Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Syiar In The Verse: Nasyid Islamic Da'wah Art in Bandung 1990-2004. Reni Mardiani1 e Kronik Rons renimardiani26@gmail. Article history: Submitted: 10 June 2021 Accepted: 11 July 2021 Published: 21 November 2021 Abstract: This research explains the art of nasyid music as an art of Islamic dakwah in Bandung from 1990 to 2004, which was initially introduced as a chant to give speeches for Islamic student activists along with the spirit of defending Palestine and Afghanistan. This research uses historical method, namely topic choice, heuristics, source criticism, interpretation and The results of this study show that in its development nasyid is considered an art of music to offer resistance to Western music which affects young people, especially in urban Nasyid has become a modern Islamic music which has become one of the alternative music streams to convey Islamic preaching in addition to the art of entertainment, so that nasyid has become an influential dakwah art for the people of Bandung, especially young people, many of whom are more familiar with Islam until they migrate. In 2004 nasyid in Bandung experienced ups and downs in which nasyid became a national festival, but nasyid began to be neglected due to the existence of popular Indonesian musicians who began releasing religious albums. Keywords: Nasyid. Bandung. Da'wah Art Abstrak: Penelitian ini menerangkan tentang seni musik nasyid sebagai seni dakwah Islam di Bandung tahun 1990-2004, yang awal diperkenalkannya adalah senandung untuk berorasi bagi kalangan aktivis mahasiswa Islam. Penelitian ini menggunakan metodologi sejarah, yaitu Pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam perkembangannya nasyid dianggap sebagai seni musik untuk memberikan perlawanan terhadap musik Barat yang mempengaruhi kalangan muda khususnya di Nasyid menjadi musik islami modern yang menjadi salah satu aliran musik alternatif untuk menyampaikan dakwah Islam disamping untuk seni hiburan, sehingga nasyid menjadi seni dakwah yang berpengaruh bagi masyarakat Bandung khususnya kalangan muda yang banyak diantara mereka lebih mengenal Islam sampai ber-hijrah. Tahun 2004 nasyid di Bandung mengalami pasang surut yang mana nasyid menjadi ajang festival berskala nasional, namun nasyid mulai terabaikan karena adanya musisi populer tanah air yang mulai merilis album-album religi. Kata Kunci: Nasyid. Bandung. Seni Dakwah. P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2021 author. Published by SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani Pendahuluan Musik-musik islami sebagai kesenian Islam bukan merupakan hal baru bagi masyarakat muslim Indonesia, seperti tari Saman, shalawatan, termasuk musik tradisional yang berkembang di wilayah Sumatera dan Jawa, menjadi bukti bahwa musik Islam telah ada sejak Islam sendiri masuk ke Indonesia sekitar abad ke 8 - 13 M. Kesenian islami disamping sebagai hiburan juga digunakan sebagai seni untuk berdakwah (Poetra, 2004: 51-. Cara tersebut cukup efektif untuk menarik masyarakat agar memeluk agama Islam khususnya di Jawa dan terbukti banyak orang yang masuk agama Islam. Kreatifitas ini di wujudkan oleh para Wali dalam bentuk seni rakyat seperti Sunan Kalijaga menggunakan gamelan beserta tembang-tembang Jawa yaitu lir-ilir dalam menyampaikan Karya para wali tersebut masih bertahan meski banyak mengalami akulturasi budaya (Supriyanto, 2009: 2-. Dalam perkembangannya, musik islami di Indonesia semakin beragam, mulai dari kemunculan orkes gambus, hadrah, qasidah dan marawis dengan alat-alat musik khasnya yang berbeda-beda. Berbeda dengan jenis musik Islam lainnya yang memiliki ciri khas alat musik yang digunakan, akhir tahun 1980-an di Indonesia muncul musik Islam yang menekankan harmonisasi atau kekompakan vokalnya yang dikenal dengan istilah nasyid, digunakan sebagai media orasi dalam aksi pembelaan negara Islam karena terjadi konflik di Timur Tengah seperti di Palestina melawan Israel. Di Indonesia, pada umumnya yang melakukan aksi adalah para mahasiswa dari kalangan aktivis-aktivis Islam kampus dan waktu itu nasyid yang di bawakan bertema haraki atau Rakyat di Palestina menggunakan nasyid sebagai alat perjuangan kemerdekaan mereka baik digunakan secara langsung oleh para pejuang atau hanya senandung yang menceritakan perjuangan jihad para pejuang tersebut. Orang Indonesia yang menuntut ilmu di Timur Tengah menyebarkan nasyid di Indonesia kepada aktivis kampus tanah air (Idwar, 2019: 20-. Di tengah pengaruh globalisasi yang membawa perubahan di berbagai aspek kehidupan, membuat kalangan remaja cenderung ingin menyesuaikan dengan perkembangan zaman (Firdianto, 1995: . Kehadiran nasyid sebagai musik islami di Indonesia yang lebih modern digunakan sebagai seni menyampaikan dakwah Islam disamping sebagai seni hiburan. Awalnya, nasyid merupakan syair-syair berbahasa Arab, yang dalam perkembangannya musik nasyid semakin memiliki warna yang beragam dengan munculnya para munsyid kreatif yang membawakan berbagai macam tema diluar jihad namun tetap dalam lingkup dakwah, seperti keimanan, cinta kepada sang pencipta dan makhluk-Nya untuk menyesuaikan dengan kalangan remaja (AuTerpenting Dari Nasyid Adalah Nilai Dalam Lagu,Ay 2. Hal yang membedakan nasyid dengan jenis musik Islam lainnya adalah dalam perkembangannya nasyid sangat adaptif, tidak membatasi aliran musik yang digunakan. Nasyid bisa dibawakan dengan aliran musik populer seperti jazz, pop, reuge, bahkan rock, asalkan masih tetap menjaga batasan-batasannya dalam bermusik yang sesuai dengan syariat Islam, namun tetap hanya ada satu genre yang hampir hanya ada pada nasyid, yaitu nasyid haraki (Mustaqim, 2006: Pelaku nasyidnya juga harus konsisten berdakwah dalam bermusik. Nasyid pertama kali tersebar di kalangan mahasiwa kampus-kampus tanah air dalam gerakan masjid kampus dan kontribusi Bandung dalam dunia nasyid tidak bisa dikesampingkan, wilayah ini banyak melahirkan grup-grup nasyid populer di tanah air, seperti The Fikr. Mupla. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Edcoustic dan lainnya hingga Bandung disebut sebagai ibukota nasyid (Poetra, 2004: 65-. Perkembangan nasyid di Bandung yang relatif pesat, seringkali menimbulkan kontroversi, karena sebagian ulama menganggap haram terhadap musik dan semua jenis alat musik yang dapat melalaikan diri untuk beribadah, kecuali alat musik perkusi. Dengan tetap berpegang pada prinsip dan nilai pengharaman awal musik, awal kemunculannya nasyid identik dengan corak mars dan akapela (Idwar, 2019: . Berdasarkan pemaparan diatas, maka penelitian mengenai musik nasyid ini menarik untuk dikaji sebagai penambah wawasan sejarah dan umum. Untuk penelitian yang lebih terarah, penulis akan membahas tentang perkembangan musik nasyid sebagai seni dakwah Islam di Bandung dengan pemilihan tahun 1990-an yang di tahun itu nasyid mulai ada di Bandung, hingga tahun 2004 yang dimulainya ajang Festival Nasyid Indonesia yang diikuti oleh munsyid dari wilayah Bandung hingga menjadi juara. Tahun 2004 nasyid di Bandung juga mulai terabai oleh hadirnya musik religi islami yang dibawakan oleh musisi-musisi populer tanah air. Metode Penelitian Penelitian ini mengacu pada metodologi sejarah yang terdiri dari beberapa langkah, seperti yang dikemukakan Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah. Tahapan tersebut yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik atau interpretasi dan historiografi. Pemilihan Topik, merupakan langkah awal dalam melakukan suatu penelitian sejarah. Pemilihan topik hendaknya dipilih sesuai dengan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual sejarawan, karena agar mempermudah proses penelitian dan peneliti akan berkerja dengan baik. Heuristik, yaitu proses mencari data serta mengumpulkan sumber- sumber atau data-data yang Sumber-sumber yang digunakan yaitu buku, arsip-arsip, foto-foto, koran dan majalah, baik yang terbit pada tahun terkait atau sesudahnya. Contohnya seperti. Gatra. Kuntum. Tempo. Kompas. Adil. Pikiran Rakyat, jurnal ilmiah, dan sebagainya. Dalam tahap ini penulis menyertakan sumber lisan dengan melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang dapat mendukung penulisan ini. Pencarian sumber penulisan dilakukan di Arsip dan Perpustakaan Monumen Pers Nasional Surakarta. Yogya Library Center. Perpustakaan Grahatama Yogyakarta. Perpustakaan Universitas Sebelas Maret. Perpustakaan Daerah Surakarta. Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Perpustakaan Daerah Garut dan Perpustakaan Ganesha. Penulis juga mencari sumber lain dari internet seperti jurnal hingga artikel yang terkait sebagai sumber pendukung Tahapan selanjutnya yaitu verifikasi atau kritik sumber yang merupakan kegiatan untuk menyeleksi sumber sejarah yang telah diperoleh dan terdiri dari kritik ekstern dan intern. Selanjutnya interpretasi, yaitu menafsirkan data-data yang telah diuji, kemudian menghubungkan fakta dalam bentuk konsep yang disusun berdasarkan analisis terhadap sumber sejarah yang telah Tahapan terakhir yaitu historiografi, yang merupakan proses penyusunan seluruh hasil penelitian kedalam bentuk tulisan atau laporan hasil penelitian mengenai tema yang diangkat penulis (Kuntowijoyo, 1995: 69-. Penulis juga menggunakan metode sejarah lisan karena dalam penulisan ini penulis mengambil sumber-sumber dari hasil wawancara narasumber yang terkait dengan penelitian ini. Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani Pembahasan Kondisi Sosial Masyarakat Bandung Tahun 2000-an Bandung sebagai ibukota Jawa Barat merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya yang hingga tahun 2000 jumlah penduduk menjadi 852 jiwa. Masyarakat Bandung memeluk agama yang berbeda-beda, baik agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah hingga agama lokal dan sekte-sekte dari agama yang ada. Agamaagama yang diakui secara resmi oleh pemerintah yakni Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Budha dan Konghucu begitu juga dengan berbagai keyakinan lokal seperti Sunda Wiwitan yang merupakan kepercayaan pemujaan terhadap arwah leluhur dan kekuatan alam atau animisme dan dinamisme yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda di Bandung yang berdiri sejak abad 19 M (Indrawardana, 2014: . Agama Islam menjadi agama yang paling banyak di anut masyarakat Bandung, karena muslim merupakan kelompok agama mayoritas dengan pemeluk termuda di Indonesia (Kondisi Sosial Dan Ekonomi Kabupaten Bandung, 2. Disamping kehidupan beragama, dalam bidang pendidikan, penduduk Bandung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dari wilayah lainnya di Jawa Barat. Hal tersebut sesuai dengan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mana IPM di Bandung mencapai 80% (Badan Pusat Statistik, 2. Masyarakat Bandung sebagian besar berasal dari suku Sunda dengan beragam kebudayaan yang dimilikinya. Kebudayaan Sunda sendiri terdiri dari berbagai aspek baik itu sistem kepercayaan, pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa dan sebagainya. Budaya masyarakat dalam berkomunikasi sangat diperhatikan, seperti budaya rengkuh yang merupakan ungkapan untuk menghormati orang lain yang dianggap lebih tua dengan cara membungkukkan badan ketika ada seseorang yang berjalan melintasi kerumunan sambil mengatakan kalimat punten atau permisi dan sebagainya. Masyarakat Sunda juga memiliki sifat yang dikenal dengan istilah someah hade ka semah yang berarti ramah terhadap tamu atau orang lain. Budaya someah telah memberikan manfaat yang baik, yaitu banyak orang-orang dari luar daerah bahkan mancanegara tertarik dan mengagumi keramahan orang Sunda (Sari & Yuliana, 2015: 10-. Bandung karena budaya ramahnya, berdasarkan survei majalah Time di tahun 1990 terpilih sebagai kota teraman. Bandung juga dijuluki sebagai Kota Kembang karena pada saat itu Bandung dinilai sangat indah dengan banyaknya pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh disana, juga banyaknya pemandangan alam yang indah (Tan & Acharya, 2008: . Masyarakat Bandung dengan etnis Sunda yang dominan cenderung mudah membaur dengan lingkungan tempat tinggal mereka, karena masyarakat Bandung yang memiliki sifat someah, mereka menghargai perbedaan agama, ras, profesi, struktur sosial dan sebagainya. Hal tersebut didasari oleh cara berfikir orang tua terdahulu yang selalu menerima pengaruh-pengaruh dari luar walaupun berbeda dengan budaya asli orang Bandung namun tidak sampai melupakan budaya sendiri (Bonienoegra, 2. Bandung Barometer Musik Indonesia Di Indonesia Bandung merupakan salah satu dari beberapa kota yang mengalami modernisasi dari Barat, masyarakat Bandung sangat terbuka terhadap perubahan dengan menghargai pengaruhpengaruh dari luar, salah satunya dalam hal seni budaya khususnya seni musik (Rosana, 2011: . Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Dalam seni musik, pengaruh modernisasi menjadikan Bandung sebagai barometer musik Indonesia. Predikat Bandung sebagai salah satu kiblat musik muncul pada era 1970-an (Pramudya. Tahun 1970-an hingga sekarang Bandung merupakan kota yang paling banyak melahirkan AuHit MakerAy baik dari penyanyi atau musisi dari semua aliran musik (Resmadi, 2016: . Bandung mencatat sejarah keemasannya dengan melahirkan ribuan musisi dan ratusan aliran musik yang memang tidak sedikit mendapat pengaruh dari luar seperti musik populer1. Masa keemasan musik di Bandung bisa dikatakan berada di tahun 1967-2007, yang dalam periode itu Bandung cukup aktif dalam memproduksi berbagai musik dan pada periode tersebut Bandung menjadi barometer bagi perkembangan musik Indonesia. Hal itu dibuktikan juga dengan berkembangnya infrastruktur penunjang yang banyak bermunculan pada periode 1970-an hingga akhir 1990-an. Infrastruktur tersebut meliputi toko-toko musik, panggung-panggung untuk konser musik, studio-studio rekaman lagu, perusahaan-perusahaan yang mengelola juga mempromosikan musik dan saluran-saluran radio yang memutarkan karya musisi dari Bandung atau dari kota lainnya (Zulkifli, 2. Berbagai genre musik hampir semuanya dapat diterima oleh masyarakat Bandung bahkan Bandung banyak melahirkan aliran musik populer seperti halnya musik Underground. Masyarakat umum Bandung termasuk para apresiator yang berselera baik apalagi kalangan muda. Diluar musik populer, musik islami sudah tumbuh di Bandung sejak tahun 1970-an seperti yang dibawakan oleh grup Bimbo dengan genre qasidah modernnya. Berbeda halnya dengan musik-musik populer, musik bergenre islami masih memiliki peminat yang terbilang sedikit di kalangan pemuda. Belum ada lagi generasi selanjutnya yang bisa sesukses Bimbo. Tahun 1990-an musik islami dengan berbagai genre banyak diminati hanya di beberapa kalangan tertentu, sebut saja musik nasyid yang muncul di era tersebut. Musik ini menjadi populer bagi kalangan pemuda terdidik khususnya mahasiswa di Bandung tetapi dalam kurun waktu tahun 1990-an belum terlalu dikenal oleh khalayak umum. Memasuki akhir 1990-an dan awal 2000-an musik nasyid lambat laun mulai berkembang secara luas karena banyak munsyid atau penyanyi nasyid yang mulai mempublikasikan nasyid dengan merilis album hingga Bandung mendapat predikat sebagai ibukota musik nasyid di Indonesia (Poetra, 2004: . Nasyid dan Dakwah Istilah nasyid adalah sebuah fenomena baru dalam ajaran agama Islam begitu juga di dunia musik. Secara etimologis kata nasyid berasal dari bahasa Arab, yakni ansyada-yunsyidu yang artinya senandung atau nyanyian. Nasyid adalah lantunan musik yang menekankan harmonisasi vokal. Dengan demikian asal mula makna nasyid adalah senandung pujian atau sanjungan, dalam hal ini kepada Allah. Rasul dan para sahabatnya (M. Syahid Ramdhani, 2018: . Sebelumnya Al-Farabi seorang ahli musik Islam . -950 M) telah menjelaskan mengenai nasyid, dengan sebutan nasyd. Menurutnya nasyd digolongkan sebagai hymne. Jika oleh bangsa Yunani Kuno hymne diidentikan dengan kegiatan sakral kepada Tuhannya, oleh kalangan Islam Musik populer adalah istilah umum untuk musik dari segala usia yang menarik bagi selera populer dan mencakup banyak genre, seperti musik jazz, pop, rock, blues, dll. (Kanu Hizbam. AoMemahami Pengertian Musik Pop Dan Perkembangannya Di IndonesiaAo. Gasbanterjournal, 2. Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani musik ini juga difungsikan bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan atau non ritual semacam upacara panen, hajatan keluarga serta kegiatan kebajikan lainnya. Dengan memperhatikan keterangan AlFarabi tersebut, bisa dipastikan bahwa seni nasyd sudah sangat populer sejak zaman Rasulullah. Konsep nasyd yang ditemukan Al-Farabi dengan konsep nasyid, sebenarnya memiliki fungsi yang sama, yaitu memuji keagungan Illahi (Poetra, 2004: 15-. Nasyid yang dikenal pertama di Indonesia memiliki karakteristik tanpa alat musik, dibawakan dengan semangat dan suara serempak seperti untuk seruan berjihad, jumlah personel dalam sebuah grup nasyid minimal tiga orang, personel dalam suatu grup nasyid terpisah baik lakilaki atau perempuan. Laki-laki harus berpakaian sopan seperti memakai setelan koko, lirik dalam lagunya berisi tentang perjuangan dan dinyanyikan dengan tujuan membangkitkan atau mengobarkan semangat dakwah. Nasyid lebih banyak dibawakan oleh laki-laki, karena perempuan dalam bernasyid masih menjadi kontroversi di kalangan ulama hingga belum banyak nasyid dari kalangan perempuan (Idwar, 2019: . Nasyid adalah seni hiburan yang digunakan sebagai seni untuk menyampaikan dakwah Islam, karena mengandung isi untuk mengajak kebaikan dan Dalam perkembangannya nasyid mulai menyebar di kalangan masyarakat umum khususnya kaum muda karena nasyid merupakan salah satu genre musik islami yang lebih modern yang dalam perkembangannya bisa menyesuaikan dengan berbagai gaya musik seperti dibawakan secara akapela, diiringi alat-alat musik dan sebagainya. Dakwah sendiri berasal dari bahasa Arab daAowah dengan kisaran makna: Aopanggilan, seruan, penawaran, permintaan, pertemuan, panggilan dan kegiatan penyebaran agamaAo(Anne K. Rasmussen, 2019: . DaAowah dalam arti sederhana adalah mengajak orang bertauhid dan beribadah, sedangkan dalam artian luas yaitu membuat diri seorang mukmin menjadi pengemban amanah Allah dalam seluruh sektor hidup sebagaimana kaum muslimin dahulu telah berbuat (Effendie, 1981: . Jadi, dakwah merupakan penyampaian pesan agama yang sesuai dengan alQuran dan as-Sunnah serta memaksimalkan amar makruf yang artinya perintah untuk berbuat baik, dan meminimalkan kemungkaran di dunia. Nasyid dan dakwah adalah dua elemen yang berbeda dalam arti, namun mempunyai persamaan dalam tujuan, yaitu menyampaikan pesan-pesan Islam. Nasyid menjadi salah satu pilihan sebagai seni untuk menyampaikan dakwah Islam karena dinilai lebih efisien dalam menyebarkan isi dakwah dan bisa lebih mudah diterima masyarakat karena berbentuk senandung. Sejarah Musik Nasyid di Bandung Kemunculan musik nasyid di Bandung relatif sama dengan munculnya nasyid di daerah-daerah Indonesia lainnya, yakni dipengaruhi oleh Timur Tengah dan Malaysia melalui orang-orang Indonesia yang pernah menyaksikan langsung realitas perjuangan rakyat Palestina pada tahun 1980-an atau dari Malaysia yang dibawa oleh orang-orang Indonesia yang pernah tinggal lama di Malaysia sekaligus menjadi aktivis pengajian Darul Arqam2 (Poetra, 2004:. Darul Arqam merupakan sebuah gerakan pembaharuan Islam. Didirikan oleh sebuah gerakan usrah atau perkumpulan yang terdiri dari beberapa aktivis muda pada tahun 1968 yang dipimpin oleh Ashari Muhammad dan salah satu lini dakwahnya adalah seni islami nasyid. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Nasyid di Bandung pertama kali muncul di lingkungan aktivis masjid. Masjid Salman ITB Bandung menjadi pelopor lahirnya masjid-masjid kampus dan memiliki banyak program dakwah untuk memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat perkotaan. Program-programnya disusun untuk memenuhi kebutuhan siraman rohani masyarakat Bandung dan sekitarnya (Azra & Dkk, 2014: Awal terbentuknya gerakan masjid Salman dan seiring dengan konflik Palestina dan Israel, aktivis masjid Salman sering membawakan nasyid sebagai bentuk perlawanan. Nasyid Timur Tengah pertama kali muncul di kalangan aktivis dan dibawakan secara serempak seperti senandung Dalam perkembangannya, sebagian munsyid menambahkan iringan musik seperti alat musik pukul atau perkusi (Poetra, 2004: . Mereka berpendapat bahwa menyebarkan nasyid sama dengan berdakwah. Berdakwah tidak harus sebatas pendidikan namun bisa juga dengan budaya dan seni. Tidak dapat dipungkiri, mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Timur Tengah membawa penyebaran nasyid di Bandung. Grup nasyid Quds dari Palestina mempengaruhi juga model nasyid aktivis di Bandung ini bahkan mereka sering membawakan lagu-lagunya. Al-ardhu Lana Wal Qudsu Lana Wallahu Biquwwatihi MaAoana Wa JumuAoul Kufri Qad IjtamaAoat KayTahzimana Lan Tahzimana Lan Tahzimana Bumi milik kita. Al-Quds milik kita Dan Allah dengan kekuatan-Nya bersama kami dan berkumpulah musuh kuffar Demi memusnahkan kita Tidak sekali-kali dapat memusnahkan kita Itulah salah satu penggalan lirik nasyid Quds yang berjudul Al-Ardhu Lana. Wal Qudsu Lana yang artinya Bumi Milik Kami. Al-Quds Milik Kami, lirik dalam nasyid ini adalah lirik perjuangan yang menyerukan untuk berjihad di jalan Allah. Tema-tema perjuangan rakyat Palestina menjadi tema dominan bagi grup-grup nasyid di Bandung awal tahun 1990-an. Belum pernah ada pertunjukan khusus atau konser dan nasyid hanya ditampilkan sebagai acara selingan dari acara-acara tabligh akbar atau pengajian (Waluyo, 1996: . Nasyid yang berkembang di Timur Tengah umumnya lebih bernuansa haraki atau pergerakan nuansa ini muncul dipengaruhi oleh keadaan sosial politik di Timur Tengah yang sedang goyah, seperti pernyataan Bens Leo seorang pengamat musik di Indonesia. AuSatu gambaran tentang lirik mereka, jika terdapat konflik di satu negara itu, akhirnya tema liriknya adalah bagaimana menyatukan konflik itu atas kekuatan tangan Tuhan dan mereka menyanyi secara bersama dan itulah kemudian nasyid Timur Tengah yang kita sebut sebagai embrio dari nasyid di seluruh dunia termasuk di IndonesiaAy (Metrotvnews, 2. Tidak heran jika tema-tema nasyid jalur ini kebanyakan terkait seputar adanya ketidakadilan dan ketertindasan kaum muslimin di Timur Tengah dengan ciri khas gaya yang dibawakan yaitu mars yang diiringi dengan alat musik pukul yaitu perkusi. Berbeda dengan nasyid Timur Tengah, nasyid pengaruh Melayu Malaysia yang muncul pertengahan tahun 1990-an memiliki tema yang kental dengan nuansa ruhiyah dan tema-tema seputar kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangannya nasyid Melayu Malaysia memiliki tempo yang lebih santai dalam menyenandungkan lagu-lagunya. Tidak dapat dipungkiri nasyid yang melekat di telinga masyarakat Indonesia sebagian besar dari karya nasyid Malaysia dengan gaya nasyid Darul Arqam, seperti lagu nasyid AuSepohon KayuAy yang isi liriknya sebagai berikut: Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani AuSepohon kayu daunnya rimbun Lebat bunganya serta buahnya Walaupun hidup seribu tahun Kalau tak sembahyang apa gunanyay Pertengahan tahun 1990-an nasyid di Bandung mulai populer dikalangan gerakan tarbiyah Sekolah Menengah Atas (SMA) seperti Rohani Islam (Rohi. yang waktu itu aktivis masjid kampus mulai menyebarkan program-program dakwahnya ke lingkungan SMA termasuk seni nasyid (Muhammad, 2002: . (Hayat, wawancara, 29 Maret 2. Anak-anak muda yang berada di tingkat pelajar dan mahasiswa memiliki militansi yang tinggi. Militansi ini juga yang ikut mendorong popularitas nasyid, bisa dipastikan setiap Rohis SMA khususnya di Bandung membentuk grup nasyid (Susanto, 2004: H). Tidak hanya di tingkat pelajar, nasyid mulai dikenal di kalangan pondok pesantren pada pertengahan 1990-an khususnya di pondok pesantren modern, seperti di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Bandung yang dipimpin oleh K. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal Aa Gym yang notabene-nya adalah mantan aktivis di masjid Salman ITB. Aa Gym di pondok pesantrennya memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan nasyid karena ia berperan dalam menyebarkan musik ini di pondok pesantrennya, ia memfasilitasi beberapa media untuk mempromosikan nasyid baik dari Bandung atau wilayah lainnya, yang di beri label MQ atau Manajemen Qalbu yang terdiri dari radio, stasiun televisi lokal hingga tempat produksi rekaman. Tidak jarang ia menyertakan khutbahnya dengan menyanyikan sebuah lagu yang ia tulis sendiri, seperti lagu yang berisi nasihat untuk menjaga hati, yakni AuJagalah HatiAy dan lagu tersebut menjadi lagu fenomenal hingga dibawakan oleh grup nasyid yang dibentuk di pondoknya, lagu itu tidak hanya dikenal di Bandung namun terkenal di Indonesia (Knauth, 2009: 42-. Tahun 1995 di pondok ini terbentuk grup nasyid profesional yakni The Fikr yang waktu itu menjadi grup nasyid terkenal di Bandung bahkan di Indonesia, grup yang terdiri dari lima personel ini membawakan lagu-lagunya secara akapela dan diiringi juga dengan alat musik perkusi, tema lagu yang mereka bawakan seputar kehidupan sehari-hari (Knauth, 2009: . Nasyid dianggap sebagai kesenian yang mampu memberi AuperlawananAy terhadap musik Barat, artinya sejarah tentang keberadaan musik-musik islami tersebut juga dikembangkan dalam wacana perlawanan terhadap dominannya musik-musik Barat, yang oleh sebagian orang Islam dianggap sebagai musik-musik yang hanya memperbesar maksiat, karena hal tersebut di pertengahan tahun 1990-an, para munsyid mulai meluaskan tema-tema lagunya yang bukan hanya seputar perjuangan, melainkan tema-tema kehidupan, seperti tentang keimanan, persahabatan, percintaan, pernikahan hingga kisah-kisah para nabi. Perkembangan Nasyid di Bandung Tahun 1990-2004 Kehadiran musik nasyid di Bandung semakin berkembang, mulai dari berbagai peluncuran album, sisipan dalam acara televisi, siaran di radio hingga festival nasyid. Nasyid, senandung dakwah islami yang awalnya dikenal sebagai Aumusik perjuanganAy bahkan Aumusik perlawananAy, kini sudah berubah bentuk menjadi sebuah alternatif musik bahkan menjadi industri yang menjanjikan (AuBila Nasyid Mencari Duit,Ay 2004: . Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Tahun 1990 nasyid mulai dikenal oleh sebagian remaja muslim Bandung, hal itu terlihat dengan seringnya pemuda perkotaan memutarkan lagu-lagu nasyid luar negeri. Memasuki tahun 1992 ketika grup nasyid Snada mulai populer dari kalangan aktivis masjid Universitas Indonesia, menambah popularitas nasyid di kampus-kampus Bandung meski waktu itu nasyid lebih banyak dikenal di kalangan mahasiswa Islam. Lagu AuBiladiAy yang artinya negeriku menjadi lagu Snada yang digemari saat itu karena masih dalam suasana pembelaan terhadap kaum muslim atas konflik di Timur Tengah (Al-Malaky, 2003: 145-. Dalam perkembangannya, nasyid diperkenalkan sebagai musik kontemporer untuk pemuda muslim perkotaan yang ingin mengikuti trend musik sekuler namun tetap dalam jalur Islam. Dalam penampilan bahkan rekaman video, munsyid mengambil inspirasi dari grup-grup sekuler populer. Tidak jarang banyak yang menyebut nasyid sebagai boyband-nya Islam (Barendregt, 2008: . Popularitas nasyid di wilayah ini bagaimanapun tidak hanya dalam lingkup dogma agama tapi juga mengenai isu-isu sosial, seperti narkoba, pergaulan bebas di sekolah dan isu-isu yang berhubungan dengan kalangan remaja. Paling penting nasyid di Asia Tenggara khusunya di Bandung sukses dalam lirik yang di nyanyikan dengan memakai bahasa sendiri dan isi lagu-lagunya lebih dekat dan mudah dimengerti oleh pendengar kalangan remaja dibandingkan genre musik religius lainnya seperti shalawat dengan lirik yang memakai bahasa Arab. Popularitas dari grup nasyid di Bandung bisa dijelaskan juga oleh faktor lain yakni namanama grup besar yang sukses di Indonesia, seperti boyband dari Barat. Boys 2 Men. Backstreet Boys atau Westlife yang muncul tahun 1990-an. Layaknya grup-grup Barat tersebut, penikmat nasyid adalah kalangan wanita. Gaya musik Barat itu cepat terkenal dan gaya Barat tersebut menjadi role model bagi gaya bermusik para munsyid dan penampilannya yang sederhana dijadikan mode fashion grup-grup nasyid, oleh karena itu yang merupakan bentuk terbaik dari kombinasi musik timur dan barat adalah seni musik nasyid (Barendregt, 2008: . Fenomena yang terjadi di dunia nasyid wanita jauh berbeda dengan peran dalam kapasitasnya sebagai apresiator. Secara teologis penyanyi wanita masih menjadi kontroversial. Hal tersebut terlihat dari jumlah kelompok nasyid wanita yang relatif sedikit. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa perempuan harus melindungi diri agar tidak bertatapan dengan pria dan mereka hanya boleh tampil di depan wanita lainnya (Poetra, 2004: . Bandung hanya memiliki satu grup nasyid wanita populer yakni grup Dawai Hati yang terbentuk akhir tahun 1990-an namun setelah para personelnya menikah dan memiliki putra dan putri, tahun 2004 grup nasyid ini bubar (Millah, 2. Keterbatasan jumlah grup nasyid wanita tersebut bisa jadi disebabkan oleh perbedaan pandangan antara yang setuju dan yang tidak setuju terhadap adanya munsyid wanita. Diluar peran muslimah sebagai apresiator nasyid, bagi seorang muslim yang ingin mempelajari dan memeluk agama islam lebih dalam, tentu dirinya akan mengadaptasi selera agar sesuai dengan ajaran agamanya, termasuk dalam berkesenian dan bermusik. Berdasarkan hal tersebut banyak aktivis dakwah yang merintis dan mengembangkan suatu budaya tanding. Hendra Gunawan salah satunya, ia masuk ke dalam organisasi dakwah di masjid UNPAD tahun 1994, namun ia memiliki hobi dalam bermusik dan nasyid-lah yang menjadi salah satu pilihannya, ia ingin menekuni hobi namun tetap dalam koridor dakwah Islam hingga terbentuk grup nasyid populer Mupla tahun 1995. Tahun 1995 nasyid bisa dikatakan menjadi tahun perkembangan yang Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani cukup pesat di Bandung, yang mana di tahun ini banyak grup nasyid populer lahir, baik dari aktivis kampus, lingkungan pondok pesantren bahkan kalangan umum, seperti grup nasyid Mupla dari aktivis masjid UNPAD dan The Fikr dari pesantren Daarut Tauhid (DT). Di tahun itu juga Bandung telah menyelenggarakan konser khusus nasyid pertama yang bertempat di Gedung Taman Budaya, bilangan Dago yang dimeriahkan oleh grup-grup populer dari berbagai daerah saat itu yakni Snada dan Izzatul Islam dari Jakarta. Suara Persaudaraan dari Surabaya. Harmony Voice dan Mupla dari Bandung (Waluyo, 1996: 1-. Era perkembangan nasyid semakin pesat ketika munsyid Melayu Malaysia. Nada Murni dan The Zikr harus bubar karena adanya alasan politis di Darul Arqam. Mantan anggota nasyid tersebut membentuk grup-grup nasyid baru dan para personel yang sudah terpisah bertekad untuk membentuk grup-grup baru hingga terbentuklah Raihan di tahun 1996. Hijjaz yang terbentuk pada 10 januari 1997 dan Rabbani pada 1 Maret 1997. Orang-orang Indonesia yang sebelumnya bergabung dengan Darul Arqam kembali ke tanah air dan tidak sedikit dari mereka membawa pengaruh nasyid Malaysia tersebut (Gunawan, wawancara, 11 Juni 2. Memasuki tahun 1998 ketika terjadi krisis moneter, krisis politik, krisis moral dan sebagainya menjadi tumpuan yang baik bagi berkembangnya kembali musik islami, bahkan kata AuNasyidAy menjadi hal yang populer di kalangan masyarakat Bandung saat itu. Nasyid Malaysia yakni Raihan menjadi grup yang relatif dikenal masyarakatnya bahkan beberapa grup nasyid di Indonesia yang sebelumnya tidak mendapat perhatian namanya mulai dikenali (Muhammad, 2002: Raihan menjadi grup yang di idolakan khususnya oleh masyarakat Bandung. Kaset dan CD Raihan tergolong yang paling laris terjual, begitu juga konsernya pada tahun 1999 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabug. ITB, tergolong konser yang paling dipadati pengunjung. Promotor dari konser tersebut yakni Tatang Suherman yang saat itu masih menjadi personel Mupla menyebutkan bahwa beberapa dari personel Raihan dikejutkan dengan kepadatan penonton yang melebihi kapasitas gedung, pasalnya di negaranya sendiri Raihan tidak pernah mendapat sambutan sehebat itu. Konser tersebut dihadiri oleh 3. 500 orang dengan harga tiket Rp 20. 000 (Pinidji, 2000: Sebuah harga yang cukup besar untuk ukuran masyarakat yang saat itu tengah dilanda krisis Sambutan pada grup Raihan begitu antusias sehingga menyebabkan grup-grup nasyid di Bandung dalam pertumbuhannya semakin mengidentikan dirinya dengan Raihan, baik dari cara bernyanyi, instrumen pengiring, komposisi dan harmoni pembagian suara hingga pakaian yang di gunakan bahkan logat-logat berbicara dalam bahasa Melayu (Poetra, 2004: . Bagi para munsyid, berdakwah dalam musik merupakan fungsi utama nasyid, karena keyakinan ini, salah satu penyanyi yaitu Farihin3 menjuluki nasyid sebagai genre AudakwahtainmentAy. Pelaku nasyid memberikan contoh kepada pendengarnya, menawarkan citra seorang muslim yang shaleh dan AukerenAy serta perilakunya mudah ditiru. Faktor ekstra musik seperti sikap tersenyum dan suka menolong, mengadopsi gaya islami dan pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar Islam sama pentingnya bagi penampil seperti kemampuan menyanyinya (Knauth, 2009: . Beberapa munsyid menyatakan bahwa apa yang dinyanyikan munsyid itu lebih penting dari bagaimana mereka menyanyikannya. Merekam vokal lebih keras daripada instrumen yang Farihin adalah salah satu personel dari grup nasyid Denting Hati yang berasal dari Jakarta. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 dipadukan sangat penting untuk nasyid karena berdasarkan definisi nasyid, lirik adalah aspek yang paling penting dari nasyid dan harus jelas agar mudah dipahami pendengar (Mulyagara, wawancara, 30 Maret 2. Secara gaya, nasyid terus berkembang dengan cara yang seringkali di luar dugaan. Sejak tahun 2002, munsyid lebih banyak memasukkan pengiring instrumental, yang dimulai sebagai gaya bernyanyi akapela. Dengan sedikit pengecualian, pengiring tersebut ditambahkan secara elektronik selama produksi lagu, namun yang ditampilkan saat bernyanyi diatas panggung adalah penyanyinya saja tidak dengan alat instrumennya, garis vokal tetap dominan dengan ditambahkan volume yang lebih tinggi dari garis instrumental, terkadang rasio vokal dan instrumen adalah 90:10. Ini kontras dengan gaya musik islami lainnya, di mana vokalnya tidak terlalu ditekankan (Knauth, 2009: 45-. Memasuki tahun 2004, nasyid semakin dianggap istimewa bahkan mulai diperhitungkan. Bulan Ramadhan seolah menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan nasyid, sepanjang bulan ini dan sekitar hari raya Idul Fitri nasyid marak di tayangkan di televisi. Stasiun televisi Indosiar dan TV7 bahkan menyelenggarakan festival nasyid berskala nasional. Kedua acara tersebut dikemas seperti reality show pencarian bakat baru layaknya Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan sejenisnya, sebut saja Festival Nasyid Indonesia (FNI) yang ditayangkan di Indosiar dan Festival Nasyid Tausiyah Qiraah (FNTQ)yang ditayangkan di TV7 (AuIslam Bukan Cuma Nasyid,Ay 2004: . Festival nasyid tersebut diikuti juga oleh peserta asal Bandung yang bahkan dari kedua ajang tersebut munsyid-munsyid asal Bandung berhasil meraih juara pertama. Pengaruh Nasyid sebagai Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Antusias masyarakat Bandung terhadap nasyid sangat apresiatif, karena iklim bermusik di Bandung cukup bagus. Hubungan antara kreator dengan penikmat musik terbina baik di Bandung (Ibnu, wawancara, 5 Agustus 2. Lirik nasyid yang bernuansa Islam selain untuk seni hiburan berfungsi juga sebagai seni untuk menyampaikan pesan-pesan islami. Kaum muda sebagai sasaran utamanya memang mendapat pengaruh tersendiri bagi yang mendengarkannya. Tahun 1990 nasyid menjadi senandung peredam euphoria para remaja muslim Bandung yang ketika itu pemuda perkotaan membawakan lagu Cat Stevens dengan judul AuAfghanistan The Land of IslamAy sebagai bentuk perlawanan Afghanistan melawan Uni Soviet (AuPemuda Islam Se Bandung Bakar Bendera Uni Sovyet,Ay 1980: . Pengaruh nasyid bagi kalangan remaja muslim tergantung dari segmen siapa yang menyukai nasyid. AuDari sisi efektivitas, tergantung segmen siapa yang menyukai nasyid dan genre musik, efektivitasnya adalah untuk kalangan remaja atau pemuda pemudi yang menyukai musik. Ketika dia seorang muslim dan menyukai musik akhirnya dakwah juga masuk ke dalam Jadi secara dakwah ya lumayan efektif buat segmentasinya, misalnya kalo sekarang menyanyikan tentang lagu kegalauan, karena ketertarikan dengan lawan jenis, itu dengan lagu bisa lebih mudah Ay (Gunawan, wawancara, 11 Juni 2. Tahun 1994 ketika terjadinya kebangkitan Islam di Malaysia, terutama Darul Arqam dan partai Islam se-Malaysia, membangkitkan irama musik Melayu tidak hanya di Malaysia melainkan juga di Bandung. Kalangan aktivis kampuslah yang paling terpengaruh dan grup Nada Murni yang Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani menjadi inspirasinya, seperti yang terjadi di kalangan aktivis masjid UNPAD, mereka sering memutarkan lagu-lagu dari grup nasyid ini, seperti syair nasyid berikut: AuSudah sunnah orang berjuang Mengembara dan berkelana Miskin dan papa jadi Tradisi Tidak kurang yang sayang padanya Orang lain mati dilupa Para pejuang tetap dikenang Sejarahnya ditulis orang Makamnya senantiasa diziarahi Walau perjuangan tak berjayaAy. Penggalan lirik nasyid yang berjudul AuSudah Sunnah Orang BerjuangAy tersebut seolah menjadi pepatah betapa mulianya orang yang sedang merantau di sisi Allah baik untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah. Lagu tersebut menjadi salah satu lagu nasyid yang sering di putar di kalangan aktivis masjid kampus UNPAD, mereka merasakan bahwa lagu tersebut menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang menuntut ilmu apalagi untuk mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari luar kota atau luar provinsi. Tahun 1995 aktivis masjid UNPAD membentuk grup nasyid Mupla dan lagu-lagunya mulai dikenali oleh masyarakat Bandung. Tahun 1998 karena merilis album, grup ini membentuk komunitas Forum Silaturahmi Mupla sebagai forum pertemuan antara Mupla dan penggemarnya. Grup ini pernah mendapatkan surat dari penggemar yang dahulu berinteraksi dengan cara mengirimkan surat, untuk bersilaturahmi antara munsyid dengan idolanya. Mupla mendapat surat dari berbagai daerah, seperti ketika mereka mendapat surat dari penggemarnya yang masih remaja di Bandung. Penggemar tersebut merasa terinspirasi dari lagu nasyid yang mereka bawakan, hingga setelah mendengarkan lagu-lagunya, penggemar itu memutuskan untuk berhijrah (Gunawan, wawancara, 11 Juni 2. Salah satu lagunya berjudul AuWahai HatiAy yang isi liriknya sebagai AuWahai hati, akankah terus merasa sedih? Seakan-akan nikmati luka Yang membuatmu merasa sedih Serahkan semuanya hanya kepada Allah semata Tiada manusia yang tak pernah rasakan duka Yakinlah akan adanya takdir Allah yang kuasa Semua berjalan sesuai kehendaknyaAy Bagi Hendra Gunawan yang sudah berkecimpung di dunia nasyid, ia merasakan bahwa nasyid telah mengarahkan perjalanan hidupnya sehingga bisa beraktifitas di bidang dakwah, khususnya di bidang musik walaupun hanya dibagian kecil tentang musik ia bisa andil dalam berdakwah pada masyarakat. Kita tetap bisa bermusik tapi jauh dari khamer, jauh dari godaan syaitan karena ya nasyid itu dan nasyid merubah pribadi juga, entahlah kalau kita milihnya lagu-lagu umum mungkin kita terbawa pergaulannya umum juga (Gunawan, wawancara, 11 Juni 2. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Memasuki tahun 1998 ketika terjadinya krisis moneter, seni nasyid saat itu memiliki pengaruh yang cukup baik. Hal tersebut disebabkan karena adanya krisis moral yang melanda remaja saat itu kemudian musik nasyid muncul untuk meredam euphoria tersebut. Hal itu disampaikan juga oleh salah satu munsyid. Yogia Mulyagara. Au Apertunjukan nasyid saat itu identik dengan lafadz takbir dan tahmid. Mereka melontarkan Allahu Akbar! Allahu Akbar! yang selalu meghiasi semangat diberbagai pertunjukan nasyid. Harus diakui bahwa saat itu seni nasyid memiliki peranana yang sangat efektif dalam meredam berbagai euphoria yang tengah melanda. Dalam meredam euphoria seni nasyid sesungguhnya lebih efektif daripada petugas keamananAAy Di sisi lain, terdapat tokoh populer di Bandung yang berpengaruh dalam berkembangnya seni nasyid di Bandung meskipun ia bukanlah seorang munsyid, yakni daAoi kondang Aa Gym karena peran besar yang telah ia lakukan dalam mensponsori kesenian nasyid di Indonesia. menciptakan lagu nasyid yang berjudul Au Jagalah HatiAy yang mulai populer di Bandung pada tahun Awal populernya lagu ini pada September 2002 Aa Gym menunjukkan komitmennya terhadap toleransi beragama dengan berpartisipasi dalam upacara perdamaian yang berlangsung di Gereja Kristen di Poso. Sulawesi Tengah. Konflik tersebut terjadi pada tahun 1998 dan 2002 antara umat Kristen dan Islam. Aa Gym mengatakan bahwa ia ingin membantu meringankan penderitaan masyarakat Poso sekecil apapun yang ia bisa. Saat lagu ini dinyanyikan Aa Gym di Ambon dan Poso pada tahun 2002 yang sedang berkonflik, tidak ada yang keberatan walaupun secara langsung tidak menghentikan konflik namun mereka merasa diberi nasehat oleh lagu tersebut (Setiyaji, 2004: Aa Gym menyatakan: AuKita berbeda agama, tapi kita sama-sama manusia yang memiliki hatiA Memang tak mudah untuk mengobati luka yang menganga di hati, tapi kita tak akan bisa menikmati hidup bersama tanpa membuka lembaran baru. Semoga kita dikuatkan untuk bisa hidup berdampingan tanpa saling menyakitiAy (Gymnastiar, 2006: 62-. Aa Gym tidak jarang menyertakan khutbahnya dengan menyanyikan lagu yang ia tulis sendiri itu. Liriknya memberikan pelajaran bagi mereka yang mendengarkan untuk menyucikan diri agar dapat hidup dengan benar di dunia: Jagalah hati jangan kau kotori Jagalah hati lentera hidup ini Bila hati kian lapang Hidup sempit terasa senang Walau kesulitan datang Dihadapi dengan tenang. Lagu Jagalah Hati menjadi lagu yang fenomenal saat itu tidak hanya bagi kalangan remaja dan penikmat nasyid di Bandung, masyarakat awam dari mulai anak-anak hingga orang dewasa mengetahui lagu tersebut. Lagu ini dapat dijadikan media muhasabah, introspeksi diri secara kolektif, penyambung silaturahmi yang retak, setidaknya meredam atmosfer konflik yang telah terjadi maupun sedang terjadi (Setiyaji, 2004: . Lagu tersebut juga mendapat perhatian dari para Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani remaja yang mendengarkannya sebagai peredam emosi suatu masalah yang berkaitan dengan persoalan hati mereka (Hayat, wawancara, 29 maret 2. Tahun 2002 musik nasyid di Bandung semakin dikenal dikalangan remaja setelah kehadiran grup Edcoustic yang dominannya membawakan lagu dengan gaya musik pop progressif dengan sentuhan akustik yang saat itu sedang digandrungi remaja. Grup nasyid Edcoustic memiliki beberapa lagu AuTop RequestAy sebagai bukti pencapaian mereka sebagai artis nasyid. Mereka terdiri dari dua vokalis yang salah satunya memainkan gitar akustik, memainkan harmoni sederhana dengan pesan sederhana yang dirancang untuk penonton remaja. Seperti yang dikatakan Aden vokalis utama grup Edcoustic dikutip dari tesis Dorcinda CK AoPerforming Islam Through Indonesian Popular Music, 2002-2007Ao yakni: AuKami mencoba untuk menarik basis penggemar yang tidak ingin mengorbankan kepedulian mereka yang sembrono untuk tumbuh karena kontingen Muslim yang ketatAy (Knauth, 2009: 60-. Mereka adalah peserta aktif di Daarut Tauhiid yang tidak hanya sering tampil di acara atau berbagai tempat di MQ seperti kafe MQ, mereka berperan penting dalam membentuk persatuan munsyid lokal yang bertemu dua kali sebulan di sekitar pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Pesan Edcoustic dicontohkan pada lagu hits pertama mereka yang berjudul AuRemaja PeduliAy yang baris pembuka berbunyi: AuHallo kawan Sahabat muslim tercinta Kita sambut kemenangan bahagia Mari kawan ikutlah bersama kami Membela risalah Islam di dunia Remaja peduli Pintar dan mandiri Giat berprestasi Ku persembahkan untuk IllahiAy Dalam lirik nasyid tersebut. Edcoustic mengajak para pendengarnya bergabung bersama secara positif dan ceria untuk merangkul perjuangan Islam. Sekitar tahun 2004, banyak lagu-lagu dari grup ini yang dikritik keras oleh para ulama di Jawa Barat karena dianggap AumembodohiAy kekayaan potensi nasyid. Edcoustic mengakui bahwa sumber utama pendengaran mereka tentang kritik ini adalah melalui program panggilan di MQFM, seperti ketika seorang penelepon menentang istilah yang digunakan dalam lagu berbahasa Jepang mereka AuKamisamaAy. Terjemahan untuk AukamisamaAy adalah Dewa atau Tuhan dan penelepon khusus ini sangat dihina karena tidak menunjukkan Tuhan yang maha kuasa, seperti halnya kata AuAllahAy. Para personel Edcoustic terkejut dengan kritik tersebut, karena mereka telah menulis lagu dalam bahasa Jepang untuk menunjukkan solidaritas dengan kebangsaan Asia lainnya dan sama sekali tidak pandai dalam hal bahasa Jepang untuk mengetahui kesalahan mereka (Knauth, 2009: . Kendati demikian nasyid Edcoustic masih banyak disukai oleh masyarakat Bandung khususnya kaum remaja, seperti halnya yang disampaikan oleh Kang Irfan mengenai efektivitas nasyid di Bandung sebagai seni untuk menyampaikan dakwah Islam sangat tinggi bahkan ada pendengar yang sampai pindah ke agama Islam. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 AuSaya menyaksikan sendiri bagaimana kesaksian para pendengar atau penggemar Edcoustic yang merasa jauh lebih dekat dengan Islam, memutuskan hijrah, bahkan ada yang sampai pindah ke agama Islam karena mendengar lagu-lagu Edcoustic. Ada juga yang menjadikan lagu Edcoustic sebagai lagu wajib diperdengarkan di beberapa asrama mahasiswa saat ituAy (Irfan, wawancara, 13 Agustus 2. Hal tersebut sesuai dengan beberapa pernyataan dari beberapa pendengar nasyid, yang mana lagu-lagu mereka yang awalnya hanya untuk rileksasi menjadi lagu yang menginspirasi ke jalan yang lebih baik (Komardani, wawancara, 10 Agustus 2. Saat itu Edcoustic banyak mendapatkan feed back dari pendengarnya yang merasakan manfaat langsung dari album nasyid Edcoustic. Mulai dari remaja yang sedang mencari jati diri sampai public figure yang juga merasa terinspirasi (Irfan, wawancara, 13 Agustus 2. Tahun 2004 nasyid di Bandung bisa dikatakan mengalami masa kejayaan, yang mana nasyid lokal mulai diakui secara luas bukan hanya di Bandung tetapi di Indonesia dengan adanya festival nasyid berskala nasional. Dari adanya ajang festival tersebut banyak remaja yang semakin mengenal nasyid hingga mereka yang berasal dari Bandung rela mendukung grup pilihannya dengan datang langsung ke tempat acara nasyid di Jakarta. Dalam perjalanannya musik semakin beragam dan musisi-musisi semakin kreatif dalam berkreasi sehingga banyak muncul grup-grup populer yang menarik perhatian remaja dan semakin lama nasyid semakin terabai. Pada akhir tahun 2004, popularitas nasyid di Bandung mulai mengalami penurunan karena musik islami mulai diramaikan oleh kemunculan band-band populer tanah air yang mulai merilis album bernuansa islami. Sebut saja band Gigi yang telah populer di Indonesia, membawakan musik islami dengan gaya jazz dan rock yang salah satu lagunya berjudul Tuhan. Lagu-lagunya mendapat perhatian baik untuk kalangan remaja dan posisi nasyid mulai tergantikan (XAR, 2004: . Nasyid di Bandung sekarang ini memang tidak sepopuler di awal milenial, yang marak di tayangkan ditelevisi dan dikenali kalangan umum, namun nasyid tetap ada, seperti halnya konserkonser nasyid masih sering diadakan meski kebanyakan diadakan secara off air dan hanya dihadiri oleh mereka yang menyukai nasyid. Sekarang ini para munsyid terus berusaha menyesuaikan dengan keadaan zaman agar nasyid bisa diakui seperti dahulu. Perlu dipahami bahwa remaja dan pemuda sangat dekat dengan musik. Musik sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam keseharian mereka, begitu ada nasyid yang sesuai dengan selera musik mereka maka pesan dakwah yang terkandung di dalamnya dapat mereka terima dengan baik. Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Reni Mardiani Kesimpulan Nasyid menjadi salah satu pilihan sebagai seni dakwah Islam khususnya di Bandung karena dinilai lebih efisien dalam menyampaikan dakwah dan bisa lebih mudah diterima masyarakat khususnya kaum muda, karena musik memang dekat dengan kalangan muda. Nasyid sebagai salah satu genre musik islami tidak jarang mendapat hambatan karena adanya beberapa pendapat dari ulama tentang pengharaman musik, namun nasyid memiliki pengaruh tersendiri untuk para pendengarnya, khusunya kalangan muda. Bagi kalangan muda, nasyid yang isi syairnya semakin beragam dan aliran musik yang digunakan bermacam-macam membuat banyak diantara mereka yang mengaku lebih dekat dengan Islam, mengobati perasaan yang sedang risau, memutuskan untuk berhijrah bahkan sampai pindah ke agama Islam. Tahun 2004 menjadi tahun pasang surutnya musik nasyid di Bandung, yang mana tahun tersebut nasyid semakin dikenal luas oleh masyarakat Bandung bahkan Indonesia karena untuk pertama kalinya nasyid dijadikan sebagai ajang pencarian bakat berskala nasional dan munsyid asal Bandung menjadi juara pertama. Tahun 2004 nasyid juga mulai terabaikan karena hadirnya musik religi yang dibawakan oleh musisi-musisi terkenal tanah air yang banyak di minati oleh kalanagn muda Bandung. Eksistensi nasyid sebagai seni dakwah Islam di Bandung mulai mengalami penurunan diakhir tahun 2004. Remaja dan pemuda sangat dekat dengan musik. Musik sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam keseharian mereka, begitu ada nasyid yang sesuai dengan selera musik mereka maka pesan dakwah yang terkandung di dalamnya dapat mereka terima dengan baik. Daftar Pustaka Al-Malaky. Why Not? Remaja Doyan Filsafat (Ngomongin Islam. Budaya Pop dan Gen X). Jakarta: Mizan. Anne K. Rasmussen. Merayakan Islam dengan Irama: Perempuan. Seni Tilawah dan Musik Islam di Indonesia. Mizan Media Utama. Azra. A, & Dkk. Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia: Institusi dan Gerakan Jilid 3. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Pusat Statistik. Data Kota Bandung (Metode Bar. Ipm. Bps. Go. Id. Barendregt. The Sound of Islam Southeast Asia Boy Bands. Autumn, 35 No. Bila Nasyid Mencari Duit. Tempo. Effendie. Berdakwah yang Bagaimana untuk Umat Islam. Suara Aisyiyah No. 9-10 Th. 56 Sep-Okt. Firdianto. Trend Modernisasi Fenomena Awal Abad 20. Kuntum. Gymnastiar. Aa Gym: Apa Adanya. Bandung: Khas MQ. Hizbam. Memahami Pengertian Musik Pop dan Perkembangannya di Indonesia. Gasbanterjournal. Idwar. Sukses Berdakwah di Jalur Musik Religi. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional. Indrawardana. Berketuhanan dalam Perspektif Kepercayaan Sunda Wiwitan. Melintas, 30 No. Knauth. Performing Islam Through Indonesian Popular Music, 2002-2007. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 University of Pittsburgh. Kondisi Sosial dan Ekonomi Kabupaten Bandung. Pemerintah Kabupaten Bandung. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Benteng Pustaka. Syahid Ramdhani. Strategi Dakwah Grup Nasyid Snada dalam Penyebaran Dakwah di Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah. Muhammad. Nasyid. Kuntum. Mustaqim. Media Komunikasi Visual sebagai Penunjang Promosi Nasyid Zukhruf. Universitas Sebelas Maret. Pemuda Islam Se Bandung Bakar Bendera Uni Sovyet. Bandung Pos. Pinidji. Konser Raihan Tak Terlupakan. Gatra. Poetra. Revolusi Nasyid. Bandung: MQS Publishing. Pramudya. Hari Ini. Bandung masih Menjadi Barometer Musik. Pikiran Rakyat. Resmadi. Musik dan Kota : Suatu Perspektif dan Kota. Whiteboard Journal. Rosana. Modernisasi dan Perubahan Sosial. Tapis, 7 No. Sari. , & Yuliana. Kebudayaan Suku Sunda. Setiyaji. Dari Perempatan Hingga Istana. Pikiran Rakyat. Supriyanto. Dakwah Sinkretis Sunan Kalijaga. Komunika Dakwah Dan Komunikasi, 3 No. Susanto. Terpenting dari Nasyid adalah dalam Lagu. Kompas. Tan. , & Acharya. Bandung Revisited: The Legacy ofThe 1955 Asian-African Conference for International Order. Singapore: NUS Press. Terpenting dari Nasyid adalah Nilai dalam Lagu. Kompas. Waluyo. Senandung Santri Kota. Gatra. XAR. Religius dengan Jazz dan Rock. Kompas. Zulkifli. This is Bandung: Sebuah Cerita Tentang Skema Musik. Medium. Mulyagara,Yogia (Personel Grup Vocafarab. Wawancara. Cilawu. Garut. Hayat. Saepul. Wawancara. Cilawu. Garut. Gunawan. Hendra (Personel Grup Mupl. Wawancara. Online. Ibnu (Personel Nasyid The Jenggo. Wawancara. Online. Irfan (Mantan Manager Grup Edcousti. Wawancara. Online. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri1 e Universitas Negeri Malang sucikurniaputri2008@gmail. Article history: Submitted: 12 June 2021 Accepted: 13 July 2021 Published: 21 November 2021 Abstrak: Bukittinggi sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera Barat terletak di tempat yang strategis yang menguntungkan mereka secara ekonomi dari dulu hingga sekarang. Berawal dari Nagari Kurai, yang terletak di Kawasan Luhak Agam. Yang terdiri dari lima jorong, yang mana nantinya dari Nagari kecil inilah lahir Kota Bukittinggi jauh sebelum datangnya Belanda, juga lahirlah sebuah Pakan . di Bukik Kubangan Kabau. Perkembangan Pasar Bukittinggi yang cepat, juga terlibatnya pemerintahan Hindia-Belanda dalam perkembangan dan pengelolaan Pasar Bukittinggi, pun dengan Penghulu Nagari Kurai, yang mana menghasilkan pasar, yang tertata secara administratif maupun dalam pengelolaan keuangannya. Keywords: Pasar. Bukittinggi. Hindia-Belanda P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2021 author. Published by SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Pendahuluan Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bahagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan, bahkan Bukittinggi pernah berperan sebagai Pusat Pemerintahan Republik Indonesia setelah Yogyajarta diduduki Belanda dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949. Semasa pemerintahan Belanda dahulu. Bukittinggi oleh Belanda selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan, dari apa yang dinamakan Gemetelyk Resort berdasarkan tahun 1828. Sedangkan oleh pemerintahan Jepang. Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian Pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan Militer ke 25. Bukittinggi sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera Barat terletak di tempat yang strategis yang menguntungkan mereka secara ekonomi dari dulu hingga sekarang. Kota Bukittinggi yang secara astronomis berada pada koordinat 0A22' Ae 00. 29' LS dan 99A. 52' - 100A. 33' BT. Secara geografis menunjukkan letak Bukittinggi berada di tengah-tengah dataran tinggi Sumatera Barat, yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Berawal dari Nagari Kurai, yang terletak di Kawasan Luhak Agam. Yang terdiri dari lima jorong, yang mana nantinya dari Nagari kecil inilah lahir Kota Bukittinggi jauh sebelum datangnya Belanda, juga lahirlah sebuah Pakan . di Bukik Kubangan Kabau. Pasar ini dinamakan Pakan Kurai dan dilaksanakan setiap hari sabtu, yang kelak Pakan ini menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di pulau Sumatera. Dari penjelasan diatas artikel ini ditulis untuk memperlihatkan bagaimana perkembangan pasar dan pengelolaan Pakan atau pasar sebagai pusat perekonomian masyarakat di kota Bukittinggi pada abad ke-19. Metode Penelitian Dalam menulis artikel dengan judul Pakan: Pasar Tradisional Pusat Perekonomian rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19. Penulis menggunakan metode kualitatif dan studi perpustakaan berdasarkan literarur yang relevan dengan topik pembahasan di atas. Penulis menggunakan sumber buku baik dalam bentuk hard book ataupun e-book, juga artikel dan jurnal yang sekiranya mampu memberi informasi konkrit mengenai artikel yang ditulis. http://w. id/profil/sejarah . Sejarah Kota Bukittinggi (Diakses pada 24 mei 2. http://w. id/profil/about . Tentang Kota Bukittinggi ( Diakses pada 24 mei 2. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Hasil Penelitian & Pembahasan Perkembangan Pasar Bukittinggi Pasar disebut oleh orang Minangkabau dengan pakan. Pada umumnya setiap nagari mempunyai pakan sendiri, karena pakan merupakan salah satu syarat bagi berdirinya suatu nagari. Biasanya pakan didirikan di lapangan dekat balairung nagari itu. Oleh karena itu, pengelolaan suatu pakan, sepenuhnya berada di pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat otonom. Adapun pelaksanaan pakan, suatu nagari dilakukan secara bergiliran di antara nagari-nagari yang Nama suatu pakan, dapat mengacu kepada nama hari atau nagari dan waktu atau tempat penyelenggaraan pakan itu. Misalnya. Pakan Kamih (Pasar Kami. Pakan Sinayan (Pasar Sene. , dan juga Pakan Kurai (Pasar Kura. Pakan Baso (Pasar Bas. Bahkan karena hari pelaksanaan pakan-nya lebih dikenal. Maka nama suatu nagari lebih melekat dengan nama hari pasar itu. Misalnya. Nagari Pakan Kamih dan Pakan Sinayan. Pada masa-masa selanjutnya, suatu pakan dapat berkembang baik atau lenyap sama sekali. Pakan yang berkembang dapat pula tumbuh menjadi pusat pasar bagi Kawasan sekitar nagari itu. Perkembangan suatu pakan nagari menjadi pusat pasar, biasanya didikung oleh letak geografisnya yang strategis, yaitu dapat dijangkau dengan mudah dari seluruh nagari yang berdekatan. Berdasarkan perkembangannya itu, pakan terbagi atas dua jenis, yaitu Pakan Ketek/Kaciak dan Pakan Gadang. Pakan Ketek adalah pasar yang ruang lingkup operasionalnya melibatkan penduduk nagari setempat atau yang paling jauh nagari tetangga yang terdekat. Pakan Gadang merupakan pusat pasar bagi pasar-pasar kecil yang terdapat di sekelilingnya. Selain geografis yang lebih luas, di Pakan Gadang juga terjadi interaksi sosial yang lebih kompleks. Salah satu di antara Pakan Gadang atau pusat pasar yang terkenal pada awal abad ke-19 adalah Pasar Bukittinggi. Cikal bakal Pasar Bukittinggi merupakan sebuah pasar nagari, yaitu Pakan Kurai. Pasar ini diadakan sekali seminggu yaitu setiap hari Sabtu. Kapan dimulainya Pakan Kurai ini tidak dapat diketahui secara pasti, karena tidak ada sumbernya. Letak pasar ini strategis, karena terletak di persimpangan jalan tradisional di daerah dataran tinggi. Maka, awal abad ke-19 Pakan Kurai berkembang menjadi Pakan Gadang di wilayah Luhak Agam. Selain itu daerah di sekeliling Bukittinggi juga merupakan daerah penghasil tanaman ekspor, seperti kopi dan kayu manis. Pada tahun 1820 Bukik Kubangan Kabau, yang dijadikan lokasi Pakan Kurai, diganti Namanya menjadi Bukittinggi (Bukittingg. Pengganttian nama ini sekaligus mengganti nama Pakan Kurai menjadi Pasar Bukittinggi. Bangunan pisik Pasar Bukittinggi pada masa itu masih sangat sederhana, yakni berupa warung-warung yang tonggaknya terbuat dari bambu atau kayu dan beratap daun rumbia atau daun Warung-warung ini diberi dinding separuh pada bagian bawahnya, sedangkan yang separuhnya lagi dibiarkan terbuka, sehingga terlihat kerangkanya ketika pasar telah usai. Warung ini ditinggalkan oleh pedagang selama seminggu, sampai datang hari sabtu, yaitu hari pasar Bagi pedagang yang tidak mempunyai warung mereka biasanya menggelar dagangannya di atas tanah dengan beralaskan katidiang . atau daun pisang. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Kondisi pisik Pasar Bukittinggi mulai mengalami perubahan sejak Belanda mendirikan Benteng Aude KockAy pada tahun 1826. Benteng ini didirikan di atas Bukik Jirek, bukit yang tertinggi . dan terletak sekitar 500 m di sebelah barat laut Pasar Bukittinggi. Benteng Aude KockAy merupakan salah satu benteng Belanda yang utama di daerah dataran tinggi. Keberadaan Benteng Aude KockAy berpengaruh terhadap meningkatnya aktivitas perdagangan di Pasar Bukittinggi. Berbagai jenis kebutuhan serdadu Belanda disediakan di sini, mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai penunjang perlengkapan perang, seperti beras, daging, dan kuda. Seiring dengan perkembangan fungsinya itu Pasar Bukittinggi akhirnya berkembang pula menjadi Pasar Garnizun (Pasar Garnisu. Perkembangan Pasar Bukittinggi ini juga membawa pengaruh terhadap kehidupan penduduk nagari-nagari sekitarnya. Nagari-nagari itu bukan saja berfungsi sebaai pamasok bahan makanan . dan bahan bangunan . , tetapi juga para penjual jasa lainnya, seperti pengrajin, tukang kayu, tukang batu, dan tukang angkat. Pada tahun 1837 Pasar Bukittinggi telah dikunjungi sekitar dua ratus sampai tiga ratus orang pada hari biasa dan ribuan pada hari pasarnya, yaitu setiap hari sabtu. Para pedagang India dan China juga telah mulai mapan di Bukittinggi. Pada waktu berakhirnya Perang Paderi Bukittinggi telah menyerupai: AuAtelah menjadi kota kecilAy Seiring dengan perkembangan pemrintahan Hindia-Belanda setempat Bukittinggi dijadikan sebagai pusat administrasi pemerintahan dan pengumpulan kopi wilayah afdeeling Agam. Onderafdeeling Agam Tua. Pada tahun 1837 gudang-gudang kopi mulai di bangun di Pasar Bukittinggi. Sepuluh tahun kemudian Gudang-gudang kopi semakin ditingkatkan jumlahnya seiring dengan diberlakukannya Sistem Tanam Paksa Kopi di Sumatera Barat pada tahun 1847. Tabel 1. Gudang-gudang Kopi Utama di Daerah Residensi Padang Darat Tahun 1847 Gudang Kopi Besar Kecil Personil Tempat Eropa Bumi Putra Pemb Clerks Padang Panjang Batusangkar Bukittinggi Payakumbuh Solok Jml Keterangan: G : Kepala Gudang atau Pakhuis Meester Pemb : Pembantu Selain Gudang-gudang itu. Pemerintahan Hindia-Belanda juga mendirikan Gudang-gudang kecil yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Barat. Jika dibandingkan, jumlah Gudang yang terdapat di wilayah Residensi Dataran Tinggi lebih banyak daripada di wilayah Residensi Dataran Rendah. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Persebaran Gudang-gudang kopi di daerah Residensi Dataran Tinggi ini juga tidak merata. Pembangunan Gudang-gudang kopi ini sangat ditentukan oleh produksi kopi suatu daerah. Tabel 2. Jumlah Kopi yang terkumpul di Gudang Kopi Bukittinggi dan Gudang Kopi lainnya di Afdeeling Agam Tahun 1867-1869 Nama Tempat Harga Pikul Th 1867 Th 1868 Th 1869 Bukittinggi Baso Maninjau Matur Palembayan Pisang Jumlah Tabel 3. Perkembangan Harga Kopi/pikul di Bukittinggi Tahun 1867-1869 Tahun 1840/1841 Harga f 6,. f 9,A12. 5,A4 f 7 Pada tahun 1858 pemerintahan Hindia-Belanda mulai mengembangkan lokasi Pasar Bukittinggi. Kebijakan Belanda ini disetujui oleh Kepala Laras Kurai, para penghulu kepala, para penghulu suku, dan para Penghulu Nagari Kurai lainnya. Kerena sebelumnya pihak pemerintahan Hindia-Belanda telah diberi hak pakai atas tanah-tanah di sekitar Benteng Aude KockAy dan Pasar Bukittinggi. Daerah ini terdiri dari 7 . bukit, yang kemudian berkembang menjadi pusat kota Bukittinggi. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Tabel 4. Urutan Peringkat Laras Penghasil Kopi di Onderafdeeling Agam Tua Tahun 1869/1871-1888 Nama Laras 1863/71 1872/74 1874/77 1878/80 1881/83 Jumlah/ IV Koto Candung Tilatang Banuhampu Baso 2,031 Kamang Jumlah Upaya pertama yang dilakukan Belanda untuk mengembangkan Pasar Bukittinggi adalah mendatarkan puncak bukit Bukik nan Tatinggi. Berikutnya dibangun jalan-jalan dan selokan sekeliling Pasar Bukittinggi. Lokasi Pasar Bukittinggi menjadi lebih luas dan baik. Bangunan Gudang-gudang kopi ditambah untuk menampung produksi yang semakin meningkat. Pembangunan Pasar Bukittinggi terus dilanjutkan meskipun produksi kopi sudah mulai menurun sejak awal tahun 1880-an6. Akan tetapi, pihak Penghulu Nagari Kurai mulai tidak diikutsertakan lagi dalam menentukan perkembangan Pasar Bukittinggi. Hal ini dilakukan oleh pihak Hindia-Belanda setelah mengklaim wilayah kekuasaan atas Bukittinggi. Pemerintah HindiaBelanda menetapkan batas-batas Bukittinggi secara sepihak. Oleh karena itu, pemerintah HindiaBelanda merasa berhak sepenuhnya untuk mengembangkan Pasar Bukittinggi. Pada tahun 1890 dibangun sebuah loods (Lo. di Pasar Bukittinggi. Lokasi bangunan los ini terletak di tengah Pasar itu. Keberadaan los itu sebagai bangunan utama serta merta menjadi pusat Pasar Bukittinggi. Los itu dinamakan masyarakat dengan Loih Galuang (Los Galuan. Besi penyangga atapnya dibuat melengkung sehingga atapnya pun berbentuk melengkung, setengah Pembangunan Los Galuang ini menghabiskan biaya yang banyak, sehingga tidak dapat dipenuhi oleh Pasar Fonds. Oleh karena itu, dipinjam uang kepada Singgalang Fonds7. Sebanyak f Dana dipinjam ini khusus untuk membeli bahan bangunan yang sulit ada di Sumatera Barat saat itu, namun seperti kayu, batu dan pasir dibebankan kepada nagari-nagari dalam wilayah Onderafdeeling Agam Tua. Sebagai pekerjanya, dikerahkankan pula rakyat dari nagari-nagari itu. Akan tetapi, kapasitas los ini belum mencukupi, sementara jumlah pedagang dan pengunjung Pasar Bukittinggi semakin meningkat. Bahkan pada tahun 1879 saja pengunjung Pasar Ketika diterapkan sistem perkebunan swasta Sumatera Barat dari 33 perkebunan Sumatera swasta di Sumatera Barat, di daerah Agam hanya ada satu, yaitu Simarasap. Baso. Rusli Amran,op. hlm 353-354. Zulqayyim. Boekit Tinggi Tempo Doeloe. Padang. Andalas University Press. 2006, hlm 58. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Bukittinggi telah berjumlah 15. 000 orang pada hari biasa. Oleh karena itu, tahun 1896 dibangun sebauh los lagi. Los ini terletak di sebelah timur los yang lama. Proses pengerjaan los ini sama dengan los yang pertama. Kedua los ini diperuntukan bagi semua jenis dagangan, kecuali ikan, daging, dan sejenisnya. Pada tahun 1900 dibangun sebuah los yang khusus untuk menjual daging yang disebut Loih Dagiang (Los Dagin. Akan tetapi di dalam los ini juga ada penjualan ikan basah. Baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Los Daging ini terlerak di lereng Bukik nan Tinggi sebelah timur, yang telah didatarkan terlebih dahulu. Penempatan lokasi Los Daging di sini supaya kotoran dan air limbahnya dapat mengalir langsung banda . andar/seloka. yang mengalir di kaki bukitnya. Dengan demikian kebersihan Los Daging ini dapat terjaga. Pembangunan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Westenenk. Lokasi pasar diperluas dengan mendatarkan tanah di sekitar pasar, bahkan lereng bukit di sebelah timur pasar itu juga didatarkan. Selain itu warung-warung yang tidak teratur letaknya dirobohkan. 8 Setelah dibangun los-los yang baru di tanah-tanah yang telah didatarkan itu. Sehingga topografi Pasar Bukittinggi, menjadi bertingkat-tingkat sebelah timurnya. Untuk biaya perbaikan dan pembangunan Pasar Bukittinggi diperlukan banyak uang. Dana yang didapat dari sewa los dan pajak pasar tidak mencukupi. Oleh karena itu. Controleur Westenenk meminjam uang kepada N. Escompto Maatschappij sebanyak f 12. 000 dan memborohkan Pasar Bukittinggi sebagai jaminannya. Dana pinjaman itu teruatma digunakan untuk membeli bahan-bahan Adapun sebagai pekerjanya didatangkan penduduk dari nagari-nagari Agam Tua. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa . di Pasar Bukittinggi. Jumlah los yang dibangun adalah sebanyak 6 buah dan letaknya berpencar. Tiga los dibangun bersebelahan dengan dua los sebelumnya, yang menjadi pasar utama Bukittinggi. Satu los di bangun di punggung Bukik nan Tatinggi sebelah timur, yang telah didatarkan terlebih dahulu. Tepatnya lokasi bangunan ini berada di sebelah timur laut dari Los Galuang. Akan tetapi, letaknya lebih rendah dari pada Los Galuang itu. Los ini dibangun kkhusus untuk menampung pedagang ikan kering, sehingga masyarakat menyebutnya dengan Loih Maco . os mac. Terakhir, dua los lagi dibangun di sebelah timur laut kaki Bukik Kubangan Kabau. Dua los ini yang letaknya lebih rendah daripada lainnya dinamakan Pasar Bawah. Kedua los dibangun berjajar dan sama-sama membujur dari utara ke selatan. Kedua los ini diperuntukan bagi pedagang kelapa, beras, buah-buahan dan sayu-sayuran. Beebrapa tahun kemudian Pasar Bawah dikembangkan pula dengan membangun dua lokasi pasar lagi, yaitu Pasar Aua Tajungkang dan Pasar Banto. Pasar Aua Tajungkang terletak di sebelah selatan Pasar Bawah, yang dibatasi oleh sebuah jalan menuju ke Jorong Gurun Panjang. Pasar Aua Tajungkang digunakan untuk menampung para pedagang bahan bangunan dan kebutuhan seharihari. Adapun Pasar Banto terletak di seberang jalan sebelah utara dari Pasar Bawah. Pasar Banto dijadikan sebagai pasar hewan ternak, seperti sapi, kerbau dan kambing. Sementara itu, sejak pemerintahan Hindia-Belanda mengklaim wilayah kekuasaannya atas Bukittinggi pada tahun 1888, para pedagang diberikanhak sewa atas tanah dan mereka diizinkan Zulqayyim. Boekit Tinggi Tempo Doeloe. Padang. Andalas University Press. 2006, hlm 59. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri untuk mendirikan kios sendiri. Sehingga, bermunculan kios-kios para pedagang di Pasar Bukittinggi. Akan tetapi, mereka tidak dapat menentukan sendiri lokasi kios. Tanah yang ditetapkan sebagai lokasi kios-kios para pedagang adalah di sisi barat dan timur pasar atas Bukittinggi. Proses pembangunan kios-kios oleh pada pedagang menarik dikemukakan di sini karena mempengaruhi spesialisasi para pedagang. Setelah pedagang mendapatkan hak sewa dari pemerintah ia belum boleh membangun kiosnya. Ia terlebih dahulu diharuskan untuk meminta izin kepada pedagang disebelahnya dan mengatakan jenis dagangannya. Setelah ada kecocokan dengan pegangan lama bolehlah pedagang baru itu mendirikan kiosnya. Kebijakan ini secara tidak langsung mengatur pengelompokan pedagang, baik dari segi jenis dagangannya maupun nagai Sehingga dikenal adanya Los Maninjau. Los Balingka. Los Ampek Angkek. Los Kumango. Los Sungai Pua dan los-los lainnya. Pada tahun 1923 kioskios pedagang yang terdapat di sisi bart dan timur Pasar Atas dibangun menjadi rumah toko . Bangunan ruko merupakan bangunan permanen. Disebelah barat terdapat ruko yang berjajar dua dan terdiri dari 6 . blok, dan lokasi ini dinamakan Muko Pasa . uka pasa. Tiga blok paling barat sebagian besar digunakan untuk menjual barang-barang Adapun tiga blok lainnya digurnkan untuk menjual barang-barang peralatan pertanian dan petukangan. Disebelah timur juga berjejer dua lokasi yang terdiri dari 5 . Lokasi ini dinamakan Balakang Pasa . elakang pasa. Ruko pada blok ini digunakan untuk penjualan barangbarang kodian, minyak tanah, minyak makan dan kapuk. Lokasi bangunan Pasar Atas dan Pasar Bawah dipisahkan oleh kondisi topografi Pasar Bukittinggi. Pasar Atas berada diatas bukit sedangkan Pasar Bawah berada di kaki bukit, di sebelah timur Pasar Atas. Untuk mencapai Pasar Bawah dari Pasar Atas dapat menempuh jalan dan tangga. Jalan terdiri fari dua jalur,yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara dimulai dari sisi timur bagian utara Pasar Atas menuju arah timur dan setelah sekitar 40 m berbelok kea rah selatan. Kemudian jalan ini menurun melewati sisi timur Los Maco, lalu terus melewati sisi barat Los Daging. Jalan ini lebih rendah daripada Los Maco, tetapi lebih tinggi dari Los Daging. Di ujung selatan Los Daging jalur utara ini bertemau dengan jalur selatan. Jalur selatan mulai dari sisi timur sebelah selatan Pasar Atas menurun dan berbbelok kea rah timur laut. Kemudian setelah bertemu dengan jalur utara di ujung selatan Los Daging, jalan ini terus melewati bagian timur Los Daging, jalam ini berada lebih rendah daripada Los Daging. Kemudian terus ke timur laut menuruni lereng bukit, hingga sampai di Pasar Bawah. Pada hari pasar yaitu hari sabtu, pinggir kiri, kanan dan bahu jalan sekitar Los Daging dipergunakan oleh penduduk untuk berjualan. Mereka menggelar dagangan berupa jajanan, sayursayuran, buah-buahan dan lain-lain. Lokasi ini dinamkan Pasa Teleng, karena terletak di kemiringan, yaitu pinggang bukit. Jadi dapat dikatakan bahwa Pasar Teleng merupakan penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah. Tangga yang menghubungkan Pasar Atas dan Pasar Bawah terdiri atas dua kelompok tangga. Pertama, kelompok tangga yang terdapat di sebelah utara Pasar Atas. Kelompok tangga ini terkenal dengan nama Janjang Empek Puluh, karena jumlah kelompok anak tangganya yang pertama terdiri dari 40 anak tangga. Setelah itu disambung oleh kelompok Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 anak tangga yang masing-masingnya terdiri dari 3 . anak tangga. Rangkaian anak tangga ini berbelok kea rah timur dan tutun di sisi barat pertigaan ajlan raya. Di seberang pertigaan ini terdapat Pasar Bawah. Kedua, kelompok-kelompok tangga yang terletak di sisi timur bagian selatan Pasar Atas. Kelompok tangga ini terdiri dari 5 kelompok anak tangga. Anatara anak tangga kedua dan ketiga dikelilingi oleh jalan dari jalur utara. Demikian juga anak tangga keempat dan kelima diselingi oleh jalan dari jalur selatan. Kelompok anak tangga pertama persis turun di pojok barat sebelah selatan Los Ikan Kering. Kelompok anak tangga di pojok timur sebelah selatan Los Ikan Kering, turun ke pinggir barat jalan yang membentang dari utara ke selatan . alur utar. Kelompok anak tangga ketiga dimulai dari pinggir barat jalan . alur utar. itu turun dari pojok utara Los Daging. Kemudian dilanjutkan dengan tangga keempat yang turun ke pinggie barat jalan yang membentang dari arah selatan ke timur laut . alur selata. Di pinggir timur jalan ini terdapat dua pilihan menuju Pasar Bawah. Pertama, dengan menuruni kelompok anak tangga, yang terdapat di pinggir barat jalan dan turun ke jalan raya yang membentang dari arah selatan ke utara. Kedua, melewati Jembatan Gantung, yang berada di sisi selatan tangga kelima itu. Ujung sebelah timur Jembatan Gantung terdiri dari kelompok anak tangga, yang turun persis di pojok barat bagian selatan Pasar Bawah. Di bawah Jembatan Gantung ini membentang jalan raya dari arah selatan ke utara. Selain itu persis di bawah anak tangga dari Jembatan Gantung terdapat pula selokan yang mengalir dari arah selatan ke arah utara. Jembatan Gantung ini dibangun oleh Contrilour W. J Cantor pada tahun 1932. Selain tangga-tangga yang telah disebutkan, terdapat beberapa tangga lainnya, masingmasing tangga ini diberi nama berdasarkan posisi letaknya, yaitu Janjang Balakang Pasa. Janjang Gudang. Janjang Minang, dan Janjang Kampuang Cino. Janjang Balakang Pasa adalah kelompok anak tangga yang terdapat di antara blok pertokoan belakang pasar sebelah timur. Tangga ini berjejer persis di pertigaan dari pertemauan jalan jalur selatan dan jalur utara sebelah Los Daging. Janjang Gadang dinamakan demikian karena terletak di dekat Gudang-gudang kopi. Tangga ini terletak di sebelah utara Pasar Atas menurun ke jalan raya yang menuju kea rah selatan. Janjang Minang terleatk di sebalah utara Pasar Atas yang menghubungkan Pasar Atas dengan Kampuang Cino. Janjang Kampuang Cino terdapat di sisi utara Kantor Gemeente turun ke pertigaan Kampuan Cino. Selain pedagang pribumi, pemerintaha Hindia-Belanda juga memberi izin kepada pedagang Cina dan Keling (Indi. untuk mendirikan kios-kios. Mereka juga diberikan hak sewa tanah maupun untuk membangun toko dan rumah mereka di atasnya. Akan tetapi, lokasi pembangunan kios mereka telah di tentukan secara tersendiri. Para pedagang cina di tempatkan di kaki Bukik Kubangan Kabau sebelah barat, yang menurun fari arah selatan ke utara. Daerah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Kampuang Cino (Kampung Cina/Pecinaa. Adapun pedagang India (Kaliang/Kelin. di tempatkan di kaki Bukik Kubangan Kabau sebelah utara, yang melingkar dari arah timur ke barat. Daerah ini kemudian di kenal dengan nama Kampuang Kaliang. Kedua kampung ini bertemu di pojok barat dan utara Bukik Kubangan Kabau. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Mereka membangun kios-kios dalam bentuk ruko. Bagian bawah digunakan sebagai toko dan bagian atasnya sebagai rumah tempat tinggal. Pengelolaan Pasar Bukittinggi Suatu pasar perlu di Kelola supaya dapat berjalan lancar dan tertib. Pengelolaan suatu pasar mencakup peraturan penggunaan lokasi pasar, sewa, pajak pasar, dan keamanan pasar. Semua unsur ini saling menunjang antara satu dan lainnya. Ketertinggalan salah satu di antaranya dapat mengganggu kelancaran proses transaksi jual-beli. Pengelolaan Pasar Bukittinggi pada tahap pertama dilakukan sepenuhnya oleh Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai. Sewa warung dan pajak pasar merupakan sumber pemasukan utama untuk anggaran belanja nagari. 9 Selain itu, juga ada pajak AubantaiAy yang dikenakan kepada setiap orang yang menjual ternaknya, seperti kambing, sapi atau kerbau. Sebagian besar dari jumlah yang msuk ke dalam kas nagari itu digunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan anak Nagari Kurai. Sebagian lagi untuk biaya pemeliharaan dan keamanan pasar. Pengelolaan Pasar Bukittinggi mulai dicampuri oleh pihak Hindia-Belanda ketka diberlakukannya penarikan pajak pasar pada tanggal 1 April 1825. Penarikan pajak ini dikenakan terhadap semua jenis barang dagangan termasusk makanan yang dibawa ke Pasar Bukittinggi. Besar pajak yang ditarik adalah 5% dari harga setiap barang dagangan. Pajak pasar ini tidak dilakukan sendiri oleh Belanda , tetapi oleh orang Cina yang memenangkan tender kontrak penarikan pajak. Dewan penghulu yang sesungguhnya memiliki otoritas terhadap pasar nagari tidak lagi mempunyai wewenang penuh seperti sebelumnya. Kebijakan Belanda ini tidak lama berlangsung. Pada tahun 1829 pihak penghulu menolak penarikan pajak itu dan tidak mau menerima orang Cina. Bahkan ada orang Cina yang diusir dan dibunuh ketika memungut pajak besar. Penarikan pajak ini dirasakan oleh orang Cina sebagai pekerjaan yang memiliki resiko yang tinggi. Sehingga orang-orang Cina melepaskan diri dari tugas itu dan mengembalikan kepada Belanda. Pada tahun 1831 pengelolaan Pasar Bukittinggi diserahkan Kembali kepada Dewan Penghulu Nagari Kurai. Pada masa Perang Paderi kala itu, kegiatan perdagagangan di Pasar Bukittinggi semakin berkembang dan tumbuh pula menjadi Pasar Garnisun. Kebutuhan harian para serdadu Belanda harus pula dipenuhi. Sehingga Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai V Jorong sepakat untuk meningkatkan hari pelaksanaan Pasar Bukittinggi menjadi setiap hari. Pasar harian ini disebut Pakan Borong-borong, untuk membedakannya dekan Pakan Gadang yang dilaksanakan setiap Sungguhpun pengelolaan pasar diserahkan kembali kepada para penghulu, namun pemerintahan Hindia-Belanda tidak melepaskan campur tangannya, terutama dalam penggunaan hasil pajak pasar. Pemerintahan Hindia-Belanda meminta supaya Sebagian hasil pajak pasar diberikan kepadaa para Kepala Laras dan Penghulu Kepala dalam wilayah Onderafdeeling Agam Tua. Akan tetapi kebijakan Belanda ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1833 pemerintahan Hindia-Belanda mencabutnya, menyusul terjadinya Perang Paderi ketiga . , yang Akira Oki. Ausocial Change in The West Sumatra VillageAy 1908-1945Ay. Ph. Dissertation (Canbera: The Australian National University, 1977, hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 menggoncangkan keberadaan kekuasaan Belanda di Sumatera Barat. Para penghulu yang selama ini berkolaborasi dengan Belanda, sekarang berpihak kepada Paderi. Setelah Perang Paderi berakhir tahun 1937 dan menguasi wilayah Sumatera Barat, pemerintahan Hindia-Belanda mulai memperhatikan Pasar Bukittinggi. Belanda meminta konsensi kepada Penghulu Nagari Kurai untuk membangun Gudang kopi di Pasar Bukittinggi, karena pada saat itu menjadi primadona. Kepentingan politik dan ekonomi Belanda di Bukittinggi semakin besar, setelah diberlakukannya Sistem Tanam Paksa Kopi di Sumatera Barat . Sementara itu, pemerintahan Hindia-Belanda juga mengami perkembangan Pasar Bukittinggi yang semakin pesat. Oleh karena itu. Controleur Agam Tua meminta kepada Penghulu Nagari Kurai untuk diberi kuasa mengembangkan Pasar Bukittinggi. Penghasilan pasar berupa sewa warung, pajak pasar, dan pajak AubantaiAy dipungut dan dimanfaatkan oleh para Penghulu Nagari Kurai. Pada tahun 1858 dimulailah penataan lokasi Pasar Bukittinggi. Puncak Bukik nan Tatinggi, mulai didatarkan, berdasarkan kerja sama Belanda dan Penghulu Nagari Kurai. Penduduk Nagari Kurai dibebaskan dari kerja rodi di Pasar Bukittinggi. Perekrutan tenaga kerja ini dilakukan secara hierarkis jabatan Inlandsche Bestuur dalam struktur birokrasi colonial. Mulai dari kepala ras, penghulu kepaladan terakhir penghulu suku bodi. Namun sementara itu, pihak pemerintahan Hindia-Belanda juga mulai mengendalikan pengelolaan Pasar Bukittinggi. Bahkan sejak pengklaiman kekuasaannya atas Bukittinggi pada Dan pemerintahan Hindia-Belanda mulai meninggalkan pihak Penghulu Nagari Kurai dalam penataan Pasar Bukittinggi. Pada tahun 1896 Controleur J. van Hangel membentuk Pasar Fonds. Anggotanya terdiri dari pejabat Kepala Laras Kurai-Banuhampu. IV Koto. Sungai Puar, dan IV Angkat. Lembaga ini dibentuk untuk menghimpun dana masyarakat, yang akan dijadikan modal pengembangan Pasar Buktittinggi. Sebagai modal dasar Pasar Fonds dipungut sumbangan wajib ke nagari-nagari dalam keempat kelarasan itu. Los-los dibangun dengan menggunakan dana dari Pasar Fonds. Selain itu Pasar Bukittinggi mulai ditata secara administratif. Pasar Fonds diberi wewenang oleh Controleur J. van Hangel sebagai pengelolanya. Dua orang opas pasar diangkat untuk memelihara keamanan, ketertiban, dan kebersihan pasar. Para pedagang ditentukan lokasi berjualannya, sesuai dengan jenis dagangannya. Tempat pemberhentian alat-alat transportasi seperti pedate, bendi, dan gerobak dorong, juga disediakan tempat yang khusus. Masing-masing opas diberi gaji sebesar f 15 /bulan. Selain itu, diangkat pula seorang juru tulis pasar. Ia bertugas mencatat segala hal yang berhubungan dengan kegiatan pasar. Juru tulis pasar diberi gaji f 20 /bulan. Pajak AubantaiAy sebesar f 4 /ekor yang semula diterima oleh Penghulu Nagari Kurai, sekarang dihapuskan. Kesimpulan Pasar disebut oleh orang Minangkabau dengan pakan. Pada umumnya setiap nagari mempunyai pakan sendiri, karena pakan merupakan salah satu syarat bagi berdirinya suatu nagari. Biasanya pakan didirikan di lapangan dekat balairung nagari itu. Oleh karena itu, pengelolaan suatu pakan, sepenuhnya berada di pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat Ada beberapa pakan, misalnya. Pakan Kamih (Pasar Kami. Pakan Sinayan (Pasar Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Sene. , dan juga Pakan Kurai (Pasar Kura. Pakan Baso (Pasar Bas. Kelak pakan ini menjadi cikal bakal dari Pasar Bukittinggi. Pada awal abad ke-19 kopi menjadi tumbuhan primadona dan pemerintahan Hindia-Belanda mendirikan Gudang-gudang kopi guna untuk memperjual belikannya ke Eropa. Selian itu Pembangunan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Westenenk. Dimana dirikan Los dagang untuk masyarakat baik pribumi, pedagang Cina maupun pedagang india. Pasar Bukittinggi semakin ramai pengujung dan dilakukanlah penataan dan pengelolaan yang lebih baik. Suatu pasar perlu di kelola supaya dapat berjalan lancar dan tertib. Pengelolaan pasar mencakup peraturan penggunaan lokasi pasar, sewa, pajak pasar, dan keamanan pasar. Semua unsur ini saling menunjang antara satu dan lainnya. Dan sepenuhnya Pengelolaan Pasar Bukittinggi pada tahap pertama dilakukan sepenuhnya oleh Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai. Waluaupun pada akhirnya pengelolaan dan penataan Pasar Bukittinggi dikendalikan oleh pemerintahan Hindia-Belanda dan menggesar peran Penghulu Nagari Kurai yang pada awalnya merupakan pakan . pertama yang ada di Bukittinggi. Daftar Pustaka