media sosial dapat meningkatkan literasi politik dengan memperluas akses informasi tentang pemilu dan mekanisme demokrasi (Satria et al. , 2. Melalui platform-platform ini, pemilih pemula tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga dapat terlibat dalam dialog politik yang lebih adaptif dan interaktif (AlAaSuqri et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital harus dioptimalkan untuk mendukung pendidikan politik di kalangan generasi muda. Meskipun ada potensi peningkatan melalui teknologi, terdapat tantangan besar dalam literasi politik di kalangan pemilih pemula. Kurangnya pemahaman tentang mekanisme pemilihan dan hakhak sebagai pemilih menjadi masalah mendasar. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pemilih muda yang tidak memiliki pengetahuan memadai tentang prosedur pemilu, baik di tingkat lokal maupun nasional (Pebriyenni et al. , 2. Ini berakibat pada rendahnya partisipasi tidak hanya dalam pemilu tetapi juga dalam kegiatan politik lainnya, seperti diskusi atau protes, yang seharusnya menjadi bagian dari proses demokrasi. Lebih lanjut, pengaruh informasi yang tidak akurat dan berita palsu di media sosial juga menambah kompleksitas masalah ini. Para peneliti mencatat bahwa fenomena ini membuat pemilih muda lebih rentan terhadap manipulasi dan bias, yang pada akhirnya mengganggu proses pengambilan keputusan politik mereka (Satria et al. , 2. Situasi ini mendesak perlunya penguatan literasi politik sebagai dasar pengajaran di kalangan pelajar. Walaupun banyak penelitian yang mengkaji literasi politik dan partisipasi pemilih, masih terdapat kekurangan dalam pendekatan praktis yang dapat diterapkan secara lokal. Banyak studi yang bersifat teoritis dan tidak mempertimbangkan konteks spesifik daerah atau proses belajar yang sesuai untuk pemilih muda (Irwan et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat yang kami usulkan berfokus pada pelatihan yang bersifat praktis dan interaktif, termasuk penggunaan teknologi untuk memperkenalkan konsep-konsep dasar dalam literasi politik serta peran mereka dalam demokrasi. Di samping itu, penelitian sebelumnya cenderung kurang menyoroti mobilisasi dan interaksi di lingkungan sekolah, yang merupakan salah satu tempat penting di mana pemahaman politik seharusnya dimulai (Sanjaya & Mensana, 2. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan kegiatan yang mencakup tidak hanya pendidikan formal tetapi juga pengalaman langsung yang dapat meningkatkan keterampilan politik para pelajar. Berdasarkan observasi pendahuluan di beberapa sekolah mitra di Batam, pendidikan kewarganegaraan yang ada dinilai masih terlalu normatif dan belum mampu menjawab keingintahuan pelajar tentang dinamika politik praktis (Data Observasi, 2. Belum adanya forum atau pelatihan khusus yang membedah sistem politik Indonesia secara renyah dan relevan bagi anak muda membuat jarak antara pelajar dan negara semakin lebar. Melihat kondisi tersebut, terdapat urgensi untuk melakukan intervensi akademis melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Oleh PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 karena itu, diperlukan solusi konkret berupa program yang menyasar akar masalah tersebut. Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk menjawab dua permasalahan utama di atas melalui pendekatan: . Pelatihan dan . Sosialisasi. Pengabdian kepada masyarakat yang diusulkan ini bertujuan untuk membekali pemilih pemula, khususnya pelajar di Kota Batam, dengan kemampuan dasar dalam memahami proses politik dan pentingnya partisipasi. Melalui pelatihan literasi politik yang menyeluruh, kami berupaya untuk mengedukasi siswa tentang hak-hak mereka, prosedur pemilu, dan isu-isu kebijakan terkini (Sanjaya & Mensana, 2. Ini merupakan langkah penting dalam menciptakan pemilih yang terinformasi dan aktif, yang pada gilirannya dapat membantu memperkuat demokrasi Indonesia. Kegiatan ini secara spesifik mengangkat tema AuLiterasi Digital dan Pendidikan Politik dalam Peningkatan Partisipasi Pemilih PemulaAy. Tema ini dipilih sebagai respon strategis untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan sistem politik dan tantangan era digital. Adapun permasalahan yang ditemukan terkait dengan pemilih pemula Adalah: . Rendahnya tingkat literasi pemuda terkait dengan pengetahuan Sistem Politik Indonesia. Semakin tingginya golongan putih dan kaum kaula yang lebih memilih untuk tidak berpartisaipasi dalam kegiatan kepemerintahan. Oleh karena itu, dengan membekali mereka "senjata" berupa literasi, diharapkan pelajar di Batam memiliki imunitas terhadap hoaks dan motivasi intrinsik untuk Secara keseluruhan, pembinaan ini diharapkan akan memberikan kontribusi praktis dalam membekali pengetahuan masyarakat, terutama pemuda, terkait pentingnya keterlibatan pemilih pemula dalam proses pemerintahan yang lebih baik. Dengan demikian, target jangka panjang untuk menciptakan ekosistem demokrasi yang sehat di Kota Batam, yang didukung oleh pemilih yang cerdas dan partisipatif, dapat terwujud secara bertahap melalui pengabdian masyarakat ini. II. KERANGKA TEORI Literasi digital merupakan kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, menggunakan, dan berkomunikasi melalui informasi yang diperoleh secara digital. Di tengah era informasi yang berkembang pesat, literasi digital menjadi keterampilan penting bagi individu dalam menghadapi tantangan media digital. Menurut Wuryaningrat et al. , generasi milenial sebagai kelompok populasi yang dominan di Indonesia, memiliki potensi besar dalam konteks digital, tetapi juga menghadapi tantangan dalam pemanfaatan informasi secara efektif. Peningkatan literasi digital perlu dilakukan untuk memperkuat kapasitas generasi ini dalam menggunakan media digital secara produktif (Wuryaningrat et al. , 2. Literasi politik adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan berpartisipasi dalam proses demokrasi. Pendidikan politik di kalangan generasi muda di Indonesia sangat penting mengingat mereka adalah pemilih di masa depan yang dapat memengaruhi arah kebijakan publik. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemilih muda memiliki potensi besar dalam politik, banyak dari mereka yang kurang pengetahuan tentang hak dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara (Wuryaningrat et al. , 2021. Izza et al. , 2. Salah satu studi yang dilakukan oleh Assidiq et al. Assidiq et al. menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan mengenai proses pemilu di kalangan pemilih pemula setelah adanya program pendidikan politik. Ini menunjukkan bahwa dengan pendidikan yang tepat, pemilih pemula dapat lebih memahami hak-hak dan tanggung jawab mereka dalam sistem Interaksi antara pemilih pemula dengan masyarakat dan institusi pemerintahan juga dapat membersihkan keraguan dan meningkatkan kepercayaan terhadap pemilu. Namun, tantangan yang dihadapi pemilih pemula tetap ada, seperti akses informasi yang buruk dan kesulitan dalam memahami sistem pemilu yang kompleks. Pfoerringer et al . menunjukkan bahwa ketidaktahuan mengenai operasional pemilu dapat menyebabkan apatis dan ketidakberdayaan. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan inovatif yang dapat menjangkau kalangan muda melalui platform digital PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 dan media sosial yang mereka gunakan (Pfoerringer et al. ,2. Hoax merupakan informasi palsu atau menyesatkan yang sering disebarluaskan melalui media Dalam konteks ruang informasi saat ini, munculnya hoax menjadi tantangan besar, terutama bagi generasi muda yang lebih rentan terhadap dampaknya (Naeem & Boulos, 2021. Eysenbach. Bagaimana melawan hoax memerlukan pemahaman yang kuat mengenai literasi informasi. Literasi informasi dan digital memiliki peran penting dalam memerangi hoax. Menurut Nazaruddin et al . , literasi ini dapat membantu individu dalam menilai informasi yang diterima melalui berbagai saluran. Dengan pendidikan yang tepat, individu bisa dilatih untuk lebih skeptis terhadap informasi yang beredar dan bertanya-tanya tentang keakuratannya sebelum membagikannya. Generasi milenial memiliki posisi yang unik dan strategis dalam politik, terutama pada pemilihan umum. Sebagai kelompok yang paling terhubung secara digital, mereka memiliki kapasitas untuk mengorganisir, mengungkapkan pendapat, dan melakukan mobilisasi untuk isu-isu politik (Anwar & Fauzianty, 2. Data menunjukkan bahwa proporsi generasi milenial sebagai pemilih terus meningkat, dan mereka diharapkan menjadi pendorong utama dari partisipasi pemilih secara keseluruhan. Pendidikan dan pemahaman yang memadai tentang politik sangat penting bagi generasi ini. Assidiq et al. Assidiq et al. mencatat bahwa meskipun ada potensi besar dalam partisipasi politik, banyak dari mereka merasa kurang dilibatkan dalam proses politik. Oleh karena itu, program literasi politik dan pelatihan berbasis pengetahuan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketertarikan dan kesiapan mereka dalam penghadapan pemilu. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdiaan masyarakat dilaksanakan di SMAS Plus Al-Ustmaniyah Queen Al Falah dengan durasi 4 jam, dimulai jam 08. 00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali tatap muka secara berurutan dengan sasaran siswa/siswi kelas 12. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim pengabdi dapat memberikan manfaat dengan menerapkan beberapa metode pelaksanaan kegiatan dengan jadwal sebagai berikut (Tabel . dan susunan acara (Tabel . Tabel 1. Metode Pelaksanaan Kegiatan Materi Program Kegiatan Metode Kegiatan Analisis dan Evaluasi Pada Konten Media Sosial Politik di Era Digital Literasi Media & Antisipasi Berita Hoax Praktek & Simulasi Ceramah & Diskusi Literasi Politik Pemuda di Era Digital Ceramah & Diskusi Sumber: Penulis . Tabel 2. Susunan Acara Kegiatan No. Tanggal Kegiatan 22 Mei 2024 Waktu 00 Ae 08. 10 Ae 08. 20 Ae 08. 30 Ae 09. 30 Ae 10. Kegiatan Narasumber Pembukaan Ketua Pengabdi Anggota Sambutan oleh Ketua Pengabdi Pegabdi Pembacaan Doa Pengisian Kuesioner Penyampaian Materi tentang Analisis dan Evaluasi Pada Konten Media Sosial Politik di Era Digital PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 00 Ae 10. 30 Ae 11. 30 Mei 2024 30 Ae 11. 50 Ae 12. 00 Ae 09. 10 Ae 10. 30 Ae 11. 30 Ae 11. 50 Ae 12. Diskusi Penyampaian Materi tentang Literasi Media dan Hoax Diskusi Penutup Pembukaan Ketua Pengabdi Anggota Penyampaian Materi tentang dan Literasi Politik Pemuda di Pengabdi Era Digital Diskusi Pengisian Kuesioner Penutup Sumber: Penulis . Untuk memastikan ketercapaian tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini, maka kami menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan. Teknik evaluasi dilakukan dengan mengacu pada beberapa kriteria evaluasi, indikator pencapaian, dan tolok ukur yang spesifik (Tabel . Tabel 3. Teknik Evaluasi Kegiatan No. Kriteria Evaluasi Pemahaman Politik Indikator Pencapaian Persentase yang lebih baik tentang hak Persentase mampu menjelaskan prosedur pemilu dan tahapan-tahapan Persentase peserta yang setuju atau sangat setuju dengan pentingnya partisipasi dalam pemilu setelah mengikuti Perubahan Sikap Politik Peningkatan sikap positif terhadap penggunaan hak pilih Persentase mereka pada pemilu yang akan Perilaku Politik Pemanfaatan Media Sosial Tolok Ukur menjelaskan dengan benar prosedur pemilu dan hak-hak 80% peserta menyatakan partisipasi dalam pemilu. 75% peserta setuju atau partisipasi dalam pemilu merupakan tanggung jawab 65% peserta menunjukkan perubahan sikap yang lebih setelah mengikuti pelatihan. 60% peserta menyatakan niat untuk menggunakan hak pilih mereka dalam pemilu 50% peserta melaporkan Persentase peserta yang lebih peningkatan aktifitas dalam aktif dalam mencari informasi mengikuti berita politik atau mengenai politik dan pemilu. Persentase peserta yang dapat 80% membedakan antara informasi mengidentifikasi informasi PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 yang valid dan hoaks yang yang valid dan hoaks di beredar di media sosial. media sosial. 70% peserta menggunakan Peningkatan peserta dalam menggunakan media sosial sebagai alat untuk mencari informasi politik yang Metode evaluasi pelatihan ini dilakukan dengan: . Pre-test dan Post-test, ntuk mengukur perubahan pemahaman politik peserta sebelum dan setelah mengikuti pelatihan. Kuesioner dan Survei, untuk mengetahui perubahan sikap, perilaku politik, serta pemanfaatan media sosial oleh . Diskusi dan Wawancara, untuk mendapatkan umpan balik langsung dari peserta tentang materi pelatihan dan pengaruhnya terhadap pemahaman mereka. Keberlanjutan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat penting untuk memastikan bahwa tujuan jangka panjang, yakni meningkatkan literasi politik di kalangan pemilih pemula, dapat tercapai dengan efektif. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis perlu dirancang untuk memperluas dampak positif dari pelatihan literasi politik ini agar berkelanjutan di masa mendatang. Integrasi dalam Kurikulum Pendidikan. Kegiatan pelatihan literasi politik yang dilakukan pada tahap ini dapat menjadi model untuk program serupa yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal, terutama di tingkat sekolah menengah atas (SMA) di Kota Batam dan daerah Penggabungan materi literasi politik, media, dan pemilu dalam kurikulum wajib dapat meningkatkan kesadaran politik generasi muda secara lebih sistematis dan terstruktur. Dengan cara ini, literasi politik dapat diterima secara lebih luas dan mendalam oleh seluruh siswa. Penyelenggaraan Pelatihan Berkelanjutan. Kegiatan ini sebaiknya tidak berhenti pada satu kali pertemuan, melainkan dilanjutkan dengan penyelenggaraan pelatihan dan workshop secara Program ini dapat dilaksanakan setiap tahun atau bahkan setiap semester untuk memastikan bahwa peserta terus mendapatkan informasi terbaru mengenai dinamika politik, pemilu, serta pentingnya partisipasi dalam proses demokrasi. Penyelenggaraan pelatihan juga dapat melibatkan alumni untuk berbagi pengalaman mereka dalam berpartisipasi di pemilu, sehingga menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih hidup dan dinamis. Peningkatan Kolaborasi dengan Media dan Lembaga Pemerintah. Keberlanjutan program ini juga dapat dicapai dengan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti media massa, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah yang fokus pada pendidikan politik. Melalui kemitraan dengan media, informasi yang relevan dan akurat tentang pemilu dan isu-isu politik dapat terus disebarkan, sekaligus memerangi berita hoaks yang banyak beredar di kalangan pemilih muda. Selain itu, keterlibatan lembaga pemerintah dalam program ini dapat membantu memberikan materi yang sesuai dengan regulasi terkini serta kebijakan publik yang memengaruhi pemilu. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan ini untuk sesi pertama diselenggarakan pada 22 Mei 2024 mulai pukul 08. 00 WIB dengan acara pembukaan. Setelah itu, pada pukul 08. 10 WIB. Ketua Pengabdi memberikan sambutan, diikuti dengan pembacaan doa pada pukul 08. 20 WIB. Setelah rangkaian pembukaan selesai, peserta mengisi kuesioner dari pukul 08. 30 WIB hingga 09. 30 WIB. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang "Analisis dan Evaluasi Pada Konten Media Sosial Politik Di Era Digital" dari pukul 09. 30 WIB hingga 10. 00 WIB. Usai penyampaian materi, diadakan sesi diskusi yang berlangsung selama setengah jam. Pada pukul 10. 30 WIB, dilanjutkan dengan penyampaian materi kedua tentang "Literasi Media dan Pencegahan Hoax" yang berlangsung hingga pukul 11. WIB. Kegiatan ini kembali dilanjutkan dengan sesi diskusi selama 20 menit. Acara diakhiri dengan penutupan pada pukul 11. 50 WIB hingga 12. 00 WIB. PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 Gambar 1. Literasi Media dan Pencegahan Hoax Gambar 2. Simulasi Analisis dan Evaluasi Pada Konten Media Sosial Politik Kegiatan pengabdian kepada masyarakat sesi kedua dilaksanakan 30 Mei 2024. Acara dimulai pada pukul 09. 00 WIB dengan pembukaan yang dipimpin oleh Ketua Pengabdi dan Anggota Pengabdi. Selanjutnya, materi tentang "Literasi Politik Pemuda di Era Digital" disampaikan mulai 10 WIB hingga 10. 30 WIB. Sesi ini diikuti dengan diskusi selama setengah jam, hingga 00 WIB. Setelah diskusi, peserta mengisi kuesioner dari pukul 11. 30 WIB hingga 11. WIB. Kegiatan ditutup pada pukul 11. 50 WIB hingga 12. 00 WIB. Kedua kegiatan ini menunjukkan komitmen pengabdi dalam meningkatkan literasi politik dan media di kalangan masyarakat, terutama di era digital yang terus berkembang. PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 Pada sesi pertemuan pertama, kuesioner dibagikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat Pengetahuan Politik. Sikap Politik. Perilaku Politik, dan Pengaruh Pendidikan dan Media siswa. Hasil dari kuesioner adalah sebagai berikut: Pengetahuan Politik Sangat Tidak Tidak Setuju Setuju X1. X1. Netral X1. Setuju Sangat Setuju X1. Tabel 4. Grafik Hasil Pengukuran Pengetahuan Politik Peserta Merujuk Tabel 4, sebagian besar siswa . %) menyatakan setuju atau sangat setuju dengan pemahaman pentingnya partisipasi dalam pemilu (X1. Hal ini menunjukkan bahwa siswa cukup menyadari pentingnya berpartisipasi dalam pemilu. Siswa juga memiliki pengetahuan yang baik mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai pemilih (X1. , dengan 65% siswa setuju atau sangat Untuk item ini, 55% siswa menyatakan setuju atau sangat setuju, sementara 15% siswa tidak Ini menunjukkan ada beberapa siswa yang masih kesulitan dalam membedakan antara partai politik dan calon legislative (X1. Hasil untuk item X1. 4 hampir sama dengan X1. 3, dengan 55% siswa setuju atau sangat setuju dan 15% siswa tidak setuju. Ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih perlu penjelasan lebih lanjut mengenai proses dan tahapan pemilu. Secara umum, siswa memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya partisipasi dalam pemilu dan mengetahui hak serta kewajiban mereka sebagai Namun, ada beberapa siswa yang masih memerlukan pemahaman lebih lanjut tentang membedakan partai politik dan calon legislatif serta proses dan tahapan pemilu. Pelatihan atau pembelajaran tambahan mungkin diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa pada aspekaspek tersebut. Sikap Politik Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju X2. Netral X2. X2. Setuju Sangat Setuju X2. PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 Tabel 5. Grafik Hasil Pengukuran Sikap Politik Peserta Lebih lanjut dari Tabel 5, sebagian besar siswa . %) merasa penting untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu (X2. , menunjukkan kesadaran yang baik tentang pentingnya partisipasi dalam Namun, ada 10% siswa yang tidak setuju, yang menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan kesadaran. Mayoritas siswa . %) mengetahui bahwa suara mereka dapat mempengaruhi hasil pemilu (X2. , dengan 35% siswa sangat setuju. Ini menunjukkan pemahaman yang baik tentang dampak suara dalam pemilu. Kemudian, sebanyak 70% siswa menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa pemilu merupakan tanggung jawab sebagai warga negara (X2. Ini menunjukkan kesadaran yang baik tentang tanggung jawab kewarganegaraan. Sebagian besar siswa . %) bersikap netral terhadap ketertarikan mereka dalam mengikuti berita dan informasi tentang politik (X2. , dan hanya 25% yang setuju. Tidak ada siswa yang sangat setuju, dan ada 10% yang tidak setuju. Ini menunjukkan bahwa ketertarikan siswa terhadap berita politik masih perlu ditingkatkan. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa siswa menunjukkan pemahaman yang baik tentang pentingnya menggunakan hak pilih, dampak suara mereka dalam pemilu, dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara. Namun, ketertarikan siswa dalam mengikuti berita dan informasi tentang politik masih perlu ditingkatkan. Upaya lebih lanjut mungkin diperlukan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam mengikuti perkembangan Perilaku Politik Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju X3. Netral X3. X3. Setuju Sangat Setuju X3. Tabel 6. Grafik Hasil Pengukuran Perilaku Politik Peserta Terkait dengan perilaku politik (Tabel . , sebagian besar siswa . %) menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa mereka akan menggunakan hak pilih pada pemilu (X3. Ini menunjukkan niat yang baik untuk berpartisipasi dalam pemilu, meskipun 40% siswa bersikap netral. Mayoritas siswa . %) bersikap netral tentang aktif mencari informasi mengenai pemilu (X3. , dengan hanya 20% yang menyatakan setuju atau sangat setuju. Ini menunjukkan bahwa siswa kurang aktif dalam mencari informasi tentang pemilu. Untuk X3. 3, 35% siswa menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa mereka aktif berdiskusi tentang isu-isu politik, sementara 45% bersikap netral dan 20% tidak Ini menunjukkan ada keinginan untuk berdiskusi tentang politik, tetapi tidak semua siswa terlibat aktif. Sebagian besar siswa . %) bersikap netral terhadap keaktifan mereka dalam mengikuti kegiatan kampanye politik (X3. , dengan hanya 30% yang setuju atau sangat setuju, dan 10% sangat tidak setuju. Ini menunjukkan bahwa ketertarikan siswa dalam mengikuti kampanye politik masih rendah. Secara keseluruhan, siswa menunjukkan niat yang baik untuk menggunakan PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 hak pilih pada pemilu, tetapi masih kurang aktif dalam mencari informasi mengenai pemilu, berdiskusi tentang isu-isu politik, dan mengikuti kegiatan kampanye politik. Upaya lebih lanjut mungkin diperlukan untuk meningkatkan minat dan partisipasi siswa dalam aktivitas politik yang lebih mendalam dan aktif. Pengaruh Pendidikan dan Media X4. Sangat Tidak Setuju X4. Tidak Setuju X4. Netral X4. Setuju Sangat Setuju Tabel 7. Grafik Hasil Pengukuran Pengaruh Pendidikan dan Media Selanjutnya, terkait dengan pengaruh Pendidikan dan media sosial (Tabel . , sebagian besar siswas . %) setuju atau sangat setuju bahwa informasi terkait pentingnya partisipasi dalam pemilu dibutuhkan (X4. , menunjukkan kesadaran akan kebutuhan informasi tersebut. Namun, 30% siswa bersikap netral dan 10% tidak setuju. Sebanyak 70% siswa setuju atau sangat setuju bahwa mereka mengetahui sumber informasi utama tentang politik melalui media sosial (X4. Ini menunjukkan peran signifikan media sosial sebagai sumber informasi politik bagi siswa. Mayoritas siswa . %) bersikap netral mengenai kepercayaan terhadap informasi dari media sosial (X4. , dengan hanya 10% yang setuju dan tidak ada yang sangat setuju. Ini menunjukkan keraguan terhadap kredibilitas informasi politik dari media sosial. Sebagian besar siswa . %) bersikap netral tentang pentingnya menonton berita politik di media (X4. , sementara 20% sangat tidak setuju dan hanya 15% yang setuju atau sangat setuju. Ini menunjukkan kurangnya minat dalam menonton berita politik di media. Berdasarkan analisis data yang diberikan, terdapat perubahan positif dalam beberapa aspek pengetahuan, sikap, perilaku politik, dan pengaruh pendidikan serta media terhadap responden. Pengetahuan Politik: Terlihat bahwa mayoritas responden telah beralih dari level "Setuju" ke "Sangat Setuju" dalam X1. X1. 2, dan X1. 4, menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman tentang isu politik tertentu. Sikap Politik: Terjadi peningkatan positif yang mencolok dari "Setuju" ke "Sangat Setuju" pada X2. 2 dan X2. 4, menunjukkan perubahan sikap yang lebih mendukung terhadap posisi politik yang diambil. Perilaku Politik: Terlihat pergeseran positif dari "Setuju" ke "Sangat Setuju" pada X3. X3. dan X3. 4, menandakan peningkatan dalam partisipasi aktif dalam perilaku politik. Pengaruh Pendidikan dan Media: Dapat dilihat bahwa banyak responden yang beralih dari "Setuju" ke "Sangat Setuju" pada X4. 3 dan X4. 4, menunjukkan bahwa pendidikan dan media memiliki pengaruh yang semakin besar dalam membentuk pemahaman dan sikap politik responden. Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya perubahan positif yang mencolok dalam pengetahuan, sikap, perilaku politik, serta pengaruh pendidikan dan media terhadap responden, mencerminkan meningkatnya kesadaran dan keterlibatan dalam konteks politik. PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 Pembahasan Berdasarkan hasil analisis, terlihat bahwa terdapat perubahan positif yang signifikan dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap, perilaku politik, serta pengaruh pendidikan dan media terhadap Peningkatan dari level "Setuju" ke "Sangat Setuju" pada sejumlah item menunjukkan bahwa ada kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya partisipasi dalam pemilu, dampak suara dalam proses politik, tanggung jawab sebagai warga negara, serta pengaruh media sosial sebagai sumber informasi politik. Secara lebih spesifik, dalam konteks kepercayaan media, peningkatan yang signifikan pada item X4. engaruh pendidikan dan medi. menunjukkan bahwa responden semakin percaya pada informasi dari media sosial, meskipun masih ada keraguan terkait kredibilitasnya. Hal ini mencerminkan tantangan dalam mengelola dan menilai kepercayaan terhadap informasi politik dalam era digital yang kompleks ini. Analisis juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam mengelola dan menilai kepercayaan terhadap informasi politik di era digital ini. Faktor-faktor seperti ketergantungan pada media, kejujuran, bias, akurasi, dan kelengkapan informasi menjadi penting dalam evaluasi kepercayaan Penelitian ini merekomendasikan pengembangan metode penelitian yang lebih komprehensif untuk mengukur dimensi-dimensi kepercayaan tersebut secara lebih sistematis dan mendalam. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana perubahan teknologi media, terutama penggunaan media sosial, mempengaruhi dinamika kepercayaan publik terhadap media dan Dengan mempertimbangkan dampak media baru dalam membentuk opini politik, seperti yang terlihat dalam peningkatan pengaruh informasi dari media sosial dalam penelitian ini, studi lanjutan dapat membantu memahami perubahan landskap politik modern yang semakin terhubung dan terpengaruh oleh teknologi informasi. Dengan demikian, penelitian ini bukan hanya memberikan wawasan tentang perilaku siswa dalam konteks kepercayaan media dan politik, tetapi juga menyoroti relevansi pentingnya konteks global dan digital dalam membentuk sikap dan perilaku politik generasi muda. KESIMPULAN Rendahnya tingkat literasi pemuda tentang pengetahuan politik dapat ditingkatkan dengan kegiatan pembinaan ini. Hasil dari kegiatan ini menyatakan bahwa siswa menunjukkan peningkatan dalam pemahaman tentang pentingnya partisipasi dalam pemilu, dampak suara mereka dalam proses politik, dan tanggung jawab sebagai warga negara aktif. Namun demikian, masih ada kekhawatiran signifikan terkait dengan kredibilitas informasi dari media sosial, sehingga menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk meningkatkan literasi media dan kritis siswa terhadap sumber informasi Keterlibatan pemuda dan aksesibilitas pada media massa terkait dengan konten pendidikan politik dapat menekan angka golongan putih . menunjukkan bahwa pendidikan dan media memiliki pengaruh yang semakin besar dalam membentuk pemahaman dan sikap politik responden. Berdasarkan temuan ini, beberapa saran dapat diajukan: Institusi pendidikan dapat mempertimbangkan untuk memasukkan kurikulum yang lebih mengintegrasikan pelajaran tentang literasi media. Ini termasuk mengajarkan siswa untuk secara kritis menilai informasi yang mereka terima dari berbagai platform media, termasuk media sosial. Penting untuk mengembangkan keterampilan analitis siswa dalam memahami dan menafsirkan konten media politik. Ini dapat dilakukan melalui pelatihan tambahan, seminar, atau pelatihan yang fokus pada analisis kritis terhadap berita politik dan informasi dari media. Kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan media dapat membantu dalam menyediakan sumber informasi yang lebih terpercaya dan terkelola dengan baik bagi siswa. Kerjasama ini dapat membantu memperkuat kredibilitas informasi yang disampaikan kepada generasi muda. PARAHITA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 6. , 2025, 52-63 . Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi lebih dalam bagaimana perubahan teknologi media, khususnya media sosial, mempengaruhi persepsi dan perilaku politik siswa. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tambahan tentang bagaimana teknologi informasi memengaruhi dinamika politik dan kepercayaan masyarakat pada media. DAFTAR PUSTAKA